Anda di halaman 1dari 3

KEJANG DEMAM

No. Dokumen :
No. Revisi
SPO Tanggal Terbit : Januari 2017
Halaman :
PUSKESMAS Drg. Febrina Sinuraya
ARGA MAKMUR NIP.197402232002122003

Pengertian Tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang mengalami kejang.
Kejang epilepsy merupakan manifestasi ketidak seimbangan aliran dan
sirkuit listrik di otak. Ketidak seimbangan ini ditentukan oleh sel saraf yang
berfungsi sebagai inhibitory (sel-sel pengontrol) dan excitatory (sel-selsaraf
yang menimbulkan loncatan arus listrik).
Tujuan 1. Untuk mengatasi serangan kejang
2. Untuk mencegah atau meminimumkan cedera akibat kejang
Kebijakan SK Kepala Puskesmas Arga Makmur No /SK/ PKM.AM / /2017
tentang Penanganan pasien darurat dan pasien gawat darurat.
Persiapan alat Alat : Tempat tidur, Tensimeter, Stetoskop,timer,Timbang
Badan,Stesolit.,Tongspatell
Prosedur 1. Lakukan pendekatan dengan tenang
2. Memperbaiki sirkulasi udara ruangan dengan mempersilakan selain
petugas untuk keluar ruangan
3. Membaringkan anak di tempat yang datar dengan posisi miring, kaki
bagian atas ditekuk untuk mencegah bahaya tersedak ludah atau
muntahan
4. Letakkan bantal atau lipatan selimut di bawah kepala anak.
Jangan :
- Menahan gerakan anak atau menggunakan paksaan
- Memasukkan apapun ke dalam mulut anak
- Memberikan makanan atau minuman
5. Longgarkan pakaian yang ketat
6. Singkirkan benda-benda keras atau berbahaya
7. Memberikan farmakoterapi untuk mengatasi kejangnya:
1. Diazepam per rektal (0,5mg/kg) atau lorazepam (0,1 mg/kg) harus
segera diberikan jika akses intravena tidak dapat dibangun dengan
mudah.
2. Buccal midazolam (0,5 mg/kg, dosis maksimal = 10 mg) lebih
efektif dari pada diazepam per rektal untuk anak.
3. Lorazepam intravena, setara efektivitasnya dengan diazepam
intravena dengan efek samping yang lebih minimal (termasuk depresi
pernapasan) dalam pengobatan kejang tonik klonik akut. Bila akses
intravena tidak tersedia, midazolam adalah pengobatan pilihan
8. Memastikan jalan napas tidak tersumbat
9. Memberikan oksigen melalui face mask 2 ml/menit
10. Awasi tanda-tanda gangguan pernafasan dengan menghitung jumlah
pernafasan dalam satu menit, melihat ada tidaknya tarikan dinding dada,
melihat ada tidaknya pernafasan cuping hidung
11. Apabila kejang teratasi maka dilanjutkan pemberian fenobarbital secara
IV langsung setelah kejang berhenti dengan dosis awal :
bayi 1 bln - 1 thn : 50 mg
>1 tahun : 75 mg
12. Hitung lamanya periode postiktal (pasca kejang)
13. Jangan memberi makanan atau minuman sampai anak benar-benar sadar
dan refleks menelan pulih
14. Melakukan evaluasi tindakan
15. Membereskan alat-alat
16. Mencuci tangan
17. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan perawatan
KONSELING DAN EDUKASI
Konseling dan edukasi dilakukan untuk membantu pihak keluarga
mengatasi pengalaman menegangkanakibat kejang demam dengan
memberikan informasi mengenai:
a. Prognosis dari kejang demam.
b. Tidak ada peningkatan risiko keterlambatan sekolah atau kesulitan
intelektual akibat kejang demam.
c. Kejang demam kurang dari 30 menit tidak mengakibatkan kerusakan
otak.
d. Risiko kekambuhan penyakit yang sama di masa depan.
e. Rendahnya risiko terkena epilepsi dan kurangnya manfaat menggunakan
terapi obat antiepilepsi dalam mengubah risiko itu.
KRITERIA RUJUKAN
a. Apabila kejang tidak membaik setelah diberikan obat antikonvulsi.
b. Apabila kejang demam sering berulang disarankan EEG.

Unit terkait Poli Anak dan Poli Tindakan


Referensi Perawatan Dasar DEPKES RI Tahun 2014