Anda di halaman 1dari 19

Sistem Dispersi/Campuran

Perhatikan hal-hal berikut:

1. Apa yang terjadi bila gula dilarutkan dalam air? Bagaimana keadaan campuran
yang terbentuk? Apakah partikel gula masih terlihat?
2. Apa yang terjadi bila satu sendok susu dimasukkan dalam air kemudian diaduk?
Bagaimana keadaan campuran yang terbentuk? Apakah partikel susu bercampur
dengan air?
3. Apa yang terjadi bila kopi dicampur dengan air kemudian diaduk? Bagaimana
keadaan campuran yang terbentuk? Apakah kopi bercampur dengan air?

Apabila suatu zat dicampurkan dengan zat lain, maka akan terjadi penyebaran
secara merata dari suatu zat ke dalam zat lain yang disebut sistem dispersi atau
campuran. Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi, sedangkan medium yang
digunakan untuk mendispersikan disebut medium pendispersi.
Contoh:
susu bubuk dimasukkan ke dalam air hangat membentuk sistem dispersi, air sebagai medium
pendispersi, dan susu bubuk sebagai zat terdispersi. (Analogikan dengan larutan, ada zat
terlarut dan medium pelarut).
Perhatikan gambar ukuran partikel dari larutan, koloid dan campuran berikut ini:

Berdasarkan ukuran partikelnya, sistem dispersi (campuran) dibedakan menjadi tiga


kelompok, yaitu:

1. Larutan (dispersi molekuler)


Larutan merupakan sistem dispersi yang ukuran diameter partikel zat
terdispersinya sangat kecil (<10-7 cm atau <1 nm), sehingga tidak dapat dibedakan
antara partikel pendispersi dengan partikel terdispersi. Contoh: Larutan gula,
larutan garam, udara bersih
2. Koloid
Koloid merupakan sistem dispersi yang ukuran diameter partikel zat
terdispersinya 10-7- 10-5 cm (1 – 100 nm), secara makroskopis tampak homogen,
tetapi sebenarnya heterogen (dengan mikroskop ultra dapat dibedakan antara
partikel pendispersi dengan partikel terdispersi). Contoh: susu cair, asap, dan
kabut.
3. Suspensi
Suspensi merupakan sistem dispersi yang ukuran diameter partikel zat
terdispersinya relatif besar (> 10-5 cm atau > 100 nm) dan tersebar merata dalam
medium pendispersinya. Pada umumnya suspensi merupakan campuran
heterogen. Contoh: pasir yang dicampur dengan air, air sungai, dan air kopi.
Dalam sistem dispersi, partikel terdispersi dapat diamati dengan mikroskop biasa
atau dengan mata telanjang.

Perbedaan antara ketiga sistem dispersi itu disebabkan oleh besarnya partikel
yang berlainan. Ini mengakibatkan sifat-sifat terhadap cahaya dan kertas saring
menjadi berlainan pula. Adapun perbedaan sifat itu sebagai berikut:
Sistem Koloid
Telah dibahas bahwa asap, dan kabut merupakan koloid. Apa yang membedakan kedua zat
tersebut sehingga masing-masing mempunyai sifat yang berbeda pula? Pada saat wajah
anda terkena asap, wajah anda akan berdebu, sedangkan pada saat wajah anda tersapu
kabut, wajah akan terasa lembab, mengapa demikian?.

Asap adalah zat padat (debu) yang terdispersi dalam udara (gas) sehingga bila terkena
asap, wajah akan merasakan keberadaan debu. Kabut adalah zat cair (air) yang terdispersi
dalam udara (gas) sehingga bila terkena kabut, kita akan merasakan keberadaan air
(lembab). Jadi, perbedaan koloid terletak pada jenis fase terdispersi dan medium
pendispersinya.

Sistem koloid tersusun atas fase terdispersi yang tersebar merata pada medium pendispersi.
Fase terdispersi maupun medium pendispersi dapat berupa gas, cair, atau padat. Akan
tetapi, campuran gas dengan gas tidak membentuk sistem koloid, sebab semua gas akan
bercampur homogen dalam segala perbandingan. Jadi campuran gas dengan gas
merupakan larutan.

Sistem koloid dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:


a. Aerosol adalah koloid yang medium pendispersinya gas.
b. Sol yaitu koloid yang mempunyai fase terdispersi padat. Sol terdiri atas sol
padat, sol (sol cair), dan sol gas (aerosol padat).
c. Emulsi yaitu koloid yang mempunyai fase cair. Emulsi dapat dibedakan
menjadi emulsi emulsi padat, emulsi cair (emulsi), dan emulsi gas (aerosol
cair). Emulsi terbentuk karena pengaruh suatu pengemulsi (emulgator).
Contohnya adalah sabun yang dapat mengemulsikan minyak ke dalam air.
Jika campuran minyak dengan air dikocok, maka akan diperoleh suatu
campuran yang segera memisah jika didiamkan. Akan tetapi, jika sebelum
dikocok ditambahkan sabun atau detergen, maka diperoleh campuran yang
stabil yang disebut emulsi.
d. Buih yaitu koloid yang fase terdispersinya gas, dibedakan menjadi buih
padat dan buih cair (buih).
e. Gel adalah koloid setengah kaku (antara padat dan cair). Gel terbentuk dari
sol yang fase/zat terdispersinya mengadsorpsi medium pendispersinya.
Contoh: agar-agar, lem kanji, selai, gelatin, gel sabun, dan gel silika. Gel
dapat terbentuk dari suatu sol yang zat terdispersinya mengadsorpsi medium
dispersinya, sehingga terjadi koloid yang agak padat.

Tabel
f. 1.2 Jenis-jenis sistem koloid
Fase Medium
Nama Contoh
Terdispe pendispersi

Cat, lem kanji, tinta, tanah liat,


Padat Cair Sol
sol emas, semir cair

Gelas berwarna, intan hitam,

Padat Padat Sol padat mutiara, paduan logam (alloy),

stainless steel, perunggu

Asap, debu di udara, buangan


Padat Gas Aerosol padat
knalpot, cat semprot

Kabut, awan, parfum, hairspray,


Cair Gas Aerosol cair
obat nyamuk semprot

Susu, santan, mayonaisse, minyak


Cair Cair Emulsi
ikan, lotion

Agar-agar, keju, mentega,


Cair Padat Emulsi padat
margarin, nasi, lateks, selai,

mutiara

Busa sabun, krim kocok, putih


Gas Cair Buih
telur
Karet busa, batu apung, gabus,
Gas Padat Buih padat
roti, kerupuk

g.

SIFAT-SIFAT KOLOID

Beberapa sifat khas koloid yang membedakan dengan campuran yang lain yaitu:

(1) Efek Tyndall


Sifat efek tyndall ini ditemukan oleh John Tyndall. Penampilan sistem
koloid pada umumnya keruh, tapi beberapa koloid tampak bening dan
sukar dibedakan dengan larutan sejati. Salah satu cara yang sangat
sederhana untuk mengenali koloid yaitu dengan melewatkan seberkas
sinar kepada obyek yang diamati. Perhatikan gambar dibawah ini:

Larutan sejati akan meneruskan cahaya (transparan), sedangkan koloid


akan menghamburkan cahaya tetapi partikel terdispersinya tidak tampak.
Suspensi akan menghamburkan cahaya, tetapi partikel terdispersinya
tampak. Jadi, efek tyndall adalah peristiwa penghamburan cahaya oleh
partikel koloid.

Contoh peristiwa efek tyndall dalam kehidupan sehari-hari yaitu pancaran


sinar matahari, sorot lampu pada malam hari terlihat jelas jika ada partikel
debu, asap atau kabut dan sorot lampu proyektor dalam gedung bioskop
yang berasap.

(2) Gerak Brown


Sifat ini ditemukan oleh Robert Brown. Apabila susu didiamkan untuk
beberapa lama, kita tidak akan mendapatkan endapan susu. Mengapa
demikian? Hal ini dikarenakan adanya gerak Brown. Perhatikan gambar
gerak brown berikut ini:
Gerak Brown adalah gerak acak (gerak tak beraturan; patah-patah; zig-
zag) partikel koloid dalam medium pendispersinya. Gerak Brown dapat
diamati menggunakan mikroskop ultra. Pada dasarnya, partikel-partikel
dalam zat selalu bergerak. Gerak Brown terjadi sebagai akibat adanya
tumbukan dari molekul-molekul pendispersi terhadap partikel terdispersi,
sehingga partikel terdispersi akan terlontar. Lontaran tersebut akan
mengakibatkan partikel terdispersi menumbuk partikel terdispersi yang
lain dan akibatnya partikel yang tertumbuk akan terlontar. Peristiwa ini
terjadi terus menerus yang diakibatkan karena ukuran partikel yang
terdispersi relatif besar dibandingkan medium pendispersinya.

Gerak Brown dipengaruh oleh ukuran partikel dan suhu. Dalam suspensi
tidak terjadi gerak Brown, karena ukuran partikel cukup besar sehingga
tumbukan yang dialaminya setimbang. Partikel zat terlarut juga mengalami
gerak Brown akan tetapi tidak dapat diamati. Gerak Brown merupakan
salah satu faktor yang menstabilkan koloid. Partikel-partikel koloid relatif
stabil, karena partikelnya bergerak terus-menerus, maka gaya gravitasi
dapat diimbangi sehingga tidak terjadi sedimentasi (pengendapan).

(3) Muatan Koloid


Muatan koloid juga merupakan faktor yang menstabilkan koloid, di
samping gerak Brown. Semua partikel koloid mempunyai muatan sejenis
(positif atau negatif). Oleh karena bermuatan sejenis maka partikel-partikel
koloid saling tolak-menolak, sehingga terhindar dari pengelompokan
antarsesama partikel koloid itu (jika partikel-partikel koloid saling
bertumbukan dan kemudian bersatu, maka lama-kelamaan dapat terbentuk
partikel yang cukup besar dan akhirnya mengendap). Bagaimana partikel
koloid memiliki muatan? Partikel koloid dapat memiliki muatan karena
adanya proses adsorpsi dan proses ionisasi gugus permukaan partikel
koloid. Beberapa sifat elektrik koloid antara lain:
a. Adsorpsi

Bagaimanakah partikel koloid mendapatkan muatan listrik? Partikel


koloid memiliki kemampuan menyerap ion atau muatan listrik pada
permukaannya. Oleh karena itu, partikel koloid menjadi bermuatan
listrik. Penyerapan pada permukaan ini disebut adsorpsi (jika
penyerapan sampai ke bawah permukaan disebut absorpsi). Perhatikan
gambar proses adsorpsi berikut ini :

Adsorpsi adalah proses penyerapan suatu zat di permukaan zat lain.


Sebagai contoh, penyerapan air oleh kapur tulis). Perhatikan gambar
berikut ini:

Sol Fe(OH)3 dalam air mengadsorpsi ion positif sehingga bermuatan


positif, sedangkan sol As2S3 mengadsorpsi ion negatif sehingga
bermuatan negatif. Contoh pemanfaatan sifat adsorpsi koloid yaitu:
proses pemutihan gula tebu, proses penyembuhan sakit perut dengan
obat norit yang dapat menyerap gas atau zat racun dalam usus, dan
proses penjernihan air dengan menggunakan tawas akan menghasilkan
sol Al(OH)3 yang dapat menyerap kotoran air yang akan mengalami
penggumpalan, lalu mengalami pengendapan sehingga akan diperoleh
air yang jernih.
b. Elektroforesis
Elektroforesis adalah pergerakan partikel koloid dalam medan listrik.
Perhatikan gambar berikut ini:

c. Koagulasi

Koagulasi atau penggumpalan adalah peristiwa pengendapan

partikel-partikel koloid sehingga fase terdispersi terpisah

dari medium pendispersinya. Koagulasi disebabkan oleh

kestabilan untuk mempertahankan partikel-partikel agar tetap

tersebar dalam medium pendispersinya. Koagulasi dapat diakukan


dengan cara mekanik (misal pemanasan, pendinginan, dan
pengadukan) dan dengan cara kimiawi, misal penetralan silang
(pencampuran dua jenis koloid yang bermuatan berlawanan) atau
penghilangan muatan elektrolisis, dan penambahan elektrolit
(pengkoagulasian karet alam/lateks dengan asam asetat). Contoh
proses-proses yang memanfaatkan sifat koagulasi yaitu proses
pengolahan karet, penjernihan air dengan tawas, proses terjadinya
delta pada muara, proses penggumpalan debu atau asap pabrik
dengan pesawat Cottrel.

d. Dialisis
Dialisis adalah cara mengurangi ion-ion pengganggu yang terdapat
dalam sistem koloid denan menggunakan selaput semi permeabel.
Dalam proses ini, sistem koloid dimasukkan ke dalam suatu kantong
koloid, lalu kantong koloid itu dimasukkan ke dalam bejana yang
berisi air mengalir. Kantong koloid terbuat dari selaput
semipermiabel, yaitu selaput yang dapat melewatkan partikelpartikel
kecil, seperti ion-ion atau molekul sederhana, tetapi menahan koloid.
Dengan demikian, ion-ion keluar dari kantong dan hanyut bersama air.
Prinsip dialisis digunakan pada proses cuci darah bagi penderita ginjal
(blood dialysis).

Caranya koloid dimasukkan dialisator, bagian luar terus-menerus


dialiri air, zat yang terdapat koloid misal ion-ion dan molekul dapat
me- nembus membran semipermeabel sehingga dalam dialisator
tinggal koloidnya saja.

Pembuatan koloid

Sistem koloid berada di antara larutan sejati dan suspensi. Jadi, susu merupakan koloid yang
berada di antara larutan gula (larutan sejati) dan campuran air dengan pasir (suspensi). Oleh
karena itu, sistem koloid dapat dibuat dari larutan sejati dan suspensi. Koloid yang berasal
dari larutan sejati dibuat dengan cara kondensasi. Caranya, dengan menggabungkan partikel-
partikel dalam larutan sejati hingga menjadi partikel berukuran koloid. Sementara itu, koloid
yang berasal dari suspensi dibuat melalui cara dispersi. Caranya, dengan menghaluskan
partikel-partikel suspensi hingga berukuran partikel koloid dan men-dispersikannya dalam
medium pendispersi.
1. Cara Kondensasi
Pembuatan koloid dengan cara kondensasi dibedakan menjadi dua, yaitu cara kimia dan
fisika. Kedua cara ini banyak diterapkan untuk membuat koloid tipe sol, khususnya sol emas
dan sol belerang.
a. Cara Kimia

Pembuatan koloid dari larutan sejati dengan cara reaksi kimia dapat dilakukan dengan empat
macam, yaitu melalui reaksi pengendapan, reaksi hidrolisis, reaksi pemindahan, dan reaksi
redoks.

Reaksi pengendapan
Pembuatan koloid melalui reaksi pengendapan dilakukan dengan cara mencampurkan dua
macam larutan elektrolit, hingga menghasilkan endapan yang berukuran koloid, contoh
pembuatan sol AgCI. Sol AgCI dibuat dengan cara mencampurkan larutan AgN03 encer
dengan larutan HCI encer atau NaCI encer. Reaksi yang terjadi sebagai berikut.

AgNO3(aq) + HCl(aq)→AgCl(s) + HNO3(aq)

AgNO3(aq) + NaCI(aq) AgCI(s) + NaN03(aq)

Reaksi hidrolisis
Koloid dapat dibuat melalui reaksi hidrolisis, yaitu dengan mereaksikan garam tertentu
dengan air. Misalnya Sol Fe(OH)3. Sol Fe(OH)3 dibuat dengan cara menambahkan larutan
FeCI3 ke dalam air mendidih. Larutan FeCI3 akan terionisasi menghasilkan ion Fe3+. Ion Fe3+
ini akan mengalami reaksi hidrolisis menjadi Fe(OH)3. Reaksi yang terjadi:

FeCI3(aq) + 3H20(ℓ) → Fe(OH)a(s) + 3HCl(aq).


Reaksi pemindahan/substitusi

Contoh koloid yang dibuat dengan cara pemindahan yaitu sol As2S3. Sol As2S3 dibuat dengan
cara mengalirkan gas asam sulfida ke dalam larutan arsen(lll) oksida. Reaksinya:
As203(aq) + 3H2S(g) →As2S3(s) + 3H20(ℓ).
Koloid lain yang dibuat melalui reaksi pemindahan yaitu sol belerang. Sol ini dibuat dengan
menambahkan larutan HCI ke dalam larutan Na2S203. Campuran ini akan menghasilkan
partikel- partikel belerang yang berukuran partikel koloid. Reaksi pada pembuatan koloid
belerang sebagai berikut.
Na2S203(aq) + 2HCI (aq) → 2NaCl(aq) + H2SO 3(aq) + S (s).

Reaksi redoks

Pembuatan koloid dengan reaksi redoks selalu disertai dengan perubahan bilangan oksidasi,
misal pada pembuatan sol emas den sol belerang.

 Sol emas (Au)

Sol emas dibuat dengan mereduksi larutan garamnya menggunakan reduktor non-
elektrolit seperti formaldehid.

Reaksinya: 2AuCI3 (aq) + 3HCHO(aq) + 3H20 (ℓ) → 2Au(s)+ 6HCI (aq) +


3HCOO H(aq)

 Sol belerang (s)

Sol belerang dibuat dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan S02 atau ke dalam
larutan H2O2.

Reaksi yang terjadi:

2H2S(g) + S02(aq) → 3S(s) + 2H2O(ℓ)


H2S (g) + H202(aq) → S(s) + 2h2O(ℓ)

b. Cara Fisika
Cara fisika digunakan untuk membuat koloid dengan cara mengkondensasikan partikel
koloid. Proses ini dilakukan melalui cara-cara berikut.
Pengembunan uap
Cara pengembunan uap diterapkan pada pembuatan sol raksa (Hg). Sol raksa dibuat dengan
menguapkan raksa. Uap raksa selanjutnya dialirkan melalui air dingin sehingga mengembun
dan diperoleh partikel raksa berukuran koloid.
Pendinginan

Suatu koloid dapat dibuat melalui proses pendinginan, tujuannya untuk menggumpalkan
suatu larutan sehingga menjadi koloid karena kelarutan suatu zat sebanding dengan suhu.

Penggantian pelarut
Penggantian pelarut digunakan untuk mempermudah pembuatan koloid yang tidak dapat larut
dalam suatu pelarut tertentu, misalnya pada pembuatan sol belerang. Belerang sukar larut
dalam medium air. Oleh karena itu, air diganti dengan alkohol. Sol belerang dalam air, dibuat
dengan cara melarutkan belerang ke dalam alkohol hingga diperoleh larutan jenuh. Larutan
jenuh ini selanjutnya diteteskan sedikit demi sedikit ke dalam air hingga terbentuk sol
belerang.

2. Cara Dispersi

Dispersi merupakan cara pembuatan koloid yang berasal dari suspensi. Pembuatan koloid
dengan cara dispersi dapat dilakukan dengan cara busur Bredig, mekanik, peptisasi, dan
homogenisasi.

Cara Busur Bredig


Pembuatan koloid dengan cara busur Bredig sering disebut juga dengan elektrodispersi. Cara
ini dilakukan untuk membuat partikel-partikel fase terdispersi dengan menggunakan loncatan
bunga api listrik. Cara ini banyak digunakan untuk membuat sol logam. Logam yang akan
didispersikan dipasang sebagai elektrode-elektrode yang dihubungkan dengan sumber arus
listrik bertegangan tinggi. Loncatan bunga api listrik yang muncul di antara kedua elektrode
akan menguapkan sebagian logam. Uap logam yang terbentuk di dalam medium dispersi
akan menyublim dan membentuk partikel halus. Cara busur Bredig biasa digunakan untuk
membuat sol emas dan sol platina.

Cara Mekanik
Pembuatan koloid dengan cara mekanik dilakukan dengan cara penggerusan zat padat hingga
halus, kemudian didispersikan ke dalam medium pendispersi. Namun, pada proses ini fase
terdispersinya kadang-kadang mengalami penggumpalan kembali sehingga perlu
ditambahkan stabilizer atau zat pemantap. Contoh pada pembuatan mentega, tinta, dan cat.

Cara Peptisasi
Cara peptisasi adalah cara pembuatan koloid dengan jalan memecah partikel zat yang
mengendap dalam medium pendispersi air menjadi berukuran partikel koloid. Proses ini
diikuti dengan penambahan suatu elektrolit atau dengan menghilangkan ion-ion elektrolit
penyebab pengendapan.

Cara peptisasi ini digunakan pada pembuatan sol perak iodida (Agl). Sol perak iodida dibuat
dengan cara mencampur larutan AgN03 dengan larutan Kl berlebih. Campuran kedua larutan
ini menghasilkan endapan Agl. Endapan Agl kemudian dicuci agar mengalami peptisasi,
yaitu terbentuknya partikel koloid Agl. Pencucian mengakibatkan hilangnya kelebihan
elektrolit sehingga Agl dapat terdispersi kembali.

Cara Homogenisasi
Homogensasi adalah cara yang digunakan untuk membuat suatu zat menjadi homogen dan
berukuran partikel koloid. Misal untuk membuat koloid tipe emulsi, seperti susu. Pada
pembuatan susu, ukuran partikel lemak pada susu diperkecil hingga berukuran partikel
koloid. Caranya dengan melewatkan zat tersebut melaiui lubang berpori yang mempunyai
tekanan tinggi. Apabila partikel lemak dengan ukuran partikel koloid sudah terbentuk, zat
tersebut kemudian didispersikan ke dalam medium pendispersinya.

Peranan Koloid dalam Kehidupan Sehari-hari


a. Mengurangi polusi udara
Gas buangan pabrik yang mengandung asap dan partikel berbahaya dapat diatasi dengan
menggunakan alat yang disebut pengendap cottrel. Prinsip kerja alat ini memanfaatkan sifat
muatan dan penggumpalan koloid sehingga gas yang dikeluarkan ke udara telah bebas dari
asap dan partikel berbahaya. Asap dari pabrik sebelum meninggalkan cerobong asap dialirkan
melalui ujung-ujung logam yang tajam dan bermuatan pada tegangan tinggi (20.000 sampai
75.000 volt). Ujung-ujung yang runcing akan mengionkan molekul-molekul dalam udara.
Ion-ion tersebut akan diadsorpsi oleh partikel asap dan menjadi bermuatan. Selanjutnya,
partikel bermuatan itu akan tertarik dan diikat pada elektrode yang lainnya. Pengendap
Cottrel ini banyak digunakan dalam industri untuk dua tujuan, yaitu mencegah polusi udara
oleh buangan beracun dan memperoleh kembali debu yang berharga (misalnya debu logam).

b. Penggumpalan lateks
Getah karet dihasilkan dari pohon karet atau hevea. Getah karet merupakan sol, yaitu dispersi
koloid fase padat dalam cairan. Karet alam merupakan zat padat yang molekulnya sangat
besar (polimer). Partikel karet alam terdispersi sebagai partikel koloid dalam sol getah karet.
Untuk mendapatkan karetnya, getah karet harus dikoagulasikan agar karet
menggumpal dan terpisah dari medium pendispersinya. Untuk mengkoagulasikan
getah karet, biasanya digunakan asam formiat; HCOOH atau asam asetat; CH3COOH.
Larutan asam pekat itu akan merusak lapisan pelindung yang mengelilingi partikel karet.
Sedangkan ion-ion H+-nya akan menetralkan muatan partikel karet sehingga karet akan
menggumpal.

Selanjutnya, gumpalan karet digiling dan dicuci lalu diproses lebih lanjut sebagai lembaran
yang disebut sheet atau diolah menjadi karet remah (crumb rubber). Untuk keperluan
lain, misalnya pembuatan balon dan karet busa, getah karet tidak digumpalkan melainkan
dibiarkan dalam wujud cair yang disebut lateks. Untuk menjaga kestabilan sol lateks, getah
karet dicampur dengan larutan amonia; NH3. Larutan amonia yang bersifat basa melindungi
partikel karet di dalam sol lateks dari zat-zat yang bersifat asam sehingga sol
tidak menggumpal.

c. Membantu pasien gagal ginjal

Proses dialisis untuk memisahkan partikel-partikel koloid dan zat terlarut merupakan dasar
bagi pengembangan dialisator. Penerapan dalam kesehatan adalah sebagai mesin pencuci
darah untuk penderita gagal ginjal. Ion-ion dan molekul kecil dapat melewati selaput
semipermiabel dengan demikian pada akhir proses pada kantung hanya tersisa koloid saja.
Dengan melakukan cuci darah yang memanfaatkan prinsip dialisis koloid, senyawa beracun
seperti urea dan keratin dalam darah penderita gagal ginjal dapat dikeluarkan. Darah yang
telah bersih kemudian dimasukkan kembali ke tubuh pasien.

d. Penjernihan air
Untuk memperoleh air bersih perlu dilakukan upaya penjernihan air. Kadang-kadang air dari
mata air seperti sumur gali dan sumur bor tidak dapat dipakai sebagai air bersih jika
tercemari. Air permukaan perlu dijernihkan sebelum dipakai. Upaya penjernihan air dapat
dilakukan baik skala kecil (rumah tangga) maupun skala besar seperti yang dilakukan oleh
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Pada dasarnya penjernihan air itu dilakukan secara
bertahap. Mula-mula mengendapkan atau menyaring bahan-bahan yang tidak larut
dengan saringan pasir. Kemudian air yang telah disaring ditambah zat kimia, misalnya tawas
atau aluminium sulfat dan kapur agar kotoran menggumpal dan selanjutnya mengendap, dan
kaporit atau kapur klor untuk membasmi bibit-bibit penyakit. Air yang dihasilkan dari
penjernihan itu, apabila akan dipakai sebagai air minum, harus dimasak terlebih dahulu
sampai mendidih beberapa saat lamanya.

Untuk memperjelas tentang penjernihan air perhatikan gambar 9.13 berikut!

Proses pengolahan air tergantung pada mutu baku air (air belum diolah), namun
pada dasarnya melalui 4 tahap pengolahan. Tahap pertama adalah pengendapan, yaitu air
baku dialirkan perlahan-lahan sampai benda-benda yang tak larut mengendap. Pengendapan
ini memerlukan tempat yang luas dan waktu yang lama. Benda-benda yang berupa
koloid tidak dapat diendapkan dengan cara itu.

Pada tahap kedua, setelah suspensi kasar terendapkan, air yang mengandung koloid diberi
zat yang dinamakan koagulan. Koagulan yang banyak digunakan adalah aluminium sulfat,
besi(II)sulfat, besi(III)klorida, dan klorinasi koperos (FeCl2Fe2(SO4)3). Pemberian
koagulan selain untuk mengendapkan partikel-partikel koloid, juga untuk menjadikan pH air
sekitar 7 (netral). Jika pH air berkisar antara 5,5–6,8, maka yang digunakan adalah
aluminium sulfat, sedangkan untuk senyawa besi sulfat dapat digunakan pada pH air 3,5–5,5.

Pada tahap ketiga, air yang telah diberi koagulan mengalami proses pengendapan, benda-
benda koloid yang telah menggumpal dibiarkan mengendap. Setelah mengalami
pengendapan, air tersebut disaring melalui penyaring pasir sehingga sisa endapan yang masih
terbawa di dalam air akan tertahan pada saringan pasir tersebut.
Pada tahap terakhir, air jernih yang dihasilkan diberi sedikit air kapur untuk menaikkan
pHnya, dan untuk membunuh bakteri diberikan kalsium hipoklorit (kaporit) atau klorin (Cl2).

e. Sebagai deodoran
Deodoran mengandung aluminium klorida yang dapat mengkoagulasi atau mengendapkan
protein dalam keringat.endapan protein ini dapat menghalangi kerja kelenjer keringat
sehingga keringat dan potein yang dihasilkan berkurang.

f. Sebagai bahan makanan dan obat


Ada zat-zat yang tidak larut dalam air sehingga harus dikemas dalam bentuk koloid sehingga
mudah diminum. Contohnya obat dalam bentuk kapsul.

g. Sebagai bahan kosmetik


Ada berbagai bahan kosmetik kosmetik berupa padatan, tetapi lebih baik digunakan dalam
bentuk cairan. Untuk itu biasanya dibuat berupa koloid dengan tertentu.

h. Sebagai bahan pencuci


Prinsip koloid juga digunakan dalam proses pencucian dengan sabun dan detergen. Dalam
pencucian dengan sabun atau detergen, sabun/ detergen berfungsi sebagai emulgator.
Sabun/detergen akan mengemulsikan minyak dalam air sehingga kotoran-kotoran berupa
lemak atau minyak dapat dihilangkan dengan cara pembilasan dengan air.