Anda di halaman 1dari 4

NANDA LADEPI

15919038
Islamic University of Indonesia
Yogyakarta

Kasus Kecurangan Audit : Perusahaan Phar Mor Inc.


Posted on Oktober 29, 2014 by Dwisarjono
Sejarah mencatat kasus Phar Mor Inc. sebagai kasus fraud yang melegenda dikalangan
auditor keuangan. Eksekutif di Phar Mor secara sengaja melakukan fraud untuk mendapatkan
keuntungan financial yang masuk ke saku pribadi individu di jajaran top manajemen
perusahaan.
Phar Mor Inc, termasuk perusahaan retail terbesar di Amerika Serikat yang dinyatakan
bangkrut pada bulan Agustus 1992 berdasarkan undang-undangan U.S. Bangkruptcy Code.
Pada masa puncak kejayaannya, Phar Mor mempunyai 300 outlet besar di hampir seluruh
negara bagian dan memperkerjakan 23,000 orang karyawan. Produk yang dijual sangat
bervariasi, dari obat-obatan, furniture, electronik, pakaian olah raga hingga videotape. Dalam
melakukan fraud, top manajemen Phar Mor membuat 2 laporan ganda. Satu laporan
inventory, sedangkan laporan lain adalah laporan bulanan keuangan (monthly financial
report). Satu set laporan inventory berisi laporan inventory yang benar (true report),
sedangkan satu set laporan lainnya berisi informasi tentang inventory yang di adjustment dan
ditujukan untuk auditor use only.
Demikian juga dengan laporan bulanan keuangan, laporan keuangan yang benar berisi
tentang kerugian yang diderita oleh perusahaan, ditujukan hanya untuk jajaran eksekutif.
Laporan lainnya adalah laporan yang telah dimanipulasi sehingga seolah-olah perusahaan
mendapat keuntungan yang berlimpah.
Dalam mempersiapkan laporan-laporan tersebut, manajemen Phar Mor sengaja merekrut staf
dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Cooper & Lybrand. Staf-staf tersebut yang kemudian
dipromosikan menjadi Vice President bidang financial dan kontroler, yang dikemudian hari
ternyata terbukti turut terlibat aktif dalam fraud tersebut.
Dalam kasus Phar Mor, salah satu syarat agar internal audit bisa berfungsi, yaitu
fungsi control environment telah diberangus. Control environment sangat ditentukan oleh
attitude dari manajemen. Idealnya, manajemen harus mendukung penuh aktivitas internal
audit dan mendeklarasikan dukungan itu kesemua jajaran operasional perusahaan. Top
manajemen Phar Mor, tidak menunjukkan attitude yang baik. Manajemen kemudian malah
merekrut staf auditor dari KAP Cooper & Librand untuk turut dimainkan dalam fraud.
Langkah ini bukan tanpa perencanaan matang. Staf mantan auditor kemudian dipromosikan
menduduki jabatan penting, tetapi dengan imbalan harus membuat laporan-laporan keuangan
ganda.
Sejauh ini manajemen Phar Mor telah membuktikan tentang teori : The Fraud Triangle. Yaitu
teori yang menerangkan tentang penyebab fraud terjadi. Menurut teori ini, penyebab fraud
terjadi akibat 3 hal : Insentive/Pressure, Opportunity dan Rationalization/ Attitude.
Insentive/Pressure adalah ketika manajemen atau karyawan mendapat insentive atau justru
mendapat tekanan (presure) sehingga mereka commited untuk melakukan fraud.
Opportunity adalah peluang terjadinya fraud akibat lemahnya atau tidak efektifnya kontrol
sehingga membuka peluang terjadinya fraud. Sedangkan rationalization/ attitude
menjelaskan teori yang menyatakan bahwa fraud terjadi karena kondisi nilai-nilai etika lokal
yang membolehkan terjadinya fraud. Dalam kasus Phar Mor, setidak-tidaknya top
manajemen telah membuktikan satu dari tiga penyusun triangle, yaitu : top manajemen telah
melakukan Insentive/Pressure.
Analisis
Dari kasus dijelaskan bahwa terdapat kecurangan yang dilakukan oleh Phar Mor secara
sengaja untuk mendapatkan keuntungan financial dan keterlibatan auditor dalam menutupi
fraud tersebut. Auditor tersebut secara langsung telah melanggar kode etik atau
profesionalisme auditor.
Tindak Kecurangan (fraud) adalah suatu salah saji dari suatu fakta bersifat material yang
diketahui tidak benar atau disajikan dengan mengabaikan prinsip-prinsip kebenaran, dengan
maksud menipu terhadap pihak lain dan mengakibatkan pihak lain tersebut dirugikan.
Timbulnya fraud pada umumnya merupakan gabungan antara motivasi dan kesempatan.
Motivasi dapat muncul dari adanya dorongan kebutuhan dan kesempatan berasal dari
lemahnya pengendalian intern dari lingkungan, yang memberikan kesempatan
terjadinya fraud. Semakin besar dorongan kebutuhan ekonomi seseorang yang berada dalam
lingkungan pengendalian yang lemah, maka semakin kuat motivasinya untuk
melakukan fraud.
Dengan demikian ada tiga unsur penting yang terkandung dalam fraud, yaitu:
1. Niat/ kesengajaan
2. Perbuatan tidak jujur
3. Keuntungan yang merugikan pihak lain
Audit investigatif merupakan pengujian secara mendalam terhadap fakta-fakta dengan tujuan
untuk menentukan apakah telah terjadi tindak pidana, perdata, atau pelanggaran disiplin. Pada
dasarnya audit investigasi adalah mencari kebenaran, apakah terjadi kecurangan (fraud) atau
tidak.
Karena tujuan audit investigasi adalah untuk mengidentifikasi dan mengungkap kecurangan
atau kejahatan, maka pendekatan, prosedur dan teknik yang digunakan di dalam audit
investigatif relatif berbeda dengan pendekatan, prosedur dan teknik yang digunakan di dalam
audit keuangan, audit kinerja atau audit dengan tujuan tertentu lainnya. Dalam audit
investigatif, seorang auditor memulai suatu audit dengan praduga/ indikasi akan adanya
kemungkinan kecurangan dan kejahatan yang akan diidentifikasi dan diungkap melalui audit
yang akan dilaksanakan. Kondisi tersebut, misalnya, akan mempengaruhi siapa yang akan
diwawancarai terlebih dahulu atau dokumen apa yang harus dikumpulkan terlebih dahulu.
Selain itu, dalam audit investigatif, jika memiliki kewenangan, auditor dapat menggunakan
prosedur dan teknik yang umumnya digunakan dalam proses penyelidikan dan penyidikan
kejahatan, seperti pengintaian dan penggeledahan.
Audit investigatif seharusnya dilaksanakan oleh orang-orang yang mempunyai pengalaman
dan keahlian dalam melaksanakan audit investigatif. Auditor yang belum memiliki
pengalaman dan keahlian harus mendapat bimbingan dari auditor lain yang memiliki
pengalaman dan keahlian audit investigatif. Auditor investigatif juga perlu mempunyai
pemahaman yang cukup tentang hal-hal yang akan diaudit terutama menyangkut peraturan
yang berlaku serta proses bisnis yang berkaitan dengan hal-hal yang akan diaudit. Secara
khusus, auditor yang akan melaksanakan audit investigatif juga harus mempunyai
pemahaman yang cukup tentang ketentuan-ketentuan hukum yang berkaitan dengan hal-hal
yang akan diaudit maupun ketentuan-ketentuan hukum yang berkaitan dengan pengungkapan
kejahatan misalnya Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana atau KUHAP.
Pendekatan Audit Investigasi
Sebagaimana halnya penyelidikan dan penyidikan, audit investigatif bisa
dilaksanakan secara reaktif atau proaktif.
1. Reaktif; Audit investigatif dikatakan bersifat reaktif apabila auditor melaksanakan
audit setelah menerima atau mendapatkan informasi dari pihak lain mengenai
kemungkinan adanya tindak kecurangan dan kejahatan. Audit investigatif yang
bersifat reaktif umumnya dilaksanakan setelah auditor menerima atau
mendapatkan informasi dari berbagai sumber informasi misalnya dari auditor lain
yang melaksanakan audit reguler, dari pengaduan masyarakat, atau karena adanya
permintaan dari aparat penegak hukum. Karena sifatnya yang reaktif maka auditor
tidak akan melaksanakan audit jika tidak tersedia informasi tentang adanya
dugaan atau indikasi kecurangan dan kejahatan. Dalam kasus ini dapat dijelaskan
bahwa auditor dapat melakukan audit investigasi, karena indikasi terjadinya fraud
telah ter-publish ke media.
2. Proaktif; audit investigatif dikatakan bersifat proaktif apabila auditor secara aktif
mengumpulkan informasi dan menganalisis informasi tersebut untuk menemukan
kemungkinan adanya tindak kecurangan dan kejahatan sebelum melaksanakan
audit investigatif. Auditor secara aktif mencari, mengumpulkan informasi dan
menganalisis informasi-informasi yang diperoleh untuk menemukan kemungkinan
adanya kecurangan dan kejahatan. Audit investigatif yang bersifat proaktif perlu
dilakukan pada area atau bidang-bidang yang memiliki potensi kecurangan atau
kejahatan yang tinggi. Audit yang bersifat proaktif dapat menemukan
kemungkinan adanya kecurangan dan kejahatan secara lebih dini sebelum kondisi
tersebut berkembang menjadi kecurangan atau kejahatan yang lebih besar. Selain
itu audit investigatif yang bersifat proaktif juga dapat menemukan kejahatan yang
sedang atau masih berlangsung sehingga pengumpulan bukti untuk penyelidikan,
penyidikan dan penuntutan kejahatan tersebut lebih mudah dilaksanakan.
Hasil dari suatu audit investigatif, baik yang bersifat reaktif maupun proaktif dapat digunakan
sebagai dasar penyelidikan dan penyidikan kejahatan oleh aparat penegak hukum.
Berdasarkan hasil audit tersebut, aparat penegak hukum akan mengumpulkan bukti-bukti
yang relevan sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku untuk kepentingan penuntutan dan
pemeriksaan di pengadilan. Dari kasus yang dipaparkan dapat dikemukakan bahwa dengan
dilakukannya audit investigatif, segala bukti kecurangan yang ditemukan dijadikan pedoman
atau alat bukti dalam pemeriksaaan di pengalidan. Phar Mor Inc sendiri telah dinyatakan
bangkrut pada bulan Agustus 1992 berdasarkan undang-undangan U.S. Bangkruptcy Code.