Anda di halaman 1dari 7

Signifikansi Maqashid asy-Syari

Dalam Pemikiran asy-Syatibi Tentang Ijtihad

Samsidar
Dosen STAIN Watampone

Abstract: Article try to study about ijtihad as a source of law and decision method and its relation
with maqashid asy-syari that was expanded by asy-Syatibi. Flexibilitas ijtihad can be a solution to
solve a problem in the modern society and as a basic of islamic law reform.

Abstrak: Penelitian ini akan membahas bagaimana menggunakan konsep "ijtihad" yang dijadikan
sebagai sumber hukum, metode penyelesaian masalah, dan hubungannya dengan "Maqashid asy-
Syar'iyah" yang diperluas oleh asy-Syatibi. Flexibilitas "ijtihad" dapat menjadi solusi untuk
memecahkan masalah dalam masyarakat modern dan sebagai dasar reformasi hukum Islam.

Kata Kunci : Maqashid asy-Syari, asy-Syatibi, Ijtihad

Pendahuluan ke dalam kenyataan hidup dengan berbagai


Islam adalah agama rahmat yang penuh situasi yang berbeda.
dengan petunjuk untuk mencapai kebahagiaan Hakikat ajaran al-Quran dan Hadis memang
dunia akhirat. Semua petunjuk itu terdapat dalam menghendaki digunakan ijtihad, mengingat
sumber hukumnya yang utama, yaitu al-Quran bahwa ayat-ayat hukum dalam al-Quran dan
dan as-Sunnah. Namun demikian, petunjuk- Hadits jumlahnya terbatas dan pada umumnya
petunjuk yang diberikan tersebut tidak semuanya berbentuk ajaran-ajaran dasar tanpa penjelasan
siap untuk dilaksanakan. Dalam persoalan- lebih lanjut mengenai maksud, rincian dan cara
persoalan tertentu masih banyak yang berupa pelaksanaannya. Sedangkan peristiwa-peristiwa
pesan-pesan dasar yang menuntut kalangan yang terjadi di kalangan masyarakat terus
ulama untuk melakukan ijtihad. Permasalahan menerus bermunculan tanpa batas sehingga ayat-
ijtihad dalam hukum Islam senantiasa menarik ayat tersebut perlu dijelaskan oleh orang-orang
untuk dikaji dan diteliti, terutama pada masa yang mengetahui al-Quran dan Hadis, yaitu pada
modern ini yang kehidupannya begitu awalnya adalah para sahabat Nabi (Aqwal as-
berkembang pesat dan penuh dengan hal-hal Sahabah) dan kemudian para ulama (Aqwal al-
baru yang sangat inovatif. Hal-hal baru yang Ulama). Penjelasan oleh para sahabat Nabi dan
muncul dan ditemui dalam kehidupan sering- para ulama tersebut diberikan melalui ijtihad dan
kali menuntut identifikasi hukum yang dapat menjadi sumber lain yang sah bagi hukum syariat
ditentukan kepastiannya melalui metode di samping al-Quran dan Hadis.
ijtihad ini. Ijtihad merupakan sumber hukum Islam
Dalam kajian usul fiqh, pelaksanaan ijtihad setelah al-Quran dan Sunnah Rasul yang paling
dilakukan untuk istinbt al-hukm (penyimpulan luas. Keluasannya menyangkut sifat fleksibilitas
hukum) dan tatbq al-hukm (mencocokkan yang dimiliki sehingga ijtihad dapat mengikuti
hukum ke dalam realitas kehidupan). Dalam perkembangan dan tuntutan masyarakat Islam
hal ijtihad yang pertama, sebagian besar pada zamannya. Sebagai prinsip gerakan dalam
ulama, menyatakan bahwa ijtihad dalam Islam, ijtihad merupakan solusi dalam memecah-
bentuk ini dianggap sudah sempurna dengan kan masalah-masalah yang berkembang sekaligus
berbagai pendapat yang telah dikemukakan dasar bagi pembaharuan hukum dalam Islam.
oleh para fuqaha berkaitan dengan berbagai Penggunaan rayu dalam pengembangan
hukum aplikatif yang bersumber dari dalil- hukum Islam merupakan tindakan sah, karena
dalilnya. Sedangkan yang kedua, para ulama mempunyai dasar hukum, yaitu, pertama, al-
sependapat bahwa setiap masa tidak boleh Quran, Surah an-Nisa ayat 59 yang mewajibkan
luput dari ulama tingkat ini. Ulama pada agar mengikuti ketentuan Ulil Amri, kemudian
tingkat ini bertugas untuk mentakhrij dan me- kedua, Hadis Muaz bin Jabal yang menjelaskan
lakukan konfirmasi hukum-hukum yang telah bahwa Muaz sebagai Ulil Amri di Yaman
disimpulkan oleh ulama terdahulu berupa fiqh dibenarkan oleh Nabi untuk melakukan ijtihad
dan ketiga adalah contoh yang diberikan Ulil
Amri Umar bin Khattab r.a dalam memecahkan diperhatikan secara seksama, pengertian ijtihad di
berbagai persoalan hukum yang timbul dalam atas pada prinsipnya sama, yaitu usaha dengan
masyarakat pada awal perkembangan Islam.1 sungguh-sungguh yang dilakukan mujtahid untuk
Tulisan ini akan mencoba mengupas menggali hukum syariat yang bersifat operasional
persoalan ijtihad sebagai sumber dan metode dari sumbernya yaitu al-Quran dan Hadis yang
penetapan hukum serta hubungannya dengan bersifat zamil.
maqashid asy-syari dengan melihat batasan-batasan Asy-Syatibi ketika memberi keterangan arti
pengertian yang dikembangkan oleh asy-Syatibi. ijtihad membagi ijtihad menjadi dua, yaitu ijtihad
yang pelaksanaannya tidak pernah terputus
Pemikiran Ijtihad asy-Syatibi sampai hari kiamat dan ijtihad yang boleh jadi
Pengertian Ijtihad sudah terputus. Tipe pertama dalam kajian
Ijtihad menurut bahasa dan istilah dapat metodologi hukum sangat populer dengan tahqiq
dijumpai dalam berbagai buku kepustakaan, al-manath. Pengertiannya bagi asy-Syatibi adalah
terutama buku-buku yang berkaitan dengan usul mengerahkan kemampuan untuk menentukan
fiqh. Secara bahasa (etimologi), ijtihad berarti subtansi obyek (manath) hukum setelah status
berusaha dengan sungguh-sungguh.2 Kata ini hukumnya sendiri sudah diperoleh dari dalilnya
beserta seluruh variasinya menunjukkan yang sah. Sementara tipe kedua asy-Syatibi me-
pekerjaan yang dilakukan lebih dari biasa atau masukkan apa yang masyhur dikenal dengan
sulit dilaksanakan dan tidak disenangi.3 istilah tanqih al-manath yang artinya menginvestasi
Kata Ijtihad adalah pecahan dari kata juhd beberapa hal yang mungkin menjadi kata kunci
atau jahd yang berarti kemampuan dan atau logika (illat) suatu ketetapan hukum. Tipe
kesusahan. Dalam Lisan al-Arab disebutkan definisi yang diadopsi asy-Syatibi memberi
bahwa ijtihad berarti mengerahkan tenaga dan gambaran bahwa ijtihad yang sangat urgen adalah
kemampuan atau menanggung dan memikul tipe ijtihad dinamis, yang memusatkan perhatian-
kesulitan. Arti ijtihad secara etimologi sangat erat nya pada manusia, kasus atau realita sebagai
kaitannya dengan arti ijtihad secara terminologi, obyek hukum bukan pada teks sebagai
sebab term ijtihad bagi para pemikir metodologi subyek/sumber hukum.
hukum Islam adalah mengerahkan segala Tahqiq adalah upaya untuk mengidentifikasi
kemampuan untuk memperoleh keterangan satu masalah, sedangkan manath adalah objek
hukum agama untuk kasus tertentu. Definisi penerapan hukum. Tahqiq al-manath adalah upaya
inilah yang mendominasi hampir semua literatur- seorang mujtahid untuk mengidentifikasi dan
literatur metodologi hukum Islam (Ushul Fiqh). memverifikasi subtansi objek hukum, untuk
Asy-Syatibi mendefinisikan ijtihad sebagai menghindari terjadinya kesalahan teknis
Pengerahan kesungguhan dan mencurahkan penyesuain antara satu hukum dengan obyeknya.
kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan Hal ini menghendaki adanya teknis-teknis ilmiah
yang pasti dan zanni tentang hukum syarak.4 yang memisahkan apa yang masuk ke dalam
Dari definisi yang telah diungkapkan asy-Syatibi, kategori obyek hukum dan yang tidak. Sebab satu
nampaknya beliau berusaha menyederhanakan realita tertentu memiliki komponen-komponen,
pengertian ijtihad, di mana dia menambahkan karakter-karakter, motivasi, dan implikasi
kata yang mengharuskan adanya upaya maksimal tertentu. Tanpa pengetahuan yang mendalam
mujtahid tanpa adanya tanggungan beban mengenai subtansi obyek hukum seperti itu
psikologi dengan perasaan lemahnya kemampuan dikuatirkan terjadinya aplikasi hukum yang tidak
yang dimiliki sehingga memberikan gerak dan diinginkan agama atau ada kemungkinan tidak
dinamika bagi pengembangan ijtihad. Kalau terjadinya aplikasi hukum sementara obyek dan
logika (illat) sudah eksis.
1 Muhammad Daud Ali, Asas Hukum Islam, (Jakarta : Lebih lanjut asy-Syatiby membagi tahqiq al-
Rajawali Pers, 1991), hlm. 103. manath menjadi dua, yaitu: tahqiq al-manath al-amm
2 Ahmad Warson al-Munawwir, Kamus al-Munawwir, dan tahqiq al-manath al-khash. Tahqiq al-manath al-
(Yogyakarta : PP. al-Munawwir, 1984), hlm. 234. amm adalah hukum yang dikandung oleh sebuah
3 Muhammad Musa al-Tiwana, al-Ijtihad wa Madza nash hanya berorientasi pada jenis-jenis perilaku
Hajatuna Baihi fi Haza al-Asr, (Mesir dar al-Kutubak manusia, misalnya nash-nash al-Quran-Hadis
al-hadis, 1972), hlm. 97.
4 Abu Ishaq asy-Syatibi, al-Muwafaqat fi Usul asy-
yang mengandung (hukum pengharaman)
Syariah, (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyah, tt), IV : pencurian, zina dan khamar, begitu pula nash-
hlm. 64. nash yang memuat (hukum kewajiban) bekerja,
berbuat adil, dan sebagainya. Tapi ketika men- Bagi seorang mujtahid, wajib mengetahui
cermati realitas kehidupan manusia ternyata bahasa Arab dalam artian menguasai bahasa Arab
perilaku-perilaku manusia itu sendiri bervariasi, dan ilmu-ilmunya sehingga mampu memahami
tapi seolah-olah dimaksud oleh satu hukum yang pembicaraan orang-orang Arab. Di kalangan
mengarah pada jenis-jenis tadi. Sedangkan tahqiq ulama usul, agaknya telah ada kesepakatan
al-manath al-khash bisa didiskripsikan sebagai tentang mutlak dan perlunya seorang mujtahid
berikut: Setiap kasus atau perilaku manusia yang menguasai bahasa Arab dengan berbagai
diidentifikasi jenisnya pada tahapan. aspeknya seperti nahwu, saraf dan balagah.
Tahqiq al-manath al-amm, menurut perangkat Persyaratan ini sangat penting mengingat
tahqiq al-manath al-khash tidaklah semuanya sama. orientasi seorang mujtahid adalah memahami
Karena setiap kasus -ketika ia membumi dalam nas-nas al-Quran dan Hadis yang memakai
realita- ia segera dikemas oleh beberapa faktor bahasa Arab. Bagi asy-Syatibi, pengetahuan dan
yang menentukan yang membuatnya berbeda kemampuan bahasa Arab untuk memahami al-
dengan kasus lain dari segi subtansinya. Logika Quran dan Hadis merupakan tolak ukur
sederhananya adalah, setiap kasus dan perilaku pemahaman syariah itu sendiri.
ditentukan oleh pelakunya sendiri, motivasi, 2. Memiliki pengetahuan tentang al-Quran
ruang dan waktu. Semua faktor ini tidak mungkin Dalam syarat kedua ini, yang ditentukan
bersatu pada lebih dari satu kasus, karena paling adalah pengetahuan tentang sebab-sebab
tidak setiap kasus (ketika ia membumi) berbeda turunnya suatu ayat. Untuk mencapai pemaham-
dari segi unsur waktunya. Secara operasionalnya, an yang baik terhadap al-Quran, asy-Syatibi
tipe tahqiq al-manath al-khash lebih rumit dari tipe mengharuskan para mujtahid tersebut dapat
yang pertama. Karena pada tipe pertama seorang menghindarkan adanya pertentangan diantara
ahli hukum dituntut untuk mengidentifikasi dan nas-nas al-Quran dan sebab turun ayat
memverifikasi setiap perilaku/tindakan dari segi merupakan faktor yang cukup menentukan
proses terjadinya, penyebabnya, motivasinya hasil maksud dari suatu ayat.7 Hal ini menunjukkan
dan implikasinya. bahwa maqashid asy-syari berkaitan erat dengan
kandungan ayat al-Quran dan rahasia
Syarat-Syarat Ijtihad pensyariatan.
Yang dimaksud dengan syarat-syarat ijtihad 3. Memiliki pengetahuan tentang as-Sunnah
adalah syarat-syarat yang diperlukan dalam Syarat ketiga menurut asy-Syatibi adalah
berijtihad yang seharusnya dimiliki oleh seorang memiliki pengetahuan tentang as-Sunnah dimana
mujtahid dalam melakukan ijtihad. Syarat-syarat as-Sunnah merupakan sumber kedua ajaran
tersebut diperlukan untuk membawa seseorang Islam.8 As-Sunnah merupakan penjabaran dari
mencapai derajat mujtahid. Menurut asy-Syatibi, al-Quran yang menempati posisi lebih rendah
derajat ijtihad dapat dicapai apabila seseorang dari yang dijabarkan, sehingga peranan as-
memiliki dua kriteria, yaitu: Sunnah cukup penting dalam memahami al-
1. Dapat memahami maqashid asy-syari secara Quran, termasuk kandungan maqashid asy-syari.
sempurna Pemahaman maqashid asy-syari yang terdapat
2. Kemampuan menarik kandungan hukum dalam al-Quran sebagai sumber utama ajaran
atas dasar pengetahuan dan pemahaman Islam sangat ditentukan oleh pengetahuan dan
maqashid asy-syari.5 pemahaman terhadap as-sunnah karena kedua
Kedua kriteria ini saling terkait, dimana sumber ini tidak dapat dipisahkan.
kriteria kedua merupakan alat bantu atau wasilah Selain asy-Syatibi, kalangan ulama usul tidak
bagi kriteria pertama yang merupakan tujuan.6 menyebut pengetahuan maqashid as-syari sebagai
Kriteria tersebut dapat disederhanakan menjadi syarat bagi seseorang yang akan melakukan
ijtihad dapat dilakukan dan berhasil apabila ijtihad dan sampainya seseorang pada tingkat
seseorang dapat memahami maqashid asy-syari mujtahid. Bagi ulama usul, pengetahuan
dengan sempurna dan maqashid asy-syari dapat maqashid asy-syari bukan syarat yang
dipahami dengan syarat : menentukan, akan tetapi masuk dalam
1. Memiliki pengetahuan bahasa Arab persyaratan umum, yaitu memahami al-Quran
dan as-Sunnah dan pemahaman kaidah kulliyah.

5 Asy-Syatibi, al-Muwafaqat..., IV, hlm. 76. 7 Asy-Syatibi, al-Muwafaqat...., III, hlm. 258259.
6 Ibid, hlm. 76-77. 8 Asy-Syatibi, al-Muwafaqat....,IV, hlm. 7.
Oleh karena itu mereka menempatkan penge- ijtihad dalam upaya penerapan maqashid asy-
tahuan maqashid asy-syari sebagai syarat at- syari,11 yaitu :
takmiliyah. 1. Ijtihad Bayani, yaitu upaya penggalian
hukum dari suatu nas dengan bertumpu pada
Jenis-Jenis Ijtihad kaidah-kaidah lughawi (kebahasaan). Kapan suatu
Berkaitan dengan pemikiran tentang ijtihad, lafaz diartikan secara majaz, bagaimana memilih
asy-Syatibi mengajukan metode-metode khusus salah satu arti dari lafaz musytarak, mana ayat yang
dalam rangka menyelenggarakan pelaksanaan umum (am), dan mana pula yang khusus (khas),
hukum Islam dengan maqashid as-syari. Metode kapan suatu perintah dianggap wajib dan kapan
khusus ini dianggap penting mengingat dalam pula dianggap sunnah, kapan larangan itu haram
operasionalnya mekanisme langsung dengan nas dan kapan pula makruh dan seterusnya.
yang disebut dengan ijtihad istinbati dan Ijtihad bayani merupakan usaha mencari
mekanisme ijtihad yang tidak berkaitan langsung penjelasan atau interpretasi hakekat yang
dengan nas yang disebut ijtihad tatbiqi.9 dimaksud, baik yang tersurat maupun yang
Yang menjadi obyek kajian dalam ijtihad tersirat didalam suatu nas. Oleh karena ijtihad
istinbati adalah nas-nas al-Quran dan as-Sunnah bayani ditujukan kepada teks-teks syariah untuk
sebagai sumber hukum. Dalam penggalian memahami kandungan hukum yang dimaksud,
terhadap nas-nas tersebut dilakukan melalui dua maka pola ini bertitik tolak dari kaedah-kaedah
pendekatan, yaitu pendekatan pertama digunakan kebahasaan. Sebagai contoh, Ulama sepakat
sebagai alat untuk meneliti cakupan dan menarik bahwa masa iddah perempuan yang telah digauli
kesimpulan untuk menyimpulkan hukum yang dan masih kedatangan haid adalah tiga quru.
tidak terdapat dalam nas dengan cara melihat Adanya masa iddah ini dianggap qati, akan tetapi
indikasi, prinsip-prinsip umum, semangat dan terdapat perbedaan pendapat tentang arti quru
tujuan yang terkandung dalam nas al-Quran dan tersebut, ada yang menyatakannya sebagai masa
Hadis. suci, dan ada yang menyatakan sebagai masa
Adapun ijtihad tatbiqi, dilakukan untuk haid.
mengantarkan seorang mujtahid kepada 2. Ijtihad Qiyasi adalah usaha mencari
menerapan hukum secara tepat pada kasus yang persamaan hukum atau menentukan illat dalam
terjadi. Obyek kajiannya adalah manusia dengan suatu masalah yang dicari hukumnya sehingga
segala perbuatannya, dalam segala kondisi dan disebut juga dengan ijtihad talili. Ijtihad talili
perubahan yang dialaminya. Yang diperlukan merupakan upaya penggalian hukum yang
dalam ijtihad tatbiqi adalah pengetahuan bertumpu pada penentuan penyebab dasar (illah)
mengenai kondisi dan realitas manusia yang hukum yang terdapat dalam suatu nas.
menjadi tempat penerapan hukum agar ketetapan Corak penalaran ini didukung oleh kenyataan
hukum yang dihasilkan dapat sesuai dengan bahwa nas al-Quran dan Hadis dalam pe-
maqashid asy-syari dan prinsip-prinsip dasar nuturannya tentang suatu masalah hukum diiringi
hukum Islam. Pemahaman terhadap alasan- dengan penyebutan illat-illat hukumnya.12 Atas
alasan, hikmah dan tujuan syariat tersebut sangat dasar illat yang terkandung dalam suatu nas,
penting untuk memahami nas karena hal itu permasalahan-permasalahan hukum yang muncul
merupakan esensi ajaran al-Quran sehingga diupayakan pemecahannya oleh mujtahid melalui
dengan melakukan pengkajian yang mendalam penalaran terhadap illat yang ada dalam nas
tentangnya akan mengantar pada identifikasi dan tersebut. Corak penalaran talili tampak dalam
pemahaman setepat mungkin tujuan-tujuan, metode qiyas dan istihsan.
sasaran umum syari.10 Qiyas sebagai istinbath talili merupakan upaya
Dengan melihat metode ijtihad di atas dan nalar yang memiliki kedekatan hubungan dengan
peranan maqashid asy-syari yang besar dalam nas. Illat-illat yang tertera dalam nas merupakan
metode tersebut, maka penelaahan harus bertitik fokus qiyas dan menjadi bagian dari maqashid asy-
tolak dari obyek ijtihad. Terdapat tiga macam syari. Sebagai contoh tentang peranan maqashid
asy-syari dalam metode qiyas adalah larangan

9 Ibid, IV, hlm,75. 11 Muhammad Salam Madkur, al-Ijithad Fi al-Tasyri al-


10 Fazlur Rahman, Metode dan Alternatif Neo Modernisme Islam, (ttp. Dar an-Nahdah, 1984), hlm.42-45.
Islam. Alih bahasa Taufik Adnan Amal, (Bandung : 12 Muhammad Mustafa Syalbi, Talil al-Ahkam, (Beirut:
Mizan, 1994), hlm. 50. dar al-Mahda al-Arabiah, 1981), hlm.14.
memukul orang tua yang dianalogikan kepada meyakinkan (mutawatir), akan tetapi sebagian
larangan berkata kasar dan menyakitkan yang yang lain diterima pada tingkat dugaan kuat saja
ditujukan dalam al-Quran Surah al-Isra ayat 23. (zanni as-subut).
Ayat ini bertujuan membimbing manusia untuk Dalam bidang hukum, ada ayat-ayat yang
selalu menempatkan orang tua pada posisi yang mengandung dalil hukum yang qati dan ada pula
terhormat yang merupakan bagian dari maqashid ayat yang mengandung dalil yang zanni. Apabila
asy-syari. Dengan melihat illat yang disebut oleh suatu nas telah diyakini sumbernya dari firman
nas, maka hukum memukul orang tua yang tidak Allah atau sunnah Nabi dan juga telah diyakini
disebut nas menjadi lebih tegas. makna dan sasaran yang ditujukan, maka tidak
3. Ijtihad Istislah, adalah upaya penggalian ada lagi ruang untuk berijtihad. Sebaliknya
hukum dari suatu nas dengan bertumpu pada apabila nas yang mendasari suatu hukum
prinsip-prinsip kemaslahatan yang disimpulkan mengandung unsur keraguan dan kesamaran,
dari al-Quran dan Hadis. Kemaslahatan yang baik berkaitan dengan sumbernya ataupun
dimaksud adalah kemaslahatan yang secara makna dan tujuannya (zanni) maka disinilah
umum ditunjukkan oleh kedua sumber hukum. terdapat ruang untuk berijtihad.
Artinya kemaslahatan tersebut tidak dapat Para fuqaha menyatakan bahwa obyek ijtihad
dikembalikan kepada suatu ayat atau hadis secara adalah nas-nas hukum dalam bentuk yang tidak
langsung, baik melalui proses ijtihad bayani pasti (zanni), baik periwayatannya maupun
maupun talili sehingga dikembalikan kepada kandungan dalalahnya serta masalah-masalah
prinsip umum kemaslahatan yang dikandung hukum yang sama sekali tidak ada nasnya.13
oleh nas. Prinsip-prinsip tersebut disusun Menurut Wahab Khallaf, obyek ijtihad adalah
menjadi tiga tingkatan, yaitu daruriyat, hajiyat, dan masalah-masalah yang tidak pasti (zanni)
tahsinat. Prinsip-prinsip umum ini dideduksikan Mengenai perkara-perkara yang sepenuhnya
kepada persoalan yang ingin diselesaikan. bersifat duniawi (teknis), semua ulama sepakat
Ijtihad istislah sudah pernah dilakukan oleh tentang digunakanya rayu (ijtihad) untuk
para sahabat dan perlu dikembangkan sebagai mengatur dan menanganinya sesuai dengan
antisipasi perkembangan pemikiran dalam Islam kebutuhan dan perkembangan zaman serta
dan perkembangan ilmu pengetahuan serta kemajuan ilmu pengetahuan. Misalnya, hal-hal
teknologi. Ijtihad istislah ini adalah mencari yang menyangkut sistem dan peralatan pertanian,
hukum yang didasarkan pada kemaslahatan yang komunikasi, kedokteran dan sebagainya.
akan dicapai oleh hukum tersebut. Karena suatu Demikian pula jika tidak dijumpai nas apapun
masalah belum ada ketentuan hukumnya, baik di mengenai suatu masalah maka dalam hal ini
dalam al-Quran maupun Hadis, padahal kedua terbuka kesepakatan seluas-luasnya untuk
sumber hukum tersebut tentu memuat ketentuan berijtihad dalam mencari kepastian hukumnya.
umum yang tersirat sehingga memerlukan Ijtihad hanya dibolehkan dalam hal-hal yang
penelitian secara mendalam untuk pengungkap- memang tidak ada nasnya, atau ada nas namun
an. Misalnya, masalah bayi tabung yang tidak bersifat zanni. Sebaliknya tidak ada ruang untuk
mempunyai nas khusus sebagai rujukan. Karena berijtihad pada sesuatu yang telah ada nas qati
itu, untuk menentukan hukumnya digunakan padanya.
prinsip-prinsip umum yang ditarik dari ayat-ayat,
seperti menolak kemudaratan didahulukan atas Pemikiran Ijtihad asy-Syatibi dan Peranan
mendatangkan kemaslahatan; untuk setiap Maqashid asy-Syariyyah
kesulitan ada jalan keluar yang bisa dicarikan dan Dalam pemikiran asy-Syatibi, syariah
sebagainya. Melalui pendeduksian dan diturunkan untuk merealisasikan maqashid
pertimbangan tingkatan keutamaan, para ulama syariyyah secara mutlak, kemaslahatan duniawi
menyimpulkan kebolehan untuk bayi tabung dan ukhrawi. Kemaslahatan yang dimaksud
sekiranya dilakukan oleh suami sendiri. bukanlah kemaslahatan dengan mengikuti
hawa nafsu saja, tetapi kemaslahatan duniawi
Obyek Ijtihad yang mengarah kepada kemaslahatan ukhrawi
Otentisitas al-Quran diterima dengan penuh sesuai dengan tuntunan Ilahi.
keyakinan dan tak satupun mazhab dalam Islam
yang meragukan al-Quran karena seluruh ayat al- 13 Wahbah az-Zuhaili, al-Ijtihad Fi asy-Syariah al-
Quran diriwayatkan secara pasti (qati as-subut). Islamiyah, (Rivad : Mamlakah al-Arabiyah, 1984), hlm.
Sedangkan sebagian as-Sunnah diterima secara 186.
Dalam teori ini, tampak sekali bahwa ninggalan konsep ijtihad adalah Abu Ishaq al-
kemaslahatan adalah hal yang menjadi tujuan Syatibi.
diturunkannya syariat ini. Permasalahannya Dengan berbagai perubahan yang berlangsung
adalah bahwa kemaslahatan manusia dari satu secara cepat dewasa ini menyangkut berbagai
masa ke masa lainnya dan dari satu tempat ke aspek kehidupan, pikiran dan tingkah laku serta
tempat lainnya mengalami perubahan, sesuai masalah-masalah yang bersangkutan paut dengan
dengan situasi dan kondisi masa dan tempat hukum Islam yang menimbulkan berbagai
itu. Oleh karenanya, sebuah produk fiqh yang persoalan baru maka diperlukan suatu formulasi
dihasilkan pada masa tertentu belum tentu yang dapat digunakan sebagai pegangan dalam
bisa diaplikasikan pada masa yang berbeda memecahkan permasalahan tersebut. Di sinilah
dengan masa itu; demikian juga bila sebuah ijtihad sebagai institusi yang dinamis berperan
produk dihasilkan di suatu tempat belum besar dalam mendinamisasikan hukum Islam
tentu pula bisa diaplikasikan di tempat lain. untuk menjawab tantangan zaman.
Berdasarkan ini, tampaknya model ijtihad Pengetahuan hukum Islam terhadap realitas,
tatbq yang ditawarkan asy-Syatibi menjadi memberikan keyakinan bahwa hukum Islam
sesuatu yang niscaya dan harus dilakukan oleh memiliki sifat keluwesan (elastisitas) yang me-
setiap fuqaha atau bahkan oleh setiap individu mungkinkan untuk diterapkan disegala tempat
dalam lingkup lebih sempit, di setiap tempat dan zaman, sehingga akan dapat dirasakan benar-
dan pada setiap masa. Bila ini tidak dilakukan, benar bahwa agama Islam diturunkan Allah
maka tujuan utama syariah dalam merealisasi- menjadi rahmat bagi sekalian alam. Dengan
kan maslahat duniawi untuk kepentingan demikian, dapat diyakini bahwa hukum Islam
ukhrawi sangat mungkin mendapatkan yang bersifat universal akan mengantar umat
kendala serius. manusia mencapai kesejahteraan dan kebahagian
Ijtihad harus menyesuaikan diri dengan realita di dunia dan di akhirat.
sama halnya realita harus diarahkan oleh ijtihad.
Perlu dipertegas bahwa dialog ijtihad dan realita Daftar Rujukan
seperti itu sama sekali tidak berarti penegasan Ali. Muhammad Daud, Asas Hukum Islam,
perlunya ijtihad memenuhi semua kebutuhan Rajawali Pers, Jakarta, 1991.
realita, seperti yang dipahami dari kupasan- Asy-Syatibi. Abu Ishaq, al-Muwafaqat fi Usul asy-
kupasan sebagian kalangan. Karena yang di- Syariah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut :,
inginkan tidak lebih dari sebuah penegasan tt
bahwa ijtihad yang benar adalah ijtihad yang az-Zuhaili. Wahbah, al-Ijtihad Fi asy-Syariah al-
realistis yang memahami kecenderungan realita, Islamiyah, Mamlakah al-Arabiyah, Rivad,
selalu melirik realita dan tidak berpaling darinya, 1984.
ijtihad yang memperdayakan realita dan tidak Madkur. Muhammad Salam, al-Ijithad Fi al-Tasyri
mengabaikannya, ijtihad yang membangun atas al-Islam, Dar an-Nahdah, ttp., 1984.
dasar realita dan tidak berangkat dari sesuatu Musa . Muhammad al-Tiwana, al-Ijtihad wa Madza
yang hampa. Hajatuna Baihi fi Haza al-Asr, dar al-
Kutubak al-hadis, Mesir, 1972.
Penutup Rahman. Fazlur, Metode dan Alternatif Neo
Ijtihad merupakan suatu unsur terpenting Modernisme Islam. Alih bahasa Taufik
dalam ajaran Islam. Melalui ijtihad masalah- Adnan Amal, Mizan, Bandung, 1994.
masalah yang tidak ada penyelesaiannya dalam al- Syalbi. Muhammad Mustafa, Talil al-Ahkam, dar
Quran dan Hadis dipecahkan oleh para ulama. al-Mahda al-Arabiah, Beirut, 1981.
Dengan demikian, pada hakekatnya ijtihad Warson. Ahmad al-Munawwir, Kamus al-
menjadi kunci dinamika hukum Islam. Salah Munawwir, PP. al-Munawwir, Yogyakarta,
seorang ulama yang telah memberikan pe- 1984.