Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I

PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan dalam


konsentrasi larutan, sedangkan proses pencampuran zat terlarut dan pelarut
membentuk larutan disebut pelarutan. Banyak fenomena yang terjadi pada proses
pelarutan, salah satu contohnya saat kita melarutkan gula atau garam dalam air. Zat-
zat yang ada disekitar kita ada yang masih berbentuk padatan, gas atau larutan namun
memiliki konsentrasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Untuk mendapatkan larutan
dengan konsentrasi yang dibutuhkan dapat dilakukan dengan cara pelarutan.

Percobaan ini dilakukan dengan langkah pertama yaitu membuat larutan


NaOH dengan variable konsentrasi yaitu 0,25N; 0,5N; 0,75N; 1; 1,25N ke dalam
beaker glass dengan volume 200 ml dan menghitung densitasnya. Timbang zat padat
dengan berat 4 gram dan dimasukkan dalam beaker glass berisi pelarut (larutan NaOH)
secara perlahan. Lakukan proses pengadukan dengan waktu pengadukan 5 menit
dengan menggunakan magnetic stirrer. Timbang kertas saring kosong. Lalu saring
larutan setelah proses pengadukan, sehingga fase padat yang tersisa terpisahkan
dengan fase cair. Hitung densitas fase cair (filtrat yang telah lolos dalam proses
penyaringan). Fase padat dioven sampai benar- benar kering dan timbang berat
padatannya. Ulangi percobaan sesuai dengan variabel percobaan yang ditentukan.

Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui besarnya zat terlarut yang
dapat larut dalam sebuah pelarut. Selain itu untuk menentukan besarnya recovery
dalam suatu bahan pada proses pelarutan padat cair. Serta untuk mengetahui besarnya
densitas sebelum dan sesudah proses pelarutan, sehingga dapat diketahui
perbedaannya.

1. 2 Tujuan

1. Untuk mengetahui besarnya zat terlarut yang dapat larut dalam sebuah pelarut.
2. Untuk menentukan besarnya recovery dalam suatu bahan pada proses pelarutan
padat cair.
3. Untuk mengetahui besarnya densitas sebelum dan sesudah proses pelarutan
1. 3 Manfaat

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 1
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

1. Agar praktikan dapat mengetahui faktor- faktor yang berpengaruh dalam proses
pelarutan padat- cair
2. Agar praktikan dapat mengetahui hubungan antara persen recovery dengan berat
awal
3. Agar praktikan dapat mengetahui dan memahami mekanisme kelarutan

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 2
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Secara Umum

Larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Zat
yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau solute,
sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut
pelarut atau solvent. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan
dalam konsentrasi larutan, sedangkan proses pencampuran zat terlarut dan pelarut
membentuk larutan disebut pelarutan atau solvasi.

Pada proses pelarutan, tarikan antar partikel komponen murni terpecah dan
tergantikan dengan tarikan antara pelarut dengan zat terlarut. Terutama jika pelarut
dan zat terlarut sama-sama polar, akan terbentuk suatu sruktur zat pelarut mengelilingi
zat terlarut, hal ini memungkinkan interaksi antara zat terlarut dan pelarut tetap stabil.

Bila komponen zat terlarut ditambahkan terus-menerus ke dalam pelarut,


pada suatu titik komponen yang ditambahkan tidak akan dapat larut lagi. Misalnya,
jika zat terlarutnya berupa padatan dan pelarutnya berupa cairan, pada suatu titik
padatan tersebut tidak dapat larut lagi dan terbentuklah endapan. Jumlah zat terlarut
dalam larutan tersebut adalah maksimal, dan larutannya disebut sebagai larutan jenuh.
Titik tercapainya keadaan jenuh larutan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor
lingkungan.

Kelarutan merupakan massa 1 gram zat terlarut dalam 1 liter zat pelarut atau
dapat juga kelarutan diartikan sebagai kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut
(solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah
maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Larutan
hasil disebut larutan jenuh. Zat-zat tertentu dapat larut dengan perbandingan apapun
terhadap suatu pelarut. Contohnya adalah etanol di dalam air.

Pelarut umumnya merupakan suatu cairan yang dapat berupa zat murni
ataupun campuran. Zat yang terlarut, dapat berupa gas, cairan lain, atau padat.
Kelarutan bervariasi dari selalu larut seperti etanol dalam air, hingga sulit terlarut,
seperti perak klorida dalam air. Istilah "tak larut" (insoluble) sering diterapkan pada
senyawa yang sulit larut, walaupun sebenarnya hanya ada sangat sedikit kasus yang
benar-benar tidak ada bahan yang terlarut. Dalam beberapa kondisi, titik

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 3
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

kesetimbangan kelarutan dapat dilampaui untuk menghasilkan suatu larutan yang


disebut lewat jenuh (supersaturated) yang metastabil.

Konsentrasi dapat diartikan sebagai ukuran yang menentukan banyaknya zat


yang berada di dalam suatu campuran dan dibagi dengan volume total pada campuran
tersebut. Biasanya konsentrasi dinyatakan pada satuan fisik, seperti halnya satuan
volume, satuan kimia, ataupun satuan berat seperti mol, ekuivalen dan massa rumus.

Proses Perpindahan massa sangat penting dalam bidang ilmu pengetahuan


dan teknik. Perpindahan massa terjadi pada komponen dalam campuran berpindah
dalam fase yang sama atau dari fase satu ke fase yang lain karena adanya perbedaan
konsentrasi.
Koefisien perpindahan massa dinyatakan sebagai laju perpindahan massa
dibagi volume packing yang disebut sebagai koefisien perpindahan massa overall
volumetrik .
Laju perpindahan massa per satuan luas dinyatakan sebagai berikut :
NA = Kc (CA- CA*).(1)
Dimana :
NA = laju perpindahan massa persatuan luas (mol/m2)
Kc = koefisien perpindahan massa
Ca = konsentrasi pelarut (mol/ml)
Ca* = konsentrasi larutan (mol/ml)
Pencampuran adalah suatu operasi yang bertujuan untuk mengurangi
ketidaksamaan komposisi, suhu, atau sifat yang lain yang terdapat dalam suatu bahan
atau bisa juga pencampuran adalah penggabungan dua atau lebih bahan yang berbeda
fase, seperti fluida atau padatan halus dan hal ini bertujuan untuk mengacak yang satu
terhadap yang lain sehingga terjadi distribusi. Pencampuran dapat menimbulkan gerak
didalam bahan itu yang menyebabkan bagian-bagian bahan saling bergerak satu
terhadap yang lainnya, sehingga operasi pengadukan hanyalah salah satu cara operasi
pencampuran. Istilah pencampuran digunakan untuk berbagai ragam operasi, dimana
derajat homogenitas bahan yang bercampur itu sangat berbeda.

( Redypta, 2015 )

Banyak operasi proses yag berhasil dan efektif dalam menghomogenkan


padatan dan cairan yaitu agitasi dan mixing. Agitasi dan mixing adalah dua proses
dengan tujuan sama tetapi berbeda caranya. Agitasi mengacu pada gerakan diinduksi
bahan dalam ditentukan, cara, biasanya dalam pola sirkulasi dalam semacam wadah.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 4
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

Sedangkan mixing adalah distribusi acak ke dalam dan melalui satu sama lain, dari
dua atau lebih awalnya fase terpisah, bahan homogen tunggal seperti air dingin, tankful
dapat gelisah, tetapi tidak dapat dicampur sampai beberapa bahan lainnya (seperti
kuantitas air panas atau padat bubuk ) yang ditambahkan kedalamnya. Pencampuran
istilah diterapkan untuk berbagai operasi, berbeda secara luas di tingkat homogenitas
bahan campuran. Pertimbangkan, dalam satu kasus dua gas yang dibawa bersama sama
dan tercampur rata dan dalam kasus kedua pasir, kerikil, semen, dan air jatuh di drum
berputar untuk waktu yang lama. Dalam kedua kasus produk akhir dikatakan
dicampur. Namun produk yang jelas tidak sama homogen. Sampel dari campuran gas
bahkan sangat kecil sampel semua memiliki kompos yang sama.

( McCabe, 1993 )

Proses pengadukan (agitation) menunjukkan usaha yang menghasilkan


gerakan materi menurut cara tertentu (dengan arah dan pola tertentu) pada suatu bahan
di dalam bejana, dimana gerakan itu biasanya mempunyai semacam pola sirkulasi.
Sedangkan proses pencampuran (mixing) merupakan peristiwa menyebarnya bahan-
bahan secara acak, dimana bahan yang satu menyebar ke bahan yang lain. Dan
sebaliknya, sedangkan bahan-bahan itu sebelum terpisah dalam dua fase atau lebih.
Mixer dan agiator memiliki fungsi yang sama, tetapi agiator menjalankan
banyak fungsi tambahan, memasukkan partikel zat padat dalam fluida untuk leaching
atau reaksi, dispersi gas sebagai penggelembung dalam liquida, emulsifikasi suatu
liquida terhadap media liquida yang lainnya, dll. Pencampuran adalah sub bagian dari
penjelasan diatas tersebut, dan merupakan blending komponen yang terpisah dengan
arti mikroskopis sehingga difusi mikroskopis mencapai homogenitas yang sempurna
( Redypta, 2015 )
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu zat antara lain sebagai
berikut :
1. Pengaruh PH
Zat aktif yang sering digunakan di dalam dunia pengobatan umumnya adalah
zat organik yang bersifat asam lemah, dimana kelarutannya sangat dipengaruhi oleh
pH pelarutnya. Kelarutan asam-asam organik lemah seperti barbiturat dan sulfonamide
dalam air akan bertambah dengan naiknya pH karena terbentuk garam yang mudah
larut dalam air. Sedangkan basa-basa organik lemah seperti alkoholida dan anastetika
lokal pada umumnya sukar larut dalam air. Bila pH larutan diturunkan

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 5
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

dengan penambahan asam kuat maka akan terbentuk garam yang mudah larut dalam
air.
2. Pengaruh suhu atau temperatur
Kelarutan zat padat dalam larutan ideal tergantung kepada temperatur, titik
leleh zat padat dan panas peleburan molar zat tersebut. Kelarutan suatu zat padat dalam
air akan semakin tinggi bila suhunya dinaikan. Adanya panas (kalor) mengakibatkan
semakin renggangnya jarak antar molekul zat padat tersebut. Merenggangnya jarak
antar molekul zat padat menjadikan kekuatan gaya antar molekul tersebut menjadi
lemah sehingga mudah terlepas oleh gaya tarik molekul-molekul air.
3. Pengaruh jenis pelarut
Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut. Pelarut polar
akan melarutkan lebih baik zat-zat polar dan ionik, begitu pula sebaliknya. Kelarutan
juga bergantung pada struktur zat, seperti perbandingan gugus polar dan non polar dari
suatu molekul. Makin panjang rantai gugus non polar suatu zat, makin sukar zat
tersebut larut dalam air.
4. Pengaruh bentuk dan ukuran partikel
Kelarutan suatu zat akan naik dengan berkurangnya ukuran partikel suatu zat.
Partikel yang bentuknya tidak simetris lebih mudah larut bila dibandingkan dengan
partikel yang bentuknya asimetris.
5. Pengaruh konstanta dielektrik
Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut. Pelarut polar
mempunyai konstanta dielektrik yang tinggi dapat melarutkan zat-zat non polar sukar
larut di dalamnya, begitu pula sebaliknya. Adakalanya suatu zat lebih mudah larut
dalam pelarut campuran dibandingkan pelarut tunggalnya. Fenomena ini dikenal
dengan istilah co-solvency dan pelarut yang mana dalam bentuk campuran dapat
menaikkan kelarutan suatu zat disebut co-solvent.
6. Pengaruh penambahan zat lain
Surfaktan adalah suatu zat yang sering digunakan untuk menaikan kelarutan
suatu zat. Molekul surfaktan terdiri atas dua bagian yaitu bagian polar dan non polar
apabila didispersikan dalam air pada konsentrasi yang rendah, akan berkumpul pada
permukaan dengan mengorientasikan bagian polar ke arah air dan bagian non polar
kearah udara, surfaktan mempunyai kecenderungan berasosiasi membentuk agregat
yang dikenal sebagai misel. Konsentrasi pada saat misel mulai terbentuk disebut
konsentrasi misel kritik (KMK).
(Eko, 2017)

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 6
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

II.2. Sifat Bahan


1. Aquadest
Sifat fisika :
a. Merupakan cairan
b. Tidak berbau
c. Tidak berwarna
d. Tidak berasa
Sifat kimia :
a. Berat molekul 18,02 g/mol
b. Titik lebur 0 C
c. Titik didih 100C
d. Merupakan pelarut universal.
(Utami, 2012)
2. Natrium Hidroksida
Sifat fisika :
a. Titik didih : 1390 C
b. Densitas : 2,1 gr/cm3
c. Warna : Putih.
Sifat kimia :
a. Merupakan basa kuat
b. Tidak mudah terbakar
( Anonim, 2017. Air )
3. Abu Sekam
Sifat fisika :
a. Warna coklat kehitaman
b. Bentuk kasar dan ringan
c. Panjang sekitar 8-10 mm
Sifat kimia :
a. Presentasi air = 32,4%-11,43%
b. Presentasi abu = 18,16%-29,04%
(Astutik, 2013)

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 7
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

II.3. Hipotesa
Semakin besar konsentrasi pelarut, maka semakin besar pula kemampuan
untuk melarutkan padatan. Dan semakin pekat pula warna yang berubah pada pelarut.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 8
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

II.4. Diagram Alir

Membuat larutan NaOH dengan variable konsentrasi


0,25N; 0,5N;0,75N;1N; 1,25N

Masukkan larutan NaOH ke dalam beaker glass


dan hitung densitasnya

Timbang abu sekam 4 gram dan masukkan kedalam


beaker glass yang berisi pelarut NaOH

Letakkan beaker glass diatas magnetic stirrer,


lakukan proses pengadukan dengan waktu pengadukan
5 menit dengan menggunakan magnetic stirrer.

Timbang kertas saring kosong.

Saring larutan setelah proses pengadukan, sehingga


fase padat yang tersisa terpisahkan dengan fase cair.

Hitung densitas fase cair (filtrat yang telah lolos


dalam proses penyaringan).

Fase padat dioven sampai benar- benar kering


dan timbang berat padatannya.

Ulangi percobaan sesuai variabel yang ditentukan.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 9
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

III.1 Bahan yang digunakan


1. Air
2. NaOH
3. Abu Sekam

III.2 Alat yang digunakan


1. Neraca analitik 7. Pipet
2. Spatula 8. Corong
3. Beaker glass 9. Kertas saring
4. Kaca arloji 10. Magnetic Stirer
5. Gelas ukur 11. Oven
6. Erlenmeyer 12. Piknometer

III.3 Gambar alat yang digunakan

Kertas saring Spatula Corong Beaker glass

Gelas ukur Neraca analitik Magnetic stirer Oven

Kaca arloji Labu ukur Pipet Erlenmeyer

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 10
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

III.4 Rangkain alat

Beaker glass

Magnetic Stirer

III.5 Prosedur percobaan


1. Membuat larutan NaOH dengan variable konsentrasi 0,25N; 0,5N;0,75N;1N;
1,25N
2. Masukkan larutan NaOH ke dalam beaker glass dan hitung densitasnya
3. Timbang abu sekam 4 gram dan masukkan kedalam beaker glass yang berisi
pelarut NaOH
4. Letakkan beaker glass diatas magnetic stirrer, lakukan proses pengadukan
dengan waktu pengadukan 5 menit dengan menggunakan magnetic stirrer.
5. Timbang kertas saring kosong.
6. Saring larutan setelah proses pengadukan, sehingga fase padat yang tersisa
terpisahkan dengan fase cair.
7. Hitung densitas fase cair (filtrat yang telah lolos dalam proses penyaringan).
8. Fase padat dioven sampai benar- benar kering dan timbang berat padatannya.
9. Ulangi percobaan sesuai dengan variabel percobaan yang ditentukan.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 11
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Tabel Pengamatan


Berat Volume Konsentra Berat CaO Berat
Waktu %
CaO Awal NaOH si CaO sesudah terlarut
(Menit) Recovery
(gr) (ml) (M) pelarutan (gr) (gr)
1,288 230 0,1 5 0,955 0,333 25,85
2,576 230 0,2 5 1,8736 0,7024 27,26
3,864 230 0,3 5 3,5099 0,3541 9,164
5,152 230 0,4 5 4,7976 0,3544 6,878
6,44 230 0,5 5 6,0848 0,3552 5,51

IV.2 Tabel Hasil Perhitungan


Berat Volume Konsentrasi Densitas Berat terlarut
%
CaO Larutan CaO (gr/ml) Beda
Recorvery
awal (gr) (ml) (M) Awal Akhir selisih(gr)
1,288 230 0,1 0,98892 0,99035 0,3289 25,536
2,576 230 0,2 0,98892 0,99065 0,3979 15,446
3,864 230 0,3 0,98892 0,99072 0,414 10,714
5,152 230 0,4 0,98892 0,99126 0,5382 10,446
6,44 230 0,5 0,98892 0,99156 0,6072 9,429

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 12
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

IV.3 Grafik dan Pembahasan

Berat terlarut
Beda selisih (gr)

Grafik 1. Hubungan antara berat terlarut dan berat awal bahan


Pada grafik 1., dapat diketahui bahwa berat CaO yang terlarut pada konsentrasi
0,1M (berat awal 1,288 gr) , konsentrasi 0,2M (berat awal 2,576 gr), konsentrasi 0,3M
(berat awal 3,864 gr), konsentrasi 0,4M (berat awal 5,152 gr), dan konsentrasi 0,5M
(berat awal 6,44 gr) berturut-turut adalah 0,333 gr; 0,7024 gr; 0,3541; 0,3544 gr;
0,3552 gr. Berat CaO yang terlarut hampir sama yaitu 0,3 gr, kecuali pada CaO dengan
berat awal 2,576 yang mempunyai berat terlarut 0,7024 gr. Hal ini dapat dikarenakan
kesalahan praktikan dalam proses pengeringan, dan berat CaO terlarut yang hampir
sama dikarenakan larutan CaO telah jenuh dengan 0,3 gr terlarut. Sedangkan pada
berat terlarut beda selisih densitas, diperoleh bahwa semakin besar konsentrasi atau
berat awal CaO maka semakin besar pula berat terlarutnya.

% Recovery terlaru

% Recovery beda
selisih

Grafik 2. Hubungan antara %recorvery dan berat awal bahan

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 13
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

Pada grafik 2., hubungan antara %recovery versus berat awal zat terlarut,
%recovery zat terlarut dan %recovery beda selisih nilainya juga berbeda. Dari grafik
diketahui bahwa semakin besar berat awal zat terlarut, %recoverynya selalu turun,
kecuali %recorvery zat terlarut pada saat berat awal 2,576 gram. Pada %recorvery zat
terlarut pada saat berat awal 2,576 gram terjadi penyimpangan dikarenakan kesalahan
praktikan pada proses pengeringan. %recorvery semakin turun dengan bertambahnya
berat zat terlarut. Hal ini dikarenakan larutan CaO telah dalam keadaan lewat jenuh.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 14
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan
1. Berat CaO sebelum dilarutkan memiliki massa yang lebih berat dari pada
massa CaO yang telah dilarutkan dalam air, hal ini disebabkan karena CaO
dapat larut sebagian massanya kedalam air.
2. Nilai dari densitas larutan CaO selalu meningkat dengan bertambahnya
konsentrasi CaO yang dilarutkan.
3. Grafik hubungan antara berat awal zat terlarut versus berat zat yang terlarut
dalam air, didapat bahwa berat CaO yang terlarut hampir sama yaitu 0,3 gr,
kecuali pada CaO dengan berat awal 2,576 yang mempunyai berat terlarut
0,7024 gr.
4. Grafik hubungan antara %recovery versus berat awal zat terlarut, dapat
diketahui bahwa semakin besar berat awal zat terlarut, %recoverynya selalu
turun, kecuali %recorvery zat terlarut pada saat berat awal 2,576 gram.

V.2 Saran
1. Praktikan seharusnya memperhatikan kebersihkan alat-alat sebelum digunakan
agar larutan yang dibuat tidak terkontaminasi zat lain.
2. Praktikan diharapkan dapat memahami prosedur percobaan sebelum
melakukan praktikum.
3. Praktikan diharapkan lebih teliti dalam mengatur kecepatan pengadukan.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 15
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2017. Natrium Hidroksida.(https://id.wikipedia.org/wiki.Natrium_
Hidroksida). Diakses pada tanggal 13 April 2017 pukul 05.02 WIB

Astutik. Fitriyah Ika 2013.Penelitian.(https://duniakufitriyaastutik.blogspot


.co.id/2013/07).Diakses pada tanggal 13 April 2017 pukul 05.02 WIB

Eko, Dion. 2017. Laporan Praktikum Pelarutan Padat Cair. (http://coretandion.


blogspot.co.id/2017/04/laporan-praktikum-pelarutan-padat-cair.html)diakses
pada tanggal 13 April 2017 pukul 5.09 WIB

McCabe, Warren L,dkk. 1993. Unit Operations of Chemical Engineering.New York


: McGraw Hill

Redypta.Aziz. 2015. Proses Pelarutan Padat Cair. (https://prosespelarutan


padatcair.blogspot.co.id/2015). Diakses pada tanggal 13 April 2017 pukul
05.02 WIB

Utami, Atini Wahyu. 2012. Sifat Fisika dan Kimia Air.(https://atiniwahyuutami


09303241038.wordpress.com/2012/12/25/sifat-fisika-dan-kimia-air/) diakses
pada tanggal 13 April 2017 pukul 5.03 WIB

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 16
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

APPENDIX

1. Perhitungan pembuatan larutan


a. Larutan 0,1 M d. Larutan 0,4 M

= =


0,1 = 0,4 =
56 0,23 56 0,23
w = 1,288 gr w = 5,152 gr
Jadi 1,288 gram CaO dilarutkan Jadi 5,152 gram CaO dilarutkan
dengan air sampai volume 230 ml dengan air sampai volume 230 ml
b. Larutan 0,2 M e. Larutan 0,5 M

=
=


0,5 =
56 0,23
0,2 =
56 0,23 w = 6,44 gr
w = 2,567 gr Jadi 6,44 gram CaO dilarutkan
Jadi 2,567 gram CaO dilarutkan dengan air sampai volume 23 ml
dengan air sampai volume 230 ml
c. Larutan 0,3 M

=


0,3 =
56 0,23
w = 3,864 gr
Jadi 3,864 gram CaO dilarutkan
dengan air sampai volume 230 ml

2. Perhitungan densitas
a. Densitas air
W0= 16,1128 gram
W = 26,002 gram
0 (26,002 16,1128 )
= = = 0,98892 gr/ml
10

b. Densitas larutan konsentrasi 0,1 M


W0= 16,1128 gram
W =26,0163 gram
0 (26,0163 16,1128 )
= = = 0,99035 gr/ml
10

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 17
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

c. Densitas larutan konsentrasi 0,2 M


W0= 16,1128 gram
W =26,0193 gram
0 (26,019316,1128 )
= = = 0,99065 gr/ml
10

d. Densitas larutan konsentrasi 0,3 M


W0= 16,1128 gram
W =26,020gram
0 (26,020 16,1128 )
= = = 0,99072 gr/ml
10

e. Densitas larutan konsentrasi 0,4 M


W0= 16,1128 gram
W =26,0254 gram
0 (26,0254 16,1128 )
= = = 0,99126 gr/ml
10

f. Densitas larutan konsentrasi 0,5 M


W0= 16,1128 gram
W =26,0283 gram
0 (26,0283 16,1128 )
= = = 0,99155 gr/ml
10

3. Perhitungan berat terlarut


a. Pada konsentrasi 0,1 M
Wterlarut = Wawal W akhir = (1,288 0,955) gram = 0,333 gram
b. Pada konsentrasi 0,2 M
Wterlarut = Wawal W akhir = (2,5761,8736) gram = 0,7024 gram
c. Pada konsentrasi 0,3 M
Wterlarut = Wawal W akhir = (3,864-0,31) gram = 0,14 gram
d. Pada konsentrasi 0,4 M
Wterlarut = Wawal W akhir = (5,152-0,41) gram = 0,19 gram
e. Pada konsentrasi 0,5 M
Wterlarut = Wawal W akhir = (6,44-0,56) gram = 0,19 gram

4. Perhitungan % Recovery terlarut


a. Pada konsentrasi 0,1 M
0,333
% = 100% = 100% = 25,85 %
1,288

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 18
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

b. Pada konsentrasi 0,2 M


0,7024
% = 100% = 100% = 27,26 %
2,576
c. Pada konsentrasi 0,3 M
0,31
% = 100% = 100% = 31,11 %
3,864
d. Pada konsentrasi 0,4 M
0,41
% = 100% = 100% = 31,67 %
5,152
e. Pada konsentrasi 0,5 M
0,56
% = 100% = 100% = 25,37 %
6,44

5. Perhitungan zat terlarut beda selisih


a. Pada konsentrasi 0,1 M
Wterlarut = ( )
= (0,99035 0,98892) gr/ml x 230 ml
= 0,3289 gr
b. Pada konsentrasi 0,2 M
Wterlarut = ( )
= (0,99065 0,98892) gr/ml x 230 ml
= 0,3979 gr
c. Pada konsentrasi 0,3 M
Wterlarut = ( )
= (0,99072 0,98892) gr/ml x 230 ml
= 0,414 gr
d. Pada konsentrasi 0,4 M
Wterlarut = ( )
= (0,99126 0,98892) gr/ml x 230 ml
= 0,5382 gr
e. Pada konsentrasi 0,5 M
Wterlarut = ( )
= (0,99155 0,98892) gr/ml x 230 ml
= 0,6049 gr

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 19
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM OTK I
PROSES PELARUTAN PADAT-CAIR

6. Perhitungan %Recovery beda selisih



a. Pada konsentrasi 0,1 M % =
100% =
0,3289
100% = 25,53571 %
1,288

b. Pada konsentrasi 0,2 M


0,266
% =
100% = 2,576
100% = 15,44643 %

c. Pada konsentrasi 0,3 M

0,27
% = 100% = 100% = 10,71429 %
3,864

d. Pada konsentrasi 0,4 M

0,476
% = 100% = 100% = 10,44643 %
5,152

e. Pada konsentrasi 0,5 M

0,683
% = 100% = 100% = 9,428571 %
6,44

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1


UPN VETERAN JAWA TIMUR 20