Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Oksigen dibutuhkan untuk mempertahankan kehidupan. Perawat sering kali
menemukan klien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigennya. Fungsi sistem
pernafasan dna jantung adalah menyuplai kebutuhan oksigen tubuh.
Fisiologi jantung mencangkup pengaliran darah yang membawa oksigen dari sirkulasi
paru ke sisi kiri jantung dan jaringan serta mengalirkan darah yang tidak mengandung
oksigen ke sistem pulmonar. Fisiologi pernafasan meliputi oksigenasi tubuh melalui
mekanisme ventilasi, perfusi, dan transpor gas pernafasan. Pengaturan saraf dan
kimiawi mengontrol fluktuasi dalam frekuensi dan kedalaman pernafasan untuk
memenuhi perubahan kebutuhan oksigen jaringan.

Pemenuhan kebutuhan Oksigenisasi adalah bagian dari kebutuhan fisiologis


(Hurarki Maslow). Kebutuhan oksigen diperlukan untuk proses kehidupan, oksigen
sangat berperan dalam proses metabolisme tubuh, kebutuhan oksigen dalam tubuh
harus dipenuhi karena apabila kebutuhan dalam tubuh berkurang, maka terjadi
kerusakan pada jaringan otak. Dan apabila hal tersebut terjadi berlangsung lama akan
mengakibatkan kematian. Masalah kebutuhan oksigen merupakan masalah utama
dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Hal ini telah terbukti ada yang
kekurangan oksigen akan mengalami hipoxia dan akan terjadi kematian. Proses
pemenuhan kebutuhan pada manusia dapat dilakukan dengan cara pemberian oksigen
melalui saluran pernapasan dan sumbatan yang yang menghalangi masuknya oksigen,
memolihkan dan memperbaiki organ pernapasan agar dapat berfungsi normal
kembali. Prosedur pemenuhan kebutuhan oksigen dalam pelayanan keperawatan
dapat dilakukan dengan pemberian oksigen dengan menggunakan Nasal kanul,
Masker dan Kateter nasal.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kebutuhan oksigenasi ?
2. Apa saja Sistem Tubuh yang Berperan dalam Kebutuhan Oksigenasi ?
3. Bagaimana Proses Oksigenasi ?
4. Apa saja Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Oksigen ?
5. Bagaimana Pemberian Oksigen melalui Nasal Kanul ?

1
6. Bagaimana Pemberian Oksigen melalui masker ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kebutuhan oksigenasi
2. Untuk mengetahui Sistem Tubuh yang Berperan dalam Kebutuhan Oksigenasi
3. Untuk mengetahui Proses Oksigenasi
4. Untuk mengetaui Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Oksigen
5. Untuk mengetahui Pemberian Oksigen melalui Nasal Kanul
6. Untuk mengetahui Pemberian Oksigen melalui masker

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kebutuhan Oksigenasi
Oksigen memegang peranan penting dalam semua proses tubuh secara fungsional.
Tidak adanya oksigen akan menyebabkan tubuh secara fungsional mengalami
kemunduran atau bahkan dapat menimbulkan kematian. Oleh karena itu, kebutuhan
oksigen merupakan kebutuhan yang paling utama dan sangat vital bagi tubuh.
Pemenuhan kebutuhan oksigen ini tidak terlepas dari kondisi sistem pernapasan secara
fungsional. Bila ada gangguan pada salah satu organ sistem respirasi, maka kebutuhan
oksigen akan mengalami gangguan. Sering kali individu tidak menyadari terhadap
pentingnya oksigen. Proses pernapasan dianggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja.
Banyak kondisi yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan dalam pemenuhan
kebutuhan oksigen, seperti adanya sumbatan pada saluran pernapasan. Pada kondisi ini,
individu merasakan pentingnya oksigen.

B. Sistem Tubuh yang Berperan dalam Kebutuhan Oksigenasi


Saluran pernapasan bagian atas:
a. Hidung, proses oksigenasi diawali dengan masuknya udara melalui hidung.
b. Esophagus.
c. Laring, merupakan saluran pernapasan setelah faring.
d. Epiglotis, merupakan katup tulang rawan yang bertugas menutup laring saat proses
menutup.

Saluran pernapasan bagian bawah:

a. Trakhea, merupakan kelanjutan dari laring sampai kira-kira ketinggian vertebrae


torakalis kelima.
b. Bronkhus, merupakan kelanjutan dari trakhea yang bercabang menjadi bronchus
kanan dan kiri.
c. Bronkiolus, merupakan saluran percabangan setelah bronchus.
d. Alveoli, merupakan kantung udara tempat terjadinya pertukaran oksigen dengan
karbondioksida.
e. Paru-Paru (Pulmo), Paru-paru merupakan organ utama dalam sistem pernapasan.

3
C. Proses Oksigenasi
a. Ventilasi
Merupakan proses keluar masuknya oksigen dari atmosfer ke dalam alveoli atau dari
alveoli ke atmosfer. Proses ventilasi di pengaruhi oleh beberapa hal, yaitu adanya
perbedaan tekanan antara atmosfer dengan paru, semakin tinggi tempat maka tekanan
udara semakin rendah, demikian sebaliknya, semakin rendah tempat tekanan udara
semakin tinggi.
Pengaruh proses ventilasi selanjutnya adalah complienci dan recoil. Complience
merupakan kemampuan paru untuk mengembang. sedangkan recoil adalah
kemampuan CO2 atau kontraksi menyempitnya paru. Pusat pernapasan, yaitu medulla
oblongata dan pons, dapat dipengaruhi oleh ventilasi. Proses ventilasi ini dipengaruhi
oleh beberapa faktor :
1. Adanya konsentrasi oksigen di atmosfer
2. Adanya kondisi jalan napas yang baik
3. Adanya kemampuan toraks dan alveoli pada paru-paru dalam melaksanakan
ekspansi atau kembang kempis.
b. Difusi Gas
Difusi gas merupakan pertukaran antara oksigen dialveoli dengan kapiler paru dan
CO2 di kapiler dengan alveoli. Proses pertukaran ini dipengaruhi oleh beberapa
paktor, yaitu luasnya permukaan paru, tebal membran respirasi atau permeabilitas
yang terdiri atas epitel alveoli dan interstisial (keduanya dapat mempengaruhi proses
difusi apabila terjadi proses penebalan). Perbedaan tekanan dan konsentrasi O2 (hal
ini sebagai mana O2 dari alveoli masuk kedalam darah oleh karena tekanan O2 dalam
rongga alveoli lebih tinggi dari tekanan O2 dalam darah vena pulmonalis, masuk
dalam darah secara difusi).
c. Transfortasi Gas
Transfortasi gas merupakan proses pendistribusian O2 kapiler ke jaringan tubuh dan
Co2 jaringan tubuh ke kapiler. Transfortasi gas dapat dipengaruhi oleh beberapa
factor, yaitu curah jantung (kardiak output), kondisi pembuluh darah, latihan
(exercise), perbandingan sel darah dengan darah secara keseluruhan (hematokrit),
serta eritrosit dan kadar Hb.

4
D. Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Oksigen

Kebutuhan tubuh terhadap oksigen tidak tetap, sewaktu-waktu tubuh memerlukan


oksigen yang banyak, oleh karena suatu sebab. Kebutuhan oksigen dalam tubuh
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya lingkungan, latihan, emosi, gaya hidup dan
status kesehatan.

1. Lingkungan
Pada lingkungan yang panas tubuh berespon dengan terjadinya vasodilatasi pembuluh
darah perifer, sehingga darah banyak mengalir ke kulit. Hal tersebut mengakibatkan
panas banyak dikeluarkan melalui kulit. Respon demikian menyebabkan curah
jantung meningkat dan kebutuhan oksigen pun meningkat. Sebaliknya pada
lingkungan yang dingin, pembuluh darah mengalami konstriksi dan penurunan
tekanan darah sehingga menurunkan kerja jantung dan kebutuhan oksigen.
Pengaruh lingkungan terhadap oksigen juga ditentukan oleh ketinggian tempat.
Pada tempat tinggi tekanan barometer akan turun, sehingga tekana oksigen juga turun.
Implikasinya, apabila seseorang berada pada tempat yang tinggi, misalnya pada
ketinggian 3000 meter diatas permukaan laut, maka tekanan oksigen alveoli
berkurang. Ini menindikasikan kandungan oksigen dalam paru-paru sedikit. Dengan
demikian, pada tempat yang tinggi kandungan oksigennya berkurang. Semakin tinggi
suatu tempat maka makin sedikit kandungan oksigennya, sehingga seseorang yang
berada pada tempat yang tinggi akan mengalami kekurangan oksigen.
Selain itu, kadar oksigen di udara juga dipengaruhi oleh polusi udara. Udara yang
dihirup pada lingkungan yang mengalami polusi udara, konsentrasi oksigennya
rendah. Hal tersebut menyebabkan kebutuhan oksigen dalam tubuh tidak terpenuhi
secara optimal. Respon tubuh terhadap lingkungan polusi udara diantaranya mata
perih, sakit kepala, pusing, batuk dan merasa tercekik.
2. Latihan
Latihan fisik atau peningkatan aktivitas dapat meningkatkan denyut jantung dan
respirasi rate sehingga kebutuhan terhadap oksigen semakin tinggi.
3. Emosi
Takut, cemas, dan marah akan mempercepat denyut jantung sehingga kebutuhan
oksigen meningkat.

5
4. Gaya Hidup
Kebiasaan merokok akan memengaruhi status oksigenasi seseorang sebab merokok
dapat memperburuk penyakit arteri koroner dan pembuluh darah arteri. Nikotin yang
terkandung dalam rokok dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah perifer
dan pembuluh darah darah koroner. Akibatnya, suplai darah ke jaringan menurun.
5. Status Kesehatan
Pada orang sehat, sistem kardiovaskuler dan sistem respirasi berfungsi dengan baik
sehingga dapat memenuhi kebutuhan oksigen tubuh secara adekuat. Sebaliknya, orang
yang mempunyai penyakit jantung ataupun penyakit pernapasan dapat mengalami
kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan oksigen tubuh.

E. Gangguan Oksigenasi
Permasalahan dalam hal pemenuhan kebutuhan oksigen tidak terlepas dari adanya
gangguan yang terjadi pada sistem respirasi baik pada anatomi maupun fisiologis dari
organ-organ respirasi. Permasalahan dalam pemenuhan tersebut dapat disebabkan adanya
gangguan pada sistem tubuh lain, misalnya sistem kardiovaskuler.
Gangguan pada sistem respirasi dapat disebabkan diantaranya oleh peradangan, obstruksi,
trauma, kanker, degeneratif dan lain-lain. Gangguan tersebut akan menyebabkan
kebutuhan oksigen dalam tubuh tidak terpenuhi secara adekuat. Secara garis besar,
gangguan-gangguan respirasi dikelompokkan menjadi tiga yaitu gangguan
irama/frekuensi pernapasan, insufisiensi pernapasan dan hipoksia.
a. Gangguan irama/frekuensi pernapasan
1. Gangguan irama pernapasan antara lain:
a) Pernapasan ‘Cheyne-stokes’ yaitu siklus pernapasan yang amplitudonya mula-
mula dangkal, makin naik kemudian menurun dan berhenti. Lalu pernapasan
dimulai lagi dengan siklus baru. Jenis pernapasan ini biasanya terjadi pada
klien gagal jantung kongesti, peningkatan tekanan intrakranial, overdosis obat.
Namun secara fisiologis, jenis pernapasan ini terutama terdapat pada orang di
ketinggian 12.000-15.000 kaki di atas permukaan laut dan pada bayi saat tidur.
b) Pernapasan ‘Biot’ yaitu pernapasan yang mirip dengan pernapasan Cheyne-
stokes, tetapi amplitudonya rata dan disertai apnea. Keadaan pernapasan ini
kadang ditemukan pada penyakit radang selaput otak.

6
c) Pernapasan ‘Kussmaul’ yaitu pernapasan yang jumlah dan kedalamannya
meningkat sering melebihi 20 kali/menit. Jenis pernapasan ini dapat
ditemukan pada klien dengan asiidosis metabolik dan gagal ginjal.
2. Gangguan frekuensi pernapasan
a. Takipnea/hiperpnea, yaitu frekuensi pernapasan yang jumlahnya meningkat di
atas frekuensi pernapasa normal.
b. Bradipnea, yaitu kebalikan dari takipnea dimana ferkuensi pernapasan yang
jumlahnya menurun dibawah frekuensi pernapasan normal.
c. Insufisiensi pernapasan
Penyebab insufisiensi pernapasan dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama
yaitu:
1) Kondisi yang menyebabkan hipoventilasi alveolus, seperti:
a) Kelumpuhan otot pernapasan, misalnya pada poliomielitis, transeksi
servikal.
b) Penyakit yang meningkatkan kerja ventilasi, seperti asma, emfisema,
TBC dan lain-lain.
2) Kelainan yang menurunkan kapasitas difusi paru:
a) Kondisi yang menyebabkan luas permukaan difusi berkurang,
misalnya kerusakan jaringan paru, TBC, kanker dan lain-lain.
b) Kondisi yang menyebabkan penebalan membran pernapasan, misalnya
pada edema paru, pneumonia, dan lain-lain.
c) Kondisi yang menyebabkan rasio ventilasi dan perfusi yang tidak
normal dalam beberapa bagian paru, misalnya pada trombosis paru.
3) Kondisi paru yang menyebabkan terganggunya pengangkutan oksigen dari
paru-paru ke jaringan yaitu:
a) Anemia dimana berkurangnya jumlah total hemoglobin yang tersedia
untuk transpor oksigen.
b) Keracunan karbondioksida dimana sebagian besar hemoglobin menjadi
tidak dapat mengankut oksigen.
c) Penurunan aliran darah ke jaringan yang disebabkan oleh karena curah
jantung yang rendah.

7
d. Hipoksia
Hipoksia adalah kekurangan oksigen di jaringan. Istilah ini lebih tepat
daripada anoksia. Sebab, jarang terjadi tidak ada oksigen sama sekali dalam
jaringan. Hipoksia dapat dibagi ke dalam empat kelompok yaitu hipoksemia,
hipoksia hipokinetik, overventilasi hipoksia dan hipoksia histotoksik.
1) Hipoksemia
Hipoksemia adalah kekurangan oksigen di darah arteri. Terbagi atas dua
jenis yaitu hipoksemia hipotonik (anoksia anoksik) dan hipoksemia
isotonik (anoksia anemik). Hipoksemia hipotonik terjadi dimana tekanan
oksigen arteri rendah karena karbondioksida dalam darah tinggi dan
hipoventilasi. Hipoksemia isotonik terjadi dimana oksigen normal, tetapi
jumlah oksigen yang dapat diikat hemoglobin sedikit. Hal ini terdapat pada
kondisi anemia, keracunan karbondioksida.
2) Hipoksia Hipokinetik (stagnat anoksia/anoksia bendunagn)
Hipoksia hipokinetik yaitu hipoksia yang terjadi akibat adanya bendunagn
atau sumbatan. Hipoksia hipokinetik dibagi kedalam dua jenis yaitu
hipoksia hipokinetik ischemic dan hipoksia hipokinetik kongestif.
Hipoksia hipokinetik ischemic terjadi dimana kekurangan oksigen pada
jaringan disebabkan karena kuarngnya suplai darah ke jaringan tersebut
akibat penyempitan arteri. Hipoksia hipokinetik kongestif terjadi akibat
penumpukan darah secara berlebihanatau abnormal baik lokal maupun
umum yang mengakibatkan suplai oksigen ke jaringan terganggu,
sehingga jarinagn kekurangan oksigen.
3) Overventilasi hipoksia
Overventilasi hipoksia yaitu hipoksia yang terjadi karena aktivitas yang
berlebihan sehingga kemampuan penyediaan oksigen lebih rendah dari
penggunaannya.
4) Hipoksia histotoksik
Hipoksia histotoksik yaitu keadaan dimana darah di kapiler jaringan
mencukupi, tetapi jaringan tidak dapat menggunakan oksigen karena
pengaruh racun sianida. Hal tersebut mengakibatkan oksigen kembali
dalam darah vena dalam jumlah yang lebih banyak daripada normal
(oksigen darah vena meningkat).

8
F. Masalah Keperawatan Berkaitan dengan kebutuhan oksigen

a. Tidak efektifnya jalan napas


Masalah keperawatan ini menggambarkan kondisi jalan napas yang tidak bersih,
misalnya karena adanya sumbatan, penumpukan sekret, penyempitan jalan napas oleh
karena spasme bronkhus dan lain-lain.
b. Tidak efektifnya pola napas
Tidak efektifnya pola napas ini merupakan suatu kondisi dimana pola napas, yaitu
respirasi dan ekspirasi menunjukan tidak normal. Penyebabnya bisa karena kelemahan
neoromuskular, adanya sumbatan di trakheo-bronkhial, kecemasan dan lain-lain.
c. Gangguan pertukaran gas
Gangguan pertukaran gas merupakan suatu keadaan dimana terjadi
ketidakseimbangan antara oksigen yang dihirup dengan karbondioksida yang
dikeluarkan pada pertukaran gas antara alveoli dan kapiler. Penyebabnya bisa karena
perubahan membran alveoli, kondisi anemia, proses penyakit dan lain-lain.
d. Penurunan perfusi jaringan
Adalah suatu keadaan dimana sel kekurangan suplai nutrisi dan oksigen. Penyebabnya
dapat terjadi karena kondisi hipocolemia, hipervolemia, retensi karbondioksida,
penurunan cardiac output dan lain-lain.
e. Intoleransi aktivitas
Adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami penurunan kemampuan untuk
melakukan aktivitasnya. Penyebabnya antara lain karena ketidakseimbangan antara
suolai dan kebututhan oksigen, produksi energi yang dihasilkan menurun dan lain-
lain.
f. Perubahan pola tidur.
Gangguan kebutuhan oksigen dapat mengakibatkan pola tidur terganggu. Kesulitan
bernapas (sesak napas) menyebakan seseorang tidak bisa tidur pada jam biasa tidur.
Perubahan pola tidur juga dapat terjadi karena kecemasan dengan penyakit yang
dideritanya.
g. Risiko terjadinya iskemik otak
Gangguan oksigenasi mengakibatkan suplai darah ke otak berkurang. Hal tersebut
disebabkan oleh cardiac output yang menurun, aliran darah ke otak berkurang,
gangguan perfusi otak, dan lain-lain. Akibatnya, otak kekurangan oksigen sehingga
berisiko terjasi kerusakan jaringan otak.

9
G. Pemberian Oksigen melalui Nasal Kanul
1. Pengertian
Pemberian oksigen pada klien yang memerlukan oksigen secara kontinyu dengan
kecepatan aliran 1-6 liter/menit serta konsentrasi 20-40%, dengan cara memasukan
selang yang terbuat dari plastik ke dalam hidung dan mengaitkannya di belakang
telinga. Panjang selang yang dimasukan ke dalam lubang dihidung hanya berkisar 0,6
– 1,3 cm. Pemasangan nasal kanula merupakan cara yang paling mudah, sederhana,
murah, relatif nyaman, mudah digunakan cocok untuk segala umur, cocok untuk
pemasangan jangka pendek dan jangka panjang, dan efektif dalam mengirimkan
oksigen. Pemakaian nasal kanul juga tidak mengganggu klien untuk melakukan
aktivitas, seperti berbicara atau makan. (Aryani, 2009:54)
2. Tujuan Umum
a. Meningkatkan ekspansi dada
b. Memperbaiki status oksigenasi klien dan memenuhi kekurangan oksigen
c. Membantu kelancaran metabolisme
d. Mencegah hipoksia
e. Menurunkan kerja jantung
f. Menurunkan kerja paru –paru pada klien dengan dyspnea
g. Meningkatkan rasa nyaman dan efisiensi frekuensi napas pada penyakit paru
(Aryani, 2009:53)

3. Indikasi
Efektif diberikan pada klien yang mengalami :

1. Gagal nafas Ketidakmampuan tubuh dalam mempertahankan tekanan parsial


normal O2 dan CO2 di dalam darah, disebabkan oleh gangguan pertukaran O2 dan
CO2 sehingga sistem pernapasan tidak mampu memenuhi metabolisme tubuh.
2. Gangguan jantung (gagal jantung) Ketidakmampuan jantung untuk memompa
darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap
nutrien dan oksigen.
3. Kelumpuhan alat pernafasan Suatu keadaan dimana terjadi kelumpuhan pada alat
pernapasan untuk memenuhi kebutuhan oksigen karena kehilangan kemampuan
ventilasi secara adekuat sehingga terjadi kegagalan pertukaran gas O2 dan CO2.

10
4. Perubahan pola napas.Hipoksia (kekurangan oksigen dalam jaringan), dyspnea
(kesulitan bernapas, misal pada pasien asma),sianosis (perubahan warna menjadi
kebiru-biruan pada permukaan kulit karena kekurangan oksigen), apnea (tidak
bernapas/ berhenti bernapas), bradipnea (pernapasan lebih lambat dari normal
dengan frekuensi kurang dari 16x/menit), takipnea (pernapasan lebih cepat dari
normal dengan frekuensi lebih dari 24x/menit (Tarwoto&Wartonah, 2010:35)
5. Keadaan gawat (misalnya : koma) Pada keadaan gawat, misal pada pasien koma
tidak dapat mempertahankan sendiri jalan napas yang adekuat sehingga mengalami
penurunan oksigenasi.
6. Trauma paru,Paru-paru sebagai alat penapasan, jika terjadi benturan atau cedera
akan mengalami gangguan untuk melakukan inspirasi dan ekspirasi.
7. Metabolisme yang meningkat : luka bakar.Pada luka bakar, konsumsi oksigen
oleh jaringan akan meningkat dua kali lipat sebagai akibat dari keadaan
hipermetabolisme.
8. Post operasi,Setelah operasi, tubuh akan kehilangan banyak darah dan pengaruh
dari obat bius akan mempengaruhi aliran darah ke seluruh tubuh, sehingga sel tidak
mendapat asupan oksigen yang cukup.
9. Keracunan karbon monoksida,Keberadaan CO di dalam tubuh akan sangat
berbahaya jika dihirup karena akan menggantikan posisi O2 yang berikatan dengan
hemoglobin dalam darah.(Aryani, 2009:53)

4. Kontraindikasi
Tidak ada kontraindikasi pada pemberian terapi oksigen dengan syarat pemberian
jenis dan jumlah aliran yang tepat. Namun demikan, perhatikan pada khusus berikut
ini

1. Pada klien dengan PPOM (Penyakit Paru Obstruktif Menahun) yang mulai
bernafas spontan maka pemasangan masker partial rebreathing dan non
rebreathing dapat menimbulkan tanda dan gejala keracunan oksigen. Hal ini
dikarenakan jenis masker rebreathing dan non-rebreathing dapat mengalirkan
oksigen dengan konsentrasi yang tinggi yaitu sekitar 90-95%
2. Face mask tidak dianjurkan pada klien yang mengalami muntah-muntah
3. Jika klien terdapat obstruksi nasal maka hindari pemakaian nasal kanul. (Aryani,
2009:53)

11
5. Hal - hal yang perlu diperhatikan
a. Perhatikan jumlah air steril dalam humidifier, jangan berlebih atau kurang dari
batas. Hal ini penting untuk mencegah kekeringan membran mukosa dan
membantu untuk mengencerkan sekret di saluran pernafasan klien
b. Pada beberapa kasus seperti bayi premature, klien dengan penyakit akut, klien
dengan keadaan yang tidak stabil atau klien post operasi, perawat harus
mengobservasi lebih sering terhadap respon klien selama pemberian terapi
oksigen
c. Pada beberapa klien, pemasangan masker akan memberikan tidak nyaman karena
merasa “terperangkat”. Rasa tersebut dapat di minimalisir jika perawat dapat
meyakinkan klien akan pentingnya pemakaian masker tersebut.
d. Pada klien dengan masalah febris dan diaforesis, maka perawat perlu melakukan
perawatan kulit dan mulut secara extra karena pemasangan masker tersebut dapat
menyebabkan efek kekeringan di sekitar area tersebut.
e. Jika terdapat luka lecet pada bagian telinga klien karena pemasangan ikatan tali
nasal kanul dan masker. Maka perawat dapat memakaikan kassa berukuran
4x4cm di area tempat penekanan tersebut.
f. Akan lebih baik jika perawat menyediakan alat suction di samping klien dengan
terapi oksigen
g. Pada klien dengan usia anak-anak, biarkan anak bermain-main terlebih dahulu
dengan contoh masker.
h. Jika terapi oksigen tidak dipakai lagi, posisikan flow meter dalam posisi OFF.
i. Pasanglah tanda : “dilarang merokok : ada pemakaian oksigen” di pintu kamar
klien, di bagian kaki atau kepala tempat tidur, dan di dekat tabung oksigen.
Instrusikan kepada klien dan pengunjung akan bahaya merokok di area
pemasangan oksigen yang dapat menyebabkan kebakaran. (Aryani, 2009:53).

Keuntungan
1. Toleransi klien baik
2. Pemasangannya mudah
3. Klien bebas untuk makan dan minum
4. Harga lebih murah
Kerugian
1. Mudah terlepas

12
2. Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%
3. Suplai oksigen berkurang jika klien bernafas lewat mulut
4. Mengiritasi selaput lender, nyeuri sinus

Cara kerja pemberian oksigen melalui nasal kanul

1. Dekatkan alat ke samping klien


2. Jelaskan kepada klien dan keluarga hal-hal yang diperlukan dalam prosedur dan
tujuan terapi oksigen
3. Cuci tangan
4. Inspeksi tanda dan gejala pada klien yang berhubungan dengan hipoksia dan adanya
sekresi pada jalan nafas.
5. Pasang nasal kanula ke selang oksigen dan hubungkan ke sumber oksigen yang
dilembabkan dan diatur sesuai dengan kecepatan aliran yang diprogramkan.
6. Letakkan ujung kanula ke dalam lubang hidung dan atur lubang kanula yang elastic
sampai kanula benar-benar pas menempati hidung dan nyaman bagi klien.
7. Pertahankan selang oksigen cukup kemdur dan sambungkan ke pakaian klien.
8. Periksa kanula setiap 8 jam dan pertahankan tabung pelembab terisi setiap waktu.
9. Observasi hidung dan permukaan superior kedua telinga klien untuk melihat adanya
kerusakan kulit.

H. PEMBERIAN OKSIGEN MELALUI MASKER OKSIGEN


1. Pengertian

Pemberian oksigen kepada klien dengan menggunakan masker yang dialiri oksigen
dengan posisi menutupi hidung dan mulut klien. Masker oksigen umumnya berwarna
bening dan mempunyai tali sehingga dapat mengikat kuat mengelilingi wajah klien.
Bentuk dari face mask bermacam-macam. Perbedaan antara rebreathing dan non-
rebreathing mask terletak pada adanya vulve yang mencegah udara ekspirasi
terinhalasi kembali. (Aryani, 2009:54)
Macam Bentuk Masker :
a. Simple face mask mengalirkan oksigen konsentrasi oksigen 40-60% dengan
kecepatan aliran 5-8 liter/menit.

13
Keuntungan

1. Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari nasal kanula


2. system humidifikasi dapat di tingkatkan
Kerugian
1. Umumnya tidak nyaman bagi klien
2. Membuat rasa panas, sehingga mengiritasi mulut dan pipi
3. Aktivitas makan dan berbicara terganggu
4. Dapat menyebabkan mual dan muntah, sehingga dapat menyebabkan aspirasi
5. Jika alirannya rendah dapat menyebabkan penumpukan karbondioksida

b. Rebreathing mask mengalirkan oksigen konsentrasi oksigen 60-80% dengan


kecepatan aliran 8-12 liter/menit. Memiliki kantong yang terus mengembang baik,
saat inspirasi maupun ekspirasi. Pada saat inspirasi, oksigen masuk dari sungkup
melalui lubang antara sungkup dan kantung reservoir, ditambah oksigen dari
kamar yang masuk dalam lubang ekspirasi pada kantong. Udara inspirasi sebagian
tercampur dengan udara ekspirasi sehingga konsentrasi CO2 lebih tinggi daripada
simple face mask. (Tarwoto&Wartonah, 2010:37). Indikasi : klien dengan kadar
tekanan CO2 yang rendah. (Asmadi, 2009:33)
Keuntungan
1. Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari pada sungkup muka sederhana
2. Tidak mengeringkan selaput lendir
Kerugian
1. Kantung oksigen bisa terlipat
2. Menyebabkan penumpukan oksigen jika aliran terlalu rendah

c. Non rebreathing mask mengalirkan oksigen konsentrasi oksigen sampai 80-100%


dengan kecepatan aliran 10-12 liter/menit. Pada prinsipnya, udara inspirasi tidak
bercampur dengan udara ekspirasi karena mempunyai 2 katup, 1 katup terbuka
pada saat inspirasi dan tertutup saat pada saat ekspirasi, dan 1 katup yang
fungsinya mencegah udara kamar masuk pada saat inspirasi dan akan membuka
pada saat ekspirasi. (Tarwoto&Wartonah, 2010:37). Indikasi : klien dengan kadar
tekanan CO2 yang tinggi. (Asmadi, 2009:34)

14
Keuntungan

1. Konsentrasi oksigen hampir diperoleh 100% karena adanya katup satu arah
antara kantong dan sungkup, sehingga kantung mengandung konsentrasi
oksigen yang tinggi dan tidak tercampur dengan udara ekspirasi.
2. Tidak mengeringkan selaput lender

Kerugian

1. Kantung oksigen bisa terlipat


2. Berisiko untuk terjadi keracunan oksigen
3. Tidak nyaman bagi klien

Cara pemberian oksigen melalui masker

1. Dekatkan alat ke samping klien


2. Jelaskan tindakan dan tujuan
3. Cuci tangan
4. Prosedur kerja
a. Hubungkan masker dengan humidif kasi
b. Buka aliran oksigen sesuai dengan indikasi. Pada masker rebreathing/non-
rebreathing tunggu sampai kantong terisi udara.
c. Pasang masker sampai melingkupi mulut dan hidung klien. Fiksasi tali pada
masker sesuai dengan kenyamanan klien.
d. Atur kembali aliran oksigen .
5. Cuci tangan

15
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
kebutuhan oksigen merupakan kebutuhan yang paling utama dan sangat vital bagi
tubuh.
Pemenuhan kebutuhan oksigen ini tidak terlepas dari kondisi sistem pernapasan
secara fungsional.
Sistem Tubuh yang Berperan dalam Kebutuhan Oksigenasi
Saluran pernapasan bagian atas:
a. Hidung, proses oksigenasi diawali dengan masuknya udara melalui hidung.
b. Esophagus.
c. Laring, merupakan saluran pernapasan setelah faring.
d. Epiglotis, merupakan katup tulang rawan yang bertugas menutup laring saat
proses menutup.

Saluran pernapasan bagian bawah:


a. Trakhea, merupakan kelanjutan dari laring sampai kira-kira ketinggian vertebrae
torakalis kelima.
b. Bronkhus, merupakan kelanjutan dari trakhea yang bercabang menjadi bronchus
kanan dan kiri.
c. Bronkiolus, merupakan saluran percabangan setelah bronchus.
d. Alveoli, merupakan kantung udara tempat terjadinya pertukaran oksigen dengan
karbondioksida.
e. Paru-Paru (Pulmo), Paru-paru merupakan organ utama dalam sistem pernapasan.

Proses Oksigenasi
Ventilasi
Merupakan proses keluar masuknya oksigen dari atmosfer ke dalam alveoli atau dari
alveoli ke atmosfer
Difusi Gas
Difusi gas merupakan pertukaran antara oksigen dialveoli dengan kapiler paru dan
CO2 di kapiler dengan alveoli.

16
Transfortasi Gas
Transfortasi gas merupakan proses pendistribusian O2 kapiler ke jaringan tubuh dan
Co2 jaringan tubuh ke kapiler.

Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Oksigen

Kebutuhan tubuh terhadap oksigen tidak tetap, sewaktu-waktu tubuh


memerlukan oksigen yang banyak, oleh karena suatu sebab. Kebutuhan oksigen
dalam tubuh dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya lingkungan, latihan,
emosi, gaya hidup dan status kesehatan.

Pemberian Oksigen melalui Nasal Kanul


Pemberian oksigen pada klien yang memerlukan oksigen secara kontinyu dengan
kecepatan aliran 1-6 liter/menit serta konsentrasi 20-40%, dengan cara memasukan
selang yang terbuat dari plastik ke dalam hidung dan mengaitkannya di belakang
telinga. Panjang selang yang dimasukan ke dalam lubang dihidung hanya berkisar 0,6
– 1,3 cm. Pemasangan nasal kanula merupakan cara yang paling mudah, sederhana,
murah, relatif nyaman, mudah digunakan cocok untuk segala umur, cocok untuk
pemasangan jangka pendek dan jangka panjang, dan efektif dalam mengirimkan
oksigen. Pemakaian nasal kanul juga tidak mengganggu klien untuk melakukan
aktivitas, seperti berbicara atau makan.
 Konsentrasi oksigen menurut cara pemberian :
Udara bebas : 21 %
Kanul hidung dengan O2 2ltr/menit (LPM) : 24 %
Kanul hidung dengan O2 6 LPM : 44 %
Face mask (rebreathing 6 – 10 LPM) : 35 – 60%
Non rebreathing mask ( 8 – 12 LPM) : 80 – 90 %
Cara pemberian oksigen melalui masker
1. Dekatkan alat ke samping klien
2. Jelaskan tindakan dan tujuan
3. Cuci tangan
4. Prosedur kerja
5. Hubungkan masker dengan humidif kasi
6. Buka aliran oksigen sesuai dengan indikasi. Pada masker rebreathing/non-
rebreathing tunggu sampai kantong terisi udara.

17
7. Pasang masker sampai melingkupi mulut dan hidung klien. Fiksasi tali pada
masker sesuai dengan kenyamanan klien.
8. Atur kembali aliran oksigen .
9. Cuci tangan

B. Saran
Dalam pemberian oksigen melalui nasal dan masker di butuhkan ketelitian,dan harus
mengetahui kebutuhan oksigen yang di butuhkan oleh pasien.

18
DAFTAR PUSTAKA

Alimul,Aziz.(2006).”Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi konsep dan proses keperawatan”.

Salemba Medika :Jakarta

Ariyanto.(2008).”Teknik Prosedural Keperawatan”. Salemba Medika : Jakarta

19