Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM PADA NY.N


DENGAN DIAGNOSA MEDIS P1A0 PARTUS MATURUS DENGAN
SEKSIO CAESAREA ATAS INDIKASI GAWAT JANIN DI ALAMENDAH
RANCABALI (HOME VISIT)
Diajukan untuk memenuhi tugas pada stase keperawatan Maternitas

Oleh :

Trisvina Martias
220112170555

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXXV


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2018
I. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
Nama : Ny. N
Tempat/tgl lahir : Bandung, 03 Mei 1996
Umur : 22 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku Bangsa : Sunda
Pendidikan Terakhir : SMP
Alamat : Kp Mekabaru RT/RW 03/03, Desa Alamendah,
Kec. Rancabali, Kab. Bandung
Diagnosa Medis : P1A0 Partus Maturus Dengan Seksio Caesarea
Atas Indikasi Gawat Janin
Tanggal partus : 26 Juni 2018
Tanggal home visit : 8 Juni 2018
2. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. R
Hubungan dengan pasein : Orang Tua
Agama : Islam
Suku : Sunda
Alamat : Kp Mekabaru RT/RW 03/03, Desa Alamendah,
Kec. Rancabali, Kab. Bandung
3. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Nyeri pada luka operasi
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengeluh nyeri pada luka operasi dengan skala nyeri 1 dari 10
dengan skala numerik, nyeri bertambah jika pasien bergerak dan
berkurang jika istirahat. Klien juga mengeluh nyeri pada puting payudara
sebelah kiri, dikarenakan bayinya hanya menyusu pada ujung puting saja
(salah posisi). Pada saat pengkajian klien POD hari ke 12, klien
mengatakan sudah kontrol ke poli RSHS pada tanggal 5 bulan Juli 2018.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien mengatakan sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit keturunan
seperti hipertensi, DM, penyakit jantung serta penyakit menular lainnya.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan bahwa dikeluarganya tidak memiliki riwayat
hipertensi, DM, dan tidak memiliki riwayat penyakit menular.
e. Pola Kebutuhan Dasar

Kebutuhan Dasar Setelah melahirkan


a. Makan dan Makan : 3x/hari, sekali makan 1 porsi, nasi, lauk pauk,
Minum sayur, buah, pantangan (-), alergi (+) klien mengatakan
gatal-gatal jika makan daging ayam
Minum : ±8 gelas/hari, air putih
b. Istirahat / Tidur Tidur: ± 5-6 jam dengan pola nyenyak tetapi sering
terbangun untuk memberikan ASI
c. Eliminasi BAK BAK ±5-6x/hari, tidak ada keluhan
d. Eliminasi BAB BAB 1x/hari, padat, kuning
e. Personal hyigiene Mandi: 1-2x/hari
Gosok gigi: 2x/hari
Keramas: 2 hari sekali
Gunting kuku: ketika panjang

4. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
Kesadaran compos mentis, klien terlihat tenang
b. Tanda – Tanda Vital
Tekanan darah : 120/80 mmHg Suhu : 36,9 0C
HR : 92x/menit
RR : 20x/menit
c. Kepala
Bentuk kepala simetris, warna rambut hitam, penyebaran rambut merata,
tidak ada rontok, rambut bersih, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan,
tidak ada lesi
d. Mata
Bentuk mata simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
pandangan jelas.
e. Hidung
Hidung simetris, bersih, tidak ada keluaran cairan dari hidung, tidak ada
nyeri tekan
f. Mulut
Mulut simetris, mukosa bibir lembab, lidah merah muda,bersih, gigi bersih,
gigi lengkap, tidak ada gigi berlubang, tidak ada karies gigi
g. Leher
Leher simetris, tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid,
tidak ada nyeri menelan, refleks menelan baik.
h. Paru – paru
Pengembangan dada simetris, tidak terlihat otot bantu napas.
i. Jantung
Dada terlihat simetris
j. Payudara
Payudara simetris, areola mengitam, puting menonjol, ASI keluar, klien
menyusui, payudara teraba lembut, tidak ada pembengkakan atau sumbatan
ASI
k. Abdomen
TFU tidak teraba, kontraksi uterus baik, luka operasi SC tertutup verban,
tidak ada perdarahan, luka SC vertikal sekitar 10 cm, luka kering, nyeri
post operasi (+) nyeri skala 1, distensi kandung kemih (-), bising usus 5
x/menit.
l. Genitalia
Lochea alba, warna putih, tidak ada keluaran darah
m. Ekstremitas
Kekuatan otot ektremitas atas 5/5 ektremitas bawah 5/5, tidak ada luka dan
benjolan pada ektremitas

5. Pengkajian Psikososial
- Konsep diri
a. Citra tubuh
Klien mengatakan senang karena sudah menjadi seorang ibu.
b. Peran diri
Klien mengatakan senang setelah melahirkan anak pertamanya, klien
senang anaknya sehat dan dapat menyusui bayinya setiap saat, klien
mengatakan sudah bisa menggendong dan menyusui bayinya dengan baik.
c. Harga diri
Klien mengatakan memiliki hubungan baik dengan keluarga maupun orang
sekitarnya.
d. Identitas
Klien merasa bahagia karena sudah menjadi seorang ibu.
6. Pengkajian Spiritual
Klien tidak menjalankan ibadah sholat, karena dalam masa nifas.

7. Pengkajian Bayi

1. Nama bayi : By.S


2. Usia : 12 hari
3. Pengkajian Fisiologis
a. Keadaan umum: bersih, menangis kuat, menghisap kuat
b. Tanda-tanda vital
Respirasi : 36x/menit
Suhu : 37,5oC
HR : 110x/menit
c. Kulit
Kulit teraba hangat dengan warna kulit kemerahan, turgor baik
d. Kepala
Bentuk kepala simetris, fontanel datar, tidak ada hematoma.
e. Abdomen
Abdomen teraba lunak, agak cembung

f. Aktivitas
Gerakan bayi normal dan aktif, tonus otot baik.
g. Tali pusat
Tali pusat telah lepas, tidak ada tanda-tanda infeksi.
h. Eliminasi
BAK ±2-3x/jam dengan warna jernih kekuningan.
BAB 1x/hari dengan konsistensi lunak dan warna kekuningan.
i. Pola tidur
Bayi tertidur hampir setiap saat terutama setelah menyusu. Bayi
hanya terbangun sesaat ketika BAK atau menyusu. Bayi diberikan
ASI tiap 3 jam.
j. Feeding
Refleks hisap bayi kuat.
k. Reflek
Sucking (+), rooting (+), babinski (+), startle (+)
l. Pengkajian Psikosial
a. Kemampuan berkomunikasi
Bayi menangis dalam menyampaikan keinginannya seperti haus
dan BAK.
b. Kemampuan orang tua dalam merawat bayi
Klien mengatakan sudah dapat merawat bayinya, namun klien
terkadang dibantu oleh ibunya karena merupakan anak pertama
klien sedikit canggung namun klien sudah bisa dalam memandikan,
menyusui, menggendong, dan mengganti popok bayi.
II. Analisa Data
Masalah
Data Etiologi
Keperawatan
DS : Kehamilan dengan indikasi Nyeri Akut
Klien mengatakan nyeri pada
luka operasi SC ketika Insisi bedah
begerak dan terkadang terasa
perih Luka post operasi

DO: Terputusnya inkontinuitas


Nyeri skala 1 dari 10 skala jaringan
numerik
Luka operasi tertutup verban, Merangsang ujuang saraf bebas
luka sayatan ± 10 cm.
Luka sudah kering Rangsangan dihantarkan ke
thalamus

Cortex cerebri

Nyeri akut
DS: Kehamilan dengan indikasi Defisiensi pengetahuan
- Klien mengatakan nyeri
pada puting payudara Insisi bedah
sebelah kiri dikarenakan
bayinya menyusu pada Kelahiran anak pertama
ujung puting saja
- Klien mengatakan luka Kurang terpapar informasi
pada puting payudara kiri
dan sedikit perih ketika Defisiensi pengetahuan
bayinya menyusu
DO:
III. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
2. Defisiensi pengetahan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi
mengenai manajeman laktasi

IV. Rencana Asuhan Keperawatan


DX Tujuan Intervensi Rasional
1. NOC: Managemen nyeri 1. Penilaian skala nyeri
Pain level 1. Minta pasien untuk menilai berguna dalam
Pain control skala nyeri (1-10) pengawasan
Comfort level 2. Lakukan pengkajian nyeri keefektifan obat
secara komprehensif 2. Pengkajian secara
Setelah dilakukan tindakan termasuk lokasi, komprehensif dapat
keperawatan selama 3 x 24 karakteristik, durasi, menggambarkan
jam, nyeri berkurang dengan fekuensi, kualitas, dan dengan jelas nyeri
kriteria hasil : faktor pencetus yang dirasakan yang
1. Mampu mengontrol nyeri 3. Posisikan pasien semi selanjutnya dapat
(tahu penyebab, mampu fowler atau posisi yang membantu dalam
menggunakan teknik nyaman bagi pasien menetukan intervensi
nonfarmakologi untuk 4. Ajarkan teknik selanjutnya
mengurangi nyeri) nonfarmakologi seperti 3. Posisi nyaman bagi
2. Melaporkan bahwa nyeri napas dalam dan relaksasi pasien dapat
berkurang dengan 5. Monitor ttv mengurangi rasa
menggunakan 6. Kolaborasi analgetik nyeri pasien
managemen nyeri 4. Latihan napas dalam
3. Menyatakan nyeri dan teknik relaksasi
berkurang merupakan metode
4. TTV rentang normal efektif untuk
mengurangi nyeri
DX Tujuan Intervensi Rasional
dengan cara
menurunkan
konsumsi oksigen,
frekuensi napas,
frekuensi jantung,dan
ketegangan otot yang
menghentikan siklus
nyeri-ansietas-
ketegangan otot
5. Tanda-tanda vital
merupakan acuan
untuk mengetahui
keadan umum pasien
6. Analgetik berguna
untuk mengurangi
rasa nyeri
2. NOC: 1. Jelaskan kepada klien Informasi yang benar
Knowledge : disease process tentang tujuan pemberian dapat menambah
Knowledge : health behavior ASI pengetahuan klien dan
2. Jelaskan kepada klien menjadikan pertimbangan
Setelah dilakukan tindakan mengenai posisi menyusui klien untuk memilih alat
keperawatan selama 1 x 24 yang benar kontrasepsi sesuai
jam, kurang pengetahuan 3. Jelaskan kepada klien kondisinya
pasien teratasi dengan kriteria tentang cara memerah ASI
hasil : yang benar
1. Pasien dan keluarga 4. Jelaskan kepada klien
menyatakan mengerti mengenai kelebihan dan
tentang manajemen kekurangan ASI
laktasi
DX Tujuan Intervensi Rasional
2. Pasien dan keluarga
mampu menjelaskan
kembali apa yang
dijelaskan perawat/tim
kesehatan lainnya

V. Implementasi Keperawatan
Nama Pasien : Ny. N Ruangan : Alamendah, Rancabali
No Medrek : Nama Mahasiswa : Trisvina Martias

Diagnosa Tgl/Jam Implementasi Hasil/respon Paraf

Nyeri Akut 8 Juli 1. Melakukan pengkajian S : klien mengatakan Trisvina


2018 nyeri masih sedikit nyeri Martias
2. Memposisikan pasien pada bekas luka
senyaman mungkin operasi.
3. Mengajarkan teknik napas  Klien mengatakan
dalam kontrol ke Poli Obyn
4. Monitoring ttv pada hari kamis
5. Pendkes Manajemen O :
Nyeri  Klien tampak tenang
 Klien mepraktekan
teknik relaksasi nafas
dalam
 Klien mendengarkan
penjelasan tentang
manajemen nyeri
 Klien dapat
bekerjasama dengan
perawat
Defisiensi 1) Jelaskan kepada klien S : Trisvina
pengetahuan tentang tujuan pemberian  Klien mengatakan Martias
ASI memahami apa yang
2) Jelaskan kepada klien dijelaskan oleh
mengenai posisi perawat
menyusui yang benar  Klien mengatakan
3) Jelaskan kepada klien akan mencoba posisi
tentang cara memerah yang benar dalam
ASI yang benar menyusui
4) Jelaskan kepada klien O :
mengenai kelebihan dan  Klien kooperatif
kekurangan ASI selama pendkes
 Klien terlihat
memperhatikan dan
memahami apa yang
dijelaskan oleh
perawat

VI. Evaluasi Keperawatan


Nama Pasien : Ny. N Ruangan : Alamendah, Rancabali
No Medrek: Nama Mahasiswa : Trisvina Martias
Diagnosa Tgl/jam Evaluasi Paraf

Nyeri akut 8 Juli 2018 S : Klien mengatakan masih nyeri namun Trisvina
sudah jauh berkurang dan sudah bisa Martias
melakukan aktivitas sehari-hari
O : Klien tampak tenang
Nyeri skala 1
Tekanan darah : 120/80 mmHg
HR : 92x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36,9 0C
A : Masalah nyeri teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
Defisiensi 8 Juli 2018 S : klien mengatakan sudah memahami Trisvina
Pengetahuan posisi dalam menyusui Martias
Klien mengatakan putingnya perih ketika
menyusui
O:
Klien tampak tenang
Klien memperhatikan apa yang dijelaskan
oleh perawat
A :Masalah teratasi
P: Hentikan intervensi
Lampiran

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)


“CARA MENYUSUI YANG BENAR DAN TATA KELOLA ASI”

Topik : Cara Menyusui Yang Benar dan Tata Kelola ASI


Sasaran : Pasien dan atau keluarga pasien postpartum di rumah pasien
desa Alamendah, Rancabali
Hari/Tanggal : Minggu, 8 Juli 2018
Waktu : Pukul 13.00 – 13.30 WIB
Alokasi Waktu : 30 menit
Tempat : Rumah pasien desa Alamendah, Rancabali

A. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)


Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan pasien dan atau keluarga
pasien postpartum mengetahui bagaimana cara menyusui yang benar,
bagaimana tata kelola asi, dapat mempraktekan cara menyusi dengan benar
serta dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

B. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)


Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan 1x30 menit diharapkan pasien dan
atau keluarga pasien postpartum dapat :
 Menjelaskan kembali tujuan pemberian asi
 Menjelaskan dan mempraktekan posisi yang tepat saat menyusui
 Menjelaskan lama dan frekuensi menyusui
 Menjelaskan dan mempraktekan cara menyusui yang benar
 Menjelaskan tanda – tanda teknik menyusui sudah baik dan benar
 Menjelaskan waktu memerah ASI
 Menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan memerah ASI
 Menjelaskan cara menyimpan ASI
C. POKOK BAHASAN
Cara Menyusui Yang Benar dan Tata Kelola ASI

D. SUB POKOK BAHASAN


 Tujuan pemberian ASI
 Posisi yang tepat saat menyusui
 Lama dan frekuensi menyusui
 Cara menyusui yang benar
 Tanda – tanda teknik menyusui sudah baik dan benar
 Waktu memerah ASI
 Langkah - langkah pelaksanaan memerah ASI
 Cara menyimpan ASI

E. MATERI PENYULUHAN
(Terlampir)

F. METODE
Ceramah dan tanya jawab

G. MEDIA
Leaflet

H. STRATEGI PELAKSANAAN
Strategi yang digunakan dalam penyampaian penyuluhan ini berupa
ceramah dan tanya jawab menggunakan media leaflet pada saat
penyampaian materi.
I. KEGIATAN PENYULUHAN
TAHAP / KEGIATAN KEGIATAN
NO METODE MEDIA
WAKTU PENYULUHAN SASARAN
1. Pembukaan : - Memberi salam - Menjawab Ceramah
3 menit pembukaan salam
- Memperkenalkan - Memperhati Ceramah
diri kan
- Menjelaskan - Memperhati Ceramah
pokok bahasan dan kan
tujuan penyuluhan
- Apersepsi dengan - Menjawab Ceramah
menanyakan tentang dan Tanya
manajemen laktasi Jawab
2. Pelaksanaan - Menjelaskan tujuan - Memperhati Ceramah
: 15 menit pemberian asi kan Leaflet
- Menjelaskan posisi - Memperhati Ceramah
yang tepat saat kan
menyusui
- Menjelaskan lama - Memperhati Ceramah
dan frekuensi kan
menyusui
- Menjelaskan cara - Memperhati Ceramah
menyusui yang kan
benar
- Menjelaskan tanda – - Memperhati Ceramah
tanda teknik kan
menyusui sudah
baik dan benar
- Menjelaskan waktu - Memperhati Ceramah
memerah ASI kan
- Menjelaskan - Memperhati Ceramah
langkah-langkah kan
pelaksanaan
memerah ASI
- Menjelaskan cara - Memperhati Ceramah
menyimpan ASI kan
3. Tanya jawab - Mempersilahkan - Mengajukan Tanya
dan Evaluasi kepada peserta pertanyaan jawab
: 10 menit untuk mengajukan
pertanyaan tentang
cara menyusui
yang benar dan
tata kelola ASI
- Menanyakan - Menjawab Tanya
kepada peserta pertanyaan jawab
tentang cara
menyusui yang
benar dan tata
kelola ASI
- Menyimpulkan - Mendengark Ceramah
bersama sama hasil an
kegiatan
penyuluhan
4. Terminasi : - Mengucapkan - Mendengark Ceramah
2 menit terimakasih atas an
peran serta peserta
- Mengucapkan - Menjawab Ceramah
salam penutup salam
J. EVALUASI
a. Pasien dan atau keluarga pasien dapat menjelaskan kembali tujuan
pemberian asi
b. Pasien dan atau keluarga pasien dapat menjelaskan kembali dan
mempraktekan posisi yang tepat saat menyusui
c. Pasien dan atau keluarga pasien dapat menjelaskan kembali lama dan
frekuensi menyusui
d. Pasien dan atau keluarga pasien dapat menjelaskan kembali dan
mempraktekkan cara menyusui yang benar
e. Pasien dan atau keluarga pasien dapat menjelaskan kembali tanda –
tanda teknik menyusui sudah baik dan benar
f. Pasien dan atau keluarga pasien dapat menjelaskan kembali waktu
memerah asi
g. Pasien dan atau keluarga pasien dapat menjelaskan kembali langkah-
langkah pelaksanaan memerah asi
h. Pasien dan atau keluarga pasien dapat menjelaskan kembali cara
menyimpan asi
LAMPIRAN MATERI

A. TUJUAN PEMBERIAN ASI


Untuk merangsang produksi susu dan memperkuat refleks hisap bayi.

B. POSISI YANG TEPAT SAAT MENYUSUI


Terdapat berbagai macam posisi menyusui. Cara menyususi yang tergolong
biasa dilakukan adalah dengan duduk, berdiri atau berbaring. Jika menyusui
dengan duduk,posisi yang tepat adalah :
1. Duduklah dengan posisi yang enak atau santai, pakailah kursi yang
ada sandaran punggung dan lengan.
2. Gunakan bantal untuk mengganjal bayi agar bayi tidak terlalu jauh
dari payudara ibu.
Ada posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti ibu pasca
operasi sesar, yaitu bayi diletakkan disamping kepala ibu dengan posisi kaki
diatas. Menyusui bayi kembar dilakukan dengan cara seperti memegang
bola bila disusui bersamaan, dipayudara kiri dan kanan. Pada ASI yang
memancar (penuh), bayi ditengkurapkan diatas dada ibu, tangan ibu sedikit
menahan kepala bayi, dengan posisi ini bayi tidak tersedak.

C. LAMA DAN FREKUENSI MENYUSUI


Ibu menyusukan dengan ke dua payudara secara bergantian. Sebaiknya
dalam menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan menyusui bayi
dilakukan di setiap saat bayi membutuhkan, karena bayi akan menentukan
sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis
bukan karena sebab lain (kencing, kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin
didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat
dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam
lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya, bayi tidak
memiliki pola yang teratur dalam menyusui dan akan mempunyai pola
tertentu setelah 1 – 2 minggu kemudian.
Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi
sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui
tanpa jadwal, sesuai kebutuhan bayi akan mencegah timbulnya masalah
menyusui. Ibu yang bekerja dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam
hari. Bila sering disusukan pada malam hari akan memicu produksi ASI.
Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara maka sebaiknya
setiap kali menyusui harus dengan kedua payudara. Ibu agar berusaha menyusui
sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI menjadi lebih baik. Setiap kali
menyusui, dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan. Selama masa
menyusui sebaiknya ibu menggunakan Bra yang dapat menyangga payudara,
tetapi tidak terlalu ketat.

D. CARA MENYUSUI YANG BENAR


1. Cuci tangan yang bersih dengan sabun
2. Perah sedikit ASI dan oleskan disekitar putting
3. Duduk/berbaring dengan santai.
4. Bila dimulai dengan payudara kiri,letakkan kepala bayi pada siku
bagian dalam lengan kiri,badan bayi menghadap kebadan ibu dengan
posisi menyanggah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya
saja. Kepala dan tubuh bayi lurus. Bayi dipegang satu lengan, kepala
bayi terletak pada lengkung siku ibu, lengan kiri bayi diletakkan
diseputar pinggang ibu, tangan kiri ibu memegang pantat/paha kanan
bayi.
5. Hadapkan bayi ke dada ibu sehingga hidung bayi berhadapan dengan
puting susu.
6. Dekatkan tubuh bayi ke tubuh ibu.
7. Sangga payudara kiri ibu dengan empat jari tangan kanan, ibu jari
diatasnya tetapi tidak menutupi bagian yang berwarna hitam (aerola
mamae)
8. Sentuhlah mulut bayi dengan puting payudara ibu dan tunggu sampai
bayi membuka mulutnya lebar.
9. Masukkan putting payudara secepatnya kedalam mulut bayi sampai
bagian yang berwarna hitam sehingga mulut bayi terletak di bawah
puting susu
10. Meletakan mulut bayi dengan benar yaitu dagu menempel pada
payudara ibu dengan mulut terbuka lebar vivir bawah bayi membuka
lebar.
Pasca menyusui
11. Melepaskan isapan bayi jari kelingking di masukan ke mulut bayi
melalui sudut mulut atau dagu bayi di tekan ke bawah
12. Setelah menyusui, keluarkan ASI dan oleskan di putting susu dan aerola
sekitarnya dan biarkan kering dengan sendirinya
13. Menyendawakan bayi, bayi di gendong tegak dengan bersandar pada
bahu ibu kemudian punggung ditepuk perlahan – lahan
14. Bayi tengkurap tidur di pangkuan ibu, kemudian punggung di tepuk
secara perlahan lahan.

E. TANDA – TANDA TEKNIK MENYUSUI SUDAH BAIK DAN


BENAR
 Bayi dalam keadaan tenang
 Mulut bayi terbuka lebar
 Bayi menempel betul pada ibu
 Mulut dan dagu bayi menempel pada payudara
 Sebagian besar areola mamae tertutup oleh mulut bayi
 Bayi nampak pelan-pelan menghisap dengan kuat
 Kuping dan lengan bayi berada pada satu garis.

F. WAKTU MEMERAH ASI


Saat yang tepat untuk memerah ASI ketika di luar rumah adalah ASI
diperah secara rutin minimal setiap 2-3 jam dan tidak menunggu payudara
terasa penuh. Akan Iebih sulit untuk memerah jika payudara sudah bengkak
dan akan terasa nyeri serta akan menyebabkan penurunan produksi ASI.
G. LANGKAH - LANGKAH PELAKSANAAN MEMERAH ASI
1. Menyiapkan perlengkapan
Perlengkapan memerah ASI dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan
kemampuan ibu, yaitu:
 Gelas/cangkir untuk menampung ASI perah;
 Botol untuk menyimpan ASI yang sudah diperah
 Label dan spidol,
 Cooler box/termos dan blue ice.
 Jika diperlukan memerah dapat menggunakan pompa ASI.
2. Persiapan sebelum memerah ASI
 Melakukan sterilisasi wadah ASI. Caranya dengan memasukkan air
mendidih ke dalam wadah tersebut,lalu dibiarkan selama beberapa
menit kemudian buang airnya.
 Menyiapkan lap atau tisu yang bersih.
 Mencuci tangan sampai bersih,dengan menggunakan sabun kita
bersihkan sela-sela jari dan kuku sebelum menyentuh payudara dan
wadah ASI.
 Kondisi ibu harus tenang dan santai, caranya duduk dengan nyaman
pikirkan bayi atau dengarkan rekaman suara atau foto bayi.
3. Keunggulan memerah ASI dengan tangan dibandingkan dengan
menggunakan pompa.
Memerah Dengan Tangan Memerah Dengan Pompa
Aman, tidak merusak jaringan Jika salah memilih pompa bisa
payudara merusak payudara
Higienis Kurang higienis apalagi pompa
yang tidak disterilkan
Praktis, tidak perlu membawa alat Repot, harus membawa pulang
tambahan pergi pompa
Gerakan , memerah yang Reflek keluar ASI kurang
menyerupai pijatan pada payudara terstimulus
dapat meningkatkan produksi ASI
dan ibu bisa merasakan
sendiridaerah pada payudara yang
masih terisi ASI
Gratis, tidak perlu membawa alat Harga pompa ASI relatif mahal,
apalagi yang elektrik

H. CARA MENYIMPAN ASI


a. Cara menyimpan ASI perah di tempat kerja
 Tempat penyimpanan ASI perah disarankan menggunakan botol
kaca, karena lemak-lemak dalam ASI tidak akan banyak menempel.
Selain ¡tu botol kaca juga relatif murah dan bisa digunakan berulang
kali.
 Bila ASI perah disimpan dalam botol kaca, hendaknya botol jangan
diisi terlalu penuh, hal ini bisa menyebabkan botol pecah saat
disimpan di dalam freezer. Maka isikan ASI perah kurang lebih ¾
botol saja.
 Pastikan botol yang akan digunakan untuk menyimpan ASI perah
sudah dicuci bersih dengan sabun dan sebelum digunakan bilas
dengan air panas.
 Simpan ASI perah ke dalam botol steril dan tutup dengan rapat, dan
jangan sampai ada celah yang terbuka.
 Botol diberi label berupa jam, tanggal pemerahan, dan nama untuk
membedakan dengan ASI perah milik pekerja lainnya.
 ASI perah harus disimpan dalam lemari pendingin. Pisahkan ASI
perah dengan bahan makanan lain yang tersimpan dalam lemari
pendingin.
b. Cara penyimpanan ASI perah setelah sampai di rumah
 Setelah sampai di rumah ASI perah dimasukkan ke dalam lemari
pendingin selama 1 jam sebelum dimasukkan ke dalam freezer.
 Bila ASI perah berlimpah, untuk jangka panjang sebaiknya sebagian
ASI perah disimpan di dalam freezer, dan simpan sebagian di lemari
pendingin untuk jangka pendek.
 ASI perah diletakkan di bagian dalam freezer atau lemari pendingin,
bukan di dekat pintu agar tidak mengalami perubahan dan variasi
suhu.
 Bila di rumah tidak memiliki lemari pendirigin atau freezer, maka
ASI perah bisa disimpan dalam termos dengan es batu.
 Daya tahan ASI di suhu kamar 6-8 jam, di coolbox dengan pendingin
24 jam, di rak kulkas sekitar 2 minggu, di freezer sekitar 3-4 bulan.
c. Langkah-Iangkah penyajian ASI perah
 Sehari sebelumnya ASI perah beku yang tersimpan di freezer diturunkan
ke lemari pendingin. Tujuannya agar pelelehan ASI perab beku mencair
secara bertahap.
 ASI perah dikeluarkan dan lemari es secara berurutan dan jam perah
paling awal atau FIFO (First In First Out)
 Mengambil ASI perah sesuai kebutuhan, yang kira-kira langsung bisa
dihabiskan.
 ASI perah dihangatkan dengan cara merendam botol berisi ASI perah
dalam wadah yang berisi air putih suhu ruangan lalu diganti dengan air
yang lebih hangat.
 ASI perah tidak dihangatkan dengan air mendidih atau direbus karena
akan merusak kandungan gizi.
 Menyiapkan cangkir kecil atau cangkir dan sendok untuk meminumkan
ASI perah kepada bayi.
 Jika ASI perah sudah mencair, ASI harus dikocok perlahan (memutar
searah jarum jam) agar cairan diatas bercampur dengan cairan bawah.
Cairan atas biasanya terlihat agak kental, dikarenakan kandungan lemak
yang lebih banyak. Bukan berarti ASI perah tersebut sudah basi.
Leaflet
Daftar Pustaka

Nanda International Inc. Diagnosis keperawatan : definisi, klasifikasi (2015-2017).


Jakarta : EGCNurarif, Amin Huda & Kusuma, Hardhi. (2015). Aplikasi Asuhan
Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA. Yogyakarta: Mediaction
Bobak, Lowdermik, dan Jesen. 2004. Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC

Cunningham, G. dkk. 2009. Obstetri Williams Panduan Ringkas Edisi 21. Jakarta: EGC

Coca KP, Gamba MA, Silva RS, Freitas V, Abrão AC. 2009. Does breastfeeding
position influence the onset of nipple trauma?Rev Esc Enferm. USP;43:442-8.
Fraser, D.M. dan

Cooper, A.M. 2009. Buku Ajar Bidan. Jakarta: EGC

Damayanti,Diana.2010.Asyiknya Minum ASI.Jakarta:Gramedia

Ebrahim, Gj.1984. Perawatan anak. Yogyakarta : Yayasan Esentia Medida

Gilbert, Patricia. 1986. Payudara apa yang perlu diketahui wanita. Jakarta : Arcan

Goyal. AS, Banginwar, Ziyo F, and Toweir AA. 2011. Breastfeeding practices:
Positioning, attachment (latch-on) and effective suckling – A hospital-based study
in Libya. J Family Community Med. 2011 May-Aug; 18(2): 74–79

Hamilton, Persis Mary.1995. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas edisi 6. Jakarta:


EGC

Kemenkes RI, 2015. Infodatin Menyusui dan Bekerja.Kemenkes RI

Kemenkes RI, 2014. Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI
SItuasi dan Analisis ASI Eksklusif

Khasana, N. 2011. ASI Atau Susu Formula ya? Jogjakarta: FlashBooks

Maryunani, A. 2009. Asuhan Pada Ibu Dalam Masa Nifas. Jakarta: Trans Info Medika

Neilson, Joan. 1985. Cara Menyusui Yang Baik Dan Baik. Jakarta : Arcan
Riksani, R. 2012. Keajaiban ASI. Jakarta: Dunia Sehat Roesli, U. 2000. ASI Eksklusif.
Jakarta: Trubus Agriwidya

Sacharina Marzuki, Nanis. 2007. ASI Ekslusif. Gramedia : Jakarta

Suharyono, 1989. ASI Tinjauan Daru Berbagai Aspek. FKUI: Jakarta

World Health Organization (WHO). 2009. Infant and Young Child Feeding. Model
Chapter for Textbooks for Medical Students and Allied Health Professionals;
Session 1: The Importance of Infant and Young Child feeding and recommended
practices; pp. 5–6

Yuliarti, Nurheti.2010.Keajaiban ASI.Yogyakarta: Andi