Anda di halaman 1dari 28

BIDAN MASA

DEPAN
Rabu, 22 Mei 2013

Asuhan Kebidanan Persalinan Patologis dengan


Distosia Bahu Pada Ny. S di Rumah Bersalin G
ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN PATOLOGIS
PADA Ny. S DENGAN DISTOSIA BAHU
DI RB GLORY TAHUN 2013

LAPORAN KASUS

Disusun Oleh :
Ririn Nurfan Chaniago
101001032

AKADEMI KEBIDANAN DHARMA HUSADA PEKANBARU


T.A 2012/2013
LEMBAR PERSETUJUAN
ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN PATOLOGIS
PADA Ny. S DENGAN DISTOSIA BAHU
DI RB GLORY TAHUN 2013

Laporan Kasus ini Telah Memenuhi Persyaratan dan Disetujui


Tanggal

Disusun Oleh:
Ririn Nurfan Chaniago
101001032

Menyetujui,

Pembimbing Lahan Pembimbing Akademik

(Artha Sihombing, Amd.Keb) (Ema Fitriani, SST)

LEMBAR PENGESAHAN
ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN PATOLOGIS
PADA Ny. S DENGAN DISTOSIA BAHU
DI RB GLORY TAHUN 2013

Disusun Oleh :
Nama : Ririn Nurfan Chaniago
NIM : 101001032

Telah diseminarkan di depan penguji dan peserta seminar


Pada Tanggal
Mengetahui,

Pembimbing Direktur AKBID

(Ema Fitriani, SST) (Rosmeri Br. Bukit, SKM, M. Biomed)

KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan
karunia-Nya lah akhirnya penulis dapat menyelesaikan studi kasus yang berjudul Asuhan
Kebidanan Persalinan Patologis Pada Ny. S Dengan Distosia Bahu Di Rb Glory Tahun
2013.
Laporan ini diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan
Pendidikan Diploma III Kebidanan di Akademi Kebidanan Dharma Husada Pekanbaru.
Dalam menyelesaikan Laporan Kasus ini banyak kendala yang ditemui. Namun berkat usaha
kerja keras dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya penulis dapat menyelesaikan Laporan
Kasus ini. Maka dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada:
1. Ibu Rosmeri Bukit, SKM, M. Biomed selaku Direktur Akdemi Kebidanan Dharma Husada
Pekanbaru, yang telah banyak memberikan kesempatan dan fasilitas untuk mengikuti dan
menyelesaikan pendidikan Diploma III Kebidanan.
2. Ibu Ema Fitriani, SST. Selaku pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan
arahan dalam penulisan Laporan Kasus ini.
3. Kepala Pembimbing Klinik Artha Sihombing, Amd.Keb, Nora Amd.Keb,
dan Yulfris Amd.Keb yang telah memberikan bimbingan selama mengikuti praktik klinik.
4. Seluruh staff dan dosen pengajar Program Studi Kebidanan AKBID Dharma Husada
Pekanbaru, yang telah banyak membantu penulis untuk mengetahui berbagai hal, terutama
pengetahuan dalam asuhan kebidanan selama penulis mengikuti perkuliahan.
5. Ny. S dan keluarga selaku pasien yang telah bekerja sama membantu kami dalam
menyelesaikan studi kasus ini.
6. Bapak dan ibunda tercinta yang telah memberikan dukungan baik moril maupun materil serta
doa yang tidak putus-putusnya.
7. Seluruh rekan-rekan D3 Kebidanan angkatan 2010 dan kerabat yang tidak bisa penulis
sebutkan satu persatu, yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan studi kasus ini.

Penulis harap studi kasus ini ada manfaatnya, serta saran dan kritik yang bersifat
membangun, penulis nantikan sebagai perbaikan ke masa depan. Semoga Allah SWT, selalu
memberikan limpahan rahmat dan taufiknya serta membalas semua kebaikan serta amal
baikseluruh pihak yang telah mendukung untuk mendapatkan pahala dan memperoleh Ridho
Nya, Amin.

Pekanbaru, April 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR JUDUL............................................................................................ i
HALAMAN PERSETUJUAN......................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... iii
KATA PENGANTAR...................................................................................... iv
DAFTAR ISI ..................................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................... 2
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................ 3
1.4 Metode Pengumpulan Data ................................................................ 3
1.5 Manfaat .............................................................................................. 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Konsep Dasar Distosia Bahu................................................................. 5
2.2 Konsep Dasar Proses Manajemen Asuhan Kebidanan........................... 12

BAB III MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA PASIEN


3.1 Pengumpulan Data.............................................................................. 15
3.2 Interprestasi Data Dasar......................................................................20
3.3 Diagnosa Potensial ............................................................................ 21
3.4 Tindakan Segera.................................................................................. 21
3.5 Perencanaan........................................................................................ 21
3.6 Penatalaksanaan................................................................................. 21
3.7 Evaluasi .............................................................................................. 22

BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Pengumpulan Data .................................................................................. 37
4.2 Interprestasi Data Dasar ........................................................................ 37
4.3 Diagnosa Potensial ................................................................................. 38
4.4 Tindakan Segera...................................................................................... 38
4.5 Perencanaan............................................................................................ 39
4.6 Penatalaksanaan Asuhan Kebidanan...................................................... 39
4.7 Evaluasi ................................................................................................... 40

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ............................................................................................ 41
5.2 Saran ...................................................................................................... 41

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Distosia bahu merupakan presentasi kepala, kepala telah lahir tetapi bahu tidak dapat
dilahirkan dengan cara-cara biasa (Oxorn, 2003).
Salah satu penyebab tingginya kematian ibu dan bayi adalah distosia bahu saat proses
persalinan. Distosia bahu adalah suatu keadaan diperlukannya manuver obstetrik oleh karena
dengan tarikan ke arah belakang kepala bayi tidak berhasil untuk melahirkan kepala bayi.
Pada persalinan dengan presentasi kepala, setelah kepala lahir bahu tidak dapat dilahirkan
dengan cara pertolongan biasa dan tidak didapatkan sebab lain dari kesulitan tersebut.
Insidensi distosia bahu sebesar 0,2-0,3% dari seluruh persalinan vaginal presentasi kepala
(Prawirohardjo, 2009).
Angka kematian ibu bersalin dan angka kematian perinatal umumya dapat digunakan
sebagai petunjuk untuk menilai kemampuan penyelenggaraan pelayanan kesehatan suatu
bangsa. Selain itu, angka kematian ibu dan bayi di suatu negara mencerminkan tingginya
resiko kehamilan dan persalinan. Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) tahun 2007, AKI di Indonesia mencapai 228/100.000 kelahiran hidup danangka
kematian bayi sebesar 34/1000 kelahiran hidup umumnya kematian terjadi pada saat
melahirkan. Namun hasil SDKI 2012 tercatat, angka kematian ibu melahirkan sudah mulai
turun perlahan bahwa tercatat sebesar 102 per seratus ribu kelahiran hidup dan angka
kematian bayi sebesar 23 per seribu kelahiran hidup.
Komplikasi yang bisa terjadi , yaitu tingginya angka kematian ibu dan besarnnya
resiko akibat distosia bahu pada saat persalinan maka fokus utama asuhan persalinan normal
adalah mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini merupakan suatu pergeseran paradigma dari
sikap menunggu dan menangani komplikasi, menjadi mencegah komplikasi yang mungkin
terjadi. Pencegahan komplikasi selama persalinan dan setelah bayi lahir akan mengurangi
kesakitan dan kematian ibu serta bayi baru lahir (Depkes, 2004).
Sebagai tenaga kesehatan khususnya bidan yang dapat dilakukan adalah mengupayakan
agar setiap persalinan ditolong atau minimal di dampingi oleh bidan dan pelayanan obstetrik
sedekat mungkin pada ibu hamil, sehingga komplikasi dapat terdeteksi lebih dini dan dapat
ditangani sesegera mungkin.
Berdasarkan angka kejadian dan besarnya peran bidan dalam penanganan komplikasi
distosia bahu, maka penulis mengambil judul Asuhan Kebidanan Persalinan Patologis
Pada Ny. S Dengan Distosia Bahu Di RB Glory Tahun 2013. Diharapkan dengan
pelaksanan asuhan kebidanan komprehensif dapat meningkatkan peran fungsi bidan dalam
menurunkan angka kematian ibu dan bayi yang disebabkan oleh distosia bahu dengan upaya
mencegah (preventif), mendeteksi dini komplikasi hingga menangani komplikasi sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Dari latarbelakang yang telah dikemukakan diatas maka sebagai laporan studi kasus ini
membatasi pengkajian tentang distosia bahu. Oleh karena itu, saya sebagai penyusun
merumuskan masalah yakni : Bagaimana asuhan kebidanan 7 langkah Varney pada ibu
bersalin dengan distosia bahu di RB Glory tahun 2013.

1.3 TUJUAN
1.3.1 Tujuan Umum
Mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada persalinan distosia bahu dengan 7 langkah
manajemen Varney di RB Glory.
1.3.2 Tujuan Khusus
Mampu memberikan asuhan kebidanan pada persalinan distosia bahu dengan 7 langkah
Varney :
1. Pengumpulan Data dasar
2. Interpretasi Data Dasar
3. Identifikasi diagnosa dan masalah potensial
4. Identifikasi kebutuhan akan tindakan segera
5. Merencanakan asuhan yang menyeluruh
6. Penatalaksanaan Asuhan Kebidanan
7. Evaluasi Asuhan Kebidanan

1.4 METODE
1.4.1 Metode Kajian Pustaka
Dalam penyusunan laporan studi kasus ini saya sebagai penulis menggunakan media kajian
pustaka dengan cara mencari materi pada buku-buku pedoman.
1.4.2 Metode Media Elektronik
Selain dari media pustaka saya sebagai penulis mencari referensi melalui media elektronik
seperti pencarian referensi tentang teori distosia bahu di internet.
1.4.3 Observasi Partisipasi
Yaitu dengan observasi dalam melakukan Asuhan Kebidanan langsung pada klien guna
memperoleh data objektif.
1.4.4 Wawancara
Yaitu untuk mendapatkan data subjektif langsung dari klien dan keluarganya.

1.5 MANFAAT
1.5.1 Bagi Penulis
Studi kasus ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan yang didapat selama perkuliahan
serta dapat mengaplikasikan dalam penanganan kasus persalinan dengan distosia bahu.
1.5.2 Bagi Institusi
Studi kasus ini diharapkan mampu menjadikan acuan dan berguna untuk memberikan
informasi, pengetahuan dan ilmu baru bagi kemajuan di bidang kesehatan sebagai bahan
referensi guna pengembangan ilmu pengetahuan.
1.5.3 Bagi Lahan Praktek
Studi kasus ini diharapkan dapat dijadikan gambaran informasi serta bahan untuk
meningkatkan manajemen kebidanan yang diterapkan oleh lahan praktek.

1.6 WAKTU
Kasus ini diangkat pada hari Selasa tanggal 23 April 2013 di Rumah Bersalin Glory.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KONSEP DASAR DISTOSIA BAHU


2.1.1 Defenisi Distosia Bahu
Distosia bahu adalah kegagalan persalinan bahu setelah kepala lahir, dengan mencoba
salah satu metoda persalinan bahu ( Manuaba, 2001).
Distosia bahu adalah suatu keadaan diperlukannya tambahan manuver obstetrik oleh
karena dengan tarikan biasa ke arah belakang pada kepala bayi tidak berhasil untuk
melahirkan bayi ( Prawirohardjo, 2009).
Distosia bahu merupakan kegawatdaruratan obstetri karena terbatasnya waktu
persalinan, terjadi trauma janin, dan komplikasi pada ibunya. Kejadiannya sulit diperkirakan
setelah kepala lahir, kepala seperti kura-kura, dan persalinan bahu mengalami kesulitan
(Manuaba, 2001).

2.1.2 Etiologi
Distosia bahu ada hubungannya dengan obesitas ibu, pertambahan berat badan yang
berlebihan, bayi berukuran besar, riwayat saudara kandung yang besar dan diabetes pada ibu
(Hakimi, 2003).

2.1.3 Patofisiologi
Pada mekanisme persalinan normal, ketika kepala dilahirkan, maka bahu memasuki
panggul dalam posisi oblik. Bahu posterior memasuki panggul lebih dahulu sebelum bahu
anterior. Ketika kepala melakukan paksi luar, bahu posterior berada di cekungan tulang
sakrum atu disekitar spina ischiadika, dan memberikan ruang yang cukup bagi bahu anterior
untuk memasuki panggul melalui belakang tulang pubis atau berotasi dari foramen obturator.
Apabila bahu berada dalam posisi antero-posterior ketika hendak memasuki pintu atas
panggul, maka bahu posterior dapat tertahan promontorium dan bahu anterior tertahan tulang
pubis. Dalam keadaan demikian kepala yang sudah dilahirkan akan tidak dapat melakukan
putaran paksi luar, dan tertahan akibat adanya tarikan yang terjadi antara bahu posterior
dengan kepala (disebut dengan turtle sign) (Prawirohardjo, 2009).
2.1.4 Komplikasi
a. Pada janin : 1. Meninggal, intrapartum atau neonatal
2. Paralisis plexus brachialis
3. Fraktur clavicula
b. Ibu : Robekan perineum dan vagina yang luas (Hakimi, 2003).

2.1.5 Faktor Resiko


Faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian distosia bahu, yaitu:
a. Makrosomia/kelahiran sebelumnya bayi > 4 kg
b. Ibu Obesitas
c. Penambahan Berat Badan Berlebih
d. Panggul Sempit
e. Melahirkan dengan posisi setengah berbaring di tempat tidur dapat menghambat gerakan
koksik dan sakrum yang memperberat terjadinya distosia lahir-tempat tidur
f. Diabetes maternal
g. Kala II Lama
h. Distosia bahu sebelumnya (Chapman, 2006)

2.1.6 Pencegahan
Upaya pencegahan distosia bahu dan cedera yang dapat ditimbulkannya dapat
dilakukan dengan cara :
1. Tawarkan untuk dilakukan bedah sesar pada persalinan vaginal beresiko tinggi: janin luar
biasa besar (>5 kg), janin sangat besar (>4,5 kg) dengan ibu diabetes, janin besar (>4 kg)
dengan riwayat distosia bahu pada persalinan sebelumnya, kala II yang memanjang dengan
janin besar.
2. Identifikasi dan obati diabetes pada ibu.
3. Selalu bersiap bila sewaktu-waktu terjadi.
4. Kenali adanya distosia bahu seawal mungkin. Upaya mengejan, menekan suprapubis atau
fundus, dan traksi berpotensi meningkatkan resiko cedera pada janin.
5. Perhatikan waktu dan segera minta pertolongan begitu distosia diketahui. Bantuan diperlukan
untuk membuat posisi McRoberts, pertolongan persalinan, resusitasi bayi, dan tindakan
anestesia (bila perlu).

2.1.7 Diagnosis Distosia Bahu


Distosia bahu dapat dikenali apabila didapatkan adanya:
1. Kepala bayi sudah lahir, tetapi bahu tertahan dan tidak dapat dilahirkan.
2. Kepala bayi sudah lahir, tetapi menekan vulva dengan kencang.
3. Dagu tertarik dan menekan perineum
4. Traksi pada kepala tidak berhasil melahirkan bahu yang tetap tertahan di kranial simfisis
pubis (Prawirohardjo, 2009)

2.1.8 Penanganan Distosia Bahu


Diperlukan seorang asisten untuk membantu, sehingga bersegeralah minta bantuan.
Jangan melakukan tarikan atau dorongan sebelum memastikan bahwa bahu posterior sudah
masuk ke panggul. Bahu posterior yang belum melewati pintu atas panggul akan semakin
sulit dilahirkan bila dilakukan tarikan pada kepala. Untuk mengendorkan ketegangan yang
menyulitkan bahu posterior masuk panggul tersebut, dapat dilakukan episiotomi yang luas,
posisi McRobert, atau posisi dada-lutut. Dorongan pada fundus juga tidak diperkenankan
karena semakin menyulitkan bahu untuk dilahirkan dan beresiko menimbulkan ruptura uteri.
Disamping perlunya asisten dan pemahaman yang baik tentang mekanisme persalinan,
keberhasilan pertolongan dengan distosia bahu juga ditentukan oleh waktu. Setelah kepala
lahir akan terjadi penurunan pH arteria umbilikalis dengan laju 0,04unit/menit. Dengan
demikian, pada bayi yang sebelumnya tidak mengalamai hipoksia tersedia waktu antara 4-5
menit untuk melakukan manuver melahirkan bahu sebelum terjadi cedera hipoksik pada otak.
Secara sistematis tindakan pertolongan distosia bahu adalah sebagai berikut:
Diagnosis

Hentikan traksi pada kepala, segera memanggil bantuan

Manuver McRobert
(Posisi McRobert, episiotomi bila perlu, tekanan suprapubik, tarikan kepala)

Manuver Rubin
(Posisi tetap McRobert, rotasikan bahu, tekanan suprapubik, tarikan kepala)

Lahirkan bahu posterior, atau posisi merangkak, atau Manuver Wood

A. Langkah pertama : Manuver McRobert


Manuver McRobert dimulai dengan memosisikan ibu dalam posisi McRobert, yaitu ibu
telentang, memfleksikan kedua paha sehingga lutut menjadi sedekat mungkinke dada, dan
rotasikan kedua kaki ke arah luar (abduksi). Lakukan episiotomi yang cukup lebar. Gabungan
episiotomi dan posisi McRobert akan mempermudah bahu posterior melewati promontorium
dan masuk ke dalam panggul. Mintalah asisten menekan suprasimfisis ke arah posterior
menggunakan pangkal tangannya untuk menekan bahu anterior agar mau masuk di bawah
simfisis. Sementara itu lakukan tarikan pada kepala janin ke arah posterokaudal dengan
mantap.
Langkah tersebut akan melahirkan bahu anterior. Hindari tarikan yang berlebihan
karena akan mencederai pleksus brakialis. Setelah bahu anterior dilahirkan, langkah
selanjutnya sama dengan pertolongan persalinan persentasi kepala. Manuver ini cukup
sederhana, aman, dan dapat mengatasi sebagian besar distosia bahu derajat ringan sampai
sedang (Prawirohardjo, 2009).

Gambar 2.1 Posisi McRobert

B. Langkah Kedua: Manuver Rubin


Oleh karena diameter anteroposterior pintu atas panggul lebih sempit daripada diameter
oblik atau transversanya, maka apabila bahu dalam anteroposterior perlu diubah menjadi
posisi oblik atau transversanya untuk memudahkan melahirkannya. Tidak boleh melakukan
putaran pada kepala atau leher bayi untuk mengubah posisi bahu. Yang dapat dilakukan
adalah memutar bahu secara langsung atau melakukan tekanan suprapubik ke arah dorsal.
Pada umumnya sulit menjangkau bahu anterior, sehingga pemutaran bahu lebih mudah
dilakukan pada bahu posteriornya. Masih dalam posisi McRobert, masukkan tangan pada
bagian posterior vagina, tekanlah daerah ketiak bayi sehingga bahu berputar menjadi posisi
oblik atau transversa. Lebih menguntungkan bila pemutaran itu ke arah yang membuat
punggung bayi menghadap ke arah anterior (Manuver Rubin anterior) oleh karena kekuatan
tarikan yang diperlukan untuk melahirkannya lebih rendah dibandingkan dengan posisi bahu
anteroposterior atau punggung bayi menghadap ke arah posterior. Ketika dilakukan
penekanan suprapubik pada posisi punggung janin anterior akan membuat bahu lebih
abduksi, sehingga diameternya mengecil. Dengan bantuan tekanan siprasimfisis ke arah
posterior, lakukan tarikan kepala ke arah posterokaudal dengan mantap untuk melahirkan
bahu anterior (Prawirohardjo, 2009).

Gambar 2.2 Manuver Rubin

C. Langkah ketiga: Melahirkan bahu posterior, posisi merangkak, atau manuver Wood
Melahirkan bahu posterior dilakukan pertama kali dengan mengidentifikasi dulu posisi
punggung bayi. Masukkan tangan penolong yang berseberangan dengan punggung bayi
(punggung kanan berarti tangan kanan, punggung kiri berarti tangan kiri) ke vagina. Temukan
bahu posterior, telusuri lengan atasdan buatlah sendi siku menjadi fleksi (bisa dilakukan
dengan menekan fossa kubiti). Peganglah lengan bawah dan buatlah gerakan mengusap ke
arah dada bayi. Langkah ini akan membuat bahu posterior lahir dan memberikan ruang cukup
bagi bahu anterior masuk ke bawah simfisis. Dengan bantuan tekanan suprasimfisis ke arah
posterior, lakukan tarikan kepala ke arah posterokaudal dengan mantap untuk melahirkan
bahu anterior.

Gambar 2.3 Manuver Woods


Manfaat posisi merangkak didasarkan asumsi fleksibilitas sandi sakroiliaka bisa
meningkatkan diameter sagital pintu atas panggul sebesar 1-2 cm dan pengaruh gravitasi akan
membantu bahu posterior melewati promontorium. Pada posisi telentang atau litotomi, sandi
sakroiliaka menjadi terbatas mobilitasnya. Pasien menopang tubuhnya dengan kedua tangan
dan kedua lututnya. Pada manuver ini bahu posterior dilahirkan terlebih dahulu dengan
melakukan tarikan kepala.
Bahu melalui panggul ternyata tidak dalam gerak lurus, tetapi berputar sebagai uliran
sekrup. Berdasarkan hal itu, memutar bahu akan mempermudah melahirkannya. Manuver
wood dilakukan dengan menggunakan dua jari tangan dan berseberangan dengan punggung
bayi yang diletakkan dibagian depan bahu posterior menjadi bahu anterior. Bahu posterior
dirotasi 180 derajat. Dengan demikian, bahu posterior menjadi bahu anterior dan posisinya
berada di bawah arkus pubis, sedangkan bahu anterior memasuki pintu atas panggul dan
berubah menjadi bahu posterior. Dalam posisi seperti itu, bahu anterior akan mudah dapat
dilahirkan.
Setelah melakukan prosedur pertolongan distosia bahu, tindakan selanjutnya adalah
melakukan proses dekontaminasi dan pencegahan infeksi pasca tindakan serta perawatan
pascatindakan. Perawatan pascatindakan termasuk menuliskan laporan di lembar catatan
medik dan memberikan konseling pascatindakan (Prawirohardjo, 2009).

2.2 TEORITIS MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN


Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam
menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis, mulai dari pengkajian, analisa
data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi ( IBI, Standar Profesi
Kebidanan, 2005).
Proses manajemen terdiri dari 7 ( tujuh ) langkah berurutan dimana setiap langkah
disempurnakan secara periodic. Proses dimulai dengan pemgumpulan data dasar dan berakhir
dengan evaluasi. Ketujuh langkah tersebut membentuk suatu kerangka lengkap yang
diaplikasikan dalam situasi apapun. Akan tetapi setiap langkah dapat diuraikan lagi menjadi
langkah langkah yang lebih rinci dan bisa berubah sesuai dengan kondisi klien (Salmah,
2006).
Ketujuh langkah manajemen kebidanan menurut Varney adalah sebagai berikut:
1. Langkah I:
Identifikasi Data Dasar
1) Pada langkah pertama ini dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semuainformasi yang
akurat daan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara:
Anamnesa
2) Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda - tanda vital
3) Pemeriksaan penunjang ( Laboratorium )
2. Langkah II:
Identifikasi Diagnosa Atau Masalah Aktual
Ada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar, terhadap diagnosa atau masalah kebutuhan
klien berdasarkan interpretasi yang benar atas datadata yang telah dikumpulkan. Data dasar
yang sudah dikumpulkan di interpretasikan, sehingga dapat merumuskan Diagnosis dan
masalah yang spesifik.
3. Langkah III:
Antisipasi Diagnosa / Masalah Potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi
penanganannya. Pada langkah ini kita mengidentifiaksi masalah potensial atau diagnosis
potensial yang berdasarkan rangkaian masalah dan diagnose yang sudah diidentifikasikan.
Langkah ini membutuhkan antisipasi bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil
mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiapsiap bila diagnosa/masalah potensial ini
benar benar terjadi . Langkah ini sangat penting didalam melakukan asuhan yang aman.
4. Langkah IV:
Tindakan Segera dan Kolaborasi
Pada langkah ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Bidan
menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, melakukan konsultasi, dan kolaborasi
dengan tenaga kesehatan lain berdassarkan kondisi klien, pada langkah ini bidan juga harus
merumuskan tindakan emergency untuk menyelamatkan ibu dan bayi, yang mampu dilukuan
secara mandiri mandiri dan bersifat rujukan.
5. Langkah V:
Rencana Tindakan Asuhan
Kebidanan Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh yang menyeluruh
ditentukan oleh langkah langkah sebelumnya dan merupakan lanjutan manajemen terhadap
diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasikan atau diantisipasi. Rencana tindakan
komperhensif bukan hanya meliputi kondisi klien serta hubungannya dengan masalah yang
dialami oleh klien, tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap klien, serta
panyuluhan, konseling dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah masalah yang
berkaitan dengan sosialekonomi, agama, cultural ataupun masalah piskologis. Setiap
rencana asuhan harus disertai oleh klien dan bidan agar dapat dilaksanakan dengan efektif.
Sebab itu harus berdasarkan rasional yang relevan dan kebenarannya serta situasi dan kondisi
tindakan harus secara teoritas.
6. Langkah VI:
Implementasi Tindakan
Asuhan Kebidanan melaksanakan rencana tindakan serta efisiensi dan menjamin rasa aman
klien. Implementasi dapat dikerjakan keseluruhan oleh bidan ataupun bekerja sama dengan
kesehatan lain. Bidan harus melakukan implementasi yang efisien dan akan mengurangi
waktu perawatan serta akan meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan klien.
7. Langkah VII:
Evaluasi
Tindakan Asuhan Kebidanan mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan asuhan yang
diberikan kepada klien. Pada tahap evaluasi ini bidan harus melakukan pengamatan dan
observasi terhadap masalah yang dihadapi klien, apakah masalah diatasi seluruhnya, sebagian
telah dipecahkan atau mungkin timbul masalah baru. Pada prinsipnya tahapan evaluasi adalah
pengkajian kembali terhadap klien untuk menjawab pertanyaan seberapa jauh tercapainya
rencana yang dilakukan.

BAB III
FORMAT ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN DISTOSIA BAHU

3.1 PENGUMPULAN DATA DASAR

FORMAT MANAJEMEN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN


Tgl Masuk RS/Poli/Puskesmas : 23 April 2013 Pukul : 08.00 WIB
Ruangan :- No.MR :-
Tgl/Hari : 23 April 2013 Dikaji oleh Mhs : Ririn Nurfan
A. DATA SUBYEKTIF
1. Identitas / Biodata
Nama Klien : Ny. S Nama suami : Tn. L
Umur : 32 tahun Umur : 37 tahun
Kebangsaan/Suku : Batak Kebangsaa/Suku: Batak
Agama : Kristen Agama : Kristen
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMP
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat Kantor :- Alamat Kantor : -
Alamat Rumah : Jl. Budi Mulia Alamat Rumah : Jl. Budi Mulia
Telp :- Telp :-

2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan hamil anak ketiga usia kehamilan 9 bulan, mengeluh mulas dan nyeri
dipinggang dan ibu mengatakan sudah mengeluarkanlendir bercampur darah sejak tanggal23
April 2013 pada pukul 05.00 WIB.

3. Riwayat Kesehatan Ibu


Penyakit yang pernah diderita ibu : Tidak ada
Penyakit yang sedang diderita ibu : Tidak ada

4. Riwayat Kesehatan Keluarga


Riwayat Penyakit menular dalam keluarga : Tidak ada
Riwayat penyakit keturun dalam keluarga : Tidak ada
Riwayat keturunan kembar dalam keluarga : Tidak ada

5. Riwayat Haid
- Menarche : 14 Tahun Baunya : Amis
- Teratur / tdk : Teratur Sifatnya : Cair, bergumpal
- Siklus Haid : 28 Hari Dismenorhe : Ada
- Lamanya : HPHT : 2-8-2013
- Banyaknya : 2x ganti duk sehari TP : 9-5-2013

6. Riwayat Psikososial
Perkawinan ke : Pertama
Umur ibu ketika kawin : 23 Tahun
Lamanya perkawinan : 9 tahun
Lamanya kawin baru hamil : 4 Bulan
Apakah kehamilan ini direncanakan : Ya
Jenis kelamin yang diinginkan : Perempuan
Hubungan ibu dengan suami : Baik
Hubungan ibu dengan keluarga : Baik

7. Perilaku Kesehatan Ibu


- Ketergantungan obat-obatan : Tidak ada
- Penggunaan alkohol : Tidak ada
- Merokok : Tidak merokok
- Irigasi Vagina : Tidak ada
- Ganti Pakaian Dalam : 2-3x/hari

8. Riwayat Kehamilan,Persalinan,Nifas,KB,yang lalu :

Anak Kehamilan Persalinan Bayi Nifas KB K


Ke / ET
Umu Us Peny Jenis Penol T Penya PB/ Jen Kead Loch Lakt Kead Jen Lama
r ia ulit ong pt kit BB is aan ea asi aan is nya
1 38 Tdk Spon Bidan R Tdk 52 Lk Norm Nor Baik Norm Td -
m ada tan B ada cm/ al mal al k
g 3,2 ad
Bidan kg a
2 Tdk Spon Tdk 49 Lk Norm Nor Baik Norm -
38 ada tan R ada cm/ al mal al
m M B 3,1 Td
g kg k
3 H A L I N I ad
a
I

9. Riwayat Kehamilan Sekarang


1. Hamil Muda :
Keluhan : Pusing dan mual
Pemeriksaan kehamilan pertama kali : Usia kehamilan 6 mg
Frekuensi pemeriksaan : 1 kali
Nasehat nasehat dari bidan : Istirahat, makan
Imunisasi TT :-

2. Hamil Lanjutan :
- Keluhan : Tidak ada
- Merasakan gerakan janin pertama kali : 21 mggu
- Pengeluaran pervaginam : Tidak ada
3. Pola kebiasaan sehari hari
a. Diet / makanan
Frekuensi : 3 kali / hari
Jenis makanan : Nasi, sayur, ikan, dan buah
Pantangan terhadap jenis makanan tertentu : Tidak ada
Perubahan pola makan (termasuk ngidam,nafsu makan,dll):Ya
b. Pola Eliminasi
- BAK - BAB
Frekuensi : 6 x/hari - Frekuensi : 2x/hr
Warna : Kuning jernih - Warna : Coklat
Keluhan : Tidak ada - Konsistensi : Padat
c. Pola istirahat / tidur
Tidur Malam : 8 jam
Tidur Siang : 1 jam
Gangguan tidur : Tidak ada
d. Pola seksualitas :1x seminggu
e. Olahraga : Ada
Jenis olahraga : Jalan Pagi
Frekuensi : 1x sehari
Teratur / tidak : tidak

B. DATA OBJEKTIF
- Pemeriksaa Umum
- Keadaan umum : Normal
- Kesadaran : Compos mentis
- Keadaan emosional : Stabil
- Bentuk tubuh : Lordosis
- TTV : - TD : 110/80 mmHg - S : 36,7
- N : 68x/i - R : 22x/i
- Tinggi badan : 159 cm
- Berat Badan : 58 kg
- BB sebelum hamil : 45 kg

Pemeriksaan Fisik
Kepala : Simetris
Muka : Simetris
Mata : Simetris
- Kelopak mata : Tidak oedema
- Konjungtiva : Tidak anemis
- Sklera : Tidak ikterik
Hidung : Simetris
- Polip : Tidak ada
- Kebersihan : Terjaga
Mulut dan gigi : Ada caries, tidak ada stomatitis
Leher : Normal
- Kel.Tyroid : Tidak ada pembesaran
- Kel.Limpe : Tidak ada pembesaran
Dada : Simetris
- Jantung : Normal, teratur
- Paru : Tidak ada kelainan
- Mamae : Normal
Pembesaran : Ada
Simetris / tdk : Simetris
Puting susu : Menonjol
Benjolan/tumor : Tidak ada
Rasa nyeri : Tidak ada
Pengeluaran : Ada, colostrum
Kebersihan : Terjaga
Ekstremitas atas dan bawah
- Oedema : Tidak oedema
- Kaku sendi : Tidak ada
- Kemerahan : Tidak ada
- Varises : Tidak ada
- Refleks patela : + ka/ + ki
Status Obstetri
1. Inspeksi
Pembesaran : Sesuai dengan usia kehamilan
Gerakan janin : Ada
Striae : Ada
Linea alba :Ada
Linea Nigra : Tidak ada
Bekas luka operasi : Tidak ada
Kontraksi uterus : Baik
2. Palpasi
Leopold I : TFU 3 jari dibawah PX, padafundus teraba agak bundar, lunak, dan tidak melenting
diperkirakan bokong janin
TFU dalam centimeter untuk usia kehamilan > 20 mg = 36 cm
Leopold II : Pada bagian sebelah kiri perut ibu teraba panjang memapan diperkirakan punggung janin,
dan di sebelah kanan perut ibu teraba tonjolan-tonjolan kecil diperkirakan ekstremitas janin.
Leopold III : Pada bagian terbawah perut ibu teraba bulat, keras, dan melenting diperkirakan kepala janin.
Kepala tidak dapat digoyangkan.
Leopold IV : Bagian terbawah janin sudah masuk PAP (Divergen)

TBJ : 3875 gram

3. Auskultasi
Frekuensi DJJ :147 x/mnt
Teratur / tidak : Teratur
Punctum Maksimum : Dibawah pusat sebelah kiri
4. Pemeriksaan Anogenitalia
Vulva dan Vagina
- Warna : Coklat
- Varices : Tidak ada
- Oedema : Tidak ada
- Pengeluaran : Lendir bercampur darah
Perineum,luka parut : Tidak ada
Anus hemoroid : Tidak ada

5. Pemeriksaan Dalam
Pembukaan : 3 cm
Konsistensi serviks : Keras
Portio : Lunak
Ketuban : Utuh
Presentasi : Kepala
Posisi : UUK
Penurunan bag.bawah: Hodge I (+) 4/5

6. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah
Hb : Tidak dilakukan
Golongan darah : A
2. Urine
Protein : Tidak dilakukan
Glukosa : Tidak dilakukan

3.2 MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN HELLEN VARNEY


KALA I
Tanggal : 23 April 2013 Waktu : 06.00 WIB
II. Interpretasi Data Dasar
Diagnosa : Ibu G3P2A0H2 dengan usia kehamilan 37 minggu 2 hari, janin hidup, tunggal,
intrauterine, punggung kiri, presentasi kepala,divergen, inpartu kala I fase laten, K/U ibu dan
janin baik.
Data Dasar :
- Ibu mengatakan hamil anak ketiga
- HPHT : 2-8-2012
- UK : 37 minggu 2 hari
- TP : 9-5-2013
- TTV : TD : 110/80 mmHg R : 22X/i
N : 68x/i S : 36,7
- Leopold :
Leopold I : TFU 3 jari dibawah PX, padafundus teraba agak bundar, lunak, dan tidak melenting
diperkirakan bokong janin
TFU dalam centimeter untuk usia kehamilan > 20 mg = 36 cm
Leopold II : Pada bagian sebelah kiri perut ibu teraba panjang memapan diperkirakan punggung janin,
dan di sebelah kanan perut ibu teraba tonjolan-tonjolan kecil diperkirakan ekstremitas janin.
Leopold III : Pada bagian terbawah perut ibu teraba bulat, keras, dan melenting diperkirakan kepala janin.
Kepala tidak dapat digoyangkan.
Leopold IV : Bagian terbawah janin sudah masuk PAP (Divergen)
TBJ : (36-11) x 155 = 3.875 gram
DJJ : 147x/menit

eriksaan dalam : Pembukaan 3 cm, Ketuban : utuh, Penurunan kepala : Hodge I.


Masalah : Nyeri di bagian pinggang dan menjalar sampai keari-ari, keluar lendir bercampur darah
Kebutuhan :
1. Dukungan psikologis pada ibu untuk menghadapi persalinan
2. Pengawasan kala I dengan partograf

III. Diagnosa Potensial : Tidak ada


IV. Tindakan Segera : Tidak ada
V. Perencanaan
1. Jelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan
2. Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan psikologis pada ibu
3. Lakukan pengawasan kala I dengan partograf
4. Siapkan ruang bersalin dan alat pertolongan persalinan
5. Siapkan alat pertolongan pada bayi baru lahir
6. Penuhi kebutuhan fisik ibu
7. Ajarkan ibu teknik relaksasi dan cara mengedan yang efektif

VI. Penatalaksanaan
1. Menjelaskan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan :
a. Beritahukan keadaan umum ibu dan janin:
- TD : 110/80 mmHg
- N : 68x/i
- R : 22x/i
- S : 36,7
- DJJ : 147x/i
- Keadaan umum ibu dan janin baik
b. Beritahukan hasil PD : Pembukaan serviks : 3 cm, penurunan kepala : 4/5, Ketubahan : utuh
2. Melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan psikologis pada ibu dengan
menganjurkan keluarga untuk selalu memberikan semangat dan dukungan pada ibu
3. Melakukan pengawasan kala I dengan partograf dengan mencatat setiap hasil temuaan dan
asuhan pada partograf
4. Mempersiapkan ruang bersalin dan alat pertolongan persalinan, yaitu:
a. Mempersiapkan ruang bersalin yang sejuk, bersih dan nyaman
b. Mempersiapkan alat pertolongan persalinan : partus set, heacting, dll dalam kondisi steril
5. Mempersiapkan alat pertolongan pada bayi baru lahir :
a. Mempersiapkan alat resusitasi dalam kondisi steril
b. Mempersiapkan peralatan bayi : pakaian bayi. Bedong, kaos kaki, dan sarung tangan bayi
6. Memenuhi kebutuhan fisik ibu :
a. Memberikan makan dan minum bila ibu merasa haus dan lapar
b. Memberikan ibu minuman manis untuk penambah tenaga
7. Mengajarkan ibu teknik relaksasi dan cara mengedan yang efektif, yaitu :
a. Mengajarkan ibu teknik relaksasi dengan menarik nafas dalam melalui hidung keluarkan dari
mulut
b. Mengajarkan ibu cara mengedan yang efektif yaitu seperti orang BAB keras

VII. Evaluasi
Tanggal : 23 April 2013 Pukul : 09.30 WIB
Evaluasi Data Perkembangan Kala I
S : Ibu mengatakan nyeri dibagian pinggang dan menjalar sampai ke ari-ari semakin kuat dan
lebih sering
O : K/U ibu dan janin baik, dengan hasil pemeriksaan :
- TD : 110/80 mmHg - R : 24x/i
- N : 68x/i - S : 36,7
- Pembukaan : 7 cm - Ketuban : Utuh
- DJJ : 147x/menit
A : Ny. S inpartu kala I fase aktif

P :
1. Ibu telah mengetahui hasil pemeriksaan yang telah dilakukan
2. Pengawasan kala I dengan partograf telah dilakukan
3. Keluarga mengerti tentang memberi dukungan psikologis kepada ibu dan akan memberikan
semangat serta dukungan kepada ibu
4. Ruang bersalin dan alat pertolongan persalinan telah dipersiapkan
5. Alat pertolongan pada bayi baru lahir seperti alat resusitasi dan peralatan bayi sudah
dipersiapkan
6. Kebutuhan fisik ibu seperti memberikan makan dan minum bila ibu haus dan lapar serta
memberikan minuman manis untuk penambah tenaga sudah dipenuhi
7. Ibu sudah mengerti bagaimana teknik relaksasi dan mengedan yang efektif
Evaluasi Data Perkembangan Kala I
Pukul 10.30
: - Ibu mengatakan rasa sakit bertambah sering dan lama menjalar dari pinggang ke perut bagian
bawah
- Ibu mengatakan rasa ingin BAB dan mengedan
: K/U ibu dan janin baik, dengan hasil pemeriksaan :
- TD : 120/80 mmHg - R : 24 x/i
- N : 72 x/i - S : 36,9
- Pembukaan : 10 cm - Ketuban : Jernih (-)
- DJJ : 148x/menit
- His 4x10 lamanya >40
- Pada inspeksi tampak : vulva membuka, anus mengembang,dan perineum menonjol
: Ny. S inpartu kala I fase aktif

:
1. Ibu telah mengetahui hasil pemeriksaan yang telah dilakukan
2. Pengawasan kala I dengan partograf telah dilakukan
3. Keluarga mengerti tentang memberi dukungan psikologis kepada ibu dan akan memberikan
semangat serta dukungan kepada ibu
4. Ruang bersalin dan alat pertolongan persalinan telah dipersiapkan
5. Alat pertolongan pada bayi baru lahir seperti alat resusitasi dan peralatan bayi sudah
dipersiapkan
6. Kebutuhan fisik ibu seperti memberikan makan dan minum bila ibu haus dan lapar serta
memberikan minuman manis untuk penambah tenaga sudah dipenuhi
7. Ibu sudah mengerti bagaimana teknik relaksasi dan mengedan yang efektif

KALA II
Tanggal : 23 April 2013 Waktu :10.30 WIB
II. Interpretasi Data Dasar
Diagnosa : Ibu G3P2A0H2 inpartu kala II
Data Dasar :
- Ibu mengatakan rasa ingin BAB dan ingin mengedan
- Ibu mengatakan rasa sakit bertambah sering dan lama menjalar dari pinggang ke perut bagian
bawah
- Ibu mengatakan merasa cemas menghadapi persalinannya
- His 4 x/10 menit, lamanya > 40 detik teratur
- Pada inspeksi tampak : vulva membuka, anus mengembang, perinium menonjol
- Pada periksa dalam : portio tidak teraba, pembukaan serviks 10 cm, ketuban (-), persentasi
kepala, UUK kiri depan, penurunan bagian terendah di Hodge IV
- TTV : TD : 120/80 mmHg R : 24x/i
N : 72x/i S : 36,9
- DJJ : 148 x/mnt, teratur
- Kepala bayi telah lahir tetepi tetap berada di vagina
- Kepala bayi tidak melakukan putaran paksi dalam
- Kepala bayi tersangkut di perineum, seperti masuk kembali ke dalam vagina (kepala kura-
kura)

Masalah : Bahu belum dapat dilahirkan


Kebutuhan :
- Berikan dukungan terus menerus pada ibu
- Jaga kandung kemih tetap kosong
- Pimpinan meneran dan bernafas yang baik selama persalinan
- Lakukan pertolongan persalinan distosia bahu

III. Diagnosa Potensial


ada janin : Gawat janin, asfiksia, fraktur clavicula, dan meninggal
ada Ibu : Perdarahan pasca persalinan, ruptur uteri, robekan jalan perineum dan vagina yang luas

IV. Tindakan Segera


a. Mandiri :
- Perbaiki KU ibu
- Pantau kesejahteraan janin
b. Kolaborasi :
Kolaborasi dengan dokter SpOG untuk persalinan
c. Merujuk
Rujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap
V. Perencanaan
1. Jelaskan pada ibu tentang kondisinya saat ini
2. Pimpin ibu untuk meneran
3. Beritahu itu untuk bernafas yang baik selama persalinan
4. Siapkan pertolongan persalinan dengan teknik aseptik dan antiseptik
5. Lakukan pertolongan persalinandistosia bahu
6. Lahirkan bayi secara spontan

VI. Penatalaksanaan
1. Menjelaskan pada ibu tentang kondisinya dan janinnya saat ini :
a. Beritahu keadaan umum ibu dan janin dengan :
- TD : 120/80 mmHg
- N : 72x/i
- R : 24x/i
- S : 36,9
- DJJ : 148x/i
- Keadaan umum ibu dan janin baik
b. Beritahukan hasil PD :
- Pembukaan servik : 10 cm
- Penurunan kepala : 1/5
c.Libatkan keluarga dalam memberiklan dukungan psikologis
2.Memimpin ibu untuk meneran
a.Menganjurkan ibu untuk mengedan saat his mulai mereda
b.Menganjurkan ibu untuk mengedan seperti orang BAB keras dan kepala melihat ke fundus
3.Memberitahu itu untuk bernafas yang baik selama persalinan
a. Saat his hilang, ajurkan ibu untuk menarik nafas dalam dari hidung dan keluargaan melalui
mulut
b. Memberikan minum diantara his

4.Mempersiapkan pertolongan persalinan dengan teknik aseptik dan antiseptik :


a. Menggunakan alat-alat yang steril serta menggunakan sarung tangan
b. Mencuci tangan sebelum dan sesudah tindakan
5.Lakukan pertolongan persalinandistosia bahu :
a. Tetap memimpin ibu untuk meneran
b. Terdapat distosia bahu yaitu bahu anterior tertahan pada tulang symphisis
c. Melakukan episiotomi dengan memberikan anastesi lokal
d. Melakukan manuver Mc. Robert :
- Dengan posisi ibu berbaring pada punggungnya, minta ibu untuk menarik kedua lututnya
sejauh mungkin ke arah dadanya. Minta suami atau anggota keluarga untuk membantu ibu.
- Tekan kepala bayi secara mantap dan terus-menerus ke arah bawah (ke arah anus ibu) untuk
menggerakkan bahu anterior dibawah symphisis pubis. Catatan : Jangan lakukan dorongan
dengan fundus, karena bahu akan lebih jauh dari rupture uteri
- Lahirkan bahu belakang, bahu depan, dan tubuh bayi seluruhnya
6. Bayi lahir spontan pervaginam, tanggal 23-04-2013 pukul 11.00WIB, hidup, jenis
kelamin Laki-laki, BB : 4200 gram, PB : 52 cm.

VII. Evaluasi
Tanggal : 23 April 2013 Waktu : 11.00 WIB
S :
- Ibu mengatakan bahwa ia merasa lega dan senang atas kelahiran bayinya
- Ibu mengatakan masih merasa mulas pada perutnya

:
- Bayi lahir spontan pervaginam pukul11.00 WIB
- Ibu tampak senang dan bahagia
- TTV:
TD : 110/70 mmHg R : 21x/menit
N : 66x/menit S : 36,5
- Plasenta belum lahir
- Pada palpasi didapat : uterus teraba bulat dan keras, TFU : sepusat
- Pada inspeksi terlihat adanya robekan jalan lahir akibat episiotomi
A : Ibu G3P2A0H2 inpartu kala II dengan distosia bahu
P :
1. Ibu sudah mengetahui keadaannya dan bayinya
2. Ibu telah dipimpin ibu untuk meneran
3. Ibu telah bernafasyang baik selama persalinan
4. Pertolongan persalinan dengan teknik septik dan aseptik telah dilaksanakan
5. Pertolongan persalinan dengan distosia bahu telah dilakukan
6. Bayi telah lahir spontan pervaginam, tanggal 23-04-2013pukul 11.00 WIB, hidup, jenis
kelaminLaki-laki, BB : 4200 gram, PB : 52 cm.

KALA III
Tanggal : 23 April 2013 Waktu : 11.00
II. Interpretasi Data Dasar
Diagnosa : Ibu P3A0 partus spontan pervaginam, partu kala III
Data Dasar :
- Ibu mengatakan bahwa ia merasa lega dan senang atas kelahiran bayinya
- Ibu mengatakan masih merasa mulas pada perutnya
- Bayi lahir spontan pervaginam pukul 11.00 WIB
- Ibu tampak senang dan bahagia
- Tanda vital : TD : 110/70 mmHg R : 21x/menit
N : 66x/menit S : 36,5
- Plasenta belum lahir
- Pada palpasi didapat : uterus teraba bulat dan keras, TFU : sepusat
- Pada inspeksi terlihat adanya robekan jalan lahir akibat episiotomi

Masalah : Tidak ada


Kebutuhan : Melakukan manajemen aktif kala III

III. Diagnosa Potensial : Tidak ada


IV. Tindakan Segera : Tidak ada
V. Perencanaan
1. Jelaskan keadaan ibu dan prosedur manajemen aktif kala III
2. Lakukan manajeman aktif kala III
3. Jika Plasenta lahir spontan periksa kelengkapan plasenta
4. Lakukan penjahitan perineum
5. Jaga Personal Hygiene ibu

VI. Penatalaksanaan
1. Menjelaskan keadaan ibu dan prosedur manajemen aktif kala III
a. Beritahu hasil pemeriksaan :
- TD : 110/70mmHg R : 21x/menit
- N :66x/menit S : 36,5
- Keadaan umum ibu baik
2. Melakukan manajeman aktif kala III
a. Periksa fundus dan pastikan tidak ada janin lagi, kandung kemih kosong, dan kontraksi
uterus baik
b. Beritahu ibu bahwa akan disuntik 10 U IM pada 1/3 paha bagian luar
c. Lakukan penegangan tali pusat terkendali pada saat ada kontraksi
d. Observasi tanda-tanda pelepasan plasenta : semburan darah tiba-tiba, tali pusat memanjang
e. Lahirkan plasenta
f. Periksa kelengkapan plasenta dan tangan kiri melakukan masase dengan 4 jari palmer secara
sirkuler selama 15 detik
g. Ajarkan ibu untuk membantu melakukan masase dan beritahu ibu uterus yang berkontraksi
baik.
3. Plasenta lahir spontan pukul 11.10WIB, dan memeriksa kelengkapan plasenta :
a. Kotiledon dan selaput : utuh
b. Panjang tali pusat : 40 cm
c. Diameter plasenta : 10 cm
d. Berat plasenta : 500 gram
e. Tebal plasenta : 3 cm
f. Insersi : marginal
4. Melakukan penjahitan perineum
a. Terdapat robekan yang mengenai selaput lendir vagina dan otot perineum transversalis, tetapi
tidak mengenai otot sfingter ani disebut luka episiotomi tingkat II
b. Berikan anastesi lokal : 10 ml lidokain
c. Lakukan heacting jelujur dan jelujur subkutikuler
5. Menjaga Personal Hygiene ibu dengan membersihkan dan mengganti pakaian ibu

VII. Evaluasi
Tanggal : 23 April 2013 Waktu : 11.10
S :
1. Ibu mengatakan senang dengan kelahiran bayinya
2. Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas-mulas

O :
1. Plasenta lahir spontan dan lengkap:
- Kotiledon dan selaput : utuh
- Panjang tali pusat : 40 cm
- Diameter plasenta : 10 cm
- Berat plasenta : 500 gram
- Tebal plasenta : 3 cm
- Insersi : marginal
2. Pemeriksaan keadaan umum ibu:
- Keadaan umum : Baik
- Kesadaran : Composmentis
- TD : 120/80 mmHg
- N : 64x/menit
- R : 23x/menit
- S : 36,5
3. TFU 1 jari di bawah pusat, kontraksi uterus baik
A : Ibu P3A0 partus spontan pervaginam, partu kala III
P :
1. Bidan telah melakukan pemeriksaan padafundus danmemastikan tidak ada janin lagi,
kandung kemih kosong dan konstruksi uterus baik
2. Oksitosin telah diberikan 10 U IM di 1/3 paha bagian luar
3. Peregangan tali pusat terkendali pada saat ada kontraksi telah dilakukan
4. Observasi tanda-tanda pelepasan plasentatelah dilakukan
5. Plasenta telah lahir lengkap dan dilahirkan secara spontan pada pukul 11.10 WIB serta telah
diperiksa kelengkapannya
6. Ibu telah dibersihkan dan diganti pakaiannya

KALA IV
Tanggal : 23 April 2013 Waktu : 11.10
II. Interpretasi Data Dasar
Diagnosa : Ibu P3A0 partus spontan, partu kala IV K/U ibu baik
Data Dasar :
1. Ibu mengatakan senang dengan kelahiran bayinya
2. Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas-mulas
3. Pemeriksaan umum :
- Keadaan umum : Baik
- Kesadaran : Composmentis
- TD : 120/80 mmHg
- N : 64x/menit
- R : 23x/menit
- S : 36,5
4. Plasenta lahir lengkap dan spontan pukul 11.10 WIB
5. TFU 1 jari di bawah pusat, kontraksi uterus baik
6. Jumlah perdarahan 150 cc, konsistensi berupa darah segar cair
Masalah : Nyeri luka akibat luka episiotomi
Kebutuhuan :
1. Observasi keadaan ibu : keadaan umum, perdarahan, involusi uterus, dan vital sign
2. Heacting perineum dengan heacting jelujur
3. Teknik relaksasi untuk mengurangi rasa nyeri

III. Diagnosa Potensial : Tidak ada


IV. Tindakan Segera : Tidak ada
V. Perencanaan
1. Observasi keadaan ibu
2. Lakukan pemeriksaan pada ibu setiap 15 menit pada 1 jam postpartum dan setiap 30 menit
pada jam kedua
3. Lakukan perawatan luka episiotomi
4. Ajarkan ibu dan keluarga tentang tanda-tanda bahaya post partum
5. Ajarkan ibu dan keluargaaa cara pemenuhan kebutuhan fisik dan psikologis
6. Berikan konseling pada ibu cara merawat bayi baru lahir

VI. Penatalaksanaan
1. Mengobservasi keadaan ibu :
a. Pantau terus keadaan ibu selama 2 jam postpartum
b. Pastikan darah yang keluar berasal hanya dari luka episiotomi
2. Lakukan pemeriksaan pada ibu setiap 15 menit pada 1 jam postpartum dan setiap 30 menit
pada jam kedua
a. Periksa tanda vital :
- TD : 120/80 mmHg
- N : 64 x/menit
- R : 23 x/menit
- S : 36,50 C
- Keadaan umum ibu baik
b. Periksa fundus : TFU : 1 jari bawah pusat, kontraksi uterus : baik
c. Periksa perdarahan, jumlah darah yang keluar : 100 cc
d. Periksa kandung kemih, bila penuh, rangsang untuk berkemih
3. Melakukan perawatan luka episiotomi
a. Bersihkan tubuh ibu dan lakukan vulva hygiene untuk menghindari infeksi pada luka jahitan.
b. Ajarkan ibu cara menjaga personal hygiene dan cara merawat luka episiotomi
4. Mengajarkan ibu dan keluarga tentang tanda-tanda bahaya post partum:
a. Tanda-tanda bahaya seperti demam, perdarahan berlebihan, perut tidak mulas dan fundus
tidak ada kontraksi.
b. Beritahu keluarga untuk melapor ke bidan jika ada tanda-tanda bahaya.
5. Mengajarkan ibu dan keluargaa cara pemenuhan kebutuhan fisik dan psikologis :
a. Anjurkan ibu untuk makan dan minum yang cukup memenuhi kebutuhan nutrisi ibu.
b. Anjurkan ibu untuk istirahat dan merelaksasikan pikiran
c. Anjurkan keluarga untuk selalu memberikan dukungan dan semangat pada ibu
6. Memberikan konseling pada ibu cara merawat bayi baru lahir
a. Beritahu ibu cara merawat tali pusat
b. Anjurkan ibu untuk segera menyusui bayinya
c. Beritahu ibu untuk tetap menjaga kehangatan tubuh bayi
d. Beritahu ibu tanda-tanda bahaya BBL : panas tinggi, kejang, biru, susah untuk bernafas
e. Beritahu ibu untuk mengimunisasi bayinya ke bidan

VII. Evaluasi
Tanggal : 23 April 2013 Waktu : 11.25
S :
1. Ibu mengatakan senang dengan kelahiran bayinya
2. Ibu merasa legakarena plasenta sudah lahir
O :
1. Pemeriksaan umum
- Keadaan umum : Baik
- Kesadaran : Composmentis
- TD : 110/70 mmHg
- N : 64 x/menit
- R : 23x/menit
- S : 36,50 C
2. TFU 1 jari di bawah pusat, kontraksi uterus baik
3. Jumlah perdadarahan 120 cc, konsistensi berupa darah segar cair
4. Plasenta lahir lengkap dan spontan pukul 11.10 WIB
A : Ibu P3A0 partus spontan, partu kala IV K/U ibu baik
P :
1. Bidan telah melakukan observasi keadaan ibu
2. Bidan telah melakukan pemeriksaan pada ibu setiap 15 menit pada 1 jam postpartum dan
setiap 30 menit pada jam kedua
3. Ibu merasa nyaman telah dilakukan perawatan pada luka episiotomi
4. Ibu dan keluarga telah mengerti tentang tanda-tanda bahaya post partum
5. Ibu dan keluarga bersedia dan mengerti untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis dan
akan menerapkannya dirumah
6. Ibu telah diberikan konseling tentang cara merawat bayi baru lahir

BAB IV
PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan dibahas mengenai hubungan antara tinjauan pustaka dan studi
kasus Asuhan Kebidanan pada NY S dengan Distosia bahu untuk menguraikan
kesenjangan teori dan praktek, maka digunakan pendekatan asuhan kebidanan yang terdiri
dari 7 langkah yaitu pengumpulan data dasar, identifikasi diagnosa masalah/aktual, antisipasi
diagnosa/masalah potensial, tindakan segera kolaborasi, rencana asuhan kebidanan,
pelaksanaan asuhan kebidanan/implementasi dan evaluasi asuhan kebidanan, serta dilakukan
pendokumentasian asuhan kebidanan dalam bentuk SOAP.

4.1 PENGUMPULAN DATA DASAR


Pada kasus distosia bahu ada beberapa faktor resiko menurut teori yang menyebabkan
terjadinya distosia bahu, diantaranya: Makrosomia/kelahiran sebelumnya bayi > 4 kg, ibu
obesitas,penambahan berat badan berlebih, panggul sempit, diabetes maternal, kala II
lama dan kejadian distosia bahu sebelumnya. Pada praktek penulis melakukan pengkajian
pada kasus persalinan Ny. S dengan distosia bahu, tidak terdapat kesenjangan antara teori
dengan praktek. Dimana pada kelahiran sebelumnya anak Ny. S tidak pernah lahir dengan
berat badan > 4 kg, selama kehamalan ibu tidak mengalami penambahan berat badan yang
berlebihan, ibu tidak obesitas, ibu tidak diabetes, dan ibu tidak mengalami kala II lama serta
pada anak sebelumnya tidak pernah mengalami distosia bahu.

4.2 INTERPRETASI DATA DASAR


Pada tinjauan pustaka diagnosis pada distosia bahu disebutkan bahwa akan terjadi hal
seperti kepala bayi sudah lahir, tetapi bahu tertahan dan tidak dapat dilahirkan, epala bayi
sudah lahir tetapi menekan vulva dengan kencang, dagu tertarik dan menekan perineum dan
traksi pada kepala tidak berhasil melahirkan bahu yang tetap tertahan di kranial simfisis
pubis.
Masalah yang terdapat selama kala II pada Ny. S yaitu kepala bayi telah lahir tetapi
tetap berada di vagina, kepala bayi tidak melakukan putaran paksi luar, kepala bayi
tersangkut di perineum, seperti masuk kembali ke dalam vagina (kepala kura-kura). Maka
dapat ditegakkan diagnosa Ibu G3P2A0H2 inpartu kala II dengan distosia bahu. Berdasarkan
masalah atau diagnosa tersebut, maka terdapat kesenjangan antara teori dan praktek.

4.3 IDENTIFIKASI DIAGNOSA ATAU MASALAH POTENSIAL


Masalah potensial yang mungkin terjadi pada kasus distosia bahu yaitu pada janin dapat
tejadi gawat janin, asfiksia, fraktur clavicula, dan meninggal, sementara pada ibu dapat terjadi
perdarahan pasca persalinan, ruptur uteri, hingga robekan perineum dan vagina yang luas.
Masalah potensial yang timbul pada Ny. S hanya terjadi robekan perineum dan vagina
yang cukup luas, sedangkan pada janin tidak terjadi hal yang dapat dijadikan sebagai masalah
potensial.
Dalam mengidentifikasi kebutuhan akan tindakan atau kolaborasi pada distosia bahu
kebutuhan kolaborasi dengan dokter SpOG dan hal tersebut tidak dilakukan. Dalam hal ini
tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek.

4.4 IDENTIFIKASI KEBUTUHAN AKAN TINDAKAN SEGERA


Pada kasus distosia bahu ini, dilakukan tindakan kolaborasi dengan DSOG/SpOG
sebagai tindakan segera dalam menghadapi masalah pada Ny. S, namun tidak dilakukan
dilapangan.
Selain itu, tindakan merujuk kepada fasilitas kesehatan yang lebih lengkap sebagai
tindakan segera untuk mengidentifikasi kebutuhan juga tidak dilakukan dalam hal ini. Maka
dalam identifikasi kebutuhan akantindakan segera/kolaborasi tidak ditemukan kesenjangan
antara teori dengan kasus yang ada di lapangan.

4.5 MERENCANAKAN ASUHAN YANGMENYELURUH


Dalam melakukan perencanaan untuk memberikan asuhan pada kasus distosia bahu
penulis merencanakan tindakan sesuai dengan kebutuhan dan diagnosa yaitu menjelaimpin
ibu untuk meneran, beritahu ibu untuk bernafas yang baik selama persalinan, pertolongan
persalinan dengan teknik aseptik dan antiseptik, lakukan pertolongan persalinan distosia bahu
hingga bayi lahir secara spontan.
Maka dalam merencanakan asuhan yang menyeluruh telah dilaksanakan dilapangan.
Sehingga terdapat kesenjangan antara teori dan praktek di lapangan.

4.6 PENATALAKSANAAN ASUHAN KEBIDANAN


Pada penatalaksanaannya pengkaji memberikan asuhan kepada ibu yaitu memberitahu
ibu kondisi ibu dan janin yang akan dilahirkannya, memimpin ibu meneran, mempersiapkan
pertolongan persalinan dengan tindakan aseptik dan antiseptik, lakukan episiotomi hingga
menolong persalinan dengan distosia bahu. Dimana pada saat di lapangan pertolongan
persalinan dilakukan dengan Manuver McRobert. Di saat bahu bayi tidak segera lahir, maka
dilakukan pendorongan pada fundus sementara tindakan tersebut hanya akan semakin
menyulitkan bahu untuk dilahirkan dan beresiko menimbulkan ruptura uteri.
Pada teori, seharusnya dalam melakukan Manuver McRobert dibutuhkan seorang
asisten untuk menekansuprasimfisis ke arah posterior menggunakan pangkal tangannya untuk
menekan bahu anterior agar mau masuk di bawah simfisis. Sementara hal ini tidak
dilaksanakan dilapangan.
Maka pada tindakan pertolongan persalinan dengan distosia bahu yang dilakukan di
lapangan tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktek saat di lapangan.

4.7 EVALUASI ASUHAN KEBIDANAN


Pada tahap ini evaluasi asuhan kebidanan merupakan akhir dari manajemen asuhan
kebidanan dengan mengetahui berhasil atau tidaknya suatu asuhan. Pada tinjauan pustaka
evaluasi yang dilakukan adalah perawatan dan pengawasan masa nifas. Berdasarkan studi
kasus persalinan Ny. S dengan distosia bahu tidak ditemukan hal hal yang menyimpang
dari evaluasi tinjauan pustaka dan studi kasus. Oleh karena itu, pada tahap ini terlihat ada
kesenjangan antara teori dan praktek di lapangan.
BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Distosia bahu adalah tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat dilahirkan setelah kepala
janin dilahirkan. Tanda dan gejala terjadinya distosia bahu yaitu : pada proses persalinan
normal kepala lahir melalui gerakan ekstensi. Pada distosia bahu kepala akan tertarik ke
dalam dan tidak dapat mengalami putaran paksi luar yang normal. Ukuran kepala dan bentuk
pipi menunjukkan bahwa bayi gemuk dan besar. Begitu pula dengan postur tubuh parturien
yang biasanya juga obesitas. Usaha untuk melakukan putaran paksi luar, fleksi lateral dan
traksi tidak berhasil melahirkan bahu. Untuk penatalaksanaannya dengan melakukan
episiotomi secukupnya dan Manuver McRobert karena Manuver McRobert sebgai pilihan
utama adalah sangat beralasan. Karena manuver ini cukup sederhana, aman, dan dapat
mengatasi sebagian besar distosia bahu derajat ringan sampai sedang.

5.2 SARAN
1. Ibu Hamil
Diharapkan kepada ibu selama dalam masa kehamilan agar melakukan kunjungan /
pemeriksaan kehamilan, untuk mengetahui perubahan berat badan pada ibu dan bayi
bertambah atau tidak sesuai dengan usia kehamilan ataupun ibu yang mengalami riwayat
penyakit sistematik. Agar nantinya bisa didiagnosa apakah ibu bisa bersalin dengan normal
atau tidak.
2. Petugas Kesehatan
Diharapkan kepada tenaga kesehatan khususnya bidan agar mampu menekan AKI/AKB
dengan cara mengurangi komplikasi-komplikasi yang terjadi pada ibu hamil
3. Penulis
Agar dapat meningkatkan pengetahuan maupun wawasan pembelajaran serta pengalaman
dalam praktek asuhan kebidanan. Khususnya mengenai asuhan kebidanan ibu bersalin
dengan komplikasi seperti distosia bahu.
4. Institusi Pendidikan
Diharapkan dapat menjadi bahan kajian maupun referensi dalam menambah khazanah
perpustakaan.