Anda di halaman 1dari 20

RAMBUT RONTOK

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Tahun Ajaran 2016/2017

Disusun Oleh:
Kelompok 6 / AJ1 B19
1. Dhinar Retno Panitis 131611123032
2. Ari Kurniawati 131611123041
3. Dewi Fajarwati Prihatiningsih 131611123042
4. Sindhu Agung Laksono 131611123043
5. Robeta Lintang Dwiwardani 131611123044
6. Hermansyah 131611123045
7. Ezra Ledya Sevtiana Sinaga 131611123046

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Secara biologis sebenarnya rambut kepala tidak mempunyai fungsi penting bagi
manusia. Rambut kepala mencerminkan gambaran sosial yang merupakan mahkota
keindahan bagi wanita serta lambang kejantanan bagi pria. (Supardiman, Lily. 2010)

Rambut adalah struktur solid yang terdiri atas sel yang mengalami keratinisasi padat,
berasal dari folikel epidermal yang berbentuk seperti kantong yang tumbuh ke dalam
dermis. Rambut normal dan sehat, tampak berkilat, elastis, tidak mudah patah, serta dapat
menyerap air. Komposisi rambut terdiri atas karbon 50,60%, hidrogen 6,36%, nitrogen
17,14%, sulfur 5,0%, dan oksigen 20,80% (Pusponegoro, Erdina H.D. 2002). Rambut juga
merupakan salah satu adneksa kulit yang terdapat pada seluruh tubuh kecuali telapak tangan,
telapak kaki, kuku, dan bibir (Soepardiman, Lily. 2010).

Jenis rambut pada manusia pada garis besarnya dapat digolongkan 2 jenis, yaitu;
rambut terminal, rambut kasar yang mengandung banyak pigmen, terdapat di kepala, alis,
bulu mata, ketiak, dan genitalia eksterna, serta rambut velus, rambut halus sedikit
mengandung pigmen, terdapat hampir di seluruh tubuh. (Soepardiman, Lily. 2010)

Kerontokan rambut adalah kehilangan rambut terminal dalam bentuk apapun dan
dimanapun asal mula terjadinya yang berkisar lebih dari 100 helai per hari. (Brown, Robin
Graham dan Tony Burns; Pusponegoro, Erdina H.D. 2002)

Siklus aktivitas folikel rambut terdiri dari; fase katagen/regresi, merupakan fase
transisi antara anagen dan telogen. Fase katagen berlangsung selama beberapa minggu (+/-
2 minggu) dan jumlah rambut normal pada fase ini adalah 0,03 mm.

Rambut velus, rambut halus sedikit mengandung pigmen, terdapat 16drene di


seluruh tubuh. Rambut velus diproduksi oleh folikel-folike rambut yang sangat kecil yang
ada di lapisan dermis, diameternya < 0,03 mm. (Soepardiman, Lily. 2010)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rambut dapat dibedakan menjadi bagian-bagian sebagai berikut:

a. Folikel Rambut, yaitu suatu tonjolan epidermis ke dalam berupa tabung yang meliputi:

1) Akar rambut (folliculus pili), yaitu bagian rambut yang tertanam secara miring dalam
kulit.

2) Umbi rambut (bulbus pili), yaitu pelebaran bagian terbawah akar rambut .

b. Batang Rambut, yaitu bagian rambut yang berada diatas permukaan kulit. Batang rambut
terdiri atas 3 bagian, yaitu kutikula (selaput rambut), korteks (kulit rambut), dan medulla
(sumsum rambut) (Soepardiman, Lily. 2010)

c. Otot Penegak Rambut (muskulus arector pili), merupakan otot polos yang berasal dari
batas dermo-epidermis dan melekat di bagian bawah kandung rambut. Otot-otot ini
dipersarafi oleh saraf-saraf 17drenergic dan berperan untuk menegakkan rambut bila
kedinginan serta sewaktu mengalami tekanan emosional. (Kusumadewi, dkk; 2002)

2. Fisiologi kulit dan rambut

a. Fisiologi kulit

Fungsi kulit sebagai berikut :

a) Pelindung

Jaringan tanduk sel-sel epidermis paling luar membatasi masuknya benda-benda dan
keluarnya cairan berlebihan dari tubuh.

b) Pengatur suhu

Di waktu suhu dingin, peredaran darah dikulit berkurang untuk mempertahankan suhu badan.

c) Penyerap

Kulit dapat menyerap bahan-bahan tertentu seperti gas, dan zat yang larut dalam lemak, tetapi
air dan elektrolit sukar masuk melalui kulit.
d) Indra perasa

Indra perasa dikulit terjadi karena rangsangan terhadap saraf sensoris dalam kulit.

e) Faal pergetahan (faal secretoris)

Kulit diliputi oleh dua jenis pergetahan, yaitu sebum dan keringat

(prof. Dr. Marwali Harahap, 2000 hal 2).

a. Fisiologi rambut

a) Pengaturan Suhu Badan

b) Dalam kondisi dingin, pori-pori rambut akan mengecil. Dalam kondisi panas, maka
kondisi tersebut berlaku sebaliknya.

c) Fungsi Sebagai Alat Perasa

d) Rambut memperbesar efek rangsang sentuhan terhadap kulit. Sentuhan terhadap bulu
mata menimbulkan reflex menutup kelopak mata.

B. Pengertian kelainan rambut

Kelainan-kelainan pada rambut dapat terjadi pada batang rambut atau akar rambut, dimana
penyebabnya dapat saja berasal dari luar maupun dari dalam badan. Gangguan pada akar
rambut secara otomatis akan menyebabkan gangguan pada batang rambut, sedangkan
gangguan pada batang rambut belum tentu sampai menyebabkan gangguan pada akar rambut.

Tranggono (1992:21) menjelaskan, bahwa kelainan-kelainan pada batang rambut yang tidak
sampai mempengaruhi akar rambut, misalnya batang rambut yang terbelah ujungnya,
kekeringan dan kekusaman akibat berjemur disinar matahari, rapuh karena tindakan
pengeringan dengan alat-alat yang panas (blow-dry), pengeritingan, pelurusan, pewarnaan
dan sasakan. Sementara itu kelainan-kelainan rambut yang dapat sampai mempengaruhi akar
rambut, misalnyarambut yang kusut sehingga waktu disisir banyak yang putus atau tercabut
dengan akarrambutnya, infeksi karena jamur dan kuman serta keracunan bahan-bahan kimia
atau cat rambut yang sampai ke akar rambut.
C. Etiologi

1) Karena demam

Hal ini akan menyebabkan kentalnya darah, di samping itu penguapan air sel, yang disebut
juga dengan dedikasi, sehingga menyebabkan akar rambut rontok dan kusam.

2) Gangguan keseimbangan hormone

Bila hormon tidak seimbang atau mengalami gangguan, maka hal ini akan menampakkan
kelainan pada akar rambut dan kulit kepala.

3) Ketidakseimbangan makanan

4) Makanan sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan rambut. Orang yang menu makanannya
tidak seimbang atau menyukai makanan-makanan yang disenangi saja atau kekurangan
protein maupun kelebihan vitamin A, jelas akan membuat kelainan-kelainan pada rambut.

5) Keracunan makanan atau obat

Misalnya banyak menelan obat-obat kanker. Hal ini akan menyebabkan kerontokanrambut.
Sehubungan dengan beberapa kelainan yang sering ditemukan padarambut manusia, apakah
kelainan itu datang dari dalam maupun yang datang dari luar seperti yang telah dijelaskan,
maka apabila kelainan-kelainan tersebut kurang diperhatikan tentu akan berubah menjadi
penyakit, baik itu penyakit rambut atau bahkan meluas menjadi penyakit kulit kepala.

Berkaitan dengan penjelasan di atas tentang kelainan-kelainan yang ditemukan pada kulit
kepala dan rambut, maka bila kita kurang memperhatikan tentu akan berakibat lebih fatal
terhadap kondisi rambut.Kelainan-kelainan pada rambutharuslah mendapat perhatian khusus,
bila kita menginginkan rambut sehat dan subur.

D. Jenis penyakit

1. Penyakit rambut yang menular, yakni:

a. Dendruff/ketombe/sindap, ada 2 macam ketombe antara lain:

a) ketombe kering(pityriasis capitis simplex), Ketombe kering (Pityriasis Sicca) berupa


sebagian sisik-sisik ketombe melekat erat dan sebagian terlepas di sekitarnya
b) ketombe basah (pityriasis steatiodes), Ketombe basah (Pityriasis Steodeos) berupa
lapisan sisik berwarna putih kekuning-kuningan yang menempel kuat dan menyerap sebum
kulit kepala, bila dikelupas timbul bekas merah disertai rasa gatal.

b. Kutu kepala menimbulkan problema lebih parah daripada gangguan ketombe. Kutu
betina berukuran sekitar 3-4 mm sedikit lebih besar daripada kutu jantan, bertelur antara 7-10
butir dalam satu bulan masa hidupnya.

2. Penyakit rambut yang tidak menular:

a. Piebaldism

kelainan kongenital, diturunkan autosomal dominan, jarang ditemukan. Ditandai dengan uban
terlokalisir pada daerah dahi dan makula melanotik yang menyerupai vitiligo

b. Hipertrikosis

Penambahan jumlah rambut pada tempat2 yang biasanya juga ditumbuhi rambut.

Bisa karena kelainan bawaan, obat2an. Jika terjadi setempat bisa dikarenakan oleh pemakaian
salep kortikosteroid

c. Hirsutisme

Pertumbuhan rambut berlebihan pada wanita dan anak2 pada tempat seks sekunderKumis,
janggut, cambangKarena obat mengandung hormon dan kelaianan endokrin

d. Uban Prematur

ditemukan pada usia sebelum 20 tahun. Diduga akibat kelainan genetik dan biasanya
ditemukan sebagai kelainan autosomal dominan. Canitis/Uban, yang bisa di sebabkan karena
faktor usia atau semakin berkurangnya melamin (butiran-butiran zat pigmen) pada akar
rambut. Tidak ada cara lain untuk menanggulangnya kecuali dengan cara mewarnai. Tapi
pastikan perawatan rambut setelah pengecatan harus dilakukan dengan benar supaya rambut
tidak rusak

e. Albinisme
Diturunkan secara genetik, tidak ditemukan atau sangat sedikit pigmen pada rambut. Secara
autosomal resesif

f. Canitis/Uban,

Yang bisa di sebabkan karena faktor usia atau semakin berkurangnya melamin (butiran-
butiran zat pigmen) pada akar rambut. Tidak ada cara lain untuk menanggulangnya kecuali
dengan cara mewarnai. Tapi pastikan perawatan rambut setelah pengecatan harus dilakukan
dengan benar supaya rambut tidak rusak

g. Alopecia/kebotakan

Akar rambut yang kurang kuat dapat mengakibatkan kerontokan rambut selain itu
penggunaan sampo yang tidak sesuai, stess dan mengikat rambut terlalu kencang juga
merupakan sumber masalah kerontokan rambut

Kehilangan rambut yang terjadi secara cepat,yang dapat terjadi secara autoimmun,
hormonal,genetik,dan stress emosional.Adapun tipe-tipe Alopesia yaitu :

Adapun jenis-jenis alopesia sebagai berikut:

1. Alopesia androgenik

Alopesia androgenik (juga dikenal sebagai androgenetic alopecia, alopecia androtesticleas,


male pattern baldness, common baldness) merupakan sebuah bentuk umum kehilangan
rambut pada laki-laki dan perempuan.

2. Alopesia areata

Kehilangan rambut yang cepat dan komplit sehingga terbentuk bercak satu atau lebih, berupa
bulatan atau oval, biasanya dikepala dan tempat berambut lain.

3. Alopesia prematur

Sering terjadi pada pria berumur dua puluhan dan disertai dermatitis seboroika yang berat.

Sindrom alopesia androgenik mempunyai prevalensi yang tinggi akhir-akhir ini. Alopesia
androgenik merupakan tipe kebotakan yang paling banyak, sekitar 50-80% dialami laki-laki
kaukasia. Pada wanita sekitar 20-40% populasi. Banyak pria usia muda yang mengalami
penipisan rambut kronis dan menjadi botak sebelum masanya.
Angka kejadian pada laki-laki sekitar 50% dan pada perempuan biasanya terjadi usia lebih
dari 40 tahun. Dilaporkan 13% dari perempuan premenopause menderita alopesia
androgenik, namun, insidennya sangat meningkat setelah menopause. Menurut beberapa
penulis, 75% dari perempuan yang berumur lebih dari 65 tahun kemungkinan menderita
alopesia androgenik. Insiden tertinggi pada orang kulit putih, kedua di Asia dan Afrika-
Amerika, dan terendah pada penduduk asli Amerika dan Eskimo. Hampir semua pasien
memiliki onset sebelum usia 40 tahun, walaupun banyak pasien (baik laki-laki dan
perempuan) menunjukkan bukti gangguan pada usia 30 tahun.

Sehingga dari peryataan-peryataan diatas penulis tertarik mengangkat makalah yang berjudul
alopesia androgenik.

E. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan rambut

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan rambut adalah sebagai berikut:

1. Keadaan Fisiologik

a. . Hormon

Hormon yang berperan adalah androgen, estrogen, tiroksin, dan kortikosteroid. Masa
pertumbuhan rambut 0,35 mm/hari, lebih cepat pada wanita daripada pria. Hormon androgen
dapat merangsang dan mempercepat pertumbuhan dan menebalkan rambut di daerah janggut,
kumis, ketiak, kemaluan, dada, tungkai laki-laki, serta rambut-rambut kasar lainnya. Namun,
pada kulit kepala penderita alopesia androgenetik hormon androgen bahkan memperkecil
diameter batang rambut serta memperkecil waktu pertumbuhan rambut anagen. Pada wanita
aktivitas hormon androgen akan menyebabkan hirsutisme, sebaliknya hormon estrogen dapat
memperlambat pertumbuhan rambut, tetapi memperpanjang anagen. (Soepardiman, Lily.
2010)

b. Nutrisi

Malnutrisi berpengaruh pada pertumbuhan rambut terutama malnutrisi protein dan kalori.
Pada keadaan ini rambut menjadi kering dan suram. Adanya kehilangan pigmen setempat
sehingga rambut tampak berbagai warna. Kekurangan vitamin B12, asam folat, asam animo,
karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan zat besi juga dapat menyebabkan kerontokan
rambut.
(Soepardiman, Lily. 2010)

c. Kehamilan

Pada kehamilan muda, yaitu tiga bulan pertama, jumlah rambut telogen masih dalam batas
normal, tetapi pada kehamilan tua menurun sampai 10%. (Kusumadewi, dkk.2002)

d. Masa balig

Pada masa ini terjadi peningkatan kadar hormon seks. Ini berakibat pertumbuhan rambut
ketiak dan rambut kemaluan, tetapi rambut kepala justru akan rontok. (Kusumadewi,
dkk.2002)

e. Kelahiran

Dalam masa 3 bulan setelah melahirkan folikel-folikel rambut kepala sang ibu dengan cepat
beralih ke fase telogen, sehingga selama masa ini dijumpai nilai telogen 35%.

f. Masa baru lahir

Jika rambut janin dalam rahim seluruhnya berada dalam fase anagen, maka beberapa minggu
setelah bayi lahir akan tampak kerontokan rambut, yang disusul dengan pertumbuhan rambut
baru selama tahun pertama dan kedua kehidupannya.

g. Masa menjadi tua

Wanita dan pria sama-sama menderita kerontokan rambut karena usia lanjut. Kerontokan
dimulai di ubun-ubun, dahi, dan pelipis, lalu bergeser ke belakang. Di bagian-bagian ini fase
anagen rambut menjadi singkat, rambut lebih cepat rontok dan rambut halus tumbuh sebagai
gantinya (Kusumadewi, dkk), folikel rambut mengalami atrofi, fase pertumbuhan bertambah
singkat, rambut lepas lebih cepat dan densitas rambut juga berkurang. (Pusponegoro, Erdina

H.D. 2002)

h. Vaskularisasi

Vaskularisasi dapat mempengaruhi pertumbuhan rambut, namun bukan merupakan penyebab


primer dari gangguan pertumbuhan rambut, karena destruksi bagian 2/3 bawah folikel sudah
berlangsung sebelum susunan pembuluh darah mengalami perubahan. (Suling, Pieter L)

2. Keadaan Patologik
a. Peradangan sistemik/setempat

Kuman lepra yang menyerang kulit akan menyebabkan kulit menjadi atrofi dan folikel
rambut rusak, akan terjadi kerontokan rambut pada alis mata dan bulu mata (madarosis). Pada
penyakit eritematosis sifilis stadium II dapat menyebabkan rambut menipis secara rata
maupun setempat secara tidak rata sehingga disebut moth eaten appearance. Infeksi jamur di
kulit kepala dan rambut akan menyebabkan kerontokan maupun kerusakan batang rambut.
Infeksi akut lainnya seperti demam tinggi juga dapat mempengaruhi pertumbuhan rambut.
Mekanisme Universitas Sumatera Utaraterjadinya kerontokan setelah demam karena
percepatan fase anagen ke telogen.

b. Obat

Setiap obat menghalangi pembentukan batang rambut dapat menyebabkan kerontokan,


umumnya obat antineoplasma misalnya bleomisin, endoksan, vinkristin, dan obat antimitotik,
misalnya kolkisin. Obat antikoagulan heparin atau kumarin dapat mempercepat terjadinya
perubahan folikel anagen ke dalam fase telogen dalam jumlah besar, sehingga menyebabkan
effluvium telogen. Logam berat yang akan terikat pada grup sulfhidril dalam keratin antara
lain talium, merkuri dan arsen juga bisa mempengaruhi pertumbuhan rambut. (Soepardiman,
Lily.dkk 2010)

c. Mekanis

Mencabut rambut gada atau melukai folikel rambut akan mempercepat terjadinya masa
anagen dengan mempersingkat masa telogen.

d. Kelainan endokrin

Kelainan endokrin dapat mempengaruhi fisiologi folikel rambut, menambah atau

mengurangi produksi rambut. Hipotiroidisme dapat menyebabkan mengecilnya diameter


rambut

e. Penyakit kronis

Kerontokan rambut tidak selalu didapatkan pada penyakit kronis, kecuali terdapat

kekurangan protein dalam jumlah besar.


F. Fase-fase pertumbuhan rambut

Pertumbuhan rambut adalah sebuah siklus dan proses asynchronous. Kesehatan rambut
mengalami tiga fase yang kembali terjadi dalam siklus. Pada orang dengan rambut sehat
sekitar 85% dari rambut berada di anagen, 1% di catagen, dan 14% pada fase telogen pada
waktu tertentu.

c The anagen atau fase pertumbuhan

Selama anagen atau fase pertumbuhan, sel-sel matriks membelah dengan cepat dan bergerak
ke atas bola rambut di mana mereka menjadi sel-sel rambut dan batang rambut sarungnya,
yaitu medula, korteks dan kutikula.Diferensiasi akhir sel terjadi dalam zona keratinizing.
Proses ini diakhiri dengan produksi keratin, komponen utama dari batang rambut, dan
keratinization lengkap dari sel-sel akar rambut. Anagen fase yang berlangsung antara tiga dan
delapan tahun.

c The catagen atau fase transisi

Dalam fase transisi catagen atau pembagian pembentuk sel-sel rambut secara bertahap
berakhir. Bohlam rambut memisahkan dari papila dermal, dan kematian sel terprogram
dimulai. Folikel rambut menyusut sepertiga dari panjang sebelumnya dan bermigrasi menuju
permukaan kulit kepala. Catagen fase yang berlangsung 2 sampai 3 minggu.

c The telogen atau fase istirahat

Rambut rontok di fase telogen atau beristirahat, baik secara aktif atau pasif seperti rambut
yang baru tumbuh mendorong keluar yang lama. Sekarang folikel bergerak lebih dalam ke
dermis dan di dermal papila, sampai sekarang direduksi menjadi sebuah bola sel, anagen lain
fase pertumbuhan rambut baru dimulai. Pada fase telogen berlangsung selama dua sampai
empat bulan

G. Konsep dasar penyakit alopesia androgenetika

1. Pengertian

Alopesia ini timbul pada pria usia 30-40 tahun atau lebih, berupa keguguran rambut bertahap
dari bagian verteks dan frontal.garis rambut anterior berangsur masuk ke dalam ( mundur),
sehingga dahi terlihat bertatmbah lebar. ( prof. Dr. Marwali Harahap,200 hal 164 ).
Alopesia atau kerontokan rambut dapat terjadi akibat banyak keadaan seperti infeksi kulit
kepala, pemakaian obat pewarna rambut, penambahan usia, pemakaian obat-obatan dan
perubahan kadar hormon androgen. Alopesia andrgogenetik dapat terjadi pada laki-laki dan
wanita. Meskipun kebotakan pola laki-laki lazim dijumpai, wanita dapat pula mengalami
kerontokan rambut dengan pola yang sama. Karena rambut merupakan bagian tubuh yang
sangat visible dan menjadi bagian dari citra tubuh serta harga diri seseorang, kerontokan
rambut dapat \menimbulkan permasalahan emosional dan social yang cukup serius bagi laki-
laki maupun perempuan. (Smeltzer & Bare, 2001 hal : 1907)

Alopesia androgenik (juga dikenal sebagai androgenetic alopecia, alopecia androtesticleas,


male pattern baldness, common baldness) merupakan sebuah bentuk umum kehilangan
rambut pada laki-laki dan perempuan.

Alopesia Androgenik adalah gangguan yang sangat umum yang mempengaruhi baik laki-laki
dan perempuan. Insiden ini umumnya dianggap lebih besar pada laki-laki daripada
perempuan, meskipun beberapa bukti menunjukkan bahwa perbedaan insiden merupakan
cerminan dari ekspresi berbeda pada pria dan wanita. Kebotakan pada laki-laki (alopesia
androgenik) dianggap normal pada laki-laki dewasa.

Jika di lihat dari pengertian di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa alopesia androgenetik
adalah suatu gangguan yang bersifat umum ditandai dengan hilangnya rambut, dan dapat
terjadi pada laki-laki maupun perempuan.

2. Etiologi

Mekanisme yang tepat untuk terjadinya alopesi androgenik ini belum jelas,tetapi diduga
alopesia ini disebabkan stimulasi hormon androgen terhadap folikel rambut yang mempunyai
predisposisi. Predisposisi ini dipengaruhi faktor genetik dan faktor peningkatan usia. ( prof.
Dr. Marwali Harahap, 2000 hal : 165 ).

3. Patofisiologi

Alopesia Androgenetik disebabkan oleh efek Hormon hormon Androgenik yang


mempengaruhi pertumbuhan rambut kepala pada Pria dan Wanita yang rentan secara
Genetik.Folikel-folikel yang membentuk rambut terminal perlahan-lahan berubah menjadi
folikel yang mirip Velus.;pada tahap-tahap akhir ,folikel akhirnya menjadi atropik,Alopesia
Androgenetik diatur oleh satu Gen autosomal dominan,terbatas jenis kelamin,yang dapat
terekspresi tak lengkap akibat faktor-faktor poligenik yang mengubahnya.

4. Manifestasi klinis

Adapun gejala klinis alopesia androgenik menurut hamilton:

Tipe I : rambut masih penuh

Tipe II : tampak pengurangan pada rambut pada kedua bagian temporal

Tipe III : Border line

Tipe IV : pengurangan rambut daerah frontotemporalt

Tipe V : tipe IV yang menjadi lebih berat

Tipe VI : seluruh kelainan menjadi satu

Tipe VII : alopesia luas di batasi pita rambut jarang

Tipe VIII : alopesia frontotemporal menjadi satu dengan bagian vertex

5. Prognosis

Prognosis kebotakan (alopesia) tergantung penyebabnya. Namun, prognosis androgenetik


alopesia tidak diketahui. Pada umumnya lebih mudah rambut rontok daripada rambut
tumbuh.

6. Diagnosis banding

a. Alopesia Areata : Penyebabnya belum diketahui, namun sering dihubungkan dengan


adanya infeksi fokal, kelainan endokrin dan stres emosional. Gejala klinis ditandai adanya
bercak dengan kerontokan rambut pada kulit kepala, alis, janggut, dan bulu mata.(2,18)

b. Trikotilomania : Alopesia neurosis, rambut ditarik berulang kali sehingga putus. Sering
pada gadis yang mengalami depresi. Kulit kepala normal tanpa peradangan atau parut.(2)
c. Tinea Kapitis : Kelainan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh spesies
dermatofita seperti T. rubrum, T. Mentagrophytes, M. gypseum. Gejala ini ditandai dengan
lesi bersisik, kemerah-merahan, alopesia, dan kadang-kadang terjadi gambaran klinis yang
lebih berat, yang disebut kerion.(3,16,18)

d. Telogen Efluvium : adanya kerontokan rambut terlalu cepat dan terlalu banyak pada folikel
rambut yang normal. Kelainan ini terjadi karena adanya rangsangan yang mempercepat fase
anagen menjadi fase telogen. Keadaan ini terjadi pada pascapartum,pascanatal, stress,
pascafebris akut.

7. Komplikasi

Rambut rontok dapat menyebabkan gangguan kosmetik, mempengaruhi secara psikologis


(kecemasan) dan jarang monosymptomatic hypochondriasis. Kulit kepala botak mudah
terpapar sinar matahari (sinar ultraviolet), dan menimbulkan Multipel Actinic Keratosis.

8. Penatalaksanaan

a. Medis

1) Preparat topikal minoksidil 2 % (Rogaine)

(Olsen, 1994 dalam Smeltzer & Bare, 2001 hal : 1908).

2) Preparat tropikal tretinoin

3) Transplantasi Rambut

4) Punch grafting

5) Sclep reduction atau pengurangan kulit kepala

( prof. Dr. Marwali Harahap,2000 hal 165 )

b. keperawatan

9. Pemeriksaan penunjang
a. Analisis laboratorium dehydroepiandrosterone (DHEA)-sulfate dan testosteron perlu
dilakukan, hal tersebut dilakukan untuk mengetahui hubungan kelebihan hormon androgen
dengan alopesia androgenik.

b. Biopsi jarang dibutuhkan untuk membuat diagnosis. Jika satu spesimen biopsi diperoleh,
itu umumnya dipotong melintang jika pola alopesia dicurigai.
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN RAMBUT :


ALOPESIA ANDROGENETIKA

A. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian keperawatan menurut Raharyani (1990), Anemnesis dilakukan untuk


mengklasifikasikan suatu pemahaman sehingga perlu ada kesepakatan antara pemeriksa dan
pasien. Wawancara harus efektif dan harus memahami perasaan pasien sehingga pasien lebih
terbuka. Dibawah ini adalah wawancara pada pasien gangguan sistem integumen, sebagai
data fokus.

1. Identitas

2. Keluhan utama

3. Riwayat penyakit sekarang

a. Kapan pasien pertama kali mengetahui masalah rambut ini?

b. Apa ada gejala yang lain?

c. Pada rambut bagian mana tempat pertama kali terkena?

d. Apakah terdapat kerontokan?

e. Apakah masalah tersebut menjadi bertambah parah pada waktu tertentu?

f. Apakah pasien dapat menjelaskan bagaimana kelainan tersebut berawal?

g. Obat-obatan apa yang anda gunakan?

4. Riwayat penyakit dahulu

Apakah masalah penyakit rambut yang dideritanya pernah terjadi sebelumnya?

5. Riwayat penyakit keluarga

Apakah ada diantara anggota keluarga anda yang mengalami masalah rambut seperti ini?

6. Riwayat psikososial

7. Kebiasaan sehari-hari
8. Pemeriksaan fisik

a. Inspeksi

Pasien berada dalam ruangan dalam penerangan yang baik.

1) Catat warna rambut klien

2) Lesi yang abnormal

3) Mobilitas kondisi rambut

4) Gejala gatal-gatal

5) Kerontokan rambut

b. Palpasi

Dalam melakukan tindakan ini pemeriksa harus menggunakan sarung tangan. Tindakan ini
dimaksudkan untuk memeriksa:

1) Sibak rambut klien untuk melihat distribusi

2) Tekstur rambut

3) kerontokan

B. Diagnosa keperawatan

1. Gangguan konsep diri (body image) b.d perubahan penampilan fisik

2. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penyakit (alopesia androgenetik)

3. Kurang pengetahuan terhadap penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d kurang
pemajanan, kesalahan interpretasi, kurang informasi

C. Rencana Keperawatan

NO Diagnosa Keperawatan Tujuan & K.H Intervensi Rasional

1. Gangguan konsep diri (body image) berhubungan dengan perubahan fisik.

Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 324 jam, diharapkan tidak terjadi
gangguan body image. Dengan KH:
Menyatakan penerimaan situasi diri

Bicara dengan keluarga/orang terdekat tentang situasi , perubahan yang terjadi

Membuat tujuan realitas/ rencana untuk masa depan

Memsukan perubahan dalam konsep diri tanpa harga diri negatif

a. Kaji makna kehilangan / perubahan pada pasien/ orang terdekat.

b. Berikan harapan dalam parametrer situasi individu: jangan memberikan keyakinan


yang salah

c. Berikan penguatan positif terhadap kemajuan dan dorongan usaha untuk mengikuti
tujuan rehabilitasi.

d. Berikan pendidikan kesehatan tentang bagaimana keluarga dapat membantu pasien.

e. Kolaborasi dengan keluarga untuk memberikan motivasi pada pasien. a.


Mengetahui perasaan yang pasien alami berhubungan dengan penyakitnya.

b. Meningkatkan perilaku positif dan memberikan kesempatan untuk enyusun tujuan dan
rencana masa depan berdasarkan realita.

c. Kata-kata penguat dapat mendukung terjadinya perilaku koping positif.

d. Meningkatkan pengetahuan pasien ataupun keluarga tentang penyakit pasien.

Mempertahankan/membuka garis komunikasi dan memberikan dukungan terus-menerus pada


pasien.

2. Kurang pengetahuan terhadap penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan


berhubungan dengan kurang pemajanan, kesalahan interpretasi, kurang informasi.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam di harapkan pasien dapat mengerti
tentang penyakit dan pengobatan yang berhubungan dengan penyakitnya.

Dengan kriteria hasil :


pasien mengerti dan paham tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan.

pasien dapat mengerti tentang tindakan pengobatan dan terapi

melakukan perubahan pola hidup tertentu dan berpartisipasi dalam program


pengobatan. a. Kaji ulang prognosis dan harapan yang akan datang.

b. ajarkan bagaimana perawatan pada rambutnya yang mengalami kerontokan.

c. penkes tentang alopesia. a.Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat


membuat pilihan berdasarkan informasi.

b. Agar klien dapat merawat rambutnya

c. Agar klien mengetahui tentang alopesia, penyebab, tanda dan gejala dan pengobatannya

3. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penyakit (alopesia ). Setelah


dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan tidak tejadi kerusakan pada
integritas kulit kepala klien dengan criteria hasil :

Tidak terjadi iritasi pada kulit kepala klien

kepala tidak terasa gatal.

pasien tampak nyaman.

a.Kaji keadaan kulit kepala

b.Anjurkan klien menggunakan pelindung kepala ( topi / rambut palsu ).

c.Berikan penkes tentang bahaya sinar UV


d. Kolaborasi dengan dokter kulit. a.Untuk mengetahui keadaan kulit kepala klien

b. Untuk memberikan perlindungan pada kepala klien agar tidak terpapar sinar matahari
secara lansung.

c. Agar klien mengetahui bahaya sinar UV.

d.Untuk mencegah / mengetahui apakah kulit kepala klien terjadi gangguan atau tidak.

DAFTAR PUSTAKA

E.Doenges,Marilynn dan Mary Frances, dkk.2000.Rencana Asuhan Keperawatan Edisi


3.Jakarta.EGC.

Buxton Paul K.2003.ABC of Dermatology Fourth Edition.London:Publishing Group Ltd.

NANDA Internasional.2012.Diagnosa Keperawatan 2012-2014.Jakarta:EGC.