Anda di halaman 1dari 5

Ringkasan

Topik Farmakoekonomi
By: Putri Ramadheni, M.Farm, Apt
Reference: Dipiro, et all, 2011

Biaya Pelayanan Kesehatan:


1. Biaya kesehatan langsung: pengobatan, tes laboratorium, jasa tenaga medis, biaya RS
2. Biaya non medis langsung: transportasi, makanan, family care, home aides
3. Biaya non medis tidak langsung: morbiditas, mortalitas
4. Intangible: nyeri, kenyamanan, kerepotan,
5. Oportunity: kehilangan kesempatan, kehilangan pendapatan

Nilai-nilai yang harus diperhatikan dalam Farmakoekonomi:


1. Ekonomi
2. Kemanusiaan
3. Outcome klinis

Metode yang digunakan dalam farmakoekonomi


1. Cost Minimal Analysis (CMA)
CMA adalah suatu analisa mengenai obat yang outcome dan efektifitasnya dianggap
ekuivalen (Sama), yang beda mungkin cuma regiman dose, atau administration (cara
pemberiannya ajah), atau juga antara obat me too dengan generiknya yang dianggap
memiliki efektivitas dan outcome yang equivalent.
Metodenya sangat sederhana, contoh obat A diberikan 3x sehari tablet biasa, dan obat
B 1xsehari sustain release. Dianggap kedua obat efektifitasnya sama, dan outcomenya
eqivalent. Hanya dilihat, di antara kedua obat tersebut, manakah yang lebih cost
minimal.
Kekurangan CMA adalah : analisis ini mengabaikan efektifitas (hanya menganggap
sama), walaupun sebetulnya efektifitasnya sebenarnya beda, hanya meliha mana yang
disegi cost lebih murah.
2. Cost benefit Analysis (CBA)
Cost benefit analysis ini menilai benefit yang kita peroleh dari suatu terapi maupun
suatu program di mana outcomenya dinilai dalam bentuk moneter. Jadii, benefit yang

1
kita peroleh dikonversikan ke moneter dulu. CBA ini dapat digunakan untuk
menganalisa dua program yang sama sekali berbeda, karena outcome nya sama-sama
moneter. CBA ini dapat menganalisa dalam skala makro, kaya skala 1 negara atau
satu propinsi. Dan satu-satunya analisa farmakoekonomi yang bisa menilai 1 program
saja dengan menghitung NET BENEFITNYA. Bagi pemerintah, kebanyakan yang
digunakan adalah CBA ini.
Contohnya : Pemerintah ingin menilai, program manakah yang lebih memiliki benefit
yang besar antara program pemberantasan TB atau pemberian vaksin polio.
Cara menghitungnya adalah :
CBA = B/C
C= cost (dalam moneter) dan B = Benefit (dalam moneter)

 Jika nilai CBA > 1 berarti programnya lebih benefit, sebaiknya dilaksanakan

 Jika nilai CBA = 1 berarti ada atau tidak ada program, sama saja

 Jika nilai CBA < 1 berarti program tersebut malah mendatangkan kerugian,

Cara mengitung Net benefit = Benefit-Cost (dalam moneter)

Kekurangan CBA ini adalah : terkadang ada benefit yang intangible, yang tidak bisa
dimoneterkan, sehingga hasilnya jadi bias . Contoh, bagaimana cara merupiahkan
nyeri? Selain itu jika kita hanya menganalisa 1 program saja, agak susah
mengelompokkan yang manakah yang dikategorikan cost dan manakah yang benefit.

3. Cost Effectiveness Analysis (CEA)


CEA merupakan analisa farmakoekonomi yang membandingkan cost-effektivitas
antara pengobatan yang hasilnya atau outcome nya dinilai dari natural unit. CEA tidak
perlu dirupiahkan. Cukup pada natural unitnya. Natural unit itu bisa saja, tekanan
darah, life-saving, kadar gula darah, kolesterol dan lain sebagainya. Hasil akhirnya
adalah dalam bentuk rasio cost efektifitas (ACER = an average Cost Effective Ratio)
ACER = health care cost (dalam moneter)/clinical outcome (dalam natural unit)
Untuk membandingkan dua obat alternatif yang lebih baik, bisa dihitung tambahan
biaya dan efektifitas yang kita dapatkan (ICER = incremental cost effective ratio)

2
ICER = Cost A-Cost B (dalam moneter)/Effect A- Effect B (dalam %) dengan
Formula ICER ini kita dapat melihat berapa tambahan biaya yang diperlukan untuk
mendapatkan effek dari penggantian obat A ke obat B.
Contoh CEA adalah : Obat-obat hipertensi akan dibandingkan antara obat A yang
memiliki mekanisme kerja X dengan obat B yang memiliki mekanisme kerja Y.
Outcome nya adalah penurunan tekanan darah.
 Diketahui obat A dengan harga 25ribu dapat menurunkan tekanan darah 20
mmHg, sementara obat B harganya 35ribu dapat menurunkan tekanan darah
15 mmHg. Jadi, obat A ternyata lebih cost effective dibandingkan obat B.
 Contoh lain : Obat C dengan 150ribu dapat menyelamatkan 30 nyawa. Akan
tetapi obat D dengan 200ribu, tapi dapat menyelamatkan 50 nyawa. Artinya,
walaupun obat D lebih mahal, tapi dari cost-effective, obat D ternyata lebih
baik.

Kekurangan CEA adalah dia hanya dapat menilai obat dengan skala mikro. Hanya
bisa membandingkan obat dengan outcome yang sama. Misal, sama-sama
menurunkan tekanan darah, sama-sama menurunkan kolesterol. Mekanisme kerja
boleh saja berbeda. Tapi, tidak bisa digunakan untuk obat-obat yang berbeda
outcome nya.

4. Cost Utility Analysisi (CUA)


CUA ini sebenarnya adalah analisa farmakoekonomi yang paling komprehensif.
Selain dia menganalisa berdasarkan Cost-Effective, dia juga menilai QALY (Quality-
Adjust Life Years). Jadi, menilai bagaimana kualitas hidup setelah pengobatan pasien
dan outcome nya dinilai berdasarkan QALY.
CUA lebih ditujukan untuk membandingkan program yang sudah ada dengan terapi
alternatif yang mempengaruhi kehidupan karena memiliki efek samping serius seperti
kemoterapi pada pasien kanker.
Kekurangannya : analisa tentang QALY ini rumit

3
4
5