Anda di halaman 1dari 28

BAB 3

PEMBAHASAN

3.1 Kesadahan Air

Salah satu parameter kimia dalam persyaratan kualitas air adalah jumlah

kandungan unsur kalsium (Ca2+) dan dan magnesium (Mg2+) dalam air, yang

keberadaannya biasa disebut dengan kesadahan air. Kedua unsur ini khususnya

pada air minum diperlukan, namun hanya sampai dengan batas tertentu, karena

kelebihan unsur ini dapat berakibat pada kesehatan.

Kesadahan dalam air sangat tidak dikehendaki baik untuk penggunaan

rumah tangga maupun untuk penggunaan industri. Bagi air rumah tangga tingkat

kesadahan yang tinggi mengakibatkan pemakaian sabun lebih banyak karena

sabun menjadi kurang efektif akibat salah satu bagian dari molekul sabun diikat

oleh unsur Ca/Mg.

Bagi air industri unsur Ca dapat menyebabkan kerak pada ketel peralatan

sistem pemanasan sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan

industri, disamping itu dapat menghambat proses pemanasan. Masalah ini dapat

mengakibatkan penurunan kinerja industri yang pada akhirnya dapat

menimbulkan kerugian. Oleh karena itu persyaratan kesadahan pada air industri

sangat diperhatikan. Pada umumnya jumlah kesadahan dalam air industri harus

nol, berarti unsur Ca dan Mg dihilangkan sama sekali (Marsidi, 2001).

Kesadahan dalam air disebabkan oleh keberadaan dari kalsium karbonat,

magnesium bikarbonat, kalsium sulfat, magnesium sulfat, kalsium klorida dan

magnesium klorida yang terlarut (Salvato, 1992 dalam Hermana, 2001).

17
18

Dalam rangka mempelajari metode alternatif untuk menurunkan

kesadahan air, digunakan zeolit alam sebagai penukar ion (ion exchange). Yang

dimaksud pertukaran ion adalah proses pertukaran ion-ion dari suatu larutan

elektrolit dengan ion dari zeolit. Pertukaran hanya dapat terjadi diantara ion-ion

yang sejenis dan berlangsung dalam waktu yang sangat singkat.

Tabel 8. Klasifikasi perairan berdasarkan nilai kesadahan


(Winarno, 1986 dalam Srihapsari, 2006)

3.1.1. Pengertian dan Batas Kesadahan Air

Air yang banyak mengandung mineral kalsium dan magnesium dikenal

sebagai air sadah. Menurut PERMENKES RI No.416/MENKES/PER/IX/1990

kesadahan air minum tidak boleh melebihi 500 mg/l. Air yang mempunyai tingkat

kesadahan terlalu tinggi sangat merugikan di antaranya dapat menimbulkan

karatan/korosi pada alat-alat yang terbuat dari besi, sabun menjadi kurang

membusa sehingga meningkatkan konsumsi sabun dan menimbulkan endapan

atau kerak-kerak di dalam wadah-wadah pengolahan (Srikandi Fardiaz, 1992

dalam Koesmantoro, 2010).

Kesadahan menggambarkan keadaan kation logam divalen (valensi dua).

Kation-kation ini dapat bereaksi dengan sabun membentuk endapan. Kation-

kation ini juga dapat bereaksi dengan anion-anion yang terdapat di dalam air

membentuk endapan pada peralatan logam (Effendi, 2000 dalam Hermana, 2001).
19

Pada perairan tawar, kation yang paling berlimpah adalah kalsium dan

magnesium, sehingga kesadahan pada dasarnya ditentukan oleh jumlah kalsium

dan magnesium yang dinyatakan dengan satuan mg/l CaCO3 (Effendi, 2000 dalam

Hermana, 2001). Kesadahan air yang dianggap baik bila nilai kesadahannya

antara 50 80 mg/L.

Keberadaan kation lainnya seperti strontium, besi valensi dua, dan mangan

juga memberikan kontribusi bagi nilai kesadahan total, akan tetapi peranannya

relatif kecil (EPA, 1986 dalam Hermana, 2001). Masyarakat umumnya

menurunkan kesadahan dengan pemanasan, yang menurut teori hanya bersifat

sementara (Koesmantoro, 2010).

Tabel 9. Syarat Air minum berdasarkan Standart Internasional (Srihapsari, 2006)


20

3.1.2. Jenis-Jenis Kesadahan Air

Kesadahan dibagi menjadi 2 kelompok (Srihapsari, 2006);

1. Kesadahan karbonat atau kesadahan temporer atau kesadahan sementara

Yaitu kesadahan yang disebabkan oleh kalsium, magnesium, karbonat dan

bikarbonat. Jenis kesadahan ini dapat dihilangkan dengan cara pemanasan.

2. Kesadahan non-karbonat atau kesadahan permanen atau kesadahan tetap.

Yaitu kesadahan yang disebabkan oleh garam kalsium sulfat, kalsium

klorida, magnesium sulfat, dan magnesium klorida. Jenis kesadahan ini tidak

dapat dihilangkan dengan pemanasan, tetapi dapat dengan cara lain dan salah

satunya adalah proses penukar ion.

3.1.3. Penyebab Terjadinya Kesadahan Air

Pada umumnya kesadahan disebabkan oleh adanya logam-logam atau

kation-kation yang bervalensi 2, seperti Fe, Sr, Mn, Ca dan Mg, tetapi penyebab

utama dari kesadahan adalah kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Kalsium dalam

air mempunyai kemungkinan bersenyawa dengan bikarbonat, sulfat, khlorida dan

nitrat, sementara itu magnesium dalam air kemungkinan bersenyawa dengan

bikarbonat, sulfat dan khlorida (Marsidi, 2001).

Tingkat kesadahan di berbagai tempat perairan berbeda-beda, pada

umumnya air tanah mempunyai tingkat kesadahan yang tinggi, hal ini terjadi

karena air tanah mengalami kontak dengan batuan kapur yang ada pada lapisan

tanah yang dilalui air. Air permukaan tingkat kesadahan-nya rendah (air lunak),

kesadahan non karbonat dalam air permukaan bersumber dari calsium sulfat yang

terdapat dalam tanah liat dan endapan lainnya.


21

Perairan dengan nilai kesadahan yang tinggi pada umumnya adalah

perairan yang berada pada daerah yang mempunyai lapisan batugamping atau

pada wilayah batuan berkapur. Sedangkan perairan lunak berada pada lapisan

relatif tidak ada atau sedikit batuan kapurnya. Air permukaan biasanya

mempunyai nilai kesadahan yang lebih rendah dari airtanah (Effendi, 2000 dalam

Hermana, 2001).

Sawyer dan McCarty dalam Hermana, 2001 menjelaskan mengenai proses

pelarutan senyawa karbonat dan kation-kation penyusun kesadahan perairan

seperti yang ditunjukan pada gambar berikut.

Gambar 3. Skema proses pelarutan kation penyusun kesadahan perairan


(Sawyer dan McCarty dalam Hermana, 2001)
22

Kesadahan perairan berasal dari kontak air dengan tanah dan bebatuan

yang menyebabkan ion-ion yang terkandung didalamnya larut dalam aliran air.

Larutnya ion-ion tersebut kedalam air lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas

bakteri didalam tanah yang banyak mengeluarkan karbondioksida. Selanjutnya

keberadaan karbondioksida tersebut membentuk keseimbangan dengan asam

karbonat. Pada kondisi yang relatif asam senyawa-senyawa karbonat yang

terdapat didalam tanah dan batuan berubah menjadi senyawa bikarbonat yang

larut dalam air. Pelarutan ion-ion tersebut menyebabkan terjadinya kesadahan

dalam suatu perairan(EPA, 1986 dalam Hermana, 2001).

3.1.4. Implikasi Dari Kesadahan Air

Ditinjau dari segi teknis dan ekonomis kesdahan akan menimbulkan

beberapa kerugian, (Siahaan, 2000 dalam Hermana, 2001) yaitu antara lain;

1. Memboroskan sabun

Ion Ca2+ dan Mg2+ akan bereaksi dengan sabun membentuk endapan.

Endapan yang terbentuk menyebabkan tidak timbul busa, sehingga memerlukan

penambahan sabun lagi untuk mengatasinya.

2. Menimbulkan kerak-kerak pada ketel

Air sadah yang dipanaskan dalam suatu medium (misal ketel) akan

membentuk endapan yaitu berupa kerak. Apabila pada ketel ada kerak, maka tidak

ada transfer panas, sehingga untuk mendidikan air diperlukan pemanasan yang

lebih tinggi. Hal ini berbahaya karena dapat menyebabkan meledaknya ketel.

3. Menimbulkan perubahan warna pada rendaman cucian pakaian

4. Menimbulkan endapan-endapan pada pipa, sehingga dapat mempersempit pipa.


23

Akan tetapi Laws (1993) menyebutkan bahwa kesadahan yang mempunyai

hubungan dengan pH dan Alkalinitas dapat menurunkan toksisitas logam berat

dalam suatu perairan. Begitu pula Doudoroff (1953) dalam salah satu literaturnya

tentang toksisitas menyebutkan bahwa kehadiran kalsium yang berlimpah dalam

suatu perairan dapat meruduksi toksisitas logam berat (Hermana, 2001).

Nilai kesadahan air diperlukan dalam penilaian kelayakan suatu perairan

untuk kepentingan domestik dan industri. Tebbut dalam Hermana, 2001

mengemukakan bahwan nilai kesadahan tidak memiliki implikasi langsung

terhadap kesehatan manusia. Kesadahan yang tinggi dapat menghambat sifat

toksit dari logam berat dengan cara kation-kation penyusun kesadahan (Kalsium

dan Magnesium) membentuk senyawa kompleks dengan logam berat tersebut.

Sebagai contoh, toksisitas 1mg/timbal (Pb) pada perairan dengan

kesadahan rendah (soft water) dapat mematikan ikan. Akan tetapi toksisitas 1mg/1

timbal pada perairan dengan kesadahan lebih dari 150 mg/l CaCO3 dapat

menurunkan sifat toksik dari Pb tersebut bagi ikan. Nilai kesadahan juga dipakai

sebagai dasar pemilihan metode yang diterapkan pada proses pelunakan air

(Softening).

3.1.5. Pelunakan Air Sadah

Pelunakan kesadahan air adalah suatu proses untuk menghilangkan atau

mengurangi kandungan kation Ca2+ dan Mg2+ dari dalam air atau merupakan

proses pemindahan atau pengurangan ion-ion yang menyebabkan kesadahan pada

air. Air sadah dapat diatasi dengan cara pelunakan Air sadah. Proses ini dapat

disempurnakan dengan penurunan kandungan total mineral dalam air ataupun


24

melalui penukaran ion-ion penyebab kesadahan dengan sodium (Moss dan Moss,

1990 dalam Hermana, 2001).

Alaerts dan Santika, 1987 dalam Hermana, 2001 memberikan

perbandingan mengenai beberapa metode pelunakan air, yaitu sebagai berikut;

1. Proses pengendapan senyawa Ca2+ dan Mg2+

Kebutuhan ; Ca(OH)2 Na2CO3

Sifat ; Cepat (1-2 jam), dapat bersamaan dengan flokulasi, cara

sederhana, efesiensi cukup tinggi, harga murah.

2. Proses pertukaran ion Ca2+ dan Mg2+ dengan ion Na+ atau H+

Kebutuhan ; Instalasi lengkap dengan penukar ion dan larutan

regeneran

Sifat ; Sangat cepat (10-20 menit), tidak dapat bersamaan dengan

Proses lain dan air baku tidak boleh keruh, instalasi dan

operasi rumit, efesiensi sangat tinggi, untuk industri dan

Penyediaan air ketel.

3. Proses kontak air dengan butir pasir atau kapur

Kebutuhan ; Instalasi kolom kontak pasir atau kapur

Sifat ; Lambat (lebih dari 2 jam), tidak dapat bersamaan dengan

proses lain, cara sederhana, efesiensi rendah.

Dalam Koesmantoro (2010) juga menyebutkan bahwa terdapat beberapa

macam proses pelunakan air sadah, salah satunya melalui perukaran ion (ion

exchange) (proses pertukaran Ca2+ dan Mg2+ dalam air sadah dengan Na+, K+,

atau H+ dari zeolit alam ).


25

3.2 Interaksi antara Zeolit dengan Air Sadah

Zeolit dalam berinteraksi dengan Ca dan Mg yang merupakan logam-

logam penyebab kesadahan air, sesuai dengan sifatnya sebagai penjerap dan

penukar ion. Sifat-sifat penjerap disebabkan karena adanya pori-pori atau ruang

hampa yang terbentuk bila kristal dipanaskan. Selektivitas penyerapan zeolit

terhadap ukuran molekul tertentu dapat disesuaikan dengan jalan pertukaran

kation.

Air sadah yang dialirkan melalui kolom zeolit akan mengalami pertukaran

ion-ion, ion Ca dan ion Mg dalam air sadah ditukar dengan ion Na dalam zeolit.

Hal tersebut berlangsung terus sampai suatu saat ion Na dalam zeolit sudah habis

ditukar dengan ion Ca dan Mg dari dalam air, pada keadaan ini zeolit tersebut

dinamakan telah jenuh yang berarti zeolit tidak mampu lagi melakukan pertukaran

ion.

Agar dapat kembali aktif, zeolit yang telah jenuh harus di regenerasi

dengan cara mengalirkan larutan garam dapur (NaCl 10-25 %) ke dalam unggun

zeolit yang telah jenuh tersebut. Pada proses regenerasi ini akan terjadi pertukaran

ion Na dari dalam larutan air garam, masuk ke dalam zeolit untuk menggantikan

ion Ca dan Mg dari dalam zeolit (Koesmantoro, 2010).

Adapun reaksi yang terjadi pada saat proses pelunakan air sadah

berlangsung adalah sebagai berikut :

Na2Z + Ca2+ CaZ + 2 Na+

Na2Z + Mg2+ MgZ + 2 Na+


26

Sedangkan reaksi yang terjadi pada saat proses regenerasi berlangsung

adalah sebagai berikut :

CaZ + 2 NaCl Na2Z + CaCl

MgZ + 2 NaCl Na2Z + MgCl

Kekuatan zeolit sebagai penjerap, katalis, dan penukar ion sangat

tergantung dari perbandingan Al dan Si, sehingga dikelompokkan menjadi 3

(Mursi Sutarti, 1994 dalam Srihapsari, 2006) :

1. Zeolit dengan kadar Si rendah

Zeolit jenis ini banyak mengandung Al (kaya Al), berpori, mempunyai

nilai ekonomi tinggi karena efektif untuk pemisahan atau pemurnian dengan

kapasitas besar. Volume porinya dapat mencapai 0,5 cm3/cm3 volume zeolit.

Kadar maksimum Al dicapai jika perbandingan Si/Al mendekati 1 dan keadaan ini

mengakibatkan daya penukaran ion maksimum.

2. Zeolit dengan kadar Si sedang

Kerangka tetrahedral Al dari zeolit tidak stabil terhadap pengaruh asam

dan panas. Jenis zeolit mordenit mempunyai perbandingan Si/Al = 5 sangat stabil.

3. Zeolit dengan kadar Si tinggi

Zeolit ini mempunyai perbandingan Si/Al = 10 - 100 sehingga sifat

permukaannya tidak dapat diperkirakan lebih awal. Sangat higroskopis dan

menyerap molekul non-polar sehingga baik digunakan sebagai katalisator asam

untuk hidrokarbon.
27

3.2.1 Zeolit Pada proses Penjerapan (Adsorben)

Zeolit mempunyai kapasitas yang tinggi sebagai penjerap (adsorben).

Mekanisme adsorpsi yang mungkin terjadi adalah adsorpsi fisika (melibatkan

gaya Van der Walls), adsorpsi kimia (melibatkan gaya elektrostatik), ikatan

hidrogen dan pembentukan kompleks koordinasi. Molekul atau zat yang dijerap

akan menempati posisi pori, Daya jerap (absorbansi) zeolit tergantung dari jumlah

pori dan luas permukaan. Molekul - molekul dengan ukuran lebih kecil dari pori

yang mampu terjerap oleh zeolit.

Gambar 4. Zeolit sebagai adsorben


(http://ardra.biz/sain-teknologi/mineral/mineral-zeolit/karakteristik-sifat-sifat zeolit/)

Alkohol seperti fenol adalah zat pengotor yang bersifat racun bagi

manusia. Air yang mengandung fenol dapat dibebaskan dari fenol dengan

melewatkan air dalam Zeolit teraktivasi. Fenol yang terkandung dalam air akan

teradsorpsi dan menempati posisi pori-pori. Sehingga konsentrasi fenol dalam air

menjadi kurang.

Beberapa faktor yang mempengaruhi sifat penjerapan pada padatan zeolit

antara lain : rasio Si/Al dalam struktur zeolit, ukuran pori dan volume pori, ukuran

dan bentuk dari kerangka serta lorong dari zeolit (Bekkum, 1991 dalam

Srihapsari, 2006).
28

3.2.2 Zeolit Pada proses Pertukaran ion (Ion Exchange)

Pertukaran ion (ion exchange) adalah proses penggantian satu ion oleh ion

lain yang berada pada permukaan suatu resin buatan. Pada saat operasi di

kontakan dengan resin penukar ion, maka ion ion yang terlarut dalam air akan

terserap kedalam resin penukar ion dan resin akan melepaskan ion lain dalam

kesetaraan akivalen (Kemmer, 1979 dalam Hermana, 2001).

Gambar 5. Pertukaran Ion Pada Zeolit


(http://ardra.biz/sain-teknologi/mineral/mineral-zeolit/karakteristik-sifat-sifat zeolit/)

Kation-kation pada pori berperan sebagai penetral muatan zeolit. Kation -

kation ini dapat bergerak bebas sehingga dapat dengan mudah terjadi pertukaran

ion. Mekanisme pertukaran kation tergantung pada ukuran, muatan dan jenis

zeolitnya.

Larutan atau air yang mengandung ion-ion Ca2+ dilewatkan dalam Zeolite

-Na teraktivasi. Ion Ca2+ dalam larutan atau air akan mengganti ion-ion Na+ yang

ada dalam pori-pori Zeolit - Na. Ion-ion Na+ akan lepas ke dalam larutan atau air.

Pada akhirnya konsentrasi Ion Ca2+ dalam larutan atau air akan berkurang.

Reaksi pertukaran ion-ionnya dapat dijelaskan sebagi berikut:

Z-Na + CaCl2 > Z-Ca + 2 NaCl


29

Pada proses pertukaran ion (ion exchange) yang perlu diperhatikan adalah

siklus waktu pengoperasian yang harus tepat, yaitu waktu pergantian antara proses

pelunakan, pencucian dan cuci balik/regenerasi. Apabila siklus waktu ini

dilakukan secara tepat dan teratur, maka air olahan yang dihasilkan akan sesuai

dengan yang direncanakan.

Wiradinata dan Astiana (1989) menyebutkan bahwa semakin halus ukuran

butir zeolit dari 5 10 mesh sampai dengan 60 mesh dapat meningkatkan nilai

adsorbsi dan kapasitas tukar kationnya (Hermana, 2001).

Sebagai media penukar ion, resin yang digunakan harus memenuhi syarat-

syarat tertentu ( Fitria, 2000 dalam Hermana, 2001), yaitu di antaranya adalah;

1. Memiliki kapasitas pertukaran ion yang tinggi.

2. Memiliki kelarutan yang rendah dalam berbagai larutan, sehingga dapat

digunakan secara berulang kali. Resin akan beroperasi dalam cairan yang

mempunyai sifat melarutkan, oleh karena itu resin harus terhadap air.

3. Memiliki kestabilan kimia yang tinggi. Resin diharapkan dapat bekerja pada

kisaran pH yang besar dan tahan terhadap sifat asam dan basa serta proses

oksidasi dan radiasi.

4. Memiliki kestabilan fisik yang tinggi. Resin ini diharapkan tahan terhadap

tekanan mekanis, hidrostatis cairan dan osmosis.

Desain peralatan pelunakan air dengan menggunakan kolom zeolit

mempunyai konstruksi yang hampir sama dengan penyaringan pasir cepat,

bagian-bagian utama dari satu unit pelunakan air yaitu; inlet dan outlet air lunak,
30

inlet dan outlet larutan regeneran, pengontrol kecepatan aliran dan sistem

pembuangan (drinase) (Powell, 1954 dalam Hermana, 2001).

3.3 Teori Penjerapan

Penjerapan adalah gejala yang terjadi pada permukaan karena adanya

perbedaan potensial kimia suatu zat dipermukaan terhadap konsentrasi dibagian

dalam pada fasa yang berbatasan. Hal tersebut bisa terjadi bila permukaan padatan

menarik spesies ionik atau molekuler dari cairan. Padatan berpori yang mudah

menjerap dan mempunyai luas permukaan yang besar serta merupakan butir

kristal yang sangat halus disebut sebagai penjerap. Bahan padatan yang digunakan

sebagai penjerap diantaranya adalah zeolit (Srihapsari, 2006).

Zeolit mempunyai struktur pori dengan ukuran tertentu dan luas

permukaan yang besar sehingga dapat berfungsi sebagai penjerap dengan

selektivitas dan kemampuan penjerapan yang cukup tinggi. Struktur zeolit yang

memiliki pori dengan ukuran tertentu menyebabkan molekul-molekul dengan

ukuran kecil mampu terjerap dalam struktur zeolit. Struktur zeolit yang

mempunyai pori dan saluran-saluran biasanya diisi oleh molekul air yang dapat

dipertukarkan dengan kation-kation yang sesuai, seperti Ca2+, Na+, K+ dan Mg2+.

Molekul air dapat dikeluarkan dari pori zeolit dengan pemanasan (Srihapsari,

2006).

Menurut Cheremisinoff dan Ellerbush, 1970 dalam Srihapsari, 2006 ada 2

metode penjerapan, yaitu secara fisika dan kimia. Penjerapan secara fisika

umumnya terjadi pada temperatur rendah, dengan bertambahnya temperatur

jumlah penjerapan berkurang dengan menyolok. Penjerapan secara kimia adalah


31

molekul-molekul yang terjerap pada permukaan bereaksi secara kimia kemudian

terjadi pemutusan dan pembentukan ikatan, penjerapan ini bersifat irreversible,

pada pembentukkannya diperlukan energi pengaktifan, sehingga untuk

melepaskan diperlukan energi yang besarnya relatif sama dengan energi pada saat

pembentukan.

3.4 Kelebihan dan Kekurangan Pelunakan Air dengan Zeolit Alam

Kelebihan pelunakan air dengan resin zeolit jika dibandingkan metode lain

adalah (Husain, 1974 dalam Hermana, 2001);

- Tidak terbentuk endapan selama proses berlangsung

- Ongkos operasi dan modal lebih kecil

- Operasi mudah

- Regenerasi dan pengontrolan kualitasnya dapat dibuat otomatis

- Tidak menyebabkan efek membahayakan serta

- Dapat mencapai hasil dengan nilai kesadahan nol.

Sedangkan keterbatasan yang dimiliki oleh metode tersebut adalah

(overman, 1969 dalam Hermana, 2001);

- Sulit digunakan untuk air yang keruh

- Tidak digunakan untuk air dengan kadar Fe dan Mn yang tinggi

( Lebih dari 2mg/l)

- Kurang efektif untuk air yang bersifat asam

- Dapat menjadi busuk jika disimpan dalam keadaan lembab (Zeolit

alam).
32

Sesuai dengan karakteristik tersebut diatas, maka proses pelunakkan tidak

bisa langsung diterapkan pada air keruh atau air yang mengandung kadar besi

tinggi. Oleh karena itu kualitas air baku perlu diperhatikan. Untuk air baku yang

tidak memenuhi syarat harus dilakukan pre-treatment dahulu yaitu suatu proses

pengolahan yang dilakukan sebelum proses penukar ion.

Sebagai contoh untuk air baku yang keruh terlebih dahulu dilakukan

penyaringan dengan saringan pasir, sementara untuk air baku yang banyak

mengandung besi dilakukan penyaringan dengan saringan mangan zeolit.

Efisiensi zeolit akan berkurang apabila air mengandung unsur-unsur sebagai

berikut : minyak, H2S, mengandung sodium yang tinggi dan Tidak dapat

dioperasikan pada air yang mempunyai kesadahan lebih dari 800 mg/l (Marsidi,

2001).

3.5 Studi Kasus Terkait Zeolit Untuk Mengurangi Kesadahan Air

3.5.1. Peneliatian Tentang Zeolit Untuk Mengurangi Kesadahan Air

Dalam penelitiannya terkait dengan peran zeolit terhadap kesadahan

Marsidi (2001) Menyebutkan bahwa terdapat beberapa tahapan penting dalam

mengatasi masalah kesadahan air. Tahapan-tahapan tersebuat sebagai berikut;

A. Tahap Persiapan

Zeolit alam yang digunakan sebagai bahan penukar ion adalah jenis

Klinoptilotit, yang diperoleh dari daerah Bogor, Jawa Barat. Adapun karakteristik

zeolit ini adalah sebagai berikut :

- Rumus molekul : Na6/(AlO2)6(SiO2)30/24H2O


33

- Sifat Asam/Basa : Asam kuat

- Kapasitas pertukaran ion (meq/g) : 2,26 3,10

- Kepadatan (g/cm3) : 2,16

- Perbandingan Si dan Al : 4,25 5,25

- Diameter partikel (nm) : 0,44 x 0,72

- Jumlah total volume pori-pori (%) : 34 %

- Regenerasi : Cara kimia (dengan larutan NaCl 10-25 %)

Pemanasan (600C)

- Cara biologi (aerasi)

Air baku yang akan diolah adalah air tanah yang kemudian diberikan

perlakuan sehingga mengandung tingkat kesadahan melebihi persyaratan kualitas

air bersih yang tercantum pada Permenkes RI Nomor 416/Menkes/Per/IX/ 1990.

Adapun unsur yang ditambahkan kedalam air baku adalah senyawa penyebab

kesadahan yaitu CaCl2 dan MgSO4.

Variabel yang diperkirakan akan mempengaruhi efisiensi penurunan

kesadahan oleh bahan zeolit. Variabel - variabel tersebut adalah ketebalan zeolit

dan waktu operasi/lamanya pemakaian zeolit. Kecepatan aliran selama proses

percobaan dibuat tetap yaitu 2,55 cm/detik.

Selanjutnya kedalam kolom diisi bahan zeolit dengan ketebalan 80 cm.

Sepanjang kolom di beberapa titik yaitu pada ketebalan zeolit 20 cm, 40 cm, 60

cm dan 80 cm, dipasang kran yang berfungsi sebagai fasilitas untuk mengeluarkan

sampel air yang telah mengalami proses pelunakan untuk kemudian diperiksa.

kecepatan aliran yang tetap yaitu 2,55 cm/detik.


34

Pemeriksaan air pada beberapa ketebalan untuk mengetahui pengaruh

ketebalan media zeolit terhadap prosentasi pengurangan kesadahan. Untuk

mengetahui pengaruh waktu operasi zeolit atau pengaruh lamanya pemakaian

media zeolit terhadap prosentasi pengurangan kesadahan, pemeriksaan air

dilakukan setelah pemakaian media selama 24 jam, 48 jam, 72 jam dan 96 jam.

B. Tahap Proses Percobaan

Air baku yang mempunyai kadar kesadahan tertentu, ditempatkan dalam

reservoir volume 100 liter. Reservoir ditempatkan pada tower dengan ketinggian 2

meter, dengan demikian proses pengaliran air baku ke dalam alat pengolah,

berjalan dengan tenaga gravitasi.

Proses pelunakan dilakukan dengan melewatkan air baku kedalam alat

yang telah diisi dengan bahan zeolit sebagai bahan pelunak. Proses dimulai

dengan memasukkan air baku dari titik inlet yang terletak di bagian atas alat dan

keluar melalui titik outlet di bagian bawah alat.

Untuk mengetahui pengaruh ketebalan zeolit terhadap efisiensi pelunakan,

sampel air dikeluarkan dari alat pelunak melalui kran yang terletak pada ketebalan

zeolit 20 cm, dan seterusnya pada ketebalan 40 cm, 60 cm dan 80 cm.

Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh waktu operasi atau lamanya

pemakaian zeolit terhadap efisiensi pelunakan, sampel air diambil setelah

pengoperasian selama 24 jam dan seterusnya setelah 48 jam, 72 jam dan 96 jam.

Parameter tetap selama percobaan adalah :

- Kecepatan aliran air dalam percobaan dibuat tetap yaitu 2,55 cm/detik.

- Kadar kesadahan total air baku dibuat tetap yaitu 680 mg/l.
35

Gambar 6. Perlakuan air sadah dengan zeolit

C. Tahap Pembahasan Hasil Percobaan

Hasil percobaan menunjukkan bahwa semakin tinggi unggun zeolit yang

dilalui air baku, maka semakin besar prosentase penurunan kesadahan, dengan

kecepatan aliran air baku sebesar 2,55 cm/detik, prosentase penurunan kesadahan

tertinggi dicapai pada ketebalan 80 cm dan lama pemakaian zeolit (waktu operasi)

maksimal 24 jam, yaitu 99,56%. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa dengan

ketebalan 80 cm dan pengoperasian zeolit dibawah 24 jam, penurunan kesadahan

hampir mencapai 100 %. Prosentase penurunan kesadahan terkecil terjadi pada

ketebalan zeolit 20 cm, dan lama pemakaian zeolit (waktu operasi) 96 jam yaitu

2,94 %.

Hasil dari penelitian yang dilakukan kemudian disajikan dalam bentuk

suatu tabel. Dan berikut adalah tabel hasil dari penelitian berupa prosentase

penurunan kesadahan dengan zeolit.


36

Tabel 10. Prosentase penurunan kesadahan CaCO3 (total) airtanah


setelah melalui zeolit dengan ketebalan 20 cm
No Waktu operasi/lama Kesadahan Prosentase
Pemakaian zeolit (jam) Total (mg/l) Penurunan (%)
1 0 680
2 24 21 96, 91
3 48 94 86, 18
4 72 565 16, 91
5 96 660 2, 94
Rata-rata 335 50, 74

Tabel 11. Prosentase penurunan kesadahan CaCO3 (total) airtanah


setelah melalui zeolit dengan ketebalan 40 cm
No Waktu operasi/lama Kesadahan Prosentase
Pemakaian zeolit (jam) Total (mg/l) Penurunan (%)
1 0 680
2 24 8 99, 26
3 48 68 91, 47
4 72 550 30, 88
5 96 610 13, 24
Rata-rata 309 58, 71

Tabel 12. Prosentase penurunan kesadahan CaCO3 (total) airtanah


setelah melalui zeolit dengan ketebalan 60 cm
No Waktu operasi/lama Kesadahan Prosentase
Pemakaian zeolit (jam) Total (mg/l) Penurunan (%)
1 0 680
2 24 5 99, 26
3 48 58 91, 47
4 72 470 30, 88
5 96 590 13, 24
Rata-rata 280, 75 58, 71
37

Tabel 13. Prosentase penurunan kesadahan CaCO3 (total) airtanah


setelah melalui zeolit dengan ketebalan 80 cm
No Waktu operasi/lama Kesadahan Prosentase
Pemakaian zeolit (jam) Total (mg/l) Penurunan (%)
1 0 680
2 24 3 99, 56
3 48 34 95, 00
4 72 300 55, 88
5 96 490 27, 94
Rata-rata 206, 75 69, 60

Tabel 14. Prosentase penurunan kesadahan CaCO3 (total) airtanah


setelah melalui alat pelunak air, dengan waktu operasi/lama
pemakaian zeolit 24 jam
No Ketebalan Kesadahan Prosentase
Zeolit (cm) Total (mg/l) Penurunan (%)
1 Air baku 680 -
2 20 21 96, 91
3 40 8 98, 82
4 60 5 99, 26
5 80 3 99, 56
Rata-rata 9, 25 98, 64

Tabel 15. Prosentase penurunan kesadahan CaCO3 (total) airtanah


setelah melalui alat pelunak air, dengan waktu operasi/lama
pemakaian zeolit 48 jam
No Ketebalan Kesadahan Prosentase
Zeolit (cm) Total (mg/l) Penurunan (%)
1 Air baku 680 -
2 20 94 86, 18
3 40 68 90, 00
4 60 58 91, 47
5 80 34 95, 00
Rata-rata 63, 5 90, 66
38

Tabel 16. Prosentase penurunan kesadahan CaCO3 (total) airtanah


setelah melalui alat pelunak air, dengan waktu operasi/lama
pemakaian zeolit 72 jam
No Ketebalan Kesadahan Prosentase
Zeolit (cm) Total (mg/l) Penurunan (%)
1 Air baku 680 -
2 20 565 16, 91
3 40 550 19, 12
4 60 470 30, 88
5 80 300 55, 88
Rata-rata 471, 25 30, 70

Tabel 17. Prosentase penurunan kesadahan CaCO3 (total) airtanah


setelah melalui alat pelunak air, dengan waktu operasi/lama
pemakaian zeolit 96 jam
No Ketebalan Kesadahan Prosentase
Zeolit (cm) Total (mg/l) Penurunan (%)
1 Air baku 680 -
2 20 660 2, 94
3 40 610 10, 29
4 60 590 13, 24
5 80 490 27, 94
Rata-rata 587, 5 13, 60

Tabel 18. Prosentase penurunan kesadahan CaCO3 setelah melalui alat pelunak
air menurut waktu operasi/lamanya pemakaian zeolit dan ketebalan zeolit
Waktu KETEBALAN ZEOLIT Rata-rata
operasi 20 cm 40 cm 60 cm 80 cm prosentase
(jam) Prosentase Prosentase Prosentase Prosentase (%)
(%) (%) (%) (%)
24 96, 91 98, 82 99, 26 99, 56 98, 64
48 86, 18 90, 00 91, 47 95, 00 90, 66
72 16, 91 19, 12 30, 88 55, 88 30, 70
96 2, 94 10, 29 13, 24 27, 94 13, 60
Rata-rata 50, 74 54, 56 58, 71 69, 60
39

3.5.2. Penelitian Tentang Penurunan Kesadahan Menggunakan Zeolit (Tinjauan


Lama Waktu Kontak Dengan Ca++)

Koesmantoro (2010) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa zeolit


merupakan salah satu mineral alam yang cocok untuk digunakan dalam mengatasi
masalah kesadahan air. Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan sebagai berikut;

A. Bahan dan Metode

Penelitian pra-eksperimental ini memberi perlakuan terhadap sampel air

bersih yang bersifat sadah untuk mengetahui penurunan kesadahan tetap dan

waktu kontak yang efektif dengan menggunakan batu zeolit sebagai penukar

kation.

Pretest Perlakuan Posttest


O1 X O2

Keterangan :

O1 = Air bersih yang bersifat sadah sebelum perlakuan

X = Perlakuan dengan menggunakan batu zeolit

O2 = Air bersih yang besifat sadah sesudah perlakuan

Variabel bebas penelitian adalah waktu kontak air sadah dengan zeolit

yaitu, Lamanya air sadah kontak dengan zeolit berdasarkan tabel mengukuran

dengan jam. sedangkan variabel terikat adalah penurunan kesadahan tetap yaitu

angka yang menunjukkan perubahan angka kesadahan pada air tanah dari

Kelurahan Kuncen yang telah mengalami perlakuan dengan batu zeolit pada

waktu kontak 4 jam, 8 jam, dan 12 jam dibandingkan angka kesadahan sebelum

perlakuan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.


40

Variabel pengganggu adalah pH dan kekeruhan. Sampel penelitian adalah

air tanah dengan tingkat kesadahan melebihi standar yaitu 500 mg/l, sampel

diukur sebelum dan sesudah melalui batu zeolit. Sampel diambil dari tiga

perlakuan (4, 8 dan 12 jam) dengan sembilan kali pemeriksaan.

Untuk mengetahui waktukontak air sadah dengan zeolit yang efektif untuk

menurunkan kesadahan digunakan rumus (Tjokro Kusumo, 1995 dalam

koesmantoro, 2010):

Efektifitas Penurunan = Sebelum Sesudah x 100 %


Sebelum

Untuk mengetahui perbedaan tingkat penurunan angka kesadahan pada air

tanah dengan lama waktu kontak air sadah dengan zeolit yaitu 4 jam, 8 jam, dan

12 jam di analisis dengan Uji Analisis Varian Satu Jalan (Anava Satu Jalan) dan

untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan dengan menggunakan Uji

LSD.

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Hasil pengukuran angka kesadahan air bersih di lokasi sumur gali sebelum

dilakukan perlakuan sebesar 569,4 mg/l. Kesadahan air bersih setelah melalui

lapisan zeolit ditampilkan pada Tabel.


41

Tabel 19. Replikasi Pengukuran Kesadahan Melalui Zeolit


dengan Waktu Kontak 4 Jam
No Waktu kontak Replikasi Hasil (mg/l)
1 4 jam I 299, 1
II 301, 0
III 302, 2
IV 299, 1
V 304, 1
VI 298, 0
VII 299, 1
VIII 302, 2
IX 302, 2
Rata-rata replikasi = 300, 78

Tabel 20. Replikasi Pengukuran Kesadahan Melalui Zeolit


dengan Waktu Kontak 8 Jam
No Waktu kontak Replikasi Hasil (mg/l)
1 8 jam I 318, 4
II 317, 3
III 320, 2
IV 318, 4
V 319, 1
VI 320, 2
VII 319, 1
VIII 320, 2
IX 321, 4
Rata-rata replikasi = 319, 37

Tabel 21. Replikasi Pengukuran Kesadahan Melalui Zeolit


dengan Waktu Kontak 12 Jam
No Waktu kontak Replikasi Hasil (mg/l)
1 12 jam I 334, 7
II 335, 5
III 336, 3
IV 337, 2
V 335, 1
VI 338, 1
VII 337, 2
VIII 338, 1
IX 334, 7
Rata-rata replikasi = 336, 37
42

Tabel 22. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Penurunan Kesadahan Melalui Zeolit Sebelum
dan Sesudah Perlakuan dengan Waktu Kontak 4 Jam, 8 Jam, dan 12 Jam
No Waktu Kadar kesadahan Angka penurunan/efektivitas
kontak penurunan
Sebelum Sesudah (mg/l) %
(mg/l) (mg/l)
1 4 jam 569, 4 300, 78 268, 62 47, 18
2 8 jam 569, 4 319, 37 250, 03 43, 91
3 12 jam 569, 4 336, 37 233, 03 40, 93

Hasil Uji Anova Satu Jalan untuk menganalisis perbedaan angka

kesadahan sebelum dan sesudah menggunakan zeolit menunjukkan nilai F> dari

nilai kritis fa;k-1;k(n-1) yaitu 8792,014 > 3,01, maka hipotesis nol ditolak, artinya

ada perbedaan angka kesadahan air antara sebelum dan sesudah menggunakan

zeolit.

Hasil Uji LSD (Least Significant Difference), untuk menganalisis

perbedaan angka kesadahan air tanah antara sebelum dan sesudah menggunakan

zeolit pada waktu kontak 4 jam, 8 jam, dan 12 jam didapatkan hasil yaitu:

Tabel 23. Hasil uji LSD pada waktu kontak 4 jam, 8 jam dan 12 jam
Perlakuan Mean Sebelum Waktu Waktu Waktu
perlakuan kontak kontak kontak
4 jam 8 jam 12 jam
569, 4000 300, 7778 319, 3667 366, 3667
Sebelum 569, 4000
perlakuan 0 268, 62228*) 250, 0333*) 366, 3667
Waktu kontak 300, 7778
4 jam 0 -18, 5889*) -65, 5889*)
Waktu kontak 319, 3667
8 jam 0 -47*)
Waktu kontak 336, 3667
12 jam 0
LSD = 3, 79
*) Selisih Mean

Hasil di atas menunjukkan ada selisih mean > LSD. Jadi ada perbedaan
angka kesadahan antara perlakuan.
43

Hasil penelitian menunjukkan bahwa air sadah kontak zeolit pada waktu 4

jam penurunannya lebih besar, demikian pula pada waktu kontak 8 jam lebih

besar penurunannya dibandingkan dengan waktu kontak 12 jam. Semakin lama air

sadah kontak dengan zeolit maka akan jenuh karena terjadi adsorbsi fisika yaitu

adanya gaya tarik dan gaya tolak lemah diantara molekul, adsorbsi terjadi sangat

cepat hanya kecepatannya adsorbsinya makin berkurang dengan makin banyaknya

zat yang diserap dan terjadi proses yang dapat berbalik (reversible) sehingga

waktu yang lebih lama sedikit mengalami penurunan.

Menurut Dirjen PPM dan PLP Depkes RI (1991), air sadah yang dialirkan

melalui kolom zeolit akan mengalami pertukuran ion-ion Ca dan Mg dalam air

dengan ion Na dalam zeolit. Hal tersebut berlangsung terus sampai pada saat

kolom zeolit menjadi jenuh dan tidak mampu lagi melakukan pertukaran ion-ion.

Agar dapat aktif lagi, zeolit dapat dibasuh atau dialirkan larutan garam, sehingga

terjadi perlakuan ion-ion Natrium dalam air yang masuk ke dalam zeolit untuk

mengganti kedudukan ion-ion Mg dan Ca. Air dengan derajat keasamaan sangat

tinggi akan cepat melapisi dan memblokir zeolit dan akibatnya dapat mengurangi

efisiensi, pada tempat larutan itu bersentuhan (Koesmantoro, 2010).

Hasil uji Anava Dua Jalan membuktikan adanya perbedaan kesadahan air

bersih sebelum dan sesudah menggunakan zeolit dengan waktu kontak 4 jam, 8

jam, dan 12 jam. Adanya perbedaan sebelum dan sesudah perlakuan berarti

penggunaan zeolit bisa bermanfaat untuk menurunkan kesadahan walaupun tidak

sampai nol (0) karena kesadahan disebabkan oleh adanya kation logam valensi

dua yaitu Ca++, Mg++, Sr++, Fe++ dan Mn++, sedangkan zeolit hanya mengalami
44

pertukaran ion-ion yaitu Ca dan Mg dalam air dengan ion Na dalam zeolit. Jadi

ion-ion selain Ca dan Mg tidak bisa diturunkan dengan zeolit.

Berdasarkan Uji LSD, selisih mean > LSD yaitu: antara sebelum

perlakuan dengan waktu kontak 4 jam (268,6222 > 3,79), sebelum perlakuan

dengan waktu kontak 8 jam (250,0333 > 3,79), sebelum perlakuan dengan waktu

kontak 12 jam (202,733 > 3,79), waktu kontak 4 jam dengan waktu kontak 8 jam

(18,5889 > 3,79), waktu kontak 8 jam dengan 12 jam (47 > 3,79). Hasil ini

menunjukkan adanya perbedaan antar perlakuan secara signifikan.