Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN DASAR

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA


( HAMBATAN MOBILITAS FISIK )

HERRYTUSIANSYAH.,S. Kep,
144 2016 2002

CI LAHAN CI INSTITUSI

(________________) ( ________________)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSSAR
2017
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY “ J “ DENGAN DIAGNOSA
GANGGUAN MOBILITAS FISIK DIRUANGAN PERAWATAN V
RSUD SYEKH YUSUF GOWA

HERRYTUSIANSYAH.,S. Kep,
144 2016 2002

CI LAHAN CI INSTITUSI

(________________) ( ________________)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSSAR
2017
KONSEP MEDIS

1. DEFINISI
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara
bebas, mudah dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
hidup sehat. Mobilisasi di perlukan untuk meningkatkan
kesehatan,memperlambat proses penyakit degenerative dan untuk
aktualisasi.(Mubarak, 2012).
Immobilisasi adalah suatu kondisi yang relative,dimana individu
tidak saja kehilangan kemampuan geraknya secara total, tetapi juga
mengalami penurunan aktivitas dari kebiasaan normalnya (Mubarak,
2012).
Mobilitas fisik adalah keadaan ketika seseorang mengalami atau
bahkan berisiko mengalami keterbatasan fisik dan bukan meruapakan
immobilitas (Doenges, M.E, 2012).
2. Tujuan Mobilisasi
a. Memenuhi kebutuhan dasar manusia
b. Mencegah terjadinya trauma
c. Mempertahankan tingkat kesehatan
d. Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari – hari
e. Mencegah hilangnya kemampuan fungsi tubuh
3. Etiologi
a. Penyebab utama
Penyebab utama imobilisasi adalah adanya rasa nyeri,
lemah, kekakuan otot, ketidakseimbangan, dan masalah
psikologis. Osteoartritis merupakan penyebab utama kekakuan
pada usia lanjut. Gangguan fungsi kognitif berat seperti pada
demensia dan gangguan fungsi mental seperti pada depresi juga
menyebabkan imobilisasi. Kekhawatiran keluarga yang berlebihan
dapat menyebabkan orangusia lanjut terus menerus berbaring di
tempat tidur baik di rumah maupun dirumah sakit.
b. Penyebab secara umum:
1) Kelainan postur
2) Gangguan perkembangan otot
3) Kerusakan system saraf pusat
4) Trauma langsung pada system mukuloskeletal dan
neuromuscular
5) Kekakuan otot
c. Kondisi-kondisi yang menyebabkan immobilisasi antara lain:
1) Fall
2) Fracture
3) Stroke
4) Postoperative bed rest
5) Dementia and Depression
6) Instability
7) Hipnotic medicine
8) Impairment of vision
9) Polipharmacy
10) Fear of fall
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi (Tarwoto dan
wartonah, 2011).
1) Gaya hidup
Gaya hidup sesorang sangat tergantung dari tingkat
pendidikannya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan
di ikuti oleh perilaku yang dapat meningkatkan kesehatannya.
Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan tetang
mobilitas seseorang akan senantiasa melakukan mobilisasi
dengan cara yang sehat misalnya; seorang ABRI akan berjalan
dengan gaya berbeda dengan seorang pramugari atau seorang
pemambuk.
2) Proses penyakit dan injuri
Adanya penyakit tertentu yang di derita seseorang akan
mempengaruhi mobilitasnya misalnya; seorang yang patah
tulang akan kesulitan untukobilisasi secara bebas. Demikian
pula orang yang baru menjalani operasi. Karena adanya nyeri
mereka cenderung untuk bergerak lebih lamban. Ada kalanya
klien harus istirahat di tempat tidurkarena mederita penyakit
tertentu misallya; CVA yang berakibat kelumpuhan, typoid dan
penyakit kardiovaskuler.
3) Kebudayaan
Kebudayaan dapat mempengarumi poa dan sikap dalam
melakukan aktifitas misalnya; seorang anak desa yang biasa
jalan kaki setiap hari akan berebda mobilitasnya dengan anak
kota yang biasa pakai mobil dalam segala keperluannya.
Wanita kraton akan berbeda mobilitasnya dibandingkan dengan
seorang wanita madura dan sebagainya.
4) Tingkat energi
Setiap orang mobilisasi jelas memerlukan tenaga atau energi,
orang yang lagi sakit akan berbeda mobilitasnya di bandingkan
dengan orang sehat apalagi dengan seorang pelari.
5) Usia dan status perkembangan
Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasny
dibandingkan dengan seorang remaja. Anak yang selalu sakit
dalam masa pertumbuhannya akan berbeda pula tingkat
kelincahannya dibandingkan dengan anak yang sering sakit.
4. Faktor resiko
Berbagai faktor fisik, psikologis, dan lingkungan dapat menyebabkan
imobilisasi pada usia lanjut, seperti pada tabel berikut:
Gangguan muskuloskeletal Artritis
Osteoporosis
Fraktur (terutama panggul dan femur)
Problem kaki (bunion, kalus)
Lain-lain (misalnya penyakit paget)
Gangguan neurologis Stroke
parkinson Penyakit
Lain-lain (disfungsi serebelar,
neuropati)
Penyakit kardiovaskular Gagal jantung kongensif (berat)
Penyakit jantung koroner (nyeri dada
yang sering)
Penyakit vaskular perifer (kardkasio
yang sering)
Penyakit paru Penyakit paru obstruksi kronis (berat)
Faktoe sensorik Gangguan penglihatan
Takut (instabilitas dan takut akan jatuh)
Penyebab lingkungan Imobilisasi yang dipaksakan (di rumah
sakit atau panti werdha)
Alat bantu mobilitas yang tidak adekuat
Nyeri akut atau kronik
Lain-lain Dekondisi (setelah tirah baring lama
metastasis luas pada keganasan)
Malnutrisi
Penyakit sistemik berat (misalnya
metastasis luas pada keganasan)
Depresi
Efek samping obat (misalnya kekuatan
yang disebabkan obat antipsikotik)

5. Patofisiologi
Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular,
meliputi sistem otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan
saraf. Otot Skeletal mengatur gerakan tulang karena adanya
kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagai
sistem pengungkit. Ada dua tipe kontraksi otot: isotonik dan isometrik.
Pada kontraksi isotonik, peningkatan tekanan otot menyebabkan otot
memendek. Kontraksi isometrik menyebabkan peningkatan tekanan
otot atau kerja otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif
dari otot, misalnya, menganjurkan klien untuk latihan kuadrisep.
Gerakan volunter adalah kombinasi dari kontraksi isotonik dan
isometrik. Meskipun kontraksi isometrik tidak menyebabkan otot
memendek, namun pemakaian energi meningkat. Perawat harus
mengenal adanya peningkatan energi (peningkatan kecepatan
pernafasan, fluktuasi irama jantung, tekanan darah) karena latihan
isometrik. Hal ini menjadi kontra indikasi pada klien yang sakit (infark
miokard atau penyakit obstruksi paru kronik). Postur dan Gerakan Otot
merefleksikan kepribadian dan suasana hati seseorang dan
tergantung pada ukuran skeletal dan perkembangan otot skeletal.
Koordinasi dan pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus
otot dan aktifitas dari otot yang berlawanan, sinergis, dan otot yang
melawan gravitasi. Tonus otot adalah suatu keadaan tegangan otot
yang seimbang.
Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi
dan relaksasi yang bergantian melalui kerja otot. Tonus otot
mempertahankan posisi fungsional tubuh dan mendukung kembalinya
aliran darah ke jantung.
Immobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi
berkurang. Skeletal adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari
empat tipe tulang: panjang, pendek, pipih, dan ireguler (tidak
beraturan). Sistem skeletal berfungsi dalam pergerakan, melindungi
organ vital, membantu mengatur keseimbangan kalsium, berperan
dalam pembentukan sel darah merah.
6. Tanda dan Gejala
a. Dampak fisiologis dari imobilitas, antara lain:
Efek :
a. Penurunan konsumsi oksigen maksimum
H/ Intoleransi ortostatik
b. Penurunan fungsi ventrikel kiri
H/ Peningkatan denyut jantung, sinkop
c. Penurunan volume sekuncup
H/ Penurunan kapasitas kebugaran
d. Perlambatan fungsi usus
H/ Perlambatan fungsi usus
e. Pengurangan miksi
H/ Konstipasi
f. Pengurangan miksi
H/ Penurunan evakuasi kandung kemih
g. Gangguan tidur
H/ Bermimpi pada siang hari, halusinasi
b. Efek Imobilisasi pada Berbagai Sistem Organ
ORGAN / SISTEM PERUBAHAN YANG TERJADI
AKIBAT IMOBILISASI

Muskuloskeletal Osteoporosis, penurunan massa


tulang, hilangnya kekuatan otot,
penurunan area potong lintang otot,
kontraktor, degenerasi rawan sendi,
ankilosis, peningkatan tekanan
intraartikular, berkurangnya volume
sendi
Kardiopulmonal dan Peningkatan denyut nadi istirahat,
pembuluh darah penurunan perfusi miokard, intoleran
terhadap ortostatik, penurunan
ambilan oksigen maksimal (VO2
max), deconditioning jantung,
penurunan volume plasma,
perubahan uji fungsi paru, atelektasis
paru, pneumonia, peningkatan stasis
vena, peningkatan agresi trombosit,
dan hiperkoagulasi
Integumen Peningkatan risiko ulkus dekubitus
dan laserasi kulit
Metabolik dan endokrin Keseimbangan nitrogen negatif,
hiperkalsiuria, natriuresis dan deplesi
natrium, resistensi insulin (intoleransi
glukosa), hiperlipidemia, serta
penurunan absorpsi dan metabolisme
vitamin/mineral

7. Komplikasi
a. Perubahan Metabolik
Secara umum imobilitas dapat mengganggu metabolisme secara
normal, mengingat imobilitas dapat menyebabkan turunnya
kecepatan metabolisme dalam tubuh. Immobilisasi menggangu
fungsi metabolic normal antara lain laju metabolic: metabolisme
karbohidarat, lemak, dan protein, keseimbangan cairan dan
elektrolit, ketidakseimbangan kalsium, dan gangguan pencernaan.
Keberdaaan infeksius padaklien immobilisasi meningkatkan BMR
karena adanya demam dan penyembuhanluka yang
membutuhkan peningkatan kebutuhan oksgen selular.
Gangguan metabolic yang mungkin terjadi :
1) Defisensi kalori dan proterin merupakan karakteristik klien
yangmengalamianoreksia sekunder akibat mobilisasi.
Immobilisasi menyebabkan asam aminotidak digunakan dan
akan diekskresikan. Pemcahan asasm amino akan terusterjadi
dan menghasilkan nitrogen sehingga akumulasinya kan
menyebbakankeseimbangan nitrogen negative , kehilangan
berat badan , penurnan massaotot, dan kelemahan akibat
katabolisme jarinagn. Kehilangan masa otottertutama pada
hati,jantung,paru-paru, saluran pencernaan, dan imunitas.
2) Ekskresi kalssium dalam urin ditngkatkan melalui resorpsi
tulang. Hal initerjadi karena immobilisasi menyebabkan kerja
ginjal yang menyebabkanhiperkalsemia.
3) Gangguan nutrisi (hipoalbuminemia) Imobilisasi akan
mempengaruhi system metabolik dan endokrin yang akibatnya
akan terjadi perubahan terhadap metabolisme zat gizi. Salah
satu yang terjadi adalah perubahan metabolisme protein.
Kadar plasma kortisol lebih tinggi pada usia lanjut yang
imobilisasi sehingga menyebabkan metabolisme menjadi
katabolisme. Keadaan tidak beraktifitas dan imobilisasi
selama 7 hari akan meningkatkan ekskresinitrogen urin
sehingga terjadi hipoproteinemia.
4) Gannguan gastrointestinal terjadi akibta penurunan motilitas
usus. Konstipasi sebagai gejala umum , diare karena feces
yang cair melewati bagian tejpit dan menyebabkan masalah
serius berupa obstruksi usus mekanik bila tidak ditangani
karena adanya distensi dan peningkatan intraluminal yang
akan semakin parah bila terjadi dehidrasi, terhentinya
basorbsi, gannguan cairan dan elektrolit.
5) Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit
b. Terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sebagai
dampak dari imobilitas akan mengakibatkan persediaan protein
menurun dan konsenstrasi protein serum berkurang sehingga
dapat mengganggu kebutuhan cairan tubuh. Berkurangnya
perpindahan cairan dari intravaskular ke interstitial dapat
menyebabkan edema, sehingga terjadi ketidakseimbangan
cairan dan elektrolit.
c. Gangguan Pengubahan Zat Gizi
Terjadinya gangguan zat gizi yang disebabkan oleh
menurunnya pemasukan protein dan kalori dapat
mengakibatkan pengubahan zat-zat makanan pada tingkat sel
menurun, dan tidak bisa melaksanakan aktivitas metabolisme,
d. Gangguan Fungsi Gastrointestinal
Imobilitas dapat menyebabkan gangguan fungsi
gastrointestinal, karena imobilitas dapat menurunkan hasil
makanan yang dicerna dan dapat menyebabkan gangguan
proses eliminasi.
e. Perubahan Sistem Pernapasan
Imobilitas menyebabkan terjadinya perubahan sistem
pernapasan. Akibat imobilitas, kadar hemoglobin menurun,
ekspansi paru menurun, dan terjadinya lemah otot,
f. Perubahan Kardiovaskular
Perubahan sistem kardiovaskular akibat imobilitas, yaitu berupa
hipotensi ortostatik, meningkatnya kerja jantung, dan terjadinya
pembentukan trombus.
g. Perubahan Sistem Muskuloskeletal
1) Gangguan Muskular: menurunnya massa otot sebagai
dampak imobilitas, dapat menyebabkan turunnya kekuatan
otot secara langsung.
2) Gangguan Skeletal: adanya imobilitas juga dapat
menyebabkan gangguan skeletal, misalnya akan mudah
terjadi kontraktur sendi dan osteoporosis.
h. Perubahan Sistem Integumen
Perubahan sistem integumen yang terjadi berupa penurunan
elastisitas kulit karena menurunnya sirkulasi darah akibat
imobilitas.
i. Perubahan Eliminasi
Perubahan dalam eliminasi misalnya dalam penurunan jumlah
urine.
j. Perubahan Perilaku
k. Perubahan perilaku sebagai akibat imobilitas, antara lain
timbulnya rasa bermusuhan, bingung, cemas, dan sebagainya
I. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Fisik
a. Mengkaji skelet tubuh
b. Mengkaji tulang belakang
c. Mengkaji system persendian
d. Mengkaji system otot
e. Mengkaji cara berjalan
f. Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
g. Mengkaji fungsional klien
2. Pemeriksaan Diagnistik
a. Sinar –X
b. CT scan
c. MRI (Magnetik Resonance Imaging)
d. Pemeriksaan Laboratorium:
Hb ↓pada trauma, Ca↓ pada imobilisasi lama, Alkali Fospat ↑,
kreatinin dan SGOT ↑ pada kerusakan otot.
A. Pencegahan
1. Pencegahan primer
Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsug sepanjang
kehidupan dan episodic. Sebagai suatu proses yang berlangsung
sepanjang kehidupan, moblilitas dan aktivitas tergantung pada
fungsi system musculoskeletal, kardiovaskuler, pulmonal. Sebagai
suatu proses episodic pencegahan primer diarahkan pada
pencegahan masalah-masalah yang dapat tmbul akibat imoblitas
atau ketidak aktifan.
2. Pencegahan Sekunder
Spiral menurun yang terjadi akibat aksaserbasi akut dari imobilitas
dapat dkurangi atau dicegah dengan intervensi keperawatan.
Keberhasilan intervensi berasal dri suatu pengertian tentang
berbagai factor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap
imobilitas dan penuaan. Pencegahan sekunder memfokuskan pada
pemeliharaan fungsi dan pencegahan komplikasi. Diagnosis
keperawaqtan dihubungkan dengan poencegahan sekunder adalah
gangguan mobilitas fisik
B. Penatalaksanaan Medis
1. Terapi
2. Penatalaksana Umum
a. Kerjasama tim medis interdisiplin dengan partisipasi pasien,
keluarga, dan pramuwerdha.
b. Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai bahaya tirah baring
lama, pentingnya latihan bertahap dan ambulasi dini, serta
mencegah ketergantungan pasien dengan melakukan aktivitas
kehidupan sehari-hari sendiri, semampu pasien.
c. Dilakukan pengkajian geriatri paripurna, perumusan target
fungsional, dan pembuatan rencana terapi yang mencakup pula
perkiraan waktu yang diperlukan untuk mencapai target terapi.
d. Temu dan kenali tatalaksana infeksi, malnutrisi, anemia,
gangguan cairan dan elektrolit yang mungkin terjadi pada kasus
imobilisasi, serta penyakit/ kondisi penyetara lainnya.
e. Evaluasi seluruh obat-obatan yang dikonsumsi; obat-obatan
yang dapat menyebabkan kelemahan atau kelelahan harus
diturunkan dosisnya atau dihentkan bila memungkinkan.
f. Berikan nutrisi yang adekuat, asupan cairan dan makanan yang
mengandung serat, serta suplementasi vitamin dan mineral.
g. Program latihan dan remobilisasi dimulai ketika kestabilan
kondisi medis terjadi meliputi latihan mobilitas di tempat tidur,
latihan gerak sendi (pasif, aktif, dan aktif dengan bantuan),
latihan penguat otot-otot (isotonik, isometrik, isokinetik), latihan
koordinasi/ keseimbangan, dan ambulasi terbatas.
h. Bila diperlukan, sediakan dan ajarkan cara penggunaan alat-alat
bantu berdiri dan ambulasi.
i. Manajemen miksi dan defekasi, termasuk penggunaan komod
atau toilet.
3. Tatalaksana Khusus
a. Tatalaksana faktor risiko imobilisasi
b. Tatalaksana komplikasi akibat imobilisasi.
c. Pada keadaan-keadaan khusus, konsultasikan kondisi medik
kepada dokter spesialis yang kompeten.
d. Lakukan remobilisasi segera dan bertahap pada pasien–pasien
yang mengalami sakit atau dirawat di rumah sakit dan panti
werdha untuk mobilitas yang adekuat bagi usia lanjut yang
mengalami disabilitas permanen.
4. Penatalaksanaan lain yaitu:
a. Pengaturan Posisi Tubuh sesuai Kebutuhan Pasien
b. Latihan ROM Pasif dan Aktif.
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian Keperawatan
1. Aspek biologis
a. Usia.
Faktor usia berpengaruh terhadap kemampuan melakukan
aktivitas,terkait dengan keluhan musculoskeletal.Hal yang perlu
dikaji antaranya adalah postur tubuh yang sesuai dengan tahap
perkembangan individu.
b. Riwayat keperawatan.
Hal yang perlu dikaji antaranya adalah riwayat adanya gangguan
pada system musculoskeletal,ketergantungan terhadap
oranglain dalam melakukan aktivitas,jenis latihan atau olahraga
yang sering dilakukan klien dll.
c. Pemeriksaan fisik meliputi rentang gerak, kekuatan otot, sikap
tubuh, dan dampak imobilisasi terhadap sistem tubuh.
2. Aspek psikologis
3. Aspek sosial kultural
4. Aspek spiritual
5. Kemunduran musculoskeletal
B. Diagnosa Keperawatan (Herman & Kamitsuru, 2014)
1. Gangguan mobilitas fisik
2. Nyeri akut
3. Kerusakan integritas kulit
4. Intoleransi aktivitas
5. Defisit perawatan diri
C. Rencana Keperawatan (Nurarif & Kusuma, 2015)
Diagnosa
No NIC NOC
keperawatan
1 Hambatan Setelah dilakukan Latihan Kekuatan
asuhan Ajarkan dan berikan
mobilitas fisik
keperawatan dorongan pada klien untuk
berhubungan selama 3x24 jam melakukan program latihan
klien mampu secara rutin
dengan Nyeri
mandiri total Latihan untuk ambulasi
Akut Membutuhkan Ajarkan teknik Ambulasi &
alat bantu perpindahan yang aman
Membutuhkan kepada klien dan keluarga.
bantuan orang Sediakan alat bantu untuk
lain klien seperti kruk, kursi
Membutuhkan roda, dan walker
bantuan orang Beri penguatan positif
lain dan alat untuk berlatih mandiri
Tergantung total dalam batasan yang aman.
Dalam hal : Latihan Keseimbangan
Penampilan Ajarkan pada klien &
posisi tubuh yang keluarga untuk dapat
benar mengatur posisi secara
Pergerakan sendi mandiri dan menjaga
dan otot. keseimbangan selama
Melakukan latihan ataupun dalam
perpindahan/ aktivitas sehari hari.
ambulasi : miring Perbaikan Posisi Tubuh
kanan-kiri, yang Benar
Ajarkan pada klien/
keluarga untuk mem
perhatikan postur tubuh yg
benar untuk menghindari
kelelahan, keram, cedera
& ulkus dekubitus.
Anjurkan untuk setiap 2
jam sekali untuk merubah
posis di tempat tidur.
Kolaborasi ke ahli terapi
fisik untuk program latihan.
DAFTAR PUSTAKA

Aziz, A. H. (2013). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan


Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Doengoes,Marilyn, E,2012, Rencana asuhan Keperawatan pedoman untuk


perencanaan dan pedokumentasian perawat pasien,Edisi 3, Jakarta
:EGC

Herman, T. H., & Kamitsuru. (2014). Nanda Diagnosa Kepearawatan Definisi dan
Klasifikasi. Jakarta: EGC.

Mubarak, WI, 2012, Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsep dan Aplikasi dalam
Kebidanan, Jakarta : Salemba Medika

Nurarif, A. H., & Kusuma. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan BErdasarkan


Diagnosa Medis dan Nanda NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.

Tarwoto dan Wartonah, 2011. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses


Keperawatan Jakarta : Salemba Medika