Anda di halaman 1dari 7

BAB VI

GEOLOGI LINGKUNGAN

Geologi lingkungan merupakan salah satu cabang ilmu geologi yang

mempelajari tentang interaksi antara manusia dengan alam lingkungannya, serta

pelestarian dan pemanfaatan bumi oleh manusia. Interaksi tersebut meliputi

pemanfaatan dan pengembangan sumber daya alam, dampak yang ditimbulkan

oleh adanya kegiatan pemanfaatan dan pengembangan sumber daya alam tersebut,

serta adaptasi terhadap bencana alam.

Menurut Mulyaningsih (2008), lingkungan geologi mencakup:

1. Sifat dan komponen fisik bumi: batuan, tanah, air (fluida) dan mineral

2. Bentang alam (permukaan tanah)

3. Proses-proses yang mempengaruhi perkembangan permukaan bumi:

sedimentasi, erosi, pelapukan, tektonisme, aktivitas gunungapi.

Dengan kata lain, secara umum geologi lingkungan merupakan salah satu

sistem pembelajaran dalam mencari hubungan antara budidaya dan lingkungan

geologi. Studi ini meliputi tiga hal penting yaitu:

1. Bencana alam seperti banjir, longsoran, gunungapi dan gempabumi

2. Sumber daya geologi seperti logam, batuan, minyak bumi dan air

3. Permasalahan-permasalahan lingkungan seperti penanganan sampah dan

kontaminasi airtanah.

Secara umum geologi lingkungan mencakup 2 aspek, yaitu sesumber dan

bencana alam. Geologi lingkungan pada daerah penelitian meliputi ketiga hal

tersebut diatas yaitu sumber daya geologi, bencana geologi, dan permasalahan

lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia.

66
67

6.1. Sumber Daya Geologi

Sesumber adalah segala sesuatu yang terdapat di alam yang dapat

dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya,

termasuk yang telah digunakan pada masa kini maupun untuk masa yang akan

datang. Dalam pembahasan geologi lingkungan, sesumber geologi yang ada di

daerah penelitian berupa sumberdaya air, lahan, dan bahan galian.

6.1.1 Sumber daya air

Air merupakan kebutuhan manusia yang paling utama. Kebutuhan akan air

merupakan masalah yang serius untuk masyarakat di daerah penelitian. Sungai

yang terdapat di daerah penelitian merupakan sungai periodik, yang artinya sungai

yang cirinya berdebit besar pada musim penghujan dan berkurang pada musim

kemarau. Sungai yang tidak pernah mengalami kekeringan adalah Kali Serang.

Apabila musim kemarau tiba, penduduk setempat memanfaatkan aliran sungai

untuk mencukupi kebutuhan air bersih seperti mandi, cuci dan kakus.

Kebutuhan air bersih untuk masyarakat di daerah penelitian dipenuhi dari

sumber airtanah (sumur gali, sumur bor), air permukan (sungai, waduk), dan

Mataair. Penyediaan air bersih untuk masyarakat di perkotaan Wates dan di

beberapa ibukota kecamatan (perkotaan) dilayani oleh PDAM dengan

menggunakan sumber air yang berasal dari Mataair Clereng (Pengasih), Waduk

Sermo dan Kali Progo. Selain PDAM, di pedesaan pelayanan air bersih dikelola

oleh kelompok masyarakat dengan memanfaatkan sumber air yang ada, dengan

cara dialirkan melalui perpipaan meskipun debitnya kecil, air permukaan yang

dapat dimanfaatkan adalah Sungai Serang dan beberapa sumur bor.


68

Gambar 29. Air irigasi (a), lensa menghadap baratlaut dan air sungai (b), lensa menghadap
baratdaya sebagai sumber daya air daerah Pengasih dan Wates (Penyusun, 2016)

6.1.2 Sumber daya tanah

Tanah yang terdapat di daerah penelitian sebagian besar merupakan hasil

dari pelapukan batuan sekitar yang kemudian tertransport dan terendapkan

membentuk endapan campuran yang telah banyak dimanfaatkan sebagai lahan

pertanian, perkebunan dan pemukiman. Daerah persawahan banyak berkembang

pada topografi rendah atau dataran terutama daerah sekitar aliran Kali Serang dan

Kali Secang.

Daerah penelitian sebagian besar telah terdenudasi dan dimanfaatkan oleh

warga setempat sebagai lahan pertanian dan perkebunan. Tanah hasil denudasi di

daerah penelitian ternyata cukup subur untuk perkebunan dan persawahan yang

saat ini merupakan mata pencaharian masyarakat setempat. Lahan juga

dimanfaatkan masyarakat sebagai hutan masyarakat yang ditanami pepohonan di

antaranya pohon jati dan pinus.


69

Gambar 30. Lahan pertanian (a), lensa menghadap baratlaut dan lahan perkebunan (b), lensa
menghadap baratdaya sebagai sumber daya tanah daerah Pengasih, LP 1 (Penyusun, 2016)

6.1.3 Bahan galian

Bahan galian merupakan salah satu aspek geologi yang sangat berguna

bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. Bahan galian

yang telah dimanfaatkan berupa bahan galian terdiri dari:

a. Penambangan batugamping

Penambangan batugamping di daerah penelitian dikelola oleh masyarakat

sekitar secara tradisional namun ada juga yang dikelola oleh perusahaan.

Penambangan oleh perusahaan dilakukan dengan menggunakan alat berat seperti

buldoser, eskavator dan mesin-mesin pemotong. Masyarakat melakukan

penambangan dengan menggunakan alat sederhana seperti palu, linggis dan

katrol.

Batugamping yang ditambang oleh masyarakat setempat dilakukan dengan

cara digali, dikumpulkan kemudian dijual untuk dimanfaatkan sebagai bahan

bangunan maupun sebagai material pengeras jalan, sedangkan yang ditambang

oleh perusahaan dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk campuran semen.


70

Gambar 31. Bekas penambangan batugamping oleh perusahaan (a) daerah Karangsari, LP 10
lensa menghadap barat dan penambangan oleh masyarakat secara tradisioanl (b) daerah Nglinggo,
lensa menghadap utara (Penyusun, 2016)

6.2. Bencana Alam

Bencana alam adalah suatu proses yang dapat menimbulkan kerugian bagi

makhluk hidup. Bencana alam yang berhubungan dengan geologi adalah suatu

gejala yang berhubungan dengan proses geologi yang menimbulkan kerugian

secara materi bahkan yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa, seperti

gerakantanah, gempabumi, tsunami, gunung meletus, kekeringan dan banjir.

Bencana alam yang kemungkinan dapat terjadi pada daerah penelitian berupa

banjir, gerakan tanah serta gempa.

6.2.1 Banjir

Banjir sering terjadi disekitar aliran sungai. Pada daerah ini aliran Kali

Serang (Gambar 32). membawa volume air yang cukup besar apalagi pada musim

hujan dengan curah hujan yang cukup tinggi, hal tersebut dapat memicu terjadinya

banjir pada daerah aliran sungai. Bencana ini dapat mengancam lahan-lahan

pertanian penduduk yang terletak pada dataran banjir sepanjang Kali Serang.
71

Gambar 32. Potensi terjadinya banjir pada lokasi penelitian (Kali Serang)
Lensa menghadap ke selatan (penyusun, 2016)

6.2.2 Gerakantanah

Bencana ini sangat dipengaruhi oleh faktor alam seperti litologi, resisten

batuan, kemiringan lereng terjal, dan juga curah hujan, selain itu perilaku manusia

pun dapat memperbesar terjadinya gerakan tanah (Gambar 33).

Gambar 33. Gerakan tanah pada lokasi penelitian


Lensa menghadap ke baratlaut (Penyusun, 2016)
72

Ada beberapa alternatif yang dapat digunakan sebagai acuan oleh

masyarakat di daerah penelitian untuk meminimalisasi terjadinya bencana gerakan

tanah, antara lain sebagai berikut:

a. Jangan mendirikan bangunan pada tempat yang kestabilan lerengnya

rendah dan rawan longsor.

b. Jangan menjadikan lereng yang di bawahnya terdapat pemukiman sebagai

tempat bercocok tanam maupun kolam-kolam.

c. Membuat terasering pada daerah-daerah yang berlereng terjal sebelum

dijadikan tempat untuk bercocok tanam.

d. Jangan melakukan penggalian di bawah lereng yang terjal.

e. Jangan menebang pohon secara liar pada daerah lereng.

f. Jangan membangun rumah di bawah tebing

g. Melakukan penanaman pohon yang berjenis akar tunggang.

h. Melakukan peninjauan ulang terhadap aktivitas penambangan yang

dilakukan di daerah berlereng curam yang dapat menimbulkan bahaya

longsor dan dapat mengancam keselamatan pekerja tambang.

6.2.3. Gempa

Daerah penelitian termasuk daerah yang dekat dengan zona subdaksi antar

Lempeng Eurasia atau Lempeng Indo-Australia pada bagian selatan, maka daerah

penelitian berpotensi terjadinya gempa bumi.