Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS

TOKSOPLASMOSIS PADA AIDS

PEMBIMBING:
Dr. ELHAMIDA GUSTI, SpPD

PENYUSUN:
ABDURRACHMAN MACHFUDZ
030.11.003

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM


RSUD BUDHI ASIH JAKARTA

1
STATUS PASIEN PRESENTASI KASUS
KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RUMAH SAKIT BUDI ASIH
PERIODE DESEMBER 2015 -MARET 2016
I. IDENTITAS PASIEN
Nomor RM : 01000738
Nama : Ny. T
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 35 tahun
Pekerjaan : Karyawan swasta
Alamat : Cipinang Muara Jatinegara
Status marital : Menikah
Agama : Islam
Tanggal masuk RS : 4 Februari 2016
Ruang : 506

II. ANAMNESIS
Dilakukan secara alloanamnesis pada tanggal 9 februari 2016 dengan adik pasien.

KELUHAN UTAMA
Mual dan muntah sejak 3 hari sebelum masuk RS

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Os datang dengan keluhan mual dan muntah sejak 3 hari sebelum masuk
Rumah Sakit. Muntah 3x/hari setiap makan, isi makanan, darah (-). Nyeri perut terasa
disekitar pusar dan bagian kanan atas.os juga mengeluhkan batuk, berdahak putih. os
juga mengatakan terjadi penurunan berat badan 13 kg dalam dua bulan terakhir
serta sering berkeringat saat dini hari. Os mengeluh terdapat demam, nyeri kepala,
serta tubuh berwarna kuning. Os menyangkal adanya sesak dan nyeri dada.

2
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Riwayat pengobatan TB paru bulan ke 2 (sejak Desember 2015), riwayat HT (+).
Riwayat DM disangkal

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Keluarga pasien tidak ada yang memiliki TB paru. Suami os meninggal karena AIDS

RIWAYAT PENGOBATAN
Riwayat pengobatan TB paru bulan ke 2 menggunakan FDC4 1 x 3. Os mengaku
sering mual dan muntah setelah minum obat paru

III. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Apatis
Kesan Gizi : TB 150 CM
BB : 45 Kg
BMI: 20
Kesan gizi normal
Tanda Vital : Tekanan darah 100/70 mmHg
: Nadi 120 x/menit
: Pernapasan 28 x/menit
: Suhu 36,7o C

Status Generalis
Kepala : Normocephali, simetris, distribusi rambut merata, berwarna
hitam.
Wajah : Simetris, Ikterik, pucat (-), sianosis (-)
Mata : Konjungtiva pucat (-/-), Sklera ikterik (-/-), Eksoftalmus (-/-),

3
Ptosis (-), pupil bulat isokor, reflex cahaya (+/+)
Telinga : Normotia, Liang lapang, serumen (-/-), cairan (-/-), membran
timpani intak
Hidung : Normal, septum deviasi (-), sekret (-), mukosa hiperemis (-),
tidak ada nafas cuping hidung

Mulut :
a. Bibir : Sariawan pada mulut (Candidiasis Oral)
b. Lidah : Normoglosia, hiperemis tidak ada, ulkus tidak ada
sianosis tidak ada
c. Bukal : Tidak ada hiperemis, tidak ada sianosis
d. Uvula : Tampak di linea mediana, tidak hiperemis, livid, maupun sianosis
e. Faring : Arkus faring simetris, tidak hiperemis, tidak ada PND, maupun
pseudomembran
f. Tonsil : T2/T2, tenang, tidak ada kelainan seperti kripta dan detritus
g. Gigi : Caries (-)

Leher : Jejas (-), hematoma (-), KGB dan tiroid tidak teraba membesar,
Kaku kuduk (+)
Thoraks
Bentuk : Datar, tidak cekung
Buah dada : normal
Jantung :
Inspeksi : Pulsasi ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Teraba pulsasi Ictus Cordis di ICS V, 1 cm
medial midklavikularis kiri
Perkusi : a. Batas atas (ICS III linea parasternalis
kiri dengan suara redup)
b. Batas kiri (ICS V, 1 jari medial linea
midklavikula kiri dengan suara redup)

4
c. Batas kanan (ICS IV linea sternalis
kanan dengan suara redup)
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II normal regular, gallop
(-),murmur (-)

Paru :
Inspeksi : Bentuk dada simetris dan pergerakan dada
simetris saat inspirasi dan ekspirasi. Tidak ada bagian yang
tertinggal, penggunaan otot pernafasan (-)
Palpasi : Vocal fremitus simetris pada kedua
lapang paru
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Suara nafas vesikuler pada kedua lapang
paru, ronchi -/-, wheezing -/-

Abdomen :
Inspeksi : warna kulit ikterik (-), tidak terdapat
shagging of the flanks, tidak ada spider navy,
tidak tampak efloresensi bermakna, tidak
tampak dilatasi vena, tidak tampak smiling
umbilicus.
Auskultasi : Bising usus 8x/menit
Palpasi : Dinding perut supel, tidak ada defans
muscular, nyeri tekan (+) pada region
umbilicus dan hipokondria kanan, Murphys
sign negatif, lien tidak teraba, ballottement
negatif, undulasi (-).

Perkusi : Timpani, batas bawah hepar setinggi iga

5
VII linea midklavikularis kanan dengan
suara pekak, batas atas hepar setinggi sela iga
V linea midklavikularis kanan dengan suara
redup, shifting dullness negatif.

Ekstremitas :
a. Atas : Akral hangat (+/+), Oedema (-/-), Deformitas (-/-),Ikterik(-)
b. Bawah : Akral hangat (+/+), Oedema (-/-), Deformitas (-/-),ikterik(-)

Genitalia : Tidak dilakukan pemeriksaan

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


UGD 3 Februari 2016
Jenis pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal
Hematologi
Hematologi rutin
Leukosit 5,6 ribu/L 3,6-11
Eritrosit 4,2 Juta/L 3,8-5,2
Hemoglobin 12 g/dl 11,7-15,5
Hematokrit 36 % 35-47
Trombosit 173 Juta/L 150-440
MCV 85,7 mm/jam 80-100
MCH 28,9 fL 26-34
MCHC 33,7 Pg 32-36
RDW 13,7 g/dL <14
KIMIA KLINIK
HATI
AST/SGOT 233 mU/dl < 27
ALT/SGPT 215 mU/dl < 34

6
4 Februari 2016
Jenis pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal
KIMIA KLINIK
ANALISA GAS DARAH
PH 7,56 7,35 7,45
PCO2 20 mmHg 35 45
PO2 164 mmHg 80 - 100
Bikarbonat (HCO3) 18 mmol/L 21 28
Total CO2 19 mmol/L 23 27
Saturasi O2 99 % 95 100
Kelebihan basa (BE) -1,9 mEq/L -2,5 2,5
KIMIA KLINIK
Metabolisme karbohidrat
Glukosa darah 99 mg/dL <110
sewaktu
ELEKTROLIT
Natrium 131 mmol/L 135-155
Kalium 3 mmol/L 3,5 5,5
Klorida 100 mmol/L 98 - 109

Jenis pemeriksaan Hasil Nilai Normal CATATAN


IMUNOSEROLOGI
Anti HIV
Screening/rapid test Reaktif Non reaktif
Metode I Reaktif Non reaktif Memakai prinsip
Imunokromatografi
Metode II Reaktif Non reaktif Memakai prinsip
Imunokromatografi
Metode III Reaktif Non reaktif Memakai prinsip
Imunokromatografi
SARAN - Melakukan pemeriksaan konfirmasi dengan metode ELISA
- Melakukan pemeriksaan konfirmasi anti HIV Western Blot

7
6 Februari 2016

Jenis pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal


IMUNOSEROLOGI
VIRUS
Anti Toxoplasma IgG 49,7 IU/mL Negatif : < 1,6
Equivocal : 1,6 - < 3

Positif : 3

Anti Toxoplasma IgM 0,23 Indeks Negatif : < 0,5


Equivocal : 0,5 - < 0,6

Positif : 0,6

ELEKTROLIT
Natrium 134 mmol/L 135-155
Kalium 3,6 mmol/L 3,5 5,5
Klorida 100 mmol/L 98 - 109

Jenis pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal


KIMIA KLINIK
GINJAL
Ureum 39 mg/dL 13 43
Kreatinin 0,7 mg/dL < 1,1

7 Februari 2016

Jenis pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal


KIMIA KLINIK
ANALISA GAS DARAH
PH 7,49 7,35 7,45
PCO2 6 mmHg 35 45
PO2 108 mmHg 80 - 100
Bikarbonat (HCO3) 4 mmol/L 21 28
Total CO2 5 mmol/L 23 27

8
Saturasi O2 98 % 95 100
Kelebihan basa (BE) -14,9 mEq/L -2,5 2,5
IMUNOSEROLOGI
IMUNODEFICIENCY PROFILE
CD4
CD 4 Absolut 21 Cell/uL 410 - 1590

8 Februari 2016

Jenis pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal


KIMIA KLINIK
ANALISA GAS DARAH
PH 7,47 7,35 7,45
PCO2 10 mmHg 35 45
PO2 118 mmHg 80 - 100
Bikarbonat (HCO3) 7 mmol/L 21 28
Total CO2 7 mmol/L 23 27
Saturasi O2 99 % 95 100
Kelebihan basa (BE) -12,7 mEq/L -2,5 2,5

9 Februari 2016

Jenis pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal


KIMIA KLINIK
ANALISA GAS DARAH
PH 7,57 7,35 7,45
PCO2 10 mmHg 35 45
PO2 145 mmHg 80 - 100
Bikarbonat (HCO3) 9 mmol/L 21 28
Total CO2 10 mmol/L 23 27
Saturasi O2 99 % 95 100
Kelebihan basa (BE) -8,8 mEq/L -2,5 2,5

9
10 Februari 2016

Jenis pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal


KIMIA KLINIK
HATI
AST/SGOT 54 mU/dl < 27
ALT/SGPT 67 mU/dl < 34
ELEKTROLIT
Natrium 157 mmol/L 135-155
Kalium 3,6 mmol/L 3,5 5,5
Klorida 133 mmol/L 98 - 109

V. RINGKASAN
Seorang pasien Ny.T datang dengan keluhan mual dan muntah sejak 3 hari
sebelum masuk Rumah Sakit. Muntah 3x/hari setiap makan, isi makanan. Nyeri perut
terasa disekitar pusar dan bagian kanan atas. Os juga mengeluhkan batuk, berdahak
putih. Os juga mengatakan terjadi penurunan berat badan 13 kg dalam dua bulan
terakhir serta sering berkeringat saat dini hari. Os mengeluh terdapat demam, nyeri
kepala, serta tubuh berwarna kuning. Os sedang dalam pengobatan TB paru bulan ke
dua. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kaku kuduk (+),nyeri tekan (+) pada regio
umbilicus dan hipokondria kanan. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar
SGOT 233 mU/dl dan SGPT 215 mU/dl, Anti HIV reaktif, CD4 Absolut 21 Cell/uL,
Anti Toxoplasma IgG 49,7 IU/mL.

VI. DAFTAR MASALAH


1. Toksoplamosis
2. AIDS
3. TB dengan DIH
4. Alkalosis metabolik

VII. ANALISA MASALAH


1. Toksoplasmosis
Ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium Anti Toxoplasma IgG 49,7
IU/mL. Adapun rencana diagnostik untuk masalah ini adalah pemeriksaan

10
imunologi Toksoplasma, CT Scan, MRI. Rencana terapi untuk masalah ini
adalah: pirimetamin 3 x 25 mg

2. AIDS
Ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium Anti HIV reaktif. Adapun
rencana diagnostik untuk masalah ini adalah pemeriksaan ELISA dan western
blot. Rencana terapi untuk masalah ini adalah:
a. Medikamentosa
- Kotrimoksazol 2 x 1
- ARV
b. Non medika mentosa
Mengedukasikan kepada pasien dan keluarganya mengenai kondisi
pasien, baik penyakit yang dialaminya maupun komplikasi yang dapat
terjadi

3. Tuberkulosis Paru dengan DIH

Ditegakkan berdasarkan anamnesis pasien sedang dalam pengobatan TB bulan


ke 2, pemeriksaan fisik ekstremitas berwarna kuning, serta pemeriksaan
laboratorium fungsi hati kadar SGOT 233 mU/dl dan SGPT 215 mU/dl adanya
perbaikan fungsi hati setelah OAT dihentikan. Adapun rencana diagnostik
untuk masalah ini adalah USG Abdomen. Rencana terapi pada masalah ini,
antara lain:
Non medikamentosa
Hentikan mengkonsumsi makanan yang mengandung pengawet
Medikamentosa
- Tunda pemberian OAT
- Pemberian obat hepatoprotektor

11
4. Alkalosis metabolic
Ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium analisa gas darah. Rencana
diagnostic pemeriksaan analisa gas darah. Rencana terapi pemberian Infus
NaCl 0,9 %

VIII. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad malam
Ad functionam : dubia ad malam
Ad sanationam : dubia ad malam

IX. FOLLOW UP

4 Februari 2016

S Mual, muntah sejak 3 hari SMRS nafsu makan menurun,


O KU : Tampak Sakit Sedang
TD : 100/70
HR : 120 kali/menit
RR : 28 kali/menit
S : 36,70C

Mata : CA -/-, SI -/-


Mulut : Kandidiasis oral
Leher : kaku kuduk (+)
Thoraks : S1S1 normal regular, M (-), G (-)
SNV +/+, rh -/-, wh -/-
Abdomen : BU (+) 3x/menit, NT pada regio umbilikus, hipokondria
kanan
Ekstremitas: ikterik(+). Akral hangat (+)(+)/(+)(+), deformitas (-), edema (-)(-)/(-)(-)
A 1. TB Paru dengan DIH
P Medikamentosa
1. IVFD Asering/8 jam

12
2. Inj. Meropenem 3 x 1 gr
3. Inj. Deksametason 3 x 10 mg
4. Curcuma 3x2
5. Hepa Q 3x1

5 februari 2016

S Penurunan kesadaran, cegukan, mual, demam, mulut sulit terbuka


O KU : apatis, Tampak Sakit Sedang
TD : 150/100
HR : 112 kali/menit
RR : 22 kali/menit
S : 390 C

Mata : CA -/-, SI -/-


Mulut : Kandidiasis oral
Thoraks : S1S1 normal regular, M (-), G (-)
SNV +/+, rh -/-, wh -/-
Abdomen : BU (+) 3x/menit, NT (-)
Ekstremitas: ikterik(+). Akral hangat (+)(+)/(+)(+), deformitas (-), edema (-)(-)/(-)(-)
A 1. TB Paru dengan DIH
2. AIDS
P Medikamentosa
1. Inj. Meropenem 3 x 1 gr
2. Inj. Deksametason 3 x 10 mg
3. Tunda OAT
4. Asparcat 3 x 2
5. Hepa Q 3x1

8 februari 2016

S Demam
O TD : 160/100

13
HR : 102 kali/menit
RR : 28 kali/menit
S : 390 C

Mata : CA -/-, SI -/-


Mulut : Kandidiasis oral
Thoraks : S1S1 normal regular, M (-), G (-)
SNV +/+, rh -/-, wh -/-
Abdomen : BU (+) 5x/menit, NT (-)
Ekstremitas: Akral hangat (+)(+)/(+)(+), deformitas (-), edema (-)(-)/(-)(-)
A 1. Meningitis TB
2. TB Paru dengan DIH
3. AIDS
4. Alkalosis metabolik
P Medikamentosa
1. Bicnat 50 mEq dalam Nacl 0,9% 100 cc dalam 2 jam
2. Kotrimoksazol 2x1
3. Hepa Q 3x1
4. Injeksi meropenem 3 x 1
5. Asam folat 2 x1

9 februari 2016

S Demam
O TD : 140/80
HR : 102 kali/menit
RR : 28 kali/menit
S : 380 C

Mata : CA -/-, SI -/-


Mulut : Kandidiasis oral
Thoraks : S1S1 normal regular, M (-), G (-)
SNV +/+, rh -/-, wh -/-

14
Abdomen : BU (+) 3x/menit, NT (-)
Ekstremitas: Akral hangat (+)(+)/(+)(+), deformitas (-), edema (-)(-)/(-)(-)
A 5. Meningitis TB
6. TB Paru dengan DIH
7. AIDS
P Medikamentosa
6. Kotrimoksazol 2x1
7. Hepa Q 3x1
8. Injeksi meropenem 3 x 1
9. Asam folat 2 x1
10 februari 2016

S Demam, sesak, sulit tidur


O TD : 140/80
HR : 88 kali/menit
RR : 24 kali/menit
S : 38,40 C
Mata : CA -/-, SI -/-
Mulut : Kandidiasis oral
Thoraks : S1S1 normal regular, M (-), G (-)
SNV +/+, rh -/-, wh -/-
Abdomen : BU (+) 5x/menit, NT (-)
Ekstremitas: Akral hangat (+)(+)/(+)(+), deformitas (-), edema (-)(-)/(-)(-)
A 1. Toksoplasmosis serebral
2. TB Paru dengan DIH
3. AIDS
4. Alkalosis metabolik
P Medikamentosa
1. Kotrimoksazol 2x1
2. Hepa Q 2x2
3. Injeksi meropenem 3 x 1
4. Injeksi klindamisin 4 x 6 mg
5. Piracetam 2 x 2 mg
6. Asam folat 2 x1

15
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Toksoplasmosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh parasit
Toxoplasma Gondii.(1)

2.2 Epidemiologi

Prevalensi zat anti T. gondii berbeda di berbagai daerah geografik, seperti pada
ketinggian yang berbeda di daerah rendah prevalensi zat anti lebih tinggi dibandingkan
dengan daerah yang tinggi. Prevalensi zat anti ini juga lebih tinggi di daerah tropik.Pada
umumnya prevalensi zat anti T. gondii yang positif meningkat sesuai dengan umur, tidak ada
perbedaan antara pria dan wanita. Anjing sebagai sumber infeksi mendapatkan infeksi dari
makan tinja kucing atau bergulingan pada tanah yang mengandung tinja kucing, yang
merupakan instrumen penyebaran secara mekanis dari infeksi T. gondii. Lalat dan kecoa
secara praktis juga penting dalam penyebarannya.[2]

Di Indonesia, prevalensi zat anti T. gondii pada hewan adalah sebagai berikut:
kucing 35-73 %,
babi 11-36 %,
kambing 11-61 %
anjing 75 %
ternak lain kurang dari 10 % .[2]

2.3 Etiologi

Disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, yang dibawa olehkucing, burung dan hewan
lainyang dapat ditemukan pada tanahyang tercemar oleh tinja kucing dan kadang pada daging
mentahataukurang matang. Apabila parasit masuk ke dalam sistemkekebalan, ia menetap di

16
dalamtubuhtetapi sistem kekebalan pada orangyang sehat dapat melawan parasit tersebut
hingga tuntas dan dapat mencegah penyakit. Transmisi pada manusia terutama terjadi
bilamemakan daging babi atau domba yang mentahyang mengandungoocyst (bentuk infektif
dari T.gondii). Bisa juga dari sayur yangterkontaminasi ataukontak langsung dengan feses
kucing. Selain itudapat terjadi transmisi lewat transplasental, transfusidarah, dantransplantasi
organ. Infeksi akut pada individu yangimmunokompeten biasanya asimptomatik. Pada
manusia dengan imunitas tubuh yang rendah dapat terjadi reaktivasi dari infeksi laten. Yang
akan mengakibatkan timbulnya infeksi opportunistik dengan predileksi di otak.[3]

Gambar 1 : Siklus Hidup Toxoplasmosis


Siklus Hidup dan Morfologi Toxoplasmosis
Toxoplasma gondii terdapat dalam 3 bentuk yaitu bentuktrofozoit, kista, danOokista:

17
Tachyzoit berbentuk oval dengan ukuran 3-7 um, dapatmenginvasi semua sel
mamalia yang memiliki inti sel.Dapat ditemukan dalam jaringan selama masa akut
dariinfeksi. Bila infeksi menjadi kronis tachyzoit dalamjaringan akan membelah
secara lambat dan disebutbradizoit.[3]

Gambar 2: Tachyzoit

Bentuk kedua adalah kista yang terdapat dalam jaringandengan jumlah ribuan
berukuran 10-100 um. Kistapenting untuk transmisi dan paling banyak terdapatdalam
otot rangka, otot jantung dan susunan syarafpusat.[3]

Gambar 3 : Kista

Bentuk yang ke tiga adalah bentuk Ookista yangberukuran 10-12 um. Ookista
terbentuk di sel mukosausus kucing dan dikeluarkan bersamaan dengan feceskucing.
Dalam epitel usus kucing berlangsung siklusaseksual atau schizogoni dan siklus atau

18
gametogeni dan sporogoni. Yang menghasilkan ookista dan dikeluarkan bersama
feces kucing. Kucing yang mengandung toxoplasma gondii dalam sekali ekskresi
akan mengeluarkan jutaan ookista. Bila ookista ini tertelan oleh pejamu perantara
seperti manusia, sapi,kambing atau kucing maka pada berbagai jaringan pejamu
perantara akan dibentuk kelompok-kelompok trofozoit yang membelah secara aktif.
Pada pejamuperantara tidak dibentuk stadium seksual tetapidibentuk stadium istirahat
yaitu kista. Bila kucing makantikus yang mengandung kista maka terbentuk kembali
stadium seksual di dalam usus halus kucing tersebut.[3]

Gambar4:Ookista

2.4 Manifestasi Klinis


Gejala toxoplasmosis cerebral tidak bersifat spesifik dan agak sulit untuk
dibedakan dengan penyakit lain seperti lymphoma, tuberculosis dan infeksi HIV
akut. Toksoplasmosis dapatan tidak diketahui karena jarang menimbulkan gejala.
Gejala yang ditemui pada dewasa maupun anak-anak umumnya ringan.
Apabila menimbulkan gejala, maka gejalanya tidak khas seperti demam, nyeri
otot, sakit tenggorokan, nyeri dan ada pembesaran kelenjar limfe servikalis
posterior, supraklavikula dan suoksiput. Pada infeksi berat, meskipun jarang,
dapat terjadi sefalgia, muntah, depresi, nyeri otot, pneumonia, hepatitis,
miokarditis, ensefalitis, delirium dan dapat terjadi kejang.[4]
Gejala-gejala klinis pada toksoplasmosis pada umumnya sesuai dengan
kelainan patologi yang terjadi dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu
gejala-gejala klinis pada toksoplasmosis congenital dan toksoplasmosis didapat.

19
Gejala cerebral toksoplasma atau dikenali sebagai toksoplasma otak termasuk
ensefalitis, demam, sakit kepala hebat yang tidak ada respon terhadap pengobatan,
lemah pada satu sisi tubuh, kejang, kelesuan, kebingungan meningkat, masalah
penglihatan, vertigo, afasia, masalah berjalan, muntah dan perubahan kepribadian.
Tidak semua pasien menunjukan tanda infeksi. Pada ensefalitis fokal ditemukan
nyeri kepala dan rasa bingung kerna adanya pembentukan abses akibat dari
terjadinya infeksi toksoplasma. Pasien dengan sistem immunonya menurun,
gejala-gejala fokalnya cepat sekali berkembang dan penderita mungkin akan
mengalami kejang dan penurunan kesadaran.[4]
Toksoplasmosis serebral sering muncul dengan onset subakut dengan gejala fokal
nerologik. Walaubagaimanapun, terdapat juga onset yang tiba-tiba disertai kejang
atau pendarahan serebral. Hemiparesis dan gangguan percakapan sering ditemui
sebagai gejala klinis awal.
Keterlibatan batang otak bisa menghasilkan lesi saraf cranial dan pasien akan
mempamerkan disfungsi serebral seperti disorientasi, kesadaran menurun, lelah
atau koma. Pengibatan medulla spinalis akan menghasilkan gangguan motorik dan
sensorik bagi beberapa anggota badan serta kantung kemih atau kesakitan fokal.[4]

Manifestasi klinis pada pasien dengan AIDS(5)

Gejala neurologis dengan atau tanpa lesi fokal di sistem saraf pusat merupakan
manifestasi klinis tersering pada pasien dengan AIDS. Gejala yang timbul
diantaranya:

- Penurunan status mental


- Kejang
- Lemah
- Meningismus
- Gangguan nervus kranialis
- Gangguan fungsi sensorik
- Manifestasi neuropsikiatri : paranoid psychosis, demensia, anxietas, dan
agitasi

20
IV. PATOMEKANISME
Penularan pada manusia dimulaidengan tertelannya tissue cyst atau oocyst diikuti oleh
terinfeksinyasel epitel usus halus oleh bradyzoites atau sporozoites secaraberturut-turut.
Setelah bertransformasi menjadi tachyzoites,organisme ini menyebar ke seluruh tubuh lewat
peredaran darahatau limfatik. Parasit ini berubah bentuk menjadi tissue cysts begitumencapai
jaringan perifer. Bentuk ini dapat bertahan sepanjanghidup pejamu,danberpredileksi untuk
menetap pada otak,myocardium, paru, otot skeletal dan retina.
Pada manusia dengan imunitas tubuh yang rendah dapat terjadi reaktivasi dariinfeksi
laten yang akan mengakibatkan timbulnya infeksioportunistik denganpredileksi di otak.
Tissue cyst menjadi rupturdan melepaskan invasive tropozoit (takizoit). Takisoit ini akan
menghancurkan sel dan menyebabkan focus nekrosis.(6)

Ookista (Daging mentah)

Tachyzoit (usus)

Darah & Limfe

Imune Respon

Bradyzoit (otak, skeletal,


myocard, retina)

Immunocompromized

reaktivasi

Gambar5 :Patogenesis Toxoplasmosis

Pada pasien yang terinfeksi HIV, jumlah CD4 limfosit T dapat menjadi prediktor
kemungkinan adanya infeksi oportunistik. HIV secara signifikan berdampak pada kapasitas
fungsional dan kualitas kekebalan tubuh. HIV mempunyai target sel utamayaitu sel limfosit

21
T4, yang mempunyai reseptor CD4. Beberapa sel lain yangjuga mempunyai reseptor CD4
adalah : sel monosit, selmakrofag, sel folikular dendritik, sel retina, sel leher rahim, dan
sellangerhans. Infeksi limfosit CD4 oleh HIV dimediasi oleh perlekatanvirus kepermukaan
sel reseptor CD4, yang menyebabkan kematianseldengan meningkatkan tingkat
apoptosispada sel yang terinfeksi. Selain menyerang sistem kekebalan tubuh, infeksi HIV
jugaberdampak pada sistem saraf dandapat mengakibatkan kelainanpada saraf. Infeksi
oportunistik dapat terjadi akibat penurunan kekebalantubuh pada penderita HIV/AIDS.
Infeksi tersebudapatmenyerang sistem saraf yang membahayakanfungsi dan
kesehatanselsaraf. Mekanisme bagaimana HIV menginduksi infeksi oportunistikseperti
toxoplasmosissangat kompleks. Ini meliputi deplesi dari sel T CD4; kegagalan produksi IL-2,
IL-12, dan IFN-gamma; kegagalanaktivitas Limfosit T sitokin. Sel-sel dari pasien yang
terinfeksi HIVmenunjukkan penurunan produksi IL-12 dan IFN-gamma secara invitro
danpenurunan ekspresi dari CD 154 sebagai respon terhadapT gondii.(7,8)

Tachyzoit

Aktivasi CD4 sel T

ekspresi CD154

sel dendritik dan


makrofag

IL-12

Sel TINF-y

Respon antitoxoplasmik

Gambar5 :ResponImun

22
PENCEGAHAN

Toksoplasmosis dapat dicegah di tiga tingkatan yang berbeda:

1. Pencegahan infeksi primer


2. Pencegahan transmisi vertical dalam penyakit congenital
3. Pencegahan penyakit pada individu yang imunokompromais

Untuk mencegah infeksi primer, pajanan parasit dapat dikurangi dengan edukasi kesehatan.
Faktor risiko utama adalah makan daging belum matang dan hidup bersama kucing. Kista jaringan
dalam daging tidak infektif lagi bila sudah dipanaskan sampai 66 C atau diasap. Setelah memegang
daging mentah sebaiknya tangan dicuci bersih dengan sabun. Makanan harus ditutup rapat-rapat
supaya tidak dapat dijamah oleh lalat. Sayur mayor harus dicuci bersih atau dimasak. Kucing
peliharaan sebaiknya diberi makanan matang dan dicegah berburu tikus dan burung.
Saat ini belum tersedia vaksin untuk mencegah toksoplasmosis. Imunitas maternal akibat
toksoplasmosis yang diturunkan sebelum terjadi konsepsi melindungi janin dari infeksi. Pasien
imunokompromais yang mendapat kotrimoksazol sebagai profilaksis untuk infeksi penumonitis juga
terlindungi dari toksoplasmosis

Individu dengan HIV dan yang memiliki seronegatif harus dihindari dari pajanan dengan
parasit. Skrining maternal masih merupakan kontroversi.skrining serologic ditujukan untuk
mendeteksi infeksi maternal akut. Namun kadang sulit untuk menentukan apakah benar terjadi infeksi
maternal akut dan janin. Saat diagnosis infeksi akut ditegakkan pada ibu hamil, terapi anti T. Gondii
dan pemeriksaan lanjutan atas kemungkinan infeksi pada janin diberikan, dan aborsi ditawarkan.(1)

PROGNOSIS
Toksoplasma akut untuk pasien imunokompeten mempunyai prognosis yang baik.
Toksoplasmosis pada bayi dan janin dapat berkembang menjadi retinokoroiditis. Toksoplamosis
kronis asimptomatik dengan titer antibody yang persisten, umumnya mempunyai prognosis yang baik
dan berhubungan erat dengan imunitas seseorang. Toksoplasmosis pada pasien imunodefisiensi
mempunyai prognosis yang buruk.(1)

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Pohan T. Toksoplasmosis. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 4. Interna


publishing. 2014. P.624
2. Ir.INDRA CHAHAYA S,Msi. EPIDEMIOLOGI TOXOPLASMA GONDII.
BagianKesehatanLingkunganFakultasKesehatanMasyarakat. Universitasn Sumatera
Utara.
3. Advisory Commitee on the Microbiological Safety of Food: Risk profile in Relation
to Toxoplasma in the Food Chain.

4. Ganiem AR, Dian S, Indriati A, Chaidir L, Wisaksana R, Sturm P, et al. Cerebral


Toxoplasmosis Mimicking Subacute Meningitis in HIV-Infected Patients; a Cohort
Study from Indonesia. PLOS Neglected Tropical Disease J. 2013:1-6.
5. Hokelek M. Toksoplasmosis. Available on :
http://emedicine.medscape.com/article/229969-clinical. updated on: october 20th
2015. Accessed on February 16th 2016
6. Ones JL, Kruszon-Moran D, Sanders-Lewis K, Wilson M. Toxoplasma gondii
infection in the United States, 1999 2004, decline from the prior decade. Am J Trop
Med Hyg. 2007 Sep. 77(3):405-10. [Medline].
7. Yasuhiro Suzuki. Immunopathogenesis of Cerebral Toxoplasmosis. Department of
Biomedical Science and Pathology, Virginia. 2002.
8. Sushrut Kamerkarand Paul H. Davis. Toxoplasma on the Brain:Understanding Host-
PathogenInteractions in Chronic CNS Infection. August 2011.

24