Anda di halaman 1dari 2

Pada praktikum ini, dilakukan proses koagulasi yaitu proses destabilisasi koloid

dengan penambahan bahan kimia untuk menetralkan muatan negatif dan flokulasi
adalah proses aglomerasi partikel destabil oleh bahan kimia polimer, menjadi partikel
berukuran besar yang dikenal sebagai flok, yang dapat dipindahkan secara efektif,
dengan pengendapan atau dengan flotasi. Tujuan praktikum ini yaitu mengetahui dosis
yang terbaik untuk koagulan yang digunakan serta mengamati karakteristik proses
koagulasi-flokulasi.Pada praktikum ini dilakukan pengolahan air limbah Cuki Laundry
yang nilai kekeruhan awal dari air limbah cuciannya adalah 38,77 NTU dan pH 7.
Metode dari pengolahan air limbah yang dilakukan adalah koagulasi dengan koagulan
tawas. Parameter yang ditinjau adalah kekeruhan, pH, DHL, dan tinggi endapan
terhadap ditambahkannya dosis (konsentrasi) koagulan sebanyak 250 hingga 500 ppm.
Kondisi air limbah diset dengan volume yang sama yaitu 800 ml pada kondisi pH,
kekeruhan, dan DHL yang sama sehingga terlihat lebih jelas parameter setelah
ditambahkan koagulan. Proses koagulasi-flokulasi ini dilakukan dengan menggunakan
Jartest. Koagulasi dilakukan dengan kecepatan pengadukan 100 rpm selama 1 menit
dan flokulasi dilakukan dengan kecepatan pengadukan 60 rpm selama 14 menit.
Pengadukan secara cepat pada koagulasi dilakukan dengan tujuan mempercepat dan
meratakan tawas (mengandung ion Al3+) yang ditambahkan ke dalam limbah agar dapat
mengikat muatan negatif pada koloid sehingga terbentuk flok-flok kecil yang dapat
mengendap. Pengadukan secara lambat bertujuan untuk mengelompokkan partikel kecil
tersebut menjadi lebih besar agar dapat mengendap dan tidak terpecah kembali.
Flokulan yang digunakan yaitu aquaclear dengan kondisi semua air baku sama yaitu 3.2
ml ( tidak ada variasi flokulan).
Limbah yang telah dilakukan Jartest, diendapkan pada kerucut Imhoff selama 60
menit. Selama proses sedimentasi terbentuk tinggi endapan yang berbeda-beda,
tergantung dosis koagulan yang digunakan. Tinggi endapan berangsur-angsur
meningkat seiring dengan bertambahnya waktu.
Pada gambar 4.1, konsentrasi tawas memberikan pengaruh yang berbeda terhadap
kekeruhan air, dari gambar tersebut koagulan optimum yang mengurangi kekeruhan
adalah pada konsentrasi tawas 400 ppm. Hal ini dibuktikan dengan berkurangnya
kekeruhan yang lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi tawas yang lain..
Pada gambar 4.2, daya hantar listrik akan turun berdasarkan penggunaan
konsentrasi. Pada konsentrasi optimum yaitu 400 ppm, nilai DHL juga mengikuti
penurunannya sebanding dengan konsentrasi tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Montgomery (1985) bahwa ion-ion logam seperti alumunium akan terhidrolisa dengan
cepat untuk membentuk presipitat yang tidak larut dan teradsoprsi dengan cepat pada
permukaan partikel koloid yang akan mempercepat laju pembentukan agregat dari
partikel koloid. Karena penurunan jumlah ion ini akan mengurangi ion-ion didalamnya
sehingga DHL akan turun. Sedangkan ketika > 40 ppm akan mengalami penambahan
DHL kembali karena ion Al3+ yang berlebih membuat jumlah ion pada limbah menjadi
bertambah.
Pada gambar 4.3, tinggi endapan yang terbentuk sesuai dengan pengurangan
kekeruhannya. Hal ini terlihat jelas pada konsentrasi tawas 400 ppm, tinggi endapan
akan lebih besar karena pengurangan kekeruhan serta parameter lain lebih besar
dibanding dengan konsentrasi tawas yang lainnya.
Dari praktikum tersebut, koagulan tawas yang memberikan hasil optimal pada
proses penjernihan air limbah Cuki Laundry adalah pada konsentrasi tawas 400ppm dan
flokulan 3.2 mL dengan efisiensi yang dihasilkan 88.65%.