Anda di halaman 1dari 21

Perang Aceh ialah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai pada

1873 sampai 1904. Kesultanan Aceh menyerah pada 1904, tapi perlawanan
rakyat Aceh dengan perang gerilya terus berlanjut. Pada tanggal 26 Maret
1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh, & mulai melepaskan
tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van
Antwerpen.

Pada 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah


pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler, & langsung bisa menguasai Masjid
Raya Baiturrahman. Köhler saat itu membawa 3. 198 tentara. Sebanyak
168 di antaranya para perwira.

Perang Aceh disebabkan karena:

Belanda menduduki daerah Siak. Akibat dari Perjanjian Siak 1858. Di mana
Sultan Ismail menyerahkan daerah Deli, Langkat, Asahan & Serdang
kepada Belanda, padahal daerah-daerah itu sejak Sultan Iskandar Muda,
berada di bawah kekuasaan Aceh.

Belanda melanggar perjanjian Siak, maka berakhirlah perjanjian London


tahun 1824. Isi perjanjian London ialah Belanda & Britania Raya membuat
ketentuan tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara
yaitu dengan garis lintang Singapura. Keduanya mengakui kedaulatan Aceh.

Aceh menuduh Belanda tak menepati janjinya, sehingga kapal-kapal


Belanda yg lewat perairan Aceh ditenggelamkan oleh pasukan Aceh.
Perbuatan Aceh ini didukung Britania.

Dibukanya Terusan Suez oleh Ferdinand de Lesseps. Menyebabkan perairan


Aceh menjadi sangat penting untuk lalu lintas perdagangan.

Ditandatanganinya Perjanjian London 1871 antara Inggris & Belanda, yg


isinya, Britania memberikan keleluasaan kepada Belanda untuk mengambil
tindakan di Aceh. Belanda harus menjaga keamanan lalulintas di Selat
Malaka. Belanda mengizinkan Britania bebas berdagang di Siak &
menyerahkan daerahnya di Guyana Barat kepada Britania.

Akibat perjanjian Sumatera 1871, Aceh mengadakan hubungan diplomatik


dengan Konsul Amerika Serikat, Kerajaan Italia, Kesultanan Usmaniyah di
Singapura. Dan mengirimkan utusan ke Turki Usmani pada tahun 1871.

Akibat hubungan diplomatik Aceh dengan Konsul Amerika, Italia & Turki di
Singapura, Belanda menjadikan itu sebagai alasan untuk menyerang Aceh.
Wakil Presiden Dewan Hindia Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen dengan 2
kapal perangnya datang ke Aceh & meminta keterangan dari Sultan
Machmud Syah tentang apa yg sudah dibicarakan di Singapura itu, tetapi
Sultan Machmud menolak untuk memberikan keterangan.

Strategi Siasat Snouck Hurgronje Mata-mata Belanda

Untuk mengalahkan pertahanan & perlawan Aceh, Belanda memakai tenaga


ahli Dr. Christiaan Snouck Hurgronje yg menyamar selama 2 tahun di
pedalaman Aceh untuk meneliti kemasyarakatan & ketatanegaraan Aceh.
Hasil kerjanya itu dibukukan dengan judul Rakyat Aceh [De Acehers].
Dalam buku itu disebutkan strategi bagaimana untuk menaklukkan Aceh.
Usulan strategi Snouck Hurgronje kepada Gubernur Militer Belanda Joannes
Benedictus van Heutsz adalah, supaya golongan Keumala [yaitu Sultan yg
berkedudukan di Keumala] dengan pengikutnya dikesampingkan dahulu.

Tetap menyerang terus & menghantam terus kaum ulama. Jangan mau
berunding dengan pimpinan-pimpinan gerilya. Mendirikan pangkalan tetap
di Aceh Raya. Menunjukkan niat baik Belanda kepada rakyat Aceh, dengan
cara mendirikan langgar, masjid, memperbaiki jalan-jalan irigasi &
membantu pekerjaan sosial rakyat Aceh. Ternyata siasat Dr Snouck
Hurgronje diterima oleh Van Heutz yg menjadi Gubernur militer & sipil di
Aceh [1898-1904]. Kemudian Dr Snouck Hurgronje diangkat sebagai
penasehatnya.

Kronologi Perang Aceh Pertama


Perang Aceh Pertama [1873-1874] dipimpin oleh Panglima Polim & Sultan
Mahmud Syah melawan Belanda yg dipimpin Köhler. Köhler dengan 3000
serdadunya dapat dipatahkan, dimana Köhler sendiri tewas pada tanggal 14
April 1873. Sepuluh hari kemudian, perang berkecamuk di mana-mana.
Yang paling besar saat merebut kembali Masjid Raya Baiturrahman, yg
dibantu oleh beberapa kelompok pasukan. Ada di Peukan Aceh, Lambhuk,
Lampu’uk, Peukan Bada, sampai Lambada, Krueng Raya. Beberapa ribu
orang juga berdatangan dari Teunom, Pidie, Peusangan, & beberapa
wilayah lain. Perang Aceh Pertama ialah ekspedisi Belanda terhadap Aceh
pada tahun 1873 yg bertujuan mengakhiri Perjanjian London 1871, yg
menindaklanjuti traktat dari tahun 1859 [diputuskan oleh Jan van Swieten].
Melalui pengesahan Perjanjian Sumatera, Belanda berhak mendapatkan
pantai utara Sumatera yg di situ banyak terjadi perompakan. Komisaris
Pemerintah Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen yg mengatur Aceh mencoba
mengadakan perundingan dengan Sultan Aceh namun tak mendapatkan
apa yg diharapkan sehingga ia menyatakan perang pada Aceh atas saran
GubJen James Loudon. Blokade pesisir tak berjalan sesuai yg diharapkan.

Belanda kemudian memerintahkan ekspedisi pertama ke Aceh, di bawah


pimpinan Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler & sesudah kematiannya
tugasnya digantikan oleh Kolonel Eeldert Christiaan van Daalen. Dalam
ekspedisi tersebut dipergunakan senapan Beaumont untuk pertama kalinya
namun ekspedisi tersebut berakhir dengan kembalinya pasukan Belanda ke
Jawa. Tak dapat disangkal bahwa Masjid Raya Baiturrahman direbut 2 kali
[dan di saat yg kedua kalinya tewaslah Köhler]. Terjadi serbuan beruntun
ke istana pada tanggal 16 April di bawah pimpinan Mayor F. P. Cavaljé
namun tak dapat menduduki lebih lanjut karena keulungan orang Aceh
serta banyaknya serdadu yg tewas & terluka. Serdadu Belanda tak cukup
persiapan yg harus ada untuk serangan tersebut. Di samping itu, jumlah
artileri [berat] tak cukup & mereka tak cukup mengenali musuh. Mereka
sendiri harus menarik diri dari pesisir & atas petunjuk Komisaris F. N.
Nieuwenhuijzen [yang menjalin komunikasi dengan GubJen Loudon] &
kembali ke Pulau Jawa.
Menurut George Frederik Willem Borel, kapten artileri, serdadu dapat
memperoleh pesisir bila mendapatkan titik lain yg agak lebih kuat, namun
Komandan Marinir Koopman tak dapat memberikan kepastian bahwa ada
hubungan yg teratur antara bantaran sungai & saat itu sedang berlangsung
muson yg buruk, yg karena itulah kedatangan pasukan baru jadi sulit.
Setelah kembalinya ekspedisi itu, angkatan tersebut banyak disalahkan
akibat kegagalan ekspedisi itu. Dari situlah GubJen James Loudon
mengadakan penyelidikan di mana para bawahan harus memberikan
penilaian atas atasan mereka. Penyelidikan tersebut kemudian juga banyak
menuai kontroversi & menimbulkan “perang kertas” sesudah Perang Aceh I
[dokumen & tulisan pro & kontra penyelidikan tersebut terjadi terus
menerus].

Penyelidikan itu masih berawal, sesudah Perang Aceh II, ketika kapten &
kepala staf Brigade II GCE. van Daalen menolak untuk ditekan GubJen
Loudon. Alasan sebelumnya ialah selama itu Loudon telah memerintahkan
penyelidikan yg untuk itu pamannya EC. van Daalen, yg merupaken
panglima tertinggi ekspedisi pertama sesudah kematian panglima tertinggi
sebelumnya Johan Harmen Rudolf Kohler, sebagai orang jenius yg malang
sesudah kegagalan ekspedisi tersebut, dihadirkan & selama penyelidikan itu
[meskipun kemudian meninggal] Van Daalen, komandan Pasukan Hindia,
Willem Egbert Kroesen mengetahui bahwa pemerintah Hindia-Belanda tak
diberi cukup informasi atas terganggunya pembekalan senjata pada
pasukan itu. Loudon tak mengizinkan Van Daalen [keponakan]
mendapatkan Militaire Willems-Orde & untuk itu memandang bahwa Van
Daalen harus terus dikirimi uang tunjangan pensiun. Raja Willem II mulai
menganugerahkan Medali Aceh 1873-1874 pada tanggal 12 Mei 1874. Yang
khas ialah pembawa medali tersebut juga dapat diberi gesper bertulisan
“ATJEH 1873-1874? pada pita Ereteken voor Belangrijke Krijgsbedrijven.
Terdapat pula salib Militaire Willems-Orde & Medaille voor Moed en Trouw.

Perang Aceh Kedua

Pada Perang Aceh Kedua [1874-1880], di bawah Jend. Jan van Swieten,
Belanda berhasil menduduki Keraton Sultan, 26 Januari 1874, & dijadikan
sebagai pusat pertahanan Belanda. 31 Januari 1874 Jenderal Van Swieten
mengumumkan bahwa seluruh Aceh jadi bagian dari Kerajaan Belanda.
Ketika Sultan Machmud Syah wafat 26 Januari 1874, digantikan oleh
Tuanku Muhammad Dawood yg dinobatkan sebagai Sultan di masjid
Indragiri.

Perang Aceh Kedua diumumkan oleh KNIL terhadap Aceh pada tanggal 20
November 1873 sesudah kegagalan serangan pertama. Pada saat itu,
Belanda sedang mencoba menguasai seluruh Nusantara. Ekspedisi yg
dipimpin oleh Jan van Swieten itu terdiri atas 8. 500 prajurit, 4. 500
pembantu & kuli, & belakangan ditambahkan 1. 500 pasukan. Pasukan
Belanda & Aceh sama-sama menderita kolera. Sekitar 1. 400 prajurit
kolonial meninggal antara bulan November 1873 sampai April 1874.

Setelah Banda Aceh ditinggalkan, Belanda bergerak pada bulan Januari


1874 & berpikir mereka telah menang perang. Mereka mengumumkan
bahwa Kesultanan Aceh dibubarkan & dianeksasi. Namun, kuasa asing
menahan diri ikut campur, sehingga masih ada serangan yg dilancarkan
oleh pihak Aceh. Sultan Mahmud Syah & pengikutnya menarik diri ke bukit,
& sultan meninggal di sana akibat kolera. Pihak Aceh mengumumkan cucu
muda Tuanku Ibrahim yg bernama Tuanku Muhammad Daud Syah, sebagai
Sultan Ibrahim Mansur Syah [berkuasa 1874-1903].

Perang pertama & kedua ini ialah perang total & frontal, dimana pemerintah
masih berjalan mapan, meskipun ibu kota negara berpindah-pindah ke
Keumala Dalam, Indrapuri, & tempat-tempat lain.

Perang Aceh Ketiga

Perang ketiga [1881-1896], perang dilanjutkan secara gerilya & dikobarkan


perang fisabilillah. Dimana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai
tahun 1904. Perang gerilya ini pasukan Aceh di bawah Teuku Umar
bersama Panglima Polim & Sultan. Pada tahun 1899 ketika terjadi serangan
mendadak dari pihak Van der Dussen di Meulaboh, Teuku Umar gugur.
Tetapi Cut Nyak Dhien istri Teuku Umar kemudian tampil menjadi
komandan perang gerilya.

Perang Aceh Keempat

Perang keempat [1896-1910] ialah perang gerilya kelompok & perorangan


dengan perlawanan, penyerbuan, penghadangan & pembunuhan tanpa
komando dari pusat pemerintahan Kesultanan.

Taktik Perang belanda Menghadapi Aceh

Taktik perang gerilya Aceh ditiru oleh Van Heutz, dimana dibentuk pasukan
maréchaussée yg dipimpin oleh Hans Christoffel dengan pasukan Colone
Macan yg telah mampu & menguasai pegunungan-pegunungan, hutan-
hutan rimba raya Aceh untuk mencari & mengejar gerilyawan-gerilyawan
Aceh. Taktik berikutnya yg dilakukan Belanda ialah dengan cara penculikan
anggota keluarga gerilyawan Aceh. Misalnya Christoffel menculik permaisuri
Sultan & Tengku Putroe [1902].

Van der Maaten menawan putera Sultan Tuanku Ibrahim. Akibatnya, Sultan
menyerah pada tanggal 5 Januari 1902 ke Sigli & berdamai. Van der
Maaten dengan diam-diam menyergap Tangse kembali, Panglima Polim
dapat meloloskan diri, tetapi sebagai gantinya ditangkap putera Panglima
Polim, Cut Po Radeu saudara perempuannya & beberapa keluarga
terdekatnya. Akibatnya Panglima Polim meletakkan senjata & menyerah ke
Lhokseumawe pada Desember 1903. Setelah Panglima Polim menyerah,
banyak penghulu-penghulu rakyat yg menyerah mengikuti jejak Panglima
Polim.

Taktik selanjutnya, pembersihan dengan cara membunuh rakyat Aceh yg


dilakukan di bawah pimpinan Gotfried Coenraad Ernst van Daalen yg
menggantikan Van Heutz. Seperti pembunuhan di Kuta Reh [14 Juni 1904]
dimana 2. 922 orang dibunuhnya, yg terdiri dari 1. 773 laki-laki & 1. 149
perempuan. Taktik terakhir menangkap Cut Nyak Dhien istri Teuku Umar yg
masih melakukan perlawanan secara gerilya, dimana akhirnya Cut Nya Dien
dapat ditangkap & diasingkan ke Sumedang.

Surat perjanjian tanda menyerah Pemimpin Aceh

Selama perang Aceh, Van Heutz telah menciptakan surat pendek [korte
verklaring, Traktat Pendek] tentang penyerahan yg harus ditandatangani
oleh para pemimpin Aceh yg telah tertangkap & menyerah. Di mana isi dari
surat pendek penyerahan diri itu berisikan, Raja [Sultan] mengakui
daerahnya sebagai bagian dari daerah Hindia Belanda, Raja berjanji tak
akan mengadakan hubungan dengan kekuasaan di luar negeri, berjanji
akan mematuhi seluruh perintah-perintah yg ditetapkan Belanda.

Perjanjian pendek ini menggantikan perjanjian-perjanjian terdahulu yg


rumit & panjang dengan para pemimpin setempat. Walau demikian, wilayah
Aceh tetap tak bisa dikuasai Belanda seluruhnya, dikarenakan pada saat itu
tetap saja terjadi perlawanan terhadap Belanda meskipun dilakukan oleh
sekelompok orang [masyarakat]. Hal ini berlanjut sampai Belanda enyah
dari Nusantara & diganti kedatangan penjajah baru yakni Jepang.

Para tokoh perang Aceh adalah Cut Nyak Din, Teuku Umar, Tengku Cik Di Tiro, Teuku
Cik Bugas, Habib Abdurrahman, dan Cut Mutia.

Perang Padri adalah peperangan yang berlangsung di Sumatera Barat dan sekitarnya terutama
di kawasan Kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga 1838.[1] Perang ini merupakan
peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum berubah
menjadi peperangan melawan penjajahan.
Perang Padri dimulai dengan munculnya pertentangan sekelompok ulama yang dijuluki
sebagai Kaum Padri terhadap kebiasaan-kebiasaan yang marak dilakukan oleh
kalangan masyarakat yang disebut Kaum Adat di kawasan Kerajaan Pagaruyung dan sekitarnya.
Kebiasaan yang dimaksud seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat, minuman
keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan, serta
longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual formal agama Islam.[2] Tidak adanya kesepakatan dari
Kaum Adat yang padahal telah memeluk Islam untuk meninggalkan kebiasaan tersebut memicu
kemarahan Kaum Padri, sehingga pecahlah peperangan pada tahun 1803.
Hingga tahun 1833, perang ini dapat dikatakan sebagai perang saudara yang melibatkan
sesama Minang dan Mandailing. Dalam peperangan ini, Kaum Padri dipimpin oleh Harimau Nan
Salapan sedangkan Kaum Adat dipimpinan oleh Yang Dipertuan Pagaruyung waktu itu Sultan
Arifin Muningsyah. Kaum Adat yang mulai terdesak, meminta bantuan kepada Belandapada
tahun 1821. Namun keterlibatan Belanda ini justru memperumit keadaan, sehingga sejak tahun
1833 Kaum Adat berbalik melawan Belanda dan bergabung bersama Kaum Padri, walaupun
pada akhirnya peperangan ini dapat dimenangkan Belanda.
Perang Padri termasuk peperangan dengan rentang waktu yang cukup panjang, menguras harta
dan mengorbankan jiwa raga. Perang ini selain meruntuhkan kekuasaan Kerajaan Pagaruyung,
juga berdampak merosotnya perekonomian masyarakat sekitarnya dan memunculkan
perpindahan masyarakat dari kawasan konflik.

Tuanku Imam Bonjol atau M. Syahab/Pelo Syarif.


Tuanku nan Cerdik.
Tuanku Tambusai (Tambusi), dan
Tuanku nan Alahan.

Sultan Agung adalah raja yang paling terkenal dari Kerajaan Mataram. Pada masa
pemerintahan Sultan Agung, Mataram mencapai zaman keemasan. Cita-cita Sultan Agung
antara lain:
1. mempersatukan seluruh tanah Jawa,
2. mengusir kekuasaan asing dari bumi Nusantara.
Terkait dengan citacitanya ini maka Sultan Agung sangat menentang keberadaan kekuatan
VOC di Jawa. Apalagi tindakan VOC yang terus memaksakan kehendak untuk melakukan
monopoli perdagangan membuat para pedagang Pribumi mengalami kemunduran. Kebijakan
monopoli itu juga dapat membawa penderitaan rakyat. Oleh karena itu, Sultan Agung
merencanakan serangan ke Batavia.

Ada beberapa alasan mengapa Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia, yakni:
1. tindakan monopoli yang dilakukan VOC,
2. VOC sering menghalang-halangi kapal-kapal dagang Mataram yang akan
berdagang ke Malaka,
3. VOC menolak untuk mengakui kedaulatan Mataram, dan
4. keberadaan VOC di Batavia telah memberikan ancaman serius bagi masa
depan Pulau Jawa.
Pada tahun 1628 telah dipersiapkan pasukan dengan segenap persenjataan dan perbekalan.
Pada waktu itu yang menjadi gubernur jenderal VOC adalah J.P. Coen. Sebagai pimpinan
pasukan Mataram adalah Tumenggung Baureksa. Tepat pada tanggal 22 Agustus 1628,
pasukan Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Baureksa menyerang Batavia. Pasukan
Mataram berusaha membangun pos pertahanan, tetapi kompeni VOC berusaha menghalang-
halangi, sehingga pertempuran antara kedua pihak tidak dapat dihindarkan.

Di tengah-tengah berkecamuknya peperangan itu pasukan Mataram yang lain berdatangan


seperti pasukan di bawah Sura Agul-Agul yang dibantu oleh Kiai Dipati Mandurareja dan
Upa Santa. Datang pula laskar orang-orang Sunda di bawah pimpinan Dipati Ukur. Pasukan
Mataram berusaha mengepung Batavia dari berbagai tempat. Terjadilah pertempuran sengit
antara pasukan Mataram melawan tentara VOC di berbagai tempat.

Tetapi kekuatan tentara VOC dengan senjatanya jauh lebih unggul, sehingga dapat memukul
mundur semua lini kekuatan pasukan Mataram. Tumenggung Baureksa sendiri gugur dalam
pertempuran itu. Dengan demikian serangan tentara Sultan Agung pada tahun 1628 itu belum
berhasil.
Sultan Agung tidak lantas berhenti dengan kekalahan yang baru saja dialami pasukannya. Ia
segera mempersiapkan serangan yang kedua. Belajar dari kekalahan terdahulu Sultan Agung
meningkatkan jumlah kapal dan senjata, Ia juga membangun lumbung-lumbung beras untuk
persediaan bahan makanan seperti di Tegal dan Cirebon. Tahun 1629 pasukan Mataram
diberangkatkan menuju Batavia. Sebagai pimpinan pasukan Mataram dipercayakan kepada
Tumenggung Singaranu, Kiai Dipati Juminah, dan Dipati Purbaya.

Ternyata informasi persiapan pasukan Mataram diketahui oleh VOC. Dengan segera VOC
mengirim kapal-kapal perang untuk menghancurkan lumbung-lumbung yang dipersiapkan
pasukan Mataram. Di Tegal tentara VOC berhasil menghancurkan 200 kapal Mataram, 400
rumah penduduk dan sebuah lumbung beras. Pasukan Mataram pantang mundur, dengan
kekuatan pasukan yang ada terus berusaha mengepung Batavia. Pasukan Mataram berhasil
mengepung dan menghancurkan Benteng Hollandia.

Berikutnya pasukan Mataram mengepung Benteng Bommel, tetapi gagal menghancurkan


benteng tersebut. Pada saat pengepungan Benteng Bommel, terpetik berita bahwa J.P. Coen
meninggal. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 21 September 1629. Dengan semangat juang
yang tinggi pasukan Mataram terus melakukan penyerangan. Dalam situasi yang kritis ini
pasukan Belanda semakin marah dan meningkatkan kekuatannya untuk mengusir pasukan
Mataram.

Dengan mengandalkan persenjataan yang lebih baik dan lengkap, akhirnya dapat
menghentikan serangan-serangan pasukan Mataram. Pasukan Mataram semakin melemah
dan akhirnya ditarik mundur kembali ke Mataram. Dengan demikian serangan Sultan Agung
yang kedua ini juga mengalami kegagalan.

Perlawanan pasukan Sultan Agung terhadap VOC memang mengalami kegagalan. Tetapi
semangat dan cita-cita untuk melawan dominasi asing di Nusantara terus tertanam pada jiwa
Sultan Agung dan para pengikutnya. Sayangnya semangat ini tidak diwarisi oleh raja-raja
pengganti Sultan Agung. Setelah Sultan Agung meninggal tahun 1645, Mataram menjadi
semakin lemah sehingga akhirnya berhasil dikendalikan oleh VOC.

Sebagai pengganti Sultan Agung adalah Sunan Amangkurat I. Ia memerintah pada tahun
1646 -1677. Ternyata Raja Amangkurat I merupakan raja yang lemah dan bahkan bersahabat
dengan VOC. Raja ini juga bersifat reaksioner dengan bersikap sewenang-wenang kepada
rakyat dan kejam terhadap para ulama. Oleh karena itu, pada masa pemerintahan Amangkurat
I itu timbul berbagai perlawanan rakyat. Salah satu perlawanan itu dipimpin oleh Trunajaya.

Serangan kerajaan Mataram terjadi 2 kali. Tahun 1627 dipimpin Tumanggung Bahurekso,
Suro Agul Agul,Dipatiukur Santo, Dipati mandurorejo dan Dipati Ukur. serangan pertama
gagal karena banyak tersedia makanan pasukan Mataram dibakar Belanda jarak Mataram
yang sangat jauh dan kalah persenjataan perang. Pada serangan kedua dipimpin Pangeran
Puger dan Pangeran Purboyo berhasil mengapung Batavia berhari-hari

Perlawanan Rakyat Banten Terhadap Belanda (VOC)


Perlawanan rakyat Banten terhadap VOC dibangkitkan oleh Abdul Fatah (Sultan Ageng
Tirtayasa) dan puteranya bernama Pangeran Purbaya (Sultan Haji). Sultan Ageng Tirtayasa
dengan tegas menolak segala bentuk aturan monopoli VOC dan berusaha mengusir VOC dari
Batavia. Pada tahun 1659, perlawanan rakyat Banten mengalami kegagalan, yaitu ditandai
oleh keberhasilan Belanda dalam memaksa Sultan Ageng Tirtayasa untuk menandatangani
perjanjian monopoli perdagangan.

Pada tahun 1683, VOC menerapkan politik adu domba (devide et impera) antara Sultan
Ageng Tirtayasa dengan puteranya yang bernama Sultan Haji, sehingga terjadilah
perselisihan antara ayah dan anak, yang pada akhirnya dapat mempersempit wilayah serta
memperlemah posisi Kerajaan Banten. Sultan Haji yang dibantu oleh VOC dapat
mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa. Kemenangan Sultan Haji atas bantuan VOC tersebut
menghasilkan kompensasi dalam penandatanganan perjanjian dengan kompeni.

Perjanjian tersebut menandakan perlawanan rakyat Banten terhadap VOC dapat dipadamkan,
bahkan Banten dapat dikuasai oleh VOC. Pertikaian keluarga di Kerajaan Banten
menunjukkan bahwa mudahnya rakyat Banten untuk diadu domba oleh VOC.

Pada tahun 1750, terjadi perlawanan rakyat Banten terhadap Sultan Haji (yang menjadi raja
setelah menggantikan Sultan Ageng Tirtayasa), atas tindakan Sultan Haji (rajanya) yang
sewenang-wenang terhadap rakyatnya sendiri. Perlawanan rakyat Banten ini dapat
dipadamkan oleh Sultan Haji atas bantuan VOC. Sebagai imbalan jasa, VOC diberi hak untuk
memonopoli perdagangan di seluruh wilayah Banten dan Sumatera Selatan.

.Sultan Ageng Tirtayasa @ Sultan 'Abdul Fathi Abdul Fattah bin .Sultan Abul Ma'ali bin
.Sultan Abul Mafakhir bin .Sultan Maulana Muhammad Nashruddin bin .Sultan Maulana
Yusuf bin .Sultan Maulana Hasanuddin bin .Sultan Syarif Hidayatullah @ Sunan Gunung Jati
Cirebon

Perlawanan Rakyat Makasar Terhadap Belanda (VOC)


Di Sulawesi Selatan, perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dilakukan oleh Kerajaan
Gowa dan Tallo, yang kemudian bergabung menjadi Kerajaan Makasar. Dilihat dari letak
geografisnya, letak wilayah Kerajaan Makasar sangat strategis dan memiliki kota pelabuhan
sebagai pusat perdagangan di Kawasan Indonesia Timur.

Kerajaan Makassar, dengan didukung oleh pelaut-pelaut ulung, mencapai puncak


kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Hasanudin antara tahun 1654 - 1669. Pada
pertengahan abad ke-17, Kerajaan Makasar menjadi pesaing berat bagi kompeni VOC
pelayaran dan perdagangan di wilayah Indonesia Timur. Persaingan dagang tersebut terasa
semakin berat untuk VOC sehingga VOC berpura-pura ingin membangun hubungan baik dan
saling menguntungkan. Upaya VOC yang sepertinya terlihat baik ini disambut baik oleh Raja
Gowa dan kemudian VOC diizinkan berdagang secara bebas. Setelah mendapatkan
kesempatan berdagang dan mendapatkan pengaruh di Makasar, VOC mulai menunjukkan
perilaku dan niat utamanya, yaitu mulai mengajukan tuntutan kepada Sultan Hasanuddin.

Tuntutan VOC terhadap Makasar ditentang oleh Sultan Hasanudin dalam bentuk perlawanan
dan penolakan semua bentuk isi tuntutan yang diajukan oleh VOC. Oleh karena itu, kompeni
selalu berusaha mencari jalan untuk menghancurkan Makassar sehingga terjadilah beberapa
kali pertempuran antara rakyat Makassar melawan VOC.

Pertempuran pertama terjadi pada tahun 1633 dan pertempuran kedua terjadi pada tahun
1654. Kedua pertempuran tersebut diawali dengan perilaku VOC yang berusaha menghalang-
halangi pedagang yang masuk maupun keluar Pelabuhan Makasar. Dua kali upaya VOC
tersebut mengalami kegagalan karena pelaut Makasar memberikan perlawanan sengit
terhadap kompeni. Pertempuran ketiga terjadi tahun 1666 - 1667 dalam bentuk perang besar.
Ketika VOC menyerbu Makasar, pasukan kompeni dibantu oleh pasukan Raja Bone (Aru
Palaka) dan Pasukan Kapten Yonker dari Ambon. Pasukan angkatan laut VOC, yang
dipimpin oleh Speelman, menyerang pelabuhan Makasar dari laut, sedangkan pasukan Aru
Palaka mendarat di Bonthain dan berhasil mendorong suku Bugis agar melakukan
pemberontakan terhadap Sultan Hasanudin serta melakukan penyerbuan ke Makasar.

Peperangan berlangsung seru dan cukup lama, tetapi pada saat itu Kota Makassar masih dapat
dipertahankan oleh Sultan Hasanudin. Pada akhir kesempatan itu, Sultan Hasanudin terdesak
dan dipaksa untuk menandatangani perjanjian perdamaian di Desa Bongaya pada tahun 1667.

Perlawanan rakyat Makasar akhirnya mengalami kegagalan. Salah satu faktor penyebab
kegagalan rakyat Makasar adalah keberhasilan politik adu domba Belanda terhadap Sultan
Hasanudin dengan Aru Palaka. Perlawanan rakyat Makasar selanjutnya dilakukan dalam
bentuk lain, seperti membantu Trunojoyo dan rakyat Banten setiap melakukan perlawanan
terhadap VOC.

1. Sultan Hasanuddin
2. Sultan Allaudin
3. Muhammad Said

Perang maluku yang dipimpin oleh Kapitan Pattimura pada awalnya terjadi ketika Belanda
kembali berkuasa pada tahun 1817, monopoli diberlakukan lagi. Diberlakukan lagi sistem
ekonomi uang kertas yang sangat dibenci dan keluar perintah sistem kerja paksa (rodi). Belanda
tampaknya juga tidak mau menyokong dan memerhatikan keberadaan gereja Protestan dan
pengelolaan sekolah-sekolah protestan secara layak, Pada masa pemerintahan kolonial Hindia
Belanda, monopoli di Maluku terus dijalankan. Beban rakyat semakin berat. Selain penyerahan
wajib, masih juga harus dikenai kewajiban kerja paksa, penyerahan ikan asin, dendeng, dan
kopi. Mereka yang melanggar ditindak tegas. Tindakan pemerintah Hindia Belanda tersebut
semakin menimbulkan penderitaan
dan kesengsaraan terhadap rakyat, inilah yang menjadi penyebab rakyat marah dan meletusnya
perang maluku. Rakyat Saparua (Maluku) berjuang menentang pemerintah kolonial Belanda di
bawah pimpinan Pattimura atau Thomas Matulessy dan pejuang wanita Christina Martha
Tiahahu.

Patimura merupakan seorang pemuda yang berani melakukan pemberontakan terhadap


pemerintah kolonial Belanda pada Juli–Desember 1817. Pattimura pemimpin perlawanan rakyat
Maluku (Saparua) terhadap Belanda pada tahun 1817, meninggal pada tanggal 16 Desember
1817 di tiang gantungan.
Perlawanan rakyat Maluku diawali dengan membakar perahu Pos di Porto (pelabuhan) pada
15 Mei 1817 dan mengepung Benteng Duurstede. Keesokan harinya rakyat berhasil menguasai
benteng dan menembak mati Residen Maluku, Van De Berg. Pada 14 Mei 1817, Pattimura mulai
memimpin perlawanan kepada Belanda, terutama di Porto. Belanda kesulitan, akhirnya Belanda
meminta bantuan dari Ambon. Dikirimlah pasukan sebanyak 200 orang pada Juli 1817. Untuk
kedua kalinya Belanda datang ke Saparua dan berhasil menguasai Benteng Duurstede pada
Agustus 1817.
Pejuang Maluku kemudian melanjutkan perjuangan dengan sistem gerilya. Belanda ingin
secepatnya menangkap pemimpin-pemimpin perlawanan. Selain mengerahkan pasukan yang
banyak, Belanda juga mengumumkan bahwa mereka akan diberi hadiah 100 Gulden bagi siapa
saja yang dapat menangkap Pattimura dan 500 Gulden untuk pemimpin-pemimpin lainnya. Akan
tetapi, rakyat Maluku tidak tergiur oleh hadiah tersebut. Pada Oktober 1817, Belanda
berkeinginan untuk segera menyelesaikan perang. Untuk itulah pada bulan tersebut Belanda
mengerahkan pasukannya secara besar-besaran. Akhirnya, Pattimura dan pemimpin-peminpin
lainnya dapat ditangkap Belanda, dan pada 16 Desember 1817 Pattimura dihukum gantung di
Kota Ambon. Dalam Perang Maluku dikenal pula pahlawan wanita, Christina Martha Tiahahu
dan sering dijuluki Mutiara dari Timur, yang ikut
berjuang melawan Belanda sekalipun usia yang masih muda (17 tahun) dan wafat 1 Januari
1818 dalam pengasingan (pembuangan) di Pulau Jawa.

Latar Belakang Terjadinya Perlawanan Pattimura


Maluku termasuk daerah yang paling awal didatangi oleh Belanda yang kemudian berhasil
memaksakan monopoli perdagangan. Rempah-rempah Maluku hanya boleh dijual kepada
Belanda. Kalau tidak dijual kepada Belanda, maka mereka dicap sebagai penyelundup dan
pembangkang. Maka latar belakang terjadinya perlawanan rakyat Maluku di bawah pimpinan
Thomas Matulessi yang lebih dikenal dengan nama Kapiten Pattimura, adalah sebagai berikut.
1. Kembalinya pemerintahan kolonial Belanda di Maluku
dari tangan Inggris. Perubahan penguasa dengan sendirinya membawa perubahan
kebijaksanaan dan peraturan. Apabila perubahan itu menimbulkan banyak kerugian atau
penghargaan yang kurang, sudah barang tentu akan menimbulkan rasa tak puas dan
kegelisahan.
2. Pemerintah kolonial Belanda memberlakukan kembali penyerahan wajib dan kerja wajib. Pada
zaman pemerintahan Inggris penyerahan wajib dan kerja wajib (verplichte leverantien,
herendiensten) dihapus, tetapi pemerintah Belanda mengharuskannya lagi. Tambahan pula tarif
berbagai barang yang disetor diturunkan, sedang pembayarannya ditunda-tunda.
3. Pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan uang kertas sebagai pengganti uang logam yang
sudah berlaku di Maluku, menambah kegelisahan rakyat.
4. Belanda juga mulai menggerakkan tenaga dari kepulauan Maluku untuk menjadi Serdadu
(Tentara) Belanda.

Jalannya Perang Maluku


Protes rakyat di bawah pimpinan Pattimura diawali dengan penyerahan daftar keluhan-
keluhan kepada Belanda. Daftar itu ditandatangani oleh 21 penguasa orang kaya, patih, raja dari
Saparua dan Nusa Laut. Namun tidak mendapat tanggapan dari Belanda. Pada tanggal 3 Mei
1817 kira-kira seratus orang, di antaranya Pattimura berkumpul di hutan Warlutun dan
memutuskan untuk menghancurkan benteng di Saparua dan membunuh semua penghuninya.
Pada tanggal 9 Mei berkerumunlah lagi sejumlah orang yang sama di tempat tersebut. Dipilihnya
Pattimura sebagai kapten.
Serangan perang maluku dimulai pada tanggal 15 Mei 1817 dengan menyerbu pos Belanda di
Porto. Residen Van den Berg dapat ditawan, namun kemudian dilepas lagi. Keesokan harinya
rakyat mengepung benteng Duurstede dan direbut dengan penuh semangat. Seluruh isi benteng
itu dibunuh termasuk residen Van den Berg beserta keluarga dan para perwira lainnya. Rakyat
Maluku berhasil menduduki benteng Duurstede. Setelah kejadian itu, Belanda mengirimkan
pasukan yang kuat dari Ambon lengkap dengan persenjataan di bawah pimpinan Mayor Beetjes.
Ekspedisi ini berangkat tanggal 17 Mei 1817. Dengan perjalanan yang melelahkan, pada tanggal
20 Mei 1817 pasukan itu tiba di Saparua dan terjadilah pertempuran dengan pasukan Pattimura.
Pasukan Belanda dapat dihancurkan dan Mayor Beetjes mati tertembak.
Belanda berusaha mengadakan perundingan dengan Pattimura namun tidak berhasil
sehingga peperangan di maluku terus berkobar. Belanda terus-menerus menembaki daerah
pertahanan Pattimura dengan meriam, sehingga benteng Duurstede terpaksa dikosongkan.
Pattimura mundur, benteng diduduki Belanda, tetapi kedudukan Belanda dalam benteng menjadi
sulit karena terputus dengan daerah lain. Belanda minta bantuan dari Ambon. Setelah bantuan
Belanda dari Ambon yang dipimpin oleh Kapten Lisnet dan Mayer datang, Belanda mengadakan
serangan besar-besaran (November 1817).

Pejuang-pejuang Indonesia yang memberontak terhadap kekuasaannya, digantung secara


besar-besaran oleh pemerintah kolonial Belanda

Akhir Perang Maluku


Serangan Belanda tersebut, menyebabkan pasukan Pattimura saat perang maluku semakin
terdesak. Banyak daerah yang jatuh ke tangan Belanda. Para pemimpinnya juga banyak yang
tertangkap yaitu Rhebok, Thomas Pattiwael, Pattimura, Raja Tiow, Lukas Latumahina, dan
Johanes Mattulessi. Pattimura sendiri akhirnya tertangkap di Siri Seri yang kemudian dibawa ke
Saparua. Belanda membujuk Pattimura untuk diajak kerja sama, namun Pattimura menolak.
Oleh karena itu, pada tanggal 16 Desember 1817 Pattimura dihukum gantung di depan benteng
Victoria Ambon. Sebelum digantung, Pattimura berkata ”Pattimura-Pattimura tua boleh
dihancurkan, tetapi sekali waktu kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit”.
Tertangkapnya para pemimpin rakyat Maluku yang gagah berani tersebut menyebabkan
perjuangan rakyat Maluku melawan Belanda melemah dan akhirnya Maluku dapat dikuasai oleh
Belanda.

Kapiten pattimura
anthony rybok
paulus-paulus tiahahu
martha cristina tiahahu
thomas pattiwawel
said perintah
latumahina

Perang Diponegoro yang juga dikenal dengan sebutan Perang Jawa (Inggris:The Java
War, Belanda: De Java Oorlog adalah perang besar dan berlangsung selama lima tahun (1825-
1830) di Pulau Jawa, Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Perang ini merupakan salah satu
pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama masa pendudukannya
di Nusantara, melibatkan pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal Hendrik Merkus de
Kock[7] yang berusaha meredam perlawanan penduduk Jawa di bawah pimpinan Pangeran
Diponegoro. Akibat perang ini, penduduk Jawa yang tewas mencapai 200.000 jiwa, sementara
korban tewas di pihak Belanda berjumlah 8.000 tentara Belanda dan 7000 serdadu pribumi.
Akhir perang menegaskan penguasaan Belanda atas Pulau Jawa.[8]
Berkebalikan dari perang yang dipimpin oleh Raden Ronggo sekitar 16 tahun sebelumnya,
pasukan Jawa juga menempatkan masyarakat Tionghoa di tanah Jawa sebagai target
penyerangan. Namun, meskipun Pangeran Diponegoro secara tegas melarang pasukannya
untuk bersekutu dengan masyarakat Tionghoa, sebagian pasukan Jawa yang berada di pesisir
utara (sekitar Rembang dan Lasem) menerima bantuan dari penduduk Tionghoa setempat yang
rata-rata beragama Islam.[8]

Latar belakang[

Pemerintahan Daendels dan Raffles


Perseteruan pihak keraton Jawa dengan Belanda dimulai semenjak kedatangan
Marsekal Herman Willem Daendels di Batavia pada tanggal 5 Januari 1808. Meskipun ia hanya
ditugaskan untuk mempersiapkan Jawa sebagai basis pertahanan Perancis melawan Inggris
(saat itu Belanda dikuasai oleh Perancis), tetapi Daendels juga mengubah etiket dan tata
upacara lain yang menyebabkan terjadinya kebencian dari pihak keraton Jawa. Ia memaksa
pihak Keraton Yogyakarta untuk memberinya akses terhadap berbagai sumber daya alam dan
manusia dengan mengerahkan kekuatan militernya, membangun jalur
antara Anyerdan Panarukan, hingga akhirnya terjadi insiden perdagangan kayu jati di
daerah mancanegara (wilayah Jawa di timur Yogyakarta) yang menyebabkan terjadinya
pemberontakan Raden Ronggo. Setelah kegagalan pemberontakan Raden Ronggo (1810),
Daendels memaksa Sultan Hamengkubuwana II membayar kerugian perang serta melakukan
berbagai penghinaan lain yang menyebabkan terjadinya perseteruan antar keluarga keraton
(1811). Namun, pada tahun yang sama, pasukan Inggris mendarat di Jawa dan mengalahkan
pasukan Belanda.[8]
Meskipun pada mulanya Inggris yang dipimpin Thomas Stamford Bingley Raffles memberikan
dukungan kepada Sultan Hamengkubuwana II, pasukan Inggris akhirnya menyerbu Keraton
Yogyakarta (19-20 Juni 1812) yang menyebabkan Sultan Hamengkubuwana II diturunkan secara
tidak hormat dan digantikan putra sulungnya, yaitu Sultan Hamengkubuwana III. Perisitwa ini
dikenal dengan nama Geger Sepehi. Inggris memerintah hingga tahun 1815 dan mengembalikan
Jawa kepada Belanda sesuai isi Perjanjian Wina (1814) di bawah Gubernur Jenderal
Belanda van der Capellen. Pada masa pemerintahan Inggris, Hamengkubuwana III wafat dan
digantikan putranya, adik tiri Pangeran Diponegoro, yaitu Hamengkubuwana IV yang berusia 10
tahun (1814), sementara Paku Alam I (Patih Danuredjo) bertindak sebagai wali.[8]

Pengangkatan Hamengkubuwana V dan pemerintahan Smissaert[


Pada tanggal 6 Desember 1822, Hamengkubuwana IV meninggal pada usia 19 tahun. Ratu
Ageng (permaisuri Hamengkubuwana II) dan Gusti Kangjeng Ratu Kencono (permaisuri
Hamengkubuwana IV) memohon dengan sangat kepada pemerintah Belanda untuk
mengukuhkan putra Hamengkubuwana IV yang masih berusia 2 tahun untuk menjadi
Hamengkubuwana V serta tidak lagi menjadikan Paku Alam sebagai wali. Pangeran Diponegoro
selanjutnya diangkat menjadi wali bagi keponakannya bersama dengan Mangkubumi. Sebagai
putra tertua Hamengkubuwana III meskipun bukan dari istri resmi (permaisuri), ia merasa sangat
sakit hati dan sempat berpikir untuk bunuh diri karena kecewa. Pada tahun 1823, tahta keraton
yang seharusnya diduduki wali sultan yang masih balita ternyata ditempati oleh Residen Belanda
saat itu, yaitu Smissaert, sehingga sangat melukai hati masyarakat Yogya dan Pangeran
Diponegoro, meskipun ada kecurigaan bahwa tindakan Smissaert disebabkan kedua ratu tidak
ingin melihat Diponegoro duduk di atas tahta.[8]
Menindaklanjuti pengamatan Van der Graaf pada tahun 1821 yang melihat para petani lokal
menderita akibat penyalahgunaan penyewaan tanah oleh warga Belanda, Inggris, Perancis, dan
Jerman, van der Capellen mengeluarkan dekret pada tanggal 6 Mei 1823 bahwa semua tanah
yang disewa orang Eropa dan Tionghoa wajib dikembalikan kepada pemiliknya per 31 Januari
1824. Namun, pemilik lahan diwajibkan memberikan kompensasi kepada penyewa lahan Eropa.
Keraton Yogyakarta terancam bangkrut karena tanah yang disewa adalah milik keraton sehingga
Pangeran Diponegoro terpaksa meminjam uang kepada Kapitan Tionghoa di Yogyakarta pada
masa itu. Smissaert berhasil menipu kedua wali sultan untuk meluluskan kompensasi yang
diminta oleh Nahuys atas perkebunan di Bedoyo sehingga membuat Diponegoro memutuskan
hubungannya dengan keraton. Putusnya hubungan tersebut terutama disebabkan tindakan Ratu
Ageng (ibu tiri pangeran) dan Patih Danurejo yang pro kepada Belanda. Pada 29 Oktober 1824,
Pangeran Diponegoro mengadakan pertemuan di rumahnya, di Tegalrejo, untuk membahas
mengenai kemungkinan pemberontakan pada pertengahan Agustus. Pangeran Diponegoro
membulatkan tekad untuk melakukan perlawanan dengan membatalkan pajak Puwasa agar para
petani di Tegalrejo dapat membeli senjata dan makanan.[8]

Mulainya perang[sunting | sunting sumber]


Pada pertengahan bulan Mei 1825, Smissaert memutuskan untuk memperbaiki jalan-jalan kecil
di sekitar Yogyakarta. Namun, pembangunan jalan yang awalnya
dari Yogyakarta ke Magelang melewati Muntilan dibelokkan melewati pagar sebelah timur
Tegalrejo. Pada salah satu sektor, patok-patok jalan yang dipasang orang-orang kepatihan
melintasi makam leluhur Pangeran Diponegoro. Patih Danurejo tidak memberitahu keputusan
Smissaert sehingga Diponegoro baru mengetahui setelah patok-patok dipasang. Perseteruan
terjadi antara para petani penggarap lahan dengan anak buah Patih Danurejo sehingga
memuncak di bulan Juli. Patok-patok yang telah dicabut kembali dipasang sehingga Pangeran
Diponegoro menyuruh mengganti patok-patok dengan tombak sebagai pernyataan perang.[8]
Pada hari Rabu, 20 Juli 1825, pihak istana mengutus dua bupati keraton senior yang memimpin
pasukan Jawa-Belanda untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan Mangkubumi di Tegalrejo
sebelum perang pecah. Meskipun kediaman Diponegoro jatuh dan dibakar, pangeran dan
sebagian besar pengikutnya berhasil lolos karena lebih mengenal medan di
Tegalrejo.[8] Pangeran Diponegoro beserta keluarga dan pasukannya bergerak ke barat hingga
Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga keesokan
harinya tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. Pangeran
Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong, sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan
Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai basisnya. Pangeran menempati goa sebelah Barat
yang disebut Goa Kakung, yang juga menjadi tempat pertapaan dia. Sedangkan Raden Ayu
Retnaningsih (selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan
pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur.
Penyerangan di Tegalrejo memulai perang Diponegoro yang berlangsung selama lima tahun.
Diponegoro memimpin masyarakat Jawa, dari kalangan petani hingga golongan priyayi yang
menyumbangkan uang dan barang-barang berharga lainnya sebagai dana perang, dengan
semangat "Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati"; "sejari kepala sejengkal tanah
dibela sampai mati". Sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. Bahkan
Diponegoro juga berhasil memobilisasi para bandit profesional yang sebelumnya ditakuti oleh
penduduk pedesaan, meskipun hal ini menjadi kontroversi tersendiri.[8] Perjuangan Diponegoro
dibantu Kyai Mojo yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan. Dalam perang jawa ini
Pangeran Diponegoro juga berkoordinasi dengan I.S.K.S. Pakubowono VI serta Raden
Tumenggung Prawirodigdoyo Bupati Gagatan.

Perang sabil[sunting | sunting sumber]


Bagi Diponegoro dan para pengikutinya, perang ini merupakan perang jihad melawan Belanda
dan orang Jawa murtad. Sebagai seorang muslim yang saleh, Diponegoro merasa tidak senang
terhadap religiusitas yang kendur di istana Yogyakarta akibat pengaruh masuknya Belanda,
disamping kebijakan-kebijakan pro-Belanda yang dikeluarkan istana.[9]Infiltrasi pihak Belanda di
istana telah membuat Keraton Yogyakarta seperti rumah bordil. Di lain pihak, Smissaert menulis
bahwa Pangeran Diponegoro semakin lama semakin hanyut dalam fanatisme dan banyak
anggota kerajaan yang menganggapnya kolot dalam beragama.[8]
Dalam laporannya, Letnan Jean Nicolaas de Thierry menggambarkan Pangeran Diponegoro
mengenakan busana bergaya Arab dan serban yang seluruhnya berwarna putih. Busana
tersebut juga dikenakan oleh pasukan Diponegoro dan dianggap lebih penting dibandingkan
busana adat Jawa meskipun perang telah berakhir. Laporan Paulus Daniel Portier, seorang indo,
menyebutkan bahwa para tawanan perang Belanda memperoleh ancaman nyawa jika tidak
bersedia masuk Islam.[8]

Jalan peperangan[sunting | sunting sumber]


Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri (yang
sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal) di kedua belah
pihak berlangsung dengan sengit. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh
Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat
dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut
kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur logistik dibangun dari satu
wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh-puluh
kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan di dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru
berlangsung terus sementara peperangan sedang berkecamuk. Para telik sandi dan kurir
bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun strategi
perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah
hujan menjadi berita utama; karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui
penguasaan informasi.
Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan; para
senopati menyadari sekali untuk bekerja sama dengan alam sebagai "senjata" tak terkalahkan.
Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan usaha-usaha untuk gencatan
senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka
terhambat. Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya merupakan "musuh yang tak tampak",
melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika
gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-
mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan
bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang
berjuang di bawah komando Pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak
gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.
Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan
sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Mojo, pemimpin
spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumidan panglima
utamanya Alibasah Sentot Prawirodirjo menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28
Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana,
Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota
laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado,
kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8
Januari 1855.
Berakhirnya Perang Jawa merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini
banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan
Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa.[10] Setelah perang berakhir, jumlah penduduk
Yogyakarta menyusut separuhnya.
Karena bagi sebagian orang Kraton Yogyakarta Diponegoro dianggap pemberontak, konon
keturunan Diponegoro tidak diperbolehkan lagi masuk ke Kraton hingga Sri Sultan
Hamengkubuwono IX memberi amnesti bagi keturunan Diponegoro dengan mempertimbangkan
semangat kebangsaan yang dipunyai Diponegoro kala itu. Kini anak cucu Diponegoro dapat
bebas masuk Kraton, terutama untuk mengurus silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan
diusir.

Akhir Perang[sunting | sunting sumber]


Di sisi lain, sebenarnya Belanda sedang menghadapi Perang Padri di Sumatera Barat.
Penyebab Perang Paderi adalah perselisihan antara Kaum Padri (alim ulama) dengan Kaum
Adat (orang adat) yang mempermasalahkan soal agama Islam, ajaran-ajaran agama, mabuk-
mabukan, judi, maternalisme dan paternalisme. Saat inilah Belanda masuk dan mencoba
mengambil kesempatan. Namun pada akhirnya Belanda harus melawan baik kaum adat dan
kaum paderi, yang belakangan bersatu. Perang Paderi berlangsung dalam dua babak: babak I
antara 1821-1825, dan babak II.
Untuk menghadapi Perang Diponegoro, Belanda terpaksa menarik pasukan yang dipakai perang
di Sumatera Barat untuk menghadapi Pangeran Diponegoro yang bergerilya dengan gigih.
Sebuah gencatan senjata disepakati pada tahun 1825, dan sebagian besar pasukan dari
Sumatera Barat dialihkan ke Jawa. Namun, setelah Perang Diponegoro berakhir (1830), kertas
perjanjian gencatan senjata itu disobek, dan terjadilah Perang Padri babak kedua. Pada
tahun 1837 pemimpin Perang Paderi, Tuanku Imam Bonjol akhirnya ditangkap. Berakhirlah
Perang Padri.
Setelah perang Dipenogoro, pada tahun 1932 seluruh raja dan bupati di Jawa tunduk menyerah
kepada Belanda kecuali bupati Ponorogo Warok Brotodiningrat III, justru hendak menyerang
seluruh kantor belanda yang berada di kota-kota karesidenan Madiun dan di jawa tengah seperti
Wonogori, karanganyar yang banyak di huni oleh Warok.[1]
Dalam catatan Belanda, para Warok yang memiliki skill berperang dan ilmu kebal sangat
tangguh bagi pasukan Belanda. Maka dari itu untuk menghindari yang merugikan pihak Belanda,
terjadinya sebuah kesepakatan untuk di buatkanlah kantor Bupati di pusat Kota Ponorogo, serta
fasilatas penunjang seperti jalan beraspal, rel kereta api, kendaran langsung dari Eropa seperti
Mobil, motor hingga sepeda angin berbagai merek, maka tidak heran hingga saat ini kota
dengan jumlah sepeda tua terbanyak berada di ponorogo yang kala itu di gunakan oleh para
Warok juga.[2]
Para tokoh yang terlibat dalam Perang Diponegoro antara lain:

1) Ratu Ageng yang merupakan ibu tiri dari pangeran Diponegoro, yang lebih pro
terhadap belanda

2) Patih Danurejo, patih yang bekerja sama den pro terhadap belanda

3) Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan yang membantu pangeran Diponegoro.

4) Pangeran mangkubumi yang sejak awal mandukung pemberontakan pangeran


diponegoro di tegalrejo.

5) I.S.K.S. Pakubowono VI, membantu dan mndukung pangeran diponegoro.


6) Raden Tumenggung Sentot Alibasyah Prawirodigdoyo Bupati Gagatan yang
merupakan panglima utama dalam peperangan dan memberi dukungan kepada pangeran
diponegoro, yang pada akhirnya menyerahkan diri kepada belanda setelah kyai mojo dan
pangeran mangkubumi ditangkap.

perjuangan rakyat Batak dipimpin oleh Sisingamangaraja XII yang mengepalai


tanah Batak yang berpusat di daerah Toba dan sekitarnya. Pada pertengahan abad ke-
19, Belanda mulai menduduki daerah-daerah Tapanuli.Pada tahun 1878 Belanda
mulai dengan gerakan militernya menyerang daerah Tapanuli, sehingga meletus
Perang Tapanuli dari tahun 1878 sampai tahun 1907. Pada masa pemerintahan Si
Singamangaraja XII, kekuasaan kolonial Belanda mulai memasuki daerah Tapanuli.
Belanda ingin mewujudkan Pax Netherlandica yang dilakukan dengan berlindung di
balik kegiatan zending yang mengembangkan agama Kristen. Belanda menempatkan
pasukannya di Tarutung dengan dalih melindungi penyebar agama Kristen. Si
Singamangaraja XII tidak menentang usaha-usaha mengembangkan agama Kristen
tetapi ia tidak bisa menerima tertanamnya kekuasaan Belanda di wilayah
kekuasaannya.

Sisingamangaraja XII merupakan pahlawan Batak asal Sumatra Utara yang gugur
ketika berperang dengan Belanda.

Sebab-Sebab Perlawanan Rakyat Batak


1. Pemerintah Hindia Belanda berkali-kali mengirimkan ekspedisi militernya untuk
menaklukkan daerah-daerah di Sumatera Utara antara lain Mandailing, Angkola,
Padang Lawas, Sipirok, Tapanuli, dan sekitarnya.
2. Peristiwa terbunuhnya Tuan na Balon (Sisingamangaraja X). Hal ini rakyat mulai
hati-hati dan tidak simpati dengan masuknya penjajah Belanda ke tanah Batak.
3. Adanya perluasan agama Kristen di daerah Batak. Hal ini dianggap oleh
Sisingamangaraja XII sebagai hal yang membahayakan tanah Batak dan
menggoyahkan kedudukannya.

Jalannya Perlawanan Batak yang dipimpin Oleh Sisingamangaraja XII


Menghadapi perluasan wilayah pendudukan yang dilakukan oleh Belanda, pada
bulan Februari 1878 Si Singamangaraja XII melancarkan serangan terhadap pos
pasukan Belanda di Bahal Batu, dekat Tarutung (Tapanuli Utara). Pertempuran
merebak sampai ke daerah Buntur, Bahal Batu, Balige, Si Borang-Borang, dan
Lumban Julu. Dengan gigih rakyat setempat berjuang saling bahu membahu
berlangsung sampai sekitar 7 tahun.
Pertempuran pertama terjadi di Toba Silindung. Masuknya pasukan militer Belanda
ke Silindung, segera dijawab oleh Sisingamangaraja XII (Patuan Basar Ompu Pula
Batu) dengan pernyataan perang. Dalam menghadapi serangan Belanda, rakyat Batak
memiliki dua macam benteng pertahanan yaitu benteng alam dan benteng buatan.
Pertempuran terus menjalar ke Bahal Batu. Namun karena pasukan Sisingamangaraja
XII terdesak, akhirnya menyingkir. Pertempuran terus terjadi antara lain di Blitar,
Lobu Siregar, dan Upu ni Srabar.
Selanjutnya pertempuran sengit juga terjadi di Bakkora atau Lumbung raja, yaitu
tempat tinggal Sisingamangaraja. Karena terdesak pasukan Sisingamangaraja XII
menyingkir ke Paranginan dan menyingkir lagi ke Lintung ni Huta. Berturut-turut
daerah-daerah yang jatuh ke tangan Belanda yaitu Tambunan, Lagu Boti, Balige,
Onang geang-geang, Pakik Sabungan dan Pintu Besi. Selain itu daerah-daerah lain
yang mengadakan perlawanan tapi dapat dipadamkan oleh Belanda adalah Tangga
Batu dan Pintu Batu. Sampai akhir abad ke-19, Sisingamangaraja XII masih giat
melakukan perlawanan-perlawanan bekerja sama dengan para pejuang Aceh.
Memasuki tahun 1900, kekuatan pasukan Sisingamangaraja XII mulai melemah. Para
pengikutnya banyak yang menyerah kepada Belanda. Pada 1904, Belanda
melancarkan gerakan pembersihan di daerah Aceh dan Batak dengan pasukan
Marsose yang dipimpin oleh Letnan Kolonel van Dallen, yang dikenal dengan Gayo
Alas en Batak Stochten.

Akhir Perlawanan
Dengan meluasnya daerah yang jatuh ke tangan Belanda maka daerah gerak
Sisingamangaraja semakin kecil dan pengikutnya semakin berkurang. Dalam beberapa
pertempuran pasukan Sisingamangaraja XII dapat terdesak dan Belanda berhasil
menawan keluarga Sisingamangaraja XII. Pada Juni 1907, Sisingamangaraja XII
terkepung oleh Belanda. Dalam keadaan yang lemah, Si Singamangaraja XII bersama
putra-putra dan pengikutnya mengadakan perlawanan. Dalam perlawanan ini, seorang
putri Sisingamaraja, Lapian serta dua putranya, Sultan Nagari dan Patuan Anggi,
gugur. Dengan sisa kekuatan terakhir ia menyerang serdadu kompeni dengan
rencongnya. Akan tetapi, sebelum rencong dapat mengenai sasaran, ia telah roboh
ditembak serdadu marsose. Dalam pertempuran di daerah Dairi, Sisingamangaraja
tertembak dan gugur pada tanggal 17 Juni 1907. Dengan gugurnya Sisingamangaraja
XII, maka seluruh daerah Batak jatuh ke tangan Belanda.
Pangeran Sisingamangaraja XII ,di bantu putrinya Lopian dan dua orang putranya Sutan
Nagari dan Patuan yang pada akhirnya gugur semua tahn 1907 tanggal 17 juni

TOKOH BELANDA :

Van Dai Lent dan Kapten Cristopher

 Pangeran Hidayatullah.
 Pangeran Antasari.
 Aling.
 Tumenggung Antaludin - pemimpin benteng Gunung Madang.
 Tumenggung Surapati.
 Demang Lehman.
 Panglima Bukhari.
 Tumenggung Jalil - pemimpin benteng Tundakan.

Kapal uap Celebes berperang melawan benteng rakit apung yang disebut Kotamara dikemudikan orang
Dayak pada tanggal 6 Agustus 1859 di pulau Kanamit, sungai Barito.

Perang Banjar (1859-1905)[1][2][3] adalah perang perlawanan terhadap penjajahan kolonial


Belanda yang terjadi di Kesultanan Banjar yang meliputi wilayah provinsi Kalimantan Selatan
dan Kalimantan Tengah.
Perang Banjar[4][5][6] berlangsung antara 1859 -1905 (menurut sumber Belanda 1859-1863[7][8]).
Konflik dengan Belanda sebenarnya sudah mulai sejak Belanda memperoleh hak monopoli
dagang di Kesultanan Banjar. Dengan ikut campurnya Belanda dalam urusan kerajaan,
kekalutan makin bertambah. Pada tahun 1785, Pangeran Nata yang menjadi wali putra mahkota,
mengangkat dirinya menjadi raja dengan gelar Sultan Tahmidullah II (1785-1808) dan
membunuh semua putra almarhum Sultan Muhammad. Pangeran Amir, satu-satunya pewaris
tahta yang selamat, berhasil melarikan diri lalu mengadakan perlawanan dengan dukungan
pamannya Gusti Kasim (Arung Turawe), tetapi gagal. Pangeran Amir (kakek Pangeran Antasari)
akhirnya tertangkap dan dibuang ke Ceylon (kini Sri Langka).[9][10]

Strategi Perang[sunting | sunting sumber]


Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari menggunakan strategi perang gerilya dengan
membuat kerajaan baru di pedalaman dan membangun benteng-benteng pertahanan di hutan-
hutan. Semangat perlawanan dari persatuan rakyat Banjar dan Dayak diikat dengan relasi
kekeluargaan dan kekerabatan melalui ikatan pernikahan. Ikatan tersebut melahirkan status
pegustian dan temenggung yang menjadi sarana pemersatu dan solidaritas Banjar-
Dayak menghadapi Belanda.[11]
Pangeran Antasari juga menggalang kerja sama dengan Kesultanan Kutai Kertanegara melalui
kerabatnya di Tenggarong. Pangeran Antasari menyurati pangeran-pangeran lainnya dari Kutai
seperti Pangeran Nata Kusuma, Pangeran Anom, dan Kerta. Mereka semua adalah mata rantai
penyelundupan senjata api dari Kutai ke Tanah Dusun (Banjar). Namun, ketika Perang Banjar
dilanjutkan oleh keturunan Pangeran Antasari, Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman tidak
merespons positif permintaan bantuan dari Pangeran Perbatasari. Bahkan, Pangeran
Perbatasari diserahkan kepada Belanda pada 1885.[11]

Medan Perang[sunting | sunting sumber]


Daerah pertempuran berada di daerah Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah.
Termasuk di daerah sungai Barito.

Akhir perang[sunting | sunting sumber]


Setelah Pangeran Hidayatullah tertangkap dan Pangeran Antasari wafat, perjuangan tetap
berlanjut yang di pimpin oleh Gusti Mat Seman, Gusti Acil, Gusti Muhammad Arsyad, dan
Antung Durrahman. Oleh pemimpin-pemimpin tersebut, rakyat masih bergerilya dengan se-
sekali melakukan serangan kepada Belanda sampai awal abad ke-20.

Akibat perang[sunting | sunting sumber]


 Bidang politik.

1. Daerah Kalimantan Selatan dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah kolonial Belanda.


2. Dibubarkannya negara Kesultanan Banjar.

 Bidang ekonomi
Dikuasainya tambang batubara dan perkebunan di daerah Kalimantan Selatan