Anda di halaman 1dari 7

INVESTIGASI ILMIAH

Investigasi ilmiah berfokus pada pemecahan masalah dan mengikuti metode langkah demi
langkah yang logis, terorganisasi, dan ketat untuk mengidentifikasi masalah, mengumpulkan
data, menganalisisnya dan menarik kesimpulan yang valid dari hal tersebut.

MENGAPA DIPERLUKAN PENELITIAN ILMIAH?


1. Penelitian ini tidak didasarkan pada firasat, pengalaman, dan intuisi.
2. Memiliki tujuan yang terarah dan jelas.
3. Memungkinkan semua orang yang tertarik dalam meneliti dan mengetahui tentang
isu-isu yang sama atau mirip untuk tampil dengan temuan yang sebanding atau dapat
dibandingkan.
4. Hasil temuannya akurat dan dapat dipercaya.
5. Dapat diaplikasikan pada permasalahan yang serupa.
6. Lebih obyektif.
7. Mampu menyoroti hal-hal penting di tempat kerja yang membutuhkan perhatian
khusus untuk menyelesaikan atau meminimisasi masalah.
8. Penelitian ilmiah dan pengambilan keputusan manajerial merupakan bagian
integral dari pemecahan masalah yang efektif.
9. Dapat diaplikasikan pada penelitian dasar dan terapan
CIRI-CIRI PENELITIAN ILMIAH
Ciri-ciri atau karakteristik utama penelitian ilmiah adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Jelas
Manajer memulai penelitian dengan sebuah sasaran atau tujuan yang jelas. Fokusnya
meningkatkan komitmen karyawan terhadap organisasi, dalam bentuk berkurangnya
pergantian, absensi, dan mungkin menaikkan level kinerja yang kesemuanya tentu akan
menguntungkan organisasi. Penelitian ilmiah yang baik adalah penelitian yang menyatakan
tujuan penelitian (purposiveness). Tujuan penelitian pada dasarnya adalah menjawab suatu
masalah atau pertanyaan. Peneliti perlu merumuskan masalah atau pertanyaan penelitian
dengan jelas agar dapat menyatakan tujuan penelitian. Proses penelitian selanjutnya
difokuskan pada usaha untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh peneliti.
2. Tepat
Dasar teori yang baik dan desain metodologi yang tepat akan menambah ketepatan pada
sebuah studi dengan tujuan yang jelas. Ketepatan mengandung arti kehati hatian,
kecermatan, dan tingkat ketelitian dalam investigasi penelitian. Faktor faktor tersebut
memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan jenis informasi yang benar dari sampel yang
tepat dengan tingkat bias minimum, dan memfasilitasi analisis yang sesuai terhadap data
yang diperoleh.
3. Dapat Diuji
Setelah mewawancarai sekelompok acak karyawan organisasi dan mempelajari penelitian
sebelumnya yang dilakukan dalam bidang komitmen organisasi, manajer atau peneliti
membuat hipotesis tertentu mengenai bagaimana meningkatkan komitmen karyawan, maka
hal tersebut dapat diuji dengan menerapkan uji statistik tertentu pada data yang dikumpulkan
untuk tujuan tersebut.
4. Dapat Ditiru
Apabila manajer menyimpulkan bahwa partisipasi dalam pengambilan keputusan merupakan
salah satu faktor terpenting yang mempengaruhi komitmen karyawan terhadap organisasi.
Maka kita akan lebih meyakini temuan dan kesimpulan tersebut jika temuan yang mirip
muncul berdasarkan data yang dikumpulkan oleh organisasi lain yang menggunakan metode
serupa. Dengan kata lain, hasil uji hipotesis tersebut harus didukung lagi dan lagi ketika jenis
penelitian serupa diulangi dalam keadaan lain yang mirip. Oleh karena itu, hipotesis kita
tidak hanya bersifat kebetulanq, tetapi merupakan refleksi dari keadaan populasi yang
sebenarnya.
5. Ketelitian dan Keyakinan
Ketelitian mengacu pada kedekatan temuan dengan realitas berdasarkan sebuah sampel.
Dengan kata lain, ketelitian mencerminkan tingkat keakuratan atau keyakinan hasil
berdasarkan sampel, terkait apa yang benar benar eksis dalam keseluruhan.
Keyakinan mengacu pada probabilitas ketepatan estimasi kita. Karena itu, tidaklah cukup
hanya teliti, tetapi juga penting bahwa kita dapat dengan yakin menegaskan bahwa 95%
waktu hasil kita benar dan 5% kemungkinan salah.
Dengan demikian, ketelitian dan keyakinan merupakan aspek penting penelitian, yang dicapai
melalui desain sampling ilmiah yang tepat. Semakin besar ketelitian dan keyakinan yang kita
bidik dalam penelitian, semakin ilmiah investigasi kita dan semakin berguna hasilnya.
6. Obyektivitas
Objektivitas berarti harus berdasarkan fakta fakta dari temuan yang berasal dari data actual
dan bukan nilai nilai subjektif atau emosional kita. Semakin objektif interpretasi data,
semakin ilmiah investigasi penelitian. Mekipun manajer dapat memulai dengan beberapa
keyakinan dan nilai subjektif awal, interprestasi mereka terhadap data sebaiknya bebas dari
nilai dan bias pribadi. Bila manajer berusaha melakukan penelitian sendiri, mereka harus
sangat peka terhadap aspek tersebut.
7. Dapat Digeneralisasi
Mengacu pada cakupan penerapan temuan penelitian dalam satu konteks organisasi ke
konteks organisasi lainnya. Semakin penelitian dapat digeneralisasi, semakin besar kegunaan
dan nilainya. Tetapi, tidak banyak temuan penelitian yang dapat digeneralisasi pada semua
konteks, situasi, atau organisasi lainnya.
8. Hemat
Kesederhanaan dalam menjelaskan fenomena atau persoalan yang muncul dan dalam
menghasilkan solusi masalah, selalu lebih disukai untuk kerangka penelitian yang kompleks
yang meliputi jumlah faktor yang tidak dapat dikendalikan. Sifat ekonomis dalam model
penelitian dicapai jika kita memasukkan ke dalam kerangka penelitian lebih sedikit jumlah
variable yang akan menjelaskan varians secara jauh lebih efisien disbanding seperangkat
variable kompleks yang hanya akan sedikit menambah varians yang dijelaskan. Sifat hemat
ini dapat dicapai dengan pemahaman yang baik terhadap masalah dan faktor penting lainnya
yang mempengaruhi hal tersebut.
Keterbatasan Penelitian Ilmiah Dalam Bidang Manajemen
Dalam bidang manajemen dan ilmu sosial, tidak selalu mungkin untuk melakukan investigasi
yang 100% ilmiah, dalam arti bahwa, tidak seperti dalam ilmu pasti, hasil yang diperoleh
tidak akan eksak dan bebas kesalahan. Hal ini terutama karena kesulitan yang dihadapi dalam
pengukura dan pengumpulan data dalam bidang subjektif seperti perasaan, emosi, sikap, dan
persepsi.
Rintangan Sains Dalam Penelitian
Salah satu metode investigasi ilmiah yang utama adalah metode hipotesis-deduktif. Proses
deduktif dan induktif dalam penelitian dijelaskan di bawah ini.
Deduksi dan induksi
Deduksi
Deduksi merupakan proses pengambilan kesimpulan sebagai akibat dari alasan-alasan yang
diajukan berdasarkan hasil analisis data. Proses pengambilan kesimpulan dengan cara
deduksi didasari oleh alasan-alasan yang benar dan valid. Proses pengambilan kesimpulan
berdasarkan alasan-alasan yang valid atau dengan menguji hipotesis dengan menggunakan
data empiris disebut proses deduksi (deduction) dan metodenya disebut metode deduktif
(deductive method) dan penelitiannya disebut penelitian deduktif (deductive research). Proses
deduksi selalu digunakan pada penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif
(scientific). Deduksi dikatakan tepat jika premis (alasan) dan konklusi benar dan sahih, hal ini
berarti:
1. Alasan (premis) yang diberikan untuk kesimpulan harus sesuai dengan kenyataan (benar).
2. Kesimpulan harus diambil dari alasan-alasannya (sahih).
Berikut ini contoh sederhana tentang proses pengambilan kesimpulan berdasarkan deduksi:

Semua dosen yang telah mengikuti pelatihan metodologi penelitian dapat membuat proposal
penelitian dengan baik (Premis 1).
Erlina adalah dosen yang telah mengikuti pelatihan metodologipenelitian (Premis 2).
Erlina adalah dosen yang dapat membuat proposal penelitian dengan baik (konklusi).
Jika semua premis benar dan pengambilan kesimpulan tidak salah, maka proses deduksi
dianggap valid. Konklusi hanya dapat diterima jika semua premisnya benar dan valid. Jika
ada premisnya
yang tidak sesuai dengan kenyataan, maka deduksinya tidak dapat diterima. Dari contoh yang
diberikan di atas, ternyata Erlina telah mengikuti pelatihan metodologi penelitian tetapi dia
bukan dosen, maka premisnya tidak benar dan konklusinya ditolak.
Induksi
Induksi didefinisikan sebagai proses pengambilan kesimpulan (atau pembentukan hipotesis)
yang didasarkan pada satu atau dua fakta atau bukti-bukti. Pendekatan induksi sangatberbeda
dengan deduksi. Tidak ada hubungan yang kuat antara alasan dan konklusi. Proses
pembentukan hipotesis dan pengambilan kesimpulan berdasarkan data yang diobservasi dan
dikumpulkan terlebih dahulu disebut proses induksi (induction process) dan metodenya
disebut metode induktif (inductive method) dan penelitiannya disebut penellitian induktif
(inductive research). Dengan demikian pendekatan induksi mengumpulkan data
terlebihdahulu baru hipotesis dibuat jika diinginkan atau konklusi langsung diambil jika
hipotesis tidak digunakan. Proses induksi selaludigunakan pada penelitian dengan pendekatan
kualitatif (naturalis).
Penalaran induksi merupakan proses berpikir yang berdasarkan kesimpulan umum pada
kondisi khusus. Kesimpulan menjelaskan fakta sedangkan faktanya mendukung kesimpulan.
Contoh:
Rudi seorang manajer pemasaran PT Pertamina di Kota Medan. Hasil penjualan pelumas di
Medan paling rendah di antara kota yang lain. Berdasarkan data ini kita dapat menarik
kesimpulan sementara (hipotesis) bahwa masalahnya adalah Rudi kurang aktif dalam
melakukan promosi. Tapi kita dapat membuat kesimpulan yang lain (berbeda) atas dasar
bukti-bukti lain, seperti:
Kemampuan menjual Rudi rendah sehingga efektivitas penjualan menurun.
Daerah pemasaran Rudi tidak memiliki potensi pasar yang sama dengan daerah lain.
Rudi kurang berbakat bekerja di bagian pemasaran produk pelumas.
Semua hipotesis merupakan induksi berdasarkan bukti catatan penjualan Rudi. Dalam hal ini,
peneliti perlu mencari bukti yang diyakini kebenarannya. Sebagian besar tugas peneliti adalah
menentukan jenis bukti yang diperlukan dan mengukur bukti-bukti.
Penjelasannya, proses pengamatan ( observation) atau merasakan fenomena disekitar kita
adalah merupakan permulaan kebanyakan penelitian ( entah terapan atau dasar). Langkah
berikut bagi manager tersebut adalah menentukan apakah ada sebuah masalah nyata dan jika
demikian seberapa serius. Identifikasi masalah (problem identification) ini memerlukan
pengumpulan sejumlah data awal. manager bisa mencari informasi dari pelanggan tentang
bagaimana perasaan mereka terhadap produk dan layanan konsumen. Dari situ mungkin
manager menemukan pelanggan menyukai produknya, tapi kecewa karena banyak item yang
mereka perlukan sering tidak tersedia, dan pramuniaga tidak begitu membantu. Setelah
manager mengajak diskusi dengan pramuniaga, manager mungkin tahu bahwa pabrik tidak
menyuplai barang tepat dan waktu dan menjanjikan tanggal pengiriman baru yang pada
saatnya gagal terpenuhi. Gabungan informasi yang diperoleh melaui proses wawancara
informal dan formal membantu manager untuk menentukan bahwa sebuah masalah eksis.
Masalah tersebut juga membantu manager untuk merumuskan sebuah model konseptual atau
kerangka teoritis ( theoretical flamework) dari semua faktor yang menimbullkan masalah.
Dari kerangka terotis yang merupakan gabungan berarti dari semua informasi yang di
peroleh, beberapa hipotesis (hypotheses) dapat di buat dan di uji untuk menemukan apakah
data membuktikannya. Konsep-konsep kemudian di definisikan secara operasional
(operationaly definded) sehingga dapat di ukur. Design penelitian (research designe) disusun
untuk menentukan, diantara hal lainnya, cara mengumpulkan (collect) data lebih lanjut,
menganalisis (analyze) dan menginterpretasikannya (interpret) dan akhirnya memberikan
jawaban atas masalah.
METODE HIPOTESIS-DEDUKTIF
Salah satu metode investigasi ilmiah yang utama adalah metode hipotetis-deduktif. Metode
ini meliputi tujuh langkah, yaitu pengamatan, pengumpulan informasi awal, perumusan teori,
penyusunan hipotesis, pengumpulan data ilmiah, analisis data dan deduksi.
Pengamatan
Contoh ; Apabila seorang manajer merasakan perubahan pada jumlah penjualan hasil
produksinya yang kian menurun dan mulai merasakan tingkat daya beli masyarakat semakin
menurun.
Pengumpulan Informasi Awal
Pengumpulan informasi awal meliputi mencari informasi secara mendalam mengenai hal
yang diamati. Hal ini dapat dilakukan dengan berbicara secara informal, wawancara, atau
memperoleh informasi lewat sumber lainnya. Investigator akan mengetahui bagaimana
persoalan tersebut ditangani dalam situasi lain.
Contoh : Melihat keadaan tersebut manajer kemudian mengumpulkan berbagai informasi
yang terkait dan dibutuhkan seperti penyebab kenapa daya beli masyarakat menurun, dan
penyebab menurunnya minat masyarakat terhadap produk seperti kualitas produk, kemasan,
dan juga factor pesaing.
Perumusan Teori
Langkah berikutnya adalah perumusan teori, yaitu usaha untuk menggabungkan semua
informasi dalam cara yang logis, sehingga faktor- faktor yang berkaitan dengan masalah
dapat dikonseptualisasi dan diuji.
Contoh : Manajer mengintegrasikan semua informasi sesuai dengan logika sehigga semua
alas an dan penyebab masalah dapat dikonsepkan dan kemudian dapat kita uji.
Penyusunan Hipotesis
Penyusunan hipotesis adalah langkah logis selanjutnya setelah perumusan teori. Dari jaringan
asosiasi teori diantara variabel, hipotesis atau perkiraan tertentu yang dapat diuji pun bisa
dihasilkan. Setelah data diperoleh, beberapa gagasan kreatif muncul, dan berdasarkan hal
tersebut, hipotesis baru pun bisa dihasilkan untuk diuji kemudian.
Contoh : Setelah berusaha memahami mengenai permasalahan yang dihadapi, manajer
kemudian dapat membuat hipotesis atau dugaan awal sesuai dengan data yang berhasil
dikumpulkan oleh manajer, misalnya penurunan penjualan perusahaan disebabkan oleh
kualitas produk yang kurang baik.
Pengumpulan Data Ilmiah Lebih Lanjut
Setelah menyusun hipotesis, data yang terkait dengan setiap variabel dalam hipotetis perlu
dikumpulkan. Pengumpulan data ilmiah lebih lanjut adalah diperlukan untuk menguji
hipotesis yang dihasilkan dalam studi.
Contoh : Setelah menyusun hipotesis awal, maka manajer perlu megumpulkan data lebih
lanjut untuk mendukung penelitian lebih lanjut, seperti mengumpulkan bukti-bukti dan
laporan mengenai mutu dan kualitas produk yang dia hasilkan dan juga mengumpulkan
laporan penjualan.
Analisis Data
Dalam langkah analisis data, data yang dikumpulkan dianalisis secara statistik untuk melihat
apakah hipoteesis terbukti. Analisis kuantitatif dan kualitatif terhadap data dapat dilakukan
jika sejumlah perkiraan terbukti.
Contoh : Dalam langkah ini manajer mengumpulkan data dan menganalisis secara statistika
untuk mengambil hipotesis yang mendukung. Contohnya apabila seorang manajer ingin
mengetahui apakah persediaan mempengaruhi kepuasan konsumen, maka ia dapat melakukan
pengujian korelasi dan determinasi untuk mengetahui hubungan dan pengaruh diantara kedua
faktor tersebut.
Deduksi
Deduksi adalah proses tiba pada kesimpulan dengan menginterpretasikan arti dari hasil
analisis data. Berdasrkan deduksi tersebut, peneliti dapat mengajukan rekomendasi mengenai
bagaimana masalah dapat dipecahkan.
Contohnya apabila dari suatu pengolahan data secara anova kita mendapatkan hasil p value
lebih dari 0,05 maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa persediaan tidak mempengaruhi
kepuasan konsumen.

Investigasi Ilmiah

Sekaran (2014) dalam bukunya Research Methods for


Business mengemukakan bahwa penelitian ilmiah berfokus pada pemecahan masalah
dan mengikuti langkah demi langkah yang logis, terorganisasi dan ketat untuk
mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, menganalisisnya, dan menarik
kesimpulan yang valid dari hal tersebut. Apabila penelitian hanya membahas sebuah
variabel atau lebih secara mandiri (penelitian deskriptif), maka yang dilakukan
peneliti disamping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing masing variabel,
juga argumentasi terhadap variasi besaran variabel yang diteliti (Haryoko,1999).

1. Ciri ciri Penelitian Ilmiah


Ciri ciri penelitian ilmiah menurut (Sugiyono, 1999) dan (Sekaran, 2003)
setidaknya mengandung aspek-aspek bahwa pencarian yang dilakukan adalah
sistematis, logis, kritis, dan objektif.
a. Tujuan Jelas
Merupakan sasaran yang difokuskan pada peningkatan komitmen sehingga penelitian
mempunyai arah yang jelas.
b. Ketepatan
Ketepatan merupakan kehati-hatian, kecermatan, dan tingkat ketelitian dalam
investigasi penelitian.
c. Dapat Diuji
Penelitian ilmiah harus dapat menguji secara logis hipotesis yang disusun untuk
melihat apakah data mendukung perkiraan atau hipotesis yang dibuat setelah studi
yang mendalam terhadap situasi masalah.
d. Dapat Ditiru
Hasil uji hipotesis harus didukung ketika jenis penelitian serupa diulangi dalam
keadaan lain yang mirip sehingga memperoleh keyakinan dalam sifat ilmiah
penelitian.
e. Ketelitian dan Keyakinan
Kesalahan pengukuran menimbulkan kesalahan dalam penelitian dan penemuan.
Ketelitian mengacu pada pendekatan temuan dengan realitas berdasarkan sebuah
sampel. Ketelitian mencerminkan tingkat keakuratan atau keyakinan hasil
berdasarkan sampel. Keyakinan megacu pada probabilitas ketepatan estimasi. Dalam
penelitian ilmu sosial, apabila level keyakinan 95% berarti terdapat 5% probabilitas
bahwa temuan tidak tepat. Biasanya dinyatakan sebagai level signifikan 0,05 (p =
0,05).
f. Objektivitas
Objektivitas merupakan kesimpulan berdasarkan fakta - fakta dari temuan yang
berasal dari data yang bukan nilai nilai subjektif atau emosional.
g. Dapat Digeneralisasi
Cakupan penerapan temuan penelitian harus mempunyai jangkauan yang luas.
Semakin luas jangkauan penerapan solusi yang dihasilkan oleh penelitian, semakin
berguna penelitian bagi para pengguna.
h. Hemat
Sifat ekonomis dalam model penelitian dicapai jika kita memasukkan kedalam
kerangka penelitian lebih sedikit jumlah variabel yang akan menjelaskan varians
secara lebih efisien disbanding seperangkat variabel kompleks yang hanya menambah
sedikit varians yang dijelaskan.

2. Keterbatasan Penelitian Ilmiah Dalam Bidang Manajemen


Dalam bidang manajemen dan ilmu sosial, tidak selalu mungk in untuk
melakukan investigasi yang 100% ilmiah, hasil yang diperoleh tidak akan eksak dan
bebas kesalahan(Sekaran, 2014: 35).
3. Rintangan Sains Dalam Penelitian
Penelitian sebagai suatu proses deduksi dan induksi dilakukan secara sistematis,
ketat, analitis, dan terkendali (Gulo, 2000: 26). Adapun rintangan penyelidikan ilmiah
meliputi proses mengamati fenomena pada awalnya, mengindentifikaasi masalah,
membangun sebuah teori yang mungkin berlaku, membuat hipotesis, menentukan
aspek aspek desain penelitian, mengumpulkan data, menganalisis data, dan
menginterprestasi hasil (Sekaran, 2014: 37).
a. Deduksi
Deduksi merupakan proses pembuatan kesimpulan melalui generalisasi logis dari
sebuah fakta yang diketahui. Penelitian deduktif disusun secara konseptual dan
teoritik yang kemudian diuji secara empirik (Hermawan, 2009: 22).
b. Induksi
Induksi merupakan proses mengamati fenomena tertentu dan berdasarkan fakta yang
diamati. Penelitian induktif disusun dari observasi realitas empirik (Hermawan, 2009:
22).

4. Metode Hipotesis-Deduktif
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian,
oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk kalimat
pertanyaan (Sugiyono, 2010: 93). Secara teknis, hipotesis adalah pernyataan
mengenai populasi yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh
sampel penelitian (Suryabrata, 2010: 22).
a. Tujuh Langkah Metode Hipotesis-Deduktif
1. Pengamatan
Pengamatan merupakan tahap pertama, dimana seseorang merasakan bahwa
perubahan tertentu sedang terjadi, atau bahwa beberapa perilaku, sikap, dan perasaan
baru sedang mengemuka dalam lingkungan seseorang.
2. Pengumpulan Informasi Awal
Pengumpulan informasi awal meliputi mencari informasi secara mendalam mengenai
hal yang diamati. Hal ini dapat dilakukan dengan cara berbicara secara informal
dengan beberapa orang atau kepada sumber relevan lainnya, dengan demikian dapat
mengumpulkan informasi apa dan mengapa sesuatu hal terjadi.
3. Perumusan Teori
Perumusan teori merupakan usaha untuk menggabungkan semua informasi dalam cara
yang logis, sehingga faktor-faktor yang berkaitan dengan masalah dapat di
konseptualisasi dan diuji.
4. Penyusunan Hipotesis
Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang menggunakan
pendekatan kuantitatif. Pada penelitian kualitatif tidak merumuskan hipotesis, tetapi
menemukan hipotesis yang selanjutnya akan diuji oleh peneliti dengan menggunakan
pendekatan kuantitatif (Sugiyono, 2010: 93). Hipotesis disusun dala m kalimat
deklaratif. Kaliamat itu bersifat positif dan tidak normatif. Istilah -istilah seperti
seperti seharusnya atau sebaiknya tidak terdapat dalam kalimat hipotesis (Gulo,
2000).
5. Pengumpulan Data Ilmiah Lebih Lanjut
Pengumpulan data ilmiah lebih lanjut diperlukan untuk menguji hipotesis yang
dihasilkan dalam studi.
6. Analisis Data
Menganalisis data merupakan suatu langkah yang sangat kritis dalam penelitian.
Peneliti harus memastikan pola analisis mana yang akan digunakan. Pemilihan ini
tergantung pada jenis data yang dikumpulkan. Dalam merencanakan pemakaian data,
tentukan jenis datanya, termasuk penentuan jenis sample yang representatif dan
sesuai dengan tujuan riset maupun kesimpulan yang akan diambil (Umar, 2002: 37).
7. Deduksi
Deduksi adalah proses tiba pada kesimpulan dengan menginterprestasikan arti dari
hasil analisis data.

b. Tinjauan Metode Hipotesis-Deduktif


Ringkasnya, metode hipotesis-deduktif meliputi tujuh langkah, yaitu pengamatan,
pengumpulan data awal, perumusan teori, penyusunan hipotesis, pengumpulan data
ilmiah, analisi data, dan deduktif.