Anda di halaman 1dari 15

TUGAS UTS ANALISIS LAPORAN KEUANGAN (ALK)

ANALISIS AKTIFITAS INVESTASI DAN ANALISIS AKTIFIKTAS


OPERASI
PT LIONMESH PRIMA Tbk TAHUN 2010

OLEH :
DIAN ASTUTI (A1C014027)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS MATARAM
TAHUN 2016

ANALISIS AKTIVITAS INVESTASI

1. Analisis Kas
Kas dan setara kas yang dimiliki oleh PT Lionmesh Prima Tbk pada tahun 2010 adalah
sebesar Rp 1,174,514,059. Jumlah ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya 2009
senilai Rp 2.714.439.392. Hal ini berarti kas dan setara kas yang dimiliki oleh Lionmesh
mengalami penurunan sebesar Rp 1,539,925,333 atau sebesar 57%. Kas dan setara kas
yang dimiliki oleh PT Lionmesh bersumber dari kas, bank dan deposito berjangka yang
tidak dibatasi penggunaannya dengan jangka waktu tiga bulan atau kurang sejak tanggal
penempatan diklasifikasikan sebagai Setara Kas. (Catatan Atas Laporan Keuangan No.
2b dan 3).
Rata-rata Kas industry sejenis tahun 2010:
No

Nama Perusahaan
1 PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL)
2 PT Alumindo Light Metal Industry Tbk (ALMI)
3 PT.Beton Jaya Manunggal Tbk (BTON)
Rata-rata

Nilai
Rp262,346,694
Rp152,769,538,854
Rp29,281,406,162
Rp60,771,097,237

Berdasarkan rata-rata jumlah kas industry sejenis maka jumlah kas dan setara kas
perusahaan pada tahun 2010 jauh berada di bawah jumlah rata-rata kas industry sejenis
perusahaan yaitu Rp60.771.097.237. Maka ketersediaan kas dan setara kas yang dimiliki
perusahaan dapat dinilai kurang baik karena berjumlah sangat jauh dari rata-rata industry
perusahaan sejenis.
Rasio terkait dengan Kas tahun 2010:
No

Jenis Rasio
1 Cash Ratio
((Kas/Hutang Lancar)*100)
Kas
Hutang Lancar
2 Cas Turnover

Nilai

Rasio
5,4 %

Rp1.174.514.059
Rp21.656.364.472
5,1 kali

(Penjualan Bersih/(Aktiva Lancar-Kewajiban


Lancar)
Rp161.011.674.41
Penjualan Bersih
Aktiva Lancar
Kewajiban Lancar

2
Rp52.937.947.446
Rp21.656.364.472

Rasio Industri Sejenis tahun 2010:


Cash Ratio
No

Nama Perusahaan
PT Pelat Timah Nusantara Tbk

(%)

Cash Turnover Ratio (kali)

1 (NIKL)
PT Alumindo Light Metal Industry

67

2 Tbk (ALMI)
PT.Beton Jaya Manunggal Tbk

16

-0.3

197
93

0.3
1.1

3 (BTON)
Rata-rata Rasio

Cash Ratio PT Lionmesh Prima Tbk yaitu sejumlah 5.4% atau dapat dibulatkan
menjadi 5% dan rata-rata cash ratio industrri sejenis yaitu sejumlah 93%. Hal ini berarti
cash ratio perusahaan jauh berada di bawah rata-rata industry sejenis perusahaan dan
kondisi perusahaan berada di bawah perusahaan lain yang sejenis. rasio kas di bawah
rata-rata industri, kondisi kurang baik ditinjau dari rasio kas karena untuk membayar
kewajiban masih memerlukan waktu untuk menjual sebagian dari aktiva lancar lainnya.
Cash Turnover atau perputaran kas PT Lionmesh Prima Tbk yaitu 5.1 kali atau
dapat dibulatkan menjadi 5 kali dan cash turnover industry sejenis yaitu sejumlah 1.3 atau
dapat dibulatkan 1 kali. Hal ini berarti perputaran kas perusahaan jauh lebih baik dari
cash turnover perusahaan sejenis yang berarti kas perusahaan dalam penggunaannya
sudah optimal sehingga tidak mengakibatkan adanya dana yang mengendap.

2. Analisis Piutang

Piutang usaha yang dimiliki oleh PT Lionmesh Prima Tbk pada tahun 2010
adalah sebesar Rp 17.520.758.610. Jumlah ini mengalami kenaikan dari piutang tahun
sebelumnya 2009 yaitu sejumlah Rp 16.555.049.777. Hal ini berarti piutang PT
Lionmesh mengalami kenaikan sejumlah Rp 965.708.833 atau sebesar 6%. Piutang
Usaha berasal dari pihak ketiga yaitu distributor, kontraktor dan pedagang eceran yang
dikurangi dengan penyisihan penurunan nilai. Berdasarkan hasil penelaahan keadaan
akun piutang masing-masing pelanggan pada akhir tahun, manajemen berpendapat bahwa
penyisihan penurunan nilai cukup untuk menutup kerugian atas tidak tertagihnya piutang.
(Catatan Atas Laporan Keuangan 5).
Rata-rata Piutang industry sejenis 2010:
No

Nama Perusahaan
1 PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL)
2 PT Alumindo Light Metal Industry Tbk (ALMI)
3 PT.Beton Jaya Manunggal Tbk (BTON)
Rata-rata

Nilai
Rp208,025,565
Rp160,279,566,416
Rp13,707,856,456
Rp58,065,149,479

Piutang PT Lionmesh Prima Tbk pada tahun 2010 Rp 17.520.758.610 dan ratarata piutang industry sejenis yaitu Rp58,065,149,479. Hal ini berarti kondisi perusahaan
lebih baik dari perusahaan sejenis karena hak perusahaan yang masih di pihak lain atau
yang akan diterima lebih kecil.
Rasio terkait dengan Piutang 2010:
No

Jenis Ratio
1 Account Receivable Turnover
((Penjualan Kredit Bersih/((Piutang
Awal+Piutang Akhir)/2)*100)
Penjualan Kredit Bersih
Piutang Awal
Piutang Akhir
2 Average Collection Period
(365/Account Receivable Turnover)

Nilai

Rasio

9,5 kali
Rp161.011.674.412
Rp16.555.049.777
Rp17.520.758.610
38,6 hari

Rasio Piutang Industri sejenis tahun 2010:

No

Nama Perusahaan
PT Pelat Timah Nusantara

Account Receivable

Average Collection

Turnover (kali)

Period (hari)

1 Tbk (NIKL)
PT Alumindo Light Metal

200

2 Industry Tbk (ALMI)


PT.Beton Jaya Manunggal

26

1422

3 Tbk (BTON)
Rata-rata Rasio

6
13

61
561

Account Receivable Turnover atau tingkat perputaran piutang PT Lionmesh pada


tahun 2010 yaitu 9.5 kali atau dapat dibulatkan menjadi 10 kali dan Average collection
period atau rata-rata hari pengumpulan yaitu 38.6 hari atau dapat dibulatkan menjadi 39
hari. Hal ini berarti tahun 2010 tingkat perputaran piutang pada PT. Lionmesh Prima Tbk
adalah sebanyak 93 kali dengan rata-rata pencairan piutang adalah 4 hari yang artinya
perusahaan akan menerima pelunasan piutang sebanyak 93 kali dalam satu tahun dengan
rata-rata jangka waktu pencairan 4 hari.
Sedangkan tingkat perputaran piutang rata-rata industry sejenis tahun 2010 yaitu
13 kali dan rata-rata hari pengumpulannya yaitu 561 hari. Hal ini berarti kondisi
perusahaan lebih baik dibandingkan dengan industry lain yang sejenis karena perputaran
piutang perusahaan yaitu 93 kali dengan rata-rata waktu pencairannya yaitu 4 hari. Ini
jauh berada di atas rata-rata industry sejenis, yang berarti piutang perusahaan cepat
dicairkan.

3. Persediaan
Persediaan perusahaan dinyatakan sebesar nilai terendah antara biaya perolehan
dan nilai realisasi bersih (the lower of cost or net realizable value), dan akun lain.
Perusahaan menerapkan PSAK No. 14 (Revisi 2008) Persediaan. Persediaan
dinyatakan sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi

bersih (the lower of cost or net realizable value). Biaya perolehan ditentukan dengan
metode rata-rata, kecuali untuk bahan baku dan suku cadang yang harga perolehannya
ditentukan dengan metode masuk pertama, keluar pertama (first-in, first-out).
Penyisihan persediaan usang ditetapkan berdasarkan penelaahan keadaan fisik persediaan
pada akhir tahun (Catatan Atas Laporan Keuangan No 2 hururf e) . Persediaan yang
dimiliki PT Lionmesh tahun 2010 sejumlah Rp 30.182.118.066. Jumlah ini mengalami
kenaikan dari persediaan tahun sebelumnya 2009 yaitu sejumlah Rp 25.152.295.442. Hal
ini berarti persediaan PT Lionmesh mengalami kenaikan sejumlah Rp 5.029.822.624 atau
sebesar 20%. Persediaan tahun 2010 terdiri dari barang jadi sejumlah Rp 10.454.191.173,
barang dalam proses Rp 1.009.240.522, bahan baku Rp 18.244.404.683 dan suku cadang
Rp 474.281.688. Berdasarkan penelaahan atas kondisi persediaan pada akhir tahun,
manajemen berkeyakinan bahwa persediaan dapat direalisasikan pada nilai tercatatnya,
dan tidak diperlukan adanya penyisihan untuk persediaan usang.
Rata-rata Persediaan industri sejenis tahun 2010:
No

Nama Perusahaan
1 PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL)
2 PT Alumindo Light Metal Industry Tbk (ALMI)
3 PT.Beton Jaya Manunggal Tbk (BTON)
Rata-rata

Nilai
Rp326,378,972
Rp437,350,022,791
Rp8,277,154,054
Rp148,651,185,272

Persediaan PT Lionmesh Prima Tbk pada tahun 2010 yaitu sejumlah Rp


30.182.118.066 dan persediaan rata-rata industry sejenis yaitu Rp148,651,185,272. Hal
ini berarti persediaan yang dimiliki perusahaan berada di bawah rata-rata industri. Yang
berarti kondisi perusahaan lebih baik dari perusahaan lainnya karena biaya yang
dibutuhkan untuk penyimpanan persediaan tidak banyak dan barang yang terjual
perusahaan lebih banyak.
Rasio terkait Persediaan tahun 2010:
No
Jenis Rasio
1 Perputaran Persediaan
(Harga Pokok Barang Terjual/((Persediaan

Nilai

Rasio (kali)
5,2

Akhir+Persediaan Tahun Awal)/2))


Harga Pokok Barang Terjual
Persediaan Akhir
Persediaan Awal
2 Lama Produk Terjual
(365/Perputaran Persediaan)

Rp142.989.208.581
Rp30.182.118.066
Rp25.152.295.442
70,6

Rata-rata rasio industry sejenis terkait persediaan tahun 2010:

No

Nama Perusahaan
PT Pelat Timah Nusantara Tbk

Perputaran

Lama Produk

Persediaan (kali)

Terjual (hari)

1 (NIKL)
PT Alumindo Light Metal Industry

76

2 Tbk (ALMI)
PT.Beton Jaya Manunggal Tbk

70

3 (BTON)
Rata-rata Rasio

9
7

39
62

Perputaran Persediaan PT Lionmesh pada tahun 2010 yaitu 5.2 kali atau dapat
dibulatkan menjadi 5 kali dan Lama produk terjual yaitu 70,6 hari atau dapat dibulatkan
menjadi 71 hari. Hal ini berarti tahun 2010 tingkat perputaran persediaan pada PT.
Lionmesh Prima Tbk adalah sebanyak 5 kali dengan rata-rata waktu penjualan adalah 71
hari yang artinya perusahaan akan menjual barang sebanyak 5 kali dalam satu tahun
dengan rata-rata jangka waktu penjualan 71 hari.
Sedangkan tingkat perputaran persediaan rata-rata industry sejenis tahun 2010
yaitu 7 kali dan rata-rata hari penjualannya yaitu 61 hari. Hal ini berarti kondisi
perusahaan kurang baik dibandingkan dengan industry lain yang sejenis karena
perputaran persediaan perusahaan lebih lama dari perusahaan lain yaitu 5 kali dengan
rata-rata waktu pencairannya yaitu 71 hari. Ini berada di bawah rata-rata industry sejenis,
yang berarti persediaan perusahaan kurang cepat dijual.

4. Aset Jangka Panjang


Aset Jangka Panjang atau tidak lancar perusahaan tediri dari asset pajak
tangguhan, pinjaman karyawan, taksiran tagihan pajak penghasilan, asset tetap dan
property investasi. Pajak tangguhan perusahaan pada tahun 2010 senilai Rp
1.285.884.185 mengingkat dari tahun 2009 yaitu Rp 1.203.542.591. Pinjaman karyawan
pada tahun 2010 senilai Rp 54.450.000 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya
yaitu pada tahun 2009 senilai Rp 82.790.000. Perusahaan mencatat Nilai wajar dari
pinjaman karyawan ditentukan menggunakan diskonto arus kas berdasarkan tingkat suku
bunga efektif. Taksiran tagihan pajak penghaslian perusahaan pada tahun 2010 senilai Rp
125.661.721 dan pada 2009 sama karena jumlah pajak penghasilan yang belum ditagih
sampai dengan 2010 sama. Sedangkan untuk property investasi perusahaan menerapkan
PSAK No.13 (Revisi 2007), Properti Investasi. Perusahaan menggunakan model biaya.
Properti investasi Perusahaan terdiri dari tanah dan bangunan, yang dikuasai Perusahaan
untuk menghasilkan rental atau kenaikan nilai atau kedua-duanya, dan tidak untuk
digunakan dalam produksi atau dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari. Properti investasi
dinyatakan sebesar biaya perolehan termasuk biaya transaksi dikurangi akumulasi
depresiasi dan penurunan nilai, kecuali tanah yang tidak disusutkan. (Catatan Atas
Laporan Keuangan No 2 h). Properti Investasi terdiri dari tanan dan bangunan. Tanah
senilai Rp 211.375.000 dan memiliki nilai yang sama pada tahun 2009 karena tanah tidak
disusutkan oleh perusahaan. Bangunan senilai Rp 282.529.555 pada tahun 2010 yang
mengalami penurunan dari tahun 2009 karena adanya penyusutan, pada tahun 2009 nilai
bangunan yaitu Rp 322.890.920.
Untuk asset tetap perusahaan menerapkan PSAK No.16 (Revisi 2007), Aset
Tetap. Perusahaan menggunakan model biaya, sebagai kebijakan akuntansi pengukuran
aset tetapnya. Aset tetap dinyatakan sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi
penyusutan dan penurunan nilai. Biaya perolehan termasuk biaya penggantian bagian aset
tetap saat biaya tersebut terjadi, jika memenuhi kriteria pengakuan. Selanjutnya, pada saat
inspeksi yang signifikan dilakukan, biaya inspeksi itu diakui ke dalam jumlah tercatat
(carrying amount) aset tetap sebagai suatu penggantian jika memenuhi kriteria
pengakuan. Biaya pemeliharaan dan perbaikan yang tidak memenuhi kriteria pengakuan

diakui dalam laporan laba rugi pada saat terjadinya. Penyusutan dihitung dengan
menggunakan metode garis lurus (straight-line method) selama umur manfaat aset tetap
yang diestimasi bangunan 20 tahun, mesin 20 tahun, peralatan pabrik 15 tahun, instalasi
listrik 20 tahun, kendaraan bermotor 5 tahun, dan peralatan kantor 5 tahun. Tanah dicatat
sebesar harga perolehan dan tidak disusutkan (Catatan Atas Laporan Keuangan NO 2
huruf f)
Aset tetap perusahaan PT Lionmesh setelah dikurangi akumulasi penyusutan pada
tahun 2010 yaitu Rp 23.302.198.938. Jumlah ini mengalami penurunan dari jumlah asset
tetap perusahaan pada tahun 2009 yaitu asset tetap Rp 24.185.809.936. Hal ini berarti
asset tetap Pt Lionmesh mengalami penurunan sebesar Rp 883.610.998 atau sebesar 4%.
Aset tetap perusahaan terdiri dari tanah, bangunan, mesin, peralatan pabrik, instalasi
listrik, kendaraan bermotor dan peralatan kantor. Asset tetap yang dicatat perusahaan
mengalami penyusutan yaitu bangunan, mesin, peralatan pabrik, instalasi listrik,
kendaraan bermotor dan peralatan kantor.
Perusahaan melakukan penelaahan untuk menentukan kemungkinan terjadinya
penurunan nilai aset pada tanggal neraca. Apabila terdapat indikasi penurunan nilai aset,
Perusahaan menaksir jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable amount) dari
aset tersebut. Penurunan nilai aset diakui sebagai beban pada usaha tahun berjalan
( Catatatan Atas Laporan Keuangan No 2 huruf g). Manajemen berpendapat bahwa nilai
tercatat semua aset tetap dapat terealisasi seluruhnya, dan oleh karena itu, tidak
diperlukan penyisihan penurunan nilai asset (Catatan Atas Laporan Keuangan No 9).

ANALISIS AKTIVITAS OPERASI

1. Analisis Laba
Laba Operasional berkelanjutan PT Lionmesh Prima Tbk tahun 2010 sebesar Rp
7.350.536.344 dimana meningkat sebesar 206% dari tahun sebelumnya sebesar Rp
2.400.507.034 atau sejumlah Rp 4.950.029.310. Laba diperoleh dari hasil kegiatan usaha
perusahaan serta pendapatan sewa, pendapatan bunga dan pendapatan lain-lain
perusahaan.
Rata-rata Laba Operasional Industri Sejenis tahun 2010:
No

Nama Perusahaan
1 PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL)
2 PT Alumindo Light Metal Industry Tbk (ALMI)
3 PT.Beton Jaya Manunggal Tbk (BTON)

Nilai
Rp74,576,042
Rp43,722,582,261
Rp11,699,701,542

Rata-rata

Rp18,498,953,282

Rata- rata persentase peningkatan Laba tahun 2010:


No
Nama Perusahaan
1 PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL)
2 PT Alumindo Light Metal Industry Tbk (ALMI)
3 PT.Beton Jaya Manunggal Tbk (BTON)
Rata-rata

Persentase (%)
78
67
-31
38

Laba Operasional perusahaan pada tahun 2010 Rp 7.350.536.344 dan rata-rata


laba operasional industry sejenis yaitu Rp18,498,953,282 hal ini berarti laba operasional
perusahaan masih berada dibawah rata-rata industry sejenis. Namun peningkatan laba
perusahaan jauh berada di atas rata-rata peningkatan laba industry sejenis yaitu sebesar
206% dan industry sejenis yaitu 38% yang berarti peningkatan laba operasional
perusahaan sangat baik dan kegiatan operasionalnya sangat baik.
Rasio terkait Laba tahun 2010:
No
Jenis Rasio
1 Rentabilitas
(Laba Sebelum Pajak Penghasilan/Total Aset)*100
Laba Sebelum Pajak Penghasilan
Total Aset
2 Net Profit Margin
(Laba Tahun Berjalan/Penjualan Bersih)*100
Laba Tahun Berjalan
Penjualan Bersih

Nilai

Rasio (%)
13

Rp10.316.267.000
Rp78.200.046.845
5
Rp7.350.536.344
Rp161.011.674.412

Rata-rata rasio Laba industry sejenis tahun 2010:

No

Nama Perusahaan
1 PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL)
PT Alumindo Light Metal Industry Tbk
2 (ALMI)

Rentabilitas

Net Profit Margin

(%)

(%)
10

111

3 PT.Beton Jaya Manunggal Tbk (BTON)


Rata-rata Rasio

13
9

7
41

Rasio rentabilitas PT Lionmesh Prima Tbk yaitu 13% yang berarti kemampuan
asset untuk menghasilkan pendapatan yaitu 13% hal ini berada di atas rata-rata industry
sejenis yaitu 9% yang berarti kemampuan asset perusahaan dalam menghasilkan
pendapatan lebih baik dari perusahan lain yang sejenis.
Net Profit margin PT Lionmesh Prima Tbk yaitu 5% yang berarti kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan keuntung bersih sebesar 5%. Hal ini berada jauh di
bawah rata-rata industry sejenis yaitu 41% yang berarti kemampuan perusahaan
menghasilkan keuntung bersih kurang baik dibandingkan dengan perusahaan lain yang
sejenis.
Perhitungan 2 rasio ini mengindikasikan bahwa perusahaan dikelola dengan tidak
begitu efisien dan efektif daripada pesaingnya di industri retail. Kemungkinan
pertumbuhan laba yang tinggi dihasilkan oleh aktivitas tidak berkelanjutan atau adanya
faktor lain berkait laba.

PT Lionmesh Prima Tbk pada tahun 2010 tidak mendapatkan pendapatan


investasi maupun dividen karena perusahaan yang membagikan dividen sehingga
memiliki hutang dividen kepada pemegang saham. Tetapi PT Lionmesh Prima Tbk
memiliki pendapatan sewa yang dihasilkan diluar kegiatan usaha inti perusahaan.

2. Laba Tidak Berkelanjutan


PT Lionmesh Prima Tbk tidak memiliki Laba Tidak Berkelnajutan karena pada
tahun 2010 tidak terjadi perubahan nilai wajar asset perusahaan, perubahan akuntansi,
operasi yang dihentikan maupun pos-pos khusus lainnya. Sehingga laba perusahaan
hanya merupakan laba berkelanjutan tahun 2010 sebesar Rp 7.350.536.344 dimana
meningkat sebesar 206% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 2.400.507.034 atau sejumlah

Rp 4.950.029.310. Laba berkelanjutan perusahaan diperoleh dari aktivitas penjualan,


pendapatan sewa dan pendapatan bunga perusahaan.

3. Analisis Perubahan Akuntansi (Perubahan Asumsi Umur Manfaat asset)


Penyusunan laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum mengharuskan manajemen membuat taksiran dan asumsi yang mempengaruhi
jumlah aset dan kewajiban yang dilaporkan pada tanggal laporan keuangan serta jumlah
pendapatan dan beban selama periode pelaporan. Sehubungan dengan adanya
ketidakpastian yang melekat dalam penentuan estimasi, realisasi yang dilaporkan di masa
yang akan datang dapat berbeda dengan estimasi tersebut (Catatan Atas Laporan
Keuangan N0 2 q). Pada tahun 2010 PT Lionmesh tidak melakukan perubahan akuntansi
ataupun asumsi umur manfaat terhadap asset. Sehingga umur manfaat aset tetap yang
diestimasi bangunan 20 tahun, mesin 20 tahun, peralatan pabrik 15 tahun, instalasi listrik
20 tahun, kendaraan bermotor 5 tahun, dan peralatan kantor 5 tahun tidak berubah.
Manajemen berpendapat bahwa nilai tercatat semua aset tetap dapat terealisasi
seluruhnya, dan oleh karena itu, tidak diperlukan penyisihan penurunan nilai aset.
(Catatan Atas Laporan Keuangan N0 9).

4. Analisis Litbang (Penelitian dan Pengembangan)


PT Lionmesh Prima Tbk bergerak dalam bidang industry logam dan sejenisnya.
Penelitian dan pengembangan PT Lionmesh Prima Tbk dilakukan dengan, pengujianpengujian secara berkala dengan peralatan yang mutakhir, untuk tetap mempertahankan
dan meningkatkan mutu hasil produksi Perseroan. PT Lionmesh Prima Tbk menambah
pemesanan untuk kontrak yang sama sebesar CHF 60.000, atau setara dengan Rp
571.920.000. Mesin tersebut telah diterima oleh Perusahaan pada bulan Oktober 2009
dan instalasi mesin sudah mencapai penyelesaian sebesar 5% pada tanggal 31 Desember
2009. Pada tahun 2010, Perusahaan telah menyelesaikan instalasi mesin dan mulai
mengoperasikan mesin tersebut. Seluruh nilai aset dalam penyelesaian telah

direklasifikasi ke dalam kelompok aset tetap mesin. (Catatan Atas Laporan Keuangan N0
9). Sehingga perusahaan melakukan pengembangan dengan melakukan pembelian mesin
pada tahun 2009 namun baru bias dimanfaatkan penggunaannya oleh perusahaan pada
2010 untuk mengembangkan proses produksi pada perusahaan. Nilai mesin yang tercatat
pada akhir tahun 2010 yaitu sejumlah Rp 29.669.337.755 dan akumulasi penyusutan
terhadao mesin sendiri yaitu Rp 10.588.551.301 (Catatan Atas Laporan Keuangan No 9)

5. Analisis Pendapatan
PT. Lionmesh Prima Tbk bergerak di bidang produksi jarring kawat baja las.
Perusahaan mencatat pendapatan 2010 sebesar Rp 162.145.645.160 dan pada tahun 2009
senilai Rp 124.879.215.389. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pendapatan
perusahaan senilai Rp 37.266,429.771 atau sebesar 30%.
Pendapatan PT Lionmesh Prima Tbk tahun 2010 diperoleh dari penjualan bersih,
pendapatan sewa, pendapatan bunga, dan pendapatan lain-lain bersih. Pendapatan yang
diperoleh

dari

kegiatan

utama

usaha

yaitu

penjualan

produk sejumlah

Rp

161.011.674.412 dan (Rp 124.810.716.264 di tahun sebelumnya) dan Rp 1,133,970,748


dari pendapatan bunga, sewa dan pendapatan lain-lain bersih. Hal ini berarti pendapatan
yang diperoleh perusahaan sesuai dengan bidang usahanya yaitu manufaktur yang
kegiatan utama nya yaitu produksi barang yang kemudian produk tersebut dijual.
Pendapatan perusahaan dari kegiatan utama usahanya yaitu penjualan sejumlah Rp
161.011.674.412.
Rata-rata Pendapatan industry sejenis tahun 2010:
No

Nama Perusahaan
1 PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL)
2 PT Alumindo Light Metal Industry Tbk (ALMI)
3 PT.Beton Jaya Manunggal Tbk (BTON)
Rata-rata

Nilai
Rp1,378,545,199
Rp3,019,070,482,536
Rp127,575,478,606
Rp1,049,341,502,114

Rata-rata persentase peningkatan Pendapatan industry sejenis tahun 2010:


No

Nama Perusahaan
1 PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL)
2 PT Alumindo Light Metal Industry Tbk (ALMI)
3 PT.Beton Jaya Manunggal Tbk (BTON)
Rata-rata

Persentase (%)
18
72
-1
30

Pendapatan perusahaan PT Lionmesh Prima Tbk tahun 2010 yaitu Rp


162.145.645.160 dan pendapatan rata-rata industry sejenis yaitu Rp 1,049,341,502,114.
Hal ini berarti pendapatan perusahaan berada jauh dibawah rata-rata industry sejenis.
Namun persentase peningkatan pendapatan perusahaan ssama dengan rata-rata persentase
peningkatan industry sejenis yaitu sebesar 30%. Yang berarti tingkat peningkatan
pendapatan baik namun jumlah pendapatan masih berada di bawah rata-rata jumlah
pendapatan perusahaan lain yang sejenis.
Berdasarkan Catatan Atas Laporan Keuangan No. 2 huruf j perusahaan
menggunakan prinsif konservatisme dimana perusahaan mengakui Penghasilan dari
penjualan pada saat penyerahan barang kepada pelanggan. Uang muka yang diterima dari
pelanggan dicatat pada akun Uang muka pelanggan. Beban diakui pada saat terjadinya.
Dengan melihat pada data diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pendapatan PT
Lionmesh Prima Tbk sebesar Rp162.145.645.160 banyak dihasilkan oleh pos berulang
yaitu dari kinerja perusahaan secara keseluruhan yaitu penjualan produk perusahaan.
Selain itu, perusahaan menyusun laporan keuangan dengan menggunakan prinsip
konservatisme terhadap pendapatan.