Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH PANCASILA

PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA


DAN KASUS YANG TERJADI TERKAIT PROGRAM STUDI ILMU
KEPERAWATAN

Oleh
Wahyu Adinda Yuli P
NIM 152310101186

UNIVERSITAS JEMBER
JEMBER
2015
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puja dan Puji hanya layak tercurahkan kepada Allah SWT.
, karena atas limpahan karunia-Nya. Shalawat serta salam semoga
tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahualaihi wa sallam.
Manusia istimewa yang seluruh perilakunya layak untuk diteladani, yang
seluruh ucapannya adalah kebenaran, yang seluruh getar hatinya kebaikan.
Sehingga Penulis dapat menyelesaikan tugas mandiri ini tepat pada
waktunya.

Banyak kesulitan dan hambatan yang Penulis hadapi dalam membuat tugas
mandiri ini tapi dengan semangat dan kegigihan serta arahan, bimbingan
dari berbagai pihak sehingga Penulis mampu menyelesaikan tugas mandiri
ini dengan baik, oleh karena itu pada kesempatan ini, Penulis mengucapkan
terima kasih kepada pihak yang telah membantu.

Penulis menyimpulkan bahwa tugas mandiri ini masih belum sempurna,


oleh karena itu Penulis menerima saran dan kritik, guna kesempurnaan
tugas mandiri ini dan bermanfaat bagi Penulis dan pembaca pada umumnya.

Jember ,21 September 2015

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................... i

KATA PENGANTAR....................................................................... ii

DAFTAR ISI ..................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang ................................................................ 1


2. Rumusan Masalah ........................................................... 2
3. Tujuan Penulisan ............................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN

1. Apa itu Pancasila..3


2. Sejarah lahirnya Pancasila5

3. Nilai Pancasila sebagai ideologi dan dasar Negara.10

4. Pengamalan Butir-Butir Pancasila Dalam Merawat Pasien14

BAB III

KESIMPULAN..17
DAFTAR PUTAKA...18
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Belajar dari sejarah sejak tumbuhnya kesadaran kebangsaan hingga


memasuki era perjuangan kemerdekaan, seharusnya segenap bangsa
Indonesia sadar bahwa hanya dengan mengutamakan kehendak bersama dan
demi satu tujuan bersama pula, bangsa ini berhasil mewujudkan
citacitanya, yaitu merdeka, lepas dari belenggu kekuasaan penjajahan.
Tetapi, sejarah telah membuktikan pula bahwa ketika bangsa ini melupakan
tujuan bersamanya, serta dengan sadar mengingkari konsensus yang juga
telah didasari oleh kehendak bersama, maka yang terjadi adalah timbulnya
berbagai bentuk konflik sosial, perlawanan bersenjata di dalam negeri, dan
munculnya ideide separatis. Akibat dari kesemuanya ini sudah pasti, yaitu
beban penderitaan yang mesti ditanggung oleh rakyat.

Kesadaran kebangsaan yang kemudian melahirkan citacita kemerdekaan


Indonesia, pada dasarnya tumbuh dan berkembang oleh dorongan kehendak
bersama, seluruh komponen masyarakat budaya, yang tersebar di seluruh
wilayah Nusantara. maksudnya tidak lain adalah demi membangun Satu
masyarakat baru yang utuh sebagai Satu kesatuan, yaitu bangsa (Indonesia).

Setiap bangsa dan negara ingin berdiri kokoh kuat, tidak mudah terombang-
ambing oleh kerasnya persoalan hidup berbangsa dan bernegara, sudah
barang tentu perlu memiliki dasar negara dan ideologi negara yang kokoh
dan kuat pula. Tanpa itu, maka bangsa dan negara akan rapuh. Oleh karena
itu maka lahir lah pancasila sebagai ideologi dan dasar Negara.

Namun dibalik itu semua ternyata pancasila memang mempunyai sejarah


yang panjang tentang perumusan-perumusan terbentuknya pancasila, dalam
perjalanan ketata negaraan Indonesia. Sejarah ini begitu sensitif dan salah-
salah bisa mengancam keutuhan Negara Indonesia. Hal ini dikarenakan
begitu banyak polemik serta kontroversi yang akut dan berkepanjangan baik
mengenai siapa pengusul pertama sampai dengan pencetus istilah Pancasila.

B. Rumusan Masalah

Untuk menghindari masalah yang berkaitan dengan tulisan ini, maka penulis

membatasi masalah-masalah yang akan di bahas, antara lain:

1. Apa itu Pancasila.

2. Sejarah lahirnya Pancasila.

3. Nilai Pancasila sebagai ideologi dan dasar Negara.

4. Pengamalan Butir-Butir Pancasila Dalam Merawat Pasien

C. Tujuan Penulisan

Dalam penulisan ini, penulis mempunyai beberapa tujuan, antara lain:

1. Penulis ingin mengetahui arti dan makna dari Pancasila.

2. Penulis ingin mempelajari lebih dalam tentang nilai-nilai pancasila.


BAB 2
PEMBAHASAN

A. Apa itu Pancasila

Menurut Muhammad Yamin,dalam bahasa Sansekerta perkataan Pancasila


memiliki dua macam arti :

Panca artinya lima

"syiila"vokal" i pendek artinya "batu sendi","alas",atau "dasar"

"syiila "vokal" i" panjang artinya "peraturan tingkah laku yang baik, yang
penting atau yang senonoh.

ajaran Pancasyiila menurut Budha adalah merupakan lima aturan (larangan) atau
five moral principles, yang harus ditaati dan dilaksankan oleh para penganut
biasa atau awam. Pancasyiila yang berisi lima larangan atau pantangan itu
menurut isi lengkapnya sebagai berikut :

1. dilarang membunuh

2. dilarang mencuri

3. dilarang berzina

4. dilarang berdusta

5. dilarang minum-minuman keras.

Istilah Pancasila sudah dikenalsejak jaman Majapahit dalam buku


Negarakertagama karangan Mpu Prapanca dan buku Sutasoma karangan Mpu
Prapanca yang diartikan lima perintah kesusilaan (Pancasilakrama) yang berisi
lima larangan sebagai berikut tidak boleh:
1. Melakukan kekerasan

2. Mencuri

3. Berjiwa dengki

4. Berbohong

5. Mabuk akibat minuman keras

Setelah Majapahit runtuh dan agama Islam mulai tersebar keseluruh


Indonesia maka sisi-sisa pengaruh ajaran moral Budha (Pancasila) masih juga
dikenal di dalam masyarakat Jawa, yang disebut dengan "lima larangan" atau
"lima pantangan" moralitas yaitu :
1. Mateni artinya membunuh

2. Maling artinya mencuri

3. Madon artinya berzina

4. Mabok artinya minuman keras

5. Main artinya berjudi

Semua huruf diberi awalan M atau dalam bahasa Jawa disebu Ma oleh karena
itu lima prinsip Ma lima atau M5 yaitu lima larangan (Ismaun,1981:79)
B . Sejarah Lahirnya Pancasila

Sebelum tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia dijaajah oleh banyak Negara.


Misalnya Belanda, Inggris, Jepang, dan Portugis. Sebelum dijajah oleh Negara
lain,di Indonesia banyak kerajaan-kerajaan yang besar dan berjaya di Indonesia,
diantaranya adalah kerajaan Mataram, Majapahit, Banten, Demak dan masih
banyak yang lainnya, yang selalu melakukan perlawan terhadap para penjajah.

Negara yang paling lama menjajah di Indonesia adalah Belanda, mulai dari tahun
1908 dan berakhir pada tahun 1942 tepatnya pada tanggal 8 Maret 1942 Belanda
kalah oleh Jepang, Sebelum kekalahan jepang di Perang Pasifik melawan sekutu,
tentara pendudukan Jepang berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan
memberikan janji kemerdekaan pada bangsa Indonesia dan membentuk Dokuritsu
Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (BPUPKI) yang dilantik tanggal 28 Mei 1945 dan sidang pertamanya
diadakan pada tanggal 29 Mei 1 Juni untuk membicarakan mengenai dasar
ideology bangsa Indonesia setelah merdeka

secara historis perumusan Pancasila diawali ketika dalam sidang BPUPKI pertama dr.
Rajiman Widyodiningrat, mengajukan suatu maslah, khususnya akan dibahas pada
sidang tersebut.Masalah tersebut adalah tentang calon rumusan dasar negara
Indonesia yang akan dibentuk. Proses perumusan Pancasila adalah sebagai berikut

A. Mr.Muhammad Yamin

Pada tanggal 29 Mei 1945 tersebut BPUPKI mengadakan sidangnya yang


pertama. Pada kesempatan in Mr. Muhammad Yamin mendapat kesempatan yang
pertama untuk mengemukakan pemikirannya tentang dasar negara di hadapan
sidang lengkap Badan Penyelidik. Dalam pidato tersebut merumuskan
sebagai berikut
1. Peri Kebangsaan

2. Peri Kemanusiaan

3. Peri Ketuhanan

4. Peri Kerakyatan

5. Peri Kesejahteraan Rakyat

Setelah berpidato beliu merumuskan rancangan UUD RI. sebagai berikut :

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Kebangsaan Persatuan Indonesia

3. Rasa Kemanusiaan yang adil dan beradab

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan


dalam permusyawaratan/perwakilan

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

B.Rumusan Soepomo

Pada tanggal 31 Mei 1945, Mr. Soepomo mendapat kesempatan


mengemukakan pokok-pokok pikiran seperti berikut:

1. Negara Indonesia merdeka hendaknya merupakan Negara nasional yang bersatu


dalam arti totaliter atau integralistik. Maksudnya Negara Indonesia merdeka tidak
akan mempersatukan diri dengan golongan yang terbesar, akan tetapi yang
mengatasi segala golongan, baik golongan besar maupun golongan kecil.
2. Setiap warganegara dianjurkan takluk kepada Tuhan, supaya tiap-tiap
waktu ingat kepada Tuhan. Dalam Negara nasional yang bersatu urusan agama
akan diserahkan kepada golongan-golongan agama yang bersangkutan.

3. Mengenai kerakyatan beliau mengusulkan agar dalam pemerintahan Negara


Indonesia harus dibentuk sistim Badan Permusyawaratan. Oleh karena itu kepada
Negara harus berhubungan erat dengan Badan Permusyawaratan agar
mengetahui dan merasakan keadilan dan cita-cita rakyat.

4. Dalam lapangan ekonomi, Prof. Soepomo mengusulkan agar sistim


perekonomian Negara nasional yang bersatu itu diatur berdasarkan asas
kekeluargaan. Asas ini merupakan sifat dari masyarakat timur, termasuk
masyarakat Indonesia.

5. Mengenai hubungan antar bangsa mengusulkan supaya Negara Indonesia


bersifat Negara Asia Timur Raya yang merupakan anggota dari pada
kekeluargaan Asia Timur Raya.

Apabila kita analisis pokok-pokok pikiran Dr. Soepomo di atas, maka dapat kita
peroleh adanya lima hal untuk dasar Negara Indonesia merdeka. Meskipun tidak
dituliskan secara terperinci. Prof. Dr. Soepomo menyarankan Negara Indonesia
memilih teori Negara Integralistik yang dinilai lebih sesuai dengan semangat
kekeluargaan. Kelima pokok pikiran tersebut sebagai berikut:

1. Paham Negara Persatuan

2. Warga Negara hendaknya tunduk kepada Tuhan supaya ingat kepada Tuhan

3. Sistem Badan Permusyawaratan

4. Ekonomi Negara bersifat Kekeluargaan

5. Hubungan antar bangsa bersifat Asia Timur Raya


Jika kita analisis perbandingan dengan rumusan Pancasila yang sekarang
(Pembukaan UUD 1945), pokok-pokok pikiran Soepomo itu termasuk dalam
rumusan Pancasila. Pokok pikiran pertama termasuk sila ketiga. Pokok pikiran
kedua termasuk sila pertama. Pokok pikiran ketiga termasuk sila keempat. Pokok
pikiran keempat termasuk sila kelima dan pokok pikiran kelima masuk dalam sila
kedua. Hal penting yang disampaikan oleh Soepomo dan diterima adalah paham
Negara integralistik-nya.

C. Ir. Soekarno

Pada tanggal 1 Juni 1945 tersebut Soekarno mengucapkan pidatonya dihadapan


sidang Badan Penyelidik. Dalam pidato tersebut diajukan oleh Soekarno secara
lisan usulan lima asas sebagai dasar negara indonesia yang akan dibentuknya,
yang rumusannya sebagai berikut :

1. Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia

2. Internasionalisme atau Perikemanusiaan

3. Mufakat dan Demokrasi

4. Kesejahteraan Sosial

5. Ketuhanan Yang Berkebudayaan

Beliau mengusulkan rumusan dasar tersebut mengajukan nama Pancasila sebagai


dasar negara, istilah tersebut atas saran seorang ahli bahasa.Usul mengenai nama
Pancasila bagi dasar negara Republik Indonesia secara bulat disepakati diterima
sidng BPUPKI dan ditetapkan bahwa tanggal 1 Juni pada saat ini disebut hari
lahirnya Pancasila.

Selanjutnya BPUPKI membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun


Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno, sehingga
dibentuklah Panitia Sembilan ysng terdiri dari Ir. Soekarno, Muhammad Hatta, Mr.
AA Maramis, Abikusno Tjokrokusumo, Abdulkahar Muzakir, HA Salim, Achmad
Soebardjo dan Muhammad Yamin yang bertugas untuk merumuskan kembali
Pancasila sebagai Dasar Negara yang berdasarkan atas pidato yang diutarakan oleh
Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen itu sebagai teks
untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Demikianlah, lewat proses persidangan selama tiga hari itu, akhirnya Pancasila
penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan dan dicantumkan dalam
Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar
negara Indonesia Merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945.
C. Nilai Pancasila Sebagai Ideologi dan Dasar Negara

Istilah ideologi berasal dari kata idea yang berarti gagasan, konsep pengertian
dasar, cita-cita dan logos yang berarti ilmu. Dalam pengertian sehari-hari idea
disamakan artinya dengan cita-cita. Cita-cita yang dimaksud adalah cita-cita yang
bersifat tetap yang harus dicapai, sehingga cita-cita yang bersifat tetap itu
sekaligus merupakan dasar, pandangan atau faham.

Pancasila sering disebut sebagai dasar falsafah negara (dasar filsafat negara) dan
ideologi negara. Pancasila dipergunakan sebagai dasar untuk mengatur
pemerintahan dan mengatur penyelenggaraan negara. Konsep-konsep Pancasila
tentang kehidupan bernegara yang disebut cita hukum (staatsidee), merupakan cita
hukum yang harus dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dasar negara Pancasila perlu difahami
konsep, prinsip dan nilai yang terkandung di dalamnya agar dapat dengan tepat
mengimplementasikannya. Namun sebaiknya perlu diyakini terlebih dahulu
bahwa Pancasila memenuhi syarat sebagai dasar negara dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia dengan beragam suku, agama, ras dan antar golongan yang
ada.

Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, digunakan untuk: Pedoman


tingkah laku, Pengambilan keputusan para penyelenggara Negara, dan pelaksana
pemerintahan.

Selain itu tetap memelihara budipekerti kemanusiaan yang luhur serta memegang
teguh cita-cita moral bangsa.
Pancasila sebagai sumber nilai, yaitu menunjukkan identitas bangsa Indonesia
yang menolak segala bentuk penindasan, penjajahan dari satu bangsa terhadap
bangsa yang lain.

Nilai-nilai Pancasila sebagai sumber acuan dalam menyusun etika kehidupan


berbangsa bagi seluruh rakyat Indonesia

Dengan kata lain, Pancasila sebagai paradigma pembangunan yaitu


sebagai kerangka pikir, sumber nilai, orientasi dasar, sumber asas, arah,
tujuan dari perkembangan perubahan dan proses dibidang tertentu.

Pancasila sebagai landasan pembangunan politik yang prakteknya


menghindarkan praktek politik tak bermoral dan tak bermartabat sebagai bangsa
yang memiliki cita-cita moral dan budi pekerti yang luhur.

Pancasila sebagai paradigma pembangunan hukum, seperti dalam setiap


perumusan peraturan perundang-undangan nasional yang harus selalu

memperhatikan dan menampung aspirasi rakyat

1) Pancasila sebagai landasan pembentukan hukum yang aspiratif.

2) Pancasila sebagai sumber nilai dan sumber norma bagi pembangunan hukum.

3) Pancasila sebagai cita-cita hukum yang paling mendasar di NKRI.

4) Pancasila sebagai sumber tertib hukum Indonesia.


Pancasila sebagai sumber normatif dalam pengembangan aspek sosial
budaya yang berdasar pada nilai-nilai kemanusiaan, nilai Ketuhanan, dan
nilai keberadaban. Diantaranya :

1)Perlu ditumbuh kembangkan budaya malu berbuat kesalahan dan yang


bertentangan dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa.

2)Perlu ditumbuh kembangkan budaya keteladanan dalam perilaku para


pemimpin baik formal maupun informal pada setiap lapisan masyarakat

Pancasila sebagai landasan nilai dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi


untuk kesejahteraan rakyat Indonesia dengan menghindarkan diri dari persaingan
bebas, monopoli yang dapat menjadikan rakyat.
Selain itu ada beberapa alasan lain mengapa Pancasila harus dijadikan
sebagai dasar Negara, yaitu:

1) Pancasila memiliki potensi menampung keadaan pluralistik masyarakat


Indonesia yang beraneka ragam suku, agama, ras dan antar golongan. Pada
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, menjamin kebebasan untuk beribadah sesuai
agama dan keyakinan masing-masing. Kemudian pada Sila Persatuan
Indonesia, mampu mengikat keanekaragaman dalam satu kesatuan bangsa
dengan tetap menghormati sifat masing-masing sepert apa adanya.

2) Pancasila memberikan jaminan terealisasinya kehidupan yang pluralistik,


dengan menjunjung tinggi dan menghargai manusia sesuai dengan harkat dan
martabatnya sebagai makhluk Tuhan secara berkeadilan yang disesuaikan
dengan kemampuan dan hasil usahanya. Hal ini ditunjukkan dengan Sila
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

3) Pancasila memiliki potensi menjamin keutuhan Negara Kesatuan Republik


Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke yang terdiri atas
ribuan pulau sesuai dengan Sila Persatuan Indonesia.
4) Pancasila memberikan jaminan berlangsungnya demokrasi dan hak-hak asasi
manusia sesuai dengan budaya bangsa. Hal ini, selaras dengan Sila
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan.

5) Pancasila menjamin terwujudnya masyarakat yang adil dan sejahtera


sesuai dengan Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat sebagai acuan
dalam mencapai tujuan tersebut.
BAB 3
KESIMPULAN

Dari sejarahnya Pancasila sangat banyak menuai kontroversi dari awal


pembuatan hingga sampai disahkan pada Tanggal 18 Agustus 1945, sejarah telah
membuktikan bahwa Pancasila adalah ideologi atau dasar Negara yang memang
sangat di butuhkan oleh Indonesia, baik dalam pemerintahan atau pun
pengambilan keputusan.

Rasa saling memahami, senasib seperjuangan dan rasa sependeritaan telah


melahirkan pancasila, maka dari itu sudah sepatutnya lah Pancasila dijadikan
sebgai dasar Negara, karena Pancasila mewakili semua rasa dan keinginan dari
seluruh rakyat Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.co.id/ http://pormadi.wordpress.com/2007/10/01/nilai-nilai-
pancasila-dan-uud-1945/ http://kanal3.wordpress.com/2010/11/01/sejarah-
lahirnya-pancasila/ www.lautanindonesia.com
http://wennduut.blogspot.com/2011/05/nilai-nilai-pancasila-sebagai-dasar.html
www.bambangsmanic.blogspot.com

forumm.wgaul.comDecember 17, 2003,


/ikhwancyber.wordpress.com 2008/12/25
D. Pengamalan Butir-Butir Pancasila Dalam Merawat Pasien

Untuk memberikan pelayanan perawatan yang berkualitas baik sesuai dengan


aspek-aspek dasar perawatan maka seorang perawat dalam melaksanakan
profesinya harus mampu mengamalkan sila-sila Pancasila secara tulus dan iklas.
Bentuk pengamalan dari sila-sila Pancasila dalam perawatan pasien, sebagai
berikut:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

a. Ikut mendoakan kesembuhan pasien meskipun berbeda keyakinan.

b. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk berdoa atau sembahyang


sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing sebelum dan
sesudah melakukan tindakan keperawatan.

c. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan


ibadah masing-masing jika antara perawat maupun dokter berbeda
keyakinan dengan pasien.

2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab

a. Memberikan pelayanan yang adil tanpa membeda-bedakan suku,


keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna
kulit dan sebagainya sesuai dengan penyakit yang diderita pasien.

b. Dalam merawat pasien hendaknya menjunjung tinggi nilai-nilai


kemanusian dengan tidak memperlakukan pasien dengan semena-mena.

c. Merawat pasien dengan penuh perasaan cinta, serta sikap tenggang rasa
dan tepa selira.

d. Membela pasien (Patien Advocate) pada saat terjadi pelanggaran hak-


hak pasien, sehingga pasien merasa aman dan nyaman.
e. Perawat memberikan informasi dengan jujur dan memperlihatkan sikap
empati yaitu turut merasakan apa yang dialami oleh pasien

3. Persatuan Indonesia

a. Mengembangkan kerjasama sebagai tim dalam menyelenggarakan


pelayanan kesehatan.

b. Mengutamakan kepentingan dan keselamatan pasien daripada


kepentingan pribadi.

4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam


Permusyawaratan/Perwakilan.

a. Sebelum melakukan tindakan perawatan kepada pasien perawat


hendaknya mengutamakan musyawarah dengan pasien dan keluarga
pasien dalam mengambil keputusan.

b. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati


nurani yang luhur serta dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang
Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai
kebenaran dan keadilan, mengutamakan persatuan dan kesatuan demi
kepentingan bersama.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh RakyatIndonesia

a. Mengembangkan sikap adil dengan menjaga keseimbangan antara hak


dan kewajiban terhadap semua pasien.

b. Perawatan pasien dilaksanakan dengan sikap dan suasana kekeluargaan


dan kegotong-royongan antara pasien, keluarga pasien, perawat, dokter
serta tim paramedis dan medis lainnya.
Senyum tulus perawat juga merupakan pengamalan dari Pancasila

1. Makna Senyuman

Senyum merupana sikap yang mudah, ceria, ringan dan sederhana untuk
dilakukan. Tanadi Santoso menyebutkan keluarbiasaan senyuman sebagai sebuah
kekuatan universal yang menarik sekali. Disebutnya demikian, karena ia
berpandangan bahwa senyuman akan menunjukkan hal yang positif. Senyum yang
tulus dengan hati terbuka akan memancarkan sikap mental yang positif dan akan
memancarkan kehangatan dari orang tersebut. Sebuah perasaan yang mudah
menular. Juga Menunjukan keterbukaan dengan orang lain. Terasa sebuah
perasaan keyakinan akan hidup dan yang terasa lainnya, apapun yang dikatakan
akan terasa lebih manis, enak didengar dan menyenangkan bagi orang lain.

Soejitno Irmin dan Abdul Rochim dalam bukunya Penampilan Pribadi Yang
Simpatik menyatakan bahwa disamping senyum itu murah, tidak usah membeli
dan persediaanya luar biasa banyaknya, senyum ternyata memiliki daya ajaib
seperti senyum dapat membangkitkan jiwa-jiwa yang lemah dan semangat yang
terkoyak-koyak. Senyum dapat mengubah impian menjadi kenyataan.

2. Senyum tulus perawat untuk penyembuhan pasien

Seorang perawat hendaknya memiliki senyuman yang tulus yang mampu


momotifasi pasien-pasien yang ditanganinya. Selain itu senyuman merupakan
modal utama bagi seorang perawat dalam bersosialisai dengan lingkungan rumah
sakit atau lingkungan kerja. Senyuman seorang perawat terhadap pasiennya sangat
penting karena senyum perawat membuat pasien nyaman dalam menjalani
pengobatan. Senyuman yang dimaksud adalah senyuman yang murni dan tulus
dari dalam lubuk hati, bukan senyuman yang dibuat-buat.