Anda di halaman 1dari 18

Tinjauan Pustaka

TATALAKSANA ANESTESIA PADA SEKSIO SESARIA


PASIEN DENGAN HIV

Oleh :
Nyoman Damar Widya Dharma
1202006087

Pembimbing:
Dr. Ida Bagus Gde Sujana, Sp.An Msi

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


DI BAGIAN ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
RSUP SANGLAH DENPASAR
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan YME, karena atas berkat dan rahmat-
Nya tinjauan pustaka yang berjudul “ Tatalaksana Anestesia Pada Seksio Sesaria
Pasien Dengan HIV” ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Tinjauan Pustaka
ini merupakan salah satu tugas dalam rangka mengikuti Kepaniteraan Klinik Madya
di Bagian/SMF Anestesiologi dan Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana/RS Sanglah Denpasar.
Dalam penyusunan Tinjauan Pustaka ini penulis banyak memperoleh
bimbingan dan petunjuk-petunjuk dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:
1. Dr. Ida Bagus Gde Sujana, Sp.An Msi selaku dokter pembimbing atas
bimbingan dan arahan beliau
2. dr. Made Artawan, selaku dokter residen yang telah membantu dan
membimbing penulis dalam menyelesaikan tinjauan pustaka ini.
3. Residen serta rekan-rekan dokter muda yang bertugas di bagian
Anestesiologi dan Reanimasi FK UNUD/RS Sanglah yang juga telah ikut
membantu penulis dalam menyelesaikan tinjauan pustaka ini
4. Semua pihak yang tidak sempat disebutkan satu persatu, yang dengan telah
bersedia memberikan bantuan dan masukannya.
Seperti gading yang tak retak, penulis menyadari bahwa tinjauan pustaka ini
masih jauh dari sempurna, untuk itu semua saran dan kritik sangat penulis harapkan.
Semoga tinjauan pustaka ini dapat berguna bagi para pembacanya.

Denpasar, 30 Agustus 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul............................................................................................... i
Kata Pengantar .............................................................................................. ii
Daftar Isi........................................................................................................ iii
Daftar Gambar ............................................................................................... iv
BAB I Pendahuluan..................................................................................... 1
BAB II Tinjauan Pustaka.............................................................................. 3
2.1 Definisi dan Batasan ........................................................................ 3
2.2 Perubahan Fisiologis pada Ibu Hamil .............................................. 4
2.2.1 Sistem Respirasi ..................................................................... 4
2.2.2 Sistem Sirkulasi ...................................................................... 5
2.2.3 Sistem Ekskresi dan Elektrolit ................................................ 6
2.2.4 Sistem Imunitas ...................................................................... 7
2.2.5 Fungsi Pencernaan .................................................................. 7
2.3 Konsep Kunci .................................................................................. 9
2.3.1 Prekondisi ............................................................................... 9
2.3.2 Pilihan Teknik Anestesi dan Komplikasi ............................... 9
2.3.3 Pasien Dengan HIV ................................................................ 11
BAB III Kesimpulan ..................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Posisi Kepala Saat Melahirkan ................................................ 11

iv
BAB I

PENDAHULUAN

Semua pasien obstetri mempunyai kemungkinan membutuhkan anestesi, baik


dalam bentuk elektif maupun emergensi. Seorang ahli anestesi harus memiliki data
riwayat pasien tersebut. Anamnesis yang dibutuhkan meliputi usia, riwayat obstetri,
usia kehamilan, dan seluruh faktor resiko. Pasien yang telah dipastikan membutuhkan
penanganan anestesi untuk seksio sesarea harus dievaluasi sesegera mungkin. Ini
termasuk kondisi kesehatan ibu, riwayat anestesi sebelumnya, tekanan darah,
penilaian jalan nafas, dan pemeriksaan punggung untuk anestesi regional.

Pada semua wanita yang telah masuk dalam proses persalinan (kala I)
dipasang jalur intravena menggunakan Ringer Laktat untuk mencegah dehidrasi.
Menggunakan kateter nomor 18 atau lebih besar untuk memudahkan tranfusi cepat
bila diperlukan. Darah tepi diperiksa untuk antisipasi pasien dengan resiko
perdarahan atau pasien yang memiliki hematokrit rendah. Tanpa riwayat makan
terakhir, semua pasien harus dipikirkan memiliki lambung penuh dan resiko aspirasi
pulmoner. Karena durasi persalinan sering memanjang, biasanya diberikan cairan
perlahan pada persalinan tanpa komplikasi. Sebaliknya, pasien dengan resiko tinggi
yang akan dikirim ke meja operasi harus dipuasakan. Paling sedikit pasien puasa 6
jam untuk seksio sesarea elektif. Pemberian profilaksis antasida 15-30 mL dalam 0.3
M sodium sitrat oral setiap 3 jam dapat membantu menjaga pH lambung di atas 2.5
dan mengurangi keparahan pneumonitis akibat aspirasi. Obat H2-blocker reseptor
seperti ranitidine atau metoklorpramide juga dapat dipertimbangkan pada pasien
resiko tinggi dan pada pasien yang akan menjalani anestesi umum. Penghambat H2
menurunkan volume lambung dan pH tetapi tidak mempunyai efek gangguan
lambung yang sudah ada. Metoklorpramide mempercepat pengosongan lambung,
menurunkan volume lambung, dan meningkatkan tonus spingter esofagus bawah.
Semua pasien idealnya dipasang monitor tokodinamometer dan frekuensi jantung
janin. Posisi supine dihindari kecuali pada posisi uterus tidak anatomis, yaitu uterus

1
sebelah kiri miring yang lebih dari 15 derajat terletak di pinggul kanan bawah.
Kontraksi uterus dapat segera terjadi melaui kateter pada pasien dengan ruptur
membran, terutama pasien yang mendapatkan pemberian oksitosin atau mereka yang
dalam percobaan persalinan VBAC 5,8.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Batasan

Anestesia Obstetrik adalah aktivitas anastesi yang dilakukan pada saat


kelahiran secara pervaginam, seksio sesaria, ekstraksi plasenta dan ligasi tuba
postpartum. Persiapan yang harus dilakukan dalam melakukan Anestesi Obstetrik
adalah melakukan anamnesis kepada pasien, yang difokuskan kepada riwayat
kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Pasien yang memiliki temuan
preeklamsia, hemolisis, peningkatan enzim hati , kadar platelet yang rendah, obesitas
dan diabetes mellitus secara literatur berhubungan dengan komplikasi obstetrik.
Pemeriksaan jumlah platelet intrapartum juga penting untuk dilakukan, karena jumlah
platelet dan fibrinogen berhubungan dengan terjadi perdarahan postpartum.
Perhitungan jumlah platelet juga dapat digunakan untuk penunjang diagnosis dalam
menentukan preeklamsia, hemolisis, peningkatan enzim hati dan kondisi lain seperti
koagulopati. Selain itu hal yang perlu diperhatikan adalah denyut jantung janin.
Denyut jantung janin perlu dimonitor sebelum dan setelah pemberian obat neuraksial
analgesik pada saat proses melahirkan partus 2,3.

Hal-hal yang perlu difokuskan dalam menggali riwayat dari pasien adalah
mengenai riwayat melahirkan, riwayat anastesi sebelumnya, pengukuran tekanan
darah, pemeriksaan jalur nafas, jantung dan paru.

2.1.1 Pencegahan Aspirasi

Dalam upaya pencegahan terjadinya aspirasi pada pasien obstetrik, hal yang
menjadi fokus utama adalah puasa cairan, puasa makanan padat serta pemberian
antasida H2-reseptor agonis dan metoklopramid.

Pengaturan puasa cairan, terutama air mineral pada pasien obstetrik yang akan
dilakukan seksio sesarian tidak memiliki perbedaan dengan puasa cairan pada pasien

3
lain. Pemberian cairan melalui mulut dengan jumlah sedang dapat diberikan pada
pasien melahirkan. Pada pasien yang menjalani operasi elektif dapat tetap mendapat
cairan hingga 2 jam sebelum dilakukannya induksi. Adanya hubungan antara periode
puasa cairan dan resiko terjadinya reflux atau aspirasi pulmonal saat seksio sesaria
sampai saat ini belum terbukti.

Puasa makanan padat pada pasien yang akan menjalani operasi seksio sesaria
diharuskan dimulai sejak 6 jam sampai 8 jam sebelum dilakukan operasi, hal ini
tergantung pada tipe makanan yang dikonsumsi berdasarkan kadar lemaknya. Pasien
melahirkan dengan faktor resiko terjadinya aspirasi seperti obesitas , diabetes dan
jalan nafas yang tidak lapang memiliki pembatasan tersendiri terhadap jumlah
makanan padat yang boleh diasup sebelum menjalani operasi 6,7 .

2.2 Perubahan Fisiologis pada Ibu Hamil


Perubahan yang terjadi pada tubuh pada saat hamil, bersalin dan nifas adalah
perubahan yang terjadi dengan cepat dan cukup signifikan. Sistem-sistem tubuh
berubah dengan otomatis menyesuaikan dengan keadaan hamil, bersalin dan nifas.
Oleh karena perubahan-perubahan fisiologis ini, diperlukan persiapan yang matang
untuk melakukan suatu tindakan anestesi terhadap pasien obstetrik.

2.2.1 Sistem Respirasi


Konsumsi oksigen dan ventilasi semenit meningkat secara progresif selam
masa kehamilan. Volume tidal dan dalam angka yang lebih kecil, laju pernafasan
meningkat. Pada aterm konsumsi oksigen akan meningkat sekitar 20-50% dan
ventilasi semenit meningkat hingga 50%. PaCO2 menurun sekitar 28-32mm Hg.
Alkalosis respiratorik dihindari melalui mekanisme kompensasi yaitu penurunan
konsentrasi plasma bikarbonat. Hiperventilasi juga dapat meningkatkan PaO2 secara
perlahan. Peningkatan dari 2,3-difosfogliserat mengurangi efek hiperventilasi dalam
afinitas hemoglobin dengan oksigen. Tekanan parsial oksigen dimana hemoglobin
mencapai setengah saturasi ketika berikatan dengan oksigen meningkat dari 27 ke 30

4
mm Hg. hubungan antara masa akhir kehamilan dengan peningkatan curah jantung
memicu perfusi jaringan 3.
Posisi dari diafragma terdorong ke atas akibat dari pembesaran uterus dan
umumnya diikuti pembesaran dari diameter anteroposterior dan transversal dari
cavum thorax. Mulai bulan ke lima, expiratory reserve volume, residuak volume,dan
functional residual capacity menurun, mendekati akhir masa kehamilan menurun
sebanyak 20 % dibandingkan pada wanita yang tidak hamil. Secara umum, ditemukan
peningkatan dari inspiratory reserve volume sehingga kapasitas paru total tidak
mengalami perubahan. Pada sebagian ibu hamil, penurunan functional residual
capacity tidak menyebabkan masalah, tetapi bagi mereka yang mengalami perubahan
pada closing volume lebih awal sebagai akibat dari merokok, obesitas, atau skoliosis
dapat mengalami hambatan jalan nafas awal dengan kehamilan lanjut yang
menyebabkan hipoksemia. Manuver tredelenburg dan posisi supin juga dapat
mengurangi hubungan abnormal antara closing volume dan functional residual
capacity. Volume residual dan functional residual capacity kembali normal setelah
proses persalinan 2,3 .
2.2.2 Sistem Sirkulasi
Volume darah semakin meningkat dan jumlah serum darah lebih besar dari
pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi pengenceran darah (hemodelusi). Sel darah
merah semakin meningkat jumlahnya untuk dapat mengimbangi pertumbuhan janin
dalalm rahim, tetapi pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan
volume darah sehingga terjadi hemodelusi yang disertai anemia fisiologis.
Perubahan yang terjadi pada sistem kardiovaskular merupakan kompensasi
dari pemenuhan kebutuhan yang meningkat untuk pemenuhan nutrisi dengan adanya
janin. Selain itu pengaruh hormonal terhadap pembuluh darah ikut berperan dalam
beberapa perubahan yang terjadi.
Pada akhir trimester I mulai terjadi palpitasi karena pembesaran ukuran
pembuluh darah serta bertambahnya cardiac output. Hidung tersumbat atau berdarah
karena pengaruh hormon estrogen dan progresteron yang menyebabkan terjadinya
pembesaran kapiler, relaksasi otot vaskuler serta peningkatan sirkulasi darah.

5
Pada trimester II dan III terjadi edema dependen kongesti sirkulasi pada
tungkai bawah karena peningkatan permeabilitas kapiler dan tekanan dari pembesaran
uterus pada vena pelvik atau pada vena cava inferior. Gusi berdarah karena pengaruh
hormon estrogen yang mempengaruhi kecepatan pergantian pelapis epitel gusi dan
berkurangnya ketebalan epitel tersebut. Hemorrhoid akibat tekanan uterus terhadap
vena hemorrhoidal. Hipotensi supinasi karena terbloknya aliran darah di vena cava
inferior oleh uterus yang membesar apabila ibu pada posisi tidur terlentang. Timbul
spider navy dan palmar erythema kareana meningkatnya aliran darah ke daerah kulit.
Varises pada kaki dan vulva karena kongesti vena bagian bawah meningkat sejalan
tekanan karena pembesaran uterus dan kerapuhan jaringan elastis karena pengaruh
hormon estrogen 2.

2.2.3 Sistem Eksresi dan Elektrolit


Fungsi gastrointestinal dalam masa kehamilan dan selama persalinan menjadi
topik yang kontroversial. Namun, dapat dipastikan bahwa traktus gastrointestinal
mengalami perubahan anatomis dan fisiologis yang meningkatkan resiko terjadinya
aspirasi yang berhubungan dengan anestesi general.

Vasodilatasi renal mengakibatkan peningkatan aliran darah renal pada awal


masa kehamilan tetapi autoregulasi tetap terjaga. Ginjal umumnya membesar.
Peningkatan dari renin dan aldosterone mengakibatkan terjadinya retensi sodium.
Aliran plasma renal dan laju filtrasi glomerulus meningkat sebanyak 50% selama
trimester pertama dan laju filtrasi glomerulus menurun menuju ke batas normal pada
trimester ketiga. Serum kreatinin dan Blood Urea Nitrogen (BUN) mungkin menurun
menjadi 0.5-0.6 mg/dL dan 8-9mg/dL. Penurunan threshold dari tubulus renal untuk
glukosa dan asam amino umum dan sering mengakibatkan glukosuria ringan(1-
10g/dL) atau proteinuria (<300 mg/dL). Osmolalitas plasma menurun sekitar 8-10
mOsm/kg 3.

Pada ibu hamil metabolisme basal naik sebesar 15-20% dari semula, terutama
pada trimester ketiga. Keseimbangan asam basa mengalami penurunan dari 155 mEq

6
per liter menjadi 145 mEq per liter disebabkan hemodelusi darah dan kebutuhan
mineral yang diperlukan janin. Kebutuhan protein ibu hamil makin tinggi untuk
pertumbuhan dan perkembangan janin, perkembangan organ kehamilan, dan
persiapan laktasi. Pada makanan, diperlukan protein tinggi sekitar 0,5 g/kg berat
badan atau sebutir telur ayam sehari.

Kebutuhan zat mineral untuk ibu hamil adalah, kalsium, 1,5 gram setiap hari,
30-40 gram diperlukan untuk pembentukan tulang janin. Fosfor rata – rata 2 gram
dalam sehari dan zat besi, 30-50 mg per hari. Ibu hamil memerlukan air cukup
banyak dan dapat terjadi retensi air. Berat badan ibu hamil bertambah antara 6,5-16,5
kg selama hamil atau terjadi kenaikan berat badan 0,5 kg/ minggu 2,3.

2.2.4 Sistem Imunitas

Sistem pertahanan tubuh ibu selama kehamilan akan tetap utuh, kadar
immunoglobulin dalam kehamilan tidak berubah . Imunoglobulin G atau IgG
merupakan komponen utama dari imunoglobulin janin di dalam uterus dan neonatal
dini. IgG merupakan satu-satunya imunoglobulin yang dapat menembus plasenta
sehingga immunitas pasif akan diperoleh oleh bayi. Kekebalan ini dapat melindungi
bayi dari infeksi selanjutnya.

2.2.5 Sistem Pencernaan


Perubahan yang terjadi pada sistem pencernaan dipengaruhi oleh peningkatan
hormon progresteron dan tekanan uterus yang membesar terhadap organ saluran
pencernaan. Pada trimester pertama muncul rasa mual baik yang sedang maupun
berat dengan atau tanpa terjadinya muntah setiap saat siang ataupun malam. Apabila
terjadi pada pagi hari sering disebut Morning Sickness. Hipersalivasi sering terjadi
sebagai kompensasi dari mual dan muntah yang terjadi. Pada beberapa wanita
ditemukan adanya ngidam makanan yang mungkin berkaitan dengan persepsi
individu wanita tersebut mengenai apa yang bisa mengurangi rasa mual dan muntah.
Kondisi lainnya adalah “Pica” atau mengidam yang sering dikaitkan dengan anemia
akibat defisiensi zat besi ataupun adanya suatu tradisi.

7
Pada trimester II dan III biasanya terjadi konstipasi karena pengaruh hormon
progesteron yang meningkat. Selain itu perut kembung juga terjadi karena adanya
tekanan uterus yang membesar dalam rongga perut yang mendesak organ-organ
dalam perut khususnya saluran pencernaan, usus besar, kearah atas dan lateral. Wasir
(Hemorrhoid) cukup sering pada kehamilan sebagian besar akibat konstipasi dan
naiknya tekanan vena-vena di bawah uterus termasuk vena hemorrhoid. Panas perut
(heart burn) terjadi karena terjadinya aliran balik asam gastrik ke dalam esophagus
bagian bawah 2,3,4.

2.3 Konsep Kunci

Beberapa konsep penting harus dipegang saat melakukan suatu tindakan


anestesi pada pasien melahirkan secara umum dan seksio sesaria secara khusus.
Konsep-konsep ini akan membantu dalam meningkatkan persentase keberhasil
dilakukan anastesi pada pasien seksio sesaria dan mencegah terjadinya komplikasi
yang bisa saja ditemui pada pasien-pasien obstetrik.

2.3.1 Prekondisi
Semua pasien obstetrik harus selalu dianggap pasien dengan lambung penuh
tanpa memperhatikan waktu terakhir intake oral. Hal ini sekaligus menandakan
pasien obstetrik memiliki resiko aspirasi pulmoner, oleh karena itu apabila dilakukan
anastesi umum, pasien harus diposisikan heads up yaitu meninggikan kepala dengan
bantal supaya tidak terjadi aspirasi pulmoner.
Komplikasi tersering dan penyebab utama terjadinya kematian pada kasus
obstetrik adalah perdarah berat dan preeklamsia berat. Oleh karena itu sebelum
dilakukan operasi, riwayat penyakit dan pemeriksaan penunjang harus dilakukan
untuk menilai adanya potensi atau resiko untuk terjadi komplikasi pada saat seksio
sesaria berlangsung 1,5.

8
2.3.2 Pilihan Teknik Anestesi dan Komplikasi
Pada seksio sesaria, teknik anestesi yang lebih dipilh pada umumnya adalah
anestesi regional, dikarenakan angka kematian ibu lebih tinggi pada pilihan anestesi
umum. Tingkat kematian pada teknik anestesi umum diakibatkan oleh masalah jalan
nafas, seperti gangguan intubasi, ventilasi, pneumonitis aspirasi, sedangkan kematian
yang berhubungan dengan anestesi regional berhubungan dengan blok saraf yang
terlalu tinggi atau keracunan anestesi lokal yang sangat jarang terjadi. Selain itu
anestesi regional memiliki beberapa keuntungan dibandingkan anestesi umum yaitu,
kurangnya paparan obat-obatan ke janin, menurunkan resiko aspirasi pulmoner ibu,
mudahnya pilihan menggunakan opioid spinal untuk mengurangi nyeri postoperatif
dan ibu sadar ketika bayinya dilahirkan, dan ayah dapat mendampingi saat operasi 5.
Pilihan anestesi epidural atau spinal hanya berdasarkan ahli anastesi. Anestesi
epidural dipilih karena menyebabkan penurunan tekanan darah yang lebih perlahan,
selain itu anestesi epidural lanjutan memberikan kontrol nervus sensorik yang lebih
baik. Keuntungan anestesi spinal adalah lebih cepat memberikan efek, mudah
diprediksi, dan menghasilkan blok lengkap. Pada anestesi spinal juga tidak memiliki
potensi keracunan obat yang dikarenan dosis obat lebih rendah.
Pada seksio sesaria yang menggunakan anestesi regional, dibutuhkan blok
setinggi T4. Hal ini berhubungan dengan blok simpatik tingkat yang tinggi. Sebelum
dilakukan blok pasien harus mendapatkan bolus ringer laktat 1000-1500 mL. Bolus
kristaloid tidak selalu mencegah hipotensi, dan dosis lebih kecil caira koloid dapat
lebih efektif pada beberapa pasien. Setelah injeksi anestesi pasien diposisikan supine
dengan left uterine displacement, kemudian diberikan oksigen 40-50% dan dilakukan
evaluasi tekanan darah setiap 2 menit sampai stabil. Efedrin 10 mg IV diperlukan
untuk menjaga tekanan sistolik lebih dari 100 μg/menit. Hipotensi akibat anestesi
epidural beronset lambat. Posisi sedikit trendelenburg dapat membantu mencapai
blok sensorik T4 dan membantu mencegah hipotensi berat 5,7.
Pada teknik anestesi spinal, pasien diletakkan dalam posisi lateral dekubitus
atau posisi duduk dan diberikan cairan hyperbarik tetracaine (7–10 mg), lidocaine
(50–60 mg), atau bupivacaine (10–15 mg). Epinefrin 0,1 mg dapat meningkatkan

9
kualitas blok dan memperpanjang durasi tetracaine and bupivacaine. Penambahan
fentanyl 12.5–25 μg atau sufentanil 5–10 μg ke dalam cairan anestesi lokal
meningkatkan intensitas blok dan memperpanjang durasi tanpa mempengaruhi janin.
Penambahan morfin bebas 0,2-0,3 mg, dapat memperpanjang efek analgesi
postoperatif sampai 24 jam namun membutuhkan evaluasi khusus untuk resiko
depresi pernafasan postoperative 5.
Anestesi epidural dengan kateter epidural secara umum paling sering
digunakan untuk seksio sesarea. Kateter dapat mencapai T4, memasukkan obat bila
diperlukan, dan dapat menjadi jalur untuk pemberian opioid postoperative.
Penambahab sodium bicarbonate (cairan 7.5% atau 8.4%) ke cairan anestesi lokal
(lidocaine 1 mEq/10 mL dan bupivacaine 0.05 mEq/10 mL atau ropivacaine) untuk
meningkatkan konsentrasi nonionizes bebas dapat menghasilkan onset lebih cepat dan
penyebaran lebih cepat pada anestesi epidural 4.
Aspirasi pulmoner dari isi lambung dan kegagalan intubasi endotrakeal
selama pelaksanaan anestesi umum adalah penyebab utama angka kematian dan
angka kesakitan ibu. Semua pasien harus diberikan profilaksis untuk mencegah
aspirasi paru dengan 30 mL sodium sitrat 0,3 M 30-45 menit sebelum induksi. Pasien
dengan resiko tambahan (obesitas morbid, gejala refluks gastroesofagal,
kemungkinan gangguan jalam nafas, dan operasi bersifat emergensi ) dapat diberikan
ranitidine intravena 50 mg dan/atau metoklopramide 10 mg, 1-2 jam sebelum
indukasi. Antisipasi kesulitan intubasi endotrakeal mengurangi angka kejadian
kegagalan intubasi. Antisipasi dilakukan dengan pemeriksaan awal terhadap leher,
mandibula, gigi geligi, dan orofaring. Kondisi yang menyulitkan intubasi meliputi
klasifikasi Malampati, leher pendek, mandibula receding, gigi insisi maksila
maju/prominent. Angka kejadian kegagalan intubasi pada pasien hamil lebih tinggi
dibandingkan pasien lainnya kerena adanya edema jalan nafas, gusi bengkak, atau
pembesaran payudara yang dapat menggagu pegangan laringoskop pada pasien
dengan leher pendek 4,5,6.

10
Gambar 2.1 Posisi Kepala Saat Melahirkan A: Posisi supin sering menyebabkan ekstensi kepala
dan membuat sulit intubasi endotrakeal B: Elevasi bahu diikuti fleksi leher dengan ekstensi optimal
kepala.

2.3.3 Pasien dengan HIV


Tatalaksana anestesi pada seksio sesaria pasien yang memiliki infeksi HIV
secara pemilihan teknik dan obat-obatan anestesi tidak memiliki perbedaan dengan
pasien pada umumnya. Namun hal yang harus diperhatikan adalah protap keamanan,
pada penanganan pasien dengan riwayat HIV. Alat perlindungan diri yang harus
digunakan antara lain :

1) Sarung tangan : melindungi tangan dari bahan yang dapat menularkan penyakit
dan melindungi pasien dari mikroorganisme yang berada ditangan petugas kesehatan..
2) Masker : harus cukup besar untuk menutupi hidung, mulut, bagian bawah dagu,
dan rambut pada wajah. Masker digunakan untuk menahan cipratan serta untuk
mencegah percikan darah atau cairan tubuh lainnya memasuki hidung atau mulut.
Bila masker tidak terbuat dari bahan yang tahan dari cairan, maka masker tersebut
tidak efektif untuk mencegah kedua hal tersebut.
3) Alat pelindung mata : melindungi dari percikan darah atau cairan tubuh lainnya
dengan cara melindungi mata. Pelindung mata mencakup kacamata (goggles) plastik
bening, kacamata pengaman, pelindung wajah dan visor.
4) Topi : digunakan untuk menutup rambut dan kulit kepala sehingga serpihan kulit
dan rambut tidak masuk kedalam luka selama pembedahan. Topi harus cukup besar
untuk menutup semua rambut. Tujuan utamanya adalah untuk melindungi
pemakainya dari darah atau cairan tubuh yang terpercik atau menyemprot.

11
5) Gaun pelindung : digunakan untuk menutupi atau mengganti pakai biasa atau
seragam lain, pada saat merawat pasien yang diketahui atau dicurigai menderita
penyakit menular melalui droplet. Pangkal sarung tangan harus menutupi ujung
lengan gaun sepenuhnya. Setelah gaun dilepas pastikan bahwa pakaian dan kulit tidak
kontak dengan bagian potensial tercemar. Pada pasien dengan riwayat HIV gaun
setelah digunakan akan segera dibakar untuk mencegah penularan. Kontaminasi pada
pakaian yang dipakai saat bekerja dapat diturunkan 20-100 kali dengan memakai
gaun pelindung.
7) Apron : yang terbuat dari karet atau plastik, merupakan penghalang tahan air
untuk sepanjang bagian depan tubuh. Hal ini sangat penting bila gaun pelindung tidak
tahan air, apron akan mencegah cairan tubuh pasien mengenai baju dan kulit petugas
kesehatan.
8) Pelindung kaki : digunakan untuk melindung kaki dari cedera akibat benda tajam
atau benda berat yang mungkin jatuh secara tidak segaja ke atas kaki. Oleh karena itu,
sepatu boot karet atau sepatu kulit tertutup memberikan lebih banyak
perlindungan, tetapi harus dijaga tetap bersih dan bebas kontaminasi darah atau
tumpahan cairan tubuh lain 3,8.

12
BAB III
KESIMPULAN

Anestesia obstetrik merupakan anastesi yang dilakukan pada pasien


melahirkan baik pervaginam atau seksio sesarea. Anestesi dan reanimasi pada pasien
obstetrik dibuat untuk memenuhi kebutuhan kelompok pasien obstetrik yang telah
mengalami perubahan fisiologis yang mengharuskan adanya pemilihan teknik
anastesi dan penatalaksanaan komplikasi terkait. Pada ibu hamil harus dipikirkan
bahwa lambung dalam keadaan penuh, sehingga teknik anastesi yang paling sering
dilakukan adalah regional anastesi untuk mencegah adanya regurgitasi yang dapat
menyebabkan aspirasi pulmonal. Pada seksio sesarea juga harus diperhitungkan
komplikasi tersering yaitu terjadinya pendarahan yang dapat dikarenakan
preeclampsia atau penyebab lain, oleh karena itu tekanan darah pada pasien seksio
sesarea harus selalu diperhatikan. Pada pasien yang memiliki kecurigaan atau telah
didagnosis dengan infeksi HIV memerlukan protap alat perlindungan diri dalam
menjalankan tindakan seksio sesarea. Selepas dari perbedaan protap alat perlindungan
diri, pada seksio sesarea pasien dengan HIV tidak memiliki perbadaan lain dalam
pemilihan teknik anastesi, penggunaan alat-alat anastesi ataupun pada dosis
pemberian obat-obatan anastesi.

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Palmer, Craig M. "Continuous Spinal Anesthesia And Analgesia In Obstetriks".


Anesthesia & Analgesia 111.6 (2010): 1476-1479. Web.

2. Manuaba, I.B.G. et al. "The Indonesian Safe Motherhood Movement".


International Journal of Gynecology & Obstetriks 70 (2000): B19. Web.

3. Djusar, Sulin. Buku Ilmu Kebidanan, Yogyakarta, 2009; h. 185

4. Rathmell, James P, Joseph M Neal, and Christopher M Viscomi. Regional


Anesthesia. Philadelphia, Pa.: Mosby, 2004. Print.

5. Morgan, G. Edward, Maged S Mikhail, and Michael J Murray. Clinical


Anesthesiology. New York: Lange Medical Books/McGraw Hill Medical Pub.
Division, 2006. Print.

6. Santos, Alan C. and Hilda Pedersen. "Current Controversies In Obstetrik


Anesthesia". Anesthesia & Analgesia 78.4 (2006): 753???760. Web.

7. Soens, M.A. et al. "Obstetrik Anesthesia For The Obese And Morbidly Obese
Patient: An Ounce Of Prevention Is Worth More Than A Pound Of Treatment".
Obstetrik Anesthesia Digest 29.1 (2009): 21-22. Web.

8. Summers, Angela E. "Safety Management Is A Virtue". Process Safety Progress


28.3 (2009): 210-213. Web.

14