Anda di halaman 1dari 27

STRUKTUR ORGANISASI DAN MANAJEMEN

KOPERASI DI INDONESIA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonomi Koperasi


Semester Genap Tahun Akademik 2015-2016

Makalah

Kelas : D

Oleh:

1. Arief Noviyanto Lot Gayo (130810101160)


2. Fahrur Rozi (130810101161)
3. Achmad Iswantoro (130810101166)
4. Fatchur Rozi (130810101173)
5. Mochammad Fariz Alqodri (130810101178)
6. Wildan Azis Amrullah (130810101187)
7. Dwi Putri Rahmawati (130810101195)

JURUSAN ILMU EKONOMI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS JEMBER
2016
STRUKTUR ORGANISASI DAN MANAJEMEN
KOPERASI DI INDONESIA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonomi Koperasi


Semester Genap Tahun Akademik 2015-2016

Makalah

Kelas : D

Oleh:

1. Arief Noviyanto Lot Gayo (130810101160)


2. Fahrur Rozi (130810101161)
3. Achmad Iswantoro (130810101166)
4. Fatchur Rozi (130810101173)
5. Mochammad Fariz Alqodri (130810101178)
6. Wildan Azis Amrullah (130810101187)
7. Dwi Putri Rahmawati (130810101195)

JURUSAN ILMU EKONOMI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS JEMBER
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan YME.Karena dengan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga
penyusunan Makalah ini telah dapat diselesaikan dengan judul Struktur Organisasi Koperasi
di Indonesia. Makalah ini disusun bertujuan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh
Dosen Ekonomi Koperasi kami.

Selesainya penyusunan ini berkat bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung
maupun tidak langsung. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis sampaikan terima kasih
dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:

1. Bapak dan ibu dosen pengampu yang menuntun kami dalam penyelesaian makalah
ini.
2. Orang tua yang ikut menyemangati dalam penyelesaian makalah.
3. Teman teman kami yang turut bekerja sama dan membantu dalam pembuatan
makalah.

Kami harap makalah ini dapat membantu atau bermanfaat bagi pembaca terutama
bagi mahsiswa Universitas Jember dalam mempelajari atau memahami tentang Struktur
Organisasi Koperasi .

Penulis menyadari Makalah ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu, kritik dan
saran yang sifatnya membangun sangat kami butuhkan agar makalah kami selanjutnya dapat
lebih baik dan sempurna.

Jember, 26 Maret 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN DEPAN

KATA PENGANTAR......................................................................................................... 1

DAFTAR ISI........................................................................................................................ 2

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang....................................................................................................3


1.2 Rumusan Masalah...............................................................................................6
1.3 Tujuan................................................................................................................. 6

BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Definisi Koperasi............................................................................................... 7

2.2 Struktur Organisasi Kopersi.............................................................................9

2.2.1 Menurut Hanel.....................................................................................9


2.2.2 Menurut Ropke....................................................................................9
2.3 Struktur Organisasi Dan Manajemen Koperasi Di Indonesia........................9

2.3.1 Rapat Anggota....................................................................................10


2.3.2 Pengurus Koperasi...............................................................................11
2.3.3 Pengawas.............................................................................................17
2.3.4 Manajer................................................................................................20
2.3.5 Bagan Struktur Organisasi Koperasi Di Indonesia.............................22
2.4 Hak Dan Kewajiban Anggota Koperasi............................................................23

2.5 Dewan Penasehat Koperasi................................................................................25

BAB III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan..........................................................................................................26

3.2 Saran.................................................................................................................... 26

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................ 27

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Organisasi koperasi merupakan salah satu organisasi yang boleh dikatakan
kemunculnya relatif baru. Tetapi walaupun begitu organisasi ini, dalam proses
kemunculannya hingga bisa berdiri eksis sampai sekarang telah melalui berbagi perstiwa dan
rentatan sejarah yang cukup panjang. Salah satu kemunculannya disebabkan karena adanya
revolusi industri sehingga dalam perkembangannya organisasi koperasi ini terdapat hampir
disemua Negara industri yang sudah maju maupun di Negara berkembang. Pada mulanya
organisasi tersebut tumbuh di negara industri di Eropa Barat, namun setelah adanya
kolonialisme di beberapa negara di Asia, Afrika dan Amerika Selatan koperasi juga tumbuh di
negara-negara jajahan. Banyak negara yang memanfatkan koperasi sebagai suatu alat untuk
meningkatkan kesejahteraan., bahkan koperasi sebagai salah satu alat pemerintah dalam
melaksanakan pembangunan.
Koperasi modern didirikan pada akhir abad ke 18 terutama sebagai jawaban atas
masalah-masalah sosial yang timbul selama tahap awal Revoluse Industri di Negara Inggris.
Perubahan-perubahan yang berlangsung saat masa revolusi industri tersebut terutama
disebabkan karena perkembangan ekonomi pasar dan penciptaan berbagai persyaratan pokok
dalam ruang lingkup dimana berlangsung proses industrialisasi serta modernisasi
perdagangan dan pertanian yang cepat. Industri yang mula-mula bercorak padat karya
berubah menjadi padat modal dan produksi yang mula-mula dilaksanakan berdasarkan
pesanan berubah menjadi industri yang memproduksi untuk kebutuhan pasar. Selain itu
proses produksi yang semula menggunakan tenaga manusia, karena adanya revolusi industri
ini telah beralih menggunakan mesin sehingga tenaga buruh banyak yang tidak terpakai, dan
pengangguran meningkat.
Tentu saja perubahan ini membawa dampak yang cukup luas utamnya dampak ekonomi
dan sosial bagi masyarakat terutam kalangan buruh saat itu. Salah satunya terkait dengan
masalah kesenjangan sosial antara kaum kapitalis dan kaum buruh, di mana karena pengaruh
Revolusi Industri dan kapitalisme telah membuat kaum buruh terpinggirkan. Karena merasa
terpinggirkan akhirnya kaum buruh di salah satu kota di Inggris, yaitu kota Rochdale tersebut
membentuk suatu komunitas dan perkumpulan yang mempunyai tujuan untuk
memperjuangkan hak-hak kaum buruh. Dari hasil perkumpulan dan wadah komunitas
tersebut kemudian lahirlah suatu organisasi yang disebut koperasi. Organisasi koperasi di
Kota Rochdle inilah yang kemudian dianggap sebagai cikal bakal dari adanya koperasi
modern.
Beranjak dari sejarah munculnya koperasi di Barat tersebet, dalam perekonomian
modern saat ini peran koperasi memiliki kedudukan yang cukup penting dan startegis,
terutama bagi negara yang berkembang tidak terkecuali di Indonesia.Bahkan koperasi sudah
di tasbihkan sebagai salah satu sokoguru perekonomian. Sejak Negara Indonesia
diproklamasikan telah ditetapkan dalam UUD 1945 bahwa perekonomian Indonesia
dilaksanakan atas dasar demokrasi ekonomi, di mana perekonomian disusun sebagai usaha
bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Rumusan ini merupakan hasil pemikiran Bung
Hatta beserta Bung Karno tentang system perekonomian setelah mempertimbangkan saran
dari Ki Hajar Dewantara. Bangun perusahaan yang sesuai dengan perekonomian Indonesia
adalah koperasi.
Berdasarkan atas penjelasan pasal 33 UUD 1945, dapat diketahui bahwa koperasi
merupakan salah satu sector ekonomi yang sangat kuat kedudukannya, karena jelas-jelas
diamanatkan oleh UUD 1945. Dari penjelasan pasal 33 UUD 1945 secara eksplisit
disebutkan bahwa pelaku ekonomi adalah sektor negara dan koperasi, sedangkan sector
swasta hanya disebut secara implisit. Oleh sebab itu semua warga negara Indonesia
berkewajiban untuk melestarikan dan mengembangkan koperasi sebagai salah satu sektor
ekonomi Indonesia sejajar dengan badan usaha milik Negara dan usaha swasta. Gambaran
yang disampaikan Bung Hatta tentang koperasi, seperti keberadaan Pabrik Semen Gresik atau
PLTN Asahan yang dibentuk sendiri tanpa modal asing. Demikian pula untuk kepentingan
menjalankan kegiatannya juga tidak memerlukan investasi asing. Jika terjadi kekurangan
modal, pemecahannya dilakukan dengan meminjam modal dari luar negeri. Demikian juga
untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli, dapat dilakukan dengan memanfaatkan tenaga-
tenaga ahli asing namun tetap berada dalam pengawasan dari manajemen sosial .
Sektor swasta yang termasuk dalam kelompok usaha kecil dan usaha menengah
disarankan untuk diwadahi dalam badan usaha koperasi sebagai organisasi skala besar. Ide ini
dipengaruhi oleh gerakan koperasi di Skandinavia yang lebih concern dalam
mengembangkan koperasi dibanding dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh perusahaan
swasta (Dawam Raharja, 1997 : xiv)
Penjelasan pasal 33 UUD 1945 mengisyaratkan Pemerintah harus memainkan peran
yang aktif untuk menjaga kelestarian dan mengembangkan koperasi agar dapat menjadi
sektor ekonomi yang kuat sebagai soko guru perekonomian nasional. Namun dalam
realitanya, banyak kebijaksanaan ekonomi yang ternyata merugikan kehidupan
perkoperasian, dan sebaliknya usaha swasta memperoleh berbagai fasilitas dan keuntungan
akibatnya kehidupan koperasi menjadi terpinggirkan sementara itu usaha swasta tampil ke
depan sebagai panglima ekonomi Indonesia. Hal ini boleh-boleh saja, namun sayangnya
usaha swasta yang berkembang ini hanya dimiliki oleh beberapa orang yang sebagian besar
merupakan warga negara Indonesia non pribumi ataupun milik swasta asing.
Oleh karenanya, guna mendukung perekonomian dalam skala yang luas yakni sebagai
soko guru perekonomian seperti yang telah disinggung sebelumnya, pengelolaan koperasi
harus dilaksanakan secara produktif, efektif dan efisien. Dalam arti koperasi harus memiliki
kemampuan dalam mewujudkan pelayanan usaha, yang dapat meningkatkan nilai tambah dan
manfaat yang sebesar-besarnya pada anggota, dengan tetap mempertimbangkan untuk
memperoleh sisa hasil usaha yang wajar. Untuk mencapai kemampuan usaha seperti itu,
maka koperasi harus dapat berusaha secar luwes, baik yang menyangkut industri/produk hulu
dan/ atau hilir tersebut. Ini berarti koperasi mempunyai kesempatan dan peluang yang sama
dengan pelaku ekonomi lainnya dalam melakukan kegiatan usahanya.
Koperasi sebagai suatu badan usaha haruslah bekerja dengan prinsip dan hukum
ekonomi perusahaan, menjalankan asas bussiness efficiency, yaitu mengupayakan
keuntungan finansial untuk menghidupi dirinya. Koperasi harus pula menjalankan asas
efisiensi ekonomi (melaksanakan alokasi sumber daya) sebaik mungkin guna menunjang
program kesejahteraan anggota dan pembangunan ekonomi untuk golongan ekonomi lemah
pada umumnya. Dengan koperasi bekerja efisien baik secara ekonomis maupun bisnis,
koperasi akan dapat melayani kepentingan anggotanya, sekaligus koperasi dapat melayani
masyarakat sekitar dengan baik. Sehingga pada akhirnya koperasi akan sangat menunjang
peningkatan kesejahteraan ekonomi golongan ekonomi lemah di suatu daerah (pedesaan)
pada khususnya dan suatu wilayah perekonomian daerah (pedesaan) pada umumnya.
Koperasi dan para pelakunya (pengurus, manajer/ pengelola, dan anggotanya) harus
mampu bekerja secara efisien, untuk dapat bersaing dengan pelaku ekonomi lainnya seperti
Badan Usaha Milik Swasta dan Badan Usaha Milik Negara dalam menjalankan kegiatan
usaha di segala bidang kehidupan ekonomi, sehingga mampu untuk meningkatkan
kesejahteraan anggotanya.
Dinegara yang sedang berkembang termasuk di negara kita , peranan pemerintah dalam
pengembangan koperasi masih diperlukan karena banyak masyarakat yang belum paham
benar tentang koperasi. Banyaknya masyarakat yang belum paham tentang koperasi karena
tingkat pendidikan mereka masih sangat rendah dan informasi yang belum lengkap tentang
hakekat kopersi yang sebenarnya, bahkan mungkin pengetahuan yang awam teentang
koperasi mungkin juga ditemukan di kalangan mahsiswa. Oleh karena itu, beranjak dari
masalah tersebut kami mencoba mengangkat tema tentang koperasi dalam pembahasan
makalah kali ini. Pada pembahasan kali ini akan kami fokuskan pada pengertian, tujuan dan
struktur organisasi koperasi di Indonesia.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa sebenarnya definisi koperasi jika ditinjau dari banyak literature, termasuk dalam
Undang-undang tentang koperasi, dan para ahli?
2. Bagaiman bentuk dan struktur dari organisasi koperasi menurut pandangan Hanel dan
Ropke ?
3. Bagaimana struktur organisasi dan manajemen dari koperasi di Indonesia.
4. Bagimana hak dan keewajiban dari anggota koperasi dalam struktur koperasi di
Indonesia?
5. Apa itu dewan penasehat koperasi dan bagaiman perananya dalam sistem dan strukur
koperasi di Indonesia?
1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui berbagai definisi tentang koperasi, termasuk juga tentang defini
koperasi menurut pandangan para ahli.
2. Untuk mengetahui bagaimana bentuk dan struktur organisasi koperasi menurut
pandangan Hanel dan Ropke.
3. Untuk mengetahui bentuk dan struktur struktur organisasi koperasi di Indonesia
termasuk juga terkait pengelolaan dan manajemennya..
4. Untuk mengetahui hak dan kewajiban anggota koperasi dalam struktur koperasi di
Indonesia.
5. Untuk mengetahui apa itu dewan penasehat koperasi dan bagaimaana peranannya
dalam struktur koperasi di indonesia.

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1. Definisi Koperasi

Banyak definisi dan pengertian tentang koperasi. Dari akar katanya, koperasi berasal
dari Bahasa Latin coopere atau corporation dalam Bahasa Inggris. Pengertian koperasi
secara etimologi berasal dari kata cooperation, co berarti bersama dan operation artinya
bekerja atau berusaha. Jadi cooperation adalah bekerja bersama-sama atau usaha bersama-
sama untuk kepentingan bersama. Secara umum koperasi dipahami sebagai perkumpulan
orang yang secara sukarela mempersatukan diri untuk memperjuangkan peningkatan
kesejahteraan ekonomi mereka, melalui pembentukan sebuah perusahaan yang dikelola
secara demokratis.

Berikut ini adalah beberapa pengertian koperasi sebagai pegangan untuk mengenal
koperasi lebih jauh. Koperasi didirikan sebagai persatuan kaum yang lemah untuk membela
keperluan hidupnya. Mencapai keperluan hidupnya dengan ongkos yang semurah-murahnya,
itulah yang dituju. Pada koperasi didahulukan keperluan bersama, bukan keuntungan (Hatta
dalam Revrisond Baswir, 2000: 2).

Koperasi adalah suatu perkumpulan orang, biasanya yang memiliki kemampuan


ekonomi terbatas, yang melalui suatu bentuk organisasi perusahaan yang diawasi secara
demokratis, masing-masing memberikan sumbangan yang setara terhadap modal yang
diperlukan, dan bersedia menanggung risiko serta menerima imbalan yang sesuai dengan
usaha yang mereka lakukan (ILO dalam Revrisond Baswir, 2000: 2).

Koperasi adalah suatu perkumpulan yang beranggotakan orang perorang atau badan
hukum, yang memeberikan kebebasan kepada anggota untuk masuk dan keluar, dengan
bekerjasama secara kekeluargaan menjalankan usaha untuk mempertinggi kesejahteraan
jasmaniah para anggotanya (Chaniago dalam Arifin Sitio dan Halomoan Tamba, 2001: 17).

Munker mendefinisikan koperasi sebagai organisasi tolong menolong yang


menjalankan urusniaga secara kumpulan, yang berazaskan konsep tolong menolong.
Aktivitas dalam urusniaga semata-mata bertujuan ekonomi, bukan sosial seperti yang
dikandung gotong royong (Arifin Sitio dan Halomoan Tamba, 2001: 18).

Adapun pengertian koperasi menurut Richard Kohl dan Abrahamson (dalam Ropke,
2003:13) adalah sebagai berikut: Koperasi adalah badan usaha dengan kepmilikan dan
pamakai jasa merupakan anggota koperasi itu sendiri serta pengawasan terhadap badan usaha
tersebut harus dilakukan oleh mereka yang menggunakan jasa/pelayanan badan usaha itu.
Sedangkan Menurut Undang-Undang Perkoperasian Bab 1 pasal 1 tahun 2012 koperasi
mempunyai pengertian sebagai berikut: Koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh
orang perseorangan atau badan hukum koperasi, dengan pemisahan kekayaan para
anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan
bersama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip koperasi.

Sedangkan definisi koperasi di Indonesia termuat dalam UU No. 25 tahun 1992


tentang Perkoperasiaan yang menyebutkan bahwa koperasi adalah Badan usaha yang
beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya
berdasarkan prinsip koperasi, sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan
asas kekeluargaan.

Jadi dapat diartikan koperasi merupakan kumpulan orang dan bukan kumpulan modal.
Koperasi harus betul-betul mengabdi kepada kepentingan perikemanusiaan semata-mata dan
bukan kepada kebendaan. Kerjasama dalam koperasi didasarkan pada rasa persamaan derajat,
dan kesadaran para anggotanya. Koperasi merupakan wadah demokrasi ekonomi dan sosial.
Koperasi adalah milik bersama para anggota, pengurus maupun pengelola. Usaha tersebut
diatur sesuai dengan keinginan para anggota melalui musyawarah rapat anggota.

Pengertian ini disusun tidak hanya berdasar pada konsep koperasi sebagai organisasi
ekonomi dan sosial tetapi secara lengkap telah mencerminkan norma-norma dan kaidah-
kaidah yang berlaku bagi bangsa Indonesia. Norma dan kaidah tersebut dalam UU tersebut
lebih tegas dijabarkan dalam fungsi dan peran koperasi Indonesia sebagai:

1. Alat untuk membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi


anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan
kesejahteraan ekonomi dan sosialnya,
2. Alat untuk mempertinggi kehidupan manusia dan masyarakat,
3. Alat untuk memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan
ketahanan perekonomian nasional, dan
4. Alat untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang
merupakan usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.

2.2. Struktur Organisasi Koperasi

2.2.1. Menurut Hanel :

Hanel mendefinisikan struktur organisasi koperasi sebagai Suatu sistem sosial


ekonomi atau sosial tehnik yang terbuka dan berorientasi pada tujuan

Dimana Sub sistem koperasi terdiri dari :


1. individu (pemilik dan konsumen akhir)

2. Pengusaha Perorangan/kelompok ( pemasok /supplier)

3. Badan Usaha yang melayani anggota dan masyarakat

2.2.2. Menurut Ropke :

Ropke mengidentifikasi Organmisasi Koperasi dengan meng identifikasi ciiri


khusus yang meliputi:

1. Kumpulan sejumlah individu dengan tujuan yang sama (kelompok koperasi)

2. Kelompok usaha untuk perbaikan kondisi sosial ekonomi (swadaya kelompok


koperasi)

3. Pemanfaatan koperasi secara bersama oleh anggota (perusahaan koperasi)

4. Koperasi bertugas untuk menunjang kebutuhan para anggotanya (penyediaan


barang dan jasa)

Dimana Sub-sistem dari organisasi koperasi terdiri dari:

1. Anggota Koperasi

2. Badan Usaha Koperasi

3. Organisasi Koperasi

2.3. Struktur Organisasi dan Manajemen Koperasi di Indonesia

Di dalam Undang-Undang Koperasi Indonesia No. 25 tahun 1992 yang diberlakukan

saat ini, khususnya Bab VI pasal 21, disebutkan bahwa perangkat organisasi koperasi terdiri

atas (a) Rapat Anggota, (b) Pengurus dan (c) Pengawas. Dalam tulisan ini akan dibahas

secara ringkas tentang perangkat organisasi tersebut. Di samping itu juga akan dibahas

tentang manajer koperasi sebagai pelengkap pengurus koperasi yang dianggap memiliki
peranan penting dalam menjalankan roda perusahaan koperasi. Selanjutnya juga disajikan

hubungan tata kerja antar perangkat organisasi tersebut dalam suatu struktur organisasi.

2.3.1. Rapat Anggota

Rapat Anggota sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi

merupakan forum pencetusan dan penyaluran aspirasi para anggota dalam

menentukan arah kegiatan organisasi dan perusahaan koperasi. Melalui Rapat

Anggota inilah, setiap anggota dapat menyalurkan aspirasinya untuk menentukan

kebijakan-kebijakan umum yang harus dilaksanakan oleh pengurus maupun pengawas

koperasi. Menurut pasal 23 UU No. 25 tahun 1992, tugas dan wewenang Rapat

Anggota adalah menetapkan:

1. Anggaran Dasar Koperasi;


2. Kebijakan-kebijakan umum di bidang organisasi, manajemen, dan

perusahaan koperasi;
3. Pemilihan, pengangkatan, serta pemberhentian pengurus maupun

pengawas;
4. Program kerja dan RAPB Koperasi, serta pengesahan Laporan Keuangan

Koperasi;
5. Pengesahan pertanggung-jawaban pengurus dalam melaksanakan

tugasnya;
6. Pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU); serta
7. Penggabungan, peleburan, pembagian, dan pembubaran koperasi.

Selain tugas dan wewenang tersebut, Hendrojogi (2002; 147) memberikan

tambahan tugas dan peran Rapat Anggota, yaitu:

1. Memberikan persetujuan atas perubahan struktur permodalan dan arah

kegiatan usaha koperasi:


2. Menetapkan persyaratan agar pengurus, manajer, dan karyawan

memahami ketentuan-ketentuan yang ada dalam AD (Anggaran Dasar)

koperasi.
3. Memberikan penilaian terhadap pertanggungjawaban pengurus dalam

melaksanakan tugasnya.

Segala sesuatu yang ditetapkan oleh Rapat Anggota ini pada dasarnya

merupakan landasan atau pedoman bertindak bagi pengurus dalam menjalankan roda

keiatan organisasi dan usaha koperasi.

Rapat Anggota koperasi harus dilaksanakan sekurang-kurangnya sekali dalam

setahun, dan diselenggarakan paling lambat enam bulan setelah tutup buku. Ketentuan

mengenai sahnya Rapat Anggota koperasi ini diatur dalam Anggaran Dasar koperasi

yang bersangkutan, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing koperasi.

2.3.2. Pengurus Koperasi

Perangkat organisasi ini merupakan pemegang kuasa Rapat Anggota,

sekaligus sebagai pelaksana kebijakan-kebijakan umum yang telah ditetapkan oleh

Rapat Anggota. Secara rinci, tugas dan wewenang pengurus telah ditetapkan dalam

UU No. 25/1992. Sesuai dengan pasal 30 UU No. 25/1992, tugas pengurus meliputi:

1. Mengelola kopersi dan usahanya;


2. Menyusun program kerja dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan

Belanja (RAPB) Koperasi;


3. Menyelenggarakan rapat anggota;
4. Mengajukan laporan keuangan dan pertanggungjawaban pelaksanaan

tugas;
5. Menyelenggarakan pembukuan keuangan dan inventaisasi harta secara

tertib;
6. Memelihara daftar/buku anggota dan pengurus.
Adapun wewenang dari pengurus koperasi meliputi:
1. Mewakili koperasi baik di dalam maupun di luar pengadilan;
2. memutuskan penerimaan dan penolakan anggota baru serta

pemberhentian anggota sesuai dengan Anggaran Dasar dan

Anggaran Rumah Tangga (AD/ART);


3. melalukan upaya bagi kepentingan dan kemanfaatan koperasi

sesuai dengan tanggung-jawabnya dan keputusan Rapat Anggota.

Leon Garayon dan Paul O. Mohn dalam Hendrojogi (2002; 150) menyebutkan

fungsi pengurus koperasi sebagai berikut:

1. Sebagai pusat pengambil keputusan tertinggi (supreme decision center

function);
2. Sebagai pemberi nasihat (advisor function);
3. Sebagai pengawas atau orang yang dapat dipercaya (trustee function);
4. Sebagai penjaga kesinambungan organisasi (perpectuating function); (5)

sebagai simbol (symbolic function).

Sementara itu Mace dalam Hendrojogi (2002; 153) mengidentifikasi peran

pengurus yaitu:

1. menentukan tujuan organisasi, strategi perusahaan, dan kebijakan umum

organisasi;
2. Memilih dan mengangkat eksekutif-eksekutif (pengelola) kunci;
3. Melakukan pengendalian secara cermat terhadap para pengelola dalam

mejalankan roda kegiatan organisasi dan usaha koperasi.

Berbagai tugas, wewenang, fungsi dan peran pengurus tersebut, menunjukkan

bahwa pengurus merupakan motor penggerak organisasi dan usaha koperasi. Jalannya

roda kegiatan koperasi benar-benar berada di tangan pengurus. Dengan demikian

dapat dikatakan bahwa pengurus memegang kunci keberhasilan organisasi dan usaha

koperasi.
Mengingat beratnya tugas pengurus, dalam melakasanakan tugas tersebut

pengurus dapat mendelegasikan beban tugas (kunci) tersebut kepada pengelola

(manajer beserta karyawan) koperasi. Namun demikian, tanggung jawab

keberhasilannya tetap di pundak pengurus. Hal ini sesuai dengan pasal 32 UU No.

25/1992, untuk mengelola usaha koperasi, pengurus dapat mengangkat pengelola

(manajer dan karyawan) atas persetujuan Rapat Anggota. Namun demikian,

pengangkatan pengelola ini tidak mengurangi tanggung jawab pengurus pada Rapat

Anggota. Ini berarti bahwa, di samping berada di tangan pengurus, kunci keberhasilan

koperasi(khususnya bidang usaha koperasi) juga berada di tangan para

eksekutif/pengelola (manajer beserta karyawan). Mengenai manajer koperasi ini akan

dibahas lebih lanjut dalam bab ini.

Dijelaskan pula dalam UU No.25 / 1992, bahwa persyaratan menjadi pengurus

diatur dalam Anggaran Dasar koperasi masing-masing sesuai dengan kondisi dan

kebutuhannya. Namun demikian, seyogyanya persayaratan menjadi pengurus koperasi

menyangkut hal-hal sebagai berikut:

1. Memiliki keimanan dan ketaqwaan;


2. Memiliki kejujuran dan keterbukaan;
3. Memiliki komitmen dan dedikasi yang tinggi terhadap kehidupan dan

gerakan koperasi;
4. Memiliki wawasan ekonomi yang cukup, baik makro maupun mikro, serta

pengetahuan manajemen bisnis;


5. Memiliki jiwa kepemimpinan; dan kewriausahaan koperasi; serta (6)

Mampu dan mau bekerja keras.

Hal ini selaras dengan pendapat Koermen (2002; 137) yang menyebutkan

persyaratan menjadi pengurus koperasi adalah:

1. Mempunyai waktu untuk mengurus koperasi (kober);


2. Memiliki sikap mental yang baik, transparan, dan dapat

dipertanggungjawabkan (bener);
3. Memiliki pengeta-huan dasar perkoperasian dan pengetahuan pendukung

lainnya (pinter);
4. Memiliki kondisi fisik yang sehat dan terjaga sehingga dapat melakukan

semua aktivitas sebagai pemimpin (seger);


5. Cekatan dan berani mengambil keputusan secara tepat dan cepat.

Dengan berbagai persyaratan tersebut diharapkan diperoleh pengurus yang

benar-benar dapat melaksanakan tugas secara profesional. Dengan pengurus yang

profesional ini diharapkan kope-rasi akan lebih mampu mencapai tujuannya, yaitu

meningkatkan kesejahte-raan anggota pada khusunya dan masyarakat sekitar pada

umumnya.

Secara umum pengurus koperasi terdiri dari tiga komponen yaitu ketua,

sekretaris dan bendahara. Tugas dan wewenang masing-masing komponen pengurus

itu dapat dirinci sebagai berikut :

a. Ketua Umum
Ketua Koperasi memiliki tanggung jawab baik kedalam maupun keluar

organisasi, dengan uraian tugas selengkapnya sebagai berikut:


1. Memimpin Koperasi dan mengkoordinasikan kegiatan seluruh anggota

Pengurus.
2. Mewakili Koperasi di dalam dan di luar pengadilan.
3. Melaksanakan segala perbuatan sesuai dengan Keputusan Rapat anggota

dan Rapat Pengurus.

Adapun wewenang dari ketua adalah sebagai berikut:

1. Menentukan Kebijaksanaan dan mengambil keputusan.


2. Menandatangani surat-surat dan perjanjian bersama Sekretaris dan

Bendahara.
3. Ketua bertanggung jawab kepada Rapat Anggota.
b. Wakil Ketua Umum

Wakil ketua memiliki wewenang untuk bertindak sebagai wakil penanggung

jawab umum, dengan rincian tugas sebagai berikut :

1. Melaksanakan tugas ketua apabila berhalangan.


2. Membina dan mengawasi bidang organisasi dan administrasi.
3. Melaksanakan pendidikan dan penyuluhan.
4. Menyelenggarakan kontrak usaha dengan pihak lain.
c. Sekretaris
Tugas utama sekretaris adalah sebagai penanggungjawab administrasi

koperasi, adapun uraian tugasnya sebagai berikut :


1. Bertanggung jawab kegiatan administrasi dan perkantoran.
2. Mengusahakan kelengkapan organisasi.
3. Mengatur jalannya perkantoran.
4. Memimpin dan mengarahkan tugas karyawan.
5. Menghimpun dan menyusun laporan kegiatan bersama bendahara dan

pengawas.
6. Menyusun rancangan rencana program kerja organisasi dan idiil.

Adapun Sekretaris berwenang :

1. Mengambil keputusan dibidang kesekretariatan.


2. Menandatangani surat-surat bersama ketua.
3. Menetapkan pelaksanaan bimbingan organisasi dan penyuluhan.
Sekretaris bertanggung jawab kepada rapat Pengurus melalui Wakil Ketua.
d. Bendahara
Pada dasarnya tugas pokok bendahara adalah mengurus kekayaan dan
keuangan koperasi, antara lain :

1. Bertanggung jawab masalah keuangan koperasi.


2. Mengatur jalannya pembukuan keuangan.
3. Menyusun anggaran setiap bulan.
4. Mengawasi penerimaan dan pengeluaran uang.
5. Menyusun rencana anggaran dan pendapatan koperasi.
6. Menyusun laporan keuangan.
7. Mengendalikan anggaran.
Sedangkan wewenang Bendahara meliputi :

1. Mengambil keputusan dibidang pengelolaan keuangan dan usaha.


2. Bersama dengan ketua meandatangani surat yang berhubungan dengan bidang
keuangan dan usaha.

e. Wakil Ketua Bidang Usaha

Wakil ketua bidang usaha memiliki wewenang untuk bertindak sebagai wakil
penanggung jawab di bidang usaha dan bertanggung jawab kepada wakil ketua
umum, dengan rincian tugas sebagai berikut :

1. Membina dan mengawasi unit bidang usaha koperasi.


2. Melaksanakan pendidikan dan penyuluhan bidang usaha.
3. Menyelenggarakan kesepatan kontrak usaha dengan pengelola unit bidang
usaha koperasi.
4. Menyusun peraturan-peraturan khusus di unit bidang usaha.

2.3.3. Pengawas Koperasi

Pengawas merupakan pemeriksa dan pengendali pelaksanaan kebijakan oleh

pengurus. Hal pokok yang perlu diperiksa dan dikendalikan oleh pengawas adalah

realisasi pelaksanaan kebijakan oleh pengurus, apakah telah sesuai dengan kebijakan

yang telah ditetapkan oleh Rapat Anggota atau belum.Tugas utama pengawas adalah

mengendalikan pelaksanaan tugas oleh pengurus, agar tidak terjadi penyimpangan-

penyimpangan dari program kerja dan RAPB Koperasi yang telah ditetapkan dalam

Rapat Anggota.

Mengenai tugas, wewenang dan kewajiban pengawas menurut UU No.

25/1992, pasal 39 adalah sebagai berikut.

Adapun tugas dari pengawas koperasi meliputi:

1. Melakukan pengawasan/ pengendalian terhadap pelaksanaan

kebijaksanaan dan pengelolaan koperasi;


2. Membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasannya;

Sedangkan wewenang dari pengawas Koperasi adalah:

1. Meneliti catatan dan pembukuan yang ada pada koperasi;


2. Mendapatkan segala keterangan yang diperlukan dari pengurus, termasuk

pengelola.
3. Pengawas wajib merahasiakan hasil pengawasannya terhadap pihak ketiga.

Sedangkan menurut Koermen (2002; 174) menjabarkan tugas pengawas

koperasi yang meliputi:

1. Melakukan pengawasan atas tatakehidupan koperasi;


2. Melakukan penelitian atas kebenaran bukti-bukti akuntansi dan catatan lainnya

yang berkaitan dengan kegiatan organisasi dan usaha koperasi;


3. Melakukan pengkajian dan evaluasi atas pelaksanaan kebijakan oleh pengurus

dalam menjabarkan program kerja dan RAPB koperasi;


4. Memberikan rekomendasi tentang tindak lanjut dari temuan hasil pengawannya;
5. Membuat/menyusun laporan tertulis tentang hasil pengawasannya.

Lebih lanjut Koermen menjelaskan bahwa sasaran pengawasan meliputi lima

bidang yaitu:

1. Bidang umumdan kelembagaan;


2. Bidang idiologi dan administrasi SDM;
3. Bidang usaha/bisnis;
4. Bidang tata usaha dan urusan internal koperasi;
5. Bidang keuangan dan permodalan.

Selanjutnya Koermen (2002; 176) mengelompokkan tujuan penga-wasan

menjadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

Tujuan Umum meliputi:

1. Memberikan informasi yang obyektif tentang keadaan koperasi


2. Memberikan saran-saran yang konsruktif pada pengurus sebagai

pelaksana kebijakan.
Sedangkan tujuan khusus meliputi:

1. Meneliti kebenaran data akuntansi dn kelayakan laporan keuangan;


2. Mengevaluasi pelaksanaan tugas pengurus dalam men-jalankan organisasi

dan usaha koperasi;


3. Mengevluasi hasil-hasil capaian pengurus dalam menjalankan tugas;
4. Mengetahui perma-salahan yang ada dalm koperasi, serta memberikan

solusi pemecah-annya;
5. Mengamankan dan menyelamatkan kepentingan organisasi, anggota, dan

pihak-pihak lain yang berkepentingan;


6. Mengvaluasi kebijakan-kebijakan pengurus dalam mengembangkan

koperasi.

Berdasarkan pasal 38 dan 40, UU No. 25 Tahun 1992, pengawas diangkat dan

diberhentikan oleh Rapat Angggota, sehingga pengawas juga harus bertanggung-

jawab kepada Rapat Anggota. Dalam hal pengawas tidak mampu melaksanakan tugas

penga-wasan keuangan, pengawas dapat minta bantuan jasa audit kepada akuntan

publik. Namun demikian, hasil pemeriksaan dari akuntan publik tersebut tetap

menjadi tanggung jawab pengawas untuk dipertanggungjawabkan pada Rapat

Anggota.

2.3.4. Manajer

Untuk melaksanakan kebijakan yang telah digariskan oleh Rapat Anggota,

pengurus dapat mengangkat manajer beserta karyawan atas persetujuan Rapat

Anggota. Manajer pada dasarnya adalah orang (bisa dari pengurus atau bukan

pengurus) yang ditunjuk dan diangkat oleh pengurus untuk memimpin perusahaan

(bidang ekonomi) koperasi, serta mengelolanya bersama dengan karyawan. Oleh

karena diangkat dan diberhentikan oleh pengurus, serta mendapatkan wewenang dari
pengurus untuk mengelola koperasi, maka manajer koperasi juga bertanggung-jawab

kepada pengurus, bukan pada Rapat Anggota koperasi.

Mengingat tugas manajer yang sangat menentukan keberhasilan perusahaan

koperasi, seyogyanya manajer koperasi sekurang-kurangnya memenuhi persyaratan

sebagaimana persyaratan pada pengurus. Menurut Hendrojogi (2002; 163), manajer

koperasi harus memiliki kualifikasi sebagai berikut:

1. Cakap dan memiliki technical skill, sehingga mampu memecahkn

permasalahan sumber daya secara phisikal;


2. Memiliki executive skill, sehingga mampu memecahkan masalah SDM;
3. Kreatif, sehingga mampu menciptakan metode-metode baru dan efisiensi

dalam pekerjaan;
4. Memiliki pandangan jauh ke depan;
5. Memiliki jiwa kepemimpinan (leadership);
6. Memiliki organzational skill, sehingga mampu menjabarkan kegiatan-

kegiatan operasional usaha;


7. Memiliki kemampuan mengambil keputusan;
8. Mampu membedakan mana yang benar dan yang salah;
9. Memiliki sifat fleksibel;
10. Mampu bekerjasama dengan orang lain;
11. Mampu berperan sebagai mediator dan konduktor.

Dengan berbagai persyaratan tersebut diha-rapkan agar manajer mampu

menjalankan roda usaha koperasi secara profe-sional, sehingga mampu memberikan

keuntungan ekonomi bagi koperasi.

Hendrojogi (2002; 160) menjelaskan bahwa tugas manajer koperasi lebih

banyak berkaitan dengan kegiatan-kegiatan teknis operasional usaha koperasi.

Mengingat tugas dan kewenangannya itulah, maka keberhasilan usahan koperasi

cenderung berada di tangan manajer. Dengan kata lain, manajer memegang kunci

keberhasilan usaha koperasi tersebut.


Dalam menjalankan roda kegiatan usaha koperasi, manajer biasanya dibantu

oleh sejumlah karyawan. Jumlah dan jenis/kualifikasi karyawan ini tergantung dari

kebutuhan koperasi yang bersangkutan. Kedudukan karyawan ini pada dasarnya

merupakan bawahan manajer, sehingga karyawan dalam menjalankan tugasnya

bertanggungjawab kepada manajer.

2.3.5. Bagan Struktur Organisasi Koperasi di Indonesia

Hubungan tata kerja antar perangkat organisasi koperasi tersebut (RA,

Pengurus termasuk manajer dan karyawan, serta Pengawas) dapat digambarkan

dalam suatu struktur organisasi seperti Gambar berikut.

RAPAT ANGGOTA

PENGURUS BDN.PENGAWAS

MANAJER

BAGIAN ORGANISASI BAGIAN BAGIAN


USAHA KEUANGAN

UNIT USAHA UNIT USAHA UNIT USAHA


A B C

Sumber: Entang Sastra A. (1984, 66) yang dimodifikasi.


Keterangan Gambar:

: garis pengawasan

: garis perintah dan pertanggung-jawaban

Secara umum, manajemen organisasi koperasi dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian,

yaitu bagian organisasi, bagian usaha, dan bagian keuangan.

Bagian organisasi lebih banyak berurusan dengan hal-hal seperti keanggotaan,

pendidikan perkoperasian, dan kerja sama dengan pihak luar termasuk pemerintah. Secara

operasional, biasanya pengurus lebih banyak perannya di bagian ini. Sementara itu,

manajer lebih banyak perannya di bagian usaha dan keuangan. Oleh karena itulah

manajer sangat berperan dalam mencapai keberhasilan usaha koperasi. Banyak pendapat

pakar dan hasil penelitian yang menyatakan bahwa manajer memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap keberhasilan usaha koperasi.

2.4. Hak dan Kewajiban Anggota Koperasi

Seorang anggota koperasi yang baik adalah yang mengutamakan pemenuhan semua
kewajibannya sebelum menuntuk hak-haknya sebagai anggota koperasi. Dengan demikian
seorang anggota koperasi yang baik harus berusaha memenuhi kewajibannya terlebih dahulu
sebelum menuntuk hak-haknya.

Sebagaimana ditegaskan dalam pasal 20 UU No 25 1992 kewajiban-kewajiban


anggota koperasi meliputi hal-hal sebagai berikut

1. Mematuhi anggaran dasar dan anggaran rumah tangga koperasi serta semua keputusan
yang telah disepakati bersama dalam rapat anggota.
2. Berpartisipasi dalam kegiatan usaha yang diselenggarakan oleh koperasi.
3. Mengembangkan dan memelihara kebersamaan azas kekeluargaan

Seperti halnya denga kewajiban anggota, hak anggota koperasi ada yang sudah
ditetapkan dalam UU Koperasi ada pula yang diatur dalam anggaran dasar dan anggaran
rumah tangga. Hak-hak anggota koperasi adalah sebagai berikut :
1. Untuk menghadiri, menyatakan pendapat dan memberikan suara dalam rapat anggota.
2. Memilih dan atau dipilih menjadi pengurus.
3. Meminta diadakan rapat anggota menurut ketentuan-ketentuan dalam anggaran dasar
4. Mengemukakan pendapat atau saran-saran kepada pengurus diluar rapat anggota, baik
diminta atau tidak diminta.
5. Memanfaatkan koperasi dengan mendapat pelayanan yang sama antar sesama
anggota.
6. Mendapatkan keterangan mengenai perkembangan menurut ketentuan dalam
anggaran dasar

Hak-hak anggota tersebut tidak dapat dikurangi atau dihilangkan oleh para pengurus
koperasi, karena hak-hak tersebut melekat pada keanggotaan setiap anggota koperasi. Adanya
pengakuan atas hak-hak anggota koperasi itu adalah cerminan bahwa koperasi adalah sebuah
organisasi ekonomi yang demokratis.

Seorang anggota koperasi yang baik adalah yang mengutamakan pemenuhan semua
kewajibannya sebelum menuntuk hak-haknya sebagai anggota koperasi. Dengan demikian
seorang anggota koperasi yang baik harus berusaha memenuhi kewajibannya terlebih dahulu
sebelum menuntuk hak-haknya. Adapun keanggotaan koprasi dapat berhenti atau
diberhentkan dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Anggota berhenti karena meninggal dunia


Apabila anggota koprasi meninggal dunia maka status keangotaannya sudah berakhir,
dan status keanggotaan tersebut tidak bisa dipindah tangankan.
2. Anggota yang berhenti atas permintaan sendiri, pengembalian uang simpanan
termasuk uang jasa lainnya diperhitungkan dengan hutang-hutangnya serta kewajiban-
kewajiban lainnya.Ini merupakan hal biasa apabila permohonan itu diajukan secara
tertulis kepada pengurus, atas permintaan tersebut disampaikan dalam rapat pengurus
dan sekaligus dibicarakan tentang hak-haknya (khususnya dalam bentuk simpanan)
dan kewajiban yang masih melekat pada yang bersangkutan.
3. Anggota yang berhenti karena mendatangkan kerugian kepada koperasi, hanya
menerima pengembalian simpanan tanpa uang jasa lainnya.
4. Anggota yang diberhentikan dengan hormat, karena alih profesi, lanjut usia, uzur, atau
alasan lainnya, sehingga tidak dapat melaksanakan tugas sebagaimana mestinya,
pengembalian uang simpanan termasuk uang jasa sesuai ketentuan yang berlaku,
diperhitungkan dengan hutang serta kewajiban lainnya.Hal ini bisa terjadi apabila
seorang anggota koperasi pindah ketempat lain diluar jangkaun daerah kerja koperasi
atau bisa juga karena yang bersangkutan pindah pekerjaan, misalnya dari pegawai
negeri pindah ke swasta (syarat anggota pegawai negeri dalam KPN tidak dipenuhi)
5. Anggota yang diberhentikan dengan tidak hormat, karena melakukan tindak pidana,
melanggar peraturan koperasi, atau mencemarkan nama baik koperasi, atau
perbuatan-perbuatan lainnya yang tidak dapat ditolerir, hanya menerima
pengembalian uang simpanan tanpa uang jasa lainnya. Apabila seorang anggota
secara sengaja tidak memenuhi kewajibannya sebagai anggota, misalnya tidak mau
bayar simpanan wajib yang telah ditetapkan dalam anggaran dasar, dan sebagainya
dan tindakan tersebut dianggap merugikan perkembangan koperasi maka pengurus
dapat mengambil tindakan untuk menghapus keanggotaannya dalam koperasi,
tentunya setelah dilakukan pendekatan-pendekatan kepada yang bersangkutan.

Setiap anggota yang berhenti atau pemberhentian anggota akan dicatat dalam buku
daftar anggota. Berakhirnya kenggotaan mulai berlaku dan hanya dapat dibuktikan dengan
catatan dalam buku daftar anggota. Jika anggota yang berhenti atas permintaan sendiri maka
wajib mengajukan surat tertulis kepada pengurus. Jika anggota yang diberhentikan oleh
koprasi memiliki kesempatan untuk mengajukan pertimbangan dalam rapat anggota
berikutnya.

2.5. Dewan Penasehat Koperasi

Dewan penasehat atau pembina koperasi berfungsi memberikan saran-saran,


pendapat, usul, dan pertimbangan-pertimbangan kepada pengurus atau rapat anggota
mengenai masalah tertentu baik diminta maupun tidak, demi untuk kemajuan koperasi yang
bersangkutan. Dewan penasehat tidak diberi gaji tetapi dapat dapat diberi uang jasa yang
disetujui oleh rapat anggota. Disamping itu Dewan penasehat (Pembina) tidak mempunyai
hak dalam rapat anggota dan rapat pengurus.

Tanggung jawab dari Dewan penasihat (Pembina) secara lebih jelas adalah

1. Memberikan nasehat yang berhubungan dengan kegiatan operasional


koperasi.
2. Mengkoordinir tugas-tugas perencanaan, pengorganisasian dan pemberian
pengarahan kerja.
3. Pengawasan dan pelaksanaan yang berkaitan dengan pendayagunaan aktiva
dan passiva untuk mencapai tujuan koperasi.

BAB 3. PENUTUP
3.1. Kesimpulan

Organisasi koperasi merupakan salah satu organisasi yang boleh dikatakan


kemunculnya relatif baru. Tetapi walaupun begitu organisasi ini, dalam proses
kemunculannya hingga bisa berdiri eksis sampai sekarang telah melalui berbagi perstiwa dan
rentatan sejarah yang cukup panjang. Salah satu kemunculannya disebabkan karena adanya
revolusi industri.

Dalam perekonomian modern saat ini peran koperasi memiliki kedudukan yang cukup
penting dan startegis, terutama bagi negara yang berkembang tidak terkecuali di
Indonesia.Bahkan koperasi sudah di tasbihkan sebagai salah satu sokoguru perekonomian.
Sejak Negara Indonesia diproklamasikan telah ditetapkan dalam UUD 1945 bahwa
perekonomian Indonesia dilaksanakan atas dasar demokrasi ekonomi, di mana perekonomian
disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Landasan koperasi di
Indonesia dalam menajalanlkan tugasnya mempunyai landasaan idiil berupa pancasila, dan
landasan struktrural yaitu UUD 1945, terutama tentan Undang-undang Koperasi yaitu UU.
No. 25 Tahun 1992.

Sedangkan Struktur dari organisasi koperasi di Indonesia terdiri dari lima komponen
utama yaitu, Rapat Anggota yang memegang kekuasaan tertinggi, Pengawas Koperasi,
Pengurus Koperasi yang terdiri dari 3 komponen utama yaitu, ketua, sekretaris dan
bendahara, manajer koperasi dan Dewan Penasehat Koperasi. Khusus untuk dewan penasehat
koperasi ini hanya bersifat opsional.

3.2.Saran

Organisasi koperasi merupakan salah satu organisasi yang cukup penting dan strategis
dalam membangun kesejahteraan sosial dan ekonomi terutama bagi para anggota. Oleh
karena itu pemahaman tentang struktur dan manajemen tentang koperasi sangat diperlukan
bagi seluruh komponen pendukung dalam koperasi terutama para anggota dan pengurus
koperasi agar koperasi tersebut dapat berjalan dengan pengelolaan yang baik dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA
Entangsastra A. 1984. Pembangunan Koperasi (Teori dan Kenyataan). Alumni:Bandung.

Hendrojogi. 2002. Koperasi (Asas-asas, Teori dan Praktek. PT Raja Grafindo Persada:
Jakarta.

Koermen. 2002. Manajemen Koperasi Terapan, Prestasi Pustaka Publisher:Jakarta.

Sitio, Arifin, Halomoan Tamba. 2001. Koperasi Teori dan Praktik. Erlangga: Jakarta

Undang-Undang No. 25 Tahun 1992. tentang Perkoperasian Indonesia.