Anda di halaman 1dari 4

Inovassi yang

dilakukan sari roti Inovasi dan dalam Industri Roti

Industri roti di Indonesia dalam 5 tahun kedepan ini sangat berkembang


dengan cepat. Mulai dari Industri bersifat massal, rumahan hingga boutique
bakery yang menjamur di kota-kota besar. Keberadaan boutique bakery
dengan format waralaba mendorong awareness dari industri roti semakin
tinggi.
Prospek bisnis industri roti di Indonesia cukup cerah. Hal ini tidak terlepas
dari, semakin populernya roti di kalangan konsumen Indonesia dan didukung
oleh pendapatan masyarakat yang semakin meningkat. Selain itu,
mengkonsumsi roti juga dianggap dapat meningkatkan gengsi, dengan harga
yang terjangkau.
Roti adalah makanan yang praktis, tidak memerlukan persiapan yang lama. Semakin tinggi
kesibukan masyarakat khususnya kota-kota besar menyebabkan kebutuhan akan roti semakin
tinggi. Kini banyak masyarakat kota besar yang menghadapi kemacetan luar biasa, sehingga
roti dapat menjadi solusi ketika lapar. Selain itu, roti juga termasuk makanan yang sehat.
Masyarakat negara maju menggunakan roti sebagai makanan pokoknya. Menurut General
Manager PT Nippon Indosari Corpindo, Yusuf Hady, image roti sebagai produk yang bergizi
sudah cukup baik.
Namun, dibalik itu semua. Jumlah industri roti yang semakin bertambah juga mengakibatkan
persaingan yang semakin ketat. Setiap perusahaan roti dituntut untuk melakukan inovasi agar
produknya bisa tetap kompetitif. Salah satu yang banyak dilakukan baik oleh industri roti,
baik besar maupun kecil adalah dengan melakukan branding. Strategi ini akan memberikan
efek dari segi marketing dengan cukup baik. Selain itu, inovasi juga dilakukan dari segi jenis
dan bentuk roti, sehingga tidak aneh jika konsumen kini dapat menemukan berbagai jenis roti
di pasaran. Contohnya saja adalah roti gandum (whole wheat bread), roti yang dicampur
dengan tepung beras, umbi dan lain-lain yang sudah mulai dikenal di masyarakat.
Sari Roti, yang merupakan merek dari PT Nippon Indosari Corpindo, adalah salah satu
produk yang sukses diproduksi secara massal. Saat ini, Sari Roti diproduksi di tiga pabrik,
yakni dua di Jakarta, dan satu lagi di Jawa Timur. Saat ini, Sari Roti didistribusikan melalui
46% jaringan distribusi modern seperti hypermarket, supermarket, dan minimarket.
Sedangkan sisanya lagi melalui jaringan tradisional. Pengembangan produk Sari roti terus
dilakukan dengan diluncurkannya produk baru.
Produk didesain memiliki keunggulan nilai gizi, melalui fortifikasi kalsium, vitamin A, B dan
lain-lain. “Artinya Sari roti mengikuti tren roti di manca negara,” kata Yusuf. Selain itu, PT
Nippon Indosari Corpindo juga sedang terus melakukan penelitian roti dengan menggunakan
bahan-bahan yang tersedia di lokal, seperti tepung Umbi dan lainnya yang juga cukup
menjanjikan. “Namun, kendalanya adalah selera konsumen yang tidak mudah berubah,”
tambah Yusuf. .
Distribusi merupakan salah satu kunci untuk keberhasilan dari sebuah perusahaan dalam
industri consumer good. Begitupun untuk industr roti. “Target kami adalah bagaimana
secepat mungkin mendistribusikan produk roti ke pasar. Sehingga tujuh hari, 24 jam armada
distribusi kami ada di wilayah di mana kami ada,” ujar Yusuf.
Distribusi tersebutlah yang juga menjadi tantangan utama yang harus dihadapi oleh industri
roti. Distribusi menjadi sangat penting karena roti mempuyai umur simpan yanga sangat
pendek (5 hari). Infrastruktur dan kemacetan di kota-kota besar menjadi hambatan yang luar
biasa. Tantangan kedua yang harus dihadapi adalah bahan baku yang sangat dipengaruhi oleh
exchange rate. Terutama pada masa krisis global ini. Untuk menjamin mutu dan keamanan
produk yang dihasilkannya, Sari Roti sudah mendapatkan sertifikasi HACCP. Tim Quality
Assurance (QA) bekerja sama dengan tim sales serta tim produksi bertugas untuk menjaga
kualitas dan keamanan pangan. Konsep manufacturing dengan GMP (Good Manufacturing
Practice) nya dilaksanakan oleh PT Nippon Indosari Corpindo. Demikian pula layout/desain
pabrik sangat memperhatikan keamanan produk.
Indonesia mempunyai sumber daya berlimpah sehingga bahan baku tersedia banyak sekali,
tidak boleh kalah bersaing dengan negara seperti Malaysia dan Thailand. Permasalahannya
adalah penguasaan teknologi pangannya. Kerjasama antara dunia pendidikan bidang pangan
dan pengusaha yang harus terus ditingkatkan. Hasil-hasil riset dari jurusan teknologi pangan
harus dapat diimplementasikan di dalam skala industri, terutama yang berbasis bahan baku
lokal. Patut dibanggakan bahwa industri pangan merupakan industri yang dapat bertahan
pada masa krisis. Banyak investor yang masuk ke dalam industri ini. Fri-09

Jakarta, 20 Maret 2012 – Penggunaan brand ambasador dalam dunia marketing adalah
sesuatu yang sudah sangat umum, banyak sekali brand yang menggunakan brand ambasador
baik itu dari kalangan artis, pebisnis, praktisi, pakar dan kalangan lainnya untuk
mengdongkrak brand image dan penjualan.
Sebagai pemimpin pasar roti, PT Nippon Indosari Corpindo, Tbk melalui merek roti SARI
ROTI terus melakukan inovasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan makanan yang
sehat, praktis, halal dan higienis. Selain tetap melakukan pengembangan varian produk
terbaru yang disesuaikan dengan minat pasar, memasuki tahun 2012 ini SARI ROTI kini
tampil dengan menggunakan brand ambassador.
Bertempat di Nan Xiang Executuve Ballroom Hotel Sultan, pada hari Selasa (20/03) PT
Nippon Indosari memperkenalkan brand ambassador SARI ROTI. Penggunaan brand
ambassador ini adalah kali pertama bagi SARI ROTI. Dipilih sebagai brand ambassador
adalah Armand Maulana, Dewi Gita, serta putri mereka, Naja.
“Meskipun saat ini brand SARI ROTI sudah menjadi market leader, namun hal tersebut tidak
menjadikan PT Nippon Indosari Corpindo, Tbk lantas menutup mata terhadap perkembangan
dan perubahan yang ada. Kami tidak boleh terlena. Aktivitas marketing kami lakukan lebih
banyak lagi di tahun ini, salah satunya dengan menggunakan brand ambassador untuk
memperkuat brand image SARI ROTI dan memberikan sesuatu yang baru kepada konsumen
kami”, jelas Yusuf Hady, Direktur Operasional SARI ROTI.
Mengenai pemilihan keluarga Armand Maulana dan Dewi Gita, menurut Yusuf juga
disesuaikan dengan brand personality SARI ROTI sebagai produk yang dekat dengan
keluarga (family oriented), modern, sehat, dan praktis.
“Kami memilih mereka bukan karena sosok selebriti saja. Pasangan Armand & Dewi Gita
menggambarkan sosok keluarga muda yang modern, dengan berbagai kesibukan yang
dimilikinya, mereka tetap bisa menjaga keharmonisan keluarga selama 18 tahun. SARI ROTI
merupakan produk yang sangat dekat dengan keluarga. Dengan hadirnya keluarga Armand
Maulana dan Dewi Gita sebagai brand ambassador kami, diharapkan dapat memberikan
inspirasi bahwa memiliki mobilitas yang tinggi namun keluarga menjadi perhatian yang
utama dan selalu memberikan yang terbaik untuk keluarga. Hal yang paling mudah dapat
dilakukan dengan menyiapkan sarapan dan bekal sehari-hari yang sehat dan praktis untuk
keluarga”, tegas Yusuf.
Bagi Armand Maulana dan Dewi Gita pun ini merupakan iklan pertama yang dibintangi oleh
mereka bersama-sama. “Ini merupakan yang pertama bagi kami sekeluarga dan menjadi
tanggung jawab kami agar bisa membawa brand SARI ROTI sebaik mungkin. Semoga
kerjasama kami dengan SARI ROTI bisa berjalan dengan baik dan bisa memberikan manfaat
bagi banyak pihak”, ujar Armand Maulana.
Selain memperkenalkan brand ambassador, di tahun 2012 ini SARI ROTI hadir dengan
kemasan yang lebih fresh, minimalis, dan modern, namun tetap menawarkan isi dan kualitas
rasa tetap sama. Desain kemasan baru ini tentunya diharapkan ikut menguatkan brand image
dari SARI ROTI sebagai bekal makanan yang sehat dan praktis. Meski desain kemasannya
sangat berbeda dengan yang sebelumnya, namun ada karakter yang membuat konsumen bisa
langsung mengetahui kalau itu adalah produk yang sama. Dapat dilihat dari logo khas SARI
ROTI berwana biru dengan lingkaran berwarna orange menyerupai matahari di bagian tengah
logo.

GarudaFood Group berpartisipasi mengikuti pameran produk makanan dan minuman yang
diselenggarakan oleh Kementerian Perindustrian di Jakarta, Minggu (31/5/2016).
Pameran ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk manufaktur Indonesia di
pasar internasional serta senantiasa berupaya untuk memfasilitasi keikutsertaan
perusahaan manufaktur nasional pada kegiatan pameran, baik yang diselenggarakan di
dalam negeri maupun di luar negeri. GarudaFood Group memperkenalkan produkminuman
‘ready to serve’ berbahan dasar coklatyakni ‘Chocolatos Choco Drink’.
GarudaFood Group optimis produk ini dapat memenuhi kebutuhan konsumen penikmat
coklat di Indonesiadengan segmentasi target dewasa usia 17-35 tahun.
Selain Chocolatos Choco Drink, produk lainnya seperti snack, biskuit, susu, dan minuman
antara lain Kacang Garuda, Gery, Chocolatos, SuperO2, Clevo MYTEA, Okky Jelly Drink,
Okky Koko Drink dan Mountea juga turut meramaikan pameran.
Dian Astriana (Head of Corporate Communications GarudaFood Group)
mengatakan‘Indonesia merupakan negara dengan preferensi rasa coklat yang
dominan,sebanyak 85% produk biskuit GarudaFood Group berbahan dasar coklat. Hal ini
dapat terlihat dari produk unggulan kami yakni Chocolatos Wafer Stick yang telah terlebih
dahulu hadir dan sukses sebagai market leader.
Chocolatos Choco Drink merupakan inovasi dan pengembangan dari produk tersebut
dengan mengutamakan bahan dasar coklat berkualitas tinggi. GarudaFood Group melihat
peluang yang cukup besar untuk potensi konsumsi coklat di Indonesia.
Konsumsi coklat per kapita Indonesia 300 gram masih sangat rendah dibandingkan negara
Swiss 15 kg per kapita, negara Asia lainnya seperti Malaysia dan Singapura sebesar 1 kg
konsumsi per kapita. Produksi kakao di Indonesia saat ini 450 ribu ton dari kapasitas 600
ribu ton di luar bahan baku coklat import. Kami optimis, Chocolatos Choco Drink dapat
diterima pasar dengan baik,’ ungkapnya.
Dalam sambutan Menteri Perindustrian yang disampaikan oleh Staf Ahli Menteri Bidang
Penguatan Struktur Industri Ngakan Timur Antara, Pertumbuhan industri non migas pada
triwulan I tahun 2016 sebesar 4,46%, lebih rendah dibandingkan pada periode yang sama
tahun 2015 sebesar 5,26%.
Meskipun demikian, industri makanan dan minuman terus mengalami pertumbuhan pada
triwulan I tahun 2016 sebesar 7,55% lebih besar bila dibandingkan dengan tahun lalu
sebesar 7,54%. Pertumbuhan industri makanan dan minuman juga dapat dilihat dari
investasi di bidang industri makanan dan minuman, perkembangan realisasi investasi pada
triwulan I tahun 2016 sebesar Rp. 8,9 Triliun untuk PMDN dan PMA sebesar US$ 468,86
juta.
Dilansir dari pidato Menteri Perindustrian yang disampaikan pada Peringatan hari kakao
Indonesia ke-3 September tahun 2015 lalu, mengatakan bahwa sampai saat ini Indonesia
masih merupakan produsen biji kakao terbesar ke-3 dunia setelah Pantai Gading dan
Ghana, dengan produksi biji kakao pada tahun 2014 mencapai sebesar 370 ribu ton (data
ICCO). Konsumsi cokelat Indonesia pada tahun 2012 baru sebesar 0,2 kg/kapita/tahun
meningkat menjadi 0,5 kg/kapita/tahun pada tahun 2014 dan diharapkan pada akhir tahun
2015 menjadi sebesar 0,6 kg/kapita/tahun.
GarudaFood Group sebagai Industri makanan dan minuman terus berupaya untuk
menyediakan produk siap saji yang aman, bergizi dan bermutu dengan memenuhi ketiga
aspek utama tersebut seperti yang disarankan kementerian perindustrian untuk penerapan
SNI, Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), dan Hazard Analysis and Critical
Control Point (HACCP), Food Hygien, Food Safety, Food Sanitation, Penerapan Standar
Pangan International (CODEX Alimentarius) yang menjamin bahwa perusahaan
menerapkan cara pengolahan dan sistem manajemen keamanan pangan yang baik mulai
dari pemilihan bahan baku, pengolahan, pengemasan, serta distribusi dan perdagangannya.
Hingga saat ini GarudaFood telah memimpin pasar pada berbagai kategori, antara lain:
merek Garuda untuk kategori kacang, Okky untuk kategori minuman berbasis jelly, Mountea
untuk kategori minuman berbasis teh, Chocolatos untuk kategori wafer stick premium, Clevo
untuk kategori Dairy dan SuperO2 untuk kategori functional drink.
GarudaFood Group juga mulai diperhitungkan di kategori biskuit dengan merek Gery dan
makanan ringan dengan merek Leo. Untuk pasar global, GarudaFood Group memfokuskan
bisnisnya di Negara ASEAN & India yang merupakan bagian dari rencana jangka panjang
untuk menjadi pemain Regional. GarudaFood juga bekerja sama dengan Suntory Beverage
& Food di bidang bisnis minuman non-alcohol sejak 2011 silam dan mendirikan perusahaan
joint venture dengan nama Suntory Garuda Beverage, yang telah sukses meluncurkan
minuman Mytea di kategori minuman teh dalam kemasan botol.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul GarudaFood Kembangkan Produk
Chocolatos Choco Drink, http://www.tribunnews.com/bisnis/2016/06/02/garudafood-
kembangkan-produk-chocolatos-choco-drink.

Editor: Hasanudin Aco