Anda di halaman 1dari 25

Bab I

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Salah satu indikator kesehatan suatu negara adalah dinilai dari angka kematian ibu dan
angka kematian bayi. Menurut data SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia), Angka
Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2012 adalah 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini kurang
lebih tiga kali lebih besar dari tujuan MDG 2015 yaitu 102 per 100.000 kelahiran.
Angka Kematian Neonatus (AKN) adalah angka kematian pada bayi usia 0 28 hari,
meskipun angka ini menurun hingga pada tahun 2012 tercatat oleh SDKI sebesar 19 per
kelahiran hidup, namun angka ini berkontribusi terhadap 56% dari keseluruhan kematian bayi
sehingga ini merupakan suatu masalah.
Salah satu penyebab kematian ibu dan bayi adalah tetanus neonatorum dan tetanus
maternal. Kematian akibat tetanus di negara berkembang 135 kali lebih tinggi dibandingkan di
negara maju sedangkan di Indonesia pada tahun 2010 dilapokan terdapat 147 kasus dengan
jumlah meninggal sebanyak 84 kasus atau case fatality rate (CFR) tetanus neonatorum sebesar
57,14%.
Di Indonesia, kematian bayi baru lahir akibat penyakit tetanus neonatorum menduduki
peringkat ketiga dengan proporsi 10% (Survei Kesehatan Rumah Tangga, 2001). Tetanus
neonatorum terjadi akibat kontaminasi spora Clostridium tetani pada tali pusat bayi baru lahir
saat pemotongan atau perawatan tali pusat sedangkan tetanus maternal dapat diakibatkan oleh
tindakan aborsi atau tindakan kebidanan lain yang tidak steril.
Kekebalan terhadap tetanus tidak timbul setelah terkena penyakit tetanus, tetapi hanya
dapat diperoleh melalui kekebalan buatan secara pasif, diberikan dengan suntikan anti tetanus
serum, dan kekebalan buatan aktif dengan pemberian suntikan tetanus toxoid (TT). Maka dengan
itu, untuk pencegahannya dapat dilakukan imunisasi Tetanus. Imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
pada ibu hamil dimulai pada tahun 1974 sedangkan pemberian imunisasi DPT pada anak SD
atau sederajat dimulai pada tahun 1976. Manfaat imunisasi tetanus bagi ibu hamil yaitu untuk
melindungi bayi yang baru lahir dari tetanus neonatorum yang dapat mengakibatkan kematian
dan dapat melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka.
Pemberian imunisasi TT tersebut dapat dilakukan di tempat pelayanan kesehatan seperti
puskesmas, Posyandu, rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya. Oleh karenanya kunjungan
ibu hamil untuk memeriksakan diri pada tempat - tempat pelayanan kesehatan tentunya akan
memberikan dampak positif terhadap peningkatan cakupan pelayanan imunisasi TT ibu hamil.
Dalam rangka peningkatan frekuensi kunjungan ibu hamil ke bagian Kesehatan ibu dan Anak
1

(KIA) di puskesmas diperlukan upaya Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) mengenai program
KIA dan Imunisasi di Puskesmas. (Depkes RI, 2005).
Dengan pencapaian cakupan TT ibu hamil tetanus neonatorum dapat dieliminasi. Jika
dilihat dari hasil pencapaian TT ibu hamil maka dari tahun ke tahun pencapaiannya masih belum
mencapai target yang diharapkan dan keadaan ini akan memungkinkan terjadinya kasus tetanus
neonatorum di mana saja, terutama pada daerah-daerah yang cakupan TT ibu hamilnya masih
rendah.
Pada tahun 2002, cakupan imunisasi TT ibu hamil secara nasional telah mencapai 78,5 %
untuk pemberian TT1, sedangkan untuk TT2 mencapai 71,6 %. Tetapi, pada tahun 2003 cakupan
imunisasi TT ibu hamil secara nasional menjadi turun, untuk TT1 cakupannya 71,71 %
sedangkan untuk TT2 hanya mencapai 66,1%. Dari data diatas dapat dilihat bahwa upaya
pencegahan tetanus neonatorum dengan pemberian imunisasi TT pada ibu hamil melalui
kegiatan rutin belum menunjukkan hasil yang efektif, disebabkan cakupan imunisasi tersebut
mengalami penurunan dan belum mencapai 100 %. (Depkes RI,2003).
Banyak faktor yang berhubungan dengan pencapaian cakupan imunisasi TT ibu hamil
diantaranya adalah waktu pelayanan imunisasi, stok vaksin, pengelolaan rantai vaksin, peralatan
rantai vaksin, peralatan suntik imunisasi, pelatihan petugas imunisasi, kerja sama lintas program,
kerja sama lintas sektoral, pencatatan dan pelaporan, Pemantauan Wilayah Setempat (PWS), dan
penyuluhan.
Selain itu, pada pelaksanaan di lapangan ada faktor lain yang dapat mempengaruhi
pencapaian cakupan imunisasi diantaranya adalah pendidikan petugas imunisasi, pengetahuan
petugas, jumlah petugas pelaksana imunisasi, pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi TT dan
tersedianya kendaraan operasional.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalahnya
adalah :
1.2.1.

Kematian bayi baru lahir akibat penyakit tetanus neonatorum menduduki peringkat ketiga
dengan proporsi 10% (Survei Kesehatan Rumah Tangga, 2001).

1.2.2.

Angka Kematian Ibu (AKI) 2013 (yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas)
sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. (SDKI 2012)

1.2.3.

Case Fatality Rate Tetanus Neonatorum : 53.8% (Riskesdas 2013)

1.2.4.

Upaya pencegahan tetanus neonatorum dengan pemberian imunisasi TT pada ibu hamil melalui
kegiatan rutin belum menunjukkan hasil yang efektif, disebabkan cakupan imunisasi tersebut
mengalami penurunan dan belum mencapai 100 %. (Depkes RI, 2003).

1.3 Tujuan
1. 1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui penyebab masalah dan penyelesaian masalah dalam pelaksanaan
program tetanus toxoid pada ibu hamil di Puskesmas Kecamatan Klari, Kabupaten
Karawang periode Januari sampai dengan September 2015. Oleh karena itu, diharapkan
cakupan imunisasi tetanus toxoid pada ibu hamil di Puskesmas Kecamatan Klari,
Kabupaten Karawang mencapai 90% pada akhir tahun 2015 dalam rangka menurunkan
angka kesakitan dan kematian bayi dan ibu akibat tetanus.
2. 1.3.2 Tujuan Khusus
3. 1.3.2.1. Diketahuinya cakupan pelayanan imunisasi tetanus toxoid pada ibu hamil di
Puskesmas Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang periode Januari hingga
September 2015.
1.3.2.2. Diketahuinya cakupan skrining status vaksin tetanus toxoid ibu hamil di Puskemas
Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang periode Januari hingga September 2015
1.3.2.3. Diketahuinya cakupan penyuluhan kelompok dan perorangan mengenai imunisasi
tetanus toxoid ibu hamil di Puskesmas Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang
periode Januari hingga September 2015.

1.4. Manfaat
1. 1.4.1. Bagi Evaluator
2. 1.4.1.1.Menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selama duduk di
bangku kuliah.
3. 1.4.1.2.Melatih serta mempersiapkan diri dalam menjalankan suatu program
khususnya program Imunisasi Tetanus toxoid ibu hamil.
4. 1.4.1.3.Menumbuhkan minat dan pengetahuan mengevaluasi program di puskesmas.
5. 1.4.1.4.Menumbuhkan rasa peduli akan kesejahteraan masyarakat.
6. 1.4.1.5.Mengembangkan kemampuan untuk berpikir kritis.

1.4.2. Bagi Perguruan Tinggi


1.4.2.1.Merealisasikan Tridarma Perguruan Tinggi.
1.4.2.2.Mewujudkan kampus sebagai masyarakat ilmiah dalam peran sertanya di bidang kesehatan.

1.4.2.3.Mewujudkan Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) sebagai universitas yang menghasilkan
dokter yang berkualitas dan memiliki keperdulian terhadap masyarakat secara luas.
1.4.3. Bagi Puskesmas yang Dievaluasi
1.4.3.1.Mengetahui masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan program Imunisasi tetanus toksoid
ibu hamil disertai dengan usulan atau saran sebagai pemecahan masalah.
1.4.3.2.Memberi masukan dalam meningkatkan kerjasama dan membina peran serta masyarakat dalam
melaksanakan program Imunisasi Tetanus toxoid ibu hamil secara optimal.
1.4.3.3.Membantu kemandirian Puskesmas dalam upaya lebih mengaktifkan program Imunisasi Tetanus
toxoid ibu hamil sehingga dapat memenuhi target cakupan program.
1.4.4. Bagi Masyarakat
1.4.4.1.Meningkatkan pembinaan peran serta masyarakat dan kader dalam kegiatan imunisasi di wilayah
kerja Puskesmas Kecamatan Klari
1.4.4.2.Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Klari
1.4.4.3.Dengan tercapainya keberhasilan program, diharapkan dapat menurunkan prevalensi penyakit
tetanus, menurunkan angka kematian ibu dan bayi.
1.4.4.4.Dengan tercapainya keberhasilan program, diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah-daerah
lain di Indonesia.
1.5. Sasaran
Semua ibu hamil yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Klari, Kabupaten
Karawang periode Januari hingga September 2015

Bab II
Materi dan Metode
2.
2.1 Materi dan Metode
Kegiatan imunisasi Tetanus Toxoid ibu hamil meliputi :

Pelayanan imunisasi tetanus neonatorum ibu hamil di puskesmas:


Imunisasi TT = 0.5cc dengan suntikan intramuskular / subkutan dalam di
deltoid lengan atas kiri. Diberikan minimal 2x dengan jarak 4 minggu.
Penyuluhan mengenai imunisasi tetanus toxoid:
Perorangan : Dengan wawancara setiap datang periksa kehamilan
4

Kelompok : Dengan penyuluhan dan diskusi setiap kelas ibu hamil 1 kali per

bulan dan Posyandu 1 bulan sekali.


Pemantauan (monitoring): Dengan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) bulanan.
Alat pemantau ini berfungsi untuk meningkatkan cakupan, jadi sifatnya lebih
memantau kuantitas program. Dipakai pertama kali di Indonesia pada tahun 1985 dan
dikenal dengan nama Local Area Monitoring (LAM).
Prinsip PWS :
Memanfaatkan data yang ada dari laporan cakupan imunisasi
Menggunakan indikator sederhana
Dimanfaatkan untuk mengambil keputusan setempat
Teratur dan tepat waktu setiap bulan
Sebagai umpan balik untuk dapat mengambil tindakan
Membuat grafik yang jelas dan menarik untuk masing masing indikator di

atas, untuk memudahkan analisa.


Grafik Drop out.
Penatalaksanaan KIPI
KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi pada masa satu bulan setelah
imunisasi. Klasifikasi menurut WHO (1999) :
Reaksi Vaksin
Kesalahan Program
Kebetulan
Reaksi Suntikan
Penyebab tidak diketahui

Pencatatan dan pelaporan


Pencatatan dan pelaporan dalam program imunisasi memegang peranan penting dan
sangat menentukan. Selain menunjang pelayanan imunisasi juga menjadi dasar untuk
membuat perencanaan dan evaluasi. Alat alat pencatat dasar yang harus dimiliki
puskesmas :
Buku register imunisasi
Kartu Imunisasi
Buku stock vaksin
Buku grafik pencatatan suhu
Sistem untuk menindaklanjuti drop out

Bab III
Kerangka Teori
3.1 Bagan Teori

LINGKUNGAN (6)

MASUKAN (1)

PROSES
(2)

KELUARAN (3)

DAMPAK (5)

UMPAN BALIK (4)

Gambar 1. Bagan Teori


Sistem adalah gabungan dari elemen-elemen yang saling dihubungkan oleh suatu proses
atau struktur dan berfungsi sebagai salah satu kesatuan organisasi dalam upaya menghasilkan
sesuatu yang telah ditetapkan. Bagian atau elemen dapat dikelompokkan dalam lima unsur,yakni:
1. Masukan (input) adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan yang
diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut.
2. Proses (process) adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan yang
berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan.
3. Keluaran (output) adalah kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari
berlangsungnya proses dalam sistem.
4. Umpan balik (feed back) adalah kumpulan bagian atau elemen yang merupakan keluaran
dari sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut.
6

5. Dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem.
6. Lingkungan (environment) adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola oleh sistem
tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap sistem.

3.2 Tolok Ukur Keberhasilan


Tolok ukur keberhasilan terdiri dari variabel masukan, proses, keluaran,

umpan balik,

lingkungan dan dampak. Digunakan sebagai pembanding atau target yang harus dicapai
dalam program Imunisasi Dasar.

Bab IV
Penyajian Data
4.1 Sumber Data
Data sekunder dari :
4.1.1. Catatan bulanan program imunisasi Puskesmas Kecamatan Klari, Kabupaten
Karawang periode Januari hingga September 2015
4.1.2. Catatan bulanan bahan konsultasi program imunisasi Puskesmas Kecamatan Klari,
Kabupaten Karawang periode Januari hingga September 2015
Data tersier dari:
4.1.3. Data demografi Puskesmas Kecamatan Klari tahun 2015

4.2 Data
4.2.1 Data Umum
4.2.1.1 Data Geografis
4.2.1.1.1 Lokasi puskesmas
Lokasi Puskesmas Kecamatan Klari terletak dijalur ring road atau jalan provinsi
yaitu Jalan Raya Kosambi. Komplek puskesmas Klari terletak di desa Duren dan berada
di depan kantor kepala desa Duren di samping kiri kecamatan Klari, di belakang terdapat
TK Mawar dan di samping kanan rumah penduduk. Secara administrasi UPTD
Puskesmas Klari Kecamatan Klari berbatasan dengan:
- Sebelah Utara
: Puskesmas Telagasari
- Sebelah Selatan
: Puskesmas Curug
- Sebelah Barat
: Puskesmas Anggadita
- Sebelah Timur
: Puskesmas Purwasari

Gambar 2. Peta Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang


4.2.1.1.2

Wilayah kerja
Luas wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Klari 693.878 Ha, mencakup 8 desa,
69 RW, 268 RT, Kedelapan desa tersebut adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

4.2.1.1.3

Desa Duren
Desa Pancawati
Desa Walahar
Desa Kiara Payung
Desa Sumur kondang
Desa Cibalongsari
Desa Klari
Desa Belendung

Data Demografis

Jumlah penduduk secara keseluruhan di wilayah kerja Puskesmas Klari,

Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang tahun 2015 adalah sebesar 90.152 jiwa.5
Jumlah penduduk Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, tahun 2015
berdasarkan jenis kelamin : Laki-laki 46.248 jiwa dan jumlah perempuan 43.904
jiwa. Dari jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Klari, 22.313 jiwa
diantaranya merupakan penduduk lanjut usia, manakala didapatkan jumlah ibu

hamil sebanyak 2.488 jiwa.


Mata pencaharian terbanyak di Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, tahun

2015 adalah Buruh (26,27%), Petani (10,68%), Peternak (10,32%).


Tingkat pendidikan penduduk Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, tahun
2015 adalah tingkat pendidikan sekolah dasar sebanyak 4.430 orang, tingkat
pendidikan SLTP sebanyak 6.930 orang, dan tingkat pendidikan SLTA sebanyak
4.739 orang.

4.2.1.1.4

Fasilitas Kesehatan
8

Jenis fasilitas kesehatan yang ada di Puskesmas Kecamatan Klari, Kabupaten

4.2.2

Karawang pada tahun 2015 adalah :


Puskesmas induk (1)
Puskesmas pembantu (2)
Klinik 24 jam (12)
Dokter praktek swasta (17)
Rumah bersalin (5)
Apotik (5)
Praktek bidan swasta (18)
Balai pengobatan (2)
Posyandu (87)
Posbindu (1)
Data Khusus
4.2.2.1 Masukan
- Tenaga
- Bidan desa
: 14 orang
- Kader
: 1-3 orang/Posyandu
Dana

APBD

: Ada, cukup

APBN
: Ada, cukup
BOK
: Ada, cukup
Sarana
Medis
Peralatan suntik
Disposible syringe (1cc, 2cc, 3 cc ,5 cc) : Ada
Autodisposible syringe (0,05cc, 0,5cc) : Ada
Alkohol 70 %
: Ada
Cold Chain
Lemari es
: 1 buah
Mini freezer
: 1 buah
Vaccine carrier (cold box)
: 13 buah
Termos + 4 buah cold pack : Sejumlah tim lapangan
Vaksin
Tetanus Toxoid
: Ada
Alat dan obat KIPI
Stetoskop
: 1 buah
Tensimeter
: 1 buah
Infus set
: Ada
Alat suntik
: Ada
Cairan infus NaCl 0,9 % : Ada
Deksamethason injeksi : Ada
Adrenalin
: Ada
Paracetamol
: Ada
Non Medis
Leaflet
: Ada
Poster
: Tidak ada
Flip chart
: Ada
9

Gedung Puskesmas
Ruang Pendaftaran
: 1 ruang
Ruang Tunggu
: 1 ruang
Ruang Periksa
: 1 ruang
Kamar Obat
: 1 ruang
Posyandu (87 pos): Sistem lima meja
Buku KIA/KMS
: Ada
Buku pencatatan hasil imunisasi : Ada
Buku pencatatan stok vaksin
: Ada
Kartu pencatatan suhu lemari es : Ada
Kartu pencatatan suhu freezer
: 1 lembar/bulan
Kapas dan tempatnya
: Ada
Tempat sampah
: 1 buah

4.2.2.2 Proses

Perencanaan
Memberikan penyuluhan mengenai imunisasi dasar
Perorangan
: setiap kunjungan periksa kehamilan, dilayani setiap hari
Kelompok
: setiap bulan sesuai jadwal Posyandu dan kelas ibu hamil
Menentukan besarnya sasaran dan target cakupan imunisasi dasar
Besar sasaran : 2679 ibu hamil per tahun
Besar sasaran Januari 2015 September 2015 :
2679 x 9/12 = 2010 ibu hamil
Target cakupan :
- Cakupan Imunisasi tetanus toxoid ibu hamil : 90%
- Cakupan Status Imunisasi tetanus toxoid ibu hamil : 100%
Membuat jadwal pelayanan imunisasi tetanus toxoid ibu hamil :
Dua kali seminggu, setiap hari Rabu dan Kamis di puskesmas.
Sebulan sekali sesuai jadwal Posyandu
Merencanakan logistik imunisasi tetanus toxoid

Kebutuhan vaksin = Jumlah sasaran x target cakupan x 1 vial


Dosis efektif
2679 x 90
x 1 vial
=
10
= 241 vial
Kebutuhan alat suntik = jumlah sasaran x target cakupan
= 2679 x 90%
= 2411 buah
Kebutuhan vaksin Januari 2015 September 2015
= jumlah sasaran tahun 2015 x 9/12
= 241 vial x 9/12
= 181 vial
Kebutuhan alat suntik tahun 2015
= jumlah sasaran x target cakupan
= 2679 x 90%
= 2411 alat suntik
10

Kebutuhan alat suntik Januari 2015 September 2015


= jumlah kebutuhan alat suntik tahun 2015 x 9/12
= 2411 x 9/12
= 1808 alat suntik

Kebutuhan cold chain :


Lemari es
: 1 buah
Mini freezer
: 1 buah
Vaccine carrier (cold box) : 13 buah
Termos + 4 buah cold pack : Sejumlah tim lapangan
Mengelola vaksin, peralatan vaksinasi dan cold chain:
Vaksin disimpan pada suhu antara 20 C hingga 80 C.
Bagian bawah lemari es diletakkan kotak dingin cair (cool pack)

sebagai penahan dingin dan kestabilan suhu


Vaksin TT diletakkan lebih jauh dari evaporator.
Beri jarak antara kotak vaksin minimal 1-2 cm atau satu jari tangan
agar terjadi sirkulasi udara yang baik.
Letakkan 1 buah thermometer Muller di bagian tengah lemari es.
Pencatatan suhu sehari 2x yaitu pada pagi hari dan menjelang pulang

siang/sore.
Melakukan monitoring dengan PWS : 12 x/tahun
Merencanakan penatalaksanaan KIPI : Jika ada kasus, setiap hari
Melakukan pencatatan dan pelaporan : 12 x/tahun

Pengorganisasian
Adanya pembagian dan pemberian tugas yang teratur dalam melaksanakan
tugasnya.
Kepala Puskesmas
Dr. Dini Nurdianti P, M.Epid

Petugas Pencatatan dan Pelaporan Progr


(Ka. Subag Tata Usaha)
Koordinator Upaya
Kesehatan Keluarga (Imunisasi)
Bidan Nina Herlina S, SST

Bidan Desa
Kader Terlatih

Gambar 2. Bagan Organisasi Program Imunisasi Puskesmas Klari


Kepala Puskesmas:
Menerima vaksin dari Puskesmas Kecamatan.
Mengkoordinasi pemakaian vaksin di Puskesmas kelurahan dan Posyandu

Mengadakan lokakarya mini puskesmas setiap awal bulan


11

Mengadakan rapat tribulan di kecamatan

Bidan :

Mengkoordinasi dan membagi tugas para petugas yang ada di Program

imunisasi
Memberikan pelayanan imunisas Tetanus Toxoid ibu hamil di Puskesmas

setiap Rabu dan Kamis pukul 08:00 12.00


Perencanaan kegiatan Posyandu

Memberikan pelayanan imunisasi Tetanus Toxoid ibu hamil di Posyandu


Mengadakan penyuluhan kader Posyandu
Mengadakan penyuluhan perorangan dan penyuluhan kelompok mengenai

imunisasi Tetanus Toxoid ibu hamil


Membuat laporan bulanan imunisasi Tetanus Toxoid ibu hamil dan

permintaan logistik vaksin


Membuat grafik dan analisis data PWS setiap bulan
Membuat grafik suhu lemari es
Mengikuti Lokakarya Mini Puskesmas setiap awal bulan
Mengikuti rapat tribulan di kecamatan

Pelaksanaan

Pendataan status dan pelaksanaan imunisasi dilakukan setiap bulan lewat kegiatan

Posyandu
Para kader mengumpulkan ibu hamil yang ada di wilayah kerja Posyandu
Pemeriksaan ANC dilakukan oleh bidan yang bertanggung jawab di suatu Posyandu
tersebut

Pengawasan

Pencatatan dilakukan secara berkala setiap bulan oleh pemegang program imunisasi

4.2.2.3 Keluaran
Tabel 1. Data Cakupan Imunisasi Tetanus Toxoid Ibu Hamil di Puskesmas
Kecamatan Klari Periode Januari 2015 hingga September 2015
Sasar
an
Bumil
2010

TT
1

TT
2

TT
3

TT
4

TT
5

TT1(
+)

TT2(
+)

23
%

20
%

16
%

10
%

5%

54%

51%
Tabel 2. Data

Cakupan Status Imunisasi TT Ibu Hamil di Puskesmas Kecamatan Klari


Periode Januari 2015 hingga September 2015
Sasaran

TT1

TT2

TT3

TT4

TT5
12

Bumil
2010

25%

22%

17%

11%

6%

Tabel 3. Data Cakupan Penyuluhan Perorangan Imunisasi TT Ibu Hamil di Puskesmas


Kecamatan Klari Periode Januari 2015 hingga September 2015
Sasaran
Dilakukan setiap kali kunjungan ibu hamil saat

Hasil
Dilakukan setiap kali kunjungan ibu hamil saat

ANC

ANC

Tabel 4. Data Cakupan Penyuluhan Kelompok Imunisasi TT Ibu Hamil di Puskesmas


Kecamatan Klari Periode Januari 2015 hingga September 2015
Sasaran
Dilakukan 1 kali / bulan

Hasil
Tidak dilakukan

Tabel 5: Definisi Operasional Status Imunisasi Tetanus Toxoid (TT)


Status
TT1
TT2

Keterangan
Ibu yang pernah mendapatkan imunisasi TT sebanyak 1 kali sepanjang hidupnya
Ibu yang pernah mendapatkan imunisasi TT sebanyak 2 kali sepanjang hidupnya,
dengan jarak minimal 4 minggu antara suntikan TT1 TT2, atau pernah
13

mendapatkan suntikan DPT sebanyak 3 kali pada saat bayi


Ibu yang pernah mendapatkan imunisasi TT sebanyak 3 kali sepanjang hidupnya,

TT3

dengan jarak minimal 6 bulan antara suntikan TT2 TT3, atau pernah
mendapatkan suntikan DPT 3 kali pada saat bayi dan DT 1 kali saat SD
Ibu yang pernah mendapatkan imunisasi TT sebanyak 4 kali sepanjang hidupnya,

TT4

dengan jarak minimal 1 tahun antara suntikan TT3 TT4, atau pernah
mendapatkan suntikan DPT 3 kali dan DT 2 kali saat SD
Ibu yang pernah mendapatkan imunisasi TT sebanyak 5 kali sepanjang hidupnya,

TT5

dengan jarak minimal 1 tahun antara suntikan TT4 TT5, atau mendapatkan
TT1+

suntikan imunisasi DPT 3 kali dan DT 3 kali saat SD (status imunisasi TT lengkap)
Ibu hamil yang menerima suntikan TT sebanyak 1 kali pada saat hamil, dan tidak

TT2+

pernah mendapatkan suntikan imunisasi TT sebelumnya


Ibu hamil dengan status imunisasi TT5 (lengkap), atau:
-

Ibu hamil yang menerima suntikan TT sebanyak 2 kali saat hamil.


Ibu hamil dengan status TT2, dan menerima suntikan TT sebanyak 1 kali

saat hamil
Ibu hamil dengan status TT3, dan menerima suntikan TT sebanyak 1 kali

saat hamil
Ibu hamil dengan status TT4, dan menerima suntikan TT sebanyak 1 kali
saat hamil.

4.2.2.4 Lingkungan

Lingkungan Fisik
- Lokasi
- Transportasi
- Fasilitas kesehatan lain

: Tidak terdapat lokasi yang sulit dicapai


: Tersedia sarana transportasi
: Ada fasilitas kesehatan lain, dan pasien yang
melakukan pmeriksaan antenatal di luar wilayah
kerja puskesmas dilaporkan ke puskesmas tempat
dimana ibu tinggal.

Lingkungan Non-Fisik
- Pendidikan

: Rata rata masyarakat pendidikan rendah.

Maka
dengan itu pengetahuan masyarakat mengenai
manfaat imunisasi terhadap ibu hamil masih
-

Budaya

Perilaku

Sosial ekonomi

rendah.
: Kepercayaan masyarakat yang masih kuat bahwa
ibu hamil tidak boleh disuntik
: Ibu hamil hanya memeriksakan diri ke puskesmas
atau bidan pada saat ada masalah pada
kehamilannya.
: Mayoritas ibu hamil bekerja sebagai karyawan
14

pabrik, sehingga waktu program imunisasi tidak


sama dengan waktu luang ibu hamil.
4.2.2.5 Umpan Balik

Pencatatan dan pelaporan : Adanya pencatatan dan pelaporan setiap bulan secara
lengkap mengenai program imunisasi tetanus toxoid ibu hamil

Rapat kerja dalam bentuk lokakarya mini : 1 bulan sekali

4.2.2.6 Dampak

Langsung :

Menurunkan jumlah kesakitan ibu dan bayi akibat tetanus maternal dan

neonatorum
belum dapat dinilai
Menurunkan jumlah kematian ibu dan bayi akibat tetanus maternal dan
tetanus neonatorum
belum dapat dinilai

Tidak langsung :
Meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat di wilayah
kerja

belum dapat dinilai

15

Bab V
Pembahasan
3. J
5.1

Pembahasan Masalah

5.1.1

Masalah Menurut Keluaran


5.1.1.1 Cakupan Imunisasi Tetanus Toxoid Ibu Hamil :
Sasaran TT1
Bumil

TT2

TT3

TT4

TT5

TT1(+) TT2(+)

2010

20%

16%

10%

5%

54%

23%

51%

Keterangan
Target Cakupan TT2+ ibu hamil Januari 2015 September 2015 : 90% x 9/12 = 68%
Besar masalah : 68% - 51% = 17%
5.1.1.2 Cakupan Status Imunisasi Tetanus Toxoid Ibu Hamil :
Sasaran
Bumil
2010

TT1

TT2

TT3

TT4

TT5

25%

22%

17%

11%

6%

Besar
masalah
Keterangan

50%

53%

58%

64%

69%

Target Cakupan status TT ibu hamil Januari 2015 September 2015 : 100 x 9/12 = 75%

Cakupan status TT1 ibu hamil besar masalah 75% - 25% = 50 %


Cakupan status TT2 ibu hamil besar masalah 75% - 22% = 53 %
Cakupan status TT3 ibu hamil besar masalah 75% - 17% = 58 %
Cakupan status TT4 ibu hamil besar masalah 75% - 11% = 64 %
Cakupan status TT5 ibu hamil besar masalah 75% - 6% = 69 %

Cakupan Penyuluhan Kelompok


16

Masukan

Tolok Ukur

Penyuluhan pada kelompok 1 kali/bulan


ibu hamil

Pencapaian

Masalah

Tidak dilakukan

(+)

Keterangan:
Target cakupan penyuluhan pada kelompok ibu hamil Januari 2015 September 2015:

1 kali per bulan x 9 bulan = 9 kali

Hasil : Tidak dilakukan

Bab VI
Perumusan Masalah
17

6.1 Masalah Menurut Keluaran


6.1.1 Cakupan Imunisasi Tetanus Toxoid Ibu Hamil
Sasara
n
Bumil
2010

TT1

TT2

TT3

TT4 TT5 TT1(+) TT2(+)

23% 20% 16% 10%

5%

54%

51%

Penyebab Masalah
Dari masukan:

Jumlah kader per Posyandu ada yang kurang dari 5.


Kader yang ada kurang kompeten dalam menentukan status imunisasi ibu hamil,

sehingga terjadi kesalahan dalam pendataan


Waktu pelayanan imunisasi yang sedikit (1 hari setiap bulan di Posyandu, dan 2 hari

per minggu di puskesmas)


Dari proses:
Penyuluhan di dalam dan luar gedung yang kurang dilakukan mengenai imunisasi

TT kepada masyarakat
Waktu pelayanan imunisasi di puskesmas dan Posyandu yang tidak sama dengan
waktu luang ibu hamil yang bekerja, sehingga mereka tidak datang untuk menerima

imunisasi.
Dilakukan kelas ibu hamil dan penyuluhan setiap kali Posyandu, namun tidak semua
ibu hamil dapat menghadiri kelas dan Posyandu karena keterbatasan waktu. Selain
itu, topik imunisasi TT tidak selalu menjadi bahan yang dibahas setiap kali kelas ibu

hamil dan Posyandu.


Kurangnya penyuluhan buat kader mengenai cara-cara yang benar untuk
menetapkan status TT ibu hamil, hingga terjadi kekeliruan dalam menentukan
apakah ibu hamil masih perlu divaksin TT atau tidak, dan terjadi kesalahan dalam

pendataan.
Kurangnya kerjasama lintas program antara imunisasi dasar dan KIA untuk
membantu ketepatan pencatatan status imunisasi, sekaligus menentukan kebutuhan

imunisasi TT ibu hamil yang sebetulnya


Kurangnya cakupan imunisasi dasar, Bulan Imunisasi Anak Sekolah, imunisasi
calon pengantin dan ANC hingga ibu ibu tidak mendapatkan status imunisasi TT

lengkap pada saat hamil.


Dari lingkungan:

18

Kurangnya pengetahuan ibu hamil dan keluarganya akan kepentingan pemberian

imunisasi TT, sehingga tidak adanya kepatuhan untuk datang rutin ke Posyandu atau
puskesmas
Kuatnya kepercayaan masyarakat bahwa ibu hamil tidak boleh disuntik

6.1.2 Cakupan Status Imunisasi Tetanus Toxoid Ibu Hamil


Sasaran
Bumil
2010

TT1

TT2

TT3

TT4

TT5

25%

22%

17%

11%

6%

Besar masalah

50%

53%

58%

64%

69%

Dari masukan:

Jumlah kader yang kurang, sehingga kurangnya jumlah ibu hamil yang dapat
diskrining.

Dari proses:

Kader tidak dilatih dari awal mengenai cara-cara yang benar untuk menentukan
status imunisasi ibu hamil, sehingga terjadi kesalahan dalam pendataan.

Kurangnya kerjasama lintas program antara imunisasi dasar dan ANC dalam
membantu proses penetapan status imunisasi TT ibu hamil.

Kurangnya cakupan imunisasi TT imunisasi dasar, Bulan Imunisasi Anak Sekolah


dan imunisasi calon pengantin sehingga pada saat skrining, didapatkan cakupan
status imunisasi TT ibu hamil masih belum mencapai target yang seharusnya.

Dari lingkungan:

Ibu hamil yang sudah lupa jumlah suntikan imunisasi TT yang pernah mereka
terima sehingga sulit untuk menentukan status imunisasi masing-masing ibu
hamil pada saat skrining dilakukan

Kurangnya pengetahuan ibu hamil mengenai seberapa banyak suntikan imunisasi


TT yang seharusnya ia peroleh untuk mendapatkan perlindungan dari penyakit
tetanus, sehingga status imunisasi TT mereka masih belum lengkap.

6.1.3 Cakupan Penyuluhan Kelompok


Masukan

Tolok Ukur

Penyuluhan pada kelompok 1 kali/bulan


ibu hamil

Pencapaian

Masalah

Tidak dilakukan

(+)
19

Dari masukan:

Kurangnya kader untuk membantu program imunisasi TT ibu hamil


Materi imunisasi TT ibu hamil tidak menjadi bahan yang dibahas di Posyandu

Dari proses:

Kurangnya pengetahuan kader mengenai imunisasi TT ibu hamil


Bidan-bidan tidak memberikan informasi mengenai imunisasi TT yang sesuai
dengan tingkat pemahaman kader, sehingga kader memilih untuk tidak melakukan
penyuluhan mengenai imunisasi TT kepada ibu hamil saat Posyandu dilakukan

Dari lingkungan:

Ibu hamil jarang hadir ke Posyandu karena waktu luang ibu hamil tidak sama
dengan jadwal Posyandu.

Bab VII
Prioritas Masalah
7.1 Skoring prioritas masalah
Parameter

Masalah

Besarnya masalah

A
3

B
5

C
5

Berat ringannya akibat yang ditimbulkan

Keuntungan sosial bila masalah selesai

Sumber daya yang tersedia

Kemudahan teknis

Total

22

20

21
20

Keterangan :
A. Cakupan imunisasi Tetanus toxoid ibu hamil 51% belum mencapai target 68%
B. Cakupan status imunisasi TT ibu hamil TT1-TT5 belum mencapai target 75%
C. Kurangnya cakupan penyuluhan kelompok ibu hamil mengenai imunisasi TT belum
mencapai target 9 kali.
Koding

Sangat penting

4
3
2
1

Penting
Cukup / Sedang
Kurang
Sangat Kurang

Yang menjadi prioritas masalah adalah :

Cakupan imunisasi TT2+ ibu hamil 51% belum mencapai target (68%)

Cakupan penyuluhan kelompok ibu hamil mengenai imunisasi TT belum mencapai target
9 kali.

Bab VIII
Penyelesaian Masalah
8.2

Masalah 1
Cakupan imunisasi TT2+ ibu hamil 51% belum mencapai target (68%)
Penyebab :

Kurangnya tenaga kesehatan (kader) untuk membantu program imunisasi TT ibu hamil di
Posyandu

Terjadi kekeliruan dalam pencatatan data imunisasi TT ibu hamil sehingga cakupan yang
tercatat lebih rendah dari sebetulnya

Kurangnya cakupan program imunisasi dasar, Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS),
dan imunisasi calon pengantin, sehingga ibu hamil harus mendapatkan suntikan imunisasi
TT tambahan berupa TT1+ dan TT2+ pada saat hamil.

Penyelesaian masalah :

Menambah jadwal penyuluhan dan pelayanan imunisasi TT ibu hamil di puskesmas.

21

Menambah waktu pelayanan imunisasi yang lebih fleksibel untuk memenuhi kebutuhan
ibu hamil yang bekerja

Para kader atau bidan di daerah melakukan penyuluhan perorangan mengenai


kepentingan imunisasi tetanus toxoid kepada ibu hamil di daerah setempat. Diharapkan
penyuluhan yang diberikan disesuaikan dengan tingkat pendidikan ibu hamil, sehingga
akan terbentuknya keinginan pada ibu hamil untuk datang rutin ke Posyandu atau
puskesmas.

Melatih kader-kader yang sedia ada mengenai cara-cara menetapkan status imunisasi TT
dan pencatatan status yang benar, untuk mengelakkan penyuntikan vaksin yang sia-sia.

Menambah jumlah kader yang terlatih dan kompeten di Posyandu

Meningkatkan cakupan program imunisasi dasar, Bulan Imunisasi Anak Sekolah dan
imunisasi calon pengantin, supaya ibu hamil dan bayi tetap mendapatkan perlindungan
dari tetanus tanpa perlu memberikan suntikan vaksin tetanus saat ANC.

Meningkatkan cakupan program ANC secara keseluruhan, dalam rangka meningkatkan


cakupan imunisasi TT2+. Hal ini karena imunisasi TT1+ dan TT2+ diberikan pada saat
kunjungan ibu hamil ke puskesmas pada saat ANC.

8.2

Masalah 2
Cakupan penyuluhan kelompok ibu hamil belum mencapai target 9 kali dalam periode
Januari 2015 hingga September 2015.

Penyebab :

Kurangnya jumlah kader untuk membantu program imunisasi TT ibu hamil


Materi imunisasi TT ibu hamil tidak menjadi bahan yang dibahas di Posyandu
Kurangnya pengetahuan kader mengenai imunisasi TT ibu hamil
Ibu hamil jarang hadir ke Posyandu karena waktu luang ibu hamil tidak sama dengan
jadwal Posyandu.

Penyelesaian masalah :

Menambah tenaga kerja yang ada (kader daerah setempat) untuk membantu program
imunisasi TT ibu hamil.

Bidan bidan dari program ANC dan KIA memberikan penyuluhan mengenai
kepentingan imunisasi TT kepada kader supaya mereka lebih memahami kepentingan
22

imunisasi TT terhadap ibu hamil, agar menjadi pemicu buat mereka untuk menarik lebih
banyak ibu hamil ke Posyandu, serta seterusnya dapat memberikan penyuluhan mengenai
kepentingan program tersebut buat ibu hamil.

Menyusun jadwal Posyandu yang lebih fleksibel agar lebih banyak ibu hamil dapat hadir
ke Posyandu di waktu luang masing-masing.

Koordinator program meningatkan bidan-bidan desa dan kader untuk memberikan


penyuluhan mengenai imunisasi TT kepada kelompok ibu hamil.

Menyusun pembagian tugas dan tanggung jawab secara jelas dan tertulis mengenai
pelaksanaan penyuluhan, rincian tugas, serta membuat jadwal penyuluhan secara teratur.

Bab IX
Penutup
9.1

Kesimpulan
Dari hasil evaluasi program Imunisasi tetanus toxoid ibu hamil yang dilakukan dengan

cara pendekatan sistem di Puskesmas Kecamatan Klari dan wilayah kerja sekitarnya pada
periode Januari hingga September 2015 belum berjalan dengan baik melihat berbagai masalah
yang ditemui sebagai berikut :
1. Cakupan imunisasi TT2+ ibu hamil 51% dari target 68%
2. Cakupan status TT ibu hamil:
i.

Cakupan status TT1 ibu hamil 25% dari target 75%

ii.

Cakupan status TT2 ibu hamil 22% dari target 75%

iii.

Cakupan status TT3 ibu hamil 17% dari target 75%

iv.

Cakupan status TT4 ibu hamil 11% dari target 75%

v.

Cakupan status TT5 ibu hamil 6% dari target 75%

23

3. Cakupan penyuluhan imunisasi TT terhadap kelompok ibu hamil yaitu tidak


dilakukan berbanding target 9 kali dalam periode Januari 2015 hingga September
2015.
9.2

Saran Kepada Kepala Puskesmas

9.2.1

Menyusun pembagian tugas dan tanggung jawab secara jelas dan tertulis mengenai
pelaksanaan penyuluhan, rincian tugas, serta membuat jadwal penyuluhan secara teratur
buat setiap bulan, sehingga diharapkan pada akhir tahun 2015 setiap petugas telah dan
mengerjakan bagian tugas masing-masing sesuai petunjuk dari kepala puskesmas.

9.2.2

Menambah waktu/jadwal penyuluhan mengenai imunisasi TT ibu hamil di Posyandu


kepada kelompok ibu hamil dan wanita usia subur lainnya, dalam rangka untuk mencapai
target penyuluhan satu kali perbulan. Diharapkan dengan meningkatnya pengetahuan ibu
hamil mengenai kepentingan imunisasi TT, cakupan imunisasi TT2+ sebanyak 90%
tercapai pada akhir tahun 2015.

9.2.3

Melakukan penyuluhan perorangan oleh para kader atau bidan di daerah setempat, yang
disesuaikan dengan tingkat pendidikan ibu hamil mengenai pentingnya imunisasi dengan
harapan dapat memberi pengetahuan kepada ibu hamil dan menghakis persepsi atau
kepercayaan bahwa ibu hamil tidak boleh disuntik. Dengan itu, diharapkan jumlah ibu
hamil yang datang untuk menerima imunisasi TT meningkat.

9.2.4

Menambah dan melatih kader kader baru yang kompeten dan mempunyai pengertian
yang baik mengenai program imunisasi TT dan cara cara menentukan status imunisasi
TT ibu hamil, dalam rangka untuk mencapai target 5 orang kader per Posyandu, dan
mengurangkan kesalahan dalam pendataan.

24

Daftar Pustaka
1. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Kerja Puskesmas Jilid III. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI, 1996, hal 74-5
2. Depkes RI. Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi. Jakarta. 2005.
3. Badan Pusat Statistik, BKKBN, Menkes RI. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
2012. Jakarta. 2012, hal 17-20.
4. Depkes RI. Imunisasi Dasar Bagi Pelaksana Imunisasi/Bidan. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI. 2009, hal 1-39.
5. World Health Organization. Global Health Observatory Data Repository Indonesia
statistics

(2002

present).

Diunduh

dari

http://apps.who.int/gho/data/node.country.country-IDN pada 3/10/2015.


6. Kementerian Kesehatan R.I. Buku Pedoman Imunisasi Tetanus pada Wanita Usia Subur.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 2011, hal 3-39.

25