Anda di halaman 1dari 25

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Medis Kehamilan Lewat Waktu 1. Pengertian


Menurut Manuaba (1998), kehamilan lewat waktu merupakan kehamilan yang melebihi waktu 42
minggu dan belum terjadi persalinan. Kehamilan umumnya berlangsung 40 minggu atau 280 hari
dari Hari Pertama haid terakhir.
Menurut Muchtar (1998), kehamilan postmatur adalah kehamilan yang berlangsung lebih lama
dari 42 minggu, dihitung berdasarkan rumus Neagele dengan siklus haid rata – rata 28 hari.
Menurut Prawirohardjo (2005), kehamilan lewat waktu atau post term adalah kehamilan yang
melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu.
Jadi dari pengertian diatas dapat disimpulkan kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang
berlangsung lebih dari 42 minggu.
2. Etiologi
Etiologi belum diketahui secara pasti, namun faktor yang dikemukaan adalah hormonal, yaitu
kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan sehingga kepekaan
uterus terhadap oksitosin berkurang. Faktor lain seperti herediter, karena postmaturitas sering
dijumpai pada suatu keluarga tertentu (Rustam, 1998).
Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

Menjelang persalinan terdapat penurunan progesteron, peningkatan oksitosin tubuh dan reseptor
terhadap oksitosin sehingga otot rahim semakin sensitif terhadap rangsangan. Pada kehamilan
lewat waktu terjadi sebaliknya, otot rahim tidak sensitif terhadap rangsangan, karena ketegangan
psikologis atau kelainan pada rahim (Manuaba, 1998).
Penyebab pasti kehamilan lewat waktu sampai saat ini belum diketahui. Diduga penyebabnya
adalah siklus haid yang tidak diketahui pasti, kelainan pada janin (anenefal, kelenjar adrenal janin
yang fungsinya kurang baik, kelainan pertumbuhan tulang janin atau kekurangan enzim sulfatase
plasenta. Beberapa faktor penyebab kehamilan lewat waktu adalah sebagai berikut :

a. kesalahan dalam penaggalan, merupakan penyebab yang paling sering 


b. tidak diketahui 


c. primigravida dan riwayat kehamilan lewat bulan 



d. defisiensi sulfatase plasena atau anensefalus, merupakan penyebab 
 yang jarang terjadi 


e. jenis kelamin janin laki – laki juga merupakan predisposisi 


f. faktor genetik juga dapat memainkan peran (Iskandar, 2010). 
 Gestasional Diabetes Millitus

didefinisikan sebagai intoleransi 


terhadap karbohidrat dengan berbagai tingkat keparahan, yang pertama kali dikenali pada masa
hamil. Diagnosis Gestasional Diabetes Millitus ditegakkan tanpa memperhatikan kebutuhan akan
insulin atau kontrol diet atau apakah ada kemungkinan diabetes atau tidak, tetapi yang pasti belum
Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

pernah terdiagnosis sebelum kehamilan berlangsung. Gestasional Diabetes Millitus berhubungan


dengan peningkatan resiko komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Varney, 2006).
Pada diabetes pada kehamilan, walaupun wanita tidak menunjukkan peningkatan gula darah,
risikonya untuk mengalami anomali kongenital sama dengan resiko pada populasi umum. Karena
kebutuhan insulin meningkat, hiperglikemia juga akan meningkat. Insulin adalah hormon yang
sama persis dengan hormon pertumbuhan manusia. Glukosa darah ibu yang meningkat akan
disalurkan ke janin melalui plasenta. Janin memang tidak menderita diabetes, tetapi harus
meningkatkan produksi insulinnya guna memetabolisme glukosa yang ada. Akibat peningkatan
kadar insulin dan glukosa, terjadilah pertumbuhan fisik yang dramatis, yang menghasilkan bayi
besar (makrosomia). Makrosomia disebabkan oleh hiperplasia, peningkatan jumlah sel, hipertrofi
dan pembesaran sel bayi. Kondisi ini menyebabkan perubahan yang berlangsung seumur hidup
bagi janin dan terbukti meningkatkan kemungkinan obesitas pada masa kanak – kanak dan dewasa
sekaligus meningkatkan risiko diabetes di kemudian hari. Makrosomia dianggap sebagai
komplikasi pada periode intrapartum, menempatkan janin dan ibuu pada resiko persalinan yang
lama, distosia bahu dan kelahiran operatif (Varney, 2006).
Polihidramnion adalah kondisi ketika jumlah cairan amnion berlebihan. Pada kebanyakan kasus,
etiologi tidak diketahui dengan pasti. Kondisi yang dapat menyebabkan polihidramnion adalah
kehamilan
Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010
kembar, diabetes, malpresentasi janin. Polihidramnion dapat menimbulkan komplikasi tambahan
yaitu persalinan preterm (akibat distensi uterus berlebihan), sesak nafas, malpresentasi janin,
abrupsi plasenta, prolaps tali pusat, disfungsi uterus selama persalinan, pardarahan pascapartum
segera disebabkan atoni uterus akibat distensi berlebihan. Tanda dan gejala polihidramnion adalah
pembesaran uterus, lingkar abdomen dan tinggi fundus uteri jauh melebihi ukuran yang
diperkirakan untuk usia kehamilan, dinding uterus tegang sehingga pada auskultasi bunyi detak
jantung janin sulit atau tidak terdengar pada palpasi bagian kecil dan besar tubuh janin sulit
ditentukan, masalah mekanis seperti polihidramnion berat, timbul dispnea, edema pada vulva,
ekstremitas bawah, nyeri tekan pada punggung, abdomen, paha, nyeri ulu hati, mual, muntah,dan
letak janin sering berubah (letak janin tidak stabil), (Varney, 2006).
Oligohidramnion adalah suatu keadaan ketika cairan amnion sangat sedikit. Kondisi ini biasanya
terjadi akibat insufisiensi uteroplasenta. Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara volume
cairan yang kecil dengan peningkatan angka kematian perinatal. Oligohidramnion dapat dikaitkan
dengan berbagai variasi perlambatan frekuensi denyut jantung janin, seperti yang terlihat pada non
stres test. Perlambatan ini kemungkinan terjadi karena cairan yang menjadi bantalan bagi tali pusat
berkurang sehingga pergerakan janin atau kontraksi uterus dapat menyebabkan penekanan
sementara pada saluran tali pusat. Oligohidramnion merupakan temuan signifikan yang
menunjukkan
Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

kehamilan pascamatur. Apabila ternyata kondisi ini diperburuk oleh kenyataan bahwa janin
menderita retardasi pertumbuhan intrauteri, maka ada peningkatan risiko bahwa toleransi janin
terhadap persalinan buruk dan bahwa kemungkinan perahiran operatif harus dilakukan (Varney,
2006).
Menurut Nugroho (2010), air ketuban normal pada kehamilan 34 – 37 minggu adalah 1.000 cc,
aterm 800 cc, dan lebih dari 42 minggu 400 cc.
3. Patofisiologi Kehamilan lewat waktu
Pada kehamilan lewat waktu terjadi penurunan oksitosin sehingga tidak menyebabkan adanya his,
dan terjadi penundaan persalinan. Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak
sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga janin mempunyai resiko asfiksia
sampai kematian dalam rahim ( Manuaba, 1998).
Sindroma postmaturitas yaitu kulit keriput dan telapak tangan terkelupas, tubuh panjang dan kurus,
vernic caseosa menghilang, wajah seperti orang tua, kuku panjang, tali pusat dan selaput ketuban
berwarna kehijauan. Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 34 – 36 minggu dan
setelah itu terus mengalami penurunan. Pada kehamilan post term dapat terjadi penurunan fungsi
plasenta sehingga bisa menyebabkan gawat janin. Bila keadaan plasenta tidak mengalami
insufisiensi maka
Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

janin post term dapat tumbuh terus namun tubuh anak akan menjadi besar (makrosomia) dan dapat
menyebabkan distosia bahu (Widjanarko, 2009).
4. Tanda Dan Gejala Kehamilan lewat waktu
Tanda dan gejala dari serotiunus tidak terlalu dirasakan, hanya dilihat dari tuanya
kehamilan. Biasanya terjadi pada masyarakat di pedesaan yang lupa akan hari pertama haid
terakhir. Bila tanggal hari pertama haid terakhir di catat dan diketahui wanita hamil,
diagnosis tidak sukar, namun bila wanita hamil lupa atau tidak tahu, hal ini akan sukar
memastikan diagnosis. Pada pemeriksaan USG dilakukan untuk memeriksa ukuran

diameter biparietal, gerakan janin dan jumlah air ketuban (Muchtar, 1998). 
 Menurut

Achdiat (2004), umur kehamilan melewati 294 hari genap 42 minggu saat dilakukan
palpasi teraba bagian – bagian janin lebih jelas karena berkurangnya air ketuban.
Kemungkinan dijumpai abnormalitas detak jantung janin, dengan pemeriksaan auskultasi
maupun kardiotokografi (KTG). Air ketuban berkurang dengan atau tanpa pengapuran

(kalsifikasi) plasenta diketahui dengan pemeriksaan USG. 


5. Pemeriksaan Penunjang 
 Menurut Sujiyatini dkk (2009), pemeriksaan penunjang yaitu USG

untuk menilai usia kehamilan, oligohidramnion, derajat maturitas plasenta. 


Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

KTG untuk menilai ada atau tidaknya gawat janin. Penilaian warna air ketuban dengan amnioskopi
atau amniotomi (tes tanpa tekanan dinilai apakah reaktif atau tidak ada dan tes tekanan oksitosin).
Pemeriksaan sitologi vagina dengan indeks kariopiknotik.
Menurut Mochtar (1998), pemeriksaan penunjang sangat penting dilakukan, seperti pemeriksaan
berat badan ibu, diikuti kapan berkurangnya berat badan, lingkaran perut dan jumlah air ketuban.
Pemeriksaan yang dilakukan seperti:

a. Bila wanita hamil tidak tahu atau lupa dengan haid terakhir setelah 
 persalinan yang lalu, dan

ibu menjadi hamil maka ibu harus memeriksakan kehamilannya dengan teratur, dapat
diikuti dengan tinggi fundus uteri, mulainya gerakan janin dan besarnya janin dapat

membantu diagnosis. 


b. Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk memeriksa ukuran diameter biparietal, gerakan

janin dan jumlah air ketuban. 


c. Pemeriksaan berat badan ibu, dengan memantau kenaikan berat badan setiap kali periksa, terjadi

penurunan atau kenaikan berat badan ibu. 


d. Pemeriksaan amnioskopi dilakukan untuk melihat derajat kekeruhan 
 air ketuban menurut

warnanya yaitu bila keruh dan kehitaman berarti air ketuban bercampur mekonium dan

bisa mengakibatkan gawat janin (Prawirohardjo, 2005). 


6. Pengaruh Kehamilan lewat waktu


Menurut Muchtar (1998), pengaruh dari kehamilan lewat waktu adalah :
Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

a. Terhadap Ibu :
 Pengaruh postmatur dapat menyebabkan distosia karena aksi 
 uterus tidak

terkoordinir, maka akan sering dijumpai patus lama, 
 inersia uteri, dan perdarahan

postpartum. 


b. Terhadap Bayi : 
 Jumlah kematian janin/bayi pada kehamilan 43 minggu 3 kali lebih besar dari

kehamilan 40 minggu, karena postmaturitas akan menambah bahaya pada janin. Pengaruh
postmaturitas pada janin bervariasi seperti berat badan janin dapat bertambah besar, tetap
dan ada yang berkurang sesudah kehamilan 42 minggu. Ada pula yang terjadi kematian

janin dalam kandungan, kesalahan letak, distosia bahu, janin besar, moulage. 
 Menurut
Prawirohardjo (2008), pengaruh kehamilan lewat waktu 


pada bayi yaitu :

a. Bagi janin :
 Berat janin, bila terjadi perubahan anatomik yang besar pada

plasenta, maka terjadi penurunan berat janin. Namun, seringkali plasenta masih dapat berfungsi
dengan baik sehingga berat janin bertambah terus sesuai dengan bertambahnua umur kehamilan.
Sindroma prematuritas, dapat dikenali pada neonatus dengan ditemukannya beberapa tanda seperti
gangguan pertumbuhan, dehidrasi, kulit kering, keriput seperti kertas (hilangnya lemak subkutan),
kuku tangan dan kaki panjang, tulang tengkorak lebih keras,
Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

hilangnya verniks caseosa dan lanugo, maserasi kulit terutama daerah lipat paha dan genetalia luar,
warna coklat kehijauan atau kekuningan banyak dan tebal.
Gawat janin atau kematian perinatal, menunjukkan angka meningkat setelah kehamilan 42 minggu
atau lebih, sebagian besar terjadi intrapartum. Biasanya disebabkan janin besar (makrosomia),
yang dapat menyebabkan terjadinya distosia pada persalinan, fraktur klavikula, sampai kematian
janin. Isufisiensi plasenta yang berakibat pertumbuhan janin terlambat, oligohidramnion terjadi
kompresi tali pusat, keluar mekonium yang kental, perubahan abnormal jantung janin, hipoksia
janin, keluarnya mekonium yang berakibat hipoplasia adrenal dan anensefalus.

b. Bagi ibu
 Morbiditas atau mortalitas ibu dapat meningkat sebagai akibat

dari makrosomia janin dan tulang tengkorak menjadi lebih keras yang menyebabkan terjadi
distosia persalinan, incoordinate uterine action, partus lama, meningkatkan tindakan obstetrik dan
persalinan traumatis/perdarahan postpartum akibat bayi besar.
Aspek emosi, ibu dan keluarga menjadi cemas bila manan kehamilan terus berlangsung melewati
taksiran persalinan. Komentar tetangga atau teman seperti ”belum lahir juga?” akan menambah
frustasi ibu.
Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

7. Komplikasi
a. Menurut Mochtar (1998), komplikasi yang terjadi pada kehamilan kehamilan lewat waktu yaitu:
. 1) Komplikasi pada Ibu 
 Komplikasi yang terjadi pada ibu dapat menyebabkan partus

lama, inersia uteri, atonia uteri dan perdarahan postpartum. 


. 2) Komplikasi pada Janin
 Komplikasi yang terjadi pada bayi seperti berat badan janin


 bertambah besar, tetap atau berkurang, serta dapat terjadi kematian 
 janin dalam

kandungan. 


b. Menurut Prawirohardjo (2006), komplikasi yang terjadi pada 
 kehamilan kehamilan lewat

waktu yaitu komplikasi pada Janin. Komplikasi yang terjadi pada bayi seperti gawat janin,

gerakan janin berkurang, kematian janin, asfiksia neonaturum dan kelainan letak. 


c. Menurut Achdiat (2004), komplikasi yang terjadi pada kehamilan kehamilan lewat waktu yaitu
komplikasi pada janin. Komplikasi yang terjadi seperti : kelainan kongenital, sindroma
aspirasi mekonium, gawat janin dalam persalinan, bayi besar (makrosomia) atau

pertumbuhan janin terlambat, kelainan jangka panjang pada bayi. 


8. Penatalaksanaan Kehamilan lewat waktu


Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

Menurut Mochtar (1998), setelah usia kehamilan lebih dari 40 – 42 minggu adalah monitoring
janin sebaik – baiknya. Apabila tidak ada tanda – tanda insufisiensi plasenta, persalinan spontan
dapat ditunggu dengan pengawasan ketat. Apabila ada insufisiensi plasenta dengan keadaan
serviks belum matang, pembukaan belum lengkap, persalinan lama, ada tanda-tanda gawat janin,
kematian janin dalam kandungan, pre-eklamsi, hipertensi menahun dan pada primi tua makan
dapat dilakukan operasi seksio sesarea. Keadaan yang mendukung bahwa janin masih dalam
keadaan baik, memungkinkan untuk menunda 1 minggu dengan menilai gerakan

janin.
 Persalinan anjuran atau induksi persalinan dapat dilakukan dengan metode :

a. Persalinan anjuran dengan infus pituitrin (sintosinon). 
 Persalinan anjuran dengan infus

oksitosin, pituitrin, sintosinon 5 unit dalam 500 cc glukosa 5%, banyak digunakan. Teknik
induksi dengan infus glukosa lebih sederhanan dan mulai dengan 8 tetes dengan maksimal
40 tetes/menit. Kenaikan tetesan 4 hingga 8 tetes setiap 5 menit sampai kontraksi optimal.
bila dengan 30 tetes kontraksi maksimal telah tercapai, maka tetesan tersebut
dipertahankan sampai terjadi persalinan. Apabila terjadi kegagalan, ulangi persalinan

anjuran dengan selang waktu sampai 48 jam. 


b. Memecahkan ketuban 


Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

Memecahkan ketuban merupakan salah satu metode untuk mempercepat persalinan. setelah
ketuban pecah, ditunggu sekitar 4 sampai 6 jam dengan harapan kontraksi otot rahim akan
berlangsung. Apabila belum berlangsung kontraksi otot rahim dapat diikuti induksi persalinan
dengan infus glukosa yang mengandung 5 unit oksitosin.

c. Persalinan anjuran yang menggunakan protaglandin
 Prostaglandin berfungsi untuk

merangsang kontraksi otot rahim.


pemakaian prostaglandin sebagai induksi persalinan dapat dalam bentuk infus intravena dan
pervaginam (prostaglandin vagina suppositoria).
Menurut Achadiat (2004), tata laksana kehamilan post term tanpa patologi lain, yaitu :

. 1) Pasien dirawat 


. 2) Pemeriksaan laboratorium Non Stres Test (NST) dan USG 


. 3) NST reaktif periksa keadaan servik 


. 4) Servik matang (BS) lebih dari 9 dapat langsung diinduksi 


. 5) Jika servik belum matang, perlu dimatangkan dulu 


. 6) Bila terdapat patologi lain (misalnya preeklamsi berat, bekas SC, 
 dsb) maka

dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan dengan 
 SC. 


. 7) Jika induksi gagal/terjadi gawat janin dilakukan SC 


Persalinan anjuran bertujuan untuk dapat merangsang otot rahim berkontraksi, sehingga persalinan
bisa berlangsung. Bishop score telah
Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

menetapkan beberapa penilaian agar persalinan induksi dapat berhasil. Dengan menggunakan
kriteria Bishop score sudah dapat diperkirakan keberhasilan persalinan ajuran. Pada nilai total
Bishop score rendah, sebaiknya langsung dilakukan seksio sesarea, karena induksi persalinan tidak
akan berhasil. Induksi persalinan yang dipaksakan akan menambah keadaan gawat janin dalam
rahim. Dengan demikian pertimbangan untuk melakukan persalinan anjuran di Polindes perlu
dilakukan dengan baik (Manuaba, 1998).
Kriteria Bishop

Keadaan fisik N

Pembukaan serviks 0 cm Perlunakan 0-30% Konsistensi servik kaku
 Arah servik ke belakang Kedudukan
0
bagian terendah -3
Pembukaan serviks 1 - 2 cm Perlunakan 40-50% Konsistensi servik sedang Arah servik ke tengah Kedudukan
bagian terendah -2 1

2
Pembukaan 3- 4 cm
 Perlunakan 60-70%
 Konsistensi servik lunak Kedudukan bagian terendah -1 -0

3
Pembukaan di atas 5cm Perlunakan 80%
(tabel 2.1)
Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

Untuk lebih jelas tata laksana kehamilan lewat waktu dapat dilihat dari bagan berikut ini :
 Tata

laksana kehamilan lewat waktu menurut Chandranita dkk (2009).

kehamilan lewat waktu


Identifikasi janin : NST – CST
 USG
 Amnioskopi

Evaluasi 1-2 minggu

Pemeriksaan Umum :
 Laboratorium lengkap Fungsi ginjal dan hati Sistem hemolitik

Skor Bishop
Nilai <4 Nilai 5-6 Nilai >7

Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010
Kehamilan Resiko Tinggi
Pematangan Serviks
 Kateter Foley 24 jam
 Prostaglandin vaginal interval 12 jam Pecah

ketuban

Induksi Persalinan
Langsung Seksio Sesaria

Lansia primigravida 


Riwayat obstetrik 
 buruk 


Kelainan letak janin 


Asfiksia intrauterin 


Ketuban keruh, kental 


Induksi Gagal
 Distosia serviks
 Gawat janin
 Ruptur uteri iminen Ternyata CPD


Ketuban pecah keruh

B. TinjauanAsuhanKebidanan
 1. Konsep Asuhan Kebidanan (7 langkah varney)

Penerapan Manajemen Kebidanan menurut varney (1997), meliputi pengkajian, interpretasi data,
diagnosa potensial dan tindakan segera untuk mencegahnya, penyusunan rencana tindakan,

pelaksanaan dan evaluasi.
 a. Pengkajian

Merupakan suatu cara untuk mendapatkan informasi dengan menggunakan metode wawancara

dan pemeriksaan fisik.
 1) Data Subjektif

a) Identitas pasien
(bagan 2.1)
Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

Induksi berhasil
 Lahir spontan
 Operasi Vaginal


Berisi tentang biodata pasien dan penanggung jawab yaitu menurut nama, umur, suku bangsa,
agama, pendidikan, pekerjaan, alamat.

b) Identitas pasien
 Nama : Untuk kebenaran dalam memberikan asuhan pada

pasien dan membedakan dengan pasien lain. Umur : Untuk mengetahui usia reproduksi (20-35
tahun), karena pada usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun temasuk resiko tinggi dalam
Agama :
kehamilan, pesalinan dan nifas (Saefuddin, 2002). Untuk mengetahui perilaku seseorang tentang
kesehatan dan penyakit yang berhubungan dengan agama, kebiasaan dan kepercayaan dapat
menunjang, namun tidak jarang dapat menghambat perilaku hidup sehat.
Pendidikan berpengaruh pada tingkat penerimaan pasien terhadap konseling yang diberikan, serta
tingkat kemampuan pengetahuan ibu terhadap kehamilan.
Pekerjaan perlu dikaji untuk mengetahui apa pekerjaannya mempengaruhi kehamilan lewat waktu.
Pendidikan:
Pekerjaan :
Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

Alamat : Untuk mengetahui alamat yang lebih jelas dalam melakukan kunjungan rumah.
c) Identitas penanggung jawab
Nama :
Umur :
Agama :
Untuk mengetahui nama suami, harus dituliskan dengan jelas agar tidak keliru dengan orang lain

mengingat banyak sekali nama yang sama.
 Untuk mengetahui usia reproduksi (20-35 tahun)

pada suami.
Untuk mengetahui perilaku seseorang tentang kesehatan dan penyakit yang berhubungan dengan
agama, kebiasaan dan kepercayaan dapat menunjang namun tidak jarang dapat menghambat
perilaku hidup sehat.
Pendidikan: Untuk mengetahui berapa jauh pengetahuan suami terhadap kehamilan istrinya.
Alamat : Untuk mengetahui alamat yang lebih jelas dalam melakukan kunjungan rumah (Ibrahim,
1998).

. d) Alasan datang
 Untuk mngetahui alasan ibu saat datang ke rumah sakit 


. e) Keluhan utama
 Keluhan yang dirasakan oleh ibu. Keluhan yang berkaitan 
 dengan

Kehamilan lewat waktu, yaitu merasa hamil lebih dari 9 bulan, dan belum terjadi kelahiran.

Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

. f) Riwayat kesehatan

. 1) Riwayat kesehatan dahulu : 
 Riwayat kesehatan yang lalu ditujukan pada

pengkajian penyakit yang diderita pasien yang dapat menyebabkan terjadinya


Kehamilan lewat waktu, misalnya DM (diabetes mellitus), maka jika ibu menderita
penyakit tersebut akan diperberat dengan adanya kehamilan, dan dapat beresiko

pada kelahirannya. 


. 2) Riwayat kesehatan sekarang :
 Riwayat kesehatan yang sekarang dikaji untuk


 mengetahui adakah penyakit yang diderita pasien seperti, 
 penyakit DM. 


. 3) Riwayat kesehatan keluarga : 
 Riwayat kesehatan keluarga dikaji apakah ada

riwayat dari keluarga yang pernah menderita kehamilan lewat waktu, karena dapat

terjadi pula pada pasien (Saefuddin, 2002). 


. g) Riwayat Obstetri 


1) Riwayat Haid :
Riwayat haid dikaji untuk mengetaui usia kandungan apakah sudah aterm atau posterm, melalui
HPHT (hari pertama haid terakhir) karena bila dijumpai ibu bersalin dengan post term, namun
biasanya pada kehamilan
Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

kehamilan lewat waktu kebanyakan lupa akan hari pertama


haid terakhir.
 2) Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu

. (a) Kehamilan ke berapa?
 Untuk mengetahui kehamilan ke berapa? 


. (b) Usia kehamilan
 Pada kehamilan lewat waktu usia kehamilan 
 sangat penting, dan

biasanya usia kehamilan lebih dari 
 9 bulan 10 hari (Prawirohardjo, 2006). 


. (c) Jenis persalinan 
 Pada jenis persalinan yang lalu dilakukan dengan cara induksi persalinan,

karena dapat terjadi pada persalinan sekarang (Manuaba, 1998). 


. (d) Penolong persalinan
 Pada kasus kehamilan lewat waktu bila 
 penolong persalinan

ditolong oleh tenaga kesehatan maka tidak akan terjadi komplikasi pada bayi dan apabila
pertolongannya ditolong oleh dukun maka akan terjadi komplikasi pada bayi seperti

hipotermi, penyakit infeksi, hipoglikemi, asfiksia. 


. (e) Penyulit persalinan
 Pada kasus Kehamilan lewat waktu ditemukan 
 penyulit yang terjadi

selama persalinan seperti partus 


Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

lama, distosia bahu, inersia uteri dan perdarahan post


partum (Mochtar, 1998).

. (f) Bayi baru lahir / panjang badan 
 Pada kasus kehamilan lewat waktu bayi baru lahir /

panjang badan untuk mengetahui apakah berat badan bayi dan panjang bayi yang dahulu

sesuai dengan standar. 


. (g) Jenis kelamin
 Untuk mengetahui jenis kelamin persalinan 
 yang lalu. 


. (h) Nifas 
 Apakah nifas mengalami keadaan yang tidak normal seperti perdahan yang banyak

yaitu ganti pembalut 1 kali dalam 2 jam dan pembalut terisi penuh serta lochea yang berbau

menyengat. 


3) Riwayat kehamilan sekarang (a) Antenatal Care


Apakah antenatal care dilakukan rutin setiap bulan atau minimal lebih dari 4 kali selama
kehamilan, untuk mengetahui apakah ibu dan janin sehat.
(b) Imunisasitetanustoxoid
Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

Untuk melindungi janin yang akan dilahirkan terhadap tetanus noenatorum, dewasa ini dianjurkan
untuk diberikan tetanus toxoid.

(c) Keluhan selama hamil
 Untuk mengetahui adanya penyakit-penyakit

pada ibu misalnya penyakit kelainan kontraksi uterus.

. (d) Gerakan janin 
 Untuk mengetahui frekuensi janin bergerak dalam 24 jam sebanyak 20 –

24 kali, sebagai penilaian janin masih dalam keadaan baik. 


. (e) Terapi/obat
 Untuk mengetahui macam-macam terapi yang 
 diberikan bidan pada ibu

serta jumlah dan 
 pemberiannya. 


. (f) Nasehat 
 Untuk mengetahui nasehat-nasehat yang diberikan bidan kepada ibu sebagai

pedoman ibu dalam kehamilan maupun persalinan. 


h) Riwayat perkawinan :
 Apakah jarak antara kehamilan yang lalu dengan

kehamilan sekarang dekat (kurang dari 5 tahun).


Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

. i) Riwayat keluarga berencana :
 Untuk mengetahui riwayat kontrasepsi yang pernah


 digunakan oleh ibu, lamanya penggunaan, keluhan saat penggunaan serta rencana

kontrasepsi yang akan digunakan ibu setelah persalinan. 


. j) Pola kebutuhan sehari-hari

. 1) Pola nutrisi 
 Menggambarkan tentang kebutuhan nutrisi ibu selama hamil, apakah

sudah tercukupi sesuai dengan gizi seimbang untuk ibu hamil. 



. 2) Pola eliminasi
 Menggambarkan pola fungsi ekskresi. Kebiasaan 
 buang air besar

(terakhir buang air besar, warna, konsistensi, keluhan) dan kebiasaan buang air
kecil (terakhir buang air kecil, warna, konsistensi dan keluhan). Karena bila saat
buang air besar atau buang air kecil ada keluhan, akan menimbulkan berkurangnya

konraksi. 


. 3) Pola aktivitas
 Untuk mengetahui apakah pekerjaan ibu sehari-hari 
 terlalu berat,

sehingga dapat mempengaruhi persalinan lewat 
 bulan. 


. 4) Pola istirahat 


Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

Menggambarkan tentang pola istirahat ibu, yaitu berapa jam ibu tidur siang dan berapa jam ibu
tidur malam, karena berpengaruh terhadap kesehatan fisik ibu.

. 5) Pola personal hygiene
 Menggambarkan pola hygiene pasien, misalnya 
 berapa kali ganti

pakaian dalam, mandi, gosok gigi dalam sehari dan keramas dalam satu minggu. Pola ini

perlu dikaji untuk mengetahui apakah pasien menjaga kebersihan dirinya. 


. 6) Pola seksual
 Untuk mengetahui kapan ibu terakhir melakukan 
 hubungan seksual dengan

suami karena prostaglandin yang terkandung dalam sperma dapat merangsang terjadinya

kontraksi. 


. 7) Psikososial, kultural dan spiritual

. (a) Psikososial 
 Hal ini perlu dikaji untuk mengetahui sejauh mana respon dan

dukungan yang diberikan suami dan keluarga kepada ibu dalam menghadapi

masalah yang terjadi dalam proses persalinan. 


. (b) Kultural
 Hal ini perlu dikaji untuk mengetahui pantangan 
 maupun kebiasaan ibu

yang dapat merugikan dirinya 


Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010
maupun janin yang dikandungnya, serta pengambilan
keputusan saat proses persalinan. (c) Spiritual
Hal ini perlu dikaji untuk mengetahui ketaatan ibu dalam menjalankan ibadahnya maupun aktifitas
keagamaan.
2) Data Objektif
a)
b)
c)

Keadaan umum :
 Untuk menilai status keadaan ibu.

Tingkat kesadaran :
 Untuk menilai status kesadaran ibu, ini dilakukan

dengan menilai composmentis, apatis, somnolen, sopor, koma, delirium.

Tanda vital
 (1) Tekanan darah : Untuk mengetahui tekanan darah pada ibu.

d)
e)

ibu.
 Berat badan sekarang dan sebelum hamil :

Untuk mengetahui tingkat kenormalan penambahan berat badan ibu selama kehamilan.
Tinggi badan

. (2) Nadi 


. (3) Pernafasan 


. (4) Suhu 


: Untuk mengetahui denyut nadi pada ibu. : Untuk mengetahui pernafasan pada ibu.
: Untuk mengetahui perubahan suhu pada
Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

f)
Status present
. (1) Bentuk kepala 


. (2) Rambut 


. (3) Muka 


. (4) Mata 


. (5) Mulut 


. (6) Telinga 


. (7) Hidung 


Untuk mengetahui tingkat kenormalan tinggi badan ibu, dimana tinggi badan normal adalah lebih
dari 150 cm. Apabila kurang dari 150 cm, maka ibu akan mengalami panggul sempit yaitu dengan
ukuran lingkar panggul luar kurang dari 80cm. Kondisi seperti itu akan berakibat pada proses
persalinan dimana bayi tidak dapat lahir dengan spontan.
: untuk mengetahui bentuk kepala dan benjolan dikepala.
: untuk mengetahui apakah rambut ibu rontok atau tidak.

: Oedema atau tidak.
 : untuk mengetahui keadaan mata

dengan menilai sclera dan

konjungtiva.
 : untuk mengetahui apakah terdapat

stomatitis atau tidak.
 : untuk mengetahui apakah simetris

dan terdapat serumen atau tidak.
 : untuk mengetahui apakah terdapat

polip atau tidak.


Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

g)
Status Obstetrikus Inspeksi :

. (1) Dada : untuk mengetahui pembesaran mamae, 
 hiperpigmentasi pada areola, putting susu

menonjol, 
 kelenjar montgomeri, dan keadaan kolostrum. 



. (2) Abdomen : untuk mengetahui linea nigra, striae gravidarum, palpasi dengan leopod untuk

menentukan posisi janin, TFU sesuai umur kehamilan, taksiran berat 
 janin, dan

auskultasi DJJ dalam satu menit. 


. (8) Leher 


. (9) Dada 


. (10) Abdomen 


. (11) Genetalia 


. (12) Ekstremitas 


: untuk mengetahui apakah terdapat kelainan seperti terdapat pembesaran kelenjar tyroid dan limfe.
: untuk menilai adanya gangguan pada pernapasan.
: untuk mengetahui bentuk abdomen, luka bekas operasi, pembesaran kelenjar limfe/hati dan nyeri
tekan.
: untuk mengetahui terdapat oedem, varices, lecet, memar atau tidak.
: untuk mengetahui apakah terdapat oedem, varices atau tidak.
Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

. (3) Genitalia : untuk memeriksa keadaan vulva dengan menilai apakah terjadi oedem, varices,

memar, lecet atau tidak. 


. (4) Pemeriksaan dalam : untuk menilai pembukaan servik, keadaan kulit ketuban, bagian

terendah janin dan untuk menentukan ukuran panggul dalam. 


h) Pemeriksaan penunjang : untuk memastikan diagnosa kebidanan.


b. Interpretasi data

. 1) Diagnosa 
 Menurut Sujiyatini dkk (2009), menjelaskan bahwa diagnosa kebidanan

dibuat berdasarkan analisa data yang telah dikumpulkan dan dibuat sesuai dengan

kesenjangan yang dihadapi oleh pasien. 



. 2) Masalah
 Masalah: Cemas, Kurang pengetahuan dan informasi 
 tentang kehamilan

lewat waktu, menurut oleh sujiyatini dkk 
 (2009). 


c. Diagnosa potensial 


Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

Menurut Saifuddin (2001), persalinan lama fase laten lebih dari 8 jam, faktor penyebabnya adalah
his tidak efisien atau tidak adekuat dan pembukaan serviks tidak melewati 4 cm sesudah 8 jam.
Potensial terjadi partus lama, potensial terjadi perdarahan post partum, potensial terjadi inersia
uteri, potensial terjadi makrosomia

d. Tindakan segera
 Menurut Saifuddin (2002), bahwa penanganan persalinan 
 kehamilan lewat

waktu adalah induksi persalinan dan penanganan segera dilakukan di lapangan untuk

mengantisipasi terjadinya persalinan kehamilan lewat waktu dengan penyerta. 


e. Perencanaan
 Rencana tindakan yang dapat dilakukan dalam penanganan 
 kehamilan lewat

waktu adalah secara kolaborasi. Menurut Sujiyatini (2009), berpendapat bahwa rencana
tindakan secara kolaborasi dilakukan dengan dokter dalam pemberian terapi kehamilan

lewat waktu, seperti induksi persalinan. 


f. Pelaksanaan
 Dalam pelaksanaan asuhan kebidanan bidan dapat berkolaborasi 
 dengan dokter

spesialis kandungan untuk pemberian terapi dan penanganan kehamilan lewat waktu

dengan cara induksi persalinan (Sujiyatini, 2009). 


g. Evaluasi 


Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

Merupakan bagian dari proses asuhan kebidanan untuk melakukan penelitian apakah asuhan
kebidanan telah berhasil secara keseluruhan atau belum sama sekali (Sujiatini, 2009).

2. Metode Pendokumentasian Asuhan Kebidanan
 Metode yang digunakan adalah 4 langkah yang

dinamakan SOAP.
SOAP adalah catatan yang bersifat sederha, jelas, logis, dan tertulis. Metode SOAP merupakan
penyaringan intisari dari Proses Penatalaksanaan Kebidanan untuk tujuan penyediaan dan
pendokumentasian asuhan.
Pendokumentasian SOAP merupakan kemajuan informasi yang sistematis yang mengorganisir
penemuan dan kesimpulan bidan menjadi suatu rencana asuhan. SOAP terdiri dari :

. a) S : Subyektif 
 Keterangan yang berasal dari pasien untuk mendapatkan diagnosa


 kebidanan. 


. b) O : Obyektif 
 Hasil pemerikasaan yang dilakukan oleh bidan. 


. c) A : Assesment 
 Kesimpulan dari data – data subyektif dan obyektif. 


. d) P : Planing 
 Apa yang dilakukan berdasarkan hasil pengevaluasian dari data subyektif,

obyektif serta analisa. 


Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

C. Aspek Hukum
 Kewenangan bidan dalam memberikan asuhan kebidanan ibu bersalin

dengan kehamilan lewat waktu, dalam memberikan asuhan kebidanan pada Kepmenkes

No.900/Menkes/SK/VII/2002.
 Pasal14 : bidan dalam menjalankan prakteknya berwenang untuk

Pasal 15
memberikan pelayanan yang meliputi : (a) pelayanan kebidanan. : (1) Pelayanan kebidanan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 huruf a (pelayanan kebidanan) ditujukan pada ibu dan anak
(2) Pelayanan kepada ibu diberikan pada masa pra nikah, pra hamil, masa hamil, masa bersalin ,
masa nifas, menyusui dan

masa antara (periode interval).
 : (1) Pelayanan kebidanan kepada meliputi :

a. Pertolongan persalinan abnormal yang mencakup letak sungsang, partus macet kepala di dasar
panggul, ketuban pecah dini (KPD) tanpa infeksi, perdarahan post partum, laserasi jalan lahir,
distosia karena inersia uteri primer, post term dan preterm.
Pasal 16
Pasal18 : Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 16, berwenang
untuk :

a. Pemberian infuse. 


b. Resusitasi bayi baru lahir dengan asfiksia. 


c. Penanganan hipotermi. 


d. Pemberian surat kelahiran dan kematian. 


Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

Kompetensi bidan
 Kompetensi ke empat : bidan memberikan asuhan yang bermutu

tinggi, tanggap terhadap kebudayaan setempat selama persalinan, memimpin suatu persalinan
yang bersih dan aman, menangani situasi kegawatdaruratan tertentu untuk mengoptimalkan
kesehatan wanita dan bayinya yang baru lahir.
a. Pengetahuan dasar

. 1) Fisiologi persalinan. 


. 2) Aspek psikologi dan kultural pada persalinan dan kelahiran. 


. 3) Indikator tanda-tanda mulai persalinan. 


. 4) Penilaian kesejahteraan ibu dalam masa persalinan. 


. 5) Proses penurunan janin melalui pelvic selama persalinan dan kelahiran. 


. 6) Pemberian kenyamanan dalam persalinan, seperti kehadiran keluarga/


 pendamping, pengaturan posisi, hidrasi, dukungan moril, pengurangan 
 nyeri

tanpa obat. 


. 7) Indikator komplikasi persalinan : perdarahan, partus macet, kelainan 
 presentasi,

eklampsi, kelelahan ibu, gawat janin, infeksi, ketuban pecah dini tanpa infeksi,
distosia inersia uteri primer, post term, dan pre term serta tali pusat menumbung.


b. Pengetahuan tambahan

. 1) Penatalaksanaan persalinan dan malpresentasi. 


. 2) Pemberian suntikan anestesi lokal. 


. 3) Akselerasi dan induksi persalinan. 


c. Keterampilan dasar 


Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

. 1) Pengumpulan data yang berfokus pada riwayat kebidanan dan tanda- tanda vital ibu pada

persalinan sekarang. 


. 2) Pelaksanaan pemeriksaan yang berfokus. 


. 3) Pencatatan waktu dan pengkajian kontraksi uterus (lama, kekuatan dan 
 frekuensi). 


. 4) Melakukan pemeriksaan panggul (pemeriksaan dalam) secara lengkap 
 dan akurat meliputi

pembukaan, penurunan, bagian terendah, 
 presentasi, posisi keadaan ketuban dan

proporsi panggul dengan bayi. 


. 5) Melakukan pemantauan kemajuan pesalinan dengan menggunakan 
 partograf. 


. 6) Memberikan dukungan psikologis pada ibu dan keluarganya. 


. 7) Memberikan cairan, nutrisi dan kenyamanan yang adekuat selama 
 persalinan. 


. 8) Mengidentifikasi secara dini kemungkinan pola persalinan abnormal 
 dan

kegawatdaruratan dengan intervensi yang sesuai dan atau 
 melakukan rujukan dengan

tepat waktu. 


. 9) Melakukan episiotomi dan penjahitan, jika diperlukan. 


10)Memberikan pertolongan persalinan abnormal : letak sungsang, partus


macet kepala didasar panggul, ketuban pecah dini tanpa infeksi, post
term dan pre term.
 11) Mendokumentasikan temuan-temuan yang penting dan intervensi yang

dilakukan.
 d. Keterampilan tambahan

Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010

. 1) Memberikan suntikan anestesi lokal, jika diperlukan. 


. 2) Membuat resep dan atau memberikan obat-obatan untuk mengurangi 
 nyeri jika diperlukan

sesuai kewenangan. 


. 3) Memberikan oksitosin dengan tepat untuk induksi dan akselerasi 
 persalinan dan

penanganan perdarahan post partum. 


Asuhan Kebidanan Ibu..., Evi Nurlaila Fitrhiyani, Kebidanan DIII UMP, 2010