Anda di halaman 1dari 34

BAYIKU LAHIR PREMATUR

SGD 9 LBM 1 TUMBANG


STEP 1
1. Apgar score :
- Metode sederhana untuk menilai kesehatan neonatus sesaat
setelah bayi lahir. Appearance (warna kulit), pulse (denyut
jantung), grimace (refleks), activity (tonus otot), respiratory
(pernapasan). Dinilai pada menit ke 1, 5, 10
- Digolongkan semakin tinggi berarti normal, jika rendah asfiksia
berat.
Pada menit pertama :
o 8-10 normal
o Asfiksia ringan 7,
o asfiksia sedang 4-6,
o asfiksia berat 0-3
2. Resusitasi :
- Pengembalian suatu keadaan meliputi vital sign, memulihkan
jantung dan paru setelah henti jantung dan paru
- Diberikan ventilasi adekuat yaitu oksigen untuk memulihkan
kerja jantung
- Prosedur pada bayi yg tidak adapat bernapas secara spontan dan
teratur sesaat setelah lahir
3. Skor ballard dan dubowitz
- Suatu penilaian untuk menilai usia gestasi dengan menilai fisik
dan neuromuskuler
- Neuromuskuler : postur tubuh, pergelangan tangan, poplitea,
tonus pasif bahu, pergerakan otot panggul
- Fisik : kulit, lanugo (rambut halus, paling banyak paha dan
punggung atas), permukaan kaki, payudara, mata dan
telinga(semakin tua usia bayi kartilago semakin matang), genital
4. Kurva lubschenko dan nelhause
- Kurva yg menunjukkan korelasi BB dengan masa gestasi.
Persentil 0-90 normal. Jika lebih besar masa kehamilan, jika
kurang kecil masa kehamilan
5. Hyalin membrane disease
- Gangguan pernapasan yg sering terjadi pd bayipremaur dgn
takipneu >10x/menit, retraksi dada, sianosis yg menetap dan
memburuk pd 48-96 jam kehidupan dg x ray thorax. Tanda klinis
sesuai besar bayi. Berat penyalit dan ada tidaknya infeksi
- Sindrom distress pernapasan karena kekurangan surfaktan
6. Asfiksia
- Kegagalan napas spontan dan teratur sesaat setelah bayi lahir yg
ditandai dengan asidosis, hiperkardia

Step 2
1. Bagaimna adaptasi intra uterine ke ekstra uterine bayi baru lahir?
2. Mengapa ketika lahir bayi tidak langsung menangis?
3. Apa hubungan ketuban pecah dini dengan kondisi neonatus di
skenario?
4. Bagaimana klasifikasi dari asfiksia dan bagaimana cara
menentukan?
5. Bagaimana gambaran foto thorax pada hyalin membran disease?
6. Bagaimana cara menilai skor ballad dan dubowitz?
7. Bagaimana cara mengevaluasi menggunakan kurva lubschenko dan
nelhause?
8. Kapan resusitasi dilakukan dan bagaimna cara melakukananya?
9. Bagaimana proses timbulnya asfiksia?
10.
Apa interpretasi dari apgar score 6-7-8 pada skenario?
11.
Bagaimana bisa terjadi hyalin membran disease?
12.
Apa saja faktor penyebab BBLR menurut umur kehamilan?
13.
Apa diagnosis dan DD?
14.
Bagaimana periode pertumbuhan pada janin?
15.
Apa yang dimaksud dg gangguan pertunmbuhan janin?
16.
Apa definisi BBLR dan klasifikasi BBLR?
17.
Bagaimana hubungan preterm dengan asfiksia?
18.
Bagaimana hubungna preterm dengan BBLR?
19.
Bagaiman menilai maturitas neonatus?
20.
Bagaiman kecukupan gizi dan kebutuhan pada neonatus?
21.
Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur
dan bayi BBLR dengan problem yg dialami?
22.
Bagimana penatalaksanaan pada skenario?

Step 3
1. Bagaimana adaptasi intra uterine ke ekstra uterine bayi baru lahir?
- Sistem kardiorespiratorik
Pada intra uterine oksigen dari maternal lewat plasenta v.
Umbilicalis ductus venosus Vena cava inferior atrium
kanan ventrikel kanan truncus pulmonalis ductus
arteriosus aorta seluruh tubuh

Atrium kanan atrium kiri lewat foramen ovale ventrikel kiri


aorta
Ketika bayi lahir ada tarikan napas pertam paru berkembang
kapiler paru membuka tahanan perifer berkurang TD
pulmo turun Tekanan atrium turun tekanan sistemik naik
foramen ovale menutup karena tekanan atrium kiri naik
Ductus arteriosus menutup
Vena umbilicalis menutup karena aliran darah plasenta
berkurang
Arteri umbilikalis menutup

Fase perkembangan paru intrauterine :


Fase glandular : minggu 5-16, baru terbentuk sampai bronkiolus
terminalis
Fase kanalikuler :
Saccus terminalis : 16-26 minggu, sudah terbentuk bronkiolus
respiratorius, epitel kuboid. Surfaktan mulai terbentuk pada 2022 minggu, surfaktan untuk menurunkan tegangan permukaan,
jika tidak adekuat maka akan terjadi hyalin membran disease.
Saat bayi napas pertama kali lalu kolaps sehingga susah napas
lagi sehingga menjadi asidosis
Alveolus

Lingkungan fisik : intr : cairan, Ekstra : udara

Suhu luar : intra tetap, ekstra berubah

Gizi : intra : tergantung zat gizi ibu, ekstra :tergantung


tersedianya bahan kemampuan sel cerna

Penyediaan oksigen : intar : dari ibu lewat plasenta, ekstra : dari


pau ke pembuluh paru

Metabolisme : intra : ke peredaran darah ibu, ekstra : lewat paru,


kulit, ginjal, sal cerna

Sensoris : intra : kinestetik atau vibrasi, ekstra : bermacammacam

Saat janin paru mengandung cairan lalu saat lahir kana keluar
sepertiganya sisanya akan diserap limfe dan PD. Yang merangsang
pernapasan bayi :

Ada tekanan rongga dada bayi saat persalinan


Penimbunn co2
Perubahan suhu : dingin merangsang penapasan
Digestivus : mukopolisakarida (mekoneum), keluar saat 10 jam
pertama sampai 4 hari, lalu warna kembali normal

2. Mengapa ketika lahir bayi tidak langsung menangis?


- Respirasi : dinilai dengan tangisan bayi, jika tidak nangis berarti
ada gangguan pada saluran napas. Surfaktan yang berkurang
menyebabkan bayi tidak menangis saat lahir
- Faktor ibu : hipoksia ibu karena hipoventilasi saat persalinan,
aliran darah uterus ada gangguan, kareana hipo/hipertoni,
tekanan darah tinggi/rendah
- Faktor plasenta : gangguan plasenta, perdarahan plasenta
- Faktor fetus : umbilkus kompresi aliran darah terganggu
Tali pusat melilit leher
- Faktor neonatus : bayi prematur < 37 minggu, air ketuban
tercampur mekoneum, trauma saat persalinan, kelainan
kongenital pada bayi
3. Apa hubungan ketuban pecah dini dengan kondisi neonatus di
skenario?
KPD akhiri kehamilan pada usia aterm
32 minggu segera keluarkan bayi
Ketuban pecah merangsang kontraksi uterus
Surfaktan dihasilkan pada 20-22 minggu dan puncak pada 35
minggu, jadi pada usia kehamilan 32 minggu surfaktan belum matur
dan bayi susah melakukan pernapasan asfiksia
4. Bagaimana klasifikasi dari asfiksia dan bagaimana cara
menentukan?
A : appearance (warna kulit
0 : pucat
1 : biru
2 : merah muda
P : pulse (nadi)
0 : tidak ada
1 : <100
2 : >100
Grimace :
0 ; tidajk ada
1 : sedikit gerakan
2 : bersin atau batuk

Activity :
0 : tidak ada
1 : ada sedikit
2 : aktif
Respirasi
0 : tidak ada
1 : sedikit, lemah
2 : baik

Klasifikasi :
-

Normal : 10
Asfiksia ringan : 7-9 , dianggap sehat dan tidak perlu tindakan
istimewa,
Mild moderate asfiksisa : 4-6, pemeriksaan fisik jantung >100,
tonus otot kurangbaik, tidak ada reflek
Berat : 0-3, frek jantung <100, sianosis berat, pucat,
Sangat berat : denyut jantung hilng > 10 menit

Penanganannya :
- Berat : ditempat hangat, diberi o2, stimulasi, rujuk
- Sedang : tempat hangat, O2, stimulasi taktil
- Ringan : sesuai bayi normal, suction jalan napas
5. Bagaimana gambaran foto thorax pada hyalin membran disease?
- Grade I : tampak gambaran opaq homogen, masih ada guratan
lusen
- Grade II : sama grade I+ air bronchogram, lusen yang mengikuti
bronkovaskuler
- Grade III : sama grade II + batas jantung dan diafragma tidak
terlihat
- Grade IV : seperti atelektasis , homogen, tarikan organ sekitar
6. Bagaimana cara menilai skor ballad dan dubowitz?
Berdasarkan px fisik dan neuromuskular.
1. Fisik:
a. Kulit
-1 lengket, rapuh, transparan
0 merah tembus pandang
1 licin, merah muda
2 pecah2, daerah pucat, jarang ada vena

3 pecah2 dalam, tidak terlihat vena


4 seperti kulit pecah2 berkeriput
b. Lanugo (rambut halus bayi)
-1 tdk ada
0 jarang
1 banyak sekali
2 menipis
3 ada daerah yg tdk berambut
4 sebagian bsr sudah tdk berambut
c. Garis telapak kaki
-2 antara tumit dengan ibu jari <40 mm
-1 antara 40-50 mm
0 >50 mmm, tdk ada lipatan
1 ada garis2 merah tipis
2 ada garis menlintang di anterior
3 garis lipatan di 2/3 anterior
4 seluruh telapak
d.
e.
f.
g.

Payudara
-1 tidak dikenali
0 sudah dapat dikenali
1 aerola datar
2 aerola berbintil, penonjolan 1-2 mm
3 aerola terangkat, penonjolan 3-4 mm
4 aerola penuh penonjolan 5-10mm
e. mata/telinga
-2 kelopak menyatu dengan ketan
-1 longgar
0 terbuka
1 pina sedikit bergelombang
2 pina bergelombang baik dan lembek
3 keras dan berbentuk
4 kartilago tebal
f. genital pria
-1 scrotum datar, halus
0 scrotum kosong, rugae samar2
1 testis di kanal atas
2 testis turun
3 testis sudsh turun, rugae jelas
4 testis terantung, rugae dalam

h. Genital wannita
-1 klitoris menonjol, labia datar
0 labia minor kecil
1 labia minor besar
2 labia mayor dan minor besar
3 labio mayor besar, minor kecil

4 labia mayor menutupi klitoris dan labia minor


2. Neuromuskuler

Hasil dijumlah semua


-10 gestasi 20 minggu
-5 22 minggu
0 24 minggu
5 26 minggu
10 28 minggu
15 30 mingu
20 32 minggu
25 34 minggu
30 36 minggu
35 38 minggu
0 40 mingggu
45 42 minggu
50 44 minggu
7. Bagaimana cara mengevaluasi menggunakan kurva lubschenko dan
nelhause?
8. Kapan resusitasi dilakukan dan bagaimna cara melakukananya?
-

Sumbatan jalan naps : ada lendir, darah, lidah jatuh ke post


Kondisi depresi pernapasan krn obat pada ibu (magnesium sulfat,
diazepam)
Kerusakan neurologis
Kerusakan sal napas/ kardiovaskuler
Syok hipovolemik : kompresi tali pusat, perdarahan
Langkah :
Segera setelah lahir tanyakan kehamilan cukup bulan, air
ketuban jernih, bayi bernapas adekuat, tonus baik. Apabila ada
yg tidak lakukna resusitasi
Menghangatkna bayi dibawah pemnacra panas

Posisikan kepala bayi ekstensi


Hisap lndir hidung
Rangsang taktil dg gosok punggung, ganti kain basah dg kering
Posisi kepala bayi normalkan kelmabil
Nilai bayi : jika tdk bernapas lakukan memakai ventilasi tekanan
positif dg balon dan sungkup 30 detik, nilai usaha napas, warna
kulit dan jantung, jika belum bernapas maka lanjutkan kompresi
dada selam 30 detik, yg dinilai sama
Jika < 60 denyut jantung epinefrin dan kompresi dada
Jika baik > 60 x kompresi hentikan ttp vtp lanjutkan

Tindakan umum : pengawasan suhu, napas


Penurunan suhu dapat mempersulit keadaan bayi apalagi jika
asfiksia berat, dicegah dg pemakainan lampu agar mendapatkan
panas
- Tindakan khusus :
o Berat : resusitasi aktif segera lakukan : ventilasi paru dg
O2, intubasi endotrakeal
o Sedang : stimulasi agar timbul reflek, kateter intranasal 1-2
menit
9. Bagaimana proses timbulnya asfiksia?
10.
Apa interpretasi dari apgar score 6-7-8 pada skenario?
11.
Bagaimana bisa terjadi hyalin membran disease?
12.
Apa saja faktor penyebab BBLR menurut umur kehamilan?
13.
Apa diagnosis dan DD?
14.
Bagaimana periode pertumbuhan pada janin?
15.
Apa yang dimaksud dg gangguan pertumbuhan janin?
16.
Apa definisi BBLR dan klasifikasi BBLR?
17.
Bagaimana hubungan preterm dengan asfiksia?
18.
Bagaimana hubungna preterm dengan BBLR?
19.
Bagaimana menilai maturitas neonatus?
20.
Bagaimana kecukupan gizi dan kebutuhan pada neonatus?
21.
Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur
dan bayi BBLR dengan problem yg dialami?
22.
Bagaimana penatalaksanaan pada skenario?
Step 7
1. Bagaimna adaptasi intra uterine ke ekstra uterine bayi baru lahir?f
2. Mengapa ketika lahir bayi tidak langsung menangis?
3. Apa hubungan ketuban pecah dini dengan kondisi neonatus di
skenario?

(Behrman RE, Butler AS, editors. Preterm Birth: Causes, Consequences, and
Prevention. Institute of Medicine (US) Committee on Understanding Premature Birth and
Assuring Healthy Outcomes; Washington (DC): National Academies Press (US); 2007.)

Pembentukan substansi surfaktan paru yang tidak sempurna dalam


paru, merupakan salah satu teori yang banyak dianut. Surfaktan
ialah zat yang memegang peranan dalam pengembangan paru dan
merupakan suatu kompleks yang terdiri dari protein, karbohidrat,
dan lemak. Senyawa utama zat tersebut adalah lesitin. Zat ini mulai
dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai maksimum
pada minggu ke 35. Peranan surfaktan adalah menurunkan
tegangan permukaan alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan
mampu untuk menahan sisa udara fungsionil pada akhir ekspirasi.
4. Bagaimana klasifikasi dari asfiksia dan bagaimana cara
menentukan?

Gejala

Denyut
jantung
bayi

Tidak
ada

<100

>100

Nafas

Tidak
ada

Lemah,
menangi
s lemah

Kuat,
menangi
s kuat

Otot

Lemah

Reflek
lemah

Gerak
aktif,
reflek
baik

Reaksi
terhada
p
rangsan
gan

Tidak
ada

Meringis

Menangi
s

Warni
kulit

Biru /
pucat

Badan
merah /
ekstrem
itas
tinggi

Seluruh
nya
merah

Vigorous Baby: Skor Apgar 7-10


Mild Moderate Asphyxia (asfiksia sedang) Skor Apgar 4-6. Pada
pemeriksaan fisi akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100x /
menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, refleks
iritabilitas tidak ada.
- Asfiksia Berat, skor apgar 0-3. Pada pemeriksaan fisis ditemukan
berat dan kadang kadang pucat, refleks iritabilitas tidak ada.
5. Bagaimana gambaran foto thorax pada hyalin membran disease?
Gambaran Pencitraan:
Bentuk thorax yang sempit disebabkan hipoaerasi dan volume paru
berkurang
Gambaran ground glass, retikulogranular menyeluruh serta
perluasan ke perifer
Gambaran udara bronkus
Gambaran granularitas yaitu distensi duktus dan bronkiolus yang
terisi udara dengan alveoli yang mengalami atelektasis

Klasifikasi beratnya PMH dibagi atas 4 derajat:


- Derajat I: bercak retikulogranulerdengan air bronchogram
- Derajat II: Bercak retikulogranuler menyeluruh dengan air
bronchogram
- Derajat III: Opasitas lebih jelas, dengan air bronchogram lebih
jelas meluas ke cabang di perifer; gambaran jantung menjadi
kabur.
- Derajat IV: seluruh lapangan paru terlihat putih (opak). Tidak
tampak air bronchogram, jantung tak terlihat (white lung)
IDAI. 2011. Pedoman Pelayanan Medis
6. Bagaimana cara menilai skor ballad dan dubowitz?
BALLARD SCORE
Sistem penilaian ini dikembangkan oleh Dr. Jeanne L Ballard, MD
untuk menentukan usia gestasi bayi baru lahir melalui penilaian
neuromuskular dan fisik. Penilaian neuromuskular meliputi postur,
square window, arm recoil, sudut popliteal, scarf sign dan heel to
ear maneuver. Penilaian fisik yang diamati adalah kulit, lanugo,
permukaan plantar, payudara, mata/telinga, dan genitalia
1. Penilaian Maturitas Neuromuskular
a. Postur

Tonus otot tubuh tercermin dalam postur tubuh bayi saat istirahat
dan adanya tahanan saat otot diregangkan (Gambar II.3). Ketika
pematangan berlangsung, berangsur-angsur janin mengalami
peningkatan tonus fleksor pasif dengan arah sentripetal, dimana
ekstremitas bawah sedikit lebih awal dari ekstremitas atas. Pada
awal kehamilan hanya pergelangan kaki yang fleksi. Lutut mulai
fleksi bersamaan dengan pergelangan tangan. Pinggul mulai fleksi,
kemudian diikuti dengan abduksi siku, lalu fleksi bahu. Pada bayi
prematur tonus pasif ekstensor tidak mendapat perlawanan,
sedangkan pada bayi yang mendekati matur menunjukkan
perlawanan tonus fleksi pasif yang progresif. Untuk mengamati
postur, bayi ditempatkan terlentang dan pemeriksa menunggu
sampai bayi menjadi tenang pada posisi nyamannya. Jika bayi
ditemukan terlentang, dapat dilakukan manipulasi ringan dari
ekstremitas dengan memfleksikan jika ekstensi atau sebaliknya. Hal
ini
akan
memungkinkan
bayi
menemukan
posisi
dasar
kenyamanannya. Fleksi panggul tanpa abduksi memberikan
gambaran seperti posisi kaki kodok.

b. Square Window
Fleksibilitas pergelangan tangan dan atau tahanan terhadap
peregangan ekstensor memberikan hasil sudut fleksi pada
pergelangan tangan. Pemeriksa meluruskan jari jari bayi dan
menekan punggung tangan dekat dengan jari-jari dengan lembut.
Hasi sudut antara telapak tangan dan lengan bawah bayi dari
preterm hingga posterm diperkirakan berturut-turut > 90 , 90 , 60
, 45 , 30 , dan 0 (Gambar II.4).

c. Arm Recoil
Manuver ini berfokus pada fleksor pasif dari tonus otot biseps
dengan mengukur sudut mundur singkat setelah sendi siku difleksi
dan ekstensikan. Arm recoil dilakukan dengan cara evaluasi saat
bayi terlentang. Pegang kedua tangan bayi, fleksikan lengan bagian
bawah sejauh mungkin dalam 5 detik, lalu rentangkan kedua lengan
dan lepaskan.Amati reaksi bayi saat lengan dilepaskan. Skor 0:
tangan tetap terentang/ gerakan acak, Skor 1: fleksi parsial 140-180
, Skor 2: fleksi parsial 110-140 , Skor 3: fleksi parsial 90-100 , dan
Skor 4: kembali ke fleksi penuh (Gambar II.5).

d. Popliteal Angle

Manuver ini menilai pematangan tonus fleksor pasif sendi lutut


dengan menguji resistensi ekstremitas bawah terhadap ekstensi.
Dengan bayi berbaring telentang, dan tanpa popok, paha
ditempatkan lembut di perut bayi dengan lutut tertekuk penuh.
Setelah bayi rileks dalam posisi ini, pemeriksa memegang kaki satu
sisi dengan lembut dengan satu tangan sementara mendukung sisi
paha dengan tangan yang lain. Jangan memberikan tekanan pada
paha belakang, karena hal ini dapat mengganggu interpretasi. Kaki
diekstensikan sampai terdapat resistensi pasti terhadap ekstensi.
Ukur sudut
yang terbentuk antara paha dan betis di daerah popliteal. Perlu
diingat bahwa
pemeriksa harus menunggu sampai bayi berhenti menendang
secara aktif sebelum melakukan ekstensi kaki. Posisi Frank Breech
pralahir akan mengganggu manuver ini untuk 24 hingga 48 jam
pertama usia karena bayi mengalami kelelahan fleksor
berkepanjangan intrauterine. Tes harus diulang setelah pemulihan
telah terjadi (Gambar II.6).

e. Scarf Sign 3,4,7


Manuver ini menguji tonus pasif fleksor gelang bahu. Dengan bayi
berbaring telentang, pemeriksa mengarahkan kepala bayi ke garis
tengah tubuh dan mendorong tangan bayi melalui dada bagian atas
dengan satu tangan dan ibu jari dari tangan sisi lain pemeriksa
diletakkan pada siku bayi. Siku mungkin perlu diangkat melewati
badan, namun kedua bahu harus tetap menempel di permukaan
meja dan kepala tetap lurus dan amati posisi siku pada dada bayi
dan bandingkan dengan angka pada lembar kerja, yakni, penuh
pada tingkat leher (-1); garis aksila kontralateral (0); kontralateral
baris puting (1); prosesus xyphoid (2); garis puting ipsilateral (3);
dan garis aksila ipsilateral (4) (Gambar II.7).

f. Heel to Ear
Manuver ini menilai tonus pasif otot fleksor pada gelang panggul
dengan memberikan fleksi pasif atau tahanan terhadap otot-otot
posterior fleksor pinggul. Dengan posisi bayi terlentang lalu pegang
kaki bayi dengan ibu jari dan telunjuk, tarik sedekat mungkin
dengan kepala tanpa memaksa, pertahankan panggul pada
permukaan meja periksa dan amati jarak antara kaki dan kepala
serta tingkat ekstensi lutut ( bandingkan dengan angka pada lembar
kerja). Penguji mencatat lokasi dimana resistensi signifikan
dirasakan. Hasil dicatat sebagai resistensi tumit ketika berada pada
atau dekat: telinga (-1); hidung (0); dagu (1); puting baris (2);
daerah pusar (3); dan lipatan femoralis (4)

2. Penilaian Maturitas Fisik


a. Kulit

Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur intrinsiknya


bersamaan dengan hilangnya secara bertahap dari lapisan pelindung,
yaitu vernix caseosa. Oleh karena itu kulit menebal, mengering dan
menjadi keriput dan / atau mengelupas dan dapat timbul ruam selama
pematangan janin. Fenomena ini bisa terjadi dengan kecepatan berbedabeda pada masing-masing janin tergantung pada kondisi ibu dan
lingkungan intrauterin. Sebelum perkembangan lapisan epidermis dengan
stratum corneumnya, kulit agak transparan dan lengket ke jari pemeriksa.
Pada usia perkembangan selanjutnya kulit menjadi lebih halus, menebal
dan menghasilkan pelumas, yaitu vernix, yang menghilang menjelang
akhir kehamilan. pada keadaan matur dan pos matur, janin dapat
mengeluarkan mekonium dalam cairan ketuban. Hal ini dapat
mempercepat proses pengeringan kulit, menyebabkan mengelupas,
pecah-pecah, dehidrasi, seperti sebuah perkamen.
b. Lanugo
Lanugo adalah rambut halus yang menutupi tubuh fetus. Pada extreme
prematurity kulit janin sedikit sekali terdapat lanugo. Lanugo mulai
tumbuh pada usia gestasi 24 hingga 25 minggu dan biasanya sangat
banyak, terutama di bahu dan punggung atas ketika memasuki minggu ke
28. Lanugo mulai menipis dimulai dari punggung bagian bawah. Daerah
yang tidak ditutupi lanugo meluas sejalan dengan maturitasnya dan
biasanya yang paling luas terdapat di daerah lumbosakral. Pada
punggung bayi matur biasanya sudah tidak ditutupi lanugo. Variasi jumlah
dan lokasi lanugo pada masing-masing usia gestasi tergantung pada
genetik, kebangsaan, keadaan hormonal, metabolik, serta pengaruh gizi.
Sebagai contoh bayi dari ibu dengan diabetes mempunyai lanugo yang
sangat banyak. Pada melakukan skoring pemeriksa hendaknya menilai
pada daerah yang mewakili jumlah relatif lanugo bayi yakni pada daerah
atas dan bawah dari punggung bayi (Gambar II.9).

c. Permukaan Plantar
Garis telapak kaki pertama kali muncul pada bagian anterior ini
kemungkinan berkaitan dengan posisi bayi ketika di dalam kandungan.

Bayi dari ras selain kulit putih mempunyai sedikit garis telapak kaki lebih
sedikit saat lahir. Di sisi lain pada bayi kulit hitam dilaporkan terdapat
percepatan maturitas neuromuskular sehingga timbulnya garis pada
telapak kaki tidak mengalami penurunan. Namun demikian penialaian
dengan menggunakan skor Ballard tidak didasarkan atas ras atau etnis
tertentu. Bayi very premature dan extremely immature tidak mempunyai
garis pada telapak kaki. Untuk membantu menilai maturitas fisik bayi
tersebut berdasarkan permukaan plantar maka dipakai ukuran panjang
dari ujung jari hingga tumit. Untuk jarak kurang dari 40 mm diberikan skor
-2, untuk jarak antara 40 hingga 50 mm diberikan skor -1. Hasil
pemeriksaan disesuaikan dengan skor di tabel (Gambar II.10).

d. Payudara
Areola mammae terdiri atas jaringan mammae yang tumbuh akibat
stimulasi esterogen ibu dan jaringan lemak yang tergantung dari nutrisi
yang diterima janin. Pemeriksa menilai ukuran areola dan menilai ada
atau tidaknya bintik-bintik akibat pertumbuhan papila Montgomery
(Gambar II.11). Kemudian dilakukan palpasi jaringan mammae di bawah
areola dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengukur diameternya dalam
milimeter 9.

e. Mata/Telinga
Daun telinga pada fetus mengalami penambahan kartilago seiring
perkembangannya menuju matur. Pemeriksaan yang dilakukan terdiri atas
palpasi ketebalan kartilago kemudian pemeriksa melipat daun telinga ke
arah wajah kemudian lepaskan dan pemeriksa mengamati kecepatan
kembalinya daun telinga ketika dilepaskan ke posisi semulanya (Gambar
II.12).

Pada bayi prematur daun telinga biasanya akan tetap terlipat ketika
dilepaskan. Pemeriksaan mata pada intinya menilai kematangan
berdasarkan perkembangan palpebra. Pemeriksa berusaha membuka dan
memisahkan palpebra superior dan inferior dengan menggunakan jari
telunjuk dan ibu jari. Pada bayi extremely premature palpebara akan
menempel erat satu sama lain (Gambar II.13). Dengan bertambahnya
maturitas palpebra kemudian bisa dipisahkan walaupun hanya satu sisi
dan meningggalkan sisi lainnya tetap pada posisinya. Hasil pemeriksaan
pemeriksa kemudian disesuaikan dengan skor dalam tabel.
Perlu diingat bahwa banyak terdapat variasi kematangan palpebra pada
individu dengan usia gestasi yang sama. Hal ini dikarenakan terdapat
faktor seperti stres intrauterin dan faktor humoral yang mempengaruhi
perkembangan kematangan palpebra.

f. Genital (Pria) 3,4,9


Testis pada fetus mulai turun dari cavum peritoneum ke dalam scrotum
kurang lebih pada minggu ke 30 gestasi. Testis kiri turun mendahului
testis kanan yakni pada sekitar minggu ke 32. Kedua testis biasanya
sudah dapat diraba di canalis inguinalis bagian atas atau bawah pada
minggu ke 33 hingga 34 kehamilan. Bersamaan dengan itu, kulit skrotum
menjadi lebih tebal dan membentuk rugae
(Gambar II.14) .
Testis dikatakan telah turun secara penuh apabila terdapat di dalam zona
berugae. Pada nenonatus extremely premature scrotum datar, lembut,
dan kadang belum bisa dibedakan jenis kelaminnya. Berbeda halnya pada
neonatus matur hingga posmatur, scrotum biasanya seperti pendulum
dan dapat menyentuh kasur ketika berbaring.
Pada cryptorchidismus scrotum pada sisi yang terkena kosong, hipoplastik
dengan rugae yang lebih sedikit jika dibandingkan sisi yang sehat atau
sesuai dengan usia kehamilan yang sama.

g. Genital (wanita)
Untuk memeriksa genitalia neonatus perempuan maka neonatus harus
diposisikan telentang dengan pinggul abduksi kurang lebih 45o dari garis

horisontal. Abduksi yang berlebihan dapat menyebabkan labia minora dan


klitoris tampak lebih menonjol sedangkan aduksi menyebabkankeduanya
tertutupi oleh labia majora. Pada neonatus extremely premature labia
datar dan klitoris sangat menonjol dan menyerupai penis. Sejalan dengan
berkembangnya maturitas fisik, klitoris menjadi tidak begitu menonjol dan
labia minora menjadi lebih menonjol. Mendekati usia kehamilan matur
labia minora dan klitoris menyusut dan cenderung tertutupi oleh labia
majora yang membesar (Gambar II.15).
Labia majora tersusun atas lemak dan ketebalannya bergantung pada
nutrisi intrauterin. Nutrisi yang berlebihan dapat menyebabkan labia
majora menjadi besar pada awal gestasi. Sebaliknya nutrisi yang kurang
menyebabkan labia majora cenderung kecil meskipun pada usia
kehamilan matur atau posmatur dan labia minora serta klitoris cenderung
lebih menonjol.

Masing-masing hasil penilaian baik maturitas neuromuskular maupun fisik


disesuaikan dengan skor di dalam tabel (Tabel II.2) dan dijumlahkan
hasilnya. Interpretasi hasil dapat dilihat pada tabel skor.
Tabel The New Ballard Score 3

Menurut Ballard

7. Bagaimana cara mengevaluasi menggunakan kurva lubschenko dan


nelhause?

Lubchenko
Sesuai untuk masa kehamilan (SMK)

Persentil 10 - 90
Besar untuk masa kehamilan (BMK)
Bayi lahir BB > 90 persentil

8. Kapan resusitasi dilakukan dan bagaimna cara melakukananya?


Bayi yang memerlukan resusitasi:
- Bila salah satu atau lebih dari 4 penilaian awal di jawab tidak
bayi memerlukan tindakan resusitasi
- Bayi yang lahir kurang bulan mempunyai kecenderungan untuk
lebih memerlukan resusitasi karena beberapa hal berikut. Bayi
kurang bulan mudah mengalami hipotermia karena rasio luas
permukaan dan massa tubuhnya relatif besar, lemak subkutan
sedikit, dan imaturitas pusat pengatur suhu.

Bayi yang lahir dengan air ketuban bercampur mekonium dan


tidak bugar (ditandai dengan depresi pernapasan, frekuensi
jantung kurang dari 100 kali/menit, dan tonus ototnya buruk),
mungkin memerlukan persiapan trakea setelah seluruh tubuh
lahir. Pengisapan intrapartum saat kepala lahir sebelum bahu
dilahirkan, tidak direkomendasikan sebagai tindakan rutin.

Teknik Resusitasi BBL


1. Persiapan dan antisipasi sebelum tindakan (persiapan petugas
yang terampil melakukan resusitasi. Harus lebih dari satu orang)
2. Pencegahan infeksi dengan melakukan standar pencegahan
infeksi (setiap cairan tubuh harus dianggap sebagai bahan yang
berpotensi menyebabkan infeksi. Petugas harus cuci tangan,
pakai sarung tangan dan alat proteksi lain seperti kacamata,
celemek dan baju khusus selama prosedur penanganan)
3. Persiapan peralatan dan obat-obatan
Kebutuhan resusitasi tidak dapat diprediksi tapi bisa di antisipasi.
Oleh karena itu peralatan resusitasi harus di periksa, diuji dan
diyakinkan fungsinya baik.
4. Persetujuan tindakan medik
Petugas harus mendiskusikan rencana tatalaksana bayi dan
memberikan informasi kepada keluarga. Apabila keluarga sudah
menyetujui, petugas meminta persetujuan tindakan medis
tertulis.
5. Persiapan dan antisipasi untuk menjaga bayi tetap hangat
Penilaian Awal
Dilakukan pada setiap BBL untuk menentukan apakah tindakan
resusitasi harus segera dimulai. Penilaian harus dilakukan secara
cepat.
- Apakah bayi lahir cukup bulan?
- Apakah bayi bernapas adekuat dan menangis?
- Apakah tonus ototnya baik
- Apakah air ketuban jernih dan tidak bercampur mekonium?
Bila semua jawaban Ya berarti bayi baik dan tidak memerlukan
tindakan resusitasi. Pada bayi ini segera dilakukan asuhan bayi
normal. Bila salah satu atau lebih jawaban tidak bayi
memerlukan tindakan resusitasi segera dimulai dengan langkah
awal resusitasi.

9. Bagaimana proses timbulnya asfiksia?


10.
Apa interpretasi dari apgar score 6-7-8 pada skenario?
Tanda
Laju Jantung

0
Tidak ada

1
<100

2
>= 100

Usaha Bernapas
Tonus Otot

Tidak ada
Lumpuh

Refleks
Warna Kulit

Tidak bereaksi
Seluruh tubuh
biru/pucat

11.

Lambat
Ekstremitas
fleksi sedikit
Gerakan sedikit
Tubuh
Kemerahan,
ekstremitas biru

Bagaimana bisa terjadi hyalin membran disease?

Menangis kuat
Gerakan aktif
Reaksi Melawan
Seluruh tubuh
kemerahan

Pembentukan substansi surfaktan paru yang tidak sempurna dalam


paru, merupakan salah satu teori yang banyak dianut. Surfaktan
ialah zat yang memegang peranan dalam pengembangan paru dan
merupakan suatu kompleks yang terdiri dari protein, karbohidrat,
dan lemak. Senyawa utama zat tersebut adalah lesitin. Zat ini mulai
dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai maksimum
pada minggu ke 35. Peranan surfaktan adalah menurunkan
tegangan permukaan alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan
mampu untuk menahan sisa udara fungsionil pada akhir ekspirasi.
Defisiensi surfaktan yang ditemukan pada penyakit membran hialin
menyebabkan
kemampuan
paru
untuk
mempertahankan
stabilitasnya terganggu. Alveolus akan kembali kolaps setiap pada
akhir ekspirasi, sehingga untuk pernafasan berikutnya dibutuhkan
tekanan negatif intratoraks yang lebih besar yang disertai usaha
inspirasi yang lebih kuat kuat. Kolaps paru ini akan menyebabkan
terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2, dan
asidosis. Hipoksia akan menimbulkan 1) oksigenasi jaringan
menurun, sehingga akan terjadi metabolisme anaerobik dengan
penimbunan asam laktat dan asam organik lainnya yang
menyebabkan bayi mengalami asidosis.
2) kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris yang akan
menyebabkan terjadinya transudasi ke dalam alveoli dan
terbentuknya fibrin dan selanjutnya fibrin bersama dengan jaringan
epitel yang nekrotik akan membentuk suatu lapisan yang disebut
membran hyalin.
Ilmu Kesehatan Anak Jilid 3. Jakarta:FK UI
12.
Apa saja faktor penyebab BBLR menurut umur kehamilan?
Bayi BBLR menurut usia kehamilannya digolongkan jadi:
Prematuritas murni: Masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan
berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu
atau biasa disebut Bayi kurang bulan sesuai untuk masa
kehamilan.
Penyebab:
- Faktor Ibu:
a. Penyakit
Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan
misalnya toksemia gravidarum, perdarahan antepartum,
trauma fisis dan psikologis. Penyakit lainnya ialah nefritis akut,
diabetes melitus, infeksi akut atau tindakan operatif.
b. Usia
Angka kejadian prematuritas tertinggi adalah pada usia ibu di
bawah 20 tahun dan ada multigravida yang jarak antar
kelahirannya terlalu dekat. Kejadian terendah ialah pada ibu
antara usia 26-35 tahun.

c. Keadaan sosial-ekonomi
Kejadian tertinggi terdapat pada golongan sosial ekonomi
yang rendah. Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang
kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang.
Faktor Janin:
Hidramnion, kehamilan ganda umumnya akan mengakibatkan
lahir bayi BBLR.

Dismaturitas : bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat


badan seharusnya untuk masa gestasi itu.
Penyebab: setiap keadaan yang mengganggu pertukaran zat antara
ibu dan janin. (insufisiensi plasenta)
Ilmu Kesehatan Anak Jilid 3. Jakarta:FK UI
13.
Apa diagnosis dan DD?
14.
Bagaimana periode pertumbuhan pada janin?
Pertumbuhan dan perkembangan janin dibagi dalam beberapa
periode:
1. Periode embrionik
Pada peride ini terjadi pembentukan organ-organ. Gangguan
pertumbuhan pada periode ini dapat menyebabkan kelainan
kongenital atau abortus. Beberapa penyakit misalnya rubela
rubela yang diderita ibu pada periode ini hampir selalu
menyebabkan kelainan kongenital pada bayi. Demikian pula
pemakaian obat tertenru misal talidomide dapat menyebabkan
kelainan bawaan pada bayi sehingga terjadi fokomelia, amelia dll
2. Periode janin dini
Pada periode ini implantasi hasil konsepsi pada dinding uterus
telah sempurna. Organogenesis telah selesai dan mulai terjadi
akselerasi pertumbuhan. Organ-organ tubuh mulai berfungsi
walaupun masih imatur. Bahaya abortus berkurang.
3. Periode janin akhir
Terdapat pertumbuhan yang cepat dari tubuh sehingga didapat
pertambahan berat badan maksimal. Dalam periode ini terjadi
penyelesaian persiapan untuk hidup di luar uterus. Bahaya
utama ialah infeksi, partus prematuritas, dismaturitas, asfiksia
dan kematian janin intrauterin.
4. Periode Parturien
Janin telah siap hidup di luar uterus. Untuk itu janin telah cukup
mendapat perlindungan untuk dapat melewati jalan lahir dengan
aman. Bahaya utama ialah hipoksia, infeksi, dan trauma
kelahiran.
5. Periode Neonatal
Dalam periode ini terjadi adaptasi kehidupan intrauterin ke
kehidupan ekstrauterin. Misalnya oksigen yang semula diperoleh

janin dari darah ibu, sekarang diperolehnya melalui pertukaran


gas dalam paru.
Ilmu Kesehatan Anak Jilid 3. Jakarta:FK UI
15.

Apa yang dimaksud dg gangguan pertunmbuhan janin?

16.

Apa definisi BBLR dan klasifikasi BBLR?


BBLR adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram
tanpa memandang usia gestasi. Berat lahir adalah berat bayi
yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir.
Klasifikasi Bayi Menurut Berat Lahir:
Menurut Berat Lahir:
1. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) : bayi dilahirkan dengan
berat lahir <2500 gram tanpa memandang masa gestasi
2. Bayi Berat Lahir cukup/normal: Bayi yang dilahirkan
dengan berat lahir > 2500 4000 gram
3. Bayi Berat Lahir Lebih: bayi yang dilahirkan dengan berat
lahir >4000 gram

Klasifikasi menurut masa gestasi atau umur kehamilan yaitu:


1. Bayi Kurang Bulan: bayi dilahirkan dengan masa gestasi <
37 minggu (<259 hari)
2. Bayi cukup Bulan: Bayi dilahirkan denganmasa gestasi
antara 37-42 minggu (259 hari 293 hari)
3. Bayi Lebih Bulan: Bayi dilahirkan dengan masa gestasi >
42 minggu (294 hari)
Buku Ajar Neonatologi. IDAI 2012
Klasifikasi BBLR
1. Prematuritas murni
Masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat
badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi
itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai
masa kehamilan.( NKB-SMK)
2. Dismaturitas
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan
seharusnya untuk masa gestasi itu. Berarti bayi mengalami
retardasi pertumbuan intrauterin dan merupakan bayi yang
kecil untuk masa kehamilannya (KMK)
Ilmu Kesehatan Anak Jilid 3. Jakarta:FK UI
17.
Bagaimana hubungan preterm dengan asfiksia?

18.
Bagaimana hubungan preterm dengan BBLR?
19.
Bagaiman menilai maturitas neonatus?
Cara:
- Menghitung lamanya masa gestasi dengan menggunakan
perhitungan HPHT. Keterangan yang tepat mengenai HPHT akan
dapat digunakan untuk menentukan masa gestasi dengan tepat.
Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa senantiasa dapat terjadi
kekeliruan.
- Penilaian ukuran antropometrik
a. Berat badan lahir merupakan indeks yang terburuk untuk
menentukan masa gestasi neonatus. Hal ini disebabkan Berat
Badan Lahir sangat dipengaruhi oleh banyak faktor.
b. Ukuran antropometrik lain yaitu crown heel lenghth, lingkaran
kepala, diameter oksipito fronta, diameter biparietal dan
panjang badan. Menurut finnstrom dari semua ukuran
tersebut diatas hanya ukuran lingkaran kepala yang
mempunyai korelasi yang baik dengan lamanya masa gestasi.
- Pemeriksaan radiologis
Dengan pemeriksaan ini dapat diketahui lamanya masa gestasi
dengan meneliti pusat epifisis
- Penilaian karakteristik fisis
Penilaian karakteristik fisis luar dari beberapa alat tubuh ternyata
mempunyai hubungan dengan maturitas bayi. Dari semua
kriteria eksternal yang dapat dinilai untuk menentukan masa
gestasi neonatus, kriteria yang disebutkan di bawah ini ialah
yang terbaik mempunyai hubungan dengan masa gestasi.
Kriteria tersebut adalah bentuk puting susu, ukuran mama,
plantar creases, rambut kepala, transparansi kulit, membran
pupil, alat kelamin, kuku, dan tulang rawan telinga.

Ilmu Kesehatan Anak Jilid 3. Jakarta:FK UI


20.

Bagaiman kecukupan gizi dan kebutuhan pada neonatus?


CAIRAN
Tabel 1 : Kebutuhan cairan inisial pada neonatus
Jumlah cairan (ml/kg BB/hari)

Berat badan (kg)


< 24 jam

24-28 jam

> 48 jam

< 1,0

100 150

120 150

140 190

1,0 1,5

80 100

100 120

120 160

> 1,5

60 80

80 - 120

120 160

ELEKTROLIT

Tabel 2 : Kebutuhan elektrolit yang dianjurkan pada neonatus


Elektrolit

Dosisi harian yang dianjurkan (meq/kg/BB)

Kalium

14

Natrium

25

Klorida

15

Kalsium

34

Magnesium
Fosfor

0,3 0,5
1 2 mmol/kg

ENERGI
Umumnya bayi baru lahir untuk dapat tumbuh memerlukan kalori 50-60 kkal/kg
BB/hari(to maintain weight) dan 100-200 kkal/kg BB/hari (to induce
weight-gain).
KARBOHIDRAT
Sumber utama karbohidrat berasal dari glukosa. Untuk mencegah terjadinya
hipoglikemia, kebutuhan yang diperlukan untuk bayi cukup bulan adalah 6-8
mg/kg BB/menit dan bayi kurang bulan adalah 4 mg/kg BB/menit, dapat
ditingkatkan 0,5-1 mg/kg BB/menit setiap hari sampai 12-14 mg/kg BB/menit
dalam 5-7 hari. Kebutuhan akan meningkat pada keadaan stress (misalnya : sepsis,
hipotermia) atau bayi dengan ibu Diabetes Mellitus.
PROTEIN
Pemberian protein biasanya dimulai dalam 48 jam pemberian nutrisi
parenteral dan diberikan dalam bentuk asam amino sintetik. Dosis yang
dianjurkan adalah sebagai berikut :
a. Neonatus dengan BB < 1000 g
Pemberian awal dengan 0,5-1 g/kg BB/hari, kemudian ditingkatkan lagi 0,250,5 g/kg BB/hari sampai mencapai 2,5-3,5 g/kg BB/hari dan asam amino 2-2,5
g/kg BB/hari.

b. Neonatus dengan BB > 1000 g


Pemberian awal dengan dosis 1 g/kg BB/hari, kemudian ditingkatkan 1 g/kg
BB/hari sampai mencapai 1,5-3,5 g/kg BB/hari.
Asam amino

Mencegahkatabolismeasam amino

Pengenalanyang cepatmelaluiTPN memberikan keseimbangan nitogen


yang positif

Menurunkan

frekuensidan

tingkat

keparahan

darihiperglikemianeonataldenganmerangsang
sekresi

insulinendogendan

merangsangpertumbuhan

meningkatkan

pelepasan insulin dan insuline-likegrowth factor


LEMAK
Pemberian lemak dapat menggunakan emulsi lemak 10% yang mengandung
10 g trigliserida dan 1,1 kkal/ml atau 20% yang mengandung 20 g trigliserida dan
2 kkal/ml.
Kebutuhan lemak pada pemberian NPT adalah sebagai berikut :
a. Nonatus dengan BB < 1000 g
Pemberian awal 0,5 g/kg BB/hari, kemudian ditingkatkan 0,25-0,5 g/kg
BB/hari sampai mencapai 2-2,5 g/kg BB/hari.
b. Neonatus dengan BB > 1000 g
Pemberian awal di mulai dengan dosis 1 g/kg BB/hari, kemudian ditingkatkan
1 g/kg BB/hari sampai mencapai 3 g/kg BB/hari.
VITAMIN DAN MINERAL
Tabel 3 : Komposisi Kebutuhan Vitamin & Unsur Kelumit
Komponen

Bayi cukup bulan


( /kg BB/hr)

Bayi kurang bulan


( /kg BB/hr)

700 mcg

500 mcg

Vitamin :
Vitamin A

Vitamin E

7 mg

2,8 mcg

Vitamin K

200 mcg

80 mcg

Vitamin D

10 mcg

4 mcg

Thiamine (B1)

1,2 mg

0,35 mg

Riboflavin (B2)

1,4 mg

0,15 mg

Niacin

17 mg

6,8 mg

Piridoksin

1,0 mg

0,18 mg

Asam askorbat (C)

80 mg

25 mg

Asam pantotenat

5,0 mg

2 mg

Sianokobalamin

1,0 mg

0,3 mcg

Folat

140 mg

56 mcg

100-200 mcg

400-600 mcg

Copper (cupric sulfate)

10-20 mcg

20 mcg

Manganese sulfat

2-10 mcg

2-10 mcg

Kromium klorida

0,14-0,2 mcg

0,14-0,2 mcg

1 mcg

1 mcg

3-5 mcg

3-5 mcg

Unsur Kelumit :
Zinc

Flouride
Iodin

Abdurachman S. Nutrisi Parenteral. Dalam : Pedoman Terapi Penyakit Pada


Bayi Bary Lahir, Bagian IKA FK Unpad Bandung, 2002 : 114-24.
21.
Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur
dan bayi BBLR dengan problem yg dialami?
Problem pada bayi prematur:
Semua penyakit neonatus dapat mengenai bayi prematur, tetapi
ada beberapa penyakit tertentu yang terutama terdapat pada bayi
prematur. Hal ini disebabkan oleh faktor pertumbuha, misalnya
belum cukup surfaktan terbentuk pada membran hiallin. Demikian
pula kejadian hiperbilirubinemia pada bayi prematur lebih tinggi

dibandingkan dengan neonatus cukup bulan karena faktor


kematangan hati.
1. Sindrom gangguan pernafasan idiopatik
Disebut juga penyakit membran hialin karena pada stadium akhir
akan terbentuk membran hialin yang melapisi alveolus paru.
2. Pneumonia Aspirasi
Sering ditemukan pada prematur karena reflek menelan dan
batuk belum sempurna. Penyakit ini dapat dicegahdengan
perawatan yang baik.
3. Perdarahan Intraventrikular
Perdarahan spontan di ventrikel otak lateral biasanya disebabkan
oleh karena anoksia otak. Biasanya terjadi bersamaan dengan
pembentukan membran hialin pada paru. Sayang sekali sering
tidak mungkin membedakan dispnu yang disebabkan oleh
perdarahan otak ini dengan yang disebabkan oleh sindrom
gangguan pernafasan idiopatik.
4. Fibroplasia retrolental
Disebabkan oleh oksigen yang berlebihan. Dengan menggunakan
oksigen konsentrasi tinggi, akan terjadi vasokonstriksi pembuluh
darah retina. Kemudian setelah bayi bernafas dengan udara
biasa lagi, pembuluh darah ini akan mengalami vasodilatasi yang
selanjutnya akan disusul dengan proliferasi pembuluh darah baru
secara tidak teratur.kelainan ini biasa terlihat pada bayi dengan
berat < 2 Kg dan telah mendapat oksigen konsentrasi tinggi.
Kumpulan pembuluh darah baru tampak sebagai perdarahan.
Akhirnya sebagian kapiler baru tumbuh ke arah korpus vitreum
dan lensa. Selanjutnyaakan terjadi edema pada retina dan retina
dapat terlepas.
5. Hiperbilirubinemia
Bayi prematur lebih sering mengalami hiperbilirubinemia
dibandingkan bayi cukup bulan. Hal ini disebabkan faktor
kematangan hepar sehingga konjugasi bilirubin indirek menjadi
direk belum sempurna.
Ilmu Kesehatan Anak Jilid 3. Jakarta:FK UI
22.

Bagimana penatalaksanaan pada skenario?