Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Studi yang baru-baru ini dilakukan oleh industri investasi efek menemukan bahwa
hampir separuh rumah tinggal di AS memiliki investasi pada saham biasa. Kinerja jangka
panjang pasar saham AS selama ini telah memberikan hasil yang cukup baik. Selama 75
tahun terakhir, terbukti rata-rata pengembalian tahunan pasar telah melebihi 12 persen.
Namun, tidak ada jaminan kinerja saham di masa depan akan sama seperti kinerjanya di
masa lalu. Pasar saham tidak selalu bergerak naik, dan investor dapat menerima atau
kehilangan uang dalam waktu singkat. Misalnya, pada tahun 2004, saham Apple Computer
naik lebih dari tiga kali lipat akibat tingginya penjualan produk-produk iPod. Sementara itu,
saham Merck turun lebih dari 30 persen pada tahun 2004 ketika perusahaan diminta untuk
menarik Vioxx, salah satu produk obatnya yang laris.
Pasar secara luas yang diwakili oleh rata-rata industry Dow Jones turun 2,6 persen
sepanjang kuartal pertama tahun 2005. Pemicu penurunan tersebut adalah kekhawatiran akan
naiknya tingkat bunga, harga minyak yang melambung, dan turunnya keyakinan konsumen.
Sepanjang kuartal tersebut, beberapa perusahaan besar mengalami penurunan yang jauh lebih
besar lagi-misalnya, Microsoft turun 9,5 persen, Home Depot 10,5 persen, dan General
Motors 26,6 persen. Ini menunjukkan, pertama, diversifikasi merupakan suatu hal yang
penting; kedua, dalam hal pemilihan saham, memilih perusahaan yang bagus saja tidaklah
cukup-saham tersebut juga harus dihargai secara “wajar”.
Untuk menentukan apakah suatu saham telah dihargai secara wajar, pertama, Anda perlu
mengestimasikan nilai saham yang sebenarnya atau “nilai intrinsiknya”. Berdasarkan tujuan
tersebut, makalah ini akan menjelaskan beberapa model yang digunakan oleh para analis
untuk mengestimasikan nilai intrinsic suatu saham. Seperti yang akan Anda lihat,
meramalkan harga saham di masa depan adalah suatu hal yang sulit untuk dilakukan, tetapi
kita tidak sepenuhnya berada dalam kegelapan.

1.2.Rumusan Masalah
1) Apa itu saham?
2) Apa saja yang termasuk ke dalam jenis-jenis saham?
3) Apa saja karakteristik saham?
4) Bagaimana cara menilai suatu saham?

1.3.Tujuan
1) Untuk mengetahui apa itu saham
2) Untuk mengetahui jenis-jenis saham
3) Untuk mengetahui karakteristik suatu saham
4) Untuk mengetahui bagaimana cara menilai saham
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Saham


Menurut Tjiptono Darmaji dan Hendy M. Fakhrudin (2006:178) “Saham dapat di
definisikan sebagai tanda atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau
perseroan terbatas. Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik
kertas adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. porsi
kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan
tersebut”.
Sedangkan menurut Tandelilin (2001) saham adalah surat bukti bahwa kepemilikkan
atas aset-aset perusahaan yang menerbitkan saham.
Maka disimpulkan bahwa saham merupakan surat berharga yang menunjukkan atas
kepemilikkan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan.

2.2. Jenis-jenis Saham


Saham berdasarkan manfaat yang diperoleh oleh pemilik, dibedakan menjadi dua
jenis, yaitu:
1. Saham Biasa
Saham biasa merupakan sumber keuangan utama yang harus ada pada suatu
perusahaan publik dan merupakan surat berharga yang paling umum dan dominan di
perdagangkan di bursa efek (Bodie et al, 2002:97).
Meskipun sebagian besar perusahaan hanya memiliki satu jenis saham biasa, terkadang
digunakan saham terklasifikasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan khusus.
Biasanya, ketika digunakan klasifikasi khusus, satu jenis akan disebut kelas A, jenis
lainnya disebut kelas B dan seterusnya.
a. Valuasi Saham Biasa
Saham mencerminkan andil kepemilikan dalam suatu perusahaan. Namun, bagi
investor pada umumnya, selembar saham biasa hanyalah selembar kertas yang
dicirikan dengan dua fitur berikut ini:
1) Saham biasa memberikan hak atas dividen kepada pemiliknya, tetapi hanya jika
perusahaan memiliki laba yang cukup untuk membayar dividen dan manajemen
memilih untuk membayarkan dividen daripada mempertahankan dan
menginvestasikan kembali seluruh laba. Jika obligasi memiliki janji untuk
membayar bunga, saham biasa tidak memberikan janji seperti itu, jika anda
memiliki saham, anda dapat berharap akan menerima dividen, tetapi harapan
tersebut pada kenyataannya tidak terjadi. Sebagai ilustrasi, Long Island Lighting
Company atau (LILCO) telah membayarkan dividen atas saham biasanya selama
lebih dari 50 tahun, dan para investornya berharap dividen tersebut akan terus
dibayarkan namun, ketika perusahaan menghadapi masalah yang berat beberapa
tahun lalu, perusahaan berhenti membayarkan dividen. Namun, perlu dicatat,
LILCO tetap membayarkan bunga atas obligasinya. Jika tidak melakukan hal
tersebut, maka perusahaan harus mengumumkan kebangkrutannya dan pemegang
obligasi dapat mengambil alih perusahaan.
2) Saham dapat dijual, dan harapannya dengan harga lebih tinggi daripada harga
belinya. Jika saham ternyata dijual pada harga diatas harga belinya, maka investor
akan menerima keuntungan modal (capital gain). Biasanya, ketika membeli
saham biasa, seseorang berharap akan menerima keuntungan modal; karena jika
tidak, ia tidak akan membeli saham tersebut. Namun, pada kenyataannya, ia bisa
saja mendapatkan kerugian modal, bukan keuntungan modal. Harga saham
LILCO turun dari $17,50 menjadi $3,75 dalam waktu satu tahun sehingga
keuntungan modal yang diharapkan atas saham tersebut ternyata menjadi
kerugian modal actual yang sangat besar.

Definisi Istilah-istilah yang digunakan dalam Model Valuasi Saham

Dt = dividen yang diharapkan akan diterima oleh para pemegang saham pada
akhir Tahun ke-t.
PO = harga pasar actual saham hari ini.
^
Pt = harga saham yang diharapkan pada akhir setiap Tahun ke-t (dibaca “P
^
topi t”). Pt merupakan nilai intrinsic saham hari ini seperti yang dilihat
oleh investor yang sedang melakukan analisis; Pt adalah harga yang
diharapkan pada akhir satu tahun; dan seterusnya.
g = tingkat pertumbuhan (growth rate) dividen yang diharapkan seperti
diramalkan oleh investor marginal. Jika dividen diharapkan tumbuh
dengan tingkat yang konstan, maka g akan sama dengan tingkat
pertumbuhan laba dan harga saham yang diharapkan. Investor yang
berbeda menggunakan nilai g yang berbeda pula untuk mengevaluasi
saham suatu perusahaan, tetapi harga pasar, P0, ditentukan
menggunakan basis g seperti yang diestimasikan oleh investor
marginal.
rs = tingkat pengembalian yang diminta, atau minimal yang dapat diterima
atas saham, dengan mempertimbangkan resiko dan pengembalian yang
tersedia dari investasi lain.
^r = tingkat pengembalian yang diharapkan investor diharapkan akan
s
diterima dimasa ^depan. Nilai rs (dibaca “r topi s”) dapat diatas atau
^
dibawah nilai rs, tetapi hanya akan membeli saham jika nilai rs sama
dengan atau lebih dari nilai rs.
-rs = tingkat pengembalian actual atau terealisasi setelah terjadi. Anda dapat
berharap mendapatkan pengembalian sebesar - rs = 10% jika anda
membeli saham hari ini. Namun jika pasar menurun, anda mungkin
akan mendapatkan nilai pengembalian actual terealisasi yang jauh lebih
rendah pada tahun depan, bahkan negatif.
D1/P0 = imbal hasil dividen yang diharapkan atas saham sepanjang tahun
berikutnya.
^
P 1 – P0 = imbal hasil keuntungan modal yang diharapkan atas saham
P0 sepanjangtahun berikutnya

Pengembalian yang diharapkan = rs = imbal hasil dividen yang diharapkan (D1/P0)


^
ditambah imbal hasil keuntungan yang diharapkan [(P 1 – P0) P0].

Dividen yang Diharapkan sebagai Basis Nilai Saham


Harga saham sama halnya akan ditentukan dari nilai sekarang aliran arus kas,
dan persamaan valuasi dasar saham sama dengan persamaan valuasi obligasi.
Apakah arus yang diberikan perusahaan kepada pemegang sahamnya? Pertama,
bayangkanlah diri anda sebagai seorang investor yang membeli saham dengan tujuan
memiliki (dalam keluarga anda) terima adalah aliran dividen, dan nilai saham hari ini
seperti yang dihitung sebagai nilai sekarang dari aliran dividen yang tak terhingga:

^
Nilai saham = P0 = PV dividen yang diharapkan diterima di masa depan
D1 D2 D͚
= + (1+rs)2 +….+
(1+rs)1 (1+rs)
͚
=∑ D1
𝑡=1 (1+rs)1

2. Saham Preferen
Saham preferen sama dengan saham biasa karena tidak memiliki tanggal jatuh
tempo, dividen tidak dibayarkan tidak menyebabkan kebangkrutan, dan dividen tidak
dapat mengurangi pembayaran pajak. Saham preferen memiliki hak untuk didahulukan
dalam pembagian laba dan sisa aset dalam likuidasi dibandingkan dengan saham biasa.
Saham preferen merupakan saham yang memiliki karakteristik gabungan antar
obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga dan
obligasi), tetapi juga bisa mendatangkan hasil yang dikehendaki investor (Fakhrudin,
2001).
Ukuran dividen saham perferen pada umumnya ditetapkan baik dalam jumlah dollar
maupun sebagai presentasi dari nilai nominal saham. Sebagai contoh, American Express
mengeluarkan saham preferen senilai $1,75, padahal Citigroup mempunyai saham
preferen beredar sebesar 6,2231%. Nilai nominal saham preferen Citigroup adalah $250;
karenanya, setiap saham membayar 6,231% x $250, atau deviden setiap tahun $15,58.
Karena deviden-deviden ini tetap, pemegang saham preferen tidak memperoleh sisa
pendapatan perusahaan melainkan terbatas pada deviden tahunan yang ditetapkan.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, saham preferen memberikan hak kepada
pemiliknya atas pembayaran dividen secara rutin dan dalam jumlah tetap. Jika
pembayaran tersebut dilakukan untuk selama-lamanya, maka ini merupakan suatu
permasalahan perpetuitas dimana nilainya, v akan dihitung sebagai berikut:
Dp
Vp =
rp