Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PELATIHAN PERAWAT ASISTEN ANESTHESI

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PADA AN. F USIA


7 TAHUN DENGAN APPENDISITIS AKUT DILAKUKAN
APPENDIKTOMI DENGAN ANESTHESI GENERAL
DI RUANG OK 2 IRD RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG

Oleh :
Stya Budi Marlinawati, Amd.Kep

Pembimbing :
Nurhadi, Amd.Kep

INSTALASI ANESTHESIOLOGI & RAWAT INTENSIF


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SAIFUL ANWAR
JL. JAKSA AGUNG SUPRAPTO NO.2
MALANG
2017
BAB I

PENDAHULUAN

Anesthesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari berbagai


tindakan meliputi pemberian anestesi, penjagaan keselamatan penderita yang
mengalami pembedahan, pemberian bantuan hidup dasar, pengobatan intensif
pasien gawat, terapi inhalasi dan penanggulangan nyeri menahun. Bersama-sama
cabang kedokteran lain serta anggota masyarakat ikut aktif mengelola bidang
kedokteran gawat darurat.

Pasien yang akan menjalani anesthesia dan pembedahan (elektif atau


darurat) harus dipersiapkan dengan baik. Pada prinsipnya dalam penatalaksanaan
anestesi pada suatu operasi terdapat beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu
praanesthesi yang terdiri dari persiapan mental dan fisik pasien, perencanaan
anesthesia, menentukan prognosis dan persiapan pada hari operasi dilakukan.
Tahap penatalaksanaan anestesi yang terdiri dari premedikasi, masa anesthesi dan
pemeliharaan. Serta tahap pemulihan dan perawatan pasca anestesi.

Appendisitis merupakan peradangan pada appendiks. Bila diagnosis sudah


pasti, maka terapiyang paling tepat dengan tindakan operatif, yang disebut
appendiktomi. Penundaan operasi dapat dapat menimbulkan bahaya, antara lain
abses atau perforasi. appendiks akut termasuk operasi emergensi. Pada operasi
emergensi, kondisi pasien harus disiapkan seoptimal mungkin. Persiapannya sama
seperti operasi elektif, hanya segala sesuatunya dilakukan saat itu juga. Operasi
intra abdominal paling baik dilakukan dengan anesthesia umum endotrakeal.
BAB II

TINJAUAN TEORI

I. APPENDISITIS

I.I. DEFINISI

Appendisitis akut adalahperadangan pada appendiks vermiformis


yang terjadi secara akut. Appendiks merupakan tabung panjang, sempit
(sekitar 6-9 cm), menghasilkan lendir 1-2 ml/hari. Lendir itu secara normal
dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya dialirkan ke sekum. Bila da
hambatan dalam pengaliran lendir tersebut maka dapat mempermudah
timbulnya appendicitis. Hingga saat ini fungsi appendiks belum diketahui
dengan pasti.

I.II. ETIOLOGI

Appendisitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri.


Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya penyakit lainnya,
diantaranya obstruksi yang terjadi pada lumen appendiks. Obstruksi pada
lumen biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras
(fekalit), hyperplasia jaringan limfoid, parasit, benda asing dalam tubuh,
dan neoplasma. Yang paling sering menyebabkan obstruksi lumen
appendiks adalah fekalit dan hiperplasiajaringan limfoid.

I.III. PATHOFISIOLOGI

Appendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen


appendiks oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur
karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya atau neoplasma. Obstruksi
tersebut menyebabkan mucus yang diproduksi mengalami bendungan.
Makin lama mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding
appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan
intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran
limfe yang menyebabkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa.
Pada saat inilah terjadi appendicitis akut fokal yang ditandai dengan nyeri
epigastrium.

Bila sekresi mucus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat.


Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan
bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan
mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di kuadran
kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan appendicitis supuratif akut. Bila
kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding appendiks
yang diikuti dengan gangrene. Stadium ini disebut dengan appendicitis
gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan
terjadiappendisitis perforasi.

Bila semua proses berjalan lambat, omemtum dan usus yang


berdekatan akan bergerak ke arah appendiks sehingga timbul suatu massa
local yang disebut infiltrate appendikularis. Peradangan appendiks tersebut
dapat menjadi abses atau menghilang.

Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan appendiks


lebih panjang, dinding appendiks lebih tipis. Keadaan tersebutditambah
dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya
perforasi. Nyeri dari visera seringkali secara bersamaan dilokalisasi di dua
daerah permukaan tubuh karena nyeri dijalarkan melaui nyeri alih visceral
dan nyeri langsung parietal.

Impuls nyeri yang berasal dari appendiks akan melewati serabut-


serabut nyeri visceral saraf simpatik dan selanjutnya akan masuk ke
medulla spinalis kira-kira setinggi torakal X sampai thorakal XI dan
dialihkan kedaerah sekeliling umbilicus (menimbulkan rasa pegal dank
ram). Di mulai diperitonium parietal tempat appendiks meradang yang
melekat pada dinding abdomen. Ini menyebabkan nyeri tajam di
peritoneum yang teriritasi di kuadran kanan bawah abdomen.
I.IV GAMBARAN KLINIS

Ada beberapa gejala awal yang khas yakni nyeri yang dirasakan
secara samar didaerah sekitar pusar (umbilicus/periumbilikus) yang
berhubungan dengan muntah. Kemudian nyeri itu akan berpindah ke perut
kanan bawah dengan tanda-tanda yang khas pada appendiks akut yaitu
nyeri pada titik Mc Burney. Nyeri perut ini akan bertambah sakit apabila
terjadi pergerakan seperti batuk, bernafas dalam, bersin dan di sentuh
daerah yang sakit. Nyeri saat batuk kemungkinan disebabkan oleh
peningkatan tekanan intra abdomen. Nyeri yang bertambah saat terjadi
pergerakan disebabkan karena adanya gesekan antara visera yang
meradang sehingga menimbulkan rangsangan peritoneum.

Selain nyeri, gejala akut lainnya adalah demam derajat rendah,


mules, konstipasi, atau diare, perut membengkak, dan ketidakmampuan
memgeluarkan gas. Peradangan pada appendiks dapat merangsang
peningkatan peristaltic dari usus sehingga dapat menyebabkan diare.
Infeksi dari bakteri akan dianggap sebagai benda asing oleh mukosa usus
sehingga secara otomatis usus akan berusaha mengeluarkan bakteri
tersebut melalui peningkatan peristaltic.

I.V. PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG

Pemeriksaan fisik :Inspeksi : pada appendiks akut sering


ditemukan abdominal swelling, sehingga pada inspeksi bisa ditemukan
distensi perut. Palpasi : pada daerah perut kanan bawah seringkali bila
ditekan akan terasa nyeri dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri.
Nyeri perut kanan bawah merupakan kunci dari diagnosis appendiksitis
akut.Pemeriksaan colok dubur juga bisa menentukan letak appendiks bila
sulit diketahui. Jika saat dilakukan colok dubur timbul nyeri maka
kemungkinan appendiks penderita terletak di daerah pelvis.

Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan laboratorium dan radiologi.


Pemeriksaan darah lengkap dan test protein reaktif (CRP), jumlah leukosit
diatas 10.000, neutrofil diatas 75 %, Serum meningkat pada 6-12 jam
setelah inflamasi jaringan. Pemeriksaan CT Scan ditemukan bagian yang
menyilang dengan appendicalith serta perluasan dari appendiks yang
mengalami inflamasi serta adanya pelebaran dari sakkum. Pada
Ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat yang
mengalami inflamasi pada appendiks.

I.VI. PENATALAKSANAAN

Bila diagnosis sudah pasti, maka terapi yang paling tepat adalah
tindakan operatif. Ada dua tindakan teknik operasi yaitu :

1. Operasi terbuka

2. Laparoskopi

II. ANESTHESI UMUM

II.I. DEFINISI

Anesthesi umum (general anesthesia) adalah suatu keadaan tidak


sadar yang bersifat sementara yang diikuti oleh hilangnya rsa nyeridi
seluruh tubuh akibat pemberian obat anestesi. Untuk mewujudkan trias
anestesi yakni sedasi / hipnotik analgesi dan relaksasi dapat diberikan obat
anestesi tunggal maupun kombinasi, inhalasi maupun parenteral. Pada
kasus ini anesthesia yang digunakan adalah anestesi umum yaitu
meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat
reversible.

Dalam memberikan obat-obat anestesi pada pasien perlu


diperhatikan tujuannya yaitu premedikasi, induksi, maintenance dan lain-
lain. Obat anestesi yang masuk ke pembuluh darah / sirkulasi kemudian
menyebar ke jaringan. Organ yang pertama terpengaruh obat anestesi
adalah jaringan yang kaya akan pembuluh darah seperti otak, sehingga
kesadaran menurun / hilang, hilangnya rasa sakit dan sebagainya. Perlu
mengetahui adanya stadium anestesi untuk menentukan stadium terbaik
pembedahan itu dan mencegah terjadinya kelebihan dosis. Stadium dalam
anestesi meliputi :

A. Stadium I : Analgesia dari mulainya induksi anestesi


hingga hilangnya kesadaran.

B. Stadium II : Excitement, dari hilangnya kesadaran hingga


mulainya respirasi teratur, mungkin terdapat batuk
kegelisahan atau muntah.

C. Stadium III : dari mulai respirasi teratur hingga


berhentinya respirasi, Dibagi 4 Plane :

1. Plane 1 : dari timbulnya pernafasan teratur


hingga berhentinya pergerakan bola mata.

2. Plane 2 : dari tidak adanya pergerakan bola


mata hingga mulainya paralisis interkostal.

3. Plane 3 : dari mulainya paralisis interkostal


hingga total paralisis interkostal.

4. Plane 4 : dari kelumpuhan interkostal


hingga paralisis diafragma.

D. Stadium IV : overdosis, dari timbulnya paralisis diafragma


hingga cardiac arrest.

Persiapan Pra Anestesi

Tujuannya adalah : mempersiapkan mental dan fisik secara optimal,


merencanakan dan memilih teknik serta obat-obat anestesi yang sesuai
dengan fisik dan kehendak pasien, menentukan status fisik dengan
klasifikasi ASA I,II,III,IV dan ASA V, untuk operasi cito, ASA ditambah
huruf E (Emergensi) tanda darurat. Pada kasus ini pasien termasuk ASA 3
E( Emergency).
Macam macam teknik anestesi yang dapat digunakan : Open Drop
Method, Semi Openen drop method, semi closed method, dan closed
method. Pada kasus ini menggunakan teknik closed method.

Premedikasi Anestesi : pemberian obat sebelum anestesi dengan tujuannya


yaitu : memberikan rasa nyaman bagi pasien, missal diazepam,
menghilangkan rasa khawatir (diazepam), membuat amnesia (midazolam,
diazepam), memberikan analgesia ( pethidine), mencegah muntah
(droperidol), memperlancar induksi (pethidin), mengurangi jumlah obat
anestesi( pethidine), menekan reflek-reflekyang tidak diinginkan (sulfas
atropine), mengurangi sekresi kelenjar saluran nafas (SA dan hiosin).
Obat-Obat premedikasi

a. Sulfas Atropin : termasuk golongan obat antikolinergik,


berguna untuk mengurangi sekresi lendir, menurunkan efek
bronchial dan kardial yang berasal dari perangsangan
parasimpatis akibat obat anestesi / tindakan operasi, efek
lainnya yaitu melemaskan otot polos, mendepresi vagal
reflek, menurunkan spasme gastrointestinal, dan
mengurangi rasa mual serta muntah, obat ini juga
menimbulkan rasa kering dimulut, penglihatan kabur, maka
lebih baik tidak diberikan pra anestesi local maupun
regional. Dalam dosis toksik dapat menyebabkan gelisah,
delirium, halusinasi, dan kebingungan pada pasien,tetapi
hal ini dapat diatasi dengan pemberian prostigmin1-2 mg
IV.

Sediaan : dalam bentuk sulfas atropine dalam ampule 0,25


dan 0,5 mg

Dosis : 0,01 mg/kgBB.

Pemberian : SC, IM, IV


b. Pethidine : merupakan narkotik yang sering digunakan
untuk premedikasi, keuntungannya adalah memudahkan
induksi, mengurangi kebutuhan obatanestesi, menghasilkan
analgesia pra dan pasca bedah, memudahkan melakukan
pemberian pernafasan buatan, dan dapat diantagonis
dengan nalokson. pethidine dapat menyebabkan
vasodilatasi perifer, sehingga dapat menyebabkan hipotensi
orthostatic , depresi pusat pernafasan, mual-muntah.

Sediaan : dalam ampule 100 mg/2cc

Dosis : 1mg/kgBB

pemberian : IV, IM

c. Midazolam : merupakan golongan imidazo-benzodiazepine,


bekerja dengan cepat menekan SSP, midazolam berikatan
dengan reseptor benzodiazepine yang terdapat diberbagai
area di otak seperti di medulla spinalis, batang otak,
serebelum sistem limbic, serta korteks serebri, efek induksi
sekitar 1,5 menitsetelah pemberian IV bila sebelumnya
diberikan obat narkotik 2-2,5 menit tanpa premedikasi
narkotik sebelumnya, midazolam diindikasikan pada
premedikasi sebelum induksi anestesi, basal sedasion
sebelum tindakan diagnostic, / pembedahan yang dilakukan
dibawah anestesi lokalserta induksi dan pemeliharaan
selama anestesi, kontraindikasinya pada keadaan sensitive
terhadap golongan benzodiazepine, pasien dengan
insufisienssi pernafasan, accut narrow angle glaucoma.

Dosis dewasa : 0,07-0,1 mg/kgBB secara IM lazimnya


diberikan 5 mg.

Dosis pasien geriatric 0,025-0.05 mg/kgBB. Untuk basal


sedasion pada dewasa tidak melebihi 2,5 mg IV 5-10 menit
sebelum permulaan operasi, pada orang tua dosis harus
diturunkan 1-1,5 mg dengan total dosis tidak melebihi 3,5
mg IV.

Midazolam memiliki efek samping : efek yang berpotensi


mengancam jiwa; midazolam dapat mengakibatkan depresi
pernafasan dan kardiovaskuler, iritabilitas pada
ventrikeldan perubahan pada control baroreflek dari denyut
jantung; Efek yang berat dan irreversible; selain depresi
SSP yang berhubungan dengan dosis, tidak pernah
dilaporkan efek samping yang irreversible; efek samping
simtomatik; agitasi, involuntary movement, bingung,
pandangan kabur, nyeri pada tempat suntiakan,
tromboflebitis, thrombosis.

Midazolam dapat berinteraksi dengan obat alcohol, opioid,


simetidine dan ketamine.

Induksi

Propofol adalah campuran 1% obat dalam air dan


emulsiyang berisi 10% soya bean oil, 1,2% phospatide telur, 2,25%
glysero. Dosis yang dianjurkan 2,5 mg/kgBB untuk induksi tanpa
premedikasi. Pemberian IV propofol (2mg/kgBB) menginduksi
anestesi secara cepat. Rasa nyeri kadang-kadang terjadi di tempat
suntikan, tetapi jarang disertai phlebitis atau thrombosis. Anestesi
dapat dipertahankan dengan infuse propofolyang
berkesinambungan dengan opiate, N2O dan atau obat anestetik
inhalasi lainnya. Propofol menurunkan tekanan arteri sistemikkira-
kira 80% tetapi efek ini disebabkan karena vasodilatasi perifer
daripada penurunan curah jantung, Tekanan sistemik kembali
normal dengan intubasi trachea. Propofol tidak merusak fungsi hati
dan ginjal, Aliran darah keotak, metabolisme otak dan tekanan
intracranial akan menurun. keuntungan propofol bekerja lebih
cepat dari thiopental dan konfusi pasca operasi yang minimal.
Efek samping propofolpada sistem pernafasan adanya depresi
pernafasan, apnea, bronkospasme, dan laringospasme. Pada sistem
cardiovaskuler berupa hipotensi, aritmia, takikardia, bradikardia,
hipertensi. Pada SSP adanya sakit kepala, pusing, euphoria,
kebingungan, kejang, mual dan muntah.

Pemeliharaan

a. Gas O2 : Oksigen adalah gas yang tidak berbau, berasa dan tidak
kelihatan tetapi mempunyai berat dan bentuk dalam
atmhosphere, tekanan atmosphere 760 mmHg, mudah terbakar
makin tinggi dataran makin berkurangkonsentrasi oksigennya,
sebaliknya bila konsentrasi ditingkatkan diharapkan oksigen
yang masuk alveoli juga meningkat, sehingga perfusi oksigen
lebih banyak dalam darah sehingga angkutan oksigen juga
meningkat (PaO2) lebih dari 80 mmHg (8 Kpa). Oksigen
sebagai bahan farmakologis utama untuk individu tertentu,
dalam jumlah, cara, dan durasi tertentu demi meringankan
gejala penyakit dasar, meningkatkan kualitas hidup / berkaitan
dengan prognosis yang lebih baik bila terapi terseebut
diberikan. Indiksi hipoksemia, trauma berat, keracunan gas CO 2
, pasca anestesi dan shivering.

b. Isoflurane : Isofluran (foran,aeran) merupakan halogenasi eter


yang pada dosis anesteti atau subanestetik menurunkan laju
metabolism otakterhadap oksigen, tetapi meninggikan aliran
darah otak dan tekanan intracranial. Peninggian aliran aliran
darah otak dan tekanan intracranial ini dapat dikurangi dengan
tehnik anestesi hiperventilasi, sehingga isofluran banyak
digunakan untuk bedah otak. Efek terhadap depresi jantung dan
curah jantung minimal, sehingga digemari untuk anestesi tehnik
hipotensi dan banyak digunakan pada pasien dengan gangguan
koroner. isoflurane dengan konsentrasi >1% terhadap uterus
hamil menyebabkan relaksasi dan kurang responsive jika
diantisipasi dengan oksitosin, sehingga dapat menyebabkan
perdarahan pasca persalinan. Dosis pelumpuh otot dapat
dikurangi sampai 1/3 dosis biasa jika menggunakan isoflurane.
Isoflurane gas yang membuat iritasi, sadarnya cepat, mahal dan
harumnya kurang.

Pelumpuh Otot

Atracurium Besylate dengan struktur benzilisoquinolin


yang memiliki berberapa keuntungan antara lain bahwa
metabolism di dalam darah (plasma) melalui sutau reaksi yang
disebut eliminasi boffman yang tidak tergantung fungsi hati dan
fungsi ginjal, tidak mempunyai efek kumulasi pada pemberian
berulang, tidak menyebabkan perubahan fungsi kardiovaskuler
yang bermakna. Dosis atracurium untuk intubasi adalah 0,5
mg/KgBB dan dosis pemeliharaan 5-10Mcg/kgBB/menit. Kemasan
2,5 ml dan 5 ml yang berisi 25 mg dan 50 mg atracurium
bensylate. Mula kerja pada dosis intubasi 2-3 menit sedangkan
lama kerjanya pada dosis relaksasi 15-35 menit.

Intubasi Endotrakheal

Suatu tindakan memasukkan pipa khusus ke dalam trachea


sehingga jalan nafas bebas hambatan dan nafas mudah
dikendalikan. Bertujuan untuk : mempermudah pemberian anestesi,
mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas, mencegah
kemungkinan aspirasi lambung, mempermudah penghisapan secret
tracheobronkhiale, pemakaian ventilasi yang lama, dan mengatasi
obstruksi laring akut.

Terapi Cairan

Terapi cairan yang diberikan harus mendekati jumlah dan


komposisi cairan yang hilang. Terapi cairan perioperatif bertujuan
untuk : memenuhi kebutuhan cairan, elektrolit dan darah yang
hilang selama operasi, mengatasi syok dan kelainan yang
ditimbulkan karena terapi yang diberikan. Pemberian cairan
operasi dibagi menjadi :

Pra Operasi : dapat terjadi deficit cairan karena kurang


makan, puasa, muntah, penghisapan isi lambung, penumpukan
cairan pada ruang ketiga seperti pada pasien illeus obstriktif,
perdarahan, luka bakar, Kebutuhan cairan untuk dewasa dalam 24
jam adalah 2 ml/ KgBB/Jam. Setiap kenaikan 10 celcius kebutuhan
cairan bertambah 10-15%. Kebutuhan cairan pada anak adalah
80ml/KgBB.

Selama Operasi : Dapat terjadi kehilangan cairan karena


proses operasi. Kebutuhan cairan untuk operasi adalah : Ringan
( 4ml/KgBB/Jam), Sedang (6ml/KgBB/Jam), Berat (8
ml/KgBB/Jam). Bila terjadi perdarahan selama operasi dimana
perdarahan kurang dari 10% EBV maka cukup digantiakan dengan
cairan kristaloid sebanyak tiga kali volume darah yang hilang.

Setelah Operasi : Pemberian cairan pasca operasi


ditentukan berdasarkan deficit cairan selama operasi ditambah
kebutuhan cairan sehari-hari pasien.

Pemulihan : Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan


perawatan pasca operasi dan anestesi yang dilakukan di ruang
recoveryroom, ruang puih sadar merupakan batu loncatan sebelum
pasien dipindahkan kebangsal / ruangan atau masih memerlukan
perawatan intensif di ICU, Sehingga pasien pasca anestesi dapat
terhindar dari komplikasi yang disebabkan karena operasi atau
anestesinya.
II.II. PERSIAPAN ALAT

Alat-alat anestesi yang dipakai pada anak berbeda dengan


alat yang dipakai oleh dewasa, karena anatomi dan fisiologi pada
anak berbeda dengan dewasa, juga psikologisnya sangat berbeda,
Epligotis lebih panjang dan kecil berbentuk seperti U tidak rata dan
membentuk sudut 450 dengan dinding faring,bagian tersempit dari
trachea kira-kira setinggi os cricoid , sehingga pada waktu intubasi
sering kesulitan memasukkan tube / ETT. Ukuran ETT yang
digunakan untuk anak-anak dengan BB < 20 kg yaitu dengan
rumus (Umur + 2) / 2. Misal hasilnya 5 maka harus disiapkan
ukuran 4,5;5; dan 5,5. Untuk ukuran blade gunakan ukuran nomer
2.

II.III. TEHNIK PELAKSANAAN

Tehnik pelaksanaan anestesi pada anak dapat diberikan


dengan cara : parenteral, inhalasi, kombinasi enteral dan inhalasi,
regional anestesi

II.IV. OBSERVASI DURANTE ANESTHESI

Monitoring durante operasi dengan menggunakan alat


anestesi modern untuk melakukan pengamatan tensi, nadi,
respirasi, dan saturasi, dokter hanya mengatur frekwensi yang
diinginkan, biasanya pengamatan dilakukan setiap 5 menit, kecuali
kalau ada hal-hal yang penting dapat dipercepat. Selain itu juga
memonitoring jumlah cairan yang masuk dan yang keluar dari
pasien.

II.V. KOMPLIKASI

Komplikasi yang sering terjadi pada anestei umum adalah :


cedera dilokasi penyuntikan, infeksi, gangguan pernafasan,
kerusakan saraf jangka pendek, reaksi alergi, cedera pada mulut,
gigi, bibir / lidah, kerusakan pita suara / laring, kerusakan paru-
paru, serangan jantung, kerusakan otak, stroke, gagal ginjal, gagal
hati, paraplegia, kuadriplegia.
BAB III

TINJAUAN KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA

Nama pasien An. F, umur 7 tahun, Jenis Kelamin perempuan, Alamat


Perum Tembok Mas 2.87 Pasuruan, No Register 1704915 / 11330081,
Diagnosa Medis Appendisitis Akut Perforata, Ruang rawat IRD, Dokter
Operator dr.Lulik SpBA / dr.Fauzan, Asisten operasi dr.Nin, Perawat
instrument Aprilia, Perawat sirkuler Zubaidah, Dokter Anestesi dr.Arie
Zainul f, SpAn/ dr.Rin, perawat anestesi Rosita, Tindakan Appendiktomi
per laparatomi, Tanggal opersi 15 Febuari 2017, jam mulai operasi 08.15,
jam selesai 09.25 WIB, tanggal pengkajian 15 Febuari 2017.

B. DATA SUBYEKTIF

1. Keluhan Utama : Ibu pasien mengatakan anaknya sakit perut di


daerah ulu hatinya.

2. Riwayat Penyakit sekarang : Ibu pasien mengatakan sekitar 3 hari


SMRS pasien mengeluh sakit perut di ulu hatinya, mual muntah,
demam, makan sedikit, BAB (-) tiga hari, lalu penderita dibawa ke
RSSA pada tanggal 14 Febuari 2017 Jam 22.00 WIB.

3. Riwayat penyakit Dahulu : Riwayat mondok di RS (-), riwayatsakit


serupa (-), riwayat alergi makanan/obat (-), riwayat asma/penyakit
paru (-), riwayat nutrisi sebelumnya pasien sering telat makan dan
susah untuk makan.

C. DATA OBYEKTIF

1. B1 (Breath) : Nafas spontan, airway paten, RR 28x/menit, SpO 2


98% ROOM Air, Mallampati 1, Buka mulut tiga jari, Jarak MH
6cm, Suara nafas vesikuler, Ronhcie (-), Wheezing (-), Nafas
cuping hidung (-), Retraksi dada simetris.

2. B2 (Blood) : Akral hangat kering merah, CRT < 2 detik, HR


124x/menit, S1 S2 tunggal, murmur (-), gallop (-),TD 110/60
mmHg, Suhu 37oC.

3. B3 (Brain) : Kesadaran 4.5.6, GCS 15 sadar penuh / compos


mentis

4. B4 (Bladder) : terpasang DC sebanyak 500 cc

5. B5 (Bowel) : Bising usus menurun, distended abdomen(+), nyeri


tekan perut (+), nyeri didaerah ulu hati, terpasang NGT dialirkan
sebanyak 2,5 cc warna kuning kehijauan.

6. B6 (Bone) : Edema (-), Tonus otot (+) normal, musculoskeletal


normal.

D. STATUS LOKASI

Pasien dengan nyeri perut di daerah uluhati dengan diagnose appendiksitis


akut akan dilakukan appendiktomi per laparatomi dengan insisi 2 jari intra
umbilicus dan irisan manuvers.

E. DATA PENUNJANG

1. Laboratorium Klinik Luar pada tanggal 14 Febuari 2017 :


Leukosit 24000, Trombosit 303.000, Eritrosit 4,44, Hb 12,2,
Hematokrit 37,7 %.

2. Laborat di RSSA pada tanggal 15 Febuari 2017 : SE 129 / 4,53 /


99, Darah lengkapnya yaitu 12,10 / 35,70% / 27.620 / 345.000,
Neutrofil segmen 93,1% / PPT 11,40/10,1(1,10), APTT 26,20/26,8,
SGOT /SGPT 21/9, Albumin 3,98, GDS 45, Ur/Cr 28,4/0,49;
Procalcitonin 7,61; CRP 17,17.
F. KESIMPULAN

Pada pasien An. F dengan keluhan utama nyeri perut di uluhati,


dengan diagnose appendicitis akut, ddidapatkan TD 110/60 mmHg, Nadi
124x/menit Suhu 37oC, RR 28x/menit, BB 20 Kg, dan terdapat nyeri tekan
di daerah umbilicus.

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan data : SE 129 / 4,53 / 99,


Darah lengkapnya yaitu 12,10 / 35,70% / 27.620 / 345.000, Neutrofil
segmen 93,1% / PPT 11,40/10,1(1,10), APTT 26,20/26,8, SGOT /SGPT
21/9, Albumin 3,98, GDS 45, Ur/Cr 28,4/0,49; Procalcitonin 7,61; CRP
17,17 akan dialkukan appendiktomi dengan general anestesi.

Adapun masalah dalam anestesi yaitu: Pediatrik; Sepsis (Nadi


124x/menit, RR 28x/menit, Leukosit 27.620, CRP 17,17,
Procalcitonin7,61); Hipoglikemi E.c sepsis & intake yang kurang;
Hiponatremi; Kegawatan Bedah (+); dan Status Fisik Pasien termasuk
kedalam ASA III E (Emergency).

Rehidrasi NaCl 20 cc/KgBB = 400 cc dan Koreksi D10 % 50 cc sudah


diberikan sebelum anestesi dilakukan.

G. RENCANA ANESTESI

1. Persiapan Operasi : Persetujuan operasi (+); Periksa TTV; puasa 6


jam sebelum operasi atau dipasang NGT dialirkan; Oksigenasi 2-3
lpm; Infus dua jalur tangan kanan dan tangan kiri, RL 12
tetes/menit yang kiri off.

2. Jenis anestesi : General anestesi

3. Tehnik Anestesi Closed inhalasi dengan Endotrakheal Tube No 5

4. Premedikasi : Metocloperamide 10 mg IV , Dexamethasone 3 mg


dan Midazolam 1mg IV

5. Induksi : Propofol 60 mg IV dan propofol 10 mg.


6. Analgesia : Fentanyl 50 mcg, fentanyl 25 mcg, antrain 500 mg, dan
antrain 200 mg.

7. Maintenance : Isoflurane 1,5 vol % dan O2 3 lpm.

8. Pelumpuh Otot : Atracurium 15 mg dan atracurium 5 mg.

9. Monitoring : TTV selama operasi tiap 5 menit, kedalaman anestesi,


cairan dan perdarahan.

10. Pengawasan pasca anestesi di ruang pulih sadar.

H. TATA LAKSANA ANESTESI

1. Di ruang persiapan : dilakukan pemeriksaan kembali identitas


penderita, persetujuan operasi, lama puasa, lembar konsul anestesi,
obat-obatan dan perlengkapan yang diperlukan; Pemeriksaan TTV
TD 110/60 mmHg, Nadi 124x/menit Suhu 37oC, RR 28x/menit,
BB 20 Kg; pasang infuse dua jalur RL 12 tetes/menit.

2. Di Ruang Operasi :

a. Jam 08.05 pasien ditidurkan di meja ok 2 IRD dengan


posisi terlentang / supine, dilakukan premedikasi
pemberian Midazolam 1 mg IV, kemudian chest lead
dipasang , manset dipasang pada lengan tangan kiri,
saturasi dipasang dijari telunjuk tangan kanan, plate
diatermi dilengan tangan kanan.

b. Jam 08.10 dilakukan induksi dengan propofol 60 mg IV


lalu kepala diekstensikan, face mask didekatkan pada
hidung dengan O2 3 lpm, setelah reflek bulu mata
menghilang, dimasukkan atracurium 15 mg IV, tampak
fasikulasi otot, sesudah tenang dilakukan intubasi
dengan orotrachea no 5, setelah terpasang baik
dihubungkan dengan currogated / mesin anestesi untuk
mengalirkan O2 3 lpm, untuk maintenance digunakan
isoflurane 1,5 vol%, Infus RL sekitar 20 tetes / menit

c. Jam 08.15 anestesi sudah cukup dalam ( nafas teratur ,


pupil terfiksasi sentral dan midriasis, ahli bedah
dipersilahkan memulai operasi, selama operasi
dimonitor TTV dan SpO2 nya tiap 10 menit.

d. Jam 09.15 operasi hampir selesai, isoflurane dimatikan


O2 dinaikkan 6 lpm, valve dipindah di spontan/ manual.

e. Jam 09.25 operasi selesai.

I. MONITORING INTRA ANESTESI

Anestesi mulai jam 08.05 WIB

Operasi mulai jam 08.15 WIB

Tabel 1.1

Jam Tensi Nadi SaO2 Keterangan

08.05- 122/77 112x 99% Midazolam 1 mg, induksi


08.10 propofol 60 mg fentanyl 50
mcg, atracurium 15 mg,
intubasi ETT no 5 Fixsasi
(+), OPA (+), Sleep
apneu,dexa 3 mg, antrain
500 mg

08.15 115/60 110x 99% Operasi segera dimulai,


Fentanyl 25 mg IV, infuse
dua jalur ka:RL dan ki: NaCl
monitoring TTV tiap 10
menit

08.25 117/59 104x 100%


08.35 112/60 110x 100%

08.45 119/72 92x 100%

08.55 118/71 93x 100%

09.05 121/72 92x 100% Antrain 200mg, Propofol 10


mg, Atracurium 5 mg

09.15 112/64 84x 100%

09.25 109/61 82x 100%

Anestesi selesai jam 09.15 WIB

Operasi selesai jam 09.25WIB

J. DIRUANG PEMULIHAN

Jam 09.30 pasien dipindah ke ruang RR IRD dalam keadaan posisi


terlentang, kepala diekstensikan, diberikan O2 2-3 lpm, lendir dihisap dan
TTV dimonitoring tiap 10 menit. Jam 09.55 pasien sadar penuh,jam 10.00
pasien dipindah keruang bangsal Ruang 15. Selama di ruang RR TTv
dalam batas normal dan stabil dengan hasil TD 106/75mmHg, Nadi
80xmenit, SaO2 100%.

K. PENGKAJIAN PRE ANESTESI

Keadaan Umum : compos mentis; pasien tampak lemas dan ketakutan


ketika didekati perawat, sambil menangis pasien diperiksa didapatkan TTV :
TD 110/60 mmHg, Nadi 124x/menit Suhu 37oC, RR 28x/menit, BB 20 Kg,
dan terdapat nyeri tekan di daerah umbilicus; Pernafasan spontan Surat ijin
Operasi (+); Gigi palsu cat kuku (-); Perhiasan (-), terpasang DC urine
500cc, Hasil lab(+); infuse RL 12 tts/mnt; Obat yang telah diberikan
Metocloperamide 10 mg Iv, Ceftriaxone 1 gr, Metronidazole 500 mg, OMZ
40 mg, pasien tidak pernah operasi.

L. DIAGNOSA KEPERAWATAN PRE ANESTESI

1. Resiko terjadi injuri berhubungan dengan transfer dan transport


(perpindahan dan pengangkutan).
Intervensi : Bantu pasien untuk berpindah dari brancart ke
brancart ok, angkat pasien dari brancart ok ke meja operasi
dengan 3 atau 4 orang, membawa pasien ke ruang ok
dengan hati-hati dan selamat.

Evaluasi : Pasien tidak terjadi injuri saat perpindahan dan


pengangkutan.

2. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan dan stress


pembedahan.

Intervensi : Berikan dan jelaskan pada orang tua tentang


identifikasi kebutuhan, Jelaskan bahwa operasi ini sudah
sering dilakukan dan ditangani oleh tim ahli, Jelaskan
rangkaian kegiatan dan kejadian rutin.

Evaluasi : Pasien tidak tampak cemas dan orang tua


mengatakan paham terhadap prosedur urutan kegiatan.

M. PENGKAJIAN INTRA ANESTESI

Anestesi mulai jam 08.05 - 09.15, Pembedahan mulai jam 08.15


09.25, Jenis pembiusan general anestesi dengan intubasi, Posisi infuse taka
dan taki, Posisipembedahan supine, Jenis operasi bersih, golongan operasi
emergency, Plate diatermi dilengan kanan, pemeriksaan sebelum dan
sesudah utuh, monitor dan mesin anestesi stanbay, Jaringan PA (+),
Keseimbangan cairan dan elektrolit :

BB 20 Kg , Hb 12,2 gr/dl, EBV (20x80=1600cc), M=60cc/jam, O 3


=60cc/jam, M+O= 120 cc/Jam, ABL dengan target Hb 10 (12,2-10x1600
cc )/12,2= 288, EBL 20% = 320cc, ABL 10% 1600cc= 160 cc.

Tabel 1.2

Keterangan Jam I
Input
Kristaloid 500/
Koloid
Darah
Output
Urine 300/800
M+O 120
Perdarahan 100/
NGT 10 cc/-
Balance Cairan -30 cc

N. DIAGNOSA KEPERAWATAN INTRA OPERATIF

DO : akral dingin, perdarahan 100 cc,Urine 300 cc, mata cowong(-),


Anemis (-)

1. Potensial kekurangan cairan b.d perdarahan

Intervensi : monitor TTV, Observasi kelancaran infuse,


monitor produksi urin tiap jamnya.

Evaluasi : tidak terjadi dehidrasi, cairan masuk sesuai


dengan program yang diberikan

2. Resiko pola nafas tidak efektif b.d penumpukan scret yang


banyak disekitar pipa ET.

Intervensi : Monitor TTV, Monitor Saturasi oksigen,


monitor EKG, monitor tetesan infuse.

Evaluasi : Tidak terjadi gangguan pola nafas.

O. PENGKAJIAN POST ANESTESI

DO : Kesadaran mulai pulih perlahan-lahan, secret pada mulut,pasien


gelisah dan berontak(gerakan fleksi abnormal).
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d akumulasi secret di mulut.

Intervensi : Pantau Frekuensi pernafasan, kedalaman


dan kerja otot diafragma, kaji adanya dispnea, ronchie /
wheezing, lakukan suction di mulut dan trachea.

Evaluasi : Nafas lancar dan tidak ada sesak maupun


ronchi/ wheezing.

2. Resiko injuri (jatuh dan terlepasnya alat infuse) b.d kesadaran


yang belum pulih sempurna.

Intervensi : Jaga pasien dari jatuh dan bberikan strain


pada ekstremitas selama belum sadar penuh, Observasi
TTV, Observasi tetesan infuse, Pasang pelindung pada
tempat tidur/brancart.

Evaluasi : Pasien aman dan tidak jatuh.