Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kelainan refraksi mata atau refraksi anomali adalah keadaan dimana
bayangan tegas tidak dibentuk pada retina tetapi di bagian depan atau
belakang bintik kuning dan tidak terletak pada satu titik yang tajam. Kelainan
refraksi dikenal dalam bentuk miopia, hipermetropia, dan astigmatisma. Pada
mata yang tidak memerlukan alat bantu penglihatan (biasa disebut mata
normal) terdapat 2 sistem yang membiaskan sinar yang menghasilkan
kekuatan 50.0 dioptri. Kornea mata mempunyai kekuatan 80% atau 40 dioptri
dan lensa mata berkekuatan 20% atau 10 dioptri (Ilyas, 2006).
Prevalensi kebutaan disebabkan salah satunya adalah kelainan refraksi
yang tidak terkoreksi, di dunia pada tahun 2007 diperkirakan bahwa sekitar
2,3 juta orang di dunia mengalami kelainan refraksi (Ali dkk, 2007). Bila
dibandingkan dengan 10 negara South East Asia Region (SEARO), tampak
angka kebutaan di Indonesia yang penyebabnya salah satunya adalah kelainan
refraksi yakni sebanyak 0.11% (Sirlan dkk, 1996).
Menurut perhitungan WHO, tanpa ada tindakan pencegahan dan
pengobatan terhadap kelainan refraksi, hal ini akan mengakibatkan jumlah
penderita akan semakin meningkat. Kelainan refraksi bukan hanya
menggangu produktivitas dan mobilitas penderitanya, tetapi juga
menimbulkan dampak sosial ekonomi bagi lingkungan, keluarga, masyarakat,
dan negara lebih dalam menghadapi pasar bebas. Apabila keadaan ini tidak
ditangani secara menyeluruh, akan terus berdampak negatif terhadap
perkembangan kecerdasan anak dan proses pembelajarannya, yang
selanjutnya juga mempengaruhi mutu, kreativits dan produktivitas angkatan
kerja (15-55 tahun).

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana anatomi dan fisiologi mata terkait kelainan refraksi?


2. Bagaimana teori terkait kelainan refraksi pada mata?
3. Apa saja jenis kelainan refraksi pada mata?
4. Bagaimana patofisiologi kelainan refraksi mata?
5. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan kelainan refraksi mata?
6. Bagaimana rencana pemulangan pasien ?
7. Apa hasil penelitian dari jurnal terkait kelainan refraksi mata?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan Umum :

Untuk memahami askep pada klien dengan kelainan refraksi pada


mata ( Miopi, hipermetropi, Astigmatisma, Presbiopi )

Tujuan Khusus :

1. Mengidentifikasi anatomi dan fisiologi mata terkait kelainan refraksi?


2. Mengidentifikasi teori terkait kelainan refraksi pada mata?
3. Mengidentifikasi jenis kelainan refraksi pada mata?
4. Mengidentifikasi patofisiologi kelainan refraksi mata?
5. Mengidentifikasi asuhan keperawatan pada klien dengan kelainan
refraksi mata?
6. Mengidentifikasi rencana pemulangan pasien ?
7. Mengidentifikasi hasil penelitian dari jurnal terkait kelainan refraksi
mata?

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Mata

2
A. Anatomi Mata terkait Kelainan Refraksi

Pada penglihatan terdapat proses yang cukup rumit oleh jaringan yang
dilalui seperti membelokkan sinar, memfokuskan sinar dan meneruskan
rangsangan sinar yang membentuk bayangan yang dapat dilihat. Menurut Ilyas
(2004) yang memegang peranan pembiasan sinar pada mata adalah:

1. Kornea
Kornea merupakan jendela paling depan dari mata dimana sinar masuk
dan difokuskan ke dalam pupil. Bentuk kornea yang cembung dengan sifatnya
yang transparan merupakan hal yang sangat menguntungkan karena sinar

3
yang masuk 80% atau dengan kekuatan 40 dioptri dilakukan atau dibiaskan
oleh kornea ini. Kornea di bagian anterior tampak cembung dan berfungsi
dalam membiaskan sinar cahaya untuk difokuskan pada retina.
2. Iris
Iris merupakan bagian mata yang terlihat bewarna dan memanjang
secara anterior dari badan siliaris, berada di belakang kornea dan di depan
lensa. Iris membagi bagian anterior mata menjadi bilik anterior dan posterior
yang mengandung cairan aqueous yang disekresi olen badan siliaris. Iris
merupakan badan sirkular yang terdiri atas sel pigmen dan dua lapisan serat
otot polos, yakni otot sirkular dan radian. Pada bagian tengahnya terdapat
aperture (celah) yang disebut pupil.
Iris dipersarafi oleh saraf simpatik dan parasimpatik. Stimulasi
parasimpatik mengontriksi pupil, sedangkan stimulasi simpatik mendilatasi
pupil. Warna iris secara genetic ditentukan dan bergantung pada jumlah sel
pigmen yang ada. Orang albino tidak memiliki sel pigmen dan orang yang
bermata biru memiliki lebih sedikit sel pigmen daripada orang yang bermata
coklat. Iris akan mengatur jumlah sinar ke dalam pupil melalui besarnya pupil.
3. Pupil
Pupil berwarna hitam pekat pada sentral iris yang berfungsi untuk
mengatur jumlah sinar masuk ke dalam bola mata.
4. Badan Siliar
Badan siliar yang terletak di belakang iris menghasilkan cairan bilik
mata (akuos humor), yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada
pangkal iris di batas kornea dan sklera. Badan siliaris melekat pada ligamen
suspensori, yang pada bagian ujung lainnya, melekat pada kapsul yang
membungkus lensa. Kontraksi dan relaksasi otot siliaris mengubah ketebalan
lensa, membelokkan sinar cahaya yang masuk ke mata untuk memfokuskan
cahaya pada retina. Sel epithelium menyekresikan cairan aqueous ke bagian
anterior mata, yakni ruang antara lensa dan kornea. Badan siliaris dipersarafi
oleh cabang parasimpatik dari saraf okulomotor.
5. Lensa
Lensa terletak di belakang pupil yang dipegang di daerah ekuatornya
pada badan siliar melalui Zonula Zinn. Lensa mata mempunyai peranan pada

4
akomodasi atau melihat dekat sehingga sinar dapat difokuskan di daerah
makula lutea.
Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular tak berwarna dan
hampir transparan sempurna, di belakang iris lensa digantung oleh zonula
yang menghubungkan dengan korpus siliare. Di sebelah anterior terdapat
humor aquaeus dan di sebelah posterior terdapat vitreus. Kapsul lensa adalah
suatu membrane yang semi permiabel yang akan memperbolehkan air dan
elektrolit masuk. Lensa ditahan di tempatnya oleh ligamentum yang dikenal
dengan zonula (zonula Zinnii) ke badan siliare. Lensa mata berfungsi untuk
membiaskan berkas cahaya yang terpantul dari benda-benda yang dilihat
untuk menjadi baying jelas pada retina.
6. Retina
Retina yang terletak paling dalam, merupakan lapisan yang sangat
halus dan sangat peka terhadap cahaya. Retina mempunyai susunan lapis
sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis membran neurosensoris yang akan
merubah sinar menjadi rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke otak. Di
dalam retina terdapat reseptor cahaya (fotoreseptor) dan serabut saraf.
Fotoreseptor ini terdiri dari sel batang (basillus) dan sel kerucut (konus).
Sel kerucut lebih sedikit dibanding sel batang. Sel kerucut dapat
ditemukan di dekat pusat retina dan diperkirakan menjadi reseptor terhadap
cahaya terang dan penglihatan warna. Sel – sel batang ditemukan banyak pada
daerah perifer retina yang merupakan reseptor terhadap gelap atau penglihatan
malam. Sel – sel batang mengandung rhodopsin yaitu suatu protein
fotosintetif yang cepat berkurang dalam cahaya terang.
7. Saraf Optik
Saraf optik berasal dari retina dan serat ini berkumpul untuk
membentuk saraf optik sekitar 0,5 cm dari sisi nasal makula lutea. Saraf
menembus koroid dan sklera hingga ke bagian belakang dan medialnya
memiliki rongga orbita. Saraf kemudian melalui foramen optik tulang sfenoid,
mengarah ke belakang dan ke bagian medial untuk bertemu dengan saraf yang
berasal dari mata lainnya di kiasma optik.
8. Badan Vitreous (Badan Kaca)

5
Badan vitreous menempati daerah mata di balakang lensa. Struktur ini
merupakan gel transparan yang terdiri atas air (lebih kurang 99%), sedikit
kolagen, dan molekul asam hialuronat yang sangat terhidrasi. Badan vitreous
mengandung sangat sedikit sel yang menyintesis kolagen dan asam hialuronat
(Luiz Carlos Junqueira, 2003). Peranannya mengisi ruang untuk meneruskan
sinar dari lensa ke retina.

B. Fisiologi Mata terkait Kelainan Refraksi


Cahaya masuk ke mata dan di belokkan (refraksi) ketika melalui kornea
dan struktur-struktur lain dari mata (kornea, humor aqueous, lensa, humor
vitreous) yang mempunyai kepadatan berbeda-beda untuk difokuskan di retina,
hal ini disebut kesalahan refraksi.Mata mengatur (akomodasi) sedemikian rupa
ketika melihat objek yang jaraknya bervariasi dengan menipiskan dan
menebalkan lensa.
Penglihatan dekat memerlukan kontraksi dari badan ciliary, yang bisa
memendekkan jarak antara kedua sisi badan ciliary yang diikuti dengan
relaksasi ligamen pada lensa. Lensa menjadi lebih cembung agar cahaya dapat
terfokuskan pada retina. Konjungtiva adalah suatu membran tipis yang melapisi
kelopak mata (konjungtiva palpebra), kecuali darah pupil. Konjungtiva palpebra
melipat dengan seringnya mengganti jarak antara objek dengan mata.
Akomodasi juga dinbantu dengan perubahan ukuran pupil.
Penglihatan dekat, iris akan mengecilkan pupil agar cahaya lebih kuat
melelui lensa yang tebal.Cahaya diterima oleh fotoreseptor pada retina dan
dirubah menjadi aktivitas listrik diteruskan ke kortek. Serabut-serabut saraf
optikus terbagi di optik chiasma (persilangan saraf mata kanan dan kiri), bagian
medial dari masing-masing saraf bersilangan pada sisi yang berlawanan dan
impuls diteruskan ke korteks visual.
a. Pembiasan sinar cahaya
Saat sinar cahaya melintas dari satu media kepadatan ke media dengan
kepadatan berbeda, sinar ini dibelokkan, misalnya di mata, lensa bikonveks
membelokkan dan memfokuskan sinar cahaya. Prinsip ini digunakan untuk
memfokuskan cahaya di retina. Sebelum mencapai retina, sinar cahaya

6
berhasil melewati konjungtiva, kornea, cairai aqueous, dan badan vitreus.
Semua substansi ini lebih padat daripada udara dan kecuali lensa, substansi
ini memiliki daya pembias yang konstan, serupa dengan air. Pembiasan yang
abnormal dalam mata dikoreksi dengan menggunakan lensa bikonveks atau
bikonkaf.
b. Akomodasi
Agar objek yang dekat dapat difokuskan, yakni jarak sekitar 6m,
akomodasi diperlukan dan mata harus membuat penyesuaian sebagai berikut
:

1. Kontriksi pupil
Kontriksi pupil membantu akomodasi dengan mengurangi lebar berkas
cahaya yang masuk ke mata sehingga berkas cahaya melalui bagian
lengkung sentral lensa.
2. Konvergens (pergerakan bola mata)
Sinar cahaya berasal dari objek yang dekat, masuk kedua mata pada
sudut yang berbeda dan untuk mendapat melihat jelas. Sinar ini harus
menstimulasi area yang berfungsi pada dua retina. Otot ekstrinsik
menggerakkan mata dan untuk mendapat bayangan yang jelas, otot ini
merotasikan mata sehingga mata berpusat pada obe yang dilihat.
Aktivitas otot yang terkoordinasi ini berada dibawah kendali autonom.
Saat terdapat gerakan volunteer mata, kedua mata bergerak dan
konvergensi dipertahankan. Semakin dekat suatu objek dengan mata
semakin besar rotasi mata yang diperlukan untuk mencapai konvergensi,
misal orang yang berfokus melihat ujung hidungnya matanya tampak
juling. Jika konvergensi tidak mungkin dilakukan, otak cenderung
mengabaikan impuls yang diterima dari mata yang divergen.
3. Mengubah daya lensa
Perubahan dalam ketebalan lensa dilakukan untuk memfokuskan cahaya
pada retina. Jumlah penyesuaian bergantung pada jarak objek dari mata,
yakni lensa sekmakin tebal untuk penglihatan dekat dan semakin tipis

7
saat berfokus pada objek yang berjarak lebih dari 6 meter. Melihat objek
yang dekat membuat mata lebih cepat lelah karena penggunaan otot
siliaris yng terus menerus.
Ukuran pupil memengaruhi akomodasi dengan mengendalikan jumlah
cahaya yang masuk ke mata. Pada cahaya yang terang, pupil berkontriksi.
Pada cahaya yang redup, pupil berdilatasi. Jika pupil berdilatasi pada cahaya
terang, terlalu banyak cahaya yang masuk ke mata dan akan merusak retina
yang peka terhadap cahaya. Pada cahaya redup, jika pupil berkontriksi,
cahaya yang yang tidak cukup masuk ke mata untuk mengaktifkan pigmen
fotosensitif di sel batang dan kerucut yang menstimulasi ujung saraf di
retina.
Iris terdiri atas satu lapisan serat otot polos sirkular dan radian.
Kontraksi serat sirkular mengkontriksi pupil dan kontraksi serat radian
mendilatasi pupil. Ukuran pupil dikendalikan oleh system saraf autonom.
Stimulasi simpatik mendilatasi pupil, sedangkan stimulasi parasimpatik
menyebabkan kontriksi.

2.2 Teori Kelainan Refraksi Mata

Emetropi (mata normal) berasal dari kata Yunani, emetros, yang berarti
ukuran normal atau pembiasan sinar dalam mata dalam keseimbangan wajar, dan
opsis, yang berarti penglihatan. Mata emetropia akan mempunyai penglihatan
normal, 6/6 atau 100%. Menurut Brunner&Suddarth (2001), emmetropia
merupakan kondisi mata normal memfokuskan pada benda jauh tanpa
akomodasi, dan dengan akomodasi mata dapat memfokuskan pada benda dekat.

8
Gambar. Mata Normal/Tanpa Kelaina Refraksi

Sedangkan ametropi (mata dengan kelainan refraksi) berasal dari bahasa


Yunani; ametros, yang berarti tidak seimbang/sebanding, dan opsis, adalah
penglihatan. Menurut Ilyas tahun 2004, Ametropia adalah suatu keadaan mata
dengan kelainan refraksi dimana mata yang dalam keadaan tanpa akomodasi atau
istirahat memberikan bayangan sinar sejajar pada fokus yang tidak terletak pada
retina. Ametropia dapat ditemukan dalam bentuk-bentuk kelainan seperti miopia
(rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan astigmatisme (silinder) (Ilyas,
2004).

Kornea mempunyai daya pembiasan sinar terkuat dibanding bagian mata


lainnya. Lensa mata memegang peranan membiaskan sinar terutama pada saat
melakukan akomodasi atau melihat benda yang dekat. Bila terdapat kelainan
pembiasan sinar oleh kornea atau adanya perubahan panjang bola mata maka
sinar normal tidak dapat terfokus pada macula. Keadaan inilah yang disebut
sebagai ametropia. Kelainan lain pada pembiasan mata normal adalah gangguan
perubahan kecembungan lensa yang dapat berkurang akibat berkurangnya
elastisitas lensa sehingga terjadi gangguan akomodasi. Gangguan akomodasi
dapat terlihat pada usia lanjut sehingga terlihat keadaan yang disebut presbiopia
(Ilyas, 2004).

Bentuk ametropia pada kelainan refraksi meliputi ametropia aksial,


ametropia refraktif, dan ametropia kurvatur (Ilyas, 2004).

9
Ametropia aksial adalah ametropia yang terjadi akibat sumbu optik bola
mata lebih panjang atau lebih pendek sehingga bayangan benda difokuskan di
depan atau dibelakang retina. Pada miopia aksial, fokus akan terletak di depan
retina karena bola mata lebih panjang. Sedangkan pada hipermetropia aksial,
fokus bayangan terletak di belakang retina. Kekuatan refraksi mata ametropia
aksial adalah normal (Ilyas, 2004).

Ametropia indeks refraktif adalah ametropia akibat kelainan indeks


refraksi media penglihatan. Sehingga walaupun panjang sumbu mata normal,
sinar terfokus di depan (miopia) atau di belakang retina (hipermetropia).
Kelainan indeks refraksi ini dapat terletak pada kornea atau pada lensa
(cembung, diabetik) (Ilyas, 2004).

Ametropia kurvatur disebabkan kelengkungan kornea atau lensa yang


tidak normal sehingga terjadi perubahan pembiasan sinar. Kecembungan kornea
yang lebih berat akan mengakibatkan pembiasan lebih kuat sehingga bayangan
dalam mata difokuskan di depan bintik kuning sehingga mata ini akan menjadi
mata miopia atau rabun jauh. Sedangkan kecembungan kornea yang lebih kurang
atau merata (flat) akan mengakibatkan pembiasan menjadi lemah sehingga
bayangan dalam mata difokuskan dibelakang bintik kuning dan mata ini menjadi
hipermetropia atau rabun dekat (Ilyas, 2004).

2.3 Myopia

A. Pengertian Myopia
Miopia adalah suatu keadaan mata yang mempunyai kekuatan
pembiasan sinar yang berlebihan sehingga sinar yang datang dibiaskan di depan
retina atau bintik kuning (Nasrulbintang, 2008).

10
Miopiai disebut sebagai rabun jauh akibat berkurangnya kemampuan
untuk melihat jauh akan tetapi dapat melihat dekat dengan lebih baik. Secara
fisiologis sinar yang difokuskan pada retina terlalu kuat sehingga membentuk
bayangan kabur atau tidak jelas pada makula lutea (Ilyas, 2004). Sedangkan
menurut Sidarta tahun 2007, miopia atau sering disebut sebagai rabun jauh
merupakan jenis kerusakan mata yang disebabkan pertumbuhan bola mata yang
terlalu panjang atau kelengkungan kornea yang terlalu cekung, titik fokus
sistem optik media penglihatan terletak di depan makula lutea. Hal ini dapat
disebabkan sistem optik (pembiasan) terlalu kuat, miopia refraktif atau bola
mata terlalu panjang.

B. Klasifikasi Myopia
Secara klinis dan berdasarkan kelainan patologi yang terjadi pada mata,
myopia dapat dibagi kepada dua yaitu :
1. Miopia Simpleks : Terjadinya kelainan fundus ringan. Kelainan fundus
yang ringan ini berupa kresen miopia yang ringan dan berkembang sangat
lambat. Biasanya tidak terjadi kelainan organik dan dengan koreksi yang
sesuai bisa mencapai tajam penglihatan yang normal. Berat kelainan
refraksi yang terjadi biasanya kurang dari -6D. Keadaan ini disebut juga
dengan miopia fisiologi.
2. Miopia Patologis : Disebut juga sebagai miopia degeneratif, miopia
maligna atau miopia progresif. Keadaan ini dapat ditemukan pada semua
umur dan terjadi sejak lahir. Tanda-tanda miopia maligna adalah adanya
progresifitas kelainan fundus yang khas pada pemeriksaan oftalmoskopik.
Pada anak-anak diagnosis ini sudah dapat dibuat jika terdapat peningkatan
tingkat keparahan miopia dengan waktu yang relatif pendek. Kelainan

11
refrasi yang terdapat pada miopia patologik biasanya melebihi -6 D
(Sidarta, 2007 dalam Renardi, 2001).

Menurut American Optometric Association (2006), miopia secara klinis


dapat terbagi lima yaitu:
1. Miopia Simpleks : Miopia yang disebabkan oleh dimensi bola mata yang
terlalu panjang atau indeks bias kornea maupun lensa kristalina yang terlalu
tinggi.
2. Miopia Nokturnal : Miopia yang hanya terjadi pada saat kondisi di
sekeliling kurang cahaya. Sebenarnya, fokus titik jauh mata seseorang
bervariasi terhadap tahap pencahayaan yang ada. Miopia ini dipercaya
penyebabnya adalah pupil yang membuka terlalu lebar untuk memasukkan
lebih banyak cahaya, sehingga menimbulkan aberasi dan menambah kondisi
miopia.
3. Pseudomiopia : Diakibatkan oleh rangsangan yang berlebihan terhadap
mekanisme akomodasi sehingga terjadi kekejangan pada otot – otot siliar
yang memegang lensa kristalina. Di Indonesia, disebut dengan miopia palsu,
karena memang sifat miopia ini hanya sementara sampai kekejangan
akomodasinya dapat direlaksasikan. Untuk kasus ini, tidak boleh buru –
buru memberikan lensa koreksi.
4. Miopia Degeneretif : Disebut juga sebagai miopia degeneratif, miopia
maligna atau miopia progresif. Biasanya merupakan miopia derajat tinggi
dan tajam penglihatannya juga di bawah normal meskipun telah mendapat
koreksi. Miopia jenis ini bertambah buruk dari waktu ke waktu.
5. Miopia Induksi : Miopia yang diakibatkan oleh pemakaian obat – obatan,
naik turunnya kadar gula darah, terjadinya sklerosis pada nukleus lensa dan
sebagainya.

Klasifikasi miopia berdasarkan ukuran dioptri lensa yang dibutuhkan


untuk mengkoreksikannya (Sidarta, 2007 dalam Renardi 2011):
1. Ringan : lensa koreksinya 0,25 s/d 3,00 Dioptri
2. Sedang : lensa koreksinya 3,25 s/d 6,00 Dioptri.
3. Berat :lensa koreksinya > 6,00 Dioptri.

12
Klasifikasi miopia berdasarkan umur adalah (Sidarta, 2007 dalam
Renardi 2011):

1. Kongenital : sejak lahir dan menetap pada masa anak-anak.


2. Miopia onset anak-anak : di bawah umur 20 tahun.
3. Miopia onset awal dewasa : di antara umur 20 sampai 40 tahun.
4. Miopia onset dewasa : di atas umur 40 tahun (> 40 tahun).

C. Etiologi
Menurut Israr tahun 2010 dalam Renardi (2011), etiologi dari myopia
antara lain: Kekurangan zat kimia (kekurangan kalsium, kekurangan vitamin),
alergi, penyakit mata tertentu (bentuk kornea kerucut, bisul di kelopak mata,
pasca operasi atau pasca trauma atau kecelakaan), herediter atau faktor genetik
(perkembangan yang menyimpang dari normal yang di dapat secara kongenital
pada waktu awal kelahiran), kerja dekat yang berlebihan seperti membaca
terlalu dekat atau aktifitas jarak dekat, sumbu atau bola mata yang terlalu
panjang karena adanya tekanan dari otot ekstra okuler selama konvergensi yang
berlebihan.

D. Patofisiologi
Miopia disebabkan karena pembiasan sinar di dalam mata yang terlalu
kuat untuk panjangnya bola mata akibat :
1. Sumbu aksial mata lebih panjang dari normal (diameter antero-posterior
yang lebih panjang, bola mata yang lebih panjang ) disebut sebagai miopia
aksial
2. Kurvatura kornea atau lensa lebih kuat dari normal (kornea terlalu
cembung atau lensa mempunyai kecembungan yang lebih kuat) disebut
miopia kurvatura/refraktif
3. Indeks bias mata lebih tinggi dari normal, misalnya pada diabetes mellitus.
Kondisi ini disebut miopia indeks
4. Miopi karena perubahan posisi lensa. Misalnya: posisi lensa lebih ke
anterior, misalnya pasca operasi glaukoma (Dwi Ahmad Yani, 2008 dalam
T.Bastanta, 2010).

13
Pada myopia, mata mempunyai bentuk memanjang atau daya reaktif
yang berlebihan dan memfokuskan cahaya dari benda jauh di depan retina. Mata
miopik tidak dapat melihat benda jarak jauh karena tidak mampu mengurangi
daya refraktif yang berlebihan tadi (Brunner&Suddarth, 2001).

E. WOC
(terlampir)

F. Manifestasi Klinis
Gejala klinis miopia adalah sebagai berikut:
1. Gejala utamanya kabur melihat jauh
2. Sakit kepala (jarang)
3. Cenderung memicingkan mata bila melihat jauh (untuk
mendapatkan efek pinhole), dan selalu ingin melihat dengan
mendekatkan benda pada mata
4. Suka membaca, apakah hal ini disebabkan kemudahan membaca
dekat masih belum diketahui dengan pasti (Dwi Ahmad Yani, 2008
dalam T.Bastanta, 2010).
Sedangkan menurut Ilyas(2004), gejalanya antara lain: penglihatan
kabur untuk melihat jauh dan hanya jelas pada jarak yang dekat, selalu ingin
melihat dengan mendekatkan benda yang dilihat pada mata, kadang-kadang
terlihat bakat untuk menjadi juling bila ia melihat jauh, mengecilkan kelopak
untuk mendapatkan efek ”pinhole” sehingga dapat melihat jelas, penderita
miopia biasanya menyenangi membaca. Cepat lelah, pusing dan mengantuk,
melihat benda kecil harus dari jarak dekat, pupil medriasis, dan bilik mata depan
lebih dalam, retina tipis (Istiqomah, 2005). Banyak menggosok mata,
mempunyai kesulitan dalam membaca, memegang buku dekat ke mata, pusing,
sakit kepala dan mual (Wong, 2008).

G. Komplikasi

Komplikasi Miopia adalah :


1) Ablasio retina
2) Vitreal Liquefaction dan Detachment
3) Miopik makulopati
4) Glaukoma

14
5) Katarak
6) strabismus (mata juling)
7) ambliopia (Sidarta, 2003 dalam Renardi, 2011)

H. Pemeriksaan Penunjang
Pengujian atau test yang dapat dilakukan dengan pemeriksaan mata
secara umum atau standar pemeriksaan mata, (Sidarta, 2003 dalam Renardi,
2011) terdiri dari :
1. Uji ketajaman penglihatan pada kedua mata dari jarak jauh (Snellen) dan
jarak dekat (Jaeger).
2. Uji pembiasan, untuk menentukan benarnya resep dokter dalam pemakaian
kaca mata.
3. Uji penglihatan terhadap warna, uji ini untuk membuktikan kemungkinan
ada atau tidaknya kebutaan.
4. Uji gerakan otot-otot mata.
5. Pemeriksaan celah dan bentuk tepat di retina.
6. Mengukur tekanan cairan di dalam mata.
7. Pemeriksaan retina.

I. Penatalaksanaan Medis
Koreksi mata dengan miopia dengan memakai lensa
konkaf/negative/cekung(divergen) yang sesuai untuk mengurangi kekuatan daya
pembiasan di dalam mata. Biasanya pengobatan dengan kaca mata dan lensa
kontak. Miopia juga dapat diatasi dengan pembedahan pada kornea antara lain
keratotomi radial, keratektomi fotorefraktif (Ilyas, 2004). Pada saat ini telah
terdapat berbagai cara pembedahan pada miopia seperti keratotomi radial
(radial keratotomy - RK), keratektomi fotorefraktif (Photorefraktive
Keratectomy - PRK), dan laservasisted in situ interlamelar keratomilieusis
(Lasik) (Ilyas, 2006).

2.4 Hipermetropia (hiperopia)

A. Pengertian Hipermetropia
Hipermetropia juga dikenal dengan istilah hiperopia atau rabun dekat.
Hipermetropia merupakan keadaan gangguan kekuatan pembiasan mata dimana
sinar sejajar jauh tidak cukup dibiaskan sehingga titik fokusnya terletak di

15
belakang makula lutea (Ilyas, 2004). Sedangkan menurut Istiqamah (2005)
dalam Renardi (2011), hipermetropia adalah suatu kondisi ketika kemampuan
refraktif mata terlalu lemah yang menyebabkan sinar yang sejajar dengan
sumbu mata tanpa akomodasi difokuskan di belakang retina.

B. Klasifikasi Hipermetropia
Secara klinis, hipermetropia terbagi dalam 3 kategori (AOA, 2008):
a. Simple hyperopia, karena variasi normal biologis, bisa disebabkan oleh
panjang sumbu aksial mata ataupun karena refraksi.
b. Pathological hyperopia, disebabkan anatomi mata yang abnormal karena
gagal kembang, penyakit mata, atau karena trauma.
c. Functional hyperopia adalah akibat dari paralisis akomodasi.

Hipermetropia juga dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat kelainan


refraksinya, yaitu:
a. Hipermetropia ringan (≤ +2,00 D)
b. Hipermetropia sedang (+2,25 - +5,00 D)
c. Hipermetropia berat (≥+5,00 D)

C. Etiologi
Penyebab utama hipermetropia adalah panjangnya bola mata yang lebih
pendek. Akibat bola mata yang lebih pendek, bayangan benda akan difokuskan
di belakang retina. Berdasarkan penyebabnya, hipermetropia dapat dibagi atas:
a. Hipermetropia sumbu atau aksial, merupakan kelainan refraksi akibat bola
mata pendek atau sumbu anteroposterior yang pendek.
b. Hipermetropia kurvatur, dimana kelengkungan kornea atau lensa kurang
sehingga bayangan difokuskan di belakang retina.
c. Hipermetropia indeks refraktif, dimana terdapat indeks bias yang kurang
pada sistem optik mata (Ilyas, 2006).

D. Patofisiologi
Ada 3 patofisiologi utama hipermetropia, yaitu:

16
1. Hipermetropia aksial karena sumbu aksial mata lebih pendek dari normal
2. Hipermetropia kurvatura karena kurvatura kornea atau lensa lebih lemah
dari normal
3. Hipermetropia indeks karena indeks bias mata lebih rendah dari normal
(Dwi Ahmad Yani, 2008 dalam T.Bustanta, 2010).

Pada hipermetropia ini, mata tidak mempunyai daya reaktif yang cukup
untuk memfokuskan cahaya pada retina. Sebaliknya, sinar cahaya memasuki
mata dan difokuska di belakang retina., sehingga terjadilah gangguan
pandangan dekat (Brunner&Suddarth, 2001).

E. WOC
(terlampir)
F. Manifestasi Klinis
Gejala klinis hipermetropia adalah sebagai berikut:
1. Penglihatan jauh kabur, terutama pada hipermetropia 3 D atau lebih,
hipermetropia pada orang tua dimana amplitude akomodasi menurun
2. Penglihatan dekat kabur lebih awal, terutama bila lelah, bahan cetakan
kurang terang atau penerangan kurang
3. Sakit kepala terutama daerah frontal dan makin kuat pada penggunaan
mata yang lama dan membaca dekat
4. Penglihatan tidak enak (asthenopia akomodatif=eye strain) terutama bila
melihat pada jarak yang tetap dan diperlukan penglihatan jelas dalam
waktu yang lama, misalnya menonton TV, dll
5. Mata sensitif terhadap sinar
6. Spasme akomodasi yang dapat menimbulkan pseudomiopia
7. Perasaan mata juling karena akomodasi yang berlebihan akan diikuti oleh
konvergensi yang berlebihan pula (Dwi Ahmad Yani, 2008 dalam
T.Bastanta, 2010).

G. Komplikasi
Komplikasi hipermetropia adalah:
1) Esotropia, terjadi akibat pasien selamanya melakukan akomodasi
2) Glaucoma sekunder, terjadi akibat hipertrofi otot siliar pada badan siliar
yang akan mempersempit sudut bilik mata (Ilyas, 2006).

H. Pemeriksaan Penunjang

17
Pemeriksaan penunjang untuk mengetahui adanya kelainan
hypermetropia pada dasarnya sama dengan pemeriksaan pada myopia.

I. Penatalaksanaan Medis
Mata dengan hipermetropia akan memerlukan lensa
cembung(konvergen) /konveks/positif untuk mematahkan sinar lebih kaut
kedalam mata. Koreksi hipermetropia adalah di berikan koreksi lensa positif
maksimal yang memberikan tajam penglihatan normal. Bila terdapat juling ke
dalam atau esotropia diberikan kacamata koreksi hipermetropia total. Bila
terdapat tanda atau bakat juling keluar (eksoforia) maka diberikan kacamata
koreksi positif kurang. Tidak ada pembedahan yang dapat bertahan untuk
mengatasi hipermetropia. RK dan PRK dicoba untuk merubah permukaan
kornea dengan hipermetropia (Ilyas, 2006 dalam Renardi, 2011).

2.5 Astigmatisma

A. Pengertian Astigmatisma
Astigmatisme adalah suatu keadaan dimana sinar yang sejajar tidak
dibiaskan dengan kekuatan yang sama pada seluruh bidang pembiasan sehingga
fokus pada retina tidak pada satu titik (Ilyas, 2006 dalam Renardi, 2011).
Menurut Guyton dan Hall (1997), astigmatisma merupakan kelainan
pembiasan mata yang menyebabkan bayangan penglihatan pada satu bidang
focus pada jarak yang berbeda dari bidang sudut. Hal ini paling sering
disebabkan oleh terlalu besarnya lengkung kornea pada salah satu bidangnya.
Astigmatisme biasanya bersifat diturunkan atau terjadi sejak lahir.
Astigmatisme biasanya berjalan bersama dengan miopia dan hipermetropia dan
tidak banyak terjadi perubahan selama hidup (Ilyas, 2004).

18
B. Klasifikasi Astigmatisma
Dikenal beberapa bentuk astigmatisme seperti:
1. Astigmatisme regular adalah suatu keadaan refraksi dimana terdapat dua
kekuatan pembiasan yang saling tegak lurus pada sistem pembiasan mata.
Hal ini diakibatkan kornea yang mempunyai daya bias berbeda-beda pada
berbagai meridian permukannya. Astigmatisme ini memperlihatkan
kekuatan pembiasan bertambah atau berkurang perlahan-lahan secara
teratur dari satu meridian ke meridian berikutnya. Bayangan yang terjadi
pada astigmatisme regular dengan bentuk teratur dapat berbentuk garis,
lonjong, atau lingkaran.
2. Astigmatisme iregular yaitu astigmatisme yang terjadi tidak mempunyai 2
meridian saling tegak lurus. Astigmatisme ireguler dapat terjadi akibat
kelengkungan kornea pada meridian yang sama berbeda sehingga
bayangan menjadi iregular. Astigmatisme iregular terjadi akibat infeksi
kornea, trauma dan distrofi, atau akibat kelainan pembiasan pada meridian
lensa yang berbeda.
3. Astigmatisme lazim (astigmat with the rule) adalah suatu keadaan
kelainan refraksi astigmatisme regular dimana koreksi dengan silinder
negatif dengan sumbu horizontal (45-90 derajat). Keadaan ini lazim
didapatkan pada anak atau orang muda akibat perkembangan normal dari
serabut-serabut kornea.
4. Astigmatisme tidak lazim (astigmat against the rule) adalah suatu keadaan
kelainan refraksi astigmatisme regular dimanana koreksi dengan silinder
negatif dilakukan dengan sumbu tegak lurus (60-120 derajat) atau dengan
silinder positif sumbu horizontal (30-150 derajat). Keadaan ini terjadi
akibat kelengkungan kornea pada meridian horizontal lebih kuat
dibandingkan kelengkungan kornea vertikal. Hal ini sering ditemukan
pada usia lanjut (Ilyas, 2004).

C. Etiologi
Etiologi Astigmatisma ini antara lain disebabkan oleh bentuk kornea
yang oval seperti telur, dapat juga diturunkan atau terjadi sejak lahir, jaringan

19
parut pada kornea seteh pembedahan, ketidakteraturan lengkung kornea, dan
perubahan pada lensa. Astigmatisme juga dapat terjadi akibat jaringan parut
pada kornea atau setelah pembedahan mata. Jahitan yang terlalu kuat pada
bedah mata dapat mengakibatkan perubahan pada permukaan kornea. Bila
dilakukan pengencangan dan pengenduran jahitan pada kornea maka dapat
terjadi astigmatisme akibat terjadi perubahan kelengkungan kornea (Ilyas, 2006
dalam Renardi 2011). Sedangkan menurut Wong tahun 2008, ini terjadi akibat
dari kurvatura yang tidak sama pada kornea atau lensa yang menyebabkan sinar
melengkung dalam arah yang berbeda.

D. Patofisiologi
Pada mata normal, permukaan kornea yang melengkung teratur akan
memfokuskan sinar pada satu titik. Pada astigmatisma, pembiasan sinar tidak
difokuskan pada satu titik. Sinar pada astigmatisma dibiaskan tidak sama pada
semua arah sehingga pada retina tidak didapatkan satu titik fokus pembiasan.
Sebagian sinar dapat terfokus pada bagian depan retina sedang sebagian sinar
lain difokuskan di belakang retina.
Astigmatisma terjadi akibat kelengkungan kornea yang tidak teratur.
Focus sinar cahaya mengalami distorsi, dan pasien tak dapat memfokuskan
sinar horizontal dan vertical pada retina pada waktu bersamaan, pandangan
biasanya akan menjadi kabur, dan pasien akan mengeluh ketidaknyamanan mata
(Brunner&Suddarth, 2001).

E. WOC
(terlampir)
F. Manifestasi Klinis
Menurut Ilyas (2004), seorang penderita astigmatisma biasanya akan
memberikan keluhan:
1. Melihat ganda dengan satu atau kedua mata
2. Melihat benda bulat menjadi lonjong
3. Penglihatan bisa menjadi kabur untuk jarak jauh maupun dekat
4. Untuk melihat sering mengecilkan celah kelopak mata
5. Sakit kepala
6. Mata tegang atau pegal
7. Mata cepat lelah

20
G. Komplikasi
Komplikasi secara khas hanya timbul akibat astigmatisma yang tidak
ditangani, salah satu kemungkinan komplikasinya adalah ambliopia.

H. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan mata dengan astigmatisme dipergunakan alat berikut (Ilyas,
2004):
a. Cakram Placido, alat yang memproyeksikan sel lingkaran konsentris pada
permukaan kornea. Dengan alat ini dapat dilihat kelengkungan kornea
yang regular (konsentris), iregular kornea, dan adanya astigmatisme
kornea.
b. Juring atau kipas astigmatisme, yaitu garis berwarna hitam yang disusun
radial dengan bentuk semisirkular dengan dasar yang putih, dipergunakan
untuk pemeriksaan subjektif ada dan besarnya kelainan refraksi
astigmatisme.
c. Selain itu, untuk menentukan adanya astigmatisme terlebih dahulu
dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan dengan kartu Snellen. Periksa
kelainan refraksi miopia atau hipermetropia yang ada. Untuk mengetahui
kelengkungan setiap meridian kornea dilakukan dengan keratometri,
dengan mengingat hukum Javal (Ilyas, 2006). Keratometer adalah alat
yang dipergunakan untuk mengukur jari-jari kelengkungan kornea
anterior. Hukum Javal untuk keratometer, dimana disebut pada setiap
penilaian keratometer harus diingat (Ilyas, 2004):
1. Pada astigmat with the rule (penderita dengan silinder minus sumbu
180°), tambahkan astigmatisme yang ditemukan dengan 25% dan
kurangi dengan 0,50 D untuk koreksi astigmatismenya.
2. Pada astigmat against the rule (penderita dengan silinder minus
sumbu 90°), tambahkan astigmatisme yang ditemukan dengan 25%
dan tambahkan dengan 0,50 D untuk koreksi atigmatismenya.

I. Penatalaksanaan Medis
Kelainan astigmatisma dapat dikoreksi dengan lensa silindris, sering kali
dikombinasi dengan lensa sferis. Karena tak mampu beradaptasi terhadap
distorsi penglihatan yang disebabkan oleh kelainan astigmatisma yang tidak

21
terkoreksi. Tindakan bedah refraksi yang dapat dilakukan pada penderita
astigmatisme yaitu Lasik, PRK, dan Lasek (laser-assisted subepithelial
keratomileusis).

2.6 Presbiopia

A. Pengertian Presbiopia
Presbiopia yaitu hilangnya daya akomodasi yang terjadi bersamaan
dengan proses penuaan pada semua orang. Seseorang dengan mata emetropik
(tanpa kesalahan refraksi) akan mulai merasakan ketidakmampuan membaca
huruf kecil atau membedakan benda-benda kecil yang terletak berdekatan pada
usia sekitar 44-46 tahun.
Menurut Guyton & Hall (1997), presbiopi adalah gangguan lensa yang
semakin besar dan menebal serta menjadi kurang elastic, akibatnya kemapuan
lensa untuk berubah bentuk akan berkurang secara progresif seiring dengan
bertambahnya usia. Daya akomodasi berkurang dari 14 dioptri pada usia anak-
anak menjadi kurang dari 2 dioptri pada umur 40-50 tahun dan menjadi 0 pada
umur 70 tahun. Sesudah itu dapat dikatakan lensa sama sekali tidak dapat
berakomodasi.

B. Etiologi
Presbiopia dapat terjadi karena kelemahan otot akomodasi atau lensa
mata tidak kenyal atau berkurang elastisitasnya akibat sclerosis lensa.

C. Patofisiologi
Presbiopia terjadi akibat lensa makin keras sehingga elastisitasnya
berkurang. Demikian pula dengan otot akomodasinya, daya kontraksinya
berkurang sehingga tidak terdapat pengenduran zonula Zinn yang sempurna.
Pada mata presbiopia yang dapat terjadi karena kelemahan otot
akomodasi atau lensa mata tidak kenyal atau berkurang elastisitasnya,
menyebabkan kurang bisa mengubah bentuk lensa untuk memfokuskan mata
saat melihat. Akibat gangguan tersebut bayangan jatuh di belakang retina.
Karena daya akomodasi berkurang, maka titik dekat mata makin menjauh.
D. WOC
(terlampir)

22
E. Manifestasi Klinis
Karena daya akomodasi berkurang, maka titik dekat mata makin
menjauh dan pada awalnya klien akan kesulitan membaca dekat. Dalam upaya
untuk membaca lebih jelas, maka klien cenderung menegakkan punggungnya
atau menjauhkan objek yang dibacanya sehingga mencapai titik dekat klien,
dengan demikian objek dapat dibaca lebih jelas. Klien akan memberikan
keluhan setelah membaca mata lelah, berair dan sering merasa pedas.
Gejala umumnya adalah sukar melihat pada jarak dekat yang biasanya
terdapat pada usia 40 tahun, di mana pada usia ini amplitudo akomodasi pada
klien hanya menghasilkan titik dekat sebesar 25 cm. Pada jarak ini seseorang
emetropia yang berusia 40 tahun dengan jarak baca 25 cm akan menggunakan
akomodasi maksimal sehingga menjadi cepat lelah, membaca dengan
menjauhkan kertas yang dibaca, dan memerlukan sinar yang lebih terang.

F. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi akibat presbiopi adalah ablasio retina dan
juling.

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah:
1. Pemeriksaan ketajaman penglihatan dengan Kartu Snellen
2. Pemeriksaan kelainan refraksi
3. Pemeriksaan Presbiopia
Untuk usia lanjut dengan keluhan dalam membaca, dilanjutkan
dengan pemeriksaan presbiopia.
Cara :
a. Dilakukan penilaian tajam penglihatan dan koreksi kelainan
refraksi bila terdapat myopia, hipermetropia, atau astigmatisma,
sesuai prosedur di atas.
b. Pasien diminta membaca kartu baca pada jarak 30-40 cm ( jarak
baca ).
c. Diberikan lensa mulai +1 dinaikkan perlahan-lahan sampai
terbaca huruf terkecil pada kartu baca dekat dan kekuatan lensa
ini ditentukan.

23
H. Penatalaksanaan Medis
1. Kacamata
Kacamata dengan bifocal atau Progressive Addition Lenses ( PALs )
adalah koreksi yang paling umum untuk presbiopia. Bifokal mempunyai dua
cara untuk pemfokusan : bagian besar dari lensa kacamata untuk
nearsightedness atau farsightedness, sedangkan bagian terbawah lensa
memegang preskripsi terkuat untuk penglihatan dekat untuk pekerjaan
dekat. PALs mirip denagan lensa bifocal, tetapi PALs memberikan transisi
penglihatan yang lebih bertahap di antara preskripsi, dengan tidak ada garis
visible di antara keduanya.
Kacamata baca adalah pilihan lain. Tidak seperti bifocal atau PALs
yang sebagian besar orang menggunakannya setiap hari, kacamata baca
hanya digunakan selama pekerjaan dekat. Pada pasien presbiopia ini
diperlukan kacamata baca atau adisi untuk membaca dekat yang
berkekuatan tertentu, biasanya (Ilyas, 2004):
1. + 1.0 D untuk usia 40 tahun
2. + 1.5 D untuk usia 45 tahun
3. + 2.0 D untuk usia 50 tahun
4. + 2.5 D untuk usia 55 tahun
5. + 3.0 D untuk usia 60 tahun

Pemeriksaan adisi untuk membaca perlu disesuaikan dengan


kebutuhan jarak kerja pasien pada waktu membaca. Pemeriksaan sangat
subjektif sehingga angka di atas tidak merupakan angka yang tetap.

2. Lensa Kontak
Ada lensa kontak untuk presbiopia, yaitu multifocal contact lenses.
3. Pembedahan
Pilihan baru pembedahan untuk pengobatan presbiopia sedang diteliti
dan telah tersedia di banyak negara. Salah satu contohnya adalah Refratec
Inc.’ Conductive Keratoplasty, atau Near Vision CK Treatment, yang
menggunakan gelombang radio untuk membuat lebih melengkung kornea
untuk memperbaiki penglihatan dekat.

24
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
1. Identitas Klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, pendidikan,
pekerjaan, alamat, alasan masuk rumah sakit, dll.
2. Pengkajian Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Klien mengalami gangguan penglihatan jauh, dekat, ataupun sulit melihat garis
lurus.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Klien mengalami gangguan penglihatan jauh/dekat, silindris dan membutuhkan
alat bantu untuk melihat
c. Riwayat kesehatan yang lalu

25
Klien punya riwayat trauma pada mata atau riwayat penyakit refraksi dan
akomodasi mata, memiliki faktor resiko penyakit mata (memiliki diabetes, tekanan
darah tinggi, riwayat penyakit mata dalam keluarga seperti glaukoma, atau
mengkonsumsi obat-obatan yang mempengaruhi mata).
d. Riwayat kesehatan keluarga
Ada anggota keluarga yang juga pernah terkena penyakit refraksi mata dan
akomodasi lainnya.
3. Pengkajian pola fungsional Gordon postoperasi
1. Pola persepsi kesehatan manajemen kesehatan
Pada pola ini, biasanya persepsi klien terhadap penyakit yang diderita pada
awalnya adalah klien membiarkannya saja, sampai terjadi gangguan penglihatan
barulah klien berobat ke RS.
2. Pola nutrisi metabolic
Pengkajian terhadap nutrisi dan riwayat diet klien terutama defisiensi vitamin
A. perubahan pola makan terjadi karena kurangnya nafsu makan, yang biasanya klien
suka sayur dan sekarang tidak lagi, karena itu klien kekurangan nutrisi dan dipasang
infus. Klien tidak mempunyai alergi. Pola nutrisi dan metabolisme juga akan
mempengaruhi penyakit refraksi dan akomodasi mata.

3. Pola eliminasi
Pengkajian terhadap pola eliminasi klien, apakah terdapat gelaja inteinensia
kandung kemih, gangguan fungsi usus, dan apakah memakai alat bantu. Biasanya
klien dengan penyakit reflaksi dan akomodasi mata tidak memiliki gangguan
eliminasi.
4. Pola aktivas latihan
Adanya perubahan pada aktifitas atau hobi klien sehubungan dengan
gangguan penglihatan, sehingga di bantu oleh keluarga. Kalau psca operasi, klien di
larang untuk melihat benda-benta yang tajam pencahayaannya, misalnya sinar
mataharai, sinar lampu, dll.
5. Pola istirahat tidur
Biasanya penderita penyakit reflaksi dan akomodasi mata tidak memiliki
gangguan tidur. Tapi pada klien pasca operasi mengalami gangguan dalam tidur
seperti nyeri dan sulit menjaga posisi saat tidur.
6. Pola kognitif persepsi

26
Pengkajian terhadap adanya gangguan penglihatan, seperti kabur atau tidak
jelas, sinar terang menyababkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan
perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat atau merasa diruang gelap,
penglihatan seperti berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi di sekitar sinar,
perubahan kacamata, fotofobia (glukoma akut).
7. Pola persepsi diri dan konsep diri
Pengkajian mengenai persepsi klien terhadap penyakitnya, apakah klien
mengalami gangguan terhadap pencitraan diri klien, seperti hilangnya kepercayaan
diri dan lain-lain.
8. Pola peran hubugan
Pengkajian mengenai bagaimana fungsi dan peran klien dalam keluarganya
sebelum dan sesudah terkena penyakit reflaksi dn akomodasi mata, apakah ada
masalah dilingkunagn keluarga ataupun social, dan apakah klien mendapatkan
perlakuan khusus didalam keluarga terkait dengan penyakit yang dideritanya saat ini.
9. Pola reproduksi dan seksualitas
Kaji pola reproduksi dan seksual klien. Sepeti masalah dengan pasangan,
perubahan kepuasan pada klien
10. Pola koping dan toleransi stress
Pengkajian terhadap penanganan dan kopping klien terhadap permasalahan
yang dihadapinya, apakah klien merasa stress, cemas, dll.
11. Pola nilai dan kepercayaan
Pengkajian pola nilai dan kepercayaan klien, apakah Klien menjalankan
ibadah sesuai dengan keyakinan yang dianutnya semnenjak sakit, atau karena sakit
klien mengalami gangguan menjalankan ritual agama yang diyakininya.

27
NO DIAGNOSA NOC NIC

1 Gangguan Sensori Orientasi kognitif Intervensi :


Indikator : a. Catat reaksi pasien terhadap
Perseptual :
a. mengenal diri sendiri
rusaknya penglihatan (misal,
Penglihatan b. melihat dan mengenal orang
depresi, menarik diri, dan
penting lainnya
c. melihat dan mengenal menolak kenyataan)
tempat sekarang b. Jangan memindahkan benda-
kompensasi tingkah laku benda di kamar pasien tanpa
penglihatan memberitahu pasien
indikator : c. Beritahu pasien di mana
a. pantau gejala dari semakin tempat meletakkan radio
buruknya penglihatan atau buku percakapan
b. posisikan diri untuk
d. Sediakan kaca pembesar
menguntungkan penglihatan
c. gunakan pencahayaan yang atau kacamata sewajarnya

cukup untuk melakukan untuk membaca

aktivitas yang dilakukan e. Memprakarsai untuk


menyerahkan ke ahli terapi
sebagaimana mestinya
2 Resiko Cedera Risk Kontrol Environment Management
Aktivitas :
Kriteria Hasil :
 Sediakan lingkungan yang
 Klien terbebas dari cedera
 Klien mampu menjelaskan aman untuk pasien
 Identifikasi kebutuhan
cara/metode untuk
keamanan pasien, sesuai
mencegah injury/cedera
 Klien mampu menjelaskan dengan kondisi fisik dan
factor resiko dari fungsi kognitif pasien dan
lingkungan/perilaku riwayat penyakit terdahulu

28
personal pasien
 Mampu memodifikasi gaya  Menghindarkan lingkungan
hidup untukmencegah yang berbahaya (misalnya
injury memindahkan perabotan)
 Menggunakan fasilitas  Memasang side rail tempat
kesehatan yang ada tidur
 Mampu mengenali  Menyediakan tempat tidur
perubahan status kesehatan yang nyaman dan bersih
 Memberikan penerangan
yang cukup
 Menganjurkan keluarga
untuk menemani pasien.
 Memindahkan barang-
barang yang dapat
membahayakan
3 Intoleransi  Konservatif energi : Terapi Aktivitas
Aktivitas tingkat pengelolaan Aktivitas :
energi aktif untuk  petunjuk rentang dan
memulai dan bantuan dalam aktivitas
memelihara aktivitas fisik, kognitif, sosial, dan
 Daya tahan : tingkat spiritual yang spesifik
dimana energi untuk menentukan
memampukan pasien rentang frekuensi dan
untuk beraktivitas durasi aktivitas individu
 Toleransi aktivitas :
atau kelompok.
tingkat dimana aktiivitas
 Kaji tanda dan gejala
dapat dilakukan pasien
yang menunjukkan
sesuai energi yang
ketidaktoleransi terhadap
dimiliki
aktivitas dan
memerlukan pelaporan
terhadap perawat dan
dokter
 Berikan suport dan

29
libatkan keluarga dalam
program terapi

Pengelolaan energi/Energi
management
Aktivitas :
 pengaturan penggunaan
energi untuk merawat
dan mencegah kelelahan
dan mengoptimalkan
fungsi
 Rencanakan aktivitas
untuk periode dimana
pasien mempunyai
energi paliing banyak
 Batasi rangsangan
lingkungan ( kebisisngan
dan cahaya ) untuk
meningkatkan relaksasi

 Bantu pasien untuk


memonitor diri dengan
mengembangkan dan
menggunakan
dokumetasi tertulis
tentang intake kalori dan
energi sesuai kebutuhan.
4 Nyeri Akut Pain Level, Pain Control, 1. Manajemen Nyeri
a. Kaji secara komphrehensif
Comfort Level
Pain : Disruptive Effects tentang nyeri, meliputi:
Kriteria Hasil :
lokasi, karakteristik dan
a. Menggunakan skala nyeri
onset, durasi, frekuensi,
untuk mengidentifikasi
kualitas, intensitas/beratnya

30
tingkat nyeri nyeri, dan faktor-faktor
b. Melaporkan bahwa nyeri
presipitasi
berkurang dengan b. observasi isyarat-isyarat non
menggunakan manajemen verbal dari
nyeri. ketidaknyamanan,
c. Melaporkan kebutuhan tidur
khususnya dalam
dan istirahat tercukupi
ketidakmampuan untuk
d. Mampu menggunakan
komunikasi secara efektif
metode non farmakologi
c. Gunakan komunikiasi
untuk mengurangi nyeri
terapeutik agar pasien dapat
Kriteria Hasil :
mengekspresikan nyeri
a. Mampu mengontrol nyeri d. Tentukan dampak dari
(tahu penyebab nyeri, ekspresi nyeri terhadap
mampu menggunakan tehnik kualitas hidup: pola tidur,
nonfarmakologi untuk nafsu makan, aktifitas
mengurangi nyeri, mencari kognisi, mood, relationship,
bantuan) pekerjaan, tanggungjawab
b. Melaporkan bahwa nyeri
peran
berkurang dengan e. Berikan informasi tentang
menggunakan manajemen nyeri, seperti: penyebab,
nyeri berapa lama terjadi, dan
c. Mampu mengenali nyeri
tindakan pencegahan
(skala, intensitas, frekuensi f. Ajarkan penggunaan teknik
dan tanda nyeri) non-farmakologi (seperti:
d. Menyatakan rasa nyaman
relaksasi, guided imagery,
setelah nyeri berkurang
terapi musik, distraksi,
e. Tanda vital dalam rentang
aplikasi panas-dingin,
normal
massase)
g. Tingkatkan tidur/istirahat
yang cukup
2. Pemberian Analgetik
a. Tentukan lokasi nyeri,
karakteristik, kualitas,dan
keparahan sebelum

31
pengobatan
b. Berikan obat dengan prinsip
6 benar
c. Cek riwayat alergi obat
d. Pilih analgetik secara tepat
/kombinasi lebih dari satu
analgetik jika telah
diresepkan
e. Monitor tanda-tanda vital,
sebelum dan sesuadah
pemberian analgetik
f. Monitor reaksi obat dan
efeksamping obat
g. Dokumentasikan respon
setelah pemberian analgetik
dan efek sampingnya
3. Manajemen Lingkungan:
Kenyamanan
a. Tentukan hal hal yang
menyebabkan
ketidaknyamanan pasien
sepeti pakaian lembab
b. Sediakan tempat tidur yang
nyaman dan bersih
c. Hindari penyinaran langsung
dengan mata
d. Sediakan lingkungan yang
tenang
5. Anxietas Kontrol anxietas Penurunan anxietas
Indikator : Intervensi :
a. Monitor intensitas a. Tenangkan klien
b. Berikan informasi tentang
kecemasan
b. Mencari informasi untuk diagnosa prognosis dan
menurunkan kecemasan tindakan
c. Merencanakan strategi c. Kaji tingkat kecemasan dan
koping reaksi fisik pada tingkat
d. Menggunakan teknik

32
relaksasi untuk menurunkan kecemasan.
d. Gunakan pendekatan dan
kecemasan
sentuhan
Koping
Peningkatan koping
Indikator :
Intervensi :
a. Menunjukkan fleksibilitas
a. Hargai pemahaman pasien
peran
b. Mengekspresikan perasaan tentang proses penyakit
b. Hargai dan diskusikan
dan kebebasan emosional
c. Menunjukkan strategi alternative respon terhadap
penurunan stress situasi

BAB IV

TELAAH JURNAL PENELITIAN

4.1 Pembahasan / telaah dari jurnal penelitian

“ TELAAH JURNAL “

“Decreasing Uncorrected Refractive


Error in the Classroom Through a Multifactorial Pilot Intervention”

1. PENDAHULUAN

33
a. Metode Pencarian Literatur

 Database yang digunakan dalam pencarian jurnal ini


adalah proquest

 Kata kunci dalam pencarian literatur adalah “New


development about nursing care of myopia”.

 Proses seleksi literature dilakukan dengan


menggunakan kriteria inklusi, yaitu :

1. Jurnal dalam lingkup keperawatan.

2. Jurnal 5 tahun terakhir

b. Abstrak

 Konteks

Penelitian ini menilai efektivitas intervensi percontohan untuk


mempromosikan penggunaan kacamata dalam satu sekolah di California.
Intervensi itu menggunakan pretest satu kelompok, desain posttest. Antara
Januari dan Juni 2011, selama intervensi, semua siswa kelas satu dan kelas dua
menerima evaluasi mata, dan anak-anak dengan gangguan refraksi menerima
dua pasang kaca mata menarik. Orang tua menerima pendidikan perawatan mata
ini. Guru memantau penggunaan kacamata di kelas. Sebelum intervensi pada
bulan Januari 2011, 1 dari 15 anak-anak dengan kelainan refraksi (6,7%)
memakai kacamata di dalam kelas dan sisanya 14 (93,3%) tidak memiliki
kacamata sama sekali; 6 bulan setelah berakhirnya intervensi pada Desember
2011, 11 dari 15 anak-anak (73,3%) memakai kacamata di kelas dan sisanya 4
(26,7%) tidak (p ¼ 0,002). Intervensi multifactor meningkatkan penggunaan
kacamata di kelas bahkan berbulan-bulan setelah akhir liburan musim panas.

 Tujuan
Untuk meningkatkan kesadaran dan membantu siswa mencegah terjadinya
kerusakan pada mata yang lebih parah.

34
 Metode
Penelitian ini menggunakan metode fokus grup dan intervensi multifaktor.

 Hasil
Hasil yang diperoleh adalah meningkatnya jumlah siswa yang memakai
kacamata di dalam kelas.

 Keyword : health education, elementary, early childhood/early intervention,


parent/family, eye care

2. DESKRIPSI JURNAL

A. Deskripsi Umum
 JuduL : “Decreasing Uncorrected Refractive Error in the Classroom
Through a Multifactorial Pilot Intervention”
 Penulis : Gergana Kodjebacheva, PhD, Sally Maliski, PhD, RN, Fei Yu,
PhD, Faye Oelrich, CO, and Anne L. Coleman, MD, PhD
 Penelaah : Kelompok 2
 Tanggal telaah : 20 Februari 2015

B. Deskripsi Konten
 Tujuan PenelitiaN
Untuk mengetahui faktor penyebab banyaknya siswa yang mengalami gangguan
refraksi mata dan apa cara yang harus dilakukan.
 Hasil Penelitian
Hasil yang diperoleh adalah penggunaan kacamata sebagai alat bantu dalam
mencegah gangguan penglihatan sampai kebutaan.
 Kesimpulan Penelitian
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa salah satu faktor penyebab
banyaknya siswa mengalami gangguan pada mata adalah rendahnya kesadaran akan
penggunaan kacamata yang tepat.

3. TELAAH JURNAL

a. Fokus Utama Penelitian

Kelainan bias / refraksi yang tidak dikoreksi, didefinisikan sebagai kurangnya


kacamata untuk pengobatan hyperopia / rabun dekat, myopia / rabun jauh, dan Silindris,
adalah penyebab utama dari gangguan penglihatan pada anak-anak (Kodjebacheva,
Brown, Estrada, Yu, & Coleman, 2011; Pizzarello, Tilp, Tiezzi, Vaughn, & McCarthy,

35
1998; Vitale, Cotch, & Sperduto, 2006). Penurunan penglihatan dapat menurunkan
prestasi akademik anak-anak (Prevent Blindness America, 2012). Departemen pendidikan
di kebanyakan negara, oleh karena itu, mengharuskan anak-anak menerima pemutaran
visi oleh perawat sekolah di sekolah. Perawat sekolah merujuk anak-anak yang gagal
pemutaran visi untuk perawatan mata profesional (Prevent Blindness America, 2012).
Diamanatkan pemutaran visi berlangsung di kelas yang berbeda; screening di TK
berusaha untuk mempersiapkan anak-anak untuk kegiatan akademik di sekolah dasar.
Selama lebih dari satu dekade, anak-anak yang gagal pemutaran visi oleh perawat
sekolah tidak menerima pemeriksaan mata oleh perawatan mata profesional (Kimel,
2006; Preslan & Novak, 1998; Yawn, Lydick, Epstein, & Jacobsen, 1996). Selain itu,
antara 50% dan 95% dari anak-anak tunanetra baik tidak memiliki kacamata atau tidak
menggunakan kacamata mereka jika mereka mendapatkan kacamata (Kodjebacheva et
al., 2011; Kodjebacheva, Yu, Oelrich, & Coleman, 2008, 2010; Pizzarello et al., 1998;
Preslan & Novak, 1998; Vitale et al., 2006).
Berdasarkan kutipan jurnal diatas dari bagian pendahuluan, diketahui bahwa
kurangnya kacamata dalam pengobatan menjadi faktor utama terjadinya gangguan
penglihatan pada anak-anak. Jika terjadi gangguan penglihatan, maka dapat
menyebabkan penurunan prestasi akademik pada anak-anak.
b. Gaya penulisan
Sistematika penulisan sudah baik dan jelas mulai dari judul penelitian, nama penulis,
abstrak.
Tata bahasa yang digunakan dalam penulisan jurnal ini cukup mudah dipahami sehingga
memudahkan pembaca untuk mengerti bagaimana penelitian tersebut dilaksanakan dan
apa hasil yang diperoleh.

c. Penulis
Penulis dalam penelitian ini adalah Gergana Kodjebacheva, PhD, Sally Maliski, PhD,
RN, Fei Yu, PhD, Faye Oelrich, CO, and Anne L. Coleman, MD, PhD

d. Judul
“Decreasing Uncorrected Refractive Error in the Classroom Through a Multifactorial Pilot
Intervention”
Judul penelitian cukup jelas, akurat dan tidak ambigu serta menggambarkan apa yang
akan di teliti. Namun kekurangannya tidak memenuhi prinsip 5 W 1 H yaitu peneliti tidak
mencantumkan dimana dan kapan penelitian tersebut diadakan.

36
e. Abstrak
Kelebihan
 Mampu mengambarkan secara jelas mengenai masalah penelitian,
tujuan penelitian, metodologi dan hasil yang didapatkan.
 Jurnal ini memenuhi IMRAD (introduction, Metode, Result,
Analize, Discussion).
 Jurnal ini juga mencantumkan kata kunci.

f. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini sudah tepat. Penelitian ini
menggunakan metode fokus grup dan intervensi multifactor

g. Hasil Penelitian
Hasil dan pembahasan pada penelitian ini sudah bagus.

h. Kesimpulan
Penelitian dilakukan di Title I School karena sekolah ini merupakan sekolah yang
mayoritas siswanya dari kelas ekonomi bawah dan kesadaran akan penggunaan kacamata
sebagai pengobatan dalam mengatasi kelainan refraksi masih sangat rendah. Penelitian ini
dilakukan untuk mengembangkan strategi dalam mempromosikan penggunaan kacamata
bagi siswa, yaitu dengan melakukan kelompok fokus dengan orang tua, guru, dan perawat
sekolah. Tujuan kedua adalah untuk melaksanakan intervensi yang menggabungkan
strategi bahwa orang tua, guru,
dan perawat dianjurkan selama kelompok fokus. Diujicobakan intervensi dalam satu
sekolah di mana mayoritas anak-anak memiliki status sosial ekonomi yang rendah.
Untuk meningkatkan penggunaan kacamata, diperlukan intervensi di sekolah, di mana
anak-anak menggunakan kacamata untuk kegiatan akademik. Intervensi untuk
meningkatkan penggunaan kacamata di masa kecil dapat mempromosikan perawatan mata
mulai dari anak-anak menuju remaja dan orang dewasa. Intervensi dapat meningkatkan
kesehatan masyarakat dengan mempengaruhi rekan-rekan, orang tua, dan sekolah. Studi
masa depan harus mengetahui pengaruh intervensi pada prestasi akademik anak-anak dan
sekolah serta sikap keluarga terhadap perawatan mata tersebut.

Kelebihan
 Isi dari kesimpulan penelitian menjawab tujuan penelitian

Kekurangan

 Isi dari kesimpulan memang menjawab pertanyaan penelitian tetapi dalam


penyampaiannya tidak dikemas secara ringkas.
 Tidak terdapat saran dalam jurnal ini.

4. PENUTUP

37
Sebagai penutup, meskipun ditemukan berbagai kekurangan dan kelebihan dalam
penelitian tersebut, namun penelitian tersebut telah memberikan kontribusi positif pada
kemajuan dan pengembangan di bidang ilmu pengetahuan. Penelitian ini juga dapat
dijadikan sebagai langkah awal dalam penelitian selanjutnya.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kelainan refraksi mata atau refraksi anomali adalah keadaan dimana bayangan tegas
tidak dibentuk pada retina tetapi di bagian depan atau belakang bintik kuning dan tidak
terletak pada satu titik yang tajam.

Emetropia merupakan kondisi mata normal memfokuskan pada benda jauh tanpa
akomodasi, dan dengan akomodasi mata dapat memfokuskan pada benda dekat. Sedangkan
ametropia adalah suatu keadaan mata dengan kelainan refraksi dimana mata yang dalam
keadaan tanpa akomodasi atau istirahat memberikan bayangan sinar sejajar pada fokus yang
tidak terletak pada retina. Ametropia dapat ditemukan dalam bentuk-bentuk kelainan seperti
miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan astigmatisme (silinder). Bentuk

38
ametropia pada kelainan refraksi meliputi ametropia aksial, ametropia refraktif, dan
ametropia kurvatur (Ilyas, 2004).

Etiologi dan manifestasi klinis dari gangguan refraksi mata tergantung dari jenis
refrakasi mata itu sendiri. Komplikasi yang dapat terjadi pada kelainan refraksi mata
diantaranya : ablasio retina, vitreal liquefaction dan detachment, miopik makulopati,
glaukoma, katarak, strabismus (mata juling), ambliopia, esotropia, dan glaucoma sekunder.

5.2 Saran
Saran penulis adalah agar mahasiswa keperawatan memahami dengan baik
bagaimana kelainan refraksi pada mata dan penatalaksanaannya, sehingga dapat
dengan mudah memberikan asuhan keperawatan yang tepat kepada pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Bastanta.T.(2011). Kelainan refraksi. Diakses pada tanggal 20 Februari 2015 dari


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21388/4/Chapter%20II.pdf

Brunner&Suddarth. (2001). Buku ajar keperawatan medical-bedah (edisi 8, vol.3). Jakarta: EGC

Hartanto.W. (2010). Kelainan refraksi. Diakses pada tanggal 13 Februari 2015 dari
http://eprints.undip.ac.id/22190/1/05_asli_-_kelainan_refraksi_-_willy_hartanto_-_25-30.pdf

Hudak&Gallo. (1997). Keperawatan kritis pendekatan holistic (edisi VI, volume 1). Jakarta:
EGC

Ilyas, Sidarta. (2004). Ilmu perawatan mata. Jakarta: Sagung Seto

Renardi. (2011). Kelainan refraksi mata. Diakses pada tanggal 13 Februari 2015 dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26191/3/Chapter%20II.pdf

39
Syaifuddin. (2011). Fisiologi tubuh manusia untuk mahasiswa keperawatan (Edisi 2). Jakarta:
Salemba Medika

40