Anda di halaman 1dari 11

20 SEJARAH DAN BUDAYA, Tahun Ketujuh, Nomor 2, Desember 2013

PRASEJARAH INDONESIA:
Tinjauan Kronologi dan Morfologi

Slamet Sujud Purnawan Jati


Jurusan Sejarah FIS Universitas Negeri Malang

Abstract: Significance of Indonesia prehistory study is used to discover reconstruction a


whole past human life aspects before to history era through the material remains have left
behind (artifacts, ecofacts, and fitures). The life aspects are such as environmental, ancient
man, technology, social life, economy, and culture. Through chronological and
morphological studies, it is can be understood early development of Indonesian societies
and culture in prehistoric period according to the time, its characteristic, man variety, and
material remains.

Key Words: Periods of history, Ecology, Evolution, Culture

Prasejarah Indonesia merupakan bagian awal kehidupan prasejarah, muncul berbagai


dari sejarah kebudayaan Indonesia. Oleh masalah yang perlu dipecahkan. Salah satu
karena itu dengan mempelajari prasejarah masalah yang sering menjadi kancah
Indonesia diharapkan dapat mengerti dan perdebatan para ahli adalah tentang konsep
memahami awal pertumbuhan kebudayaan periodesasi prasejarah. Seperti diketahui
bangsa Indonesia, terutama pertumbuhan periodesasi prasejarah merupakan sarana
dan perkembangan masyarakat prasejarah penting untuk memahami kehidupan
Indonesia dalam kaitanya dengan pertumbuh- prasejarah. Dengan periodesasi tersebut
an dan perkembangan masyarakat masa kini. diharapkan kehidupan prasejarah dapat
Selama ini terminologi prasejarah dijelaskan dalam dimensi ruang dan waktu.
Indonesia dipandang dalam pengertian yang Beberapa model periodesasi prasejarah telah
terbatas. Padahal pengertian prasejarah disusun para ahli berdasarkan konsep
Indonesia tidak hanya mencakup seluruh tertentu.
aspek kehidupan manusia sejak saat hadirnya
hominid yang pertama pada kala plestosen Model Teknologi
hingga saat manusia telah mengenal Pembentukan periodesasi prasejarah
tulisan pertama pada sekitar abad pertama kali dikemukakan oleh C.J. Thomsen
4-5 M. Dalam perkembangannya materi dari Denmark pada tahun 1836. gagasan
prasejarah Indonesia ditambah dengan data- Thomsen ini disebut sistem tiga zaman (three
data etnoarkeologi terutama aspek tradisi age system) ysng membagi zaman prasejarah
prasejarah yang masih bertahan dan menjadi: zaman batu, zaman perunggu, dan
berkembang hingga masa sekarang. zaman besi. Dalam penerapannya kemudian
sistem Thomsen dikembangkan menjadi
Periodesasi Prasejarah sistem empat zaman dimana zaman batu
Pengetahuan tentang prasejarah di dibagi menjadi zaman batu tua (paleolitik)
sistematisasikan berdasarkan bahan-bahan dan zaman batu baru (neolitik). Akhirnya
yang diperoleh selama ini. Beberapa tesusunlah sistem lima zaman yang meliputi:
pandangan tentang perkembangan kehidupan paleolitik, mesolitik, neolitik, perunggu, dan
manusia prasejarah telah diungkapkan oleh besi.
para pakar sejalan dengan ditemukannya
banyak data arkeologi, khususnya bukti
Slamet Sujud Purnawan Jati, Prasejarah Indonesia: Tinjauan Kronologi dan Morfologi 21

Sistem pembagian zaman prasejarah Indonesia yang tersusun menjadi: masa


di Eropa Barat ini kemudian dikenal sebagai berburu dan mengumpul makanan tingkat
model teknologi yang terutama menaruh sederhana, masa berburu dan mengumpul
perhatian pada perkembangan teknik makanan tingkat lanjut, masa bercocok
pembuatan alat kerja manusia. Setiap tingkat tanam, dan masa perundagian.
perkembangan ditandai oleh terciptanya alat
dengan bentuk dan bahan pembuatan tertentu Lingkungan Alam
(Soejono: 2000). Aspek lingkungan merupakan salah
Model teknologi diterapkan di satu unsur penting pembentuk suatu budaya
Indonesia atas prakarsa P.V.van Stein masyarakat. Oleh karena itu untuk me-
Callenfels (1934) dan dilanjutkan van der ngetahui kehidupan manusia prasejarah
Hoop (1938), R von Heine Geldern (1945), Indonesia tidak dapat terlepas dari kondisi
dan akhirnya dimantapkan oleh H.R. van bentang alam dimana manusia prasejarah
Heekeren (1955). Seperti halnya di Eropa, melangsungkan kehidupanya. Seperti di
prasejarah di Indonesia dibagi dalam ketahui manusia masa prasejarah masih
beberapa tingkat teknologi yang sangat menggantungkan hidupnya pada alam,
memprioritaskan perkembangan kebudayaan sehinga hubungan yang begitu dekat antara
material. Tingkat ini terdiri atas: paleolitik, manusia dengan lingkungan membawa
mesolitik, neolitik, perunggu-besi (atau konsekuensi bahwa manusia harus senantiasa
perunggu-besi digabung menjadi logam beradaptasi dengan lingkungan yang
awal/paleometalik). Suatu tingkat khusus ditempati.
ditambahkan pada kronologi di Indonesia, Sejak bumi ini terbentuk, keadaan
yaitu tingkat megalitik. Tingkat ini diletakkan lingkungan di bumi telah mengalami
sejajar dengan neolitik dan paleometalik. perubahan sehingga menjadi keadaan
lingkungan seperti yang terlihat sekarang ini.
Model Sosial-Ekonomi Pada zaman kuarter yang terbagi atas kala
Model ini menitikberatkan pada plestosen dan holosen telah terjadi beberapa
problema sosial dan ekonomi yang akan kali perubahan iklim. Sejak awal kehadiran
dipecahkan melalui data prasejarah. Suatu manusia plestosen di muka bumi ini
pendekatan yang memfokuskan pada senantiasa diikuti oleh peristiwa alam yang
kehidupan ekonomi telah dikemukakan oleh tentu saja berpengaruh terhadap ekologi
J.C.D. Clark tahun 1952. sementara itu manusia prasejarah yang menghuni pada kala
pendekatan sosio-struktural telah dilakukan tersebut.
oleh v. Gordon Childe pada tahun 1958.
fokus diletakkan pada kemajuan teknologi Lingkungan Alam Kala Plestosen
dan sosial masyarakat prasejarah Eropa. Kala plestosen merupakan bagian
Kemajuan sosial ini ditandai dengan adanya masa geologi yang paling muda dan paling
Revolusi Neolitik dan Revolusi Perkotaan. singkat. Akan tetapi bagi sejarah kehidupan
Cara pendekatan sosial-ekonomi ini manusia, kala ini merupakan masa yang
disebut juga dengan model mata pencaharian paling tua dan terpanjang yang dilalui
hidup (subsistence model) yang membagi manusia. Kala Plestosen berlangsung kira-
tingkat hidup menjadi berburu dan kira 3 juta sampai 10 ribu tahun yang lalu
mengumpul makanan disusul oleh hidup (Soejono 2010). Pada kala ini telah terjadi
bercocok tanam. Model inilah yang kemudian beberapa kali perubahan iklim. Secara umum
diluncurkan R.P. Soejono pada tahun 1970 pada masa itu terjadi glasiasi (jaman es),
sebagai model periodesasi prasejarah dimana suhu bumi turun dan glester meluas
22 SEJARAH DAN BUDAYA, Tahun Ketujuh, Nomor 2, Desember 2013

di permukaan bumi. Pada kala plestosen Kabuh, dan plestosen atas dikenal sebagai
terjadi 4 kali masa glasial yang diselingi 3 formasi Notopuro. Masing-masing formasi
kali masa interglasial dimana suhu bumi naik tersebut menunjukkan adanya jenis-jenis
kembali (Bemmelen 1949). Pada saat itu fauna tertentu. Formasi Pucangan ditemukan
didaerah dekat kutub terjadi pengesan, dan di fauna Jetis. Formasi Kabuh mengandung
daerah tropis yang tidak kena pengaruh temuan fauna Trinil. Sedangkan formasi
pelebaran es keadaannya lembab, termasuk Notopuro dijumpai fauna Ngandong (Soejono
Indonesia terjadi musim hujan (pluvial) dan 2010).
pada waktu suhu naik terjadi musim kering
atau antarpluvial. Lingkungan Alam Kala Holosen
Selain terjadi perubahan iklim, pada Kala holosen berlangsung kira-kira
kala plestosen juga ditandai dengan gerakan antara 10.000 tahun yang lalu hingga
berasal dari dalam bumi (endogen) seperti sekarang. Pada kala ini kegiatan gunung api,
gerakan pengangkatan (orogenesa) yang gerakan pengangkatan, dan pelipatan masih
menyebabkan munculnya daratan baru, berlangsung terus. Sekalipun pengendapan
kegiatan gunung berapi (vulkanisme), serta sungai dan letusan gunung api masih terus
gerakan dari luar bumi (eksogen) seperti membentuk endapan aluvial, bentuk topografi
pengikisan (erosi), turun naiknya permukaan kepulauan Indonesia tidak banyak berbeda
air laut, serta timbul tenggelamnya sungai dengan topografi sekarang.
dan danau. Berbagai peristiwa alam tersebut Perubahan penting yang terjadi pada
dapat menyebabkan perubahan bentuk muka awal kala holosen adalah berubahnya iklim.
bumi. Berakhirnya masa glasial Wurm kira-kira
Pada kala plestosen ini bagian barat 20.000 tahun yang lalu menyebabkan
kepulauan Indonesia berhubungan dengan berakhirnya musim dingin dan berakhir pula
daratan Asia Tenggara sebagai akibat dari zaman es. Iklim kemudian menjadi panas dan
turunnya muka air laut. Sementara itu terjadilah zaman panas dengan akibat semua
kepulauan Indonesia bagian timur ber- daratan yang semula terbentuk karena
hubungan dengan daratan Australia. Daratan turunnya muka air laut, kemudian tertutup
yang menghubungkan Indonesia bagian barat kembali, termasuk paparan Sunda dan Sahul
dengan Asia Tenggara disebut daratan Sunda seperti dikenal sekarang. Pengaruh fenomena
(di masa antarglasial merupakan paparan itu terhadap kehidupan di antaranya berupa
Sunda atau Sunda shelf), dan daratan yang terputusnya hubungan kepulauan Indonesia
menghubungkan Papua dengan Australia dari daratan Asia Tenggara dan Australia.
disebut daratan Sahul (di masa antarglasial Akibat terputusnya wilayah
merupakan paparan Sahula atau Sahul shelf). Indonesia dari daratan Asia dan Australia
Semua peristiwa alam tersebut di atas pada masa akhir masa glasial Wurm, terputus
langsung atau tidak langsung telah me- pula jalan hubungan hewan di wilayah
mengaruhi cara hidup manusia. tersebut. Hewan-hewan yang hidup di pulau-
Berdasarkan hasil penelitian ter- pulau kecil kemudian hidup terasing, dan
hadap susunan lapisan tanah dan batuan terpaksa menyesuaikan diri dengan
menunjukkan bahwa kronologi plestosen di lingkungan yang baru, dan beberapa
Jawa dibagi atas 3 bagian, dari tua ke yang diantaranya kemudian mengalami evolusi
muda ialah pestosen bawah, plestosen tengah lokal. Perbedaan unik yang terdapat di antara
dan plestosen atas (Heekeren 1972). Endapan fauna vertebrata di wilayah tersebut me-
plestosen bawah terkenal dengan formasi nyebabkan disarankannya oleh para ahli
Pucangan, plestosen tengah disebut formasi tentang adanya garis-garis yang memisahkan
Slamet Sujud Purnawan Jati, Prasejarah Indonesia: Tinjauan Kronologi dan Morfologi 23

berbagai keompok fauna veterbrata, yaitu Meganthropus hanya sedikit, sulit menentu-
kelompok yang mirip dengan fauna daratan kan dengan pasti kedudukannya dalam
Australia. Garis pemisah fauna tersebut evolusi manusia dan hubungannya dengan
adalah garis Wallace, garis Weber, dan garis Pithecanthropus. Melalui studi perbandingan
Huxley. dengan temuan fosil manusia dari Afrika dan
Pada kala Holosen, iklim di daerah Eropa berdasarkan segi fisik dan kulturalnya
tropik dan di Indonesia khususnya telah maka dalam taksonomi manusia, Megan-
menunjukkan persamaan dengan iklim thropus paleojavanicus dianggap sebagai
sekarang. Iklim sekarang ini merupakan genus yang hidup pada kala plestosen bawah,
tingkat awal dari masa glasial dan pluvial dan merupakan pendahulu dari Pithecan-
kelima (Leaky 1960). thropus erectus dari kala plestosen tengah
(Widianto 1980).
Evolusi Manusia Purba Fosil manusia yang lebih muda ialah
Gambaran evolusi manusia purba Pithecanthropus. Fosil manusia ini paling
kala plestosen dapat diketahui melalui studi banyak ditemukan di Indonesia terutama di
paleoantropologi. Bagaimana proses evolusi Jawa. Oleh karena itu pada kala plestosen di
yang telah terjadi, belumlah dapat diketahui Indonesia banyak dihuni manusia Pithecan-
dengan pasti. Banyak teori dan dendogram thropus. Manusia ini diperkirakan hidup pada
tentang evolusi manusia purba telah dibuat. kala plestosen bawah, tengah, dan mungkin
Hal ini menunjukkan masih banyaknya plestosen atas. Manusia Pithecanthropus yang
ketidaksepakatan diantara para ahli. Salah tertua adalah Pithecanthropus modjokertensis
satu faktor penyebab adalah karena tidak ada yang ditemukan pertama kali pada formasi
data yang cukup untuk dapat merekonstruksi Pucangan di Kepuhklagen pada tahun 1936
evolusi biologi secara total. Namun demikian berupa tengkorak anak-anak. Temuan lainnya
upaya ke arah penyusunan evolusi harus terus berasal dari situs Sangiran. Ditaksir manusia
dilakukan. ini hidup sekitar 2,5 hingga 1,25 juta tahun
Dalam sejarah penelitian paleo- yang lalu, jadi kira-kira bersamaan dengan
antropologi di Indonesia terutama di Jawa Meganthropus (Soejono 2010).
terdapat data fisik manusia purba yang cukup Manusia Pithecanthropus yang lebih
lengkap rangkaiannya secara bertahap dari banyak terdapat dan lebih luas pe-
bentuk yang sederhana hingga bentuk yang nyebarannya adalah Pithecanthropus erectus.
progress. Fosil manusia purba yang di Temuan fosil yang terpenting dan terkenal
temukan di kawasan Indonesia berasal dari adalah atap tengkorak dan tulang paha
lapisan bumi kala plestosen bawah, plestosen dari Trinil pada tahun 1891. Berdasarkan
tengah, plestosen atas, dan awal kala temuan ini Eugene Dubois memberi nama
Holosen. Dengan demikian akan tampak Pithecanthropus erectus. Dubois memandang
dengan jelas evolusi bentuk fisik manusia Pithecanthropus sebagai missing link, yaitu
purba pada kala tersebut. manusia perantara yang menghubungkan
antara kera dan evolusi manusia (Howell
Evolusi Manusia Purba Kala Plestosen. 1980, Sartono 1983). Temuan Pithecan-
Evolusi manusia purba di Jawa thropus erectus lainnya berasal dari situs
diawali dengan fosil manusia Meganthropus Sangiran. Berdasarkan pertanggalan absolut
paleojavanicus. Manusia ini ditemukan pada Pithecanthropus erectus hidup sekitar 1
lapisan formasi Pucangan di Sangiran. hingga 0,5 juta tahun yang lalu atau pada kala
Formasi tersebut dimasukkan dalam kala plestosen tengah.
plestosen bawah. Oleh karena temuan
24 SEJARAH DAN BUDAYA, Tahun Ketujuh, Nomor 2, Desember 2013

Pithecanthropus yang hidup sampai dengan geraham-gerahamnya belum me-


awal plestosen atas adalah Pithecanthropus ngalami reduksi yang lanjut.
soloensis, dan sisanya ditemukan dalam Sebaliknya ras Monggolid tinggi
formasi Kabuh di Sangiran, Sambungmacan badannya rata-rata lebih sedikit. Tengkorak-
(Sragen), dan Ngandong (Blora). Berdasar- nya bundar atau sedang, dengan isi tengkorak
kan hasil pertanggalan sementara Pithecan- rata-rata lebih besar. Dahinya lebih membulat
thropus soloensis hidupnya ditaksir antara dan rongga matanya biasanya tinggi dan
900.000 hingga 300.000 tahun yang lalu persegi. Mukanya lebar dan datar dengan
(Soejono 2010). hidung yang sedang atau lebar. Tempat
Manusia yang hidup pada kala perlekatan otot-otot lain mulai kurang nyata.
plestosen akhir adalah manusia dari genus Demikian pula reduksi alat pengunyah telah
Homo. Manusia ini di Indonesia diwakili oleh melanjut, dengan gigi seri dan taringnya
Homo wajakensis yang ditemukan di Wajak menembilang.
(Tulungagung) dan mungkin juga beberapa Jika ditinjau populasi manusia di
tulang paha dari Trinil dan tulang tengkorak Indonesia di masa mesolitik, maka nyatalah
dari Sangiran. Genus Homo mempunyai bahwa kedua ras pokok ini jelas sekali
karakteristik yang lebih progesif dari manusia kehadirannya. Di bagian barat dan utara dapat
Pithecanthropus. dilihat sekelompok populasi dengan ciri-ciri
Dari beberapa spesies tersebut di atas utama Australomelanesid dan hanya sedikit
dapat disimpulkan bahwa di Indonesia, campuran Monggolid. Di Nusa Tenggara
terutama di Jawa pada kala plestosen hidup Australomelanesid yang tidak banyak
telah dihuni paling sedikit oleh empat berbeda dengan populasi di sana sekarang
genus species manusia prasejarah, yaitu tetapi masih primitif dalam beberapa ciri.
Megantropus paleojavanicus dan Pithecan- Keadaannya berlainan di Sulawesi dimana
thropus modjokertensis (kala plestosen populasinya lebih banyak memperlihatkan
bawah), Pithecantrhopus erectus dan ciri Monggolid.
Pithecantrhopus soloensis (kala plestosen Sementara ini penduduk masa
tengah-atas), serta Homo wajakensis (kala neolitik di Indonesia barat sudah banyak
plestosen atas-holosen awal). memperlihatkan ciri Monggolid, meskipun
ciri Australomelanesid masih terdapat sedikit.
Manusia Purba Kala Holosen. Indonesia timur terutama bagian selatan
Sejak sekitar 10.000 tahun yang lalu dan timur lebih dipengaruhi oleh unsur
ras manusia seperti yang dikenal sekarang Australomelanesid, bahkan sampai sekarang.
sudah mulai ada di Indonesia dan sekitarnya. Sulawesi keadaanya khas, karena pengaruh
Dua ras yang terdapat di Indonesia pada Monggolid lebih kuat dan lebih awal di sini.
permulaan kala holosen, yaitu Australo- Di masa Paleometalik, manusia yang
melanesid dan Monggolid. mendiami Indonesia dapat diketahui melalui
Ras Austrlomelanesid berbadan lebih sisa rangka yang antara lain ditemukan di
tinggi, tengkorak relatif kecil, dahi agak Anyer Lor (Banten), Puger (Jatim),
miring, dan pelipis tidak membulat benar. Gilimanuk (Bali), Ulu Leang (Sulawesi),
Tengkoraknya lonjong atau sedang dengan Melolo (Sumba), dan Liang Bua (Flores).
bagian belakang kepalanya menonjol, dan Pada temuan tersebut terlihat pembauran
bagian tengah atas tengkorak meninggi. antara ras Australomelanesid dan Monggolid
Lebar mukanya sedang dengan bagian busur dalam perbandingan yang berbeda.
keningnya nyata. Alat pengunyah relatif kuat
Slamet Sujud Purnawan Jati, Prasejarah Indonesia: Tinjauan Kronologi dan Morfologi 25

Paleolitik Bukti peninggalan alat paleolitik


Kehidupan manusia prasejarah masa menggambarkan bahwa kehidupan manusia
paleolitik berlangsung sekitar 1,9 juta-10.000 pada masa ini sangat bergantung kepada alam
tahun yang lalu. Bukti-bukti peninggalan lingkungannya. Daerah yang diduduki
masa ini terekam dalam sisa-sisa peralatan manusia itu harus dapat memberikan cukup
yang sering disebut artefak. Di Indonesia persediaan untuk kelangsungan hidupnya.
tradisi pembuatan alat pada masa Paleolitik Mereka hidup secara berpindah-pindah
dikenal 3 macam bentuk pokok, yaitu tradisi (nomaden) sesuai dengan batas-batas ke-
kapak perimbas-penetak (chopper choping- mungkinan memperoleh makanan. Suatu
tool complex), tradisi serpih-bilah (flake- upaya penting yang mendominasi aktivitas
blade), dan alat tulang-tanduk (Ngandong hidupnya adalah subsistensi. Segala daya
Culture) (Heekeren 1972). manusia ditujukan untuk memenuhi ke-
Tradisi kapak perimbas-penetak yang butuhan makan.
ditemukan di Indonesia kemudian terkenal Manusia masa paleolitik hidup
dengan nama budaya Pacitan, dan dipandang dalam kelompok-kelompok kecil. Besarnya
sebagai tingkat perkembangan budaya batu kelompok ditentukan oleh besarnya daerah
yang terawal di Indonesia. Alat budaya dan hasil perburuan. Jika penduduk suatu
Pacitan dapat digolongkan dalam beberapa daerah melebihi jumlah optimal, maka
jenis utama yaitu kapak perimbas (chopper), sebagian dari kelompok ini memisahkan diri
kapak penetak (chopping-tool), pahat dengan cara migrasi ataupun mungkin
genggam (proto hand-adze), kapak genggam dilakukan infantisida untuk membatasi
awal (proto hand-axe), kapak genggam besarnya populasi (Jacob 1969).
(hand-axe), dan serut genggam (scraper) Dalam kehidupan masa paleolitik ini
(Movius 1948). secara tidak langsung terjadi pembagian kerja
Tradisi kapak perimbas, di dalam berdasarkan perbedaan seks atau umur. Kaum
konteks perkembangan alat-alat batu lelaki bertugas mencari makan dengan
seringkali ditemukan bersama-sama dengan berburu binatang, sedang kaum perempuan
tradisi alat serpih. Bentuk alat serpih tinggal di rumah mengasuh anak sembari
tergolong sederhana dengan kerucut pukul meramu makanan. Bahkan setelah api
(bulbus) yang jelas menonjol dan dataran ditemukan, maka peramu menemukan cara
pukul (striking platform) yang lebar dan rata. memanasi makanan. Sementara itu pada masa
Seperti diketahui bahwa hakikat data ini belum ditemukan bukti adanya kepercaya-
paleolitik di Indonesia kebanyakan an atau religi dari manusia pendukungnya.
ditemukan di permukaan tanah. Hal ini
menyebabkan belum ada yang dapat Mesolitik
menjelaskan tentang siapa pendukung dan Kehidupan manusia prasejarah masa
apa fungsi alat-atal batu itu secara mesolitik diperkirakan berlangsung sejak
menyakinkan. Meksipun demikian menurut akhir plestosen atau sekitar 10.000 tahun
Movius, manusia yang diduga sebagai yang lalu. Pada masa ini berkembang 3
pencipta dan pendukung alat-alat batu ini tradisi pokok pembuatan alat di Indonesia
adalah manusia Pithecanthropus, yang bukti- yaitu tradisi serpih-bilah (Toala Culture),
buktinya ditemukan dalam satu konteks tradisi alat tulang (Sampung Bone Culture),
dengan lapisan yang mengandung fosil-fosil dan tradisi kapak genggam Sumatera
Pithecanthropus pekinensis di gua Chou-kou- (Sumatralith). Ketiga tradisi alat ini di
tien di Cina (Movius 1948, Soejono 2010). temukan tidak berdiri sendiri, melainkan
seringkali unsur-unsurnya bercampur dengan
26 SEJARAH DAN BUDAYA, Tahun Ketujuh, Nomor 2, Desember 2013

salah satu jenis alat lebih dominan daripada Arti dan maksud lukisan dinding gua
lainnya. ini masih belum jelas pada umumnya tulisan
Tradisi serpih-bilah secara tipologis itu menggambarkan suatu pengalaman,
dapat dibedakan menjadi pisau, serut, perjuangan dan harapan hidup. Lukisan
lancipan, mata panah, dan mikrolit. Tradisi tersebut bukanlah sekedar dekorasi atau
serpih terutama berlangsung dalam ke- kegemaran seni semata-mata melainkan
hidupan di gua-gua Sulawesi Selatan, yang bermakna lebih mendalam lagi yaitu
sebagian pada masa tidak lama berselang menyangkut aspek kehidupan berdasarkan
masih didiami oleh suku bangsa Toala, kepercayaan terhadap kekuatan gaib yang ada
sehingga dikenal sebagai budaya Toala di alam sekitarnya. Adanya penguburan dan
(Heekeren 1972). Sementara industri tulang lukisan dinding gua merupakan bukti
Sampung tersebar di situs-situs gua di Jawa berkembangnya corak kepercayaan di
Timur. Kelompok budaya ini memperlihatkan kalangan masyarakat prasejarah.
dominasi alat tulang berupa sudip dan
lancipan. Temuan lain berupa alat-alat batu Neolitik
seperti serpih-bilah, batu pipisan atau batu Masa neolitik merupakan masa yang
giling, mata panah, serta sisa-sisa binatang. amat penting dalam sejarah perkembangan
Sedangkan tradisi Sumatralith banyak masyarakat dan peradaban. Karena pada
ditemukan di daerah Sumatera, khususnya masa ini beberapa penemuan baru berupa
pantai timur Sumatera Utara. Situs-situs di penguasaan sumber-sumber alam bertambah
daerah ini berupa bukit-bukit kerang. cepat. Bukti yang didapat dari masa neolitik
Bukti peninggalan alat mesolitik terutama berupa berbagai jenis batu yang
menggambarkan bahwa corak penghidupan telah dipersiapkan dengan baik. Kemahiran
yang menggantungkan diri kepada alam mengupam alat batu telah melahirkan jenis
masih berlanjut. Hidup berburu dan me- alat seperti beliung persegi, kapak lonjong,
ngumpul makanan masih ditemukan, namun alat obsidian, mata panah, pemukul kulit
sudah ada upaya pengenalan awal tentang kayu, gerabah, serta perhiasan berupa gelang
hortikultur yang dilakukan secara berpindah dari batu dan kerang.
(Clark & Piggot 1967). Masyarakat mulai Beliung persegi mempunyai bentuk
mengenal pola kehidupan yang berlangsung yang bervariasi dan persebaran yang luas
di gua-gua alam (abris sous roche) dan di terutama di Indonesia bagian barat. Beliung
pantai (kjokkenmoddinger) yang tidak jauh tersebut terbuat dari batu rijang, kalsedon,
dari sumber bahan makanan. agat, dan jaspis. Sementara kapak lonjong
Suatu sistem penguburan di dalam tersebar di Indonesia bagian timur dan diduga
gua (antara lain budaya Sampung) dan bukit lebih tua dari beliung persegi (Heekeren
Kerang (Sumatera Utara) sebagai bukti awal 1972). Gerabah yang merupakan unsur paling
penguburan manusia di Indonesia, serta banyak ditemukan pada situs-situs neolitik
lukisan dinding gua dan dinding karang memerlihatkan pembuatan teknik tatap
(Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bentuk gerabah antara lain berupa periuk dan
Maluku, dan Papua) yang merupakan cawan yang memiliki slip merah dengan hias
ekspresi rasa estetik dan religius, melengkapi gores dan tera bermotifkan garis lurus dan
bukti kegiatan manusia pada masa ini. Bahan tumpal. Sedangkan alat pemukul kulit
zat pewarna merah, hitam, putih, dan kuning kayu banyak ditemukan di Sulawesi dan
digunakan untuk bahan melukis cap-cap Kalimantan. Demikian pula mata panah yang
tangan, manusia, manusia, binatang, perahu, sering dihubungkan dengan budaya neolitik,
matahari, dan lambang-lambang.
Slamet Sujud Purnawan Jati, Prasejarah Indonesia: Tinjauan Kronologi dan Morfologi 27

terutama ditemukan di Jawa Timur dan menghasilkan bangunan yang disusun dari
Sulawesi. batu besar seperti menhir, dolmen, undak
Manusia masa neolitik sudah tidak batu, limas berundak, pelinggih, patung
lagi menggantungkan hidupnya pada alam, simbolik, tembok batu, dan jalan batu.
tetapi sudah menguasai alam lingkungan Pengertian tentang bangunan
sekitarnya serta aktif membuat perubahan. megalitik tidak selalu diartikan sebagai suatu
Masyarakat mulai mengembangkan peng- bangunan yang dibuat dari batu besar dan
hidupan baru berupa kegiatan bercocok berasal dari masa prasejarah. Pengertian di
tanam sederhana dengan sistem slash and atas tidak terlalu mutlak. Bahkan F.A.
burn, atau terjadi perubahan dari food Wagner (1962) dalam Soejono (2010)
gathering ke food producing. Berbagai mengatakan bahwa pengertian monumen
macam tumbuhan dan hewan mulai besar (megalitik) tidak mesti diartikan
dijinakkan dan dipelihara untuk memenuhi sebagai batu besar, akan tetapi objek-objek
kebutuhan protein hewani, kegiatan berburu, batu lebih kecil dan bahan-bahan lain seperti
dan menangkap ikan masih terus dilakukan. kayu, bahkan tanpa monumen atau objek
Masyarakat masa neolitik mulai sama sekalipun dapat dimasukkan ke dalam
menunjukkan tanda-tanda cara hidup klasifikasi megalitik bila benda-benda itu
menetap di suatu tempat, berkelompok jelas dipergunakan untuk tujuan sakral
membentuk perkampungan-perkampungan tertentu yakni pemujaan arwah nenek
kecil. Di masa ini kelompok manusia sudah moyang. Dengan demikian maksud utama
lebih besar, karena pertanian dan peternakan dari pendirian bangunan megalitik tersebut
dapat memberi makan penduduk dalam tidak luput dari latar belakang pemujaan
jumlah yang lebih besar. Pada masa nenek moyang, pengharapan kesejahteraan
ini diperkirakan telah muncul bentuk bagi yang masih hidup, dan kesempurnaan
perdagangan yang bersifat barter. Barang bagi si mati. Segi kepercayaan dan nilai-nilai
yang dipertukarkan adalah hasil pertanian hidup masyarakat ini kemudian berlanjut dan
ataupun kerajinan tangan. Adanya penemuan- berkembang pada masa paleometalik.
penemuan baru ini menyebabkan masa ini
oleh v. Gordon Childe (1958) sering disebut Paleometalik
sebagai masa Revolusi Neolitik, karena Masa paleometalik merupakan masa
kegiatan ini menunjukkan kepada kita adanya yang mengandung kompleksitas, baik dari
perubahan cara hidup yang kemudian segi materi maupun alam pikiran yang
mempengaruhi perkembangan sosial, tercermin dari benda buatannya. Per-
ekonomi, dan budaya manusia. bendaharaan masa paleometalik memberikan
Pengembangan konsep kepercayaan gambaran tentang kemajuan yang dicapai
pada masa neolitik mulai memainkan peranan manusia pada masa itu, terutama kemajuan di
penting. Konsep kepercayaan ini kemudian bidang teknologi. Dalam masa paleometalik
diabadikan dengan mendirikan bangunan teknologi berkembang lebih pesat sebagai
batu besar. Kegiatan kepercayaan seperti ini akibat dari tersusunnya golongan-golongan
dikenal dengan nama tradisi megalitik. R. dalam masyarakat yang dibebani pekerjaan
Von Heine Geldern (1945) menggolongkan tertentu.
tradisi megalitik dalam 2 tradisi, yaitu Pada masa ini teknologi pembuatan
megalitik tua yang berkembang pada masa alat jauh lebih tinggi tingkatnya dibandingkan
neolitik (2500-1500 SM) dan megalitik muda dengan masa sebelumnya. Hal tersebut
yang berkembang dalam masa paleometalik dimulai dengan penemuan baru berupa teknik
(1000 SM abad I M). Megalitik tua peleburan, pencampuran, penempaan, dan
28 SEJARAH DAN BUDAYA, Tahun Ketujuh, Nomor 2, Desember 2013

pencetakan jenis-jenis logam. Penemuan ketat dengan munculnya golongan yang


logam merupakan bukti kemajuan melakukan pekerjaan khusus (undagi).
pyrotechnology karena manusia telah mampu Pertanian dengan sistem persawahan mulai
menghasilkan temperatur yang tinggi untuk dikembangkan dengan menyempurnakan alat
dapat melebur bijih logam (Wertime 1973). pertanian dari logam, pengolahan tanah, dan
Atas dasar temuan arkeologis, pengaturan air sawah. Hasil pertanian ini
Indonesia mengenal alat-alat yang dibuat dari selain disimpan juga diperdagangkan ke
perunggu, besi, dan emas. Benda-benda tempat lain bersama nekara perunggu, moko,
perunggu di Indonesia ditemukan tersebar di perhiasan, dan sebagainya. Peranan ke-
bagian barat dan timur. Hasil utama benda percayaan dan upacara-upacara religius
perungu pada masa paleometalik ini meliputi sangat penting pada masa paleometalik.
nekara perunggu, kapak perunggu, bejana Kegiatan-kegiatan dalam masyarakat di
perunggu, patung perunggu, perhiasan lakukan terpimpin, dan ketrampilan dalam
perunggu, dan benda perunggu lainnya. pelaksanaannya makin ditingkatkan.
Sedangkan benda-benda besi yang ditemukan Pada masa ini kehidupan spiritual
antara lain mata kapak, mata pisau, mata yang berpusat kepada pemujaan nenek
sabit, mata tembilang, mata pedang, mata moyang berkembang secara luas. Demikian
tombak, dan gelang besi. Pada prinsipnya pula kepada orang yang meninggal diberikan
teknik pengerjaan artefak logam ini ada dua penghormatan melalui upacara penguburan
macam, yakni teknik tempa dan teknik cetak. dengan disertai bekal kubur. Penguburan
Proses pencetakannya dapat dilakukan dapat dilakukan dalam tempayan, tanpa
dengan dua cara, yaitu secara langsung ialah wadah dalam tanah, atau dengan berbagai
dengan menuang logam yang sudah mencair kubur batu melalui upacara tertentu yang
langsung ke dalam cetakan, dan secara tidak mencapai puncaknya dengan mendirikan
langsung ialah dengan membuat model bangunan batu besar. Tradisi inilah yang
terlebih dahulu, dari model ini kemudian kemudian dikenal sebagai tradisi megalitik
dibuat cetakannya. Cara yang kedua ini muda. Tradisi megalitik muda yang
disebut dengan a cire perdue atau lilin hilang, berkembang dalam masa paleometalik telah
sementara itu tipe-tipe cetakan yang menghasilkan bangunan batu besar berupa
digunakan dapat berupa cetakan tunggal atau peti kubur batu, kubur dolmen, sarkofagus,
cetakan terbuka, cetakan setangkup (bivalve kalamba, waruga, dan batu kandang. Di
mould), dan cetakan ganda (piece mould). tempat kuburan semacam itu biasanya
Pada masa ini dihasilkan pula terdapat beberapa batu besar lainnya sebagai
gerabah yang menunjukkan perkembangan pelengkap pemujaan nenek moyang seperti
yang lebih meningkat. Gerabah tidak hanya menhir, patung nenek moyang, batu saji,
untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga lumpang batu, ataupun batu dakon. Pada
diperlukan dalam upacara penguburan baik akhirnya kedua tradisi megalitik tua dan
sebagai bekal kubur maupun tempayan muda tersebut bercampur, tumpang tindih
kubur. Sementara itu benda-benda temuan membentuk variasi lokal, bahkan pada
lainnya berupa perhiasan seperti hiasan dari perkembangan selanjutnya bercampur dengan
kulit kerang, tulang, dan manik-manik. unsur budaya Hindu, Islam, dan kolonial.
Kemahiran teknik yang dimiliki
manusia masa paleometalik ini berhubungan Tradisi Prasejarah
dengan tersusunnya masyarakat yang menjadi Seperti diketahui bahwa masa
makin kompleks, dimana perkampungan prasejarah di Indonesia telah berakhir sejak
sudah lebih besar. Pembagian kerja makin ditemukannya tulisan pertama sekitar abad ke
Slamet Sujud Purnawan Jati, Prasejarah Indonesia: Tinjauan Kronologi dan Morfologi 29

4-5 M, akan tetapi beberapa tradisi prasejarah tertentu. Kemahiran teknik yang dicapai pada
masih bertahan jauh memasuki masa sejarah, masa paleometalik gayut dengan tersusunnya
bahkan hingga masa kini di beberapa tempat masyarakat yang menjadi semakin kompleks.
di Indonesia. Kehidupan spritual yang berpusat kepada
Di antara tradisi prasejarah yang pemujaan nenek moyang berkembang secara
berlanjut hingga masa kini antara lain: tradisi luas. Adapun peningkatan teknologi pada
hidup bercocok tanam sederhana dengan masa ini adalah kemahiran seni tuang logam.
sistem slash and burn, tradisi pembuatan Disamping bentuk kehidupan
kapak batu, tradisi pembuatan gerabah, tradisi tersebut, di Indonesia dijumpai adanya tradisi
pembuatan pakaian dengan alat pemukul kulit prasejarah yang masih bertahan hingga kini,
kayu, tradisi pembuatan alat-alat logam, dan antara lain: tradisi bercocok tanam sederhana,
tradisi pemujaan nenek moyang (tradisi tradisi pembuatan kapak batu, tradisi
megalitik), serta masih banyak lagi tradisi pembuatan gerabah, tradisi pembuatan aat
prasejarah yang masih hidup, tetapi logam, dan tradisi megalitik, serta masih
mengendap, bertahan, dan berlangsung banyak lagi tradisi prasejarah yang tetap
sampai saat ini di dalam kehidupan berlangsung sampai saat ini di dalam
masyarakat Indonesia. kehidupan masyarakat Indonesia.

Penutup
Mencermatiperkembangan prasejarah DAFTAR RUJUKAN
pada umumnya terdapat tiga faktor yang
saling berkaitan yaitu alam, manusia, dan Bemmelen, R.W. van. 1949. The Geology of
kebudayaan. Oleh karena itu untuk men- Indonesia Vol. I. The Hague :
dapatkan penjelasan tentang kehidupan Martinus Nijhoff.
manusia masa prasejarah maka perlu Childe, V.G. 1958. The Prehistory of
mengintegrasikan antara lingkungan alam, Euoropean Society. Penguin Books.
tinggalan manusia, dan tinggalan budayanya. Clark, G & Piggot, S. 1967. Prehistoric
Budaya prasejarah merupakan Society. New York.
refleksi dari kondisi lingkungan dan cara Heekeren, H.R. van. 1972. The Stone Age of
manusia melakukan eksploitasinya. Cara Indonesia. VKI, LXI, second rev.ed.
hidup manusia masa paleolitik sangat The Hague : Martinus Nijhoff.
bergantung kepada alam lingkungannya. Heine Geldern, R. Von. 1945. Prehistoric
Mereka hidup nomaden di tempat yang cukup Research in Netherlands Indies.
persediaan bahan kebutuhan untuk ke- Science and Scientist in The
langsungan hidupnya. Pada masa mesolitik Netherlands Indies : 129-167. New
ditemukan bukti awal penguburan di dalam York.
gua (Budaya Sampung) dan bukit kerang Howell, F.C. 1980. Manusia Purba. Jakarta:
(Sumatra Utara). Mereka juga telah Tira Pustaka.
mengekspresikan rasa estetik dan religius Jacob, T. 1969. Kesehatan di Kalangan
melalui lukisan di tebing dan dinding gua. Manusia Purba. B.I. Ked. Gadjah
Masyarakat pada masa neolitik mulai Mada 1 (2) : 143-157.
menunjukkan tanda-tanda menetap di suatu Leaky, L.S.B. 1960. Adams Ancestors.
tempat, berkelompok membentuk per- Harper Torch Book.
kampungan kecil, serta mengembangkan Movius Jr, H.L. 1948. The Lower Paleolithic
penghidupan baru berupa kegiatan bercocok Cultures of Southern and Eastern
tanam sederhana dan domestikasi hewan Asia. Transaction of American
30 SEJARAH DAN BUDAYA, Tahun Ketujuh, Nomor 2, Desember 2013

Philosophical Society 38 (4) : 329- _______. 2010. Zaman Prasejarah di


340. Philadelphia: The American Indonesia. Sejarah Nasional
Philosophical Society. Indonesia I. Jakarta : Balai Pustaka.
Sartono, S. 1983. Pulau Jawa: dari Segi Wertime, T,A. 1973. The Beginnings of
Evolusi Manusia. PIA III: 927-954. Metallurgy : A New Look. Science
Jakarta: Puslitarkenas. 182 (4115) : 875-886.
Soejono, R.P. 2000. Tinjauan tentang Widianto, H. 1980. Hubungan antara
Pengkerangkaan Prasejarah Pithecanthropus erectus dan
Indonesia. Aspek-aspek Arkeologi Meganthropus paleojavanicus
Indonesia No. 5. Jakarta : Pusat Ditinjau dari Segi Fisik dan
Arkeologi. Kulturilnya. Makalah tidak
diterbitkan. Yogyakarta: Jur
Arkeologi FS-UGM.