Anda di halaman 1dari 14

NAMA : RINDA NUR HASANAH

NIM : 083144168

KELAS : K4

PRODI : EKONOMI SYARIAH

PENDIRIAN KOPERASI SYARIAH

A. Pengertian Koperasi
Dari segi etimologi kata koperasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu
cooperation yang artinya kerja sama. Sedangkan dari terminology
koperasi adalah suatu perkumpulan atau organisasi yang beranggotakan
orang-orang atau badan Hukum yang bekerja sama dengan penuh
kesadaran untuk meningkatkan kesejahteraan anggota atas dasar suka
rela dan berdasarkan kekeluargaan.
Koperasi syariah adalah suatu organisasi yang beranggotaan orang
perorangan atau badan Hukum yang bekerja sama dengan kesadaran dan
berdasarkan syariat islam yang bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan anggota atas dasar suka rela dan berasaskan
kekeluargaan.
Secraa teknis koperasi syariah bisa dibilang sebagai koperasi yang
prinsip kegiatan, tujuan dan kegiatan usaha usahanyaberdasarkan pada
syariah Islam yaitu Al-Quran dan As sunah. Pengertian secara umum
koperasi syariah adalah badan usaha koperasi yang menjalankan
usahanya dengan prinsip-prinsip syariah, apabila koperasi memiliki unit
usaha produktif simpan pinjam, maka seluruh produk dan operasionalnya
harus dilaksanakan dengan mengacu kepada fatwa Dewan Syariah
Nasional (DSN) Mejelis Ulama Indonesia.
Berdasarkan hal diatas, maka loperasi syariah tidak diperkenankan
berusaha dalam bidang-bidang yang didalamnya terdapat unsure-unsur
riba, maisir, dan garar.
B. Tujuan dan Fungsi Koperasi Syariah
Tujuan koperasi syariah sama dengan koperasi pada umumnya
yakni meningkatkan kesejahteraan anggota pada khususnya dan
masyarakat pada umumnya serta turut membangun tatanan
perekonomian yang berkeadilan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
Fungsi dan peranan koperasi syariah meliputi beberapa aspek
diantaranya, yaitu:
1. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan anggota
pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya, guna
meningkatkan kesejahteraan sosial ekonominya,
2. Memperkuat kualitas sumber daya insani anggota, agar menjadi lebih
amanah, professional (fathonah), konsisten, dan konsekuen
(istiqomah) di dalam menerapkan prinsip-prinsip ekonomi Islam dan
prinsip-prinsip syariah Islam,
3. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian
nasional yang merupakan usaha bersama berdasarkan azas
kekeluargaan dan demokrasi ekonomi,
4. Sebagai mediator antara menyandang dana dengan penggunaan
dana, sehingga tercapai optimalisasi pemanfaatan harta,
5. Menguatkan kelompok-kelompok anggota, sehingga mampu
bekerjasama melakukan kontrol terhadap koperasi secara efektif,
6. Mengembangkan dan memperluas kesempatan kerja,
7. Menumbuh-kembangkan usaha-usaha produktif anggota.

C. Landasan Koperasi Syariah


Landasan koperasi syariah berbeda dengan koperasi pada
umumnya, hal inilah yang menjadi dasar perbedaan koperasi syariah
dengan koperasi konvensional lainnya. Landasan koperasi syariah
meliputi:
1. Koperasi syariah berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945 pasal 33 ayat 3.
2. Koperasi syariah berazaskan kekeluargaan dengan berdasarkan dari
rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat yang terinspirasi oleh demokrasi
Indonesia.
3. Koperasi syariah berlandaskan syariah Islam yaitu Al-quran dan As-
sunnah dengan saling tolong menolong (taawun) dan saling
menguatkan (takaful).

D. Prinsip ekonomi Islam dalam Koperasi Syariah


Adapun beberapa prinsip ekonomi dalam koperasi syariah, yaitu:
1. Kekayaan adalah amanah Allah SWT yang tidak dapat dimiliki oleh
siapapun secara mutlak.
2. Manusia diberi kebebasan bermuamalah selama bersama dengan
ketentuan syariah.
3. Manusia merupakan khalifah Allah dan pemakmur di muka bumi.
4. Menjunjung tinggi keadilan serta menolak setiap bentuk ribawi dan
pemusatan sumber dana ekonomi pada segelintir orang atau
sekelompok orang saja.
Prinsip Syariah Islam dalam Koperasi Syariah meliputi:
1. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka.
2. Keputusan ditetapkan secara musyawarah dan dilaksanakan secara
konsisten dan konsekuen (istiqomah).
3. Pengelolaan dilakukan secara transparan dan profesional.
4. Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil, sesuai dengan
besarnya jasa usaha masing-masing anggota.
5. Pemberian balas jasa modal dilakukan secara terbatas dan profesional
menurut sistembagi hasil.
6. Jujur, amanah, dan mandiri.
7. Mengmbangkan sumber daya manusia, sumber daya ekonomi, dan
sumber daya informasi secara optimal.
8. Menjalin dan menguatkan kerjasama antar anggota, antar koperasi,
serta dengan dan atau lembaga lainnya.

E. Usaha Koperasi Syariah


Pada umumnya jenis usaha koperasi syariah sama dengan koperasi
pada umumnya yakni pertanian, perikanan, kantin, simpan pinjam dan
lainnya namun proses pelaksanaannya yang berbeda. Adapun jenis
usaha yang akan dijalankan koperasi syariah harus mengikuti aturan-
aturan sesuai berikut:
1. Usaha koperasi syariah meliputi semua kegiatan usaha yang halal,
baik dan bermanfaat (thayyib) serta menguntungkan dengan sistem
bagi hasil dan tanpa riba, judi ataupun ketidakjelasan (gharar).
2. Untuk menjalankan fungsi perannya, koperasi syariah menjalankan
usaha sebagaimana tersebut dalam sertifikasi usaha koperasi.
3. Usaha-usaha yang diselenggarakan koperasi syariah harus sesuai
dengan fatwa dan ketentuan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama
Indonesia.
4. Usaha-usaha yang diselenggarakan koperasi syariah harus tidak
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
5. Unit jasa keuangan syariah selanjutnya disebut UJKS adalah unit
koperasi yang bergerak di bidang usaha pembiayaan, investasi dan
simpanan dengan pola bagi hasil (syariah) sebagai bagian dari
kegiatan koperasi yang bersangkutan.

F. Syarat pendirian Koperasi Syariah


Koperasi dibentuk untuk memenuhi kebutuhan anggotanya.
Indonesia adalah Negara yang berdasarkan Hukum, maka koperasi
merupakan salah satu bentuk kerjasama dalam usaha, dapat didirikan
dengan syarat-syarat sebagai berikut:
Dilakukan dengan akta notaris, disahkan oleh Pemerintah,
didaftarkan dipengadilan Negeri, diumumkan dalam berita Negara.
Selama belum dilakukan pengumuman dan pendaftaran itu,
pengurus koperasi bertanggungjawab atas tindakan-tindakan yang
dilakukan atas nama koperasi itu. Pimpinan koperasi adalah wakil
koperasi di dalam dan di luar pengadilan.

Modal Awal Koperasi


Membentuk koperasi memang diperlukan keberanian dan
kesamaan visi dan misi di dalam intern pendiri. Selain itu, mendirikan
koperasi syariah memerlukan perencanaan yang cukup bagus agar tidak
berhenti di tengah jalan. Adapun agar diakui keabsahannya, hendaklah
koperasi syariah disahkan oleh notaris. (biaya pengesahan relatif tidak
begitu mahal, berkisar 300 ribu rupiah).
Untuk mendirikan koperasi syariah, kita perlu memiliki modal awal.
Modal awal koperasi bersumber dari dana usaha. Dana-dana ini dapat
bersumber dari dan diusahakan oleh koperasi syariah, misalkan dari
modal sendiri, Modal Penyertaan dan Dana Amanah.
Modal sendiri didapat dari simpanan pokok, simpanan wajib,
cadangan, hibah, dan donasi. Sedangkan modal penyertaan didapat dari
anggota, koperasi lain, bank, penerbitan obligasi dan surat utang serta
sumber lainnya yang sah.
Adapun persyaratan dan tata cara pendirian Koperasi Jasa
Keuangan Syariah / Unit Jasa Keuangan Syariah, yaitu:
1. Koperasi Jasa Keuangan Syariah Primer dibentuk oleh sekurang-
kurangnya 20 orang yang memenuhi persyaratan untuk menjadi
anggota koperasi. Dan orang-orang dimaksud mempunyai kegiatan
usaha dan atau mempunyai kepentingan ekonomi yang sama.
2. Koperasi Jasa Keuangan Syariah Sekunder dibentuk oleh sekurang-
kurangnya tiga koperasi yang sudah berbadan hukum dan harus
memenuhi persyaratan kelayakan usaha serta manfaat pelayanan
anggotanya.
3. Pendirian Koperasi Jasa Keuangan Syariah Tingkat Primer dan
Sekunder, dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 4 Tahun 1994 tentang Persyaratan dan Tata Cara
Pengesahan serta utusan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil
dan menengah Republik Indonesia Nomor 104.1/Kep/.KUK/X/2002
tentang Petunjuk pelaksanaan Pembentukan, Pengesahan Akta
Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi.
Pengajuan permohonan pengesahan akta pendirian Koperasi Jasa
Keuangan Syariah wajib melampirkan:
1. Berita acara rapat pendirian Koperasi Jasa Keuangan Syariah, disertai
dengan daftar hadir, dan bukti fotocopy KTP seluruh anggota.
2. Surat bukti penyetoran modal pada awal pendirian Koperasi Jasa
Keuangan Syariah Primer sekurang-kurangnya Rp. 15 juta dan
Koperasi Jasa Keuangan Syariah Sekundersekurang-kurangnyaRp.50
juta.
3. Setoran sebagaimana dimaksud pada huruf b dilaksanakan dalam
bentuk deposito pada bank Syariah yang disetorkan atas nama
Menteri cq Ketua Koperasi yang bersangkutan yang dapat dicairkan
sebagai modal awal Koperasi Jasa Keuangan Syariah / Unit Jasa
Keuangan Syariah atas dasar persetujuan pencairan oleh Menteri
atau Pejabat, yang dilaksanakan bersamaan dengan pengesahan dan
atau perubahan anggaran dasar koperasi.
4. Rencana kerja sekurang-kurangnya satu tahun yang menjelaskan
anatara lain:
a. Rencana penghimpunan dana dan pengalokasian pembiayaannya
beserta jenis akad yang melandasinya.
b. Standar Operasional Prosedur (SOP) yang memuat peraturan dan
prosedur transaksi sumber dana dan pembiayaan legkap dengan
teknis penerapan akad syariah dan perhitungan bagi hasil/marjin
masing-masing produk simpanan maupun pembiayaan, dan telah
diminta fatwa/rekomendasi dari Dewan Syariah yang
bersangkutan.
c. Rencana penghimpunan modal sendiri berasal dari simpanan
pokok, simpanan wajib, modal penyertaan, hibah maupun
cadangan.
d. Rencana modal pembiayaan yang diterima, yang dilengkapi
dengan penjelasan status akad dan manfaat serta keuntungan
dari pemilik dana dan koperasi.
e. Rencana pendapatan dan beban, harus dijelaskan sesuai dengan
Pola Syariah dan tidak bertentangan dengan fatwa dari Dewan
Syariah yang bersangkutan.
f. Rencana dibidang organisasi yang meliputi rencana struktur
organisasi, uraian tugas, tanggungjawab dan wewenang, jumlah
karyawan, serta rencana pembentukan dewan syariah, bagi
Koperasi Jasa Keuangan Syariah/Unit Jasa Keuangan Syariah yang
telah mampu mengangkat ahli atau dewan syariah.

G. Macam-macam Koperasi
Macam-macam koperasi dapat dilihat dari dua segi. Pertama dari
segi bidang usahanya dan Kedua dari segi tujuannya.
Dari segi usahanya, koperasi dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Koperasi yang berusaha tunggal (single purpose), yaitu koperasi yang
hanya mejalankan satu bidang usaha, seperti koperasi yang hanya
berusaha dalam bidang konsumsi, bidang kredit, atau bidang
produksi.
2. Koperasi serba usaha (multy purpose), yaitu koperasi yang berusaha
dalam berbagai banyak bidang, seperti koperasi yang melakukan
pembelian dan penjualan.

Dari segi tujuannya koperasi dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Koperasi produksi, yaitu koperasi ynag mengurus pembuatan barang-
barang yang bahan-bahannya disediakan oleh anggota koperasi.
2. Koperasi konsumsi, yaitu koperasi yang mengurus pembelian barang-
barang guna memenuhi kebutuhan anggotanya.
3. Koperasi kredit, yaitu koperasi yang memberikan pertolongan kepada
anggota-anggotanya yang membutuhkan modal.

H. Hukum Pendirian Koperasi


Koperasi disebut pula syirkah taawuniyah (perseroan tolong
menolong), terlepas apakah koperasi sudah dibahas atau pernah
disinggung oleh para ulama yang membahas syirkah maupun tidak.
Dikaji dari segi defenisinya, koperasi merupakan perkumpulan
orang-perorangan dalam rangka pemenuhan kebutuhannya. Jika ada
keuntungan atau kerugian dibagi rata sesuai dengan besarnya modal
yang ditanammeskipun menurut Muhammad Syaltut dalam syirkah
taawuniyah, tetapi pada intinya Syaltut mengikuti bahwa dalam koperasi
terdapat pembagian keuntungan dan pembagian kerugian. Salah satu
Syaltut berpendapat demkkian ialah karena Syaltut melihat koperasi
yang ada di Mesir. Sementara koperasi di Indonesia terdapat perbedaan.
Di Mesir karyawan dan pengurus koperasi di gaji oleh koperasi,
sedangkan di Indonesia pengurus dan karyawan koperasi hanya
mendapatkan uang kehormatan berdasarkan hasil musyawarah anggota,
kecuali karyawan yang bukan merupakan anggota koperasi.
Persekutuan adalah salah satu bentuk kerjasama yang dianjurkan
syara karena dengan persekutuan berarti terdapat kesatuan. Dengan
kesatuan akan tercipta sebuah kekuatan sehingga hendaknya kekuatan
ini digunakan untuk menegakkan sesuatu yang benar menurut syara.
Didalam Al-quran surat Al-Maidah ayat 2 Allah SWT, berfirman:
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan
taqwa dan jangan tolong-menolonglah dalam berbuat dosa dan
permusuhan.
Berdasarkan pada ayat Al-quran yang diatas kiranya dapat
dipahami bahwa tolong-menolong dalam kebajikan dan dalam ketaqwaan
dianjurkan oleh Allah SWT. Didalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Bukhari dan Imam Ahmad dari Anas bin Malik ra. Bahwa Rasulullah
SAW. Bersabda, yang artinya:
Tolonglah saudaramu yang menganiaya dan dianiayanya, sahabat
bertanya ya Rasulullah aku dapat menolong orang yang dianiaya, tetapi
bagaimana menolong orang yang menganiaya? Rasul menjawab: kamu
tahan dan mencegahnya dari menganiaya itulah arti menolongi dari
padanya.
Menurut Fuad Mohd. Fachruddin, perjanjian persoalan koperasi
yang dibentuk atas dasar kerelaan adalah sah. Mendirikan koperasi
adalah dibolehkan menurut agama Islam tanpa ada keraguan apapun
mengenai halnya, selama koperasi melakukan riba atau penghasiladan
haram.
Tolong-menolong merupakan perbuatan yang terpuji menurut
agama Islam. Salah satu bentuk tolong-menolong adalah mendirikan dan
menjadi anggota koperasi merupakan salah satu perbuatan terpuji
menurut agama Islam.

I. Koperasi sebagai Jalan Tengah


Menurut Dawam Rahardjo, koperasi dilahirkan dinegara kapitalis.
Koperasi dianggap sebagai alternative terhadap sistem kapitalis. Koperasi
ingin menggantikan hubungan produksi dan pertukangan yang
berdasarkan pada persaingan bebas dengan kerjasama. Akan tetapi,
koperasi tidak menggantikan sistem kapitalis, bahkan koperasi baik
adalah koperasi yang dapat bekerja dan mampu bersaing dalam
kerangka sistem kapitalis dimana dia hidup.
Koperasi yang sering dijadikan contoh geraknya adalah koperasi
yang dikembangkan di negara-negara kapitalis, seperti di Inggris, AS,
Jerman, Australia, Denmark, dan Swedia. Denmark dan Swedia
menggunakan sistem kapitalis yang sudah mengalami perubahan-
perubahan sehingga negara ini berubah menjadi Negara Welfare State.
Disisi lain koperasi juga dikembangkan dinegara sosialis atau dapat
dikatakan bahwa koperasi pernah dijadikan model yang dipakai oleh
pemerintah sosialis sebagai wahana dalam proses sosialisasi alat-alat
produksi. Di Republik Rakyat China (RRC) koperasi pernah dijadikan
sebagai modal transisi dalam proses transformasi dari sistem Feodal ke
sistem sosialis.
Disisi lain koperasi merupakan subsistem yang lemah, kurang
mampu bekerja diatas prinsip efisiensi sehingga koperasi pada umumnya
selalu mengharapkanulurantanganparawiraswastawandanpemerintah.
Setiap gerakan koperasi yang sejati sebenarnya selalu ingin
mendasarkan diri pada kesadaran pendukungnya, yakni kesadaran
konsumen, produsen, distributor barang dan jasa, dan kesadaran
pemerintah.

J. Keuntungan Koperasi Syariah


Keuntungan dari koperasi syariah adalah bunga yang dibebankan
kepada peminjam. Semakin banyak uang yang disebarkan semakin
banyak keuntungan yang akan didapatkan oleh koperasi. Disamping itu,
keuntungan lainnya adalah memperoleh biaya-biaya administrasi yang
dibebankan kepada peminjam. Kemudian keuntungan juga dapat
diperoleh dari hasil investasi lain yang dilakukan diluar kegiatan
peminjaman, misalnya: penempatan uang dalam bidang-bidang surat
berharga.
Pembagian keuntungan dalam koperasi simpan pinjam diberikan
terutama diberikan kepada peminjam yang tidak pernah lalai dalam
memenuhi kewajibannya. Keuntungan akan diberikan sesuai dengan
jumlah pinjaman dalam suatu periode. Semakin besar pinjaman, maka
pembagian keuntungannya pun semakin besar pula, demikian pula
sebaliknya.
Dapat disimpulkan bahwa keuntungan koperasi adalah sebagai berikut:
1. Biaya bunga yang dibebankan kepada peminjam.
2. Biaya administrasi pada setiap kali transaksi.
3. Hasil investasi diluar kegiatan koperasi.

K. Tata Cara Pendirian Koperasi


1. Persiapan pembentukan
Orang orang yang akan mendirikan koperasi terlebih dahulu
mendapatkan penerangan dan penyuluhan agar memperoleh
pengertian dan kejelasan mengenai maksud dan tujuan mendirikan
koperasi termasuk struktur organisasi manajemen serta kegiatan
usaha koperasi.
2. Rapat pembentukan
a. Rapatsekurang-
kurangnya20orangyangdipimpinolehseorang/beberapaorangpendiri
koperasi.
b. DisarankanmengundangPejabat/Petugas yang memahami seluk-
beluk perkoperasian.
3. Hal-hal yang dibicarakan dalam rapat
a. Tujuan mendirikan koperasi
b. Kegiatan usaha yang hendak dijalankan
c. Persyaratan menjadi anggota
d. Menetapkan modal yang akan disetor kepada koperasi diantaranya
dari simpanan pokok dan simpanan wajib
e. Memilih nama-nama pendiri koperasi
f. Memilih nama-nama pengurus dan pengawas koperasi
g. Menyusun anggaran dasar

4. Teknis penyusunan anggaran dasar


Apabila penyusunan anggaran dasar tidak mungkin disusun
bersama-sama seluruh peserta rapat, dapat ditempuh:
a. Membentuk tim perumus penyusun anggaran dasar dengan tugas
menyusun draf anggaran dasar yang bersifat umum dan hasilnya
dilaporkan kepada pendirian koperasi untuk dimintakan
pengesahan kepada seluruh anggota.
b. Hal-hal khusus yang perlu dibahas oleh seluruh peserta (tidak
diserahkan kepada tim perumus) diantaranya:
1) Nama dan tempat kedudukan koperasi
2) Persyaratan menjadi anggota
3) Besarnya simpanan pokok dan simpanan wajib
4) Nama-nama pendiri,pengurusdanpengawas
5) Kegiatanusaha
6) Ketentuan mengena penggunaan sisa hasil usaha
7) Ketentuan mengenai sanksi
c. Isi anggaran dasar minimal memuat tentang:
1) Daftar nama pendiri
2) Nama dan tempat kedudukan koperasi
3) Ketentuan mengenai keanggotaan
4) Maksud dan tujuan serta bidang usaha
5) Ketentuan mengenai rapat anggota
6) Ketentuan mengenai pengelolaan
7) Ketentuan mengenai permodalan
8) Ketentuan mengenai jangka waktu berdirinya koperasi
9) Ketentuan mengenai pembagian sisa hasil usaha
10) Ketentuan megenai sanksi
5. Pengajuan permohonan pengesahan akta pendiri koperasi
Permohonan disampaikan kepada:
6. Lampiran permohonan
Koperasi Primer yang tidak memiliki unit usaha simpan pinjam.
a. Dua rangkap akta pendirian koperasi, satu diantaranya
bermaterai cukup
b. Berita acara pembentukan koperasi
c. Surat bukti penyetoran modal
d. Neraca awal kegiatan usaha
e. Rencana kerja awal kegiatan usaha
f. Daftar hadir rapat pembentukan
g. Fotocopy KTP masing-masing anggota pendiri

Primer koperasi yang memiliki unit usaha simpan pinjam.

a. Duarangkapaktapendiriankoperasi,satudiantaranyabermateraicu
kup
b. Beritaacarapembentukankoperasi
c. Suratbuktipenyetoranmodal
d. Neracaawalkhususunit
e. Rencanakerjaawalkegiatanusahanonsimpanpinjam
f. Daftarhadirrapatpembentukan
g. Namadanriwayathiduppengurus,pengawasdanmanajerunitsimpa
npinjam
h. Daftarsaranakerjayangtelahdisiapkan
i. Suratperjanjiankerjaantarapengurusdenganmanajerunitsimpanpi
njam
j. Fotocopy KTP masing-masing anggota pendiri.
7. Koperasi simpan pinjam
8. Penerima permohonan oleh pejabat
Apabila permohonan dimaksud telah lengkap dan benar maka
pemerintah memberikan tanda terima, dan berkasnya segera
diproses akan tetapi apabila berkasnya belum lengkap dan belum
benar permohonan dimaksud dikembalikan untuk diperbaiki.
9. Penelitian permohonan oleh pejabat
a. Secara administrasi
b. Penelitian lapangan
10. Pengesahan akta pendirian koperasi
Dengan Surat Keputusan Menteri NegaraKoperasi Pengusaha
Kecil dan Menengah yang ditandatangani oleh Kepala Dinas Koperasi
Pengusaha Kecil dan Menengah Kabupaten/Kota.
K. Akta Pendirian Koperasi
Koperasi hanya dapat didirikan bila memebuhi persyaratan dalam
mendirikan koperasi. Syarat- syarat pembentukan koperasi berdasarkan
Keputusan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah
Publik Indonesia Nomor: 104.1/M.KuKm/2002 Tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pembentukan, Pengesahan Akta Pendirian dan Perubahan
Anggaran dasar Koperasi, adalah sebagai berikut :
a. Koperasi primer dibentuk dan didirikan oleh sekurang-sekurangnya dua
puluh orang yang mempunyai kegiatan dan kepentingan ekonomi yang
sama,
b. Pendiri koperasi primer sebagaimana tersebut pada huruf a adalah
Warga Negara Indonesia, cakap secara hukum dan maupun melakukan
perbuatan hukum,
c. Usaha yang dilaksanakan oleh koperasi harus layak secara ekonomi
dikelola secara efisien dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang
nyata bagi anggota,
d. Modal sendiri harus cukup tersedia untuk mendukung kegiatan usaha
yang akan dilaksanakan oleh koperasi,
e. Memiliki tenaga terampil dan mampu untuk mengelola koperasi.
Selain persyaratan diatas, perlu juga diperhatikan beberapa hal-hal
penting yang harus diperhatikan dalm pembentukan koperasi yang
dikemukakan oleh Siamy Amran, antara lain sebagai berikut :
1. Orang-orang yang akan mendirikan koperasi dan yang nantinya akan
menjadi anggota koperasi hendaknya mempunyai kegiatan dan
kepentingan ekonomi yang sama. Artinya tidak setiap orang dapat
mendirikan dan atau menjadi anggota koperasi tanpa didasarkan pada
adanya kejelasan mengenai kegiatan atau kepentingan ekonomi yang
akan dijalankan. Kegiatan ekonomi yang sama diartikan, memiliki
profesi atau usaha yang sama, sedangkan kepentingan ekonomi yang
sama diartikan memiliki kebutuhan ekonomi yang sama.
2. Usaha yang akan dilaksanakan oleh koperasi harus layak secara
ekonomi. Layak secara ekonomi diartikan bahwa usaha tersebut akan
dikelola secara efisien dan mampu menghasilkan keuntungan usaha
dengan memperhatikan faktor-faktor tenaga kerja modal dan
teknologi.
3. Modal sendiri harus cukup tersedia untuk mendukung kegiatan usaha
yang akan dilaksanakan oleh koperasi. Hal tersebut dimaksudkan agar
kegiatan usaha koperasi dapat segrea dilaksanakan tanpa menutup
kemungkinan memperoleh bantuan, fasilitas dan pinjaman dari pihak
luar.
4. Kepengurusan dan manajemen harus disesuaikan dengan kegiatan
usaha yang akan dilaksanakan agar tercapai efektivitas dan efisiensi
dalam pengelolaan koperasi. perlu diperhatikan mereka yang nantinya
ditunjuk atau dipilih menjadi pengurus haruslah orang yang memiliki
kejujuran, kemampuan dan kepemimpinan, agar koperasi yang
didirikan tersebut sejak dini telah memiliki kepengurusan.
Setelah persyaratan terpenuhi para pendiri kemudian mempersiapkan
hal-hal yang dibutuhkan untuk mengadakan rapat pembentukan koperasi,
setelah memiliki bekal yang cukup dan telah siap para pendiri melakukan
rapat pembentukan koperasi yang dihadiri dinas koperasi dan pejabat
lainnya, pendirian koperasi tidak sampai disana karena lembaga koperasi
yang telah didirikan perlu disahkan badan hukumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Hasan. 2004. Berbagai Macam Transaksi dalam Islam. Jakarta. PT.


RajaGrafindo Persada.

http://ajoagung.blogspot.co.id/2012/11/jurnal-koperasi-syarihtml. Diakses
pada tanggal 8 April 2017/14:31.

http://aminatulfaizah.blogspot.co.id/2012/01/koperasi-syariah-di-
Indonesia.html. Diakses pada tanggal 8 April 2017/14:00.

Suherdi, Hendi. MSI. 2007. Fiqih Muamalah. Jakarta. PT. RajaGrafindo.