Anda di halaman 1dari 15

STRATEGI PEMBELAJARAN FISIKA: ANALISIS BERDASARKAN

KECERDASAN EMOSIONAL, KECERDASAN SOSIAL, DAN PRESTASI


BELAJAR SISWA KELAS XI DI SMA NEGERI 2 SINGARAJA SEMESTER GENAP
TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Oleh:
Sanjaya, P.H.., Santyasa, I W., Rapi, N.K
santyasa@yahoo.com, ketutrapi@yahoo.com

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan strategi pembelajaran guru fisika; 2) mendeskripsikan
kecerdasan emosional; 3) mendeskripsikan kecerdasan sosial; 4) mendeskripsikan prestasi belajar; dan 5)
mendeskripsikan relevansi strategi pembelajaran guru fisika dalam mengembangkan kecerdasan emosional,
kecerdasan sosial, dan prestasi belajar siswa kelas XI MIPA 1 di SMA Negeri 2 Singaraja. Desain penelitian yang
digunakan adalah kualitatif. Sumber data penelitian adalah satu orang guru fisika dan 9 siswa kelas XI MIPA 1
di SMA Negeri 2 Singaraja yang masing-masing dipilih dengan teknik purposive sampling dan snowball
sampling. Data strategi pembelajaran dikumpulkan dengan instrumen pedoman observasi dan wawancara.
Kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial dikumpulkan dengan instrumen pedoman observasi, pedoman
wawancara dan kuesioner sebagai triangulasi. Prestasi belajar dikumpulkan dengan instrumen tes. Penelitian ini
dilaksanakan pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2016/2017. Tahapan analisis data yang dilakukan adalah
reduksi data, penyajian data dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) aspek strategi pembelajaran
pada tahap penyusunan RPP, pelaksanaan interaksi mengajar, dan penilaian prestasi belajar sudah banyak yang
muncul, sedangkan tahap pelaksanaan tindak lanjut tidak dilaksanakan guru karena nilai siswa sudah tuntas; 2)
aspek kecerdasan emosional yang dominan muncul adalah kesadaran diri dan pengelolaan emosi yang negatif,
sedangkan aspek yang tidak dominan muncul adalah integritas dan adaptabilitas diri siswa yang muncul belum
optimal, dimana empati siswa masih berada pada tahap kognitif, sehingga aspek kecakapan sosialnya masih
berada pada tahap dasar; 3) aspek kecerdasan sosial yang dominan muncul adalah mengorganisir kelompok,
membina hubungan antar pribadi, dan analisis sosial, sedangkan aspek yang tidak dominan muncul adalah
merundingkan pemecahan masalah; 4) aspek prestasi belajar siswa yang muncul yaitu siswa dapat mengingat,
memahami, mengaplikasikan materi pelajaran, namun untuk mengaplikasikan siswa masih terbatas pada masalah
yang sederhana. 5) strategi pembelajaran yang digunakan guru cenderung mengarah ke teacher center, sehingga
potensi yang banyak dikembangkan hanya kecerdasan intelektual siswa, sedangkan untuk kecerdasan emosional
dan sosial masih belum optimal.

Kata kunci: kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, prestasi belajar, dan strategi pembelajaran.

1
PHYSICS LEARNING STRATEGY: ANALYSIS BASED ON EMOTIONAL
INTELLIGENCE, INTELLIGENCE SOCIAL AND ACHIEVEMENT IN CLASS XI
High School 2 SINGARAJA STATE EVEN SEMESTER LESSONS YEAR 2016/2017

By:
I Putu Heri Sanjaya, NIM. 1113021019, Department of Physics Education

ABSTRACT

This study aims to 1) describe the physics teacher learning strategy; 2) describe emotional intelligence; 3) to
describe social intelligence; 4) describe learning achievement; and 5) Describe the relevance of physics teacher
learning strategies in developing emotional intelligence, social intelligence, and learning achievement class XI
student of Mathematics 1 SMA Negeri 2 Singaraja. The research design used is qualitative. Sources of research
data is one physics teacher and 9 students of class XI MIPA 1 in SMA Negeri 2 Singaraja each chosen by
purposive sampling technique and snowball sampling. Data on learning strategies were collected with
observational and interview guidance instruments. Emotional intelligence and social intelligence were collected
with the instruments of observation guidance, interview guides and questionnaires as triangulation. Learning
achievement is collected with test instruments. This research was conducted in Even Semester of Lesson
2016/2017. Stages of data analysis performed is data reduction, data presentation and verification. The results
showed that: 1) aspect of learning strategy at the stage of preparation of the RPP, the implementation of the
interaction of teaching, and assessment of learning achievements have been many who appear, while the
implementation of the follow-up phase is not carried out because the value of student teachers has been completed;
2) aspects of emotional intelligence dominant appears is self-awareness and management of negative emotions,
while the aspects that are not predominantly arise is the integrity and adaptability of the students who appeared
not optimal, where empathy of students still at the cognitive stage, so that aspect of skills social still on Basic
stage; 3) dominant aspects of social intelligence emerged were group organizing, interpersonal relationships, and
social analysis, whereas non-dominant aspects emerged were negotiating problem-solving; 4) aspects of student
achievement that appears that students can remember, understand, apply the subject matter, but to apply the
students is still limited to a simple problem. 5) instructional strategies used by teachers tend to lead to the teacher
center, so the potential that many developed only the intellectual intelligence of students, while for emotional and
social intelligence is still not optimal.

Keywords: emotional intelligence, social intelligence, learning achievement, and learning strategies.

2
PENDAHULUAN Satuan Pendidikan (KTSP) serta yang terakhir
Dewasa ini pembangunan di Indonesia Kurikulum 2013.
diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber Menurut Sanjaya (2009) pengembangan
daya manusia. Sumber daya manusia yang KTSP didasarkan pada dua landasan pokok yakni
berkualitas akan menjadi tumpuan utama agar landasan empiris, diantaranya: (1) KTSP
suatu bangsa dapat berkompetisi dalam era berorientasi pada pencapaian kompetensi,
globalisasi. Salah satu cara untuk meningkatkan mendorong proses pendidikan tidak hanya
kualitas sumber daya manusia adalah melalui terfokus pada pengembangan intelektual saja,
pendidikan. Sekolah sebagai lembaga formal akan tetapi juga pembentukan sikap dan
diharapkan mampu mendidik generasi muda keterampilan secara seimbang yang dapat
supaya menjadi manusia yang berpendidikan dan direfleksikan dalam kehidupan nyata. (2) KTSP
berkualitas serta berakhlak mulia (Ernawati et al., sebagai kurikulum yang cenderung bersifat
2014). Berdasarkan Undang-undang No. 20 desentralistik memiliki prinsip berorientasi pada
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kebutuhan dan potensi daerah. (3) KTSP disusun
bab II pasal 3 menyatakan bahwa “Pendidikan dan dirancang oleh sekolah dan masyarakat,
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan sehingga berbagai keputusan sekolah tentang
dan membentuk watak serta peradaban bangsa pengembangan kurikulum berserta beserta
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan pengimplementasiannya menjadi tanggung
kehidupan bangsa, bertujuan untuk jawab masyarakat. Sesuai dengan prinsip KTSP,
mengembangkan potensi peserta didik agar pembelajaran hendaknya dirancang dengan
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa mengikuti prinsip-prinsip khas yang edukatif,
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, yaitu kegiatan yang berfokus pada kegiatan aktif
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan siswa dalam membangun makna atau
menjadi warga negara yang demokratis serta pemahaman (Muslich, 2007).
bertanggungjawab”. Namun, dalam Penelitian yang dilakukan oleh The Third
pelaksanaannya masih terdapat banyak masalah International Mathematics and Science Study-
yang dihadapi sistem pendidikan di Indonesia. Repeat menunjukkan pada tahun 2011, Indonesia
Salah satunya adalah proses pembelajaran di menempati peringkat 40 untuk sains dari 42
kelas yang kurang efektif. Guru dalam negara yang disurvei. Dalam hal ini, prestasi
melaksanakan pembelajaran di kelas kurang sains siswa Indonesia berada jauh di bawah siswa
memperhatikan proses pembelajaran yang Singapura, Malaysia, dan Thailand sebagai
dialami siswa, guru cenderung hanya negara tetangga terdekat. Berdasarkan laporan
menyampaikan materi pembelajaran tanpa Program for International Student Assessment
memperhatikan kesiapan dan keaktifan siswa tahun 2009 menyatakan bahwa Indonesia berada
dalam menerima materi yang diberikan. Guru pada peringkat 60 dari 65 negara pada mata
juga kurang mendorong siswa untuk pelajaran sains dengan skor rata-rata 383, skor
mengembangkan kemampuan berpikirnya, rata-rata tersebut berada di bawah skor rata-rata
melainkan hanya diarahkan pada kemampuan PISA yaitu 501. Berdasarkan hal tersebut,
anak untuk menghafal informasi tanpa dituntut pemerintah harus lebih memperbaiki sistem
untuk memahami informasi yang diterima. pendidikan di Indonesia sehingga kualitas
Proses pembelajaran yang kurang efektif akan pendidikan bisa meningkat. Hal ini dapat
menimbulkan banyak dampak buruk bagi dilakukan dengan memperbaiki fasilitas, media,
pendidikan di Indonesia, salah satunya adalah serta tenaga kependidikan yang profesional dan
siswa tidak dapat mengembangkan potensi yang benar-benar ahli dalam bidang pendidikan. Guru
dimilikinya. Berbagai upaya inovatif telah yang profesional akan mampu meningkatkan
dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai prestasi dan kualitas pendidikan di Indonesia
tujuan pendidikan antara lain, diadakan melalui strategi pembelajaran yang dirancang
penyempurnaan Kurikulum 1994 menjadi (Adnyana et al., 2014).
Kurikulum 2004, kemudian KBK, dan Strategi pembelajaran mempengaruhi
disempurnakan lagi menjadi Kurikulum Tingkat keaktifan peserta didik dalam proses
pembelajaran. Strategi yang baik akan cenderung

3
membuat siswa tertarik dan aktif dalam kegiatan lazimnya dipahami siswa saja, melainkan juga
pembelajaran. Namun, jika strategi pembelajaran perlu mengembangkan Emotional Intelligence
yang digunakan guru kurang baik, maka dalam (EI) siswa. Namun, yang terjadi di sekolah
kegiatan pembelajaran potensi siswa tidak akan banyak siswa yang tidak mencerminkan
berkembang. Hal ini dikarenakan guru akan kecakapan EI dan ini biasanya akan mengganggu
cenderung menyampaikan materi tanpa proses pembelajaran.
memperhatikan keaktifan dan perkembangan Kecerdasan emosional siswa yang
potensi yang dimiliki siswa. Hal ini akan rendah ditandai dengan banyaknya pelanggaran
membuat siswa malas dan tidak ada motivasi disiplin yang dilakukan di sekolah. Menurut
untuk mengikuti kegiatan pembelajaran serta Goleman (2002), anak yang mengalami
cenderung tidak menyukai mata pelajaran yang kemerosotan emosi akan menunjukkan masalah
diajarkan. Untuk membuat peserta didik seperti menarik diri dari pergaulan, cemas dan
mengalami pendidikan yang bermanfaat, guru depresi, bermasalah dalam perhatian dan
seharusnya merancang strategi pembelajaran berpikir, nakal serta agresif. Berdasarkan hal
yang baik sehingga siswa termotivasi dan senang tersebut, guru harus memperhatikan
mengikuti kegiatan pemebalajaran. Namun, perkembangan kecerdasan emosional siswa
strategi pembelajaran yang baik juga tidak dapat dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa sepenuhnya. mengikuti pembelajaran dengan baik dan
Guru yang memiliki strategi pembelajaran yang memiliki prestasi yang baik.
baik, juga tidak menjamin seluruh siswa yang Kecerdasan emosional sangat
didiknya akan memiliki prestasi yang baik. Hal dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat
ini dikarenakan prestasi akademik siswa menetap, dapat berubah-ubah setiap saat.
dipengaruhi oleh banyak faktor. Peranan lingkungan keluarga terutama orang tua
Rose (2012) menyebutkan bahwa sangat mempengaruhi dalam pembentukan
prestasi siswa dipengaruhi oleh dua faktor yaitu kecerdasan emosional. Berdasarkan hal tersebut
faktor internal dan faktor eksternal. (1) Faktor guru harus merancang strategi pembelajaran
internal berkaitan dengan segala yang yang baik dan memperhatikan keadaan siswa
berhubungan dengan diri siswa itu sendiri berupa dalam belajar, sehingga dapat meningkatkan
motivasi, minat, bakat, kepandaian, kesehatan, kecerdasan sosial, kercerdasan emosional, dan
sikap, perasaan, dan pribadi lain. Faktor eksternal prestasi siswa. Selain kecerdasan intelektual dan
berhubungan dengan pengaruh yang datang dari kecerdasan emosional siswa perlu dikenalkan
luar diri individu berupa sarana dan prasarana, dengan kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial
lingkungan, masyarakat, guru, metode perlu dikembangkan di sekolah agar setiap
pembelajaran, kondisi sosial, ekonomi, dan peserta didik memiliki hati nurani, rasa peduli,
sebagainya. Selain faktor internal di atas, juga empati, dan simpati kepada sesama. Pribadi yang
terdapat faktor internal lain yang mempengaruhi memiliki kecerdasan sosial ditandai adanya
prestasi belajar siswa yaitu Emotional hubungan kuat dengan Tuhan Yang Maha Esa,
Intelligence (EI) dan Intelligece Quotient (IQ). memberikan manfaat kepada lingkungan, dan
Goleman (2002) menyatakan kecerdasan menghasilkan karya untuk membantu orang lain.
intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi Mereka santun dan peduli sesama, jujur dan
kesuksesan, sedangkan 80% adalah sumbangan bersih dalam berperilaku. Kecerdasan sosial
faktor lain, diantaranya kecerdasan emosional membentuk manusia yang setia pada
atau Emotional Intelligence (EI) yakni kebersamaan.
kemampuan memotivasi diri, mangatasi frustasi, Pernyataan-pernyataan di atas juga
mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati, diperkuat oleh Orora et al., (2014) dalam
berempati serta kemampuan bekerja sama. penelitiannya yang berjudul effects of
Berdasarkan hal tersebut, keseimbangan antara cooperative e-learning teaching strategy on
IQ dan EI merupakan kunci keberhasilan students achievement in secondary school
pendidikan di sekolah. Pendidikan di sekolah biology in Nakuru County, Kenya yang
tidak hanya perlu mengembangkan rational menyatakan bahwa strategi pembelajaran
intelligence yaitu model pemahaman yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dan juga

4
diperkuat oleh Lone (2014) dalam penelitiannya dapat ditemukan dengan menggunakan istrumen
yang berjudul test anxiety, emotional intelligence pedoman wawancara dan pengamatan dokumen.
and academic achievement among students at the Teknik pengumpulan data pada
higher secondary level yang menyatakan bahwa penelitian ini dilaksanakan melalui observasi,
kecerdasan emosional siswa mempengaruhi wawancara, dokumentasi, tes prestasi, dan
kinerja akademik siswa dan prestasi siswa. triangulasi. Teknik analisis data dalam penelitian
Berdasarkan masalah tersebut peneliti yang dilakukan, peneliti tidak membuktikan
terinspirasi untuk melakukan penelitian yang suatu hipotesis melainkan mengkaji fenomena
berjudul Strategi Pembelajaran Fisika: mengenai strategi pembelajaran dan pengaruhnya
Analisis Berdasarkan Kecerdasan Emosional, terhadap kecerdasan emosional, kecerdasan
Kecerdasan Sosial, dan Prestasi Belajar Siswa sosial, dan prestasi belajar. Data empiris yang
Kelas XI di SMA Negeri 2 Singaraja Semester dikaji diperoleh melalui hasil wawancara dan
Genap Tahun Pelajaran 2016/2017. pengamatan langsung di lapangan. Uji keabsahan
data dalam penelitian kualitatif, ditekankan pada
METODE PENELITIAN Uji credibility (validitas internal), Uji
Metode penelitian yang digunakan transferability (validitas eksternal), Uji
dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. dependability (reliabilitas), Uji comfirmability
Hal ini karena masalah yang akan diteliti (obyektifitas).
merupakan fenomena sosial mengenai pengaruh
strategi pembelajaran sebagai wahana HASIL DAN PEMBAHASAN
pengembangan kecerdasan emosional, Hasil
kecerdasan sosial, dan prestasi belajar siswa. Strategi Pembelajaran Guru Fisika
Penelitian ini memberikan analisis deskriptif Strategi pembelajaran merupakan suatu
mengenai fakta yang ditemukan di lapangan. rencana tindakan (rangkaian kegiatan) yang
Instrumen kunci penelitian ini adalah peneliti termasuk juga penggunaan metode dan
sendiri, sebab instrumen penelitian adalah pemanfaatan sebagai sumber daya dalam
keseluruhan proses penelitian dimana ia pembelajaran. Adapun dimensi-dimensi strategi
merupakan perencana, pelaksana pengumpulan pembelajaran yaitu: (1) penyusunan rencana
data, analis, penafsir data dan pelapor hasil pembelajaran, (2) pelakasanaan interaksi
penelitian. Walaupun instrumen kunci penelitian mengajar, (3) penilaian prestasi belajar, dan (4)
adalah peneliti sendiri, tetapi penelitian ini tetap pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi
memerlukan instrumen lain untuk memperkuat belajar siswa. Temuan-temuan mengenai
kinerja instrumen kunci. Instrumen lain tersebut, dimensi-dimensi tersebut sebagai berikut.
antara lain: pedoman observasi; pedoman Guru sudah cukup baik dalam melakukan
wawancara; kuesioner penilaian kecerdasan penyusunan perencanaan pembelajaran seperti
sosial, dan emosional; alat perekam elektronik mendeskripsikan tujuan pembelajaran, materi,
berupa handycam, alat bantu pencatatan cara mengorganisir materi, metode, sumber
lapangan berupa buku dan alat tulis; serta alat belajar, dan menentukan alokasi waktu sehingga
pengambil gambar seperti kamera digital. kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan
Variabel penelitian ini adalah strategi baik. Namun, ada beberapa aspek yang belum
pembelajaran guru, kecerdasan sosial siswa, dideskripsikan dalam menyusun rencana
kecerdasan emosional siswa, dan prestasi belajar pembelajaran yaitu penyusunan media/alat
siswa. Temuan mengenai variable strategi peraga dan perangkat penilaian materi belajar.
pembelajran guru digali dengan menggunakan Guru menggunakan strategi
pedoman observasi, pedoman wawancara, pembelajaran ekspositori yang digabungkan
pengamatan dokumen. Data mengenai variabel dengan strategi pembelajaran kooperatif dan
kecerdasan sosial dan emosional siswa dapat kontekstual. Materi disampaikan secara langsung
ditemukan dengan menggunakan instrumen oleh guru sedangkan siswa hanya mendengarkan.
pedoman observasi, pedoman wawancara dan Guru mampu membuka pelajaran dengan
kuesioner penilaian kecerdasan sosial dan menyampaikan salam dan melakukan absensi,
emosional. Data mengenai prestasi belajar siswa menyajikan materi secara langsung dengan

5
menjelaskan materi yang dipelajari, observasi, wawancara dengan siswa, dan hasil
menyesuaikan metode pembelajaran dengan kuesioner kecerdasan emosional dan kecerdasan
menggunakan metode ceramah dan diskusi sosial.
informasi, menggunakan bahasa yang Berdasarkan dimensi kesadaran diri
komunikatif, mampu memotivasi siswa dengan Siswa mampu mengenali emosi yang mereka
memberikan nilai bagi siswa yang mampu miliki dan penyebabnya, mengetahui kekuatan
menjawab soal, mengorganisasi kegiatan dan batas-batasan yang mereka miliki, dan
pembelajaran, memberikan umpan balik dengan memiliki keyakinan tentang harga diri dan
mengajukan pertanyaan, dan mampu kemampuan yang mereka miliki. Berdasarkan
menggunakan waktu secara efesien saat deksripsi mengenai dimensi pengaturan diri,
menyampaikan materi. Namun, guru masih siswa cenderung mampu mengelola emosi dan
belum menggunakan media/alat peraga dan tidak desakan hati di saat merasa tertekan. Siswa
menyimpulkan kegiatan pembelajaran maupun mampu memenuhi kewajibannya dan mematuhi
mengarahkan siswa untuk menyimpulkkan hasil janjinya sebagai suatu bentuk tanggung jawab.
dari kegiatan pembelajaran. Siswa juga memiliki kemampuan menerima dan
Guru mampu memilih soal berdasarkan terbuka terhadap gagasan, pendapat, dan
tingkat kesukaran soal, tetapi guru tidak informasi baru yang disampaikan siswa yang
membuat soal berbeda antar siswa, guru juga lain. Namun, siswa masih belum mampu
tidak melakukan validasi terhadap soal karena menunjukkan sikap dapat dipercaya dan tidak
membutuhkan uji coba dan waktu yang lama. terlalu bisa menghadapi perubahan dalam
Guru mampu memeriksa dan menganalisis soal kondisi tertentu.
dengan berdasarkan pada kkm sekolah yaitu 67. Berdasarkan ulasan mengenai dimensi
Siswa dikatakan tuntas jika mendapat nilai 67 motivasi, dapat disimpulkan bahwa siswa
keatas. Guru juga mampu memberikan memiliki komitmen dan mengambil peluang
interprestasi kecendrungan hasil yaitu siswa pada hal-hal yang disukai atau diminatinya atau
kelas XI MIPA 1 cenderung memiliki prestasi diinginkannya. Pada hal-hal yang tidak diminati
yang cukup baik. Guru juga mampu menentukan olehnya, seperti berada di kelas, siswa cenderung
korelasi soal dengan hasil tes siswa yang kurang memiliki motivasi. Berdasarkan
menyatakan tergantung pada kemampuan deskripsi tentang dimensi empati di atas, dapat
pemahaman siswa. Jika kemampuan pemahaman disimpulkan bahwa siswa memiliki empati.
siswa baik maka soal yang dibuat guru akan Siswa mampu memahami orang lain dan
terasa mudah dan sebaliknya. Variasi hasil menunjukkan minat aktif pada orang lain. Siswa
ditentukan guru dengan mengelompokkan nilai mampu mengenali dan berusaha memenuhi
siswa dari tinggi kerendah. Guru tidak kebutuhan orang lain. Siswa mampu
melakukan pelaksanaan tindak lanjut hasil mengembangkan orang lain, meskipun hanya
penilaian karena nilai siswa digabungkan dengan terbatas pada pemahaman materi pelajaran.
nilai tugas dengan rasio 60% ulangan dan 40% Siswa juga mampu mengatasi keragaman dengan
tugas, sehingga tidak ada siswa yang remidi di bergaul dengan orang lain.
kelas XI MIPA 1. Guru tidak melaksanakan Berdasarkan deskripsi mengenai
tindak lanjut terhadap hasil tes siswa karena nilai dimensi keterampilan sosial, dapat disimpulkan
siswa digabungkan dengan nilai tugas, sehingga bahwa siswa sudah memiliki kemampuan dalam
nilai siswa tidak ada yang tidak tuntas. bidang komunikasi, kepemimpinan, manajemen
Kecerdasan Emosional konflik, menumbuhkan jaringan nonformal,
Kecerdasan emosional berhubungan bekerjasama dan menciptakan sinergi. Namun,
dengan kemampuan mengenali dan mengelola siswa masih belum menunjukkan teknik
emosi terhadap diri sendiri dan diri orang lain. persuasifnya ketika menampilkan sesuatu dan
Kecerdasan emosional terdiri atas lima dimensi belum menunjukkan kemampuan sebagai si
yaitu: kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, pembaharu.
empati, dan keterampilan sosial. Secara Kecerdasan Sosial
keseluruhan temuan-temuan mengenai Kecerdasan sosial merupakan salah satu
kecerdasan emosional ditemukan pada hasil dampak pengiring pembelajaran, yang berkaitan

6
erat dengan bagaimana siswa dapat memahami menafsirkan/mengartikan pengertian materi,
orang lain dan menjaga hubungan dengan orang memberikan contoh implementasi materi
lain. Kecerdasan sosial terdiri atas empat terhadap hal-hal dalam kehidupan sehari-hari.
dimensi yaitu mengoganisir kelompok, Siswa mampu mengklasifikasikan materi,
merundingkan pemecahan masalah, membina merangkum, dan menyimpulkan materi
hubungan pribadi, dan analisis sosial. Secara pelajaran. Namun, dalam kegiatan pembelajaran
keseluruhan temuan-temuan mengenai di kelas guru cenderung tidak pernah
kecerdasan sosial ditemukan pada hasil menyimpulkan hasil pembelajaran. Siswa juga
observasi, wawancara dengan siswa, dan hasil mampu menjelakan materi tentang titik berat
kuesioner kecerdasan emosional dan kecerdasan yang ditanyakan peneliti. Ditinjau dari aspek
sosial. pengaplikasian materi untuk memecahkan
Berdasarkan deskripsi mengenai masalah, siswa cenderung mampu menggunakan
dimensi mengorganisir kelompok, dapat materi yang dipahami dalam menjawa soal,
disimpulkan bahwa siswa cenderung mampu tetapi terbatas pada soal yang tidak terlalu
memimpin dan mampu bekerja sama demi memerlukan analisis. Dalam aspek analisis siswa
mencapai tujuan bersama. Berdasarkan deskripsi cenderung kurang. Hal ini ditunjukkan dari hasil
tentang dimensi merundingkan pemecahan tes yang diberikan peneliti dimana soal yang
masalah dapat dismpulkan bahwa siswa memerlukan analisis untuk menjaawab semua
cenderung sabar, tapi tidak memiliki kecapakan siswa salah dalam menjawab. Ini menunjukkan
dalam mendamaikan pertikaian. Berdasarkan siswa masih kurang dalam analisis soal.
deskrispsi tentang keterampilan siswa membina Deskripsi Tentang Relevansi Strategi
hubungan pribadi, dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran Guru dalam Pengembangan
siswa bisa menjaga hubungannya. Siswa bisa Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Sosial,
membuat lelucon pada teman-temannya supaya dan Prestasi Belajar Siswa.
terhibur, sekaligus siswa bisa merasakan humor Poin utama strategi pembelajaran adalah
yang dimunculkan orang lain. Siswa juga disukai untuk menciptakan kegiatan pembelajaran yang
teman-temannya, yang menandakan bahwa aktif dan bermakna, sehingga potensi-potensi
siswa bisa menjaga hubungan pribadinya. siswa dapat dikembangkan dengan lebih baik.
Berdasarkan deksripsi tersebut dapat dinyatakan Hal ini menunjukkan bahwa guru memberikan
bahwa pada dimensi analisis sosial siswa sudah pemahaman siswa tentang materi kaitannya
mampu mendeteksi masalah di lingkungan dengan kehidupan sehari-hari. Guru juga
sekitar dan mampu memberikan pemecahan memberikan siswa pemahaman untuk mengatasi
terhadap masalah tersebut. emosi mereka yang dihubungkan dengan materi
Prestasi Belajar tekanan yakni dengan memperluas luas
Prestasi belajar merujuk kepada permukaan batin sehingga tekanan hidup yang
pencapaian atau segala sesuatu yang didapatkan meraka terima akan semakin berkurang. Hal ini
siswa dalam kegiatan pembelajaran. Prestasi akan membuat siswa berpikir lagi dalam
belajar siswa yang diamati peneliti lebih menyelesaikan masalah sehingga tidak berakhir
mengarah ke ranah kognitf siswa. Adapun menyesal dalam kehidupan. Guru juga membuat
dimensi ranah kognitf yang diamati yaitu suasana menyenangkan dengan memberikan
kemampuan siswa mengingat materi, sesuatu yang lucu sehingga membuat siswa
kemampuan siswa memahami materi, tertawa. Ini akan membuat siswa senang,
kemampuan siswa mengaplikasikan materi, dan sehingga siswa akan mengalami perkembangan
kemampuan menganalisis materi. dalam kecerdasan emosionalnya.
Berdasarkan temuan-temuan dari
dimensi prestasi belajar siswa, dapat Pembahasan
disimpulkan bahwa siswa cenderung mampu Berdasarkan pada hasil-hasil temuan
mengenali dan mengingat materi pelajaran yang yang telah dideskripsikan di atas, terdapat lima
diajarkan, meskipun siswa tidak sepenuhnya pembahasan utama yang diulas satu per satu.
menginat materi karena tidak pernah dipelajari Pertama, tinjauan strategi pembelajaran guru
lebih dalam lagi di rumah. Siswa juga maapu SMAN 2 Singaraja. Kedua, tinjauan kecerdasan

7
emosional siswa SMAN 2 Singaraja. Ketiga, Perencanaan pembelajaran yang dilakukan guru
tinjauan kecerdasan sosial siswa SMAN 2 sebelum melakukan kegiatan pembelajaran yaitu
Singaraja. Keempat, tinjauan prestasi belajar mempersiapkan materi, metode, dan administrasi
siswa SMAN 2 Singaraja. Kelima, tinjauan lainnya yang tertuang dalam RPP. RPP
relevansi strategi pembelajaran guru dalam digunakan guru sebagai acuan dalam kegiatan
pengembangan kecerdasan emosional, pembelajaran supaya kegiatan pembelajaran
kecerdasan social, dan prestasi belajar siswa. menjadi aktif dan bermakna. RPP yang dibuat
berpedoman dari silabus yang diberikan
Tinjauan Strategi Pembelajaran Guru Fisika pemerintah. Tahap penyusunan RPP yang
Temuan-temuan mengenai strategi dilakukan guru, pertama penyusunan tujuan
pembelajaran di lapangan dianalisis dengan pembelajaran yang disesuaikan dengan indicator
tujuan memeroleh konstruksi teori mengenai yang terdapat dalam silabus. Materi pelajaran
strategi pembelajaran yang dirancang guru disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang
karena strategi pembelajaran merupakan salah sudah ditentukan. Materi yang cukup padat akan
satu poin penting dalam menciptakan kegiatan diberikan alokasi waktu yang lebih banyak,
pembelajaran yang aktif dan bermakna. Strategi sedangkan materi yang mudah alokasi waktu
pembelajaran tidak hanya mempengaruhi yang diberikan lebih sedikit.
kemampuan siswa dalam memahami materi, Penilaian yang dilakukan guru berupa
tetapi juga aspek lainnya seperti kecerdasan penilaian kognitif, afektif, dan psikomotor.
siswa mengelola emosi dan hubungan social Penilaian kognitif dilakukan untuk menguji
siswa dengan teman sekelas. pemahaman siswa terhadap materi yang
Guru menggunakan beberapa strategi diberikan dalam bentuk tes, kuis, dan tugas.
dalam kegiatan pembelajaran yaitu strategi Dalam kegiatan pembelajaran guru juga
pembelajaran ekspositori, strategi pembelajaran memberikan penilain terhadap soal yang
kooperatif, dan strategi pembelajaran dikerjakan siswa. Penilaian psikomotor
kontekstual. Strategi pembelajaran ekspositori dilakukan guru dengan memberikan tugas
yaitu guru cenderung menyampaikan materi proyek, fortofolio, praktik, dan kerja. Penilaian
secara verbal/ceramah sedangkan siswa hanya afektif dilakukan guru dengan memperhatikan
mendengarkan dan mencatat apa yang dijelaskan sikap siswa dikelas, kedisiplinan siswa, dan
guru, sehingga membuat siswa menjadi pasif. kerjasama siswa saat melakukan diskusi. Guru
Siswa jarang bertanya kepada guru kecuali dalam menyusun soal berdasarkan tingkat kesulitan,
pembahasan soal. Strategi pembelajaran dimana sekitar 30% soal agak sulit, 40% soal
kooperatif yaitu guru juga membentuk kelompok menengah, dan 30% soal yang mengacu kepada
kecil dalam melakukan diskusi dalam menjawab soal UN. Setidaknya siswa bisa menjawab 30%
soal. Diskusi yang dilakukan oleh siswa hanya dari soal yang diberikan. Guru tidak
untuk membahas soal sehingga siswa cenderung membedakan soal antara siswa yang pandi dan
hanya mengerjakan soalnya sendiri dan hanya kurang pandai, guru juga tidak melakukan
bertanya jika tidak dapat menjawab. Hal ini validitas soal karena diperlukan uji coba dan
menyebabkan siswa kurang aktif dalam diskusi. banyak waktu. Tes prestasi siswa kadang
Orora et al (2014) menyatakan bahwa cooperatif langsung diperiksa di kelas dimana siswa sendiri
e-learning (CEL) dapat meningkatkan prestasi yang langsung memeriksa dengan menukar
belajar siswa jika dibandingkan dengan metode dengan teman yang lain, tetapi guru lebih sering
konvensional. Adnyana et al (2014) juga memeriksa tes di rumahnya. Hasil dari tes siswa
menyatakan bahwa terdapat perbedaan hasil dianalisis dengan berpedoman dengan kkm yang
belajar antara kelompok siswa yang belajar sudah ditentukan sekolah yaitu 67. Siswa yang
dengan MPTGT terhadap kelompok siswa yang mendapat nilai di atas 67 dikatakan tuntas,
belajar dengan MPL, dimana model sedangkan siswa yang nilainya kurang dari 67
pembelajaran kooperatif tipe TGT lebih baik dikatakan tidak tuntas. Hasil ini kemudian
dalam meningkatkan prestasi siswa dibandingkan dikelompokkan menjadi siswa yang memiliki
model pembelajaran langsung. nilai tinggi dan siswa yang memiliki nilai rendah.
Guru tidak melakukan tindak lanjut karena nilai

8
siswa akan ditambahkan nilai tugas dengan dan mencipatakan sinergi. Namun, siswa masih
presentase nilai total 60% nilai tugas dan 40% belum menunjukkan teknik persuasifnya ketika
nilai tes, sehingga di kelas XI MIPA 1 semua menampilkan sesuatu dan belum menunjukkan
siswa dinyatakan tuntas dan memiliki nilai kemampuan sebagai si pembaharu. Siswa
relative baik. menyadari emosi apa yang sedang terjadi
padanya dan apa penyebabnya. Siswa juga
Tinjauan Kecerdasan Emosional Siswa memunculkan emosi sesuai dengan situasinya.
Kecerdasan emosional berhubungan Goleman (2003) menyatakan bahwa
dengan kemampuan mengenali dan mengelola seseorang yang cakap dalam hal kesadaran emosi
emosi terhadap diri sendiri dan diri orang lain. akan mengenali emosi itu dan merasakannya
Berdasarkan temuan-temuan mengenai secara fisik. Melalui perantara kesadaran emosi
kecerdasan emosional, hasilnya dapat dirangkum muncul kesadaran lain, bahwa perasaan kita
sebagai berikut. mempengaruhi apa yang kita lakukan pada orang
Ditinjau dari segi kesadaran diri, siswa yang berhubungan dengan kita. Siswa juga sudah
mampu mengenali emosi dirinya, mengetahui bisa mengenali kelemahan dan kekuatannya.
kekuatan dan batas dirinya, siswa yakin dan Sebab kesadaran akan kekuatan dan batas diri
percaya diri karena mereka tahu bahwa dirinya membantu proses peningkatan kemampuan. Pada
memiliki kelebihan. Ditinjau dari pengaturan konteks menunjukkan kemampuan, siswa
diri, siswa cenderung mampu mengelola emosi cenderung percaya diri karena merasa siswa
dan desakan hati di saat merasa tertekan, siswa merasa memiliki kelebihan. Percaya diri memang
mampu memenuhi kewajibannya dan mematuhi merupakan syarat utama untuk juara kerja.
janjinya sebagai suatu bentuk tanggung jawab, Namun, percaya diri yang berlebihan tetapi tidak
siswa juga memiliki kemampuan menerima dan selaras dengan kemampuan atau lebih singkatnya
terbuka terhadap gagasan, pendapat, dan nekat, malah menjadi hal buruk. Ini berarti,
informasi baru yang disampaikan siswa yang tindakan siswa untuk percaya diri pada hal-hal
lain. Namun, siswa masih belum mampu yang pernah dialaminya, menjadi pilihan yang
menunjukkan sikap dapat dipercaya dan tidak tepat.
terlalu bisa menghadapi perubahan dalam kondisi Ulasan di atas mengindikasikan bahwa
tertentu. Ditinjau dari segi motivasi, siswa kecerdasan emosional siswa sudah cukup baik,
memiliki komitmen, kegigihan, dan mengambil tetapi masih perlu untuk dikembangkan, terutama
peluang pada hal-hal yang disukai atau dalam kelas. Sebab, motivasi siswa dan tindakan
diminatinya. Pada hal-hal yang tidak diminati siswa dalam mencapai prestasi masih kurang dan
olehnya, seperti berada di kelas, siswa cenderung harus dikembangkan karena kecerdasan ini bisa
kurang memiliki motivasi. Kolachina (2014) saja membawa siswa menjadi pemimpin di
menyatakan bahwa mahasiswa dengan prestasi kemudian hari. Pengembangan kecerdasan
akademik tinggi memiliki kecerdasan emosional emosional perlu proses. Kecerdasan emosional
dan motivasi yang lebih tinggi dibandingkan bukan kecerdasan yang sekedar mengetahui
dengan siswa yang memiliki prestasi rendah. emosi tetapi juga bagaimana menunjukkan emosi
Ditinjau dari segi empati, siswa cenderung itu dalam situasi dan waktu yang tepat.
memiliki empati. Siswa mampu memahami
orang lain dan menunjukkan minat aktif pada Tinjauan Kecerdasan Sosial Siswa
orang lain. Siswa mampu mengenali dan Konstruksi teori mengenai kecerdasan sosial
berusaha memenuhi kebutuhan orang lain. Siswa ditinjau dari hasil-hasil yang ditemukan
mampu mengembangkan orang lain, meskipun dilapangan dan dibandingkan dengan teori yang
hanya terbatas pada pemahaman materi ada. Konstruksi teori ini menjadi penting, sebab
pelajaran. Siswa juga mampu mengatasi siswa tidak dapat hidup seorang diri. Mereka
keragaman dengan bergaul dengan orang lain. perlu memahami orang lain dan berinteraksi,
Ditinjau dari segi keterampilan social siswa sebab kecerdasan sosial adalah salah satu yang
cenderung memiliki kemampuan dalam bidang membuat manusia bahagia.
komunikasi, kepemimpinan, manajemen konflik, Berdasarkan hasil temuan-temuan
menumbuhkan jaringan non formal, bekerjasama penelitian yang ditemukan, siswa cenderung

9
sudah berani menjadi ketua atau pengurus di pemberian tugas yang banyak, sehingga siswa
dalam kelompok yang diminatinya, seperti osis dituntut untuk melewatinya. Saat itulah
dan ketua kelompok belajar. Ini berarti siswa dibutuhkan kecerdasan sosial yang notabene
sudah berani mengambil tanggung jawab sebagai sudah menjadi titik tolak kebahagiaan, bahkan
organisator kelompok. Dengan kata lain, siswa berakibat positif pada kesehatan fisik dan
memiliki keterampilan mengorganisir kelompok. kejiwaan. Di tengah arus kerja yang akan dilewati
Siswa juga cukup memiliki kesabaran dimana siswa nanti, siswa dengan kecerdasan sosial yang
saat mereka diganggu atau dipancing emosinya baik akan survive. Maka dari itu, akan sangat
siswa cenderung tidak menghiraukannya dan baik dipupuk semenjak masih belum terlanjur
menahan emosi mereka, sehingga tidak terjadi buruk.
masalah yang sampai menyebabkan perkelahian.
Siswa mampu membina hubungan dengan Tinjauan Prestasi Belajar Siswa
teman-temannya. Siswa sering bergaul dengan Konstruksi teori mengenai prestasi
temannya dan memberikan candaan saat mereka belajar ditinjau dari hasil-hasil yang ditemukan
berkumpul sehingga meraka cenderung disukai dilapangan dan dibandingkan dengan teori yang
banyak orang. Ganaie dan Mudasir (2015) ada. Konstruksi teori ini menjadi penting, karena
menyatakan bahwa mahasiswa ilmu alam lebih tujuan utama dari proses pembelajaran adalah
percaya diri, bijaksana dan memiliki ingatan yang memperoleh prestasi. Siswa yang memiliki
lebih baik dibandingkan mahasiswa ilmu sosial, prestasi akademik yang baik, akan cenderung
sedangkan mahasiswa ilmu sosial lebih sabar, sukses dalam kehidupannya. Berdasarkan
kooperatif, sensitif, mengenal lingkungan sosial penenelitian yang telah dilakukan ditemukan
dan memiliki senses of humor yang tinggi hasil sebagai berikut. Siswa mampu mengenali
dibandingkan dengan mahasiswa ilmu alam. dan mengingat materi pelajaran. Siswa mampu
Siswa mampu mengembangkan siswa lain menafsirkan/mengartikan materi, siswa mampu
meskipun hanya sebatas kemampuan dalam memberikan contoh dari materi pelajaran, siswa
memahi materi. Pada poin analisis sosial, siswa mampu mengklasifikasikan materi, siswa mampu
sudah mampu mendeteksi, merasakan, dan merangkum dan menyimpulkan materi, serta
memberikan respon terhadap perasaan orang lain. siswa mampu menjelskan materi pelajaran yang
Seperti saat ada teman yang menyendiri siswa diajarkan. Siswa mampu mengaplikasikan materi
menghampiri dan mengajak mengobrol, sehingga untuk menjawab soal tetapi hanya terbatas pada
siswa tersebut bisa menceritakan masalahnya. soal yang tidak terlalu memerlukan banyak
MacGee dan Shevlin dalam Nabila, 2001 juga analisis. Namun, siswa kurang mampu
menyatakan bahwa kemampuan merasakan dan menganalisis permasalahan yang dibuat dalam
menciptakan humor dapat memupuk empati bentuk soal analisis.
individu untuk lebih memahami lingkungannya Siswa cenderung mampu mengenali dan
dan bersosialisasi dengan lingkungannya, mengingat materi yang diberikan kepada siswa.
sehingga kebahagiaan mengenai pemaknaan Namun, hanya terbatas pada materi yang baru
hidupnya dapat pula tercapai. diberikan, sedangkan untuk materi yang sudah
Namun, saat terjadi pertikaian, siswa cenderung lama diberikan siswa cenderung hanya
masih belum berani meredakannya secara mengingat sedikit dari keseluruhan materi yang
langsung dan memilih melaporkan ke guru. diajarkan. Ini menunjukkan bahwa siswa hanya
Goleman (2003) menyatakan bahwa memang mempelajari materi saat materi diberikan dan
tidak mudah meredakan sebuah tidak melanjutkan untuk terus memahami materi
konflik/pertikaian, diperlukan prasyarat untuk tersebut yang berakibat pada rendahnya daya
meredakan pertikaian yaitu kesadaran diri, ingat siswa terhadap materi. Ganaie dan Mudasir
kepercayaan diri, kendali diri, dan empati. (2015) menyatakan bahwa mahasiswa ilmu alam
Hasil ulasan mengenai kecerdasan sosial lebih percaya diri, bijaksana dan memiliki
mengindikasikan bahwa pengembangannya ingatan yang lebih baik dibandingkan mahasiswa
harus terus dilanjutkan, sebab beberapa aspeknya ilmu sosial. Anderson dan Krathwohl (2001)
sudah muncul dengan baik. Saat ini, menyungkapkan bahwa mengingat (remember)
pembelajaran di sekolah sudah mengarah pada adalah menarik kembali informasi yang

10
tersimpan dalam memori jangka panjang. Ini aktif dalam bertanya dengan temannya jika tidak
menyatakan siswa tidak secara sepenuhnya bisa mengerjakan. Interaksi yang yang terjadi
menyimpan materi dalam memori jangka antar siswa akan menjadi lebih luas dan lebih
panjangnya. sering. Hal ini akan dapat mengembangkan
Hasil ulasan mengenai prestasi belajar kesadaran emosi, kendali diri, rasa tanggung
mengindikasikan bahwa prestasi siswa sudah jawab, keterbukaan dalam menerima gagasan dan
cukup baik, kususnya aspek mengingat, informasi baru, motivasi siswa, dan keterampilan
memahami, dan mengaplikasikan materi. social.
Namun, siswa cenderung kurang dalam Hasil ulasan mengenai relevansi strategi
menganalisis permasalahan yang diberikan. Hasil pembelajaran dalam pengembangan kecerdasan
ini juga sesuai dengan studi dokumen yaitu hasil emosional, kecerdasan sosial, dan prestasi belajar
prestasi belajar siswa dari tes yang diberikan guru siswa mengindikasikan bahwa strategi
menyatakan bahwa semua siswa di kelas XI pembelajaran guru memiliki peran penting dalam
MIPA 1 sudah memenuhi kkm. mengembangkan kecerdasan emosional,
kecerdasan sosial, dan prestasi belajar siswa.
Tinjauan Relevansi Strategi Pembelajaran Strategi pembelajaran guru yang lebih
dalam Mengembangkan Kecerdasan menekankan kepada penjelasan materi,
Emosional, Kecerdasan Sosial, dan Prestasi pemberian contoh dan latihan soal, serta diskusi
Belajar Siswa akan meningkatkan pemahaman siswa terhadap
Hasil-hasil yang ditemukan diulas lebih materi yang berdampak pada peningkatan
dalam lagi agar mendapatkan bangunan teori prestasi belajar siswa. Guru yang meperhatikan
yang lebih matang. Ini menjadi penting, sebab kondisi dan sikap siswa, memberikan reward,
relevansi antara variabel-variabel bisa dijadikan pemberian tugas individu dan menceritakan hal-
sebagai refleksi dan implikasi di dalam hal yang menyenangkan akan mempengaruhi
pembelajaran. Strategi pembelajaran guru sudah kecerdasan emosional. Kegiatan diskusi dan
cukup baik dalam pengembangan prestasi belajar tugas kelompok yang diberikan kepada siswa
siswa, tetapi dalam pengembangan kecerdasan akan menciptakan hubungan sosial antar siswa
emosional dan kecerdasan social masih kurang. meningkat yang akan berdapak pada
Berdasarkan temuan-temuan dalam perkembangan kecerdasan sosial siswa.
penelitian, menunjukkan bahwa guru
memperhatikan perkembangan emosi, hubungan SIMPULAN DAN SARAN
social, dan prestasi belajar siswa. Namun, Simpulan
perkembangan yang dialami siswa tidak optimal. Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam
Dalam RPP guru memperhatikan perkembangan penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan,
kecerdasan emosional, kecerdasan social, dan maka dapat disimpulkan lima hal sebagai berikut.
prestasi belajar melalui mempersiapkan tujuan, Pertama, Strategi pembelajaran yang
materi, metode, dan administrasi lainnya digunakan guru secara umum sudah mengandung
sehingga siwa dapat belajar dengan baik saat aspek-aspek stretegi pembelajaran yaitu pada
kegiatan pembelajaran. aspek penyusunan rencana pembelajaran guru
Meskipun dalam penerapan strategi sudah mampu mendeskripsikan tujuan
pembelajaran yang digunakan, guru cenderung pembelajaran, menentukan materi,
belum mampu mengembangkan kecerdasan mengorganisir materi, menentukan metode,
emosional dan kecerdasan sosial siswa. Namun, menentukan sumber belajar, dan mengalokasi
dalam kegiatan pembelajaran guru cukup waktu belajar. Namun guru masih tidak
memberikan perhatian kepada siswa. Misalnya, menentukan media/sumber belajar dan tidak
seperti menegur siswa yang memiliki rambut menyusun perangkat penilaiaan. Pada aspek
panjang supaya dipotong, sehingga siswa pelaksanaan interaksi mengajar guru sudah
menyadari dirinya melakukan kesalahan dan mampu membuka pelajaran, menyajikan materi,
berusaha untuk berubah. Guru juga memberikan menyesuaikan metode, menggunakan bahsa yang
tugas kepada siswa yang harus dikumpulkan baik komunikatif, memotivasi siswa, mengorganisasi
individu maupun kelompok, sehingga siswa akan kegiatan pembelajaran, berinterkasi dengan

11
siswa, memberi umpan balik, melaksanakan dengan porsi 60% nilai tugas dan 40% nilai
penilaian, dan mampu menggunakan waktu ulangan.
secara efesien. Namun guru tidak menggunakan Kelima, Relevansi strategi pembelajaran
media/alat peraga dan tidak menyimpulkan hasil guru fisika dalam mengembangkan prestasi
kegiatan pembelajaran. Pada aspek penilaian belajar siswa ditunjukkan dengan penjelasan
prestasi belajar guru sudah mampu memilih soal guru tentang materi pembelajaran, penyampaian
berdasarkan tingkat kesukaran, mampu implementasi meteri terhadap hal-hal dalam
memeriksa jawaban, mampu mengolah dan kehidupan sehari-hari, pemberian contoh dan
menganalisis hasil penilaian, mampu membuat latihan soal, serta diskusi kelompok untuk
kecenderungan hasil penilaian, mampu menjawab soal dapat meningkatkan pemahaman
menentukan korelasi antar soal berdasarkan hasil siswa terhadap materi yang berdampak pada
penilaian dan mampu mengidentifikasi tingkat peningkatan prestasi belajar siswa. Strategi
variasi hasil. Namun guru tidak memilih soal pembelajaran dalam mengambangkan
berdasarkan tingkat pembeda dan tidak menguji kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial
kevalidan soal. Guru juga tidak melakukan siswa ditunjukkan dengan pemberian nasehat
pelaksanaan tindak lanjut terhadap hasil tentang sikap siswa, pemberian nilai saat benar
penilaian prestasi belajar siswa karena tidak ada menjawab soal, dan interaksi siswa saat
siswa yang memiliki nilai dibawah kkm. melakukan kegiatan diskusi kelompok yang akan
Kedua, Kecerdasan emosional sudah ada mengembangkan kecerdasan emosi siswa dan
pada diri siswa seperti siswa sudah bisa kemampuan sosial siswa.
mengenali emosi-emosi yang muncul pada
dirinya dan apa penyebabnya. Kekuatan dan Saran
batas dirinya pun sudah diketahui. Karena Guru hendaknya lebih mengoptimalkan
mengetahui kelebihan itulah siswa menjadi lebih strategi pembelajaran yang digunakan sehingga
percaya diri dalam berhubungan dengan lain. siswa dapat lebih aktif dan dapat menjalani
Pengendalian emosi siswa cukup baik. Siswa kegiatan pembelajaran yang bermakna. Guru
tidak sekadar menekan emosi negatif, tetapi hendaknya merancang kegiatan pembelajaran
siswa bisa menghilangkannya dengan melakukan dimana siswa dapat lebih aktif dalam memahami
hal-hal yang mereka senangi seperti bermain materi dan memperhatikan interaksi sosial siswa,
game. supaya siwa dapat mengembangkan keterampilan
Ketiga, Kecerdasan sosial siswa sosialnya.
cenderung sudah muncul seperti siswa sudah Siswa selayaknya menjaga kredibilitas
memiliki kemampuan untuk mengorganisir sebagai siswa yang jujur dengan tidak
kelompok dengan menjadi ketua dan mampu menyontek. Kemampuan-kemampuan yang
bekerjasama dengan orang lain. Siswa cenderung sudah dimilikinya sekarang, lebih dikembangkan
memiliki kemampuan pemecahan masalah lagi, terutama aspek kecerdasan sosial dan
dengan sabar, tetapi siswa masih belum mampu emosional siswa. Sebab kecerdasan ini penting
mendamaikan suatu pertikaaian. untuk karir dan hidup di masyarakat nanti.
Keempat, Prestasi belajar siswa
cenderung cukup baik karena siswa memiliki
kemampuan mengingat materi meskipun tidak DAFTAR PUSTAKA
dalam jangka waktu panjang. Siswa mampu Abadi, H. J. & Mazaher, L. 2014. Effect of
memahami materi dengan computer games on the social intelligence
menafsirkan/mengartikan, memberi contoh, and academic self-efficacy of gifted male
mengklasifikasikan, merangkum dan adolescents studying in the junior high
menyimpulkan serta menjelaskan materi schools. International Journal of
pelajaran. Prestasi siswa yang cukup baik juga Psychology and Behavioral Research.
ditunjukkan dari nilai siswa yang sudah 3(3), 177-183. Tersedia pada
memenuhi ketuntasan yaitu 67 keatas, meskipun http://www.ijpbrjourn-al.com. Diakses 5
nilainya merupakan gabungan dengan nilai tugas Mei 2014.

12
Adnyana, M. E., Ristiati, N. P., & Setiawan, I G. Tersedia pada
A. N. 2014. Pengaruh model pembelajaran http://pasca.undiksha.ac.id/e-
team games tournament (MPTGT) journal/index.php/jurnal_ipa/article/view/
terhadap hasil belajar Biologi dan 1079. Diakses 11 September 2014.
kecerdasan emosional siswa. E-Journal
Program Pascasarjana Universitas
Pendidikan Ganesha Program Studi IPA. Ganaie, M. Y. & Mudasir, H. 2015. A study of
4, 001-012. Tersedia pada social intelligence & academic
http://library.ikippgrismg.ac.id/docfiles/ful achievement of college students of district
ltext/492e7c5b2c2.pdf. Diakses 11 Srinagar, J & K, India. Journal of
September 2017. American Science. 11(3): 23-27. Tersedia
pada http://www.jofamericanscience. org.
Agung, L. & Suryani, N. 2012. Strategi belajar Diakses 20 Oktober 2015.
mengajar.Yogyakarta: Ombak. Ahmad 163
Goleman, D. 2003. Kecerdasan emosional.
Anderson, L. W. & Krathwohl, D. R. 2001. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Kerangka Landasan untuk Pembelajaran,
Pengajaran, dan Asesmen. Yogyakarta: Javed, N. & Nasreen, A. 2014. The role of
Pustaka Pelajar. emotional intelligence in academic
performance of male and female students in
Budiarta, I W., Suarni, N. K., & Arcana, I N. the university of the Punjab. European
2014. Hubungan antara kecerdasan Academic Research. 1(11). Tersedia pada
emosional dan kecerdasan intelektual http://www.iiste.org/
dengan prestasi belajar ipa kelas v Desa Journals/index.php/JEP/article/view/1078
Pengeragon. E-Journal Mimbar PGSD 7. Diakses 9 Maret 2014.
Universitas Pendidikan
Ganesha.Tersediapadahttp://www.iiste.or Juliana, C. I W. 2013. pengaruh model
g/Journals/index.php/JEP/article/view/107 pembelajaran kooperatif tipe think pair
. Diakses 9 Maret 2014. share (tps) dan konsep diri siswa terhadap
prestasi belajar fisika siswa kelas x di sma
Costa, A. L. & Kallick, B. 2012. Belajar dan negeri 1 tejakula tahun pelajaran
memimpin dengan kebiasaan pikiran. 2012/2013. Skripsi (Tidak
Jakarta: PT Indeks. Dipublikasikan). Diajukan kepada
Universitas Pendidikan Ganesha untuk
Depdiknas. 2003. Undang-undang Republik memenuhi salah satu persyaratan dalam
Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang menyelesaikan program sarjana pendidikan
Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: fisika.
Dapartemen Pendidikan Nasional.
Kemendikbud. 2013. Lampiran Peraturan
Djamarah, S. B. 1994. Prestasi belajar dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
kompetensi guru. Surabaya: Usaha Nomor 81A Tahun 2013 tentang
Nasional. Implementasi Kurikulum. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Ernawati, N. L. M. D., Sadia, I W., & Arnyana,
Putu. 2014. Pengaruh pola asuh orang tua, Kolachina, A. 2014. Impact of emotional
interaksi teman sebaya, dan kecerdasan intelligence on academic achievements of
emosional terhadap hasil belajar IPA pada expatriate college students in Dubai.
siswa kelas VIII SMP Negeri se- International Journal of Social Science and
Kecamatan Mengwi. E-Journal Program Humanities Research. 2 (2), 97-103. Tersedia
Pascasarjana Universitas Pendidikan pada:
Ganesha Program Studi IPA. 4, 001-012. http://www.researchpublish.com/download.p

13
hp?file=Impact%20of%20Emotional%20Int SAN/s eiq13317014 91.pdf. Diakses 11
elligence%20on%20Academic%20Achieve September 2014.
ments-320.pdf&act=book. Diakses 4
September 2014. Orora, W., Kerato, F. N., & Wachanga, S. W.
2014. Effects of cooperative e-learning
Lone, B. A. 2014. Test anxiety, emotional teaching strategy on students achievement
intelligence and academic achie- vement in secondary school biology in Nakuru
among students at the higher secondary County, Kenya. Sky Journal of Educational
level. Asian Journal of Multidisciplinary Research. 2(1), 001-009. Tersedia pada
Studies. 2(5). Tersedia pada http://www.skyjournals.org/sjer/pdf/2014p
http://www.ajms.co.in/sites/ df/ Jan/Orora%20et%20al%20pdf.pdf.
ajms/index.php/ajms/article/view/256. Diakses 12 Mei 2014.
Diakses 20 Mei 2014.
PISA (Programme for International Student
Marsi, N. N., Candiasa, I. M., & Kirna, I. M. A. Assesment). 2009. PISA 2012 result in
2014. Pengaruh model pembelajaran focus : Performance of U. S. 15 year old
kooperatif tipe stad d an kemampuan students in reading, mathematics, and
abstraksi terhadap prestasi belajar science literacy in an international
matematika siswa. E-Journal Program context. U. S. Dapartemen Of Education.
Pascasarjana Universitas Pendidikan Tersedia pada
Ganesha. 4, 1-11. Tersedia pada http://nces.ed.gov/pubs2011/2011/20110
http://www.iiste.org/Journals/index.php/J 04.pdf. Diakses 14 Pebruari 2015.
EP/article/ view/10787. Diakses pada
tanggal 9 Maret 2014. Putri, D. 2012. Strategi pembelajaran. Artikel.
Tersedia pada http://eprints.uny.ac.id
Majid, A. 2008. Perencanaan pembelajaran. /9840/3/BAB2%20-
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. %2005208241022.pdf. Diakses 11
September 2014.
Nabila, A. Z. 2011. Hubungan antara sense of
humor dan tipe kepribadian ekstrovert Rose, M. 2012. Prestasi belajar. Artikel. Tersedia
dengan subjective well-being pada pada http://eprints.uny.ac.id/
karyawan dewasa madya di PT. Telkom 8772/3/bab%202%20-
Distel Jogjakarta. Skripsi. Tersedia pada %2008402244010.pdf. Diakses 11
http://eprints.uns.ac.id/2583/. Diakses 27 September 2014.
April 2014 Sanjaya, W. 2009. Strategi pembelajaran
berorientasi standar proses pendididkan.
Jakarta: Kencana.
Nagra, V. 2014. Social intelligence and Sholikhah, M. 2013. Persepsi siswa tentang
adjustment of secondary school students. kompetensi sosial guru PAI. Artikel
Research Paper Education. 3 (4). 88-87. Tersedia pada
Tersedia pada: http://eprints.walisongo.ac.id/1586/6/0831
http://theglobaljournals.com/paripex/file.p 11023_Bab2.pdf. Diakses 11 September
hp?val=April_2014_1397566132_01068_ 2014.
26.pdf. Diakses 4 Sptember 2014. Sugiyono. 2013. Metode penelitian kuantitatif,
kualitatif, dan R&D. Jakarta: Alfabeta.
Nurmelly, N. 2010. Pendekatan, model, dan Tas, Y. & Cakir, B. 2014. An investigation of
strategi dalam model pembelajaran. science active learning strategy use in
Artikel. Tersedia pada
relation to motivational beliefs.
http://sumsel.kemenag.go.id/file/file/TULI
Mevlana International Journal of
14
Education (MIJE). 4(1), 55-66.
Tersedia pada
http://dx.doi.org/10.13054/
mije.13.55.4.1. Diakses 12 Mei 2014.

Yarni, M. 2011. Prestasi belajar. Artikel.


Tersedia pada usu.ac.id/bitstrea
http://repository.m123456789/30314/4
/Chapter%2011.pdf. Diakses 11
September 2014.

15