Anda di halaman 1dari 6

Tugas Mata Kuliah Gizi

VITAMIN B12 DAN ASAM FOLAT

Disusun Oleh:

DELFANI GEMELY

KESMAS A

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAKASSAR
2011

Vitamin B12, disebut juga kobalamin, adalah sebuah vitamin larut dalam
air yang berperan penting dalam berfungsi normalnya otak dan sistem saraf, serta
dalam pembentukan darah. Vitamin ini merupakan salah satu dari delapan vitamin
B. Umumnya, vitamin ini terlibat dalam metabolisme setiap sel dalam tubuh,
terutama pengaruhnya pada sintesis dan regulasi DNA serta pada sintesis asam
lemak dan produksi energi.

Vitamin B12 merupakan kumpulan senyawa-senyawa yang terhubung


secara kimia, yang semuanya memiliki aktivitas sebagai vitamin. Secara struktur,
vitamin B12 adalah vitamin yang paling kompleks dan mengandung elemen kobal
yang jarang tersedia secara biokimia. Biosintesis dari struktur dasar vitamin ini
hanya dapat dilakukan oleh bakteri, namun konversi antara bentuk-bentuknya
yang berbeda dapat terjadi dalam tubuh. Suatu bentuk sintesis yang umum dari
vitamin ini, sianokobalamin, tidak terjadi di alam, namun digunakan dalam
banyak sediaan farmasi dan suplemen, dan juga sebagai bahan tambahan makanan
karena kestabilannya dan harganya yang lebih murah. Dalam tubuh, vitamin ini
diubah menjadi bentuk fisiologisnya, metilkobalamin dan adenosilkobalamin,
dengan membuang gugus sianida nya walaupun dalam konsentrasi minimal. Baru-
baru ini, hidroksokobalamin (suatu bentuk kobalamin yang dihasilkan dari
bakteri), metilkobalamin, dan adenosilkobalamin juga dapat ditemukan pada
produk farmakologi dan suplemen makanan yang mahal. Kegunaaan dari zat-zat
ini masih diperdebatkan.

Sumber: Walaupun kelihatannya vitamin ini mempunyai banyak fungsi, tetapi


hanya sedikit saja jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh yaitu sekitar 2,5 - 3,0
mikrogram perhari. Namun demikian vitamin B12 harus tetap ada dalam tubuh
kita. Banyak terdapat dalam makanan hasil ternak terutama hati, sayuran dari daun
komprey, oncom dari bungkil kacang tanah dan produk fermentasi kedelai seperti
tempe, tauco, kecap, rumput laut, cereal yang diperkaya, dan suplemen dari obat.

Defisiensi Vitamin B12

Defisiensi vitamin B12 disebabkan karena ketidakmampuan usus halus untuk


menyerap vitamin B12, juga karena kurangnya konsumsi makanan yang
mengandung vitamin B12. Jika terjadi defisiensi atau kekurangan vitamin B12,
maka dapat menyebabkan anemia, peradangan pada syaraf (neuritis), dan
demensia (kondisi mental yang memburuk).

Gejala:
Selain mengurangi pembentukan sel darah merah, kekurangan vitamin B12 juga
mempengaruhi sistem saraf dan menyebabkan:
kesemutan di tangan dan kaki
hilangnya rasa di tungkai, kaki dan tangan
pergerakan yang kaku.
Gejala lainnya adalah:
buta warna tertentu, termasuk warna kuning dan biru
luka terbuka di lidah atau lidah seperti terbakar
penurunan berat badan
warna kulit menjadi lebih gelap
linglung
depresi
penurunan fungsi intelektual.
Diagnosa :
Biasanya, kekurangan vitamin B12 terdiagnosis pada pemeriksaan darah rutin
untuk anemia. Pada contoh darah yang diperiksa dibawah mikroskop, tampak
megaloblas (sel darah merah berukuran besar). Juga dapat dilihat perubahan sel
darah putih dan trombosit, terutama jika penderita telah menderita anemia dalam
jangka waktu yang lama. Jika diduga terjadi kekurangan, maka dilakukan
pengukuran kadar vitamin B12 dalam darah. Jika sudah pasti terjadi kekurangan
vitamin B12, bisa dilakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebabnya.
Biasanya pemeriksaan dipusatkan kepada faktor intrinsik:
1. Contoh darah diambil untuk memeriksa adanya antibodi terhadap faktor
intrinsic (reaksi autoimun).. Biasanya antibodi ini ditemukan pada 60-90%
penderita anemia pernisiosa.
2. Pemeriksaan yang lebih spesifik, yaitu analisa lambung.
Dimasukkan sebuah selang kecil (selang nasogastrik) melalui hidung,
melewati tenggorokan dan masuk ke dalam lambung.
Lalu disuntikkan pentagastrin (hormon yang merangsang pelepasan faktor
intrinsik) ke dalam sebuah vena. Selanjutnya diambil contoh cairan
lambung dan diperiksa untuk menemukan adanya faktor intrinsik.
3. Jika penyebabnya masih belum pasti, bisa dilakukan tes Schilling.
Diberikan sejumlah kecil vitamin B12 radioaktif per-oral (ditelan) dan
diukur penyerapannya. Kemudian diberikan faktor intrinsik dan vitamin
B12, lalu penyerapannya diukur kembali. Jika vitamin B12 diserap dengan
faktor intrinsik, tetapi tidak diserap tanpa faktor intrinsik, maka
diagnosisnya pasti anemia pernisiosa.

Metabolisme:
Penyerapan yang tidak adekuat dari vitamin B12 (kobalamin) menyebabkan
anemia pernisiosa. Vitamin B12 banyak terdapat di dalam daging dan dalam
keadaan normal telah diserap di bagian akhir usus halus yang menuju ke usus
besar (ilium).

Supaya dapat diserap, vitamin B12 harus bergabung dengan faktor intrinsik (suatu
protein yang dibuat di lambung), yang kemudian mengangkut vitamin ini ke
ilium, menembus dindingnya dan masuk ke dalam aliran darah. Tanpa faktor
intrinsik, vitamin B12 akan tetap berada dalam usus dan dibuang melalui tinja.

Pada anemia pernisiosa, lambung tidak dapat membentuk faktor intrinsik,


sehingga vitamin B12 tidak dapat diserap dan terjadilah anemia, meskipun
sejumlah besar vitamin dikonsumsi dalam makanan sehari-hari. Tetapi karena hati
menyimpan sejumlah besar vitamin B12, maka anemia biasanya tidak akan
muncul sampai sekitar 2-4 tahun setelah tubuh berhenti menyerap vitamin B12.

Selain karena kekurangan faktor intrinsik, penyebab lainnya dari kekurangan


vitamin B12 adalah:
pertumbuhan bakteri abnormal dalam usus halus yang menghalangi
penyerapan vitamin B12
penyakit tertentu (misalnya penyakit Crohn)
pengangkatan lambung atau sebagian dari usus halus dimana vitamin B12
diserap
Pengobatan
Pengobatan kekurangan vitamin B 12 atau anemia pernisiosa adalah pemberian
vitamin B12. Namun sebagian besar penderita tidak dapat menyerap vitamin B12
per-oral (ditelan), karena itu diberikan melalui suntikan.

Pada awalnya suntikan diberikan setiap hari atau setiap minggu, selama beberapa
minggu sampai kadar vitamin B12 dalam darah kembali normal. Selanjutnya
suntikan diberikan 1 kali/bulan. Penderita harus mengkonsumsi tambahan vitamin
B12 sepanjang hidupnya.

Pencegahan
Jika penyebabnya adalah asupan yang kurang, maka anemia ini bisa dicegah
melalui pola makanan yang seimbang.

Folasin (as. folat)

vitamin ini untuk menghindarkan anemia.

as. folat sedikit larut dalam air, mudah dioksidasi dalam larutan asam, peka
terhadap sinar matahari. disamping melalui konsumsi bahan makanan, asam folat
juga disintesis dalam saluran pencernaan.

fungsi: sintesis nukleoprotein utk pembentukan dan produksi butir2 darah merah
normal dalam susunan tulang, juga terlibat dalam proses oksidasi fenilalanin
menjadi tirosin.
defisiensinya karena konsumsi yang rendah atau karena mengalami penyakit
saluran pencernaan.

gejala: anemia

konsumsi yang dianjurkan:

orang dewasa perhari; 400 mg

wanita mengandung; 800 mg

bayi dibwah 1 th; 50 mg

sumber: hati, sayuran berwarna hijau tua, asparagus, kacang2an.