Anda di halaman 1dari 6

TUGAS SEJARAH

KERUNTUHAN KERAJAAN HINDUBUDDHA DI INDONESIA


DISUSUN OLEH :

TRENADY WISANTO
M IQBAL SHOBI RABBANI
RAMADON SYAHPUTRA
KHAIRUMMI
WINDI LESTARI

KELAS : X IPS 3

SMA NEGERI 1 UJUNGBATU


TP. 2016/2017

KERUNTUHAN KERAJAAN HINDU-BUDDHA DI INDONESIA


1. SERANGAN DARI KERAJAN LAIN
Runtuhnya sebuah kerajaan karena faktor seperti ini dialami oleh
Kerajaan Kutai, Sriwijaya, Singasari, dan Bali. Kerajaan Sriwijaya
mengalami kemunduran setelah mendapat serangan dari Kerajaan
Cholamandala (India Selatan) pada tahun 1024 dan 1030. Sedangkan
Kerajaan. Singasari mengalami keruntuhan akibat serangan mendadak
yang dilancarkan oleh Kerajaan Kediri yang dipirnpin oleh Jayakatwang.
a. Kerajaan Kutai
Kerajaan yang diperintah oleh Mulawarman bernama Kerajaan Kutai
Martadipura. Kerajaan ini berada di seberang kota Muara Kaman. Pada
awal abad ke-13, berdiri satu kerajaan baru di Tepian Batu atau . Kutai
Lama yang bernama Kerajaan Kutai Kertanegara. Rajanya yang pertama
bernama Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325).
b. Kerajaan Sriwijaya
Setelah pemerintahan Balaputradewa, nasib Sriwijaya tidak banyak
diketahui hinggal awal abad ke-11. Pada saat itu muncul Berita Cina
mengenai Raja Sriwijaya bernama Udayaditiawarman. Menurut berita ini,
sang raja mengirimkan utusan ke Cina yang tertahan kepulangannya dari
Kanton karena negerinya sedang diserang seorang raja Jawa. Raja Jawa
tersebut kemungkinan adalah Dharmawangsa Teguh.
Pada tahun 1017 dan 1025, armada Taut Rajendracoladewa menyerang
pelabuhan Sriwijaya di Selat Malaka. Akhirnya banyak kapal Sriwijaya
yang hancur. Bahkan Raja Sriwijaya berhasil ditawan musuh.
c. Kerajaan Singasari
Raja Singasari terbesar adalah Kertanegara. Ia berusaha memperluas
wilayah Kerajaan Singasari hingga ke luar Jawa. Usaha perluasan wilayah
ini

dikenal

Kertanegara

dengan

istilah

mengirim

Cakrawala

pasukan

ke

Mandala.

Suniatra

Pada

tahun

(ekspedisi

1275,

Pamalayu).

Kertanegara ingin menaklukkan Sumatra guna menghadang perluasan


kekuasaan Kubilai Khan dari Cina.
Sebelum pasukan Cina sampai ke Jawa, Kerajaan Singasari sudah

mengalami

kehancuran.

Pada

tahun

1292,

ketika

Kertanegara

mengadakan pesta dan upacara Tantrayana, tiba-tiba datang serangan


dari Kerajaan Kediri, salah satu kerajaan bawahan Singasari. Serangan itu
dipimpin oleh Jayakatwang, yang ingin memulihkan kembali kebesaran
leluhurnya.
Jayakatwang

Dengan

anaknya

berhasil

yang

merebut

menjadi

Istana

menantu

Singasari

Kertanegara,

serta

membunuh

Kertanegara dan seisi istana. Kerajaan Singasari pun berakhir.


d. Kerajaan Bali
Setelah berakhimya pemerintahan Dinasti Warmadewa, Bali diperintah
oleh raja-raja yang lemah. Salah satu raja yang terkenal adalah Jayasakti.
Ia

dijuluki sebagai penjelmaan Wisnu yang penuh kasih. Selama

pernerintahannya

rakyat

biasa

diperkenankan

menghadap

dan

menyampaikan keluhan serta saran mereka kepada raja.


Raja Bali terakhir adalah Paduka Batara Sri Arta Saura. Raja ini
berusaha mempertahankan kemerdekaan Bali dari perluasan wilayah
Majapahit yang dilakukan oleh Gajah Mada. Namun, usahanya mengalami
kegagalan. Pada tahun 1343, Bali ditaklukkan oleh Majapahit.
2. PERANG SAUDARA
Kerajaan-kerajaan yang runtuh karena faktor ini adalah Kerajaan
Mataram Kuno dan Majapahit.
a. Kerajaan Mataram Kuno
Di Kerajaan Mataram Kuno perselisihan terjadi setelah pernikahan
antara Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya) dan Pramodhawardhani (Dinasti .
Syailendra). Setelah pernikahan itu, takhta Kerajaan Mataram Kuno jatuh
ke tangan Rakai Pikatan. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan pada
Balaputradewa (adik Pramodhawardhani). Ia kemudian berupaya merebut
singgasana

dari

Rakai

Pikatan,

namun

mengalami

kegagalan.

Balaputradewa kemudian menyingkir ke Sumatra dan berhasil menjadi


penguasa di Kerajaan Sriwijaya. Setelah Rakai Pikatan meninggal,
kekacauan politik terus terjadi, seperti perebutan takhta yang dilakukan
oleh Rakai Kayuwangi terhadap Rakai Gurunwangi dan perebutan takhta
yang dilakukan oleh Rakai Wawa terhadap Raja Tulodong. Selama
pemerintahan Rakai Wawa, terjadi banyak kekacauan di sejumlah wilayah

Kerajaan Mataram Kuno.


b. Kerajaan Majapahit
Setelah wafatnya Hayam Wuruk, Majapahit mulai melemah. Terjadi
perang saudara dan pemberontakan dari kerajaan bawahan. Sebelum
wafat pada tahun 1389, Hayam Wuruk mengangkat menantunya, yaitu
Wikrama Wardhana, sebagai penggantinya. Wikrama Wardhand adalah
suami dari putri mahkota Kusumawardhani. Langkah ini ditentang oleh
Wirabhumi, putra Hayam Wuruk dari selir, yang pada saat itu berkuasa
di Blambangan.
1) Perang Paregreg
Pertikaian

antara

Wikrama

Wardhana

dengan

Wirabhumi

menyebabkan terjadinya Perang Paregreg. Perang ini berlangsung


tahun

1401-1406.

Meskipun

berhasil

mengalahkan

Wirabhumi,

Wikrama Wardhana tidak dapat memulihkan kejayaan Majapahit,


sebaliknya kedudukan Majapahit terus melemah.
Keadaan ini dimanfaatkan oleh sejumlah negara tetangga, seperti
Cina,

untuk

menanamkan

pengaruhnya

di

beberapa

wilayah

bawahan Majapahit. Sebagai contoh, pada awal abad ke-15 Malaka


meminta perlindungan dari Kaisar Cina, meski tidak menyatakan
lepas dari Majapahit. Demikian pula dengan beberapa wilayah di
Kalimantan Barat yang sejak tahun 1405 sudah berada di bawah
pengaruh Cina tanpa ada tindakan apapun dari Majapahit.
2)

Kemunduran Majapahit
Berakhimya Perang Paregreg tidak menghentikan kekacauan di
Majapahit. Bahkan, Majapahit tidak memiliki raja antara tahun 14531456. Baru pada tahun 1456, Bhre Wengker dinobatkan menjadi Raja
Majapahit. Bhre Wengker dan para penggantinya tetap tidak mampu
memulihkan

kebesaran

Majapahit.

Sebaliknya

Majapahit

tetap

dilanda perang dan perebutan kekuasaan.


Pada tahun 1478, Raja Kertabhumi digulingkan oleh Ranawijaya, yang
kemudian

menggantikannya

dengan

gelar

Bhatara

Prabu

Girindrawardhana. Ia adalah raja terakhir Majapahit. Perang saudara


yang berkepanjangan membuat Majapahit makin lemah.

3)

Runtuhnya Majapahit
Setelah kekalahan Kertabhumi, semua kemegahan Majapahit hilang.
Kerajaan Majapahit masih berdiri sampai beberapa waktu, sekalipun
dengan luas wilayah yang semakin sempit. Berita dari Portugis
menyebutkan, pada tahun 1522 Kerajaan Majapahit masih berdiri.
Bhatara Prabu Girindrawardhana masih memerintah kerajaan itu
dengan nama Majapahit. Sumber Portugis lainnya mengatakan,
Majapahit diduga runtuh sekitar tahun 1527. Kedudukan Majapahit di
Jawa kemudian digantikan oleh Demak, yang sebelumnya adalah
kerajaan bawahan yang menjadi pusat Islam di Jawa.
3. BENCANA ALAM
Bencana alam juga dapat menyebabkan runtuhnya sebuah kerajaan,
hal ini terjadi di Kerajaan Mataram Kuno pada masa pemerintahan Rakai
Wawa. Pada waktu itu, Gunung Merapi meletus dan menyebabkan
kerusakan parah. Oleh karena itu, pusat pemerintahan Kerajaan
Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok.

4.

PERSELISIHAN ANTARA RAJA DAN BRAHMANA


Pengganti Kameswara adalah Raja Kertajaya, yang memerintah
antara tahun 1190-1222. Pada masa pemerintahan raja yang terkenal
dengan narna Dandang Geniis ini, Kediri mulai menghadapi masalah. Ia
membuat kebijakan tidak popular dengan mengurangi hak-hak kaum
brahmana. Kondisi ini diperparah oleh tuntutannya agar disembah
sebagai dewa. Akibatnya banyak kaum brahmana mengungsi ke
Tumapel yang dikuasai oleh Ken Arok, seorang perampok yang baru
saja merebut kekuasaan dari tangan akuwu Tumapel yang sah.
Kertajaya kemudian memutuskan untuk menyerang Tumapel guna
memerangi kaum brahmana dan Ken Arok. Dalam peperangan di desa
Canter, Kertajaya mengalami kekalahan. Kerajaan Kediri pun berakhir
dan kedudukannya digantikan oleh Singasari.

5.

MUNCULNYA KEKUATAN BARU


Munculnya

kekuatan

baru

yang

berupa

kerajaan

juga

turut

memengaruhi keberadaan sebuah kerajaan yang lebih dulu ada. Hal ini

terlihat dari mulai surutnya kedudukan Sriwijaya sebagai pusat


kekuasaan di Nusantara setelah munculnya Kerajaan Majapahit di Jawa.
6. TIDAK ADANYA PEMIMPIN YANG CAKAP
Pada sebuah kerajaan, kepemimpinan sangat tergantung dari
kewibawaan

dan

kecakapan

seorang

raja.

Apabila

raja

yang

memerintah cakap maka kerajaan akan maju, namun bila raja yang
memerintah

lemah maka kerajaan akan mengalami kemunduran.

Contoh nyata dari kasus seperti ini tampak pada Kerajaan Majapahit
yang mengalami puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Raja
Hayam Wuruk clan Mahapatih Gajah Mada. Namun, sepeninggal kedua
tokoh tadi Kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran. Pengganti
Raja Hayam Wuruk tidak ada yang cakap dalam memerintah kerajaan.
7. PEMBAGIAN KERAJAAN
Runtuhnya

kerajaan

karena

pembagian

kerajaan

dialami

oleh

Kerajaan Medang Kamulan. Ketika berusia sekitar 50 tahun, Airlangga


memutuskan untuk menjadi pertapa. Pada akhir pemerintahannya
Airlangga sulit menentukan penggantinya. Hal ini terjadi karena putri
mahkota Wijayatunggadewi menolak naik takhta. Anak Airlangga
dengan seorang putri Dharmawangsa Teguh ini memilih mengikuti jejak
ayahnya menjadi seorang pertapa.
Dengan bantuan Mpu Bharada, Airlangga membagi kerajaan menjadi
dua, yaitu Jenggala dan Panjalu (Kediri). Jenggala diberikan kepada
Garasakan dan Panjalu diberikan kepada Sanggramawijaya. Dengan
pembagian itu, berakhirlah Kerajaan Medang Kamulan.