Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI PULP DAN


KERTAS

Disusun untuk Memenuhi Tugas Besar Mata Kuliah TL4211 Pengelolaan Limbah
Industri Semester II Tahun 2016/2017

Kelompok 2

1531300 Ni Putu Aris Suwandewi 15314043 Bilqis Rulista


15314006 Trias Mustika 15314054 Dara Lextiany
15314009 Astrid Monica 15314061 Mutia Vegadianti
15314016 Oloan Ivan Daniel 15314071 Kirana Nadhila
15314028 Firdha Laila 15314092 Laras Ayu Hapsari
15314032 Aisa Nurlaili 15314094 Haykal Ardhani
15314035 Lafidya Mugni 15314096 Asri Fitri

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2017
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................... i


DAFTAR TABEL ................................................................................................. ii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Tujuan ....................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN UMUM ................................................................................ 3
2.1 Karakteristik Limbah ..................................................................................... 3
2.2 Baku Mutu ..................................................................................................... 5
2.3 Pengelolaan Limbah Cair .............................................................................. 6
BAB III UNIT IPAL ............................................................................................. 8
3.1 Pemilihan Unit/Proses .............................................................................. 8
3.2 Filosofi...................................................................................................... 8
3.3 Kriteria Desain ......................................................................................... 9
3.4 Future Trend / Advanced Treatment ...................................................... 12
BAB IV STUDI KASUS ..................................................................................... 13
BAB V PENUTUP ............................................................................................... 18
5.1 Kesimpulan ............................................................................................. 18
5.2 Saran ....................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 19

i
DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Karakteristik Limbah Pulp dan Kertas .................................................. 4


Tabel 2. 2 Baku Mutu berdasarkan Kep-51/MENLH/10/1995 .............................. 5
Tabel 2. 3 Baku Mutu berdasarkan Permen LH No. 5/2014 .................................. 5
Tabel 4. 1 Karakteristik Weak Black Liquor di PT RAPP ................................... 14
Tabel 4. 2 Komposisi padatan pada Weak Black Liquor ..................................... 14
Tabel 4. 3 Karakteristik Black Liquor PT RAPP ................................................. 14
Tabel 4. 4 Karakteristik air limbah hasil pengolahan di PT RAPP ..................... 16

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 4. 1 Skema pengolahan Weak Black Liquor ......................................... 15


Gambar 4. 2 Skema pengolahan limbah cair di PT RAPP .................................. 17

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berbagai jenis industri yang saat ini ada mengeluarkan limbah yang pada
akhirnya akan dibuang ke lingkungan. Tidak terkecuali dengan industri pulp dan
kertas yang menghasilkan limbah dari proses produksinya. Bahan kimia seperti
klorin dan enzim hemiselulase ditambahkan dalam proses pembuatan pulp dan
kertas. Sebagai dampaknya, limbah yang dihasilkan akan mengandung senyawa-
senyawa kimia sintetis yang lebih beragam dan kualitas limbah yang dihasilkan
menjadi semakin buruk.
Pencemaran lingkungan yang diakibatkan tidak hanya berdampak kepada
sumber daya alam (air, tanah, biota air, serta tumbuhan), namun juga manusia
yang merupakan konsumen tertinggi di rantai makanan pada akhirnya akan
terpapar oleh zat kimia berbahaya dari limbah industri. Kegiatan industri
berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan hidup, sehingga diperlukan
adanya pengendalian limbah yang dihasilkan. Pemerintah telah menetapkan
peraturan mengenai jumlah maksimum kandungan limbah yang boleh dibuang ke
lingkungan. Peraturan mengenai baku mutu air limbah industri tercantum dalam
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia nomor 5 tahun 2014
dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor Kep-51/MENLH/10/1995.
Industri pulp dan kertas merupakan salah satu industri yang diatur didalamnya.
Adanya peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah secara tidak
langsung mewajibkan setiap industri untuk mengelola limbah yang dihasilkan
sebelum dibuang ke lingkungan. Tindakan yang dapat dilakukan pihak industri
yakni mengolah limbah yang dihasilkannya agar sesuai dengan baku mutu yang
telah ditetapkan.
Limbah cair menjadi perhatian tersendiri karena akan dibuang ke badan
air, dimana badan air penerima biasanya merupakan sumber daya air untuk
kegiatan-kegiatan lainnya. Pada industri pulp dan kertas, limbah cair merupakan
limbah yang diproduksi secara kontinyu dan memiliki kualitas dibawah baku
mutu. Diperlukan adanya rekayasa proses pengolahan limbah cair di industri

1
tersebut agar pengolahan limbahnya menjadi lebih efisien, efektif, dan tepat guna,
serta kualitas limbah yang dibuang ke badan air dapat memenuhi baku mutu.

Tujuan
1. Menentukan unit proses/pengolahan yang digunakan dalam mengolah
limbah cair di industri pulp dan kertas
2. Menentukan urutan proses pengolahan limbah cair industri pulp dan kertas

2
BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1 Karakteristik Limbah


Karakterisitik limbah yang dihasilkan dari industry pulp dan kertas
tidak terlepas dari bahan baku yang digunakan selama produksi dan proses
produksi pulp dan kertas itu sendiri. Bahan baku yang digunakan untuk
pembuaran pulp dan kertas diantaranya adalah kayu pinus, bambu jerami,
bagase, kertas bekas, dan lain-lain. Menurut Rini (2002) kayu sebagai bahan
baku dalam industri pulp dan kertas mengandung beberapa komponen
yakni:
a) Selulosa; Selulosa merupakan komponen yang paling dibutuhkan dalam
pembuatan kertas karena sifatnya yang elastis dan kuat. Menurut Stanley
(2001) kayu mengandung 50% komponen selulosa
b) Hemiselulosa: Hemiselulosa mirip dengan selulosa namun lebih mudah
larut didalam air dan biasanya dihilangkan dalam proses pulping
c) Lignin: Lignin berfungsi untuk merekatkan serat selulosa sehingga
menjadi kaku. Proses pulping secara kimia dan proses bleaching akan
menghilangkan komponen lignin tanpa mengurangi serat selulosa.
Menurut Stanley (2001) komponen lignin di dalam kayu adalah 30%
d) Bahan ekstraktif: Komponen ini meliputi hormon tumbuhan, resin, asam
lemak dan unsur lain.

Selain bahan baku, proses produksi kertas juga patut diperhatikan.


Proses produksi kertas meliputi tahapan berikut:
a) Pembuburan kayu
Pembuburan kayu pada prinsipnya terbagi atas proses kimia dan
proses mekanik. Bahan kimia yang digunakan diantaranya adalah
sodium hidorksida/soda kaustik dan asam sulfat.
b) Pencucian (washing)

3
Proses pencucian dilakukan untuk menghilangkan materi yang
tidak diinginkan yang akan memengaruhi dosis zat pemutih. Hasil
samping dari proses ini berupa black liquor, debu, dan lignin.
c) Pemutihan (bleaching)
Proses ini bertujuan untuk menghilangkan lignin tanpa selulosa.
Proses ini biasanya membutuhkan zat kimia, utamanya ClO2.
d) Pembentukan kertas
Pada proses pembuatan kertas terdapat zat yang berpotensi
mencemari lingkungan. Menurut Rini (2002), limbah proses pembuatan
kertas yang berpotensi mencemari lingkungan tersebut dibagi menjadi 4
kelompok yaitu limbah cair, partikulat, gas, dan limbah padat. Namun
yang menjadi fokus kami disini adalah limbah cair. Limbah cair yang
dihasilkan industry pulp dan kertas terdiri dari:
padatan tersuspensi yang mengandung partikel kayu, serat dan
pigmen,
senyawa organik koloid terlarut seperti hemiselulosa, gula, alkohol,
lignin, terpentin, zat pengurai serat, perekat pati dan zat sintetis yang
menghasilkan BOD (Biological Oxygen Demand) tinggi,
limbah cair berwarna pekat yang berasal dari lignin dan pewarna
kertas,
bahan anorganik seperti NaOH, Na2SO4 dan klorin,
limbah panas,
mikroba seperti golongan bakteri koliform.

Dengan data yang tertera diatas dapat disimpulkan karakteristik limbah pulp dan
paper adalah sebagai berikut
Tabel 2. 1 Karakteristik Limbah Pulp dan Kertas

Parameter Karakteristik Polutan


BOD Tinggi
Rasio BOD/COD Tinggi
Warna Sangat berwarna (strong colour)

4
Alkalinitas Tinggi
Sodium Content Tinggi
Lignin Tinggi
(sumber : http://www.oilgae.com/algae/cult/sew/new/pp/pp.html)
2.2 Baku Mutu
Baku mutu yang digunakan sebagai acuan pengolahan limbah industry
pulp dan kertas terdapat pada Kep-51/MENLH/10/1995 dalam Lampiran A.V.
Pada lampiran tersebut dibedakan antara industry pulp dan kertas
(terintegrasi), industry kertas, dan industry pulp.

Tabel 2. 2 Baku Mutu berdasarkan Kep-51/MENLH/10/1995


PABRIK PULP PABRIK KERTAS PABRIK PULP DAN KERTAS
Beban Beban Beban
PARAMETER Kadar Max. Kadar Max. Kadar Max.
pencemaran pencemaran pencemaran
(mg/l) (mg/l) (mg/l)
max. (kg/ton) max. (kg/ton) max. (kg/ton)
BOD5 150 15 125 10 150 25.5
COD 350 35 250 20 350 59.5
TSS 200 20 125 10 150 25.5
pH 6.0 9.0 6.0 9.0 6.0 9.0
Debit limbah 80 m3 per ton produk kertas 170 m3 per ton produk kertas
100 m3 per ton pulp kering
maksimum kering kering

Namun saat ini sudah ada peratiran baru yang mengatur tentang baku mutu
air limbah yakni Permen LH No. 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah.

Tabel 2. 3 Baku Mutu berdasarkan Permen LH No. 5/2014

5
Baku mutu yang digunakan untuk kajian selanjutnya mengacu pada
Permen LH No. 5/2014

2.3 Pengelolaan Limbah Cair


Pengolahan limbah cair pada dasarnya dikelompokkan menjadi 3
tahap yaitu pengolahan primer, pengolahan sekunder, dan pengolahan tersier.
Pengolahan primer bertujuan membuang bahan bahan padatan yang
mengendap atau mengapung. Pada dasarnya pengolahan primer terdiri dari
tahap tahap untuk memisahkan air dari limbah padatan dengan membiarkan
padatan tersebut mengendap atau memisahkan bagian bagian padatan yang
mengapung. Pengolahan primer ini dapat menghilangkan sebagian BOD dan
padatan tersuspensi serta sebagian komponen organik. Proses pengolahan
primer limbah cair ini biasanya belum memadai dan masih diperlukan proses
pengolahan selanjutnya.
Pengolahan sekunder limbah cair merupakan proses dekomposisi
bahan bahan padatan secara biologis. Penerapan yang efektif akan dapat
menghilangkan sebagian besar padatan tersuspensi dan BOD. Ada 2 proses
pada pengolahan sekunder yaitu :

6
a. Penyaring trikle: Penyaring trikle menggunakan lapisan batu dan kerikil
dimana limbah cair dialirkan melalui lapisan ini secara lambat. Dengan
bantuan bakteri yang berkembang pada batu dan kerikil akan
mengkonsumsi sebagian besar bahan bahan organik.
b. Lumpur aktif: Kecepatan aktivitas bakteri dapat ditingkatkan dengan cara
memasukkan udara dan lumpur yang mengandung bakteri ke dalam tangki
sehingga lebih banyak mengalami kontak dengan limbah cair yang telah
diolah pada proses pengolahan primer. Selama proses ini limbah organik
dipecah menjadi senyawa senyawa yang lebih sederhana oleh bakteri
yang terdapat di dalam lumpur aktif.
Proses pengolahan primer dan sekunder limbah cair dapat menurunkan
BOD air dan meghilangkan bakteri yang berbahaya. Akan tetapi proses
tersebut tidak dapat menghilangkan komponen organik dan anorganik terlarut.
Oleh karena itu perlu dilengkapi dengan pengolahan tersier.
Pengolahan limbah cair pada industri pulp dan kertas terdiri atas tahap
netralisasi, pengolahan primer, pengolahan sekunder dan tahap
pengembangan. Sebelum masuk ke tempat pengendapan primer, air limbah
masuk dalam tempat penampungan dan netralisasi. Pada tahap ini digunakan
saringan untuk menghilangkan benda benda besar yang masuk ke air limbah.
Pada kenyataannya limbah yang dihasilkan dalam industry pulp dan
kertas bukan hanya berupa limbah cair. Manajemen limbah yang baik
diperlukan untuk mengelola limbah secara keseluruhan. Limbah selain limbah
cair, misalnya pencemar berbentuk gas, pencemar bebentuk partikel, dan
limbah padat. Pengelolaan limbah yang bisa diterapkan misalnya dengan
melakukan program penghijauan wilayah sekitar industry, selain itu juga
menerapkan konsep produksi bersih yakni reduce, reuse, dan recycle.

7
BAB III
UNIT IPAL
3.1 Pemilihan Unit/Proses
Berdasarkan karakteristik limbah pada tabel 2.1, maka dipilihlah unit
untuk mengolah parameter tersebut agar kembali sesuai dengan baku mutu
sebagai berikut,

Bar screen Grit chamber Settling tank Cooling Bak equalisasi


Koagulasi+Flokulasi Pengendapan primer Netralisasi Activated sludge
Kolam stabilisasi Clarifier Thikener Filter press

3.2 Filosofi
Nama unit Fungsi Unit Operasi Parameter yang
disisihkan
Bar screen Menghilangkan partikel Pengendapan Partikel berukuran
berukuran besar secara besar
gravitasi
Grit chamber Mengendapkan partikel diskrit Pengendapan Partikel berukuran
berukuran besar secara sedang
gravitasi
Settling tank Mengendapkan partikel diskrit Pengendapan Partikel berukuran
berukuran kecil secara kecil
gravitasi
Cooling Menurunkan suhu limbah agar Suhu
tidak merusak unit selanjutnya
Bak Menyeragamkan debit dan Mixing Penyeragaman debit
equalisasi konsentrasi limbah
Koagulasi Penambahan zat koagulan Pengadukan Koloid
dengan cara pengadukan cepat lambat
Flokulasi Pembentukan flok dengan Pengadukan Koloid, TDS
pengadukan lambat cepat
Clarifier Unit pengendapan primer hasil Pengendapan Flok hasil flokulasi
koagulasi flokulasi secara
gravitasi,
pemasangan
ambang
Netralisasi Menurunkan pH dari limbah Pengadukan pH yang terlalu
agar optimal dalam proses tinggi
selanjutnya
Activated Membiodegradasi zat organik Aerasi, BOD, COD
sludge dalam limbah Pengadukan
Kolam Menstabilkan sludge agar BOD,COD

8
stabilisasi berkerja lebih efektif pada
activated sludge
Clarifier Unit pengendapan sekunder Pengendapan
hasil pengolahan di activated secara
sludge gravitasi,
pemasangan
ambang
Thinckener Mengurangi kadar air dalam Kadar air
lumpur
Filter press Menghilangkan kadar air Penekanan Kadar air
dalam lumpur menjadi cake lumpur

3.3 Kriteria Desain


3.3.1 Bar screen

Bar screen adalah alat yang berfungsi untuk meyisihkan benda-benda


kasar seperti pulp kertas bentuk besar sehingga tidak mengganggu unit-unit
berikutnya.

Tabel 1.1 Kriteria Desain Bar Screen

3.3.2 Grit Chamber

Bak Pemisah pasir (Grit chamber) umumnya diletakkan atau dipasang


sebelum pompa air baku limbah (raw sewage pump). Grit atau pasir dalam air
limbah mempunyai berat jenis antara 1,5 2,7. Di dalam proses pengolahan
limbah kertas maka partikel-partikel bubur kertas atau partikel diskrit harus
dipisahkan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk

9
- Melindungi kerusakan bersifat mekanis seperti pompa, flow meter dan
lain-lain agar tidak terjadi abrasi atau kebuntuan
- Untuk mengurangi akumulasi dari material inert yang tidak data terurai
dalam bak aerasi atau reactor biologis serta bak pengolah lumpur yang
akan mengakibatkan kerugian volume.
Bak pemisah pasir (grit chamber) yang digunakan adalah dengan
control kecepatan. Untuk mengontrol kecepatan digunakan multiple
channel seperti Parshall fume.
Kriteria Desain
- Kecepatan horizontal = 0.3 m/detik
- Kecepatan pengendapan= 1,15 m/detik
- Waktu tinggal = 60 detik

3.3.3 Settling tank

3.3.4 Cooling

3.3.5 Bak ekualisasi

Parameter Besaran Satuan


Kedalaman air 1.5-2 m
minimum
Kemiringan dasar tanki 40-100 Mm/m diameter

3.3.6 Bak koagulasi dan flokulasi

3.3.7 Pengendapan primer (Clarifier)

3.3.8 Tanki Netralisasi

Tabel x. Kriteria Desain Tanki Netralisasi

Parameter Besaran Satuan


Waktu detensi 1 Menit
Ratio tinggi dengan 1.1
diameter tanki

10
Kecepatan putaran 100 Rpm
mixer
Viskositas 0.8363 x 10-3 Lb s/ft
Gradient kecepatan 300 /detik

3.3.9 Activated sludge konvensional

Gambar x. Konfigurasi Activated Sludge Konventional

Tabel x. Kriteria Desain Activated Sludge Konventional

Parameter Besarnya
Beban BOD
BOD-MLSS Loading 0.2-0.4 [kg/kg.hari]
BOD-Volume Loading 03-0.8 [kg/m3.hari]
MLSS 1500-2000 mg/L
Sludge Age 3-7 Hari
Kebutuhan udara
Waktu aerasi 6-8 jam
Ratio sirkulasi lumpur 20-40%
(Qlumpur/Qairlimbah)
Efisiensi Pengolahan 85-95%

3.3.10 Kolam stabilisasi

Tabel x. Kriteria Desain Kolam Stabilisasi

11
Parameter Besarnya
Beban BOD
BOD-MLSS Loading 0.2-0.6 [kg/kg.hari]
BOD-Volume Loading 0.8-1.4[kg/m3.hari]
MLSS 3000-6000 mg/L
Sludge Age 4 Hari
Kebutuhan udara >12
Waktu aerasi 5 jam
Ratio sirkulasi lumpur 40-100%
(Qlumpur/Qairlimbah)
Efisiensi Pengolahan 85-95%

3.3.11 Clarifier

3.3.12 Thickener

3.3.13 Filter Press

3.4 Future Trend / Advanced Treatment

12
BAB IV
STUDI KASUS

4.1 Latar Belakang Perusahaan


PT Riau Andalan Pulp & Paper adalah perusahaan yang memproduksi
pulp dan kertas yang belokasi dekat sungai Kampar, Pangkalan Kerinci, Kab.
Pelalawan, Riau. PT RAPP sendiri memiliki empat perusahaan pendukung
dan empat pabrik yang saling terintegrasi yaitu Riau Pulp, Riau Andalan
Ketas, Riau Prima Energi, Riau Fiber, dan Chemical Plant. Riau Pulp (RPL)
adalah pabrik pendukung yang memproduksi pulp yang produksinya sebagian
digunakan oleh Riau Andalan Kertas (RAK) untuk dijadikan kertas dan
langsung dijual dalam bentuk pulp. RAK adalah perusahaan dan pabrik
pendukung RAPP yang bertugas mengolah pulp basah menjadi kertas siap
jual.

Riau Prima Energi (RPE) adalah perusahaan dan pabrik penghasil air
dan listrik untuk memenuhi kebutuhan fasilitas perusahaan. Riau Fiber
merupakan perusahaan yang mengelolaa perkebunan kayu yang digunakan
sebagai bahan baku pabrik. Dan yang terakhir adalah Chemical Plant
merupakan pabrik pendukung yang berfungsi untuk menghasilkan bahan-
bahan kimia yang digunakan sebagai bahan dasar proses dalam pabrik. PT
RAPP sendiri adalah anak perusahaan APRIL Group yang memproduksi
kertas dengan merk dagang PaperOne.

4.2 Sistem Pengolahan Limbah yang Digunakan


Hampir seluruh limbah PT RAPP diolah dan dimanfaatkan kembali
(recovery) sebagai bahan bakar unit pembangkitan steam pada produksi pulp.
Limbah cair hasil proses produksi yang ada di PT RAPP dibedakan menjadi Weak
Black Liquor dan limbah cair lainnya.

1. Limbah Weak Black Liquor dan Black Liqour

13
Cairan ini adalah limbah sisa pemasakan dan pencucian kayu dan
pulp pada digesting area dan washing area yang memiliki kandungan lignin
yang tinggi. Pada proses produksi pulp cairan ini sendiri digunakan pada
proses pemasakan kayu sebagai cairan pemanas awal pada tahap Hot Liquor
Filling. Limbah ini bersifat basa dengan, memiliki kandungan alkali cukup tinggi,
kandungan fiber, dan solid yang juga tinggi.

Tabel 4. 1 Karakteristik Weak Black Liquor di PT RAPP

(sumber : Erissa, 2012)

Tabel 4. 2 Komposisi padatan pada Weak Black Liquor

(Sumber : Fuad, 1998)

Tabel 4. 3 Karakteristik Black Liquor PT RAPP

(Sumber : Technical Dept, 2014)

14
Limbah black liquor ini diolah melalui proses pemekatan agar kandungan
organiknya dapat dibakar di recovery boiler sebagai bahan bakar pembangkitan
steam. Pemekatan dilakukan di unit multi effect evaporator sampai solid content
weak black liquor mencapai 70-72% sehingga menjadi heavy black liquor yang
siap digunakan sebagai bahan bakar.

Sedangkan kandungan mineral anorganik sisa pembakaran yang berupa


lelehan dikirimkan menuju unit rekostisasi (unit perendaman bahan selulosa dan
campurannya dalam larutan basa). Pada unit ini, lelehan dicampur dalam
dissolving tank untuk kemudian dicampurkan dengan weak green liquor.
Campuran ini kemudian dijernikahkan dan direaksikan dengan kapur CaO untuk
membentuk white liquor (cairan yang digunakan pada pemasakan kayu untuk
mengekstrak lignin). White liquor kemudian dijernikan dengan memisahkan
lumpur CaCO3, lumpur ini dikalsinasi pada unit lime kiln untuk membentuk
kapur yang digunakan kembali pada proses rekostisasi.

Gambar 4. 1 Skema pengolahan Weak Black Liquor

2. Limbah Cair Lainnya


Limbah cair yang dihasilkan oleh pabrik kertas pada umumnya
adalah sebagai berikut,
Padatan tersuspensi yang mengandung partikel kayu, serat dan pigmen
yang tinggi

15
Padatan terlarut tinggi
pH tinggi 9.0
COD yang tinggi dan tahan terhadap oksidasi biologis
Senyawa organik koloid terlarut seperti hemiselulosa, gula, alkohol,
lignin, terpenting, zat pengurai serat, perekat pati dan zat sintetis yang
menghasilkan BOD (Biological Oxygen Demand) tinggi,
Limbah cair berwarna pekat yang berasal dari lignin dan pewarna
kertas,
Bahan anorganik seperti NaOH, Na2SO4 dan klorin,
Suhu tinggi
Mikroba seperti golongan bakteri koliform
Warnanya yang kehitaman atau abu-abu keruh, bau yang khas.

Seluruh limbah cair yang dihasilkan PT RAPP ditampung dalam


bucket screen untuk memisahkan limbah padat dan limbah cair. Dari
bucket screen limbah cair dengan suhu 52-55C dialirkan ke clarifier pre-
treatment dimana terjadi sedimentasi partikel diskrit. Setelah itu overflow
dialirkan menuju equalition basin kemudian ke neutralization basin
dimana dilakukan penambahan NaOH ataupun HCl. Dari equalization
basin limbah dialirkan ke cooling tower sampai suhunya turun menjadi
sekitar 32-37C. Setelah itu dilakukan penambahan defoamer untuk
menghilangkan busa pada limbah. Lalu limbah diberi nutrient seperti urea
dan DAP (Diammonium Phosphate). Lalu dilakukan pengolahan sekunder
menggunakan activated sludge aerob atau aeration basin yang berfungsi
melakukan penyisihan BOD, COD, dan TSS limbah. Dari aeration basin
limbah dialirkan ke distribution well yang kemudian mengalirkannya ke
secondary clarifier. Overflow dari secondary clarifier menjadi effluent
pengolahan limbah cair PT RAPP yang kemudian dibuang ke Sungai
Kampar.

Tabel 4. 4 Karakteristik air limbah hasil pengolahan di PT RAPP

16
(sumber : Erissa, 2012)

Sedangkan, sludge yang terbentuk baik di clarifier di pre-treatment


dan secondary clarifier diolah melalui unit thickening dan dewatering unit
sehingga hasil pengolahan sludge yang berupa sludge cake dapat
digunakan sebagai bahan bakar boiler pembangkitan steam.

Gambar 4. 2 Skema pengolahan limbah cair di PT RAPP

17
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

18
DAFTAR PUSTAKA

http://www.pelatihanlingkungan.com/wp-content/uploads/2015/01/Permen-LH-5-
2014-tentang-Baku-Mutu-Air-Limbah.pdf
http://eprints.undip.ac.id/18571/1/Rachman_Cahyono.pdf
http://www.oilgae.com/algae/cult/sew/new/pp/pp.html

19