Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu upaya pembangunan nasional dalam bidang pendidikan adalah


mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia
yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan
beradab berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Dalam dunia pendidikan untuk mengetahui apakah proses
pendidikan berhasil sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan maka di adakanlah
evaluasi untuk mengetahui sejauh mana keberhasilannya. Kegiatan mengukur atau
melakukan pengukuran adalah merupakan kegiatan yang paling umum dilakukan
dan merupakan tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam penilaian hasil
belajar.

Pada kenyataannya semua makhluk hidup termasuk dalam hal ini manusia
diciptakan oleh Allah SWT dengan membawa berbagai macam perbedaan antar
manusia yang satu dengan manusia yang lain, baik dari segi fisik maupun
psikisnya. Dengan kata lain sulit ditemui kesamaan antara manusia yang satu
dengan yang lainnya, walaupun juga ada beberapa kemiripan-kemiripan di antara
mereka. Perbedaan-perbedaan tersebut turut menentukan kualitas suatu individu
dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya yang pada gilirannya berakibat
pada hasil yang dicapainya.

Untuk itu, diperlukan suatu metode untuk mengetahui perbedaan-


perbedaan di antara mereka baik itu dalam hal kekurangannya maupun dalam hal
kelebihannya. Metode tersebut dapat dilakukan dengan cara mengukur dan
mengevaluasi. Pengukuran (measurement) dilakukan untuk menentukan jumlah
(kuantitas) dan berkaitan dengan benar-salah, sedangkan evaluasi (evaluation)
dilakukan untuk menentukan mutu (kualitas) dan berkaitan dengan baik-buruk.
Sedangkan alat untuk mengevaluasi adalah lazim disebut dengan istilah tes.

1
Disamping itu, tinggi rendahnya kualitas suatu tes juga dapat menentukan
terhadap hasil yang ingin dicapai dari kegiatan penilaian yang dilakukan tersebut.
Semakin baik tes yang digunakan, maka hasil yang akan dicapai semakin baik dan
bisa dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, jika tes yang digunakan kurang baik,
maka hasil yang dicapai akan jauh dari apa yang diharapkan.
Selain teknik tes, ada juga satu teknik yang digunakan sebagai alat
evaluasi, yakni teknik nontes. Teknik ini dipakai dengan melengkapi kelemahan
yang terdapat pada teknik tes. Teknik ini antara lain observasi, wawancara,
angket, dan lain-lain yang akan dibahas dalam penjabaran nanti.
Dalam makalah ini, akan dibahas mengenai alat untuk mengevaluasi hasil
belajar siswa yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi tes dan nontes;
dimana keduanya dapat dipergunakan untuk mendapatkan informasi atau data
tentang objek yang akan dinilai dan diukur. Dan yang lebih penting lagi,
pembahasan topik ini akan memberi acuan kepada tester kapan dia harus
menggunakan teknik tes dan kapan harus menggunakan teknik nontes. Pemilihan
secara tepat terhadap penggunaan kedua jenis alat evaluasi tersebut diatas,
tergantung pada tujuan penilaian dan jenis informasi yang ingin kita dapatkan.

1.2 Rumusan Masalah


Dari beberapa permasalahan dapat di rumuskan sebagai berikut :
1. Apa yang di maksud dengan Penilaian ?
2. Apa apa saja yang termasuk penilain tes ?
3. Apa apa saja yang termasuk penilaian no tes ?
4. Apa-apa saja perbedaan penilaian tes dan penilaian nont tes ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Dapat mengetahui konsep penilaian.
2. Dapat mengetahui apa saja yang termasuk penilaian tes.
3. Dapat mengetahui apa saja yang termasuk penilaian tes.
4. Dapat mengetahui perbeaan penilaian tes dan penilaian non tes.

2
BAB II

PEMBAHASAN

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Penilaian

Assessment is a process by which information is obtained relative to some


known objective or goal. Assessment is a broad term that includes testing.
(Penilaian adalah proses yang informasi yang diperoleh relatif terhadap beberapa
dikenal tujuan atau tujuan. Penilaian adalah istilah yang luas yang mencakup
pengujian.)1
Assessment is an integral part of both traditional and online education,
especially when determining student learning outcomes. In the online learning
environment, both formative and summative assessment practices require an
understanding of the features and tools inherent to the electronic medium.
Creating assessments for online education, either formative or summative, also
requires application of constructivist learning principles to our collective
understanding of the educational process and related goals.2
Penilaian pembelajaran adalah usaha untuk mendapatkan berbagai informasi
secara berkala, berkesinambungan, serta menyeluruh tentang proses dan hasil dari
perrumbuhan maupun perkembangan yang telah dicapai, baik berkaitan dengan
proses maupun hasil pembelajaran.3
Penilaian proses belajar adalah upaya pemberian nilai terhadap kegiatan
pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa, sedangkan penilaian hasil
belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai
dengan menggunakan kriteria tertentu. Hasil pembelajran tersebut pada dasarnya
merupakan kompetensi-kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan,

1
Dr. Bob Kizlik. Measurement, Assessment, and Evaluation in Education (Madison : University
of Wisconsin, 2012) pg 1
2
Jeffry L. Moe. 130 Formative and Summative Assessment in Online Education. ( La Jolla :
Publication of National University, 2013) vol . pg 130
3
Andi Prastowo.Pengembangan Bahan Ajar Tematik(Wonosari : Diva Press, 2013) hal 401

3
keterampilan, sikap, serta nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir
dan bertindak. 4

2.2. Jenis-Jenis Penilaian Pembelajaran

Penilaian pembelajaran terdiri atas dua jenis, yaiti tes (test) dan bukan test
(non test).5

Penilaian Pembelajaran

Non-Test Pengetahuan dan Keterampilan Test

Skala sikap
Kuesioner Tes Tes Tes
Portofolio Lisan Tertulis tindakan
Catatan sekolah
Jurnal
observasi
Tes tertulis uraian Tes tertulis objektif :
Teratas, tertutup Pilihan ganda
dan ter struktur Benar-salah
Bebas terbuka Menjodohkan
Isian singkat
Isian panjang
Isian klosur

2.3. Langkah-Langkah Menghasilkan Penilaian yang Berkualitas

Secara umum, untuk menghasilkan penilaian pembelajaran yang berkualitas


perlu di tempuh sejumlah langkah standar seperti berikut :

4
Ibid, hal 402
5
Ibid, hal 406

4
2.3.1. Perencanaan

Pada tahap perencanaan, hal yang perlu dilakukan adalah merumuskan tujuan
penilaian yayng ingin dicapai, menentukan criteria atau ukuran keberhasilan
penilaian, sertta menentukan teknik dan instrumen yang akan digunakan dalam
proses penilaian.

2.3.2. Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan ada tiga hal yang perlu di perhatikan, yaitu penilaian
harus berlangsung sejak awal sampai akhir proses pembelajaran, penilaian harus
dilihar sebagai proses pembelajara, penilaian harus diluar sebagai proses
berkelanjuta, dan penilaian di arahkan baik pada program pembelajaran, proses
pembelajaran maupun produk pembelajaran..

2.3.3. Penyusunan dan penyajian laporan

Laporan hasil penilaian disusun dengan jalan memperhitunkan seluruh


informasi yang terkumpul berikut dengan pengolahannya. Penyusenan laporan
tersebut dilakukan secara logis, sistematis, komprehensif, dan diakhiri dengan
sejumlah rekimendasi dan saran-saran yang disampaikan kepada semua pihak.

2.3.4. Tindak lanjut

Hasil pengolahan informasi dan saran-saran harus ditindaklanjuti secara


operasional. Umpan balik harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kegiatan
pembelajaran berikutnya.

2.4. Langkah-Langkah Penilaian Hasil Belajar

Adapun secara procedural, Sudjana mengungkapkan empat langkah penilaian


hasil belajar, yaitu :

a. Merumuskan atau mempertegas tujuan-tujuan belajar.Mengingat fungsi


penilaian hasil belajar adalah mengukur tercapai tidaknya tujuan pembelajaran,
maka perlu dilakukan upaya mempertegas tujuan pembelajaran sehingga dapat
memberikan arah terhadap penyusunan alat-alat penlaian.

5
b. Mengkaji kembali materi pembelajaran berdasarka kurikulum dan silabus mata
pelajaran. Hal ini penting dilakukan mengingat isi tes atau pertanyaan penilain
bekenaan dengan bahan pembelajarn yang diberikan. Penguasaan materi sesuai
dengan tujuan pembelajaran yang merupakan isi dan sasaran penilaian hasil
belajar.
c. Menyusun alat-alat penilaian baik test maupun non test yang cocok digunakan
dalam menilai jenis-jenis tingkah laku yang tergambar dalam tujuan
pembeajaran. Dalam menyusun alat penilaian hendaaknya memperhatikan
kaidah-kaidah penulisan soal.
d. Menggunakan hasil-hasil penilaian sesuai dengan tujuan penilaian, yaitu untuk
kepentingan pendeskripsin kemampuan siswa, kepentingan perbaikan
pembelajaran, kepeningan belajar, maupun kepentingn laporan
pertanggungjawaban pendidikan.6

2.5 Penilaian Berdasarkan Tes

Istilah tes berasal dari bahasa Perancis yaitu testum yang berarti piring yang
digunakan untuk memilih logam mulia dari benda-benda lain, seperti pasir, batu,
tanah, dan sebagainya. Dalam perkembangannya tes diadopsi dalm psikologi dan
pendidikan. Jika dilihat dari jawaban siswa tes dapat dibagi menjadi tiga jenis,
yaitu tes tertulis, lisan, dan tindakan. 7

Dalam Encyclopedia of Educational Evaluation, tes diartikan; any questions


or other means of measuring the skill, knowledge, intelligence, capacities or
aptitudes of an individual or group, (Anderson, dkk., 1976:425).

A test is a special form of assessment. Tests areassessments made under


contrived circumstances especially so that they may be administered. In other
words, all tests are assessments, but not all assessments are tests. (Tes ini adalah
bentuk khusus dari penilaian. Tes ini adalah penilaian yang dibuat dalam keadaan

6
Ibid, hal 412-413
7
Ibid, hal 416

6
buat terutama sehingga mereka dapat diberikan. Dengan kata lain, semua tes
penilaian, tapi tidak semua penilaian adalah tes).8
Sedangkan Sumadi Suryabrata, mengartikan tes adalah: pertanyaan-
pertanyaan yang harus dijawab atau perintah-perintah yang harus dijalankan, yang
mendasarkan harus bagaimana testee menjawab pertanyaan-pertanyaan atau
menjalankan perintah-perintah itu, penyelidik mengambil kesimpulan dengan cara
membandingkan dengan standar atau testee lainnya (Sumadi Suryabrata,
1984:22).
Dari ketiga pengertian di atas, diambil pengertian, tes adalah alat pengukuran
berupa pertanyaan, perintah, dan petunjuk yang ditujukan kepada testee untuk
mendapatkan respon sesuai dengan petunjuk itu. Atas dasar respon tersebut
ditentukan tinggi rendahnya skor dalam bentuk kuantitatif selanjutnya
dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan untuk ditarik kesimpulan yang
bersifat kualitatif.9

System penilaian dengan menggunakan teknik tes disebut penilaian


konvensional. System penilaian inin kurang menggambarkan kemajuan belajar
siswa secara holistic. Sebab biasanya hasil belajar hanya tergambar dalam entuk
angka-angka atau huruf-huruf, dimana huruf dan ngka mempunyai maksud yang
sangat abstrak. Teknik tes ini meliputi lisan (oral test), tertulis ( written test), dan
tindakan (action test).10

2.5.1 Tes tertulis

Tes tulis termasuk dalam kelompok tes verbal, yaitu tes yang soal dan
jawaban yang diberikan oleh siswa berupa bahasa tulisan. Tes ini kelebihannya
dapat mengukur kemampuan sejumlah peserta didik dalam suatu tempat yang
terpisah dalam waktu yang sama.

8
Dr. Bob Kizlik. Measurement, Assessment, and Evaluation in Education (Madison : University
of Wisconsin, 2012) pg 1
9
Drs. M. Chabib Thoha. Teknik evaluasi pendidikan. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001),
hlm
10
Andi Prastowo.Pengembangan Bahan Ajar Tematik
(Wonosari : Diva Press, 2013) hal 407

7
Dalam tes tulis, peserta didik relatif memiliki kebebasan untuk menjawab
soal, sebab tidak banyak pengaruh kehadiran pribadi pendidik dala soal tersebut,
sehingga secara psikologik peserta didik lebih bebas tidak terikat.

Pada tes tulis, karena soal sama, obyektivitas hasil penilaian lebih dapat
dipertanggungjawabkan daripada tes lisan atau tes tindakan.

Namun demikian, tes tulis tetap memiliki kekurangan antara lain belum tentu
cocok mengukur ranah psikomotor, mengukur ranah afektif pada tingkat
characterization.

Di samping itu apabila tidak mengguanakan bahasa ynag tegas, lugas dapat
mengundang pengertian ganda, berakibat data yang masuk salah, demikian pula
dalam mengambil kesimpulan.11

Tes tertulis ada dua bentuk yaitu uraian (essay) dan objektif (objectives)
a. Tes tertulis bentuk uraian
Bentuk tes ini menuntut siswa untuk menguraikan, menorganisasikan,
serta menyatakan jawaban dengan kata-kata sendiri dalam bentuk, teknik, dan
gaya yang berbeda satu dengan lainnya.

Tes uraian ini peserta didik memiliki kebebasan memilih dan


menentukan jawaban. Kebebasan ini berakibat data jawaban bervariasi;
sehingga tingkat kebenaran dan tingkat kesalahan juga menjadi bervariasi, hal
inilah yang mengundang subyektivitas penilai ikut berperan menentukan.
Karena itu tes ini disebut juga dengan tes subyektif. Ada beberapa kelebihan
dari tes esai, antara lain adalah:

1) Peserta didik dapat mengorganisasikan jawaban dengan fikiransendiri.


2) Dapat menghindarkan sifat terkaan dalam menjawb soal.
3) Melatih peserta didik untuk memilih fakta yang relevan dengan persoalan,
serta mengorganisasikannya sehingga dapat digunakan menjadi satu hasil
pemikiran teritegrasi secara utuh.

11
Drs. M. Chabib Thoha. Teknik evaluasi pendidikan. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001),
hlm54-55

8
4) Tawaban yang diberikan diungkapkan dalam kata-kata dan kalimat yang
disusun sendiri, sehingga melatih untuk dapat menyusun kalimat dengan
bahasa yang baik, benar dan cepat.
5) Soal bentuk uraian ini tepat mengukur kemampuan analitik, sintetik, dan
evaluatif.

Sedangkan kelemahan tes ini adalah:

1) Bahan yang diujikan relatif sedikit, sehingga agak sulit untuk mengukur
penguasaan siswa terhadap keseluruhan kurikulum.
2) Soal jenis ini jika digunakan terus-menerus dapat berakibat peserta didik
belejar dengan cara untung-untungan, ia hanya mempelajari soal-soal yang
sering dikeluarkan, materi yang jarang keluat tidak pernah dibaca.
3) Penilaian yang dilakukan terhadap hasil tes cenderung subyektif.
4) Membutuhkan banyak waktu untuk memeriksa hasilnya.
5) Sulit mendapatkan soal yang memiliki validitas dan reliabilitas tinggi.
6) Sulit mendapatkan soal yang memiliki standar nasional maupun regional.

Tes uraian memiliki kekhususan dalam penggunaanya, yaitu:

1) Apabila jumlah peserta ujian sedikit.


2) Apabila waktu penyusunan soal terbatas.
3) Biaya dan tenaga untuk menggandakan soal tidak memadai dan waktu
untuk melakukan pemeriksaan hasil cukup panjang.
4) Apabila tujuan tes untuk mengukur kemampuan berpikir analitik, sintetik,
dan evaluatif.
5) Apabila pendidik ingain mengukur dan kekayaan bacaan peserta didik.
6) Apabila pendidik ingin melihat kemampuan fantasi dan imajinasi pesrta
didik.12
Hal yang perlu dicermati adalah kelemahan tes uraian yang terletak pada
variasi jawaban yang tak terbatas sehingga menyulitkan penskoran, apalagi

12
Ibid,hlm 55-57

9
membandingkan antara peserta didik yang satu dengan yang lainnya, untuk itu
pemeriksaan hasil dapat ditempuh dengan langkah obyektivitas.13
Dilihat dari luas-sempitnya materi yang di tanyakan, tes bentuk uraian
dapat dibagi menjadi dua yaitu uraian terbatas (restricted respon items) dan
bebas (respon items)
Pada bentuk uraian terbatas, siswaharus mengemukakan hal-hal tertentu
sebai batas-batasnya saat menjawab soal. Walaupun kalimat jawaban
siswa beraneka ragam, tetap harus ada pokok-pokok penting yang terdapat
dalam sistematika. Jwabanya harus sesuai dengan batas-batas yang telah di
tentukan dan dikehendaki soal.
Contoh : Jeaskan macam-macam perubahan wujud zat !
Pada bentuk uraian bebas, siswa menjawab soal dengan cara dan
sistematika tersendiri. Siswa bebas mengemukakan pendapat sesuai
dengan kemampuannya. Oleh karena itu setiap siswa mempunyai cara dan
sistematika yang berbeda-beda. Namun guru tetap harus mempunyai acuan
atau Patokan dalam mengoreksi jawaban siswa.
Contoh : jelaskan mengapa energi tidak dapat dimusnahkan !

Selain kedua jenis tersebut, menurut Depdikbud, tes uraian memiliki dua
bentuk, yaitu bentk uraian objektif (BUO) dan bentuk uraian non objektif
(BUNO). Jika dikaji lebih mendalam, sebenarnya kedua bentuk uraian ini
termasuk dalam klasifikasi bentuk uraian terbatas. Sebab pengelompokan
tersebut hanya berdasarkan pada pendekatan atau cara pemberian skor.
Perbedaan BUO dan BUNO terletak pada kepastian pemberian skor. Pada
soal BUO kunci jawaban dan skornya lebih pasti. Sementara itu kunci
jawaban pada soal BUNO pedoman penskoran dinyatakan dalam rentang (0-4
atau 0-10), sehingga dapat di pengaruhi oleh subjektif. Untuk mengurangi
unsure subjektif tersebut, guru dapat melakukan dengan membuat soal
terperinci, sahingga pemberian skor relative sama.14.

13
Ibid, hlm 58
14
Andi Prastowo.Pengembangan Bahan Ajar Tematik
(Wonosari : Diva Press, 2013) hal 416-418

10
Ada tiga macam metode pengoreksian soal bentuk uraian, yaitu :

Pertama, metode per nomor (whole method). Pada metode ini kita
mengoreksi hasil jawaban siswa untuk setiap nomor. Jadi, praktiknya
misalkan kita mengoreksi jawaban soal nomor satu, maka semua nomor satu
untuk semua lembar jawaban siswa dikoreksi terlebih dahulu. Setelah itu
beralih ke jawaban soal nomor berikutya.

Kelebihan dari metode ini adalah pemberian skor yang berbeda atas dua
jawaban yang kualitasnya sama tidak akan terjadi. Karena jawaban siswa
yang satu selalu di bandingkan dengan jawaban siswa lainnya. Sedankan,
kelemahannya adalah pelaksanaan tetlalu berat dan memakan waktu yang
lama.

Kedua, metode perlembar (separed method). Disini guru mengkoreksi


tiap lembar jawaban siswa mulai dari nomor satu sampai terakhir.
Kelebihan metode ini adalah relative lebih mudah dan tidak memkan
banyak waktu. Sedangkan kelemahannya adalah guru sering memberi skor
yang bereda atas dua jawaban yang sama kualitasnya, atau sebaliknya.
Ketiga, metode bersilang (cross method). Pada metode ini, guru
mengoreksi jawaban siswa dengan jalan menukar hasil koreksi dari
seseorang korektor kepada korektor yang lain. Dengan kata lain, jika sudah
selesai dikoreksi oleh korektor yan satu dan lainnya.
Kelebihan dari metode ini adalah factor subjektif dapat dikurangi.
Sedangkan kelemahannya adalah butuh banyak waktu dan tenaga yang
banyak.15
b. Tes Tertulis Bentuk Objektif

Yaitu tes tulis yang itemnya dapat dijawab dengan memilih


jawaban yang sudah tersedia, sehungga peserta didik menampilkan
keseragaman data, baik bagi yang menjawab benar maupun mereka yang
menjawab salah. Kesamaan ata inilah yang memungkinkan adanya

15
Ibid, hlm 421-422

11
keseragaman analisis, sehingga subyektivitas pendidik rendah, sebab unsur
subyektifnya sulit berpengaruh dalam mnentukan skor jawaban.16

Tes tertulis bentuk objektif juga sering disebut tes kotomi


(dichotomously scored item). Disebut tes objektif karena siapa saja pun
yang mengkoreksi lembar jawaan tes objektif hasilnya akan sama, karena
kunci jawabannya sudah jelas dan pasti. Tes ini menuntut siswa untuk
memilih jawaban yang benar diantara kemungkinan jawaban yang telah
disediakan. Memberikan jawaban singkat, dan melengkapi pernyataan-
pernyataan yang belum sempurna. Bentuk tes ini sangat cocok untuk
menilai kemampuan yang menuntut proses mental yang tidak begitu
tinggi, seperti mengingat, mengenal, pengertian, dan penerapan prinsip-
prinsip.
Beberapa bentuk tes objektif antara lain benar-salah, pilihan ganda,
menjodohkan, dan melengkapi jawaban singkat.
Benar-salah (True-False)
Bentuk tes benar-salah adalah petanyaan yang mengandung
kemungkinan jawaban benar atau salah. Salah satu fungsi bentuk soal
benar-salah ini adalah untuk mengukur kemampuan siswa dalam
membedakan antara fakta dan pendapat. Dalam penyusunannya, soal
bentuk ini tidak hanya menggunakan kalimat pertanyaan atau
pernyataan, tetapi juga dalam bentuk gambar dan diagram.
Pilihan ganda (Multiple Choice)
Bentuk soal pilihan ganda dapat di gunakan untuk mengukur hasil
belajar yang lebih kompleks dan berkenaan dengan aspek ingatan,
pengertian, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Soal ini terdiri dari
pokok persoalan dan pilihan jawaban. Jumlah alternatif jawaban
sebenarnya tidak ada aturan baku. Guru dapat membuat alternatif
jawaban 3,4,atau 5. Sementara itu, kemampuan yang dapat diukur dari
piihan ganda antara lain mengenai istilah, fakta, prinsip, metode, dan

16
Drs. M. Chabib Thoha. Teknik evaluasi pendidikan. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001),
hlm 55

12
prosedur. Mengidentifikasi penggunaan fakta dan prinsip, meafsirkan
hubungan sebab-akibat, serta manila metode dan peosedur.
Menjodokan (Matching)
Bentuk soal ini hampir sama dengan pilihan ganda. Perbedaanya,
soal pilihan ganda terdiri atas atatment dan opinion, kemudian siswa
tinggal memilih salah satu option yang diangap paling benar.
Sedangkan, soal menjodohkan terdiri atas kumpulan soal dan kumpulan
jawaban yang kekduanya dikumpulkan pada dua kolom berbeda.
Melengkapi (Complektion) dan Jawaban singkat (Short Answer)
Kedua bentuk tes ini masing-masing menghendaki jawaban atau
angka-angka yang hanya dapat dinilai benar atau salah. Soal bentuk tes
jawaban singkat biasanya ditemukan dalam bentuk pertanyaan. Dengan
kata lain, soal tersebut berupa suatu kalimat bertanya yang dapat
dijawab dengan singkat. Kelebihan dari tes ini adalah relative mudah di
susun, sangnat baik menilai kemanpuan siswa yang berkenan dengan
fakta-fakta, prinsip dan terminology, menuntut siswa untuk
mengemukakan pendapatnya secara singkat, dan pemeriksaan lembar
jawaban dilakuka secara objektif. Sedangkan, kelamahannya adalah
umumnya hanya berkenaan dengan kemampuan mengingat saja. Pada
soal bnetuk melengkapi jika titik kosong yang harus diisi terlalu banyak
para siswa bisa terkecoh.17

Berikut Perbedaan antara tes obyektif dan tes esai:

Ditinjau dari Tes obyektif Tes esai


a. Taksonomi tujuan - Baik untuk mengukur - Tidak efisien untuk
pendidikan yang ingatan/hafalan, hafalan/ingatan
diukur pemahaman, aplikasi - Baik untuk
dan analisis pemahaman aplikasi
- Tidak cocok untuk dan analisis
sintesa dan evauasi - Sangat baik untuk
sintesa dan evaluasi

17
Ibid, hal 422-426

13
b. Sampling isi/bahan - Banyak bahan/luas - Materi terbatas
c. Persiapan soal - Sukar dan - Mudah, cepat dan tidak
membutuhkan waktu menuntut keahlian
panjang,tenaga harus khusus
ahli
d. Sifat soal - Obyektif, validitas dan - Obyektivitas, validitas,
reliabilitas tinggi dan reliabilitas rendah
e. Pengolahan hasil - Sederhana, obyektif, - Rumit, subyektif dan
cepat waktu lama
f. Manfaat bagi siswa - Mendorong belajar - Mendorong siswa
dengan tuntas belajar global dan
- Membaca, spekulatif
menganalisis dengan - Mendorong siswa
cepat mengintegrasikan
idenya
g. Manfaat bagi guru - Usaha mengumpulkan - Tidak bias
bank soal mengumpulkan18
2.5.2 Tes Lisan

Tes lisan adalah tes yang menuntut jawaban secra lisan dari siswa. Siswa
akan mengucapkan jawaban dengan kata-kata sendiri sesuai dengan pertanyaan
atau perintah yang diberikan. Ada beberapa petunjuk yang perlu di perhatkan guru
saat melakukan tes lisan,yaitu :
Jangan terpengaruh dengn hal subjektivitas. Misalnya dilihat dari kecantikan,
kekayaan, anak pejabat, hubungan kekeluargaan, dan sebagainya.
Berikanlah skor bagi jawaban yang dikemukakan oleh siswa. Biasanya guru
memberikan penilaian setelah tes itu selesai. Cara ini termasuk kurang baik
karena penilaian akan di pengaruhi oleh jawaban-jawaban terakhir siswa.
Catatlah hal-hal atau masalah yang kan ditanyakan dan ruang lingkup
jawaban yang diminta oleh setiap pertanyaan. Hal ini dimaksudkan agar

18
Drs. M. Chabib Thoha. Teknik evaluasi pendidikan. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001),
hlm 62

14
jangan sampai ada pertanyaan yang menyimpang dari permasalahan siswa
dan tidak sesuai dengan jawaban siswa.
Ciptakan suasana tes yang menyenangkan.
Jangan mengubah suasana tes lisan menjadi suasana diskusi atau mengobrol
santai.19
Tes ini termasuk kelompok tes verbal, yaitu tes soal dan jawabannya
menggunaka bahasa lisan, tes ini memiliki beberapa kelebihan antara lain:
a. Dapat digunakan untuk menilai kepribadian dan kemampuan penguasaan
pengetahuan peserta didik, karena dilakukan secara face to face.
b. Jika peserta didik belum jelas dengan pernyataan yang diajukan, pendidik
dapat mengubah pertanyaan sehingga dimengerti.
c. Dari sikap dan menjawab pertanyaan, pendidika dapat mengetahui apa yang
tersirat di samping apa yang tersurat dalam jawaban.
d. Pendidik dapat menggali lebih lanjut jawaban peserta didik sampai mendetil
sehingga mengetahui bagian mana yang paling dikuasai oleh pesrta didik.
e. Tepat untuk mengukur kecakapan tertentu, seperti kemampuan membaca,
mengahafal kalimat tertentu.
f. Pendidik dapat mengetahui secara langsung hasil tes seketika (Ngalim
Purwanto, 1985:46)

Di samping kelebihan tersebut, tes ini juga memiliki kekurangan atau


keterbatasan, antara lain:

a. Apabila hubungan antara pendidik dengan peserta didik kurang baik,


misalnya tegang, menakutkan dan sebagainya, akan mempengaruhi
obyektivitas hasil.
b. Keadaan emosional peserta didik sangat dipengaruhi oleh kehadiran pribadi
pendidik yang dihadapannya.
c. Pertanyaan yang diajuka kepada peserta didik sering tidak sama jumlahnya,
atau tingkat kesukarannya.
d. Membutuhkan waktu yang lama untuk melaksanakannya.

19
Ibid,hlm 426-427

15
e. Kebebasan peserta didik menjawab pertanyaan menjadi berkurang, sebab
seringkali pendidik memotong jawaban sebelum pemikirannya dituangkan
seluruhnya.
f. Seringkali pendidik terlalu cepat menyimpulkan sebelum ia selesai
menjawab.
g. Pendidik dalam memberikan penilaian sering terpengaruhi dengan
kepribadian peserta didik.

Untuk mengatasi kelemahan tesebut, sebaiknya bilamana pendidik akan


melakukan tes lisan, perlu disiapkan:

a. Pertanyaan banyak dan diklasifikasikan menurut pokok bahasan, tingkat


kesukaran soal.
b. Setiap siswa diberi waktu yang sama, jumlah soal yang sama, tingkat
kesukaran yang sama.
c. Menyiapkan lembar penilaian yang mencakup aspek yang ditanyakan dan
tigkat kesukaran soal.
d. Menyiapkan pedoman skoring dan pengkodean jawaban, sehingga pendidik
dapat melakukan pencatatan secara singkat, rahasia, dan tepat pada setiap
jawaban yang muncul.
e. Penentuan nilai akhir ditentukan setelah ujian selesai diusahakan untuk
diperbandingkan dengan peserta yang lain.
f. Sebaiknya dalam melakukan tes lisan pendidik berfungsi sebagai penggali
informasi, bukan sebagai hakim yang mengadili, dan bukan pula guru yang
mengajar di kelas, sehingga tidak salah menempatkan diri. 20

2.5.3 Tes Tindakan

Tes perbuatan atau tes praktik adalah tes yang menuntut siswa dalam bentuk
perbuatan. Lebih jauh, Stigins mengemukakan bahwa testindakan adalah suatu
bentuk tes dimana siswa diminta untuk melakukan tindakan khusus di bawah
pengawasan penguji yang akan menguji penampilannya dan membuat keputusan
tentang kualitas hasil belajar yang di demonstrasikan. Tes tindakan dapat
20
Drs. M. Chabib Thoha. Teknik evaluasi pendidikan. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001),
hlm 59-61

16
dilakukan secara individ maupun berkelompok. Tes tindakan bisa dilakukan untuk
menilai kualitas pekerjaan yang telah dilakukan oleh siswa, termasuk
keterampilan dan ketepatan menyelesaikan pekerjaan, kecepatan dan kemampuan
melakukan pekerjaan, dan mengidentifikasi suatu peranti (seperti computer). Tes
tindakan dapat difokuskan pada proses, produk, maupun keduanya.21
Yang dimaksud dengan tes tindakan adalah tes di mana respon atau jawaban
yang dituntut dari peserta didik berupa tindakan, tingkah laku kongkrit. Alat yang
dapat digunakan untuk melakukan tes ini adalah observasi atau pengamatan
terhadap tingkah laku tersebut.
Tes digunakan untuk mengukur perubahan sikap peserta didik, kemampuan
dalam meragakan atau mengaplikasikan jenis keterampilan tertentu.
Bentuk tes ini berupa petunjuk-petunjuk atau perintah-perintah baik secara
lisan maupum tulisan, dapat berupa penyediaan situasi di mana peserta didik
diminta untuk bereaksi terhadap situasi tersebut, baik disengaja maupun tidak.

Tes ini mengandung beberapa keuntungan, antara lain:

a. Tepat untuk mengukur aspek psikomotor,


b. Tepat untuk mengetahui sikap yang merefleksi dalam tingkah laku sehari-
hari, dan
c. Pendidik secara langsung dapat mengamati dengan jelas jawaban-jawaban
sehingga lbih mudak dalam memberikan penilaian.

Sedangkan kelemahannya yaitu, antara lain:

a. Apabila perintah tidak jelas, maka tindakan yang muncul tidak sesuai
dengan apa yang diharapkan.
b. Seringkali pendidi terpengaruh oleh gerakan yang tidak menjadi indikator
utama dalam penilaian.
c. Membutuhkan waktu yang lama, terutama jika pengamatannya dilakukan
per individu.
d. Seringkali terjadi gangguan dalam pengamatan yang menyebabkan
penilaian tidak objektif.

21
Andi Prastowo.Pengembangan Bahan Ajar Tematik (Wonosari : Diva Press, 2013) 427-428

17
Untuk menghindati kelemahan tersebut diperlukan beberapa petunjuk praktis
dalam menyiapkan tes tindakan, antara lain dikembangkan bentuk tes,

a. Tes tindakan berpedoman


b. Tes tindakan bebas (tidak berpedoman)

Tes tindakan yang berpedoman, maksudnya adalah dalam melakukan


observasi, termasuk dalam memberikan perintah kepada peserta didik, pendidik
menggunakan pedoman tertulis sehingga tiap peserta memperoleh tugasyang
sama, baik dari volume, tugas, ataupun tingkat kesukaran tugas tersebut.

Tes tindakan tidak berpedoma, artinya dalam memberikan tugas kepada


peserta didik, pendidik tidak menggunakan pedoman tertulis. Pendidik secara
langsung melakukan peintah dan tidak dilengkapi dengan alat observasi tertulis.

Dari segi keterlibatan pendidik, tes tindakan dapat dibedakan:

a. Tes tindakan yang partisipatif, dan


b. Tes tindakan yang tidak partisipatif.

Tes tindakan yang partisipatif, yakni pada saat melakukan penilaian pendidik
ikut terlibat secara langsung dalam kegiatan peserta didik, sehingga dapat
menghayati kualitas perilaku peserta didiknya.

Tes tindakan yang dilakukan tanpa partisipasi artinya, pendidik memisahkan


diri dan mengambil jarak dengan peserta didik, pendidik hanya sebagai pengamat.
Dari satu sisi cara ini memberikan waktu dan kesempatan yang cukup kepada
pendidik untuk melakukan pengamatan dengan baik, tetapi di sisi lain
menyebabkan peserta didik menjadi kaku, sebab situasi tes berlangsung secara
formal, gerakan yang bersifat reflektif sulit muncul pada situasi yang dibuat
secara sengaja.22

Keberhasilan siswa dalam proses belajar-mengajar tidaklah selalu dapat


diukur dengan alat tes, sebab masih banyak aspek-aspek kemampuan siswa yang
sukar diukur secara kuantitatif dan obyektif misalnya aspek afektif dan

22
Drs. M. Chabib Thoha. Teknik evaluasi pendidikan. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001),
hlm 63-64

18
psikomotorik yang mencakup sifat, sikap, kebiasaan bekerja dengan baik, kerja
sama, kerajinan, kejujuran, tanggung jawab, tenggang rasa, solidaritas,
nasionalisme, pengabdian, keyakinan/optimism dan lain-lain. Untuk mengukur
kedua aspek itu perlulah alat penilaian yang sesuai dan memenuhi syarat.23

2.6 Penilaian Berdasarkan Bukan Tes (Non Test)

Non tes adalah alat evaluasi yang biasanya di gunakan untuk menilai aspek tingkah
laku termasuk sikap , minat dan motivasi. Ada beberapa jenis non tes sebagai alat
evaluasi, di antaranya wawancara, observasi, studi kasus, skala penilaian

Ada beberapa bentuk penilaian tanpa tes yang dapat digunakan, antara lain:

2.6.1 Observasi (Pengamatan)

Observasi adalah tekhnik penilaian dengan cara mengamati tingkah laku pada
situasi tertentu. Ada dua jenis observasi, Yaitu observasi partisipatif dan
nonpartisipatif. Observasi parsitif adalah observasi yang di lakukan dengan
menempatkan observer sebagai bagian dari kegiatan dimana observasi itu di
lakukan. Misalkan, ketika observer ingin mengumpulkan informasi bagaimana
aktivitas siswa dalam kegiatan diskusi, maka sambil melakukan pengamatan,
observer juga merupakan bagian dari peserta diskusi. Observasi semavam ini
memiliki kelebihan, diantaranya yang di obserbasiaka bersikap dan berperilaku
wajar, sebab dirinya tidak akan merasa dirinya sedang di observasi.

Observasi non partisipatif adalah observasi yang di lakukan dengan cara


observermurni sebagai pengamat. Artinya,observer dalam melakukan
pengamatan, tidak aktif sebagai bagian dari kegiatan itu, akan tetapi ia berperan
semata-mata hanya sebagai pengamat saja. Oleh sebab itu, salah satu kelemahan
observasi untuk berperilaku di buat sangat tinggi. Observasi juga dapat di lakukan
terhadap kelompok yang kemudian di namakan observasi kelompok dan observasi
yang di lakukan terhadap siswa secara individual atau di sebut dengan observasi
individual.24

23
Drs. Slameto. Evaluasi Pendidikan (Bumi Aksara) hal, 93
24
DR. Wina Sanjaya, M.Pd. Kurikulum dan Pembelajaran.( Jakarta : Kencana, 2008) hal, 357-358

19
Sebagai alat evaluasi, observasi dapat digunakan untuk:

a. Menilai minat, sikap, dan nilai yang terkandung dalam diri siswa
b. Melihat proses kegiatan yang dilakukan oleh seorang siswa maupun
kelompok.25
Observasi dapat digunakan dalam kegiatan penilaian pelaksanaan
pembelajaran, baik pada tahap perencanaan maupun pelaksanaan dengan indicator
kemampuan dan penguasaan yang telah ditetapkan. Sedang dari segi sasaran,
penilaian difokuskan pada proses maupun produk pembelajaran.
Contoh format penilaian observasi :
Skor
NO Aspek yang dinilai Keterangan
1 2 3 4 5
1 Kelogisan alas an
2 Kerjasam kelompok, partisipasi
3 Disiplin waktu
4 Minat dan antusiasme
5 Keberanian komunikasi
6 Produktivitas
Keterangan :
1 = sangat tidak baik
2 = tidak baik
3 = cukup
4 = baik
5 = sangat baik
, 2016
Guru Yang Bersangkutan

( )26

2.6.2 Portofolio

25
Drs. M. Chabib Thoha. Teknik evaluasi pendidikan. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001),
hlm 94
26
Andi Prastowo.Pengembangan Bahan Ajar Tematik (Wonosari : Diva Press, 2013) hal 430

20
Portofolio adalah folder atau dokumen yang berisi hasil karya siswa yang
dianggap sangat berarti, karya terbaik dan favorit, sangat sulit dikerjakan tetapi
berhasil, dan sangat menyentuh perasaan atau memiliki nilai kenangan. Portofolio
berfungsi untuk mendokumentasikan hasil penilaian proses, produk, dan penilaian
program. Portofolio ini bisa dijadikan sebagai satu masukan bagi guru untuk
memutuskan nilai-nilai atau grade setiap siswa serta penyusunan perencanaan
pembelajaran selanjutnya. Berikut ini ditunjukkan contoh format portofolio yang
terdiri dari perencanaan portofolio, penentuan tugas portofolio, folder portofolio,
lembar dialog portofolio, lembar dialog portofolio, dan penilaian siswa.
Format perencanaan portofolio
Sebagai catatan penting, guru adalah yang membuat perencanaan atau
jadwal penilaian portofolio. Jadwal tersebut perlu dikomunikasikan kepada
siswa, termasuk isi dan criteria penilaiannya yang meliputi kompetisi dasar
dan portofolio. Selain itu, guru juga harus menentukan kapan tugas diberikan,
dikerjakan, dan kapan dilakukan dialog antara guru dan siswa untuk
penilaian.
Berikut ini contoh format perencanaan portofolio :
JADWAL PENILAIAN PORTOFOLIO
Mata Pelajaran :
Kelas :
Kompetensi Bulan
Dasar Januari Febuari Maret April Mei Juni
1
2
Dst

Format penentuan tugas portofolio


KOMPETENSI DASAR DAN TUGAS PORTOFOLIO
Mata Pelajaran :
Kelas :
Kompetensi Dasar Indikator Tugas Portofolio

21
1.1
1 1.2
1.3
2.1
2 2.2
2.3
Dst.

Format Folder Portofolio


Dalam penilaian portofolio, perlu disiapkan dua buah folder atau
stopmap untuk menyimpan kumpulan belajar dan menyusun portofolio.
Simpan semua berkas hasil belajar (tugas) dalam stopmap atau folder
kumpulan hasil belajar tersebut. Jangan lupa tuliskan identitas siswa.
Begitu juga stopmap atau folder untuk menyusun portofolio siswa.
Berikut ini contoh folder portofolio :

SMAN SMAN
KOTA KOTA

KUMPULAN HASIL PORTOFOLIO


BELAJAR

Mata Pelajaran :
Mata Pelajaran : FISIKA
FISIKA
Nama :
Nama : No :
No : Kelas :
Kelas : Tahun Ajaran :
Tahun Ajaran :

Format Lembar Dialog Portofolio


Nama : Guru :
Kelas : Tanggal :

22
Isi Portofolio :

Kompetensi yang berkembang :

Komentar Guru :

Tanda Tangan Guru,

Format Penilaian Diri Siswa


Dalam hal ini, siswa dapat menyusun sendiri pertanyan yang
selanjutnya mengisi langsung dari pertanyaan tersebut dengan
mengorganisasikan gagasan tersebut dengan mengorganisasikan
gagasannya sendiri. Di samping itu, guru dapat melakukan penilaian diri
berkaitan dengan proses pembelajaran yang telah dilakukannya. Tujuan
dari bentuk penilaian adalah agar siswa dapat malakukan penilaian
terhadap kemajuan belajarnya, sehingga ia dapat belajar lebih baik di
waktu berikutnya. Siswa dapat melakaukan refleksi terhadap apa yang
telah di pelajari dan hasil yang telah di peroleh. Siswa mengetahui

23
kekuatan dan kelemahahnya, serta menemukan cara untuk memperbaiki
kelemahahnya tersebut. Dan melalui format penilaian diri ini, portofolio
diri siswa diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi guru untuk
memberikan perimbangan, motivasi, dan penguatan bagi siswa terkait
upaya peningkatan kemajuan belajar berikutnya.
Berikut contoh format penilaian diri :27
Penialaian Diri
Nama :
Kelas :

Keterampilan Ya Tidak Ragu-ragu


Apakah saya menyimak dengan baik
?
Apakah saya memberi kesempatan
berbicara kepada orang lain ?
Apakah saya dapat menyelesaikan
soal dengan baik ?
Apakah saya sudah memberikan
dorongan kepada orang lain ?

Berikut Perbeedaan Tes dengan penilaian Portofolio :

Tes Penilaian portofolio


1. tes biasanya di lakukan untuk 1. penilaian portofolio menilai seluruh
menilai kemampuan intelektual aspej perkembangan siswa baik
siswa melalui penguasaan materi intelektual, minat sikap dan
pembelajaran keterampilan.
2. guru berperan sangat domin 2. peserta didik terlibat dalam prises
dalam proses penilaian sedangkan penilaian denga menilai dirinya sendiri
siswa berperan sebagai orang mengenai kemampuan beserta dalam
yang di nilai perkembangannya.

27
Ibid,hal 434-439

24
3. kriteria penilaian di tentukan 3. kriteria penilaian di tentukan sesuai
satu untuk semua. dengan karakteristik siswa
4. keputusan berdasarkan 4. proses penilaian beserta pengambilan
penilaian di tentukan sebdiri oleh keputusan di lakukan dengan cara
guru. kolaboratif antara guru, sisw dan orang
tua.28

2.6.3 Rubrik

Berdasarkan kesimpulan dari portofolio dan format penilaianya, guru dapat


menyusun criteria penilaian secara kolaboratif dengan melibatkan siswa, sehingga
mereka dapat mengetahui criteria tersebut dapat mengukur kemampuannya.
Criteria penilaian kolaboratif tersebut dapat disusun dalam bentuk rubrik.
Penetapan kulaifikasi kemampuan siswa didasarkan pada munculnya cirri
descriptor yang telah ditetapkan. Dengan demikian siswa dapat melakukan
penilaian dengan mengetahui kemampuan yang telah dicapainya.
Berikut ini contoh format rubrik :
No Aspek A B C
1 Informasi yang diketahui lengkap
2 Symbol besaran benar
3 Satuan benar
4 Penyelesaian
5 Alur berfikir yang mudah di pahami

A = Bagus sekali
B = Bagus
C = cukup29

28
DR. Wina Sanjaya, M.Pd. Kurikulum dan Pembelajaran.( Jakarta : Kencana, 2008) hal, 365
29
Andi Prastowo.Pengembangan Bahan Ajar Tematik (Wonosari : Diva Press, 2013) hal 440-442

25
2.6.4 Angket (Questionnaire)

Questionnaireatau angket adalah merupakan suatu daftar pertanyaan-


pertanyaan tertulis yang harus dijawab oleh siswa yang menjadi sasaran dari
questionnaire tersebut ataupun orang lain.

Pertanyaan dalam questionnaire(angket) tergantung maksud dan tujuan


evaluasi yang ingin dicapai. Hal ini akan mempunyai pengaruh terhadap bentuk
pertanyaan yang ada dalam angket itu.

Pada umumnya didalam anagket didapati dua bagian yang besar, yaitu :

a. Bagian yang mengandung data identifikasi siswa. Yakni berupa bagian


yang mengandung data tentang pribadi siswa misalnya nama, kelas, nomor
induk, dsb.
b. Bagian yang mengandung pertanyaan fakta/opini. Yakni pertanyaan yang
digunakan untuk mendapatkan fakta/opini.
Macam-macam angket ditinjau dari pertanyaannya adalah sebagai berikut :
a. Pertanyaan yang tertutup
Yakni dimana siswa atau org yang menjadi sasaran angket itu tinggal
memilih jawaban-jawaban yang disediakan di dalam angket itu. Jadi
jawabannya terikat.
b. Pertanyaan yang terbuka
Yakni dimana siswa atau orang yang menjadi sasaran diberi kesempatan
yang seluas-luasnya untuk mengemukakan jawaban terhadap pertanyaan
yang diajukan.
c. Pertanyaan yang terbuka dan tertutup
Yakni campuran dari kedua pertanyaan tersebut.
Macam-macam angket ditinjau dari cara memberikan :
a. Angket langsung.
Diberikan langsung kepada sasaran guna mendapatkan jawaban langsung
dari tangan pertama (First Hand).
b. Angket tidak langsung

26
Untuk menjawaab diperlukan perantara. Misalnya orang tua menjwab
untuk anak-anaknya.

Keuntungan metode angket:

a. Praktis,
b. Menghemat tenaga,
c. Siswa atau orang lain yang menjadi sasaran dapat menjawab dengan
leluasa.
Kelemahan-kelemahan metode angket:
a. Oleh karena ada kemungkinan tidak dapat berhadapan secara langsung
dengan siswa atau bila ada pertanyaan yang kurang jelas tidak akan
dapat dijelaskan lebih lanjut.
b. Karena kurang jelasnya pertanyaan-pertanyaan, menyebabkan kurang
validnya data yang diperoleh.
c. Sifatnya kaku, karena pertanyaan-pertanyaan telah tertentu sehingga
tidak dapat dirubah sesuai dengan kemampuan siswa atau orang yang
menjadi sasaran yang akan menjawabnya.
d. Sukar untuk mengadakan checking terhadap jawaban yang diberikan
oleh siswa atau orang yang menjadi sasaran yang akan menjawabnya.
e. Biasanya tidak semuanya dapat kembali.30

2.6.5 Wawancara (Interview)

Interview atau wawancara adalah suatu teknik untuk mendapatkan data


dengan mengadakan hubungan langsung bertemu muka dengan siswa (face to face
relation). Akan tetapi di samping itu ada wawancara yang tanpa bertemu muka
yaitu wawancara melalui telepon.

Wawancara dan angket keduanya menggunakan pertanyaan-pertanyaan,


hanya di dalam penyajiannya yang berbeda. Kalau pada wawancara penyajiannya
secara lisan, sedangkan pada angket secara tertulis.

Macam-macam wawancara ditinjau dari jumlah siswa yang di wawancara :

30
Drs. Slameto. Evaluasi Pendidikan (Bumi Aksara) hal 128-130

27
a. Wawancara perseorangan
b. Wawancara kelompok
Macam-macam wawancara ditinjau dari segi peranan yang dimainkan guru :
a. The non-directive interview
Wawancara ini guru dapat menanyakan hal-hal sebanyak mungkin, karena
pertanyaannya tidak terpimpin dan tidak berdasarkan pedoman tertentu.
b. The focuse interview
Wawancara ini di tunjukan kepada siswa/sasaran tertentu yang mempunyai
hubungan dengan objek yang diselidiki.
c. The repeated interview (interview terulang)
Wawancara ini terutama digunakan orang untuk mencoba mengikuti
perkembangan suatu proses pengajaran dan social.

HASIL DISKUSI

Penilaian pembelajaran adalah usaha untuk mendapatkan berbagai


informasi secara berkala, berkesinambungan, serta menyeluruh tentang proses dan
hasil dari perrumbuhan maupun perkembangan yang telah dicapai, baik berkaitan
dengan proses maupun hasil pembelajaran. Penilaian dapat dibagi menjadi dua,
yaitu penilaian tes dan penilaian non tes.

Tes adalah alat pengukuran berupa pertanyaan, perintah, dan petunjuk


yang ditujukan kepada testee untuk mendapatkan respon sesuai dengan petunjuk
itu. Atas dasar respon tersebut ditentukan tinggi rendahnya skor dalam bentuk
kuantitatif selanjutnya dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan untuk
ditarik kesimpulan yang bersifat kualitatif. Teknik tes ini meliputi lisan (oral test),
tertulis ( written test), dan tindakan (action test).

Non tes adalah alat evaluasi yang biasanya di gunakan untuk menilai
aspek tingkah laku termasuk sikap , minat dan motivasi. Ada beberapa jenis non
tes sebagai alat evaluasi, di antaranya wawancara, observasi, studi kasus, skala
penilaian.

28
Perbedaan tes dan non tes :

Tes :
1. tes biasanya di lakukan untuk menilai kemampuan intelektual siswa melalui
penguasaan materi pembelajaran
2. guru berperan sangat domin dalam proses penilaian sedangkan siswa berperan
sebagai orang yang di nilai
3. kriteria penilaian di tentukan satu untuk semua.
4. keputusan berdasarkan penilaian di tentukan sebdiri oleh guru.
Non tes
1. penilaian portofolio menilai seluruh aspej perkembangan siswa baik
intelektual, minat sikap dan keterampilan.
2. peserta didik terlibat dalam prises penilaian denga menilai dirinya sendiri
mengenai kemampuan beserta dalam perkembangannya.
3. kriteria penilaian di tentukan sesuai dengan karakteristik siswa
4. proses penilaian beserta pengambilan keputusan di lakukan dengan cara
kolaboratif antara guru, sisw dan orang tua.

29
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

1. Penilaian pembelajaran adalah usaha untuk mendapatkan berbagai


informasi secara berkala, berkesinambungan, serta menyeluruh tenta
proses dan hasil dari perrumbuhan maupun perkembangan yang telah
dicapai, baik berkaitan dengan proses maupun hasil pembelajaran.
2. Penilaian terbagi menjai dua, yaitu penilaian tes dan penilaian non tes.
3. Tes adalah alat pengukuran berupa pertanyaan, perintah, dan petunjuk
yang ditujukan kepada testee untuk mendapatkan respon sesuai dengan
petunjuk itu.
4. Penilaian tes terbagi menjadi tiga yaitu tes tertulis, tes lisan dan tes
tindakan. Tes tertulis terbagi menjadi dua yaitu tes tertulis objektiv dan tes
tertulis subjektiv.
5. Non tes adalah alat evaluasi yang biasanya di gunakan untuk menilai aspek
tingkah laku termasuk sikap , minat dan motivasi.
6. Penilaian bukan tes meliputi observasi, portofolio, angket, rubrik, dan
wawancara.

30