Anda di halaman 1dari 18

Selasa, 22 Mei 2012

Berikut akan dibahas mengenai tata koordinat horizon dan ekuator. Tata koordinat horizon
dan ekuator sangat penting karena sangat sering digunakan untuk menyatakan letak benda
langit.

Tata Koordinat Horizon

Pada tata koordinat horizon, letak bintang ditentukan hanya berdasarkan pandangan
pengamat saja. Tata koordinat horizon tidak dapat menggambarkan lintasan peredaran semu
bintang, dan letak bintang selalu berubah sejalan dengan waktu. Namun, tata koordinat
horizon penting dalam hal pengukuran adsorbsi cahaya bintang.

Ordinat-ordinat dalam tata koordinat horizon adalah:

1.
Bujur suatu bintang dinyatakan dengan azimut (Az). Azimut umumnya diukur dari selatan ke
arah barat sampai pada proyeksi bintang itu di horizon, seperti pada gambar azimut bintang
adalah 220. Namun ada pula azimut yang diukur dari Utara ke arah timur, oleh karena itu
sebaiknya Anda menuliskan keterangan tentang ketentuan mana yang Anda gunakan.

2. Lintang suatu bintang dinyatakan dengan tinggi bintang (a), yang diukur dari proyeksi
bintang di horizon ke arah bintang itu menuju ke zenit. Tinggi bintang diukur 0 90 jika
arahnya ke atas (menuju zenit) dan 0 -90 jika arahnya ke bawah.

Letak bintang dinyatakan dalam (Az, a). Setelah menentukan letak bintang, lukislah
lingkaran almukantaratnya, yaitu lingkaran kecil yang dilalui bintang yang sejajar dengan
horizon (lingkaran PQRS).

Tata Koordinat Ekuator

Tata koordinat ekuator merupakan sistem koordinat yang paling penting dalam
astronomi. Letak bintang-bintang, nebula, galaksi dan lainnya umumnya dinyatakan dalam
tata koordinat ekuator. Pada tata koordinat ekuator, lintasan bintang di langit dapat
ditentukan dengan tepat karena faktor lintang geografis pengamat () diperhitungkan,
sehingga lintasan edar bintang-bintang di langit (ekuator Bumi) dapat dikoreksi terhadap
pengamat. Sebelum menentukan letak bintang pada tata koordinat ekuator, sebaiknya kita
mempelajari terlebih dahulu sikap bola langit, yaitu posisi bola langit menurut pengamat pada
lintang tertentu.
Sudut antara kutub Bumi (poros rotasi Bumi) dan horizon disebut tinggi kutub () .
Jika diperhatikan lebih lanjut, ternyata nilai = , dengan diukur dari Selatan ke KLS jika
pengamat berada di lintang selatan dan diukur dari Utara ke KLU jika pengamat berada di
lintang utara. Jadi untuk pengamat pada = 90 LU lingkaran ekliptika akan berimpit dengan
lingkaran horizon, dan kutub lintang utara berimpit dengan zenit, sedangkan pada = 90 LS
lingkaran ekliptika akan berimpit dengan lingkaran horizon, dan kutub lintang selatan
berimpit dengan zenit

Ordinat-ordinat dalam tata koordinat ekuator adalah:

1. Bujur suatu bintang dinyatakan dengan sudut jam atau Hour Angle (HA). Sudut jam
menunjukkan letak suatu bintang dari titik kulminasinya, yang diukur dengan satuan jam
(ingat,1h = 15). Sudut jam diukur dari titik kulminasi atas bintang (A) ke arah barat (positif,
yang berarti bintang telah lewat kulminasi sekian jam) ataupun ke arah timur (negatif, yang
berarti tinggal sekian jam lagi bintang akan berkulminasi). Dapat juga diukur dari 0 360
dari titik A ke arah barat.
2. Lintang suatu bintang dinyatakan dengan deklinasi (), yang diukur dari proyeksi bintang di
ekuator ke arah bintang itu menuju ke kutub Bumi. Tinggi bintang diukur 0 90 jika
arahnya menuju KLU dan 0 -90 jika arahnya menuju KLS.

Dapat kita lihat bahwa deklinasi suatu bintang nyaris tidak berubah dalam kurun
waktu yang panjang, walaupun variasi dalam skala kecil tetap terjadi akibat presesi orbit
Bumi. Namun sudut jam suatu bintang tentunya berubah tiap jam akibat rotasi Bumi dan tiap
hari akibat revolusi Bumi. Oleh karena itu, ditentukanlah suatu ordinat baku yang bersifat
tetap yang menunjukkan bujur suatu bintang pada tanggal 23 September pukul 00.00, yaitu
ketika titik Aries tepat berkulminasi atas pada pukul 00.00 waktu lokal (vernal equinox).
Ordinat inilah yang disebut asensiorekta (ascencio recta) atau kenaikan lurus, yang umumnya
dinyatakan dalam jam. Faktor gerak semu harian bintang dikoreksi terhadap waktu lokal (t)
dan faktor gerak semu tahunan bintang dikoreksi terhadap Local Siderial Time (LST) atau
waktu bintang, yaitu letak titik Aries pada hari itu. Pada tanggal 23 September LST-nya
adalah pukul 00h, dan kembali ke pukul 00h pada 23 September berikutnya sehingga pada
tanggal 21 Maret, 21 Juni, dan 22 Desember LST-nya berturut-turut adalah 12h, 18h, dan 06h.
Jadi LST dapat dicari dengan rumus :

Adapun hubungan LST, HA00 dan asensiorekta ()

LST = + HA00

Dengan t adalah waktu lokal. Misal jika HA00 = +3h, maka sudut jam bintang pada
pukul 03.00 adalah +6h (sedang terbenam). Ingat, saat kulminasi atas maka HA = 00h. Dengan
demikian didapatkan hubungan komplit bujur pada tata koordinat ekuator

LST + t = + HAt

Patut diingat bahwa HA00 ialah posisi bintang pada pukul 00.00 waktu lokal,
sehingga posisi bintang pada sembarang waktu ialah:

HAt = HA00 + t
Dengan ordinat tetap, HAt ordinat tampak, LST koreksi tahunan, dan t koreksi waktu
harian. Contoh pada gambar di bawah. Pada tanggal 21 Maret, LST-nya adalah 12h. Jadi letak
bintang R dengan koordinat (, ) sebesar (16h,-50)akan nampak di titik R pada pukul 00.00
waktu lokal. Perhatikan bahwa LST diukur dari titik A kearah barat sampai pada titik Aries
. Tampak bintang R berada pada bujur (HA00) -60 atau -4 jam. Jadi, bintang R akan
berkulminasi atas di titik Ka pada pukul 04.00 dan terbenam di horizon pada pukul 10.00.
Asensiorekta diukur dari titik Aries berlawanan pengukuran LST sampai pada proyeksi
bintang di ekuator. Jadi telah jelas bahwa.
HA = LST
Dengan -xh = 24h - xh

Lingkaran kecil KaKb merupakan lintasan gerak bintang, yang sifatnya nyaris tetap.
Untuk bintang R, yang diamati dari = 40 LS akan lebih sering berada pada di atas horizon
daripada di bawah horizon. Pembahasan lebih lanjut pada bagian bintang sirkumpolar.

Tinggi bintang atau altitude, yaitu sudut kedudukan suatu bintang dari horizon dapat
dicari dengan aturan cosinus segitiga bola. Tinggi bintang, a, yaitu

a = 90 -

Di mana jarak zenit () dirumuskan dengan :

cos = cos(90 ) cos(90 ) + sin(90 ) sin(90 ) cosHA


Diposkan oleh Geografi

http://geografi-geografi.blogspot.com/2012/05/tata-koordinat-horizon-dan-ekuator.html

http://geografi-geografi.blogspot.com/2012/05/tata-koordinat-horizon-dan-ekuator.html

Senin, 19 November 2012


TATA KOORDINAT EKUATOR

III. Tata Koordinat Ekuator

Tata koordinat ini merupakan salah satu tata koordinat yang sering digunakan dalam astronomi.
Sistem koordinat ini dapat menyatakan letak benda langit dalam skala waktu relatif panjang.
Sekalipun perubahan unsur-unsur koordinatnya relatif kecil terhadap waktu.

Dalam setiap pembahasan sistem koordinat benda langit, setiap benda langit selalu dipandang
terproyeksi pada suatu bidang bola khayal yang digambarkan sebagai bola langit. Bola yang memuat
bidang khayal tersebut disebut bola langit. Ukuran bola Bumi diabaikan terhadap bola langit
sehingga setiap pengamat di muka Bumi dianggap berada di pusat bola langit.

Seperti halnya pada pembahasan mengenai bola pada umumnya, setiap lingkaran pada bola langit
yang berpusat di pusat bola dan membagi bola menjadi dua bagian yang sama besar disebut
lingkaran besar, sedangkan lingkaran lainnya disebut lingkaran kecil.

Di bawah ini diberikan deskripsi istilah-istilah yang dipakai pada bola langit:

Titik kardinal: empat titik utama arah kompas pada lingkaran horison, yaitu Utara, Timur, Selatan
dan Barat.

Lingkaran kutub, lingkaran jam atau bujur langit: lingkaran besar melalui kutub-kutub langit.

Lingkaran ekliptika: lingkaran tempat kedudukan gerak semu tahunan Matahari. Perpotongan bidang
orbit Bumi (ekliptika) dengan bola langit.

Kutub-kutub langit: titik-titik pada bola langit tempat bola langit berotasi. Perpotongan bola langit
dengan sumbu Bumi. Kutub langit di belahan langit Selatan disebut Kutub Langit Selatan (KLS) dan di
belahan langit Utara disebut Kutub Langit Utara (KLU).

Pada sistem koordinat ekuator, koordinat yang digunakan adalah koordinat Aksensiorekta () dan
Deklinasi (d). Aksensiorekta adalah panjang busur yang dihitung dari titik Aries atau disebut juga
dengan titik gamma (g) pada lingkaran ekuator langit sampai ke titik kaki dengan arah penelusuran
ke arah timur, dengan rentang antara 0 s.d. 24 jam atau 00 s.d. 3600. Sedangkan deklinasi adalah
panjang busur dari titik kaki pada lingkaran ekuator langit ke arah kutub langit sampai ke letak benda
pada bola langit. Deklinasi bernilai positif jika ke arah KLU dan bernilai negatif jika ke arah KLS,
dengan rentang antara 00 s.d. 900 atau 00 s.d. -900.

Dalam penggunaan sistem koordinat ekuator, terdapat hubungan antara waktu matahari dengan
waktu bintang (waktu sideris). Dimana Waktu Menengah Matahari (WMM) = sudut jam Matahari +
12 jam. Hubungan ini tentunya berkaitan juga dengan tanggal-tanggal istimewa titik Aries terhadap
Matahari. Tanggal-tanggal istimewa tersebut adalah :

1. Sekitar tanggal 21 Maret (TMS), Matahari berimpit dengan Titik Aries. Jam 0 WMM = jam 12
waktu bintang.
2. Sekitar tanggal 22 Juni (TMP), saat Matahari di kulminasi bawah, titik Aries berhimpit dengan
titik Timur. Jam 0 WMM = jam 18 waktu bintang.
3. Sekitar tanggal 23 September (TMG), saat Matahari di kulminasi bawah, titik Aries berada di
titik kulminasi atas. Jam 0 WMM = jam 0 waktu bintang.
4. Sekitar tanggal 22 Desember (TMD), saat Matahari di kulminasi bawah, titik Aries berhimpit
dengan titik Barat. Jam 0 WMM = jam 06 waktu bintang.

Diposkan oleh hendrik di 05.29


http://hendrik-gaulzz.blogspot.com/2012/11/tata-koordinat-ekuator.html

TATA KOORDINAT BUMI


Bumi kita yang berbentuk bola atau disebut dengan bidang fundamental. tata koordinat bola
adalah bidang yang membagi bola menjadi dua hemisfer, tempat sumbu x dan sumbu y
koordinat berada. Lintang sebuah titik di permukaan bola kemudian dinyatakan sebagai sudut
antara bidang fundamental dan garis yang menghubungkan titik tersebut dengan pusat bola.

Pada tata koordinat geografi, bidang fundamental adalah ekuator Bumi. Berbagai tata
koordinat langit memiliki bidang fundamental yang berbeda-beda:

tata koordinat horizon menggunakan horizon pengamat;


tata koordinat ekuator menggunakan ekuator langit;
tata koordinat ekliptika menggunakan ekliptika;
tata koordinat galaksi menggunakan bidang galaksi Bimasakti;

Peta Bumi yang menunjukkan garis-garis lintang (horizontal) dan bujur (vertikal)

Sistem koordinat geografi digunakan untuk menunjukkan suatu titik di Bumi berdasarkan
garis lintang dan garis bujur.

GARIS LINTANG

Garis lintang yaitu garis vertikal yang mengukur sudut antara suatu titik dengan garis
katulistiwa. Titik di utara garis katulistiwa dinamakan Lintang Utara sedangkan titik di
selatan katulistiwa dinamakan Lintang Selatan.

Garis bujur yaitu horizontal yang mengukur sudut antara suatu titik dengan titik nol di Bumi
yaitu Greenwich di London Britania Raya yang merupakan titik bujur 0 atau 360 yang
diterima secara internasional. Titik di barat bujur 0 dinamakan Bujur Barat sedangkan titik
di timur 0 dinamakan Bujur Timur.

Suatu titik di Bumi dapat dideskripsikan dengan menggabungkan kedua pengukuran tersebut

Peta Bumi yang menunjukkan garis lintang yang pada proyeksi ini lurus horizontal, namun
sebenarnya melingkar dengan radius yang berbeda-beda.

Dalam geografi, garis lintang adalah garis khayal yang digunakan untuk menentukan lokasi
di Bumi terhadap garis khatulistiwa (utara atau selatan). Posisi lintang biasanya dinotasikan
dengan simbol huruf Yunani . Posisi lintang merupakan penghitungan sudut dari 0 di
khatulistiwa sampai ke +90 di kutub utara dan -90 di kutub selatan.

Ko-lintang adalah tambahan dari lintang.

Dalam bahasa Indonesia lintang di sebelah utara khatulistiwa diberi nama Lintang Utara
(LU), demikian pula lintang di sebelah selatan khatulistiwa diberi nama Lintang Selatan
(LS). Nama-nama ini tidak dijumpai dalam bahasa Inggris. Lintang Utara Lintang Selatan
menyatakan besarnya sudut antara posisi lintang dengan garis Khatulistiwa. Garis
Khatulistiwa sendiri adalah lintang 0 derajat.

Pembagian

Setiap derajat lintang dibagi menjadi 60 menit (satu menit lintang mendekati satu mil laut
atau 1852 meter, yang kemudian dibagi lagi menjadi 60 detik. Untuk keakurasian tinggi detik
digunakan dengan pecahan desimal.

Lintang yang penting

Lintang yang cukup penting adalah Tropik Cancer (2327 LU), Tropik Capricorn (2327
LS), Lingkaran Arktik (6633 LU), dan Lingkaran Antarktik (6633 LS).

Hanya antara kedua tropik matahari dapat berada di zenith. Hanya di utara Lingkaran Arktik
atau selatan Lingkaran Antarktik matahari tengah malam dapat terjadi.

Garis bujur

Peta Bumi, memperlihatkan garis-garis bujur, yang nampak melengkung dan vertikal pada
proyeksi ini, namun sebenarnya garis-garis bujur tersebut merupakan setengah dari sebuah
lingkaran besar bumi.

Bujur kadangkala dinotasikan oleh abjad Yunani , menggambarkan lokasi sebuah tempat di
timur atau barat Bumi dari sebuah garis utara-selatan yang disebut Meridian Utama.
Longitude diberikan berdasarkan pengukuran sudut yang berkisar dari 0 di Meridian Utama
ke +180 arah timur dan 180 arah barat. Tidak seperti lintang yang memiliki ekuator
sebagai posisi awal alami, tidak ada posisi awal alami untuk bujur. Oleh karena itu, sebuah
dasar meridian harus dipilih. Meskipun kartografer Britania Raya telah lama menggunakan
meridian Observatorium Greenwich di London, referensi lainnya digunakan di tempat yang
berbeda, termasuk Ferro, Roma, Kopenhagen, Yerusalem, Saint Petersburg, Pisa, Paris,
Philadelphia, dan Washington, D.C.. Pada 1884, Konferensi Meridian Internasional
mengadopsi meridian Greenwich sebagai Meridian utama universal atau titik nol bujur.

Dalam bahasa Indonesia bujur di sebelah barat Meridian diberi nama Bujur Barat (BB),
demikian pula bujur di sebelah timur Meridian diberi nama Bujur Timur (BT). Nama-nama
ini tidak dijumpai dalam bahasa Inggris. Bujur Barat dan Bujur TImur merupakan garis
khayal yang menghubungkan titik Kutub Utara dengan Kutub Selatan bumi dan menyatakan
besarnya sudut antara posisi bujur dengan garis Meridian. Garis Meridian sendiri adalah
bujur 0 derajat.
Khatulistiwa

Dalam geografi, ekuator atau garis khatulistiwa (dari bahasa Arab: )


adalah sebuah garis imajinasi yang digambar di tengah-tengah planet di antara dua kutub dan
paralel terhadap poros rotasi planet. Garis khatulistiwa ini membagi Bumi menjadi dua
bagian belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Garis lintang ekuator adalah 0.
Panjang garis khatulistiwa Bumi adalah sekitar 40.070 km.

Di khatulistiwa, matahari berada tepat di atas kepala pada tengah hari dalam equinox. Dan
panjang siang hari sama sepanjang tahun kira-kira 12 jam.

Antara equinox Maret dan September, latitud bagian utara Bumi menuju matahari yang
dikenal sebagai Tropik Cancer, bagian bumi paling utara di mana matahari dapat berada tepat
di atas kepala. Bagian selatan Bumi terjadi antara equinox bulan September dan Maret
dinamakan Tropik Capricorn.

http://nessyoctavia.wordpress.com/2009/03/10/tata-koordinat-bumi/

BOLA LANGIT
December 1, 2012 by Sheilla Rully

BOLA LANGIT

1. I. Pendahuluan

Kemegahan langit pada waktu malam membangkitkan keingintahuan orang sejak dahulu
kala. Setelah banyaknya pengamatan dan semakin sempurnanya instrumen perbintangan,
maka pola langit menjadi lebih jelas. Meskipun masih banyak sekali hal-hal yang belum kita
ketahui tentang jagat raya kita.

Dahulu kala, mungkin sebelum awal sejarah, orang-orang mulai membayangkan bahwa
mereka dapat memahami pola atau rancangan dalam pengelompokan bintang-bintang. Jauh di
luar dan di atas jagat raya matahari dan planet-planet kita yang sangat kecil ini terdapat
bimasakti, suatu lintasan yang indah dan megah melingkar langit. Bimasakti terbentuk seperti
sebuah roda dengan sebuah poros pusat. Bila kita menuju ke arah bimasakti, dari posisi kita
yang dekat dengan matahari, kita akan melihat ke dalam pusat galaksi bintang. Oleh karena
itu, bintang-bintang tampaknya begitu rapat dan merupakan sebuah pita yang bercahaya.
Bintang-bintang individual dalam langit malam kita juga termasuk pada sistem bimasakti.
Bintang-bintang itu tampaknya terpencar, sebab ketika kita melihatnya kita memandang ke
arah bagian luar galaksi.

Itulah beberapa benda yang kita lihat di langit. Untuk menentukan tempat benda-benda ini di
ruang angkasa, para ahli astronomi telah mengembangkan konsep bola langit. Untuk
mengetahui lebih mendalam tentang bola langit maka akan dibahas dalam makalah ini.

1. II. Rumusan Masalah


1. Apa pengertian bola langit?
2. Apa sajakah tata koordinat bola langit?
3. Bagaimana cara menentukan koordinat bola langit

1. III. Pembahasan
1. A. Pengertian Bola Langit

Bola langit adalah bola khayalan yang memperluas diri hingga batas paling luar angkasa
dengan bumi di pusatnya.[1] Pada bola khayalan ini, para ahli telah melukiskan garis-garis
acuan. Garis-garis acuan ini digunakan untuk menentukan tempat benda-benda langit,
merancang lintasan-lintasannya, dan melacak gerhana.

Definisi lain dari bola langit adalah bola khayal dengan radius tak hingga yang tampak
berotasi, konsentrik dan koaksial dengan bumi, dan semua obyek langit dibayangkan berada
pada kulit bola sebelah dalam.[2] Sebanding dengan yang dimiliki bola Bumi, ekuator langit
dan kutub-kutub langit merupakan proyeksi ekuator Bumi dan kutub-kutub Bumi pada bola
langit.

Bola langit digunakan untuk menentukan posisi benda-benda langit sehingga memudahkan
dalam pengamatan. Untuk menyatakan letak suatu benda langit diperlukan suatu tata
koordinat yang dapat menyatakan secara pasti kedudukan benda langit tersebut yang akan
dijelaskan pada pembahasan di bawah ini.

1. B. Tata Koordinat Bola Langit

Tata koordinat bola langit terdiri dari tata koordinat horison, tata koordinat ekuator, tata
koordinat ekliptika, dan tata koordinat galaktik. Namun yang sering digunakan dalam
astronomi hanya koordinat horison dan koordinat ekuator. Tiap-tiap tata koordinat memiliki
cara penggunaan sistem yang berbeda serta terdapatnya berbagai macam keuntungan dan
kelemahan dalam penggunaan sistem tersebut.

1) Tata Koordinat Horison

Tata koordinat ini adalah tata koordinat yang paling sederhana dan paling mudah dipahami.
Tetapi tata koordinat ini sangat terbatas, yaitu hanya dapat menyatakan posisi benda langit
pada satu saat tertentu, untuk saat yang berbeda tata koordinat ini tidak dapat memberikan
hubungan yang mudah dengan posisi benda langit sebelumnya. Namun, tata koordinat
horison penting dalam hal pengukuran adsorbsi cahaya bintang.

Dalam sistem ini, semua posisi dihubungkan dengan horison garis tempat bumi seolah-olah
bertemu dengan langit. Horison astronomis dikenal sebagai horison sejati, yaitu apa yang
akan kita lihat dari tengah samudra yaitu sebuah lingkaran memanjang terus-menerus
sekeliling kita dan selalu pada ketinggian yang sama.

Titik langsung di atas kita pada bola langit adalah zenit. Lingkaran besar yang lewat melalui
kedua kutub langit disebut meridian tempat itu.[3] Di setiap tempat di permukaan Bumi
mempunyai lingkaran meridian yang berbeda-beda tergantung bujur tempat itu (yang
berbujur sama mempunyai lingkaran meridian yang sama).[4] Bola langit pada sisi bumi
lainnya adalah nadir.

Bola langit dapat dibagi menjadi dua bagian sama besar oleh satu bidang yang melalui pusat
bola itu, menjadi bagian atas dan bagian bawah. Bidang itu adalah bidang horisontal yang
membentuk lingkaran horison pada permukaan bola, dan bagian atas adalah letak benda-
benda langit yang tampak, sedangkan bagian bawahnya adalah letak dari benda-benda langit
yang tidak terlihat saat itu.[5]

Posisi sebuah benda di langit digambarkan berdasarkan tinggi dan azimutnya. Tinggi diukur
dalam derajat, menit, dan detik dari horison ke atas ke arah zenit. Titik di bawah horison
dinyatakan dengan ketinggian negatif. Azimut sebuah benda di ruang angkasa diukur dalam
derajat, menit, dan detik arah ke barat sesuai arah jarum jam, sepanjang horison dari titik
selatan horison sampai ke kaki lingkaran vertikal benda itu. Lingkaran vertikal merupakan
lingkaran khayal yang melalui baik benda itu maupun zenit.[6]

Dalam menyatakan azimut terdapat dua versi. Versi pertama menggunakan titik selatan
sebagai acuan, sedangkan yang kedua menggunakan titik utara sebagai acuan. Versi kedua ini
dianut secara internasional. Kedua versi tersebut menggunakan arah yang sama, yaitu jika
dilihat dari zenit arahnya searah perputaran jarum jam yang nilainya 0-360.

Dalam tata koordinat horison, posisi sebuah benda langit akan berubah menurut tempat dari
mana kita mengamatinya. Oleh karena itu harus diberikan posisi dan waktu.

Keuntungan dalam penggunaan sistem koordinat horison yaitu pada penggunaanya yang
praktis. Sistem koordinat yang sederhana dan secara langsung dapat dibayangkan letak objek
pada bola langit. Namun terdapat juga kelemahan pada sistem koordinat ini, yaitu pada
tempat yang berbeda maka horisonnya pun berbeda serta terpengaruh oleh waktu dan gerak
harian benda langit.

2) Tata Koordinat Ekuator

Sistem koordinat ekuatorial merupakan sistem yang secara umum digunakan oleh para ahli
astronomi. Sistem koordinat ini ditentukan dalam hubungannya dengan poros bumi sehingga
dapat menyatakan letak benda langit dalam skala waktu relatif panjang sekalipun perubahan
unsur-unsur koordinatnya relatif kecil terhadap waktu.

Dalam pengamatan dengan alat bantu semacam teleskop, sistem koordinat yang biasa dipakai
adalah sistem koordinat ekuatorial. Dudukan teleskop kebanyakan didesain ekuatorial untuk
memudahkan dalam mengikuti track objek yang diamati.[7]

Dalam setiap pembahasan sistem koordinat benda langit, setiap benda langit selalu dipandang
terproyeksi pada suatu bidang bola khayal yang digambarkan sebagai bola langit. Bola yang
memuat bidang khayal tersebut disebut bola langit. Ukuran bola bumi diabaikan terhadap
bola langit sehingga setiap pengamat di muka bumi dianggap berada di pusat bola langit.[8]

Ada dua jenis sistem koordinat ekuatorial. Yang satu menggunakan deklinasi dan sudut jam,
sedang yang lainnya menggunakan deklinasi dan ascensiorecta. Sistem koordinat ini
bergantung pada posisi lintang dan bujur mana pengamat di bumi berada.
a) Deklinasi dan sudut jam

Yang dimaksud dengan deklinasi adalah jarak antara benda langit dengan garis ekuator
langit. Besarnya deklinasi sifatnya tetap, karena itu deklinasi ini dapat digunakan untuk
memperkirakan posisi bintang yang terlihat oleh pengamat yang berada pada lintang berbeda-
beda. Bintang dengan deklinasi 0, terlihat oleh pengamat di ekuator berada di zenit saat
melintasi meridian. Oleh pengamat di lintang 30, bintang yang sama berada di belahan langit
selatan dengan altitude 60 saat melintasi meridian.

Pada gambar di atas, sudut jam adalah sudut XAZ. Acuan pengukuran sudut jam adalah dari
meridian pengamat ke meridian objek. Benda langit yang berada di meridian pengamat
disebut memiliki sudut jam 0h. Ketika baru terbit, sudut jam benda langit tersebut adalah -6h,
dan saat tenggelam +6h.[9]

b) Deklinasi dan ascensiorecta

Ascensiorecta adalah panjang busur yang dihitung dari titik gamma pada lingkaran ekuator
langit sampai ke titik kaki dengan arah penelusuran ke arah timur, dengan rentang antara 0
sampai dengan 24 jam atau 0 sampai dengan 360. Deklinasi bernilai positif jika ke arah
KLU dan bernilai negatif jika ke arah KLS, dengan rentang antara 0 sampai dengan 90 atau
0 sampai dengan -90.[10]

3) Tata Koordinat Ekliptika

Ekliptika adalah jalur yang dilalui oleh suatu benda dalam mengelilingi suatu titik pusat
sistem koordinat tertentu. Ekliptika pada benda langit merupakan suatu bidang edar berupa
garis khayal yang menjadi jalur lintasan benda-benda langit dalam mengelilingi suatu titik
pusat sistem tata surya.

Seandainya bumi dijadikan sebagai titik pusat sistem koordinat, maka ekliptika merupakan
bidang edar yang dilalui oleh benda-benda langit seperti planet dan matahari untuk
mengelilingi bumi. Dan bila matahari dijadikan sebagai titik pusat sistem koordinat, maka
ekliptika merupakan bidang yang terbentuk sebagai lintasan orbit bumi yang berbentuk elips
dengan matahari berada pada titik pusat elips tersebut.

Sama halnya dengan sistem ekuator, sistem koordinat ekliptika juga merupakan sistem yang
tetap tidak dipengaruhi oleh gerak semu harian bumi. Sistem ini biasanya digunakan untuk
menentukan kedudukan benda benda langit anggota tata surya seperti satelit, planet dan
matahari karena anggota tata surya kedudukannya tetap berada di selatan ekliptika.

Dalam sistem ini penentuan posisi benda langit yang diperlukan adalah bujur ekliptika atau
ecliptic longitude dan lintang ekliptika atau ecliptic latitude.[11]
1. C. Cara Menentukan Koordinat Bola Langit
1. 1. Koordinat Horizon

Koordinat dalam system koordinat horizon ini dinyatakan dalam azimuth (Az) dan tinggi (h).
Azimuth adalah panjang busur yang dihitung dari titik acuan utara ke arah timur (searah
jarum jam) sepanjang lingkaran horizon sampai ke titik kaki suatu posisi bintang (K). Untuk
rentang azimuth adalah 0 sampai 360. Sedangkan tinggi adalah panjang busur yang
dihitung titik posisi suatu bintang (K) di horizon sepanjang busur ketinggian, Jika ke arah
zenith maka h bernilai positif (+) dan apabila ke arah nadir maka h bernilai negatif (-). Untuk
rentang tinggi adalah 0 sampai 90 atau 0 sampai -90 .

Jika suatu bintang berada pada posisi x seperti gambar diatas, perpanjangan dari titik X
apabila ditarik garis dari zenith ke arah lingkaran horizon ditandai dengan R, maka dapat
dinyatakan koordinatnya sebagai berikut:

1. Azimuth = 135 yaitu diukur dari arah utara (U) pada lingkaran horizon ke arah titik R (searah
dengan jarum jam).
2. Tinggi = 60 yaitu diukur dari lingkaran horizon ke arah titik X sepanjang busur ketinggian,
karena arahnya ke nadir maka h bernilai positif.

1. 2. Koordinat Ekuator

Ketika bumi bergerak mengitari matahari di bidang Ekliptika, bumi juga sekaligus berotasi
terhadap sumbunya. Penting untuk diketahui, sumbu rotasi bumi tidak sejajar dengan sumbu
bidang ekliptika. Atau dengan kata lain, bidang ekuator tidak sejajar dengan bidang ekliptika,
tetapi membentuk sudut kemiringan (epsilon) sebesar kira-kira 23,5 derajat. Sudut
kemiringan ini sebenarnya tidak bernilai konstan sepanjang waktu. Nilainya semakin lama
semakin mengecil.

Gambar Sistem Koordinat Ekuator Geosentrik

Dari sistem koordinat ekuator ini, pusat koordinat adalah bumi. Bidang datar referensi:
Bidang ekuator, yaitu bidang datar yang mengiris bumi menjadi dua bagian melewati garis
khatulistiwa

Koordinat:

1. Alpha () = Right Ascension = Sudut antara VE dengan proyeksi benda langit pada bidang
ekuator, dengan arah berlawanan jarum jam. Biasanya Alpha bukan dinyatakan dalam
satuan derajat, tetapi jam (hour disingkat h). Satu putaran penuh = 360 derajat = 24 jam = 24
h. Karena itu jika Alpha dinyatakan dalam derajat, maka bagilah dengan 12 untuk
memperoleh satuan derajat. Titik VE menunjukkan 0 h.
2. Delta () = Declination (Deklinasi) = Sudut antara garis hubung benda langit-bumi dengan
bidang ekliptika.Nilainya mulai dari -90 derajat (selatan) hingga 90 derajat (utara). Pada
bidang ekuator, deklinasi = 0 derajat.
3. Sudut jam dinyatakan dalam bentuk H (hour angle). Hubungan antara Alpha dengan H
adalah
H = LST Alpha

Dengan -xh = 24h xh.

(dengan LST adalah Local Siderial Time yaitu letak titik Aries pada hari itu. Pada tanggal 23
September LST-nya adalah pukul 00h, dan kembali ke pukul 00h pada 23 September
berikutnya. Jadi LST dapat dicari dengan rumus :

LST = (tanggal 23 September)/ 365 24 jam

1. 3. Koordinat Ekliptika

Pada sistem koordinat ini, bumi menjadi pusat koordinat. Matahari dan planet-planet lainnya
nampak bergerak mengitari bumi. Bidang datar xy adalah bidang ekliptika.

Gambar Sistem Koordinat Ekliptika

Dalam menentukan koordinat ekliptika ini bumi (earth) bertindak sebagai pusat Koordinat.
Bidang datar referensi: Bidang Ekliptika (Bidang orbit bumi mengitari matahari, yang sama
dengan bidang orbit matahari mengitari bumi) yaitu bidang xy. Titik referensi: Vernal
Ekuinoks (VE) yang didefinisikan sebagai sumbu x.

Untuk menentukan letak Koordinat suatu benda langit:

1. Lambda () = Bujur Ekliptika (Ecliptical Longitude) benda langit menurut bumi, dihitung dari
VE.
2. Beta () = Lintang Ekliptika (Ecliptical Latitude) benda langit menurut bumi yaitu sudut
antara garis penghubung benda langit-bumi dengan bidang ekliptika

1. IV. KESIMPULAN

Bola langit adalah bola khayal dengan radius tak hingga yang tampak berotasi, konsentrik
dan koaksial dengan bumi, dan semua obyek langit dibayangkan berada pada kulit bola
sebelah dalam. Bola langit digunakan untuk menentukan posisi benda-benda langit sehingga
memudahkan dalam pengamatan. Untuk menyatakan letak suatu benda langit diperlukan
suatu tata koordinat yang dapat menyatakan secara pasti kedudukan benda langit.

Tata koordinat bola langit terdiri dari tata koordinat horison, tata koordinat ekuator, tata
koordinat ekliptika, dan tata koordinat galaktik. Namun yang sering digunakan dalam
astronomi hanya koordinat horison dan koordinat ekuator. Tiap-tiap tata koordinat memiliki
cara penggunaan sistem yang berbeda serta terdapatnya berbagai macam keuntungan dan
kelemahan dalam penggunaan sistem tersebut.

Pada intinya tata koordinat langit hanya menaruh perhatian pada arah letak sebuah benda
langit saja, dan tidak memperhitungkan jarak benda langit tersebut.

1. V. PENUTUP

Demikianlah makalah yang bisa kami paparkan, apabila ada kesalahan baik dalam segi
penulisan maupun isi makalah, kami mengharapkan saran dan kritikan yang bisa membangun
guna kesempurnaan makalah yang berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis
maupun pembaca. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Lockwood, Marian, 2005, Ilmu pengetahuan populer, Jakarta: CV. Prima Printing

Bola Langit, http:// id.wikipedia.org/wiki/bola_langit.

http://lautansemesta.blogdetik.com/2010/02/20/sistem-koordinat-benda-langit/

http://sidikpurnomo.net/bola-langit. html/

http://yasita91.blogspot.com/

[1] Marian Lockwood, Ilmu pengetahuan populer, (Jakarta: CV. Prima Printing, 2005), hlm.
19

[2] Bola Langit, http:// id.wikipedia.org/wiki/bola_langit.

[3] Marian Lockwood, Ilmu pengetahuan populer, (Jakarta: CV. Prima Printing, 2005), hlm.
20

[4] http://lautansemesta.blogdetik.com/2010/02/20/sistem-koordinat-benda-langit/

[5] http://lautansemesta.blogdetik.com/2010/02/20/sistem-koordinat-benda-langit/
[6] Marian Lockwood, Ilmu pengetahuan populer, (Jakarta: CV. Prima Printing, 2005), hlm.
21

[7] http://sidikpurnomo.net/bola-langit. html/

[8] http://lautansemesta.blogdetik.com/2010/02/20/sistem-koordinat-benda-langit/

[9] http://sidikpurnomo.net/bola-langit. html/

[10] http://lautansemesta.blogdetik.com/2010/02/20/sistem-koordinat-benda-langit/

[11] http://yasita91.blogspot.com/

http://sheillarully.wordpress.com/2012/12/01/bola-langit/

Kamis, 13 Desember 2012


0

Home Kumpulan Tugas Kuliahku Pengertian dan Sistem Koordinat Eliptika

Pengertian dan Sistem Koordinat Eliptika


Tugas MK Astronomi

(Dosen: Suprapta. M.Si)

Oleh:

Nama : M. Al Furqan

Nim : 20404109036

Kelas : Fisika 2

Pengertian Ekliptika
Ekliptika adalah jalur yang dilalui oleh suatu benda dalam mengelilingi suatu titik pusat sistem
koordinat tertentu. Ekliptika pada benda langit merupakan suatu bidang edar berupa garis khayal
yang menjadi jalur lintasan benda-benda langit dalam mengelilingi suatu titik pusat sistem tata
surya.

Seandainya bumi dijadikan sebagai titik pusat sistem koordinat, maka ekliptika merupakan bidang
edar yang dilalui oleh benda-benda langit seperti planet dan matahari untuk mengelilingi bumi. Dan
bila matahari dijadikan sebagai titik pusat sistem koordinat, maka ekliptika merupakan bidang yang
terbentuk sebagai lintasan orbit bumi yang berbentuk elips dengan matahari berada pada titik pusat
elips tersebut.

Gambar 1. Tata Koordinat Eliptika

Disebut koordinat ekliptika karena lintasan edar tahunan bumi mengelilingi matahari selama satu
tahun. Seandainyabumi dijadikan sebagai titik pusat sistem koordinat, maka ekliptika merupakan
bidang edar yang dilalui oleh benda-benda langit seperti planet danmatahari untuk mengelilingi
bumi. Dan bila matahari dijadikan sebagai titik pusat sistem koordinat, maka ekliptika merupakan
bidang yang terbentuk sebagai lintasan orbitbumi yang berbentuk elips dengan matahari berada
pada titik pusat elips tersebut.
Sistem Koordinat Ekliptika Heliosentrik dan Sistem Koordinat Ekliptika Geosentrik

Sistem Koordinat Ekliptika Heliosentrik dan Sistem Koordinat Ekliptika Geosentrik sebenarnya
identik. Yang membedakan keduanya hanyalah manakah yang menjadi pusat koordinat. Pada Sistem
Koordinat Ekliptika Heliosentrik, yang menjadi pusat koordinat adalah matahari (helio = matahari).
Sedangkan pada Sistem Koordinat Ekliptika Geosentrik, yang menjadi pusat koordinat adalah bumi
(geo = bumi). Karena itu keduanya dapat digabungkan menjadi Sistem Koordinat Ekliptika. Pada
Sistem Koordinat Ekliptika, yang menjadi bidang datar sebagai referensi adalah bidang orbit bumi
mengitari matahari (heliosentrik) yang juga sama dengan bidang orbit matahari mengitari bumi
(geosentrik).

1. Sistem Koordinat Ekliptika Heliosentrik (Heliocentric Ecliptical Coordinate)


Pada koordinat ini, matahari (sun) menjadi pusat koordinat. Benda langit lainnya seperti bumi
(earth) dan planet bergerak mengitari matahari. Bidang datar yang identik dengan bidang xy adalah
bidang ekliptika yatu bidang bumi mengitari matahari.

Gambar 2. Sistem Koordinat Ekliptika Heliosentrik

1. Pusat koordinat: Matahari (Sun).

2. Bidang datar referensi: Bidang orbit bumi mengitari matahari (bidang ekliptika) yaitu bidang xy.

3. Titik referensi: Vernal Ekuinoks (VE), didefinisikan sebagai sumbu x.

4. Koordinat:
a. r = jarak (radius) benda langit ke matahari
b. l = sudut bujur ekliptika (ecliptical longitude), dihitung dari VE berlawanan arah
jarum jam
c. b = sudut lintang ekliptika (ecliptical latitude), yaitu sudut antara garis penghubung
benda langit-matahari dengan bidang ekliptika.

2. Sistem Koordinat Ekliptika Geosentrik (Geocentric Ecliptical Coordinate)


Pada sistem koordinat ini, bumi menjadi pusat koordinat. Matahari dan planet-planet lainnya
nampak bergerak mengitari bumi. Bidang datar xy adalah bidang ekliptika, sama seperti pada
ekliptika heliosentrik.

Gambar 3. Sistem Koordinat Ekliptika Geosentrik

1. Pusat Koordinat: Bumi (Earth)

2. Bidang datar referensi: Bidang Ekliptika (Bidang orbit bumi mengitari matahari, yang sama dengan
bidang orbit matahari mengitari bumi) yaitu bidang xy.

3. Titik referensi: Vernal Ekuinoks (VE) yang didefinisikan sebagai sumbu x.

4. Koordinat:

a. Jarak benda langit ke bumi (seringkali diabaikan atau tidak perlu dihitung)

b. Lambda = Bujur Ekliptika (Ecliptical Longitude) benda langit menurut bumi, dihitung dari VE.

c. Beta = Lintang Ekliptika (Ecliptical Latitude) benda langit menurut bumi yaitu sudut antara garis
penghubung benda langit-bumi dengan bidang ekliptika
Contoh soal aplikasi posisi benda langit:

Dimanakah posisi rasi Sagittarius( AR 19jam, Dekl. -250) pada bola langit jam 12 WIB tanggal 14
Maret 2007 ?

Jawab:

1. Selisih tgl 14 Maret dengan 21 Maret = 7 hari


2. Beda Aries dengan Matahari = 7 x 4 menit = 28 menit
3. Jam 0 WIB tgl 14 Maret = Jam 12 - 28 menit = Jam 11. 32 Waktu Sideris.
4. Jam 12 WIB tgl. 14 Maret = 11.32 + 12 WIB = Jam 23.32 Waktu Sideris.
5. Sudut Jam rasi Sagittarius saat itu = Waktu Sideris - AR Sagittarius = 23.32 - 19 = 4 jam 32
menit.

Posisi Sagittarius saat itu : (4 32/60x 150)= 680 di sebelah barat meridian dan 250 di selatan equator
langit.

http://furqanwera.blogspot.com/2012/12/pengertian-dan-sistem-koordinat-eliptika.html