Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Transfusi darah adalah proses pemindahan atau pemberian darah dari seseorang
(donor) kepada orang lain (resipien). Transfusi bertujuan mengganti darah yang hilang
akibat perdarahan, luka bakar, mengatasi shock dan mempertahankan daya tahan tubuh
dari infeksi (Setyati, 2010). Menurut Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1980, definisi
transfusi darah adalah tindakan medis memberikan darah kepada seorang penderita
yang darahnya telah tersedia dalam botol kantong plastik. Usaha transfusi darah adalah
segala tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk memungkinkan penggunaan darah
bagi keperluan pengobatan dan pemulihan kesehatan yang mencakup masalah-masalah
pengadaan, pengolahan, dan penyampaian darah kepada orang sakit. Darah yang
digunakan adalah darah manusia atau bagian-bagiannya yang diambil dan diolah secara
khusus untuk tujuan pengobatan dan pemulihan kesehatan. (PMI, 2002).
Dasar-dasar pemberian transfusi darah secara rasional adalah pemilihan bahan
transfusi yang tepat, jumlah sesuai dengan kebutuhan, pada saat yang tepat dan dengan
cara yang benar, tepat klien dan waspada efek samping yang terjadi. Sehubungan
dengan hal tersebut petugas kesehatan yang mempunyai kewenangan pemberian
transfusi darah perlu memahami tentang transfusi darah antara lain berbagai komponen
darah, manfaat masing-masing komponen,sirkulasi peredaran darah, stabilitas dan umur
berbagai komponen darah dalam tubuh serta adanya indikasi transfusi itu sendiri. Ada
5 indikasi umum transfusi darah adalah sebagai berikut :
1. Kehilangan darah akut, bila 20–30% total volume darah hilang dan perdarahan
masih terus terjadi.
2. Anemia berat.
3. Syok septik (jika cairan IV tidak mampu mengatasi gangguan sirkulasi darah dan
sebagai tambahan dari pemberian antibiotik).
4. Memberikan plasma dan trombosit sebagai tambahan faktor pembekuan, karena
komponen darah spesifik yang lain tidak ada.
5. Transfusi tukar pada neonatus dengan ikterus berat.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan darah?
2. Apa saja fungsi darah?

1
3. Apa saja komponen-komponen darah?
4. Apakah yang dimaksud dengan whole blood?
5. Bagaimana cara pembuatan whole blood?
6. Bagaimana cara penyimpanan whole blood?
C. Tujuan
1. Mengetahui apa itu darah
2. Mengetahui fungsi darah
3. Mengetahui komponen-komponen darah
4. Mengetahui apa itu whole blood
5. Mengetahui cara pembuatan whole blood
6. Mengetahui cara penyimpanan whole blood

2
BAB II
ISI
1. Pengertian Darah
Darah adalah cairan tubuh pada manusia dan hewan lainnya yang mengangkut
senyawa penting seperti nutrisi dan oksigen ke dalam sel dan mentranspor produk
buangan metabolik dari sel. Darah adalah komponen penting dalam tubuh kita (dan
hewan lainnya). Darah adalah campuran cairan dan sel, dan bahkan terdapat
makronutrisi seperti protein dan ion seperti sodium dalam darah ini. Semua komponen
ini memainkan peran penting untuk tubuh. Selain bertindak sebagai pengangkut
senyawa penting untuk tubuh dan membuang produk buangan dari sel, darah bertindak
melindungi tubuh dari invasi virus atau bakteri dan terhadap kerusakan sel. Sel darah
putih, bersama sistem kekebalan tubuh, bertindak sebagai pertahanan organisme dari
serangan virus atau bakteri yang menginvasi.
2. Fungsi Darah
Darah lebih tebal dari pada air, dan terasa sedikit lengket. Suhu dari darah pada
tubuh 38 derajat Celsius, lebih tinggi 1 derajat dari suhu tubuh. Jumlah darah dalam
tubuh tergantung dari ukuran dan berat tubuh. Fungsi darah pada manusia dibagi
menjadi 3, yaitu:
 Transportasi
Darah mengangkut oksigen dari paru-paru ke sel-sel yang berada di tubuh, yang akan
digunakan untuk respirasi seluler atau metabolisme seluler. Karbon dioksida yang
diproduksi saat metabolisme dibawa kembali ke paru paru oleh darah, yang kemudian
kita hembuskan keluar saat bernafas. Darah juga menyediakan sel-sel nutrisi,
mentranspor hormon-hormon dan membuang produk buangan.
 Regulasi
Darah membantu menjaga tubuh dalam keseimbangan. Contohnya, darah membuat
suhu tubuh terjaga, hal ini dilakukan melalui plasma darah, yang bisa mengabsorbsi
panas. Ketika pembuluh darah meluas, darah mengalir lebih lambat dan hal ini
menyebabkan panas hilang. Ketika suhu lingkungan turun, pemuluh darah bisa
mengerut agar kehilangan panas bisa ditekan.

3
 Proteksi
Jika pembuluh darah rusak, trombosit bertindak sebagai penyumbat dalam area yang
terluka, untuk mencegah kehilangan darah lebih lanjut. Selain itu, sel darah putih dan
senyawa messenger lainnya memainkan peran penting dalam sistem kekebalan tubuh.

3. Komponen-komponen Darah
 Plasma
Plasma adalah komponen utama dari darah yang terdiri dari air dengan
campuran protein, ion, nutrisi, dan zat buangan. Plasma ini terdiri dari 90% air dan 10%
sisanya adalah ion, protein, nutrisi, zat buangan dan gas. Ion, protein dan molekul
lainnya dalam plasma memainkan peran penting dalam menjaga pH darah dan
keseimbangan osmotik. Beberapa molekul dalam plasma memiliki peran yang spesifik.
Contohnya yaitu hormon yang berperan sebagai sinyal jarak jauh, antibodi yang
mengidentifikasi dan menyerang patogen, dan faktor pembekuan yang membentuk
pembekuan darah pada daerah luka. Lipid, seperti kolestrol, juga dibawa oleh plasma,
tetapi lipid ini harus dibawa oleh protein khusus karena lipid tidak bisa bercampur
dengan air.
 Sel darah merah
Sel darah merah ini memiliki fungsi untuk membawa oksigen dan karbon
dioksida yang nantinya digunakan dalam respirasi seluler dan metabolisme. Sel darah
merah ini adalah sel khusus yang mensirkulasi ke seluruh tubuh dan membawa oksigen
ke jaringan. Pada manusia, sel darah merah ini berukuran kecil (7-8 µl) dan tidak
memiliki organel mitokondria dan nukleus (inti sel) ketika dewasa.
Karakteristik-karakteristik ini memungkinkan sel darah merah untuk
melaksanakan tugas sebagai pembawa molekul oksigen dengan efektif. Ukuran yang
kecil membuat pertukaran gas menjadi mudah, sedangkan ketidakhadiran nukleus
membuat ruang tambahan untuk hemoglobin, protein penting yang digunakan dalam
transpor oksigen. Ketidakadaan mitokondria membuat sel darah merah tidak
menggunakan oksigen yang ia bawa (karena fungsi sel darah merah ini membawa
oksigen dan memberikannya kepada yang membutuhkan).
Pada organ paru paru, sel darah merah mengambil oksigen dan
mensirkulasikannya ke seluruh tubuh, ia melepaskan oksigen ke jaringan di sekitarnya.
Sel darah merah juga memainkan peran penting dalam transpor karbon dioksida (produk
buangan). Sel darah merah mempunyai umur 120 hari, sel yang tua atau rusak akan

4
dihancurkan di hati, dan sel yang baru akan diproduksi di tulang sum-sum. Produksi sel
darah merah ini dikendalikan oleh hormon erythropoietin, yang dilepaskan oleh organ
ginjal.
 Sel darah putih
Sel darah putih adalah bagian dari sistem imun yang berfungsi sebagai respon
kekebalan tubuh. Sel yang mempunyai nama lain leukocytes ini lebih sedikit jumlahnya
dari pada sel darah merah, yaitu sekitar 1% dari sel yang ada di darah. Fungsi sel darah
putih bereda dengan sel darah merah, fungsinya yaitu sebagai respon kekebalan tubuh,
mengidentifikasi dan menetralisir invasi dari patogen seperti bakteri dan virus.
Meskipun jumlah sel darah putih lebih sedikit. tetapi ukuran sel darah putih lebih
besar dari sel darah merah, dan mempunyai nukleus serta mitokondria, tidak seperti sel
darah merah. Sel darah putih dibagi menjadi 2 kelompok menurut penampilannya jika
dilihat melalui mikroskop, yaitu granulocytes dan agranulocytes.
1. Granulocytes: Kelompok ini mempunyai granula pada sitoplasmanya ketika dilihat
melalui mikroskop. Kelompok ini terdiri dari neutrophils, eosinophils, dan asophils.
2. Agranulocytes: Kelompok ini tidak memiliki granula pada sitoplasmanya. Yang
termasuk dalam kelompok ini adalah monocytes dan lymphocytes.
Setiap jenis sel darah putih ini memainkan peran yang spesifik dalam pertahanan tubuh.
Contohnya, beberapa sel darah putih berperan dalam menelan dan menghancurkan
patogen, sementara yang lainnya mengidentifikasi mikroorganisme spesifik dan
meluncurkan respons kekebalan tubuh untuk melawannya. Daya hidup sel darah putih
tergantung dari jenis sel darah putihnya, dan sel baru diproduksi di tulang sum-sum.
 Trombosit
Trombosit bertanggung jawab terhadap pemekuan darah. Trombosit ini adalah
pecahan sel yang terlibat dalam pembekuan darah. Trombosit diproduksi ketika sel yang
besar, megakaryocytes dipecah menjadi kepingan, setiap satu sel ini akan memuat 2000
sampai 3000 trombosit. Trombosit biasanya berbentuk disk dan kecil, berukuran sekitar
2 sampai 4 mikrometer.
Ketika misalnya jari kita terkena pisau dan berdarah, trombosit tertarik ke
tempat luka dan membentuk semacam penyumbat yang lengket. Trombosit kemudian
melepaskan sinyal, yang tidak hanya menarik trombosit lainnya, tetapi juga
mengaktifkan sinyal yang mengkonversi fibrinogen (protein larut air yang ada di plasma
darah) menjadi fibrin (protein yang tidak larut dalam air). Fibrin kemudian membentuk

5
benang benang yang memperkuat penyumbat trombosit, agar mencegah kehilangan
darah semakin banyak.
Pembuatan bagian-bagian darah berasal dari sel induk (stem cells). Pada sel
darah dewasa, biasanya sel diproduksi di tulang sum-sum. Macam macam sel darah
merah berkembang dalam beberapa tahap dari sel induk menuju sel darah atau
trombosit. Sel darah putih seperti lymphocytes tidak dewasa hanya di tulang sum-sum,
tapi tumbuh juga di kelenjar getah gening. Ketika sel-sel selesai tumbuh, ia dilepaskan
ke peredaran darah. Beberapa senyawa messenger mengatur produksi sel-sel darah.
Hormon erythropoietin, yang diproduksi di ginjal, mendorong produksi sel-sel darah
merah, sementara cytokine menstimulasi produksi sel sel darah putih.

4. Whole Blood
Darah utuh adalah campuran unsur seluler, koloid dan kristaloid. Karena
komponen darah yang berbeda memiliki perbedaan kepadatan yang relatif berbeda,
selanjutnya dalam urutan berat jenis komponen darah mulai dari yang terendah yaitu
plasma, trombosit, leukosit (buffy coat), dan darah endap (packed red blood cells).
Efisiensi fungsional dari setiap komponen tergantung pada pengolahan dan
penyimpanan yang tepat. Untuk menggunakan satu unit darah dengan tepat dan rasional,
terapi komponen akan disesuaikan secara universal. Komponen disiapkan dengan
sentrifugasi dari satu unit whole blood. Suatu komponen tunggal juga dapat
dikumpulkan dengan prosedur apheresis dalam donor darah.

5. Cara Pembuatan Whole Blood


Whole Blood adalah darah yang diambil langsung dari donor yang bercampur
dengan antikoagulan yang sudah tersedia dalam kantong darah. Darah lengkap
mempunyai komponen utama yaitu eritrosit, trombosit dan factor pembekuan labil (V,
VIII). Satu unit kantong darah lengkap berisi 450 ml darah dan 63 ml antikoagulan. Di
Indonesia, 1 kantong darah lengkap berisi 250 ml darah dengan 37 mlantikoagulan, ada
juga yang 1 unit kantong berisi 350 ml darah dengan antikoagulan. Suhu simpan antara
2-4ºC. Satu unit darah (250-450 ml) dengan antikoagulan sebanyak 15 ml / 100 ml darah
(Sudoyo, 2009).

6
Tahap dalam pembuatan whole blood dibagi menjadi tiga, yaitu: pre analitik,
analitik, dan pasca analitik.
a. Pre Analitik
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
 Informed consent
 Tensimeter
 Kapas
 Alkohol 70%
 Torniquet
 Jarum
 Kantung darah
 Timbangan darah
 Plester
 Tempat limbah infeksius
2. Jelaskan prosedur pengambilan darah pada pendonor
b. Analitik
1. Persilahkan donor mencuci kedua tangan
2. Persilahkan donor tidur ditempat tidur yang sudah disediakan dengan posisi
terlentang
3. Tempatkan tangan donor lurus disamping, diatas tempat tidur dengan posisi
menghadap ke atas
4. Pasang tensimeter dengan posisi slang/pipa tensimeter diatas
5. Identifikasi kantong darah tabung sampel sesuai dengan formulir donor darah
yaitu : nomor kantong, golongan darah, tanggal pengambilan, nama pengambil
darah, jam penusukan vena (komponen darah)
6. Naikkan tensimeter sampai batas antara systole dengan diastole, raba dan
tentukan letak vena dimana akan dilakukan penusukan, turunkan tensimeter.
7. Ambil kapas betadine menggunakan pean, kemudian pakai untuk desinfeksi
lokasi yang akan ditusuk dari satu titik tengah, dengan gerakan melingkar dari arah
dalam keluar 1 kali. Gunakan kapas baru untuk pengulangan hindarkan arah
berlawanan karena dapat membawa kotoran ke lokasi penusukan vena.
8. Ambil kapas alcohol 70%, lakukan desinfeksi vena dengan cara yang sama 3-4
kali

7
9. Buatlah simpul longgar pada slang kantong darah 15 cm dari arah jarum
10. Tempatkan kantong darah diatas timbangan darah. Timbangan darah berupa
timbangan berat dan timbangan khusus yang bergoyang
11. Naikkan tensimeter kembali sampai batas systole dan diastole
12. Lakukan penusukkan vena dengan cara :
 Buka tutup jarum, posisi lobang jarum disebelah atas
 Tekan secara pelan lengan donor dibawah lokasi dibawah lokasi
penusukan dengan tangan kiri
 Tusukkan jarum 1 atau 2 inci dari vena, dorong sampai berada ditengah
vena, jangan sampai menembus sisi vena yang lain bisa terjadi
hematoma pada lengan donor.
13. Lakukan fiksasi slang dilengan donor dengan menggunakan plester di 2 tempat
agar kedudukan jarum tidak berubah. Tutup luka donor dengan kapas steril selama
pengambilan darah. Bila menggunakan alat penggoyang darah, teruskan ke No. 14.
Bila tidak lanjutkan ke No. 13.
14. Goyangkan gantong darah secara perlahan dan sesering mungkin agar
homogeny dengan antikoagulan
15. Apabila volume darah sudah tercapai sesuai dengan jenis kantong darah yang
dipakai, jepitlah slang denga klem A kurang lebih 15 cm dari arah jarum
16. Serut slang kantong darah dari klem A kearah ke arah kantong darah dengan
menggunakan hand sealer sepanjang kurang lebih 5 cm, kemudian jepit slang
kantong darah dengan klem B kurang lebih 2 cm dari klem A
17. Potong slang kantong darah antara klem A dan klem B, kemudian kencangkan
simpul pada slang.
18. Tempatkan tabung/botol sampel diujung potongan slang, baru klem A dan isilah
tabung/botol sampel tersebut dengan darah vena donor langsung dari slang yang
masih ada ditangan donor tersebut.
19. Tutup klem A
20. Turunkan tensimeter sampai batas nol
21. Ambil kapas alcohol 70% letakkan diatas tusukan vena dengan sedikit ditekan,
kemudian cabutlah jarum dari tubuh donor secara perlahan.
22. Minta donor menekan bekas tusukan pada vena dengan kapas alcohol 70% tadi
dan mengangkat tangan keatas
23. Buang jarum dan slang kedalam tempat sampah infeksius

8
24. Serut slang kantong darah dengan hand sealer hingga darah masuk kedalam
kantong darah, kocok perlahan agar tercampur sempurna, lepaskan hand sealer
hingga slang darah dapat terisi kembali dengan darah yang telah tercampur
antikoagulan. Ulangi 2-3 kali. Rapikan slang.
c. Pasca Analitik
1. Cocokkan nomor sampel dengan nomor kantong darah. Simpan darah kedalam
blood bank pada suhu 2-4°C atau biarkan disuhu kamar bila darah tersebut
diperuntukkan untuk komponen trombosit.
2. Periksa luka tusukan pada vena donor, bila tidak ada perdarahan, tutup dengan
tensoplast amati kurang lebih 1 menit
3. Persilahkan donor ke ruang istrahat bila tidak ada keluhan dari donor.

6. Cara Penyimpanan Whole Blood


Masa penyimpanan whole blood ada dua, yaitu darah segar (fresh blood), darah
yang disimpan kurang dari 6 jam, masih lengkap mengandung trombosit dan faktor
pembekuan labil, serta darah yang disimpan (stored blood), yaitu darah yang sudah
disimpan lebih dari 6 jam. Darah dapat disimpan maksimal sampai dengan 35 hari.
Darah simpan tersebut mengandung trombosit dansebagian faktor pembeku sudah
menurun jumlahnya (Bakta, 2006).
Whole blood dikumpulkan dalam wadah yang diproduksi dari polyolefin atau
polyvinyl klorida (PVC) yang lebih tipis atau kantung plastik dengan berbagai senyawa
seperti trietil heksil trimelit dan butyril-tri-hexyl sitrat. Kantung ini menyediakan
hampir dua kali permeabilitas oksigen. Wadah PVC juga menjaga pH lebih dari 6 untuk
kelangsungan hidup dan fungsi platelet yang lebih baik. Fungsi dari penyimpanan
komponen yang tepat adalah untuk melestarikan biologis fungsi dari darah dan
mengurangi pertumbuhan bakteri komponen darah.
Sesuai pedoman standar suhu penyimpanan untuk sel darah merah adalah antara
+ 2 °C dan + 6 ° C, untuk trombosit dan leukosit antara + 20 ° C dan + 24 ° C dan untuk
produk plasma, di bawah -18 ° C. Semua komponen harus disimpan dalam tiga
kompartemen atau peralatan, komponen yang belum diuji, yang diuji dan aman untuk
dikeluarkan, komponen diuji yang tidak aman atau karantina untuk dibuang.
Kompartemen terpisah diperlukan untuk menjaga unit-unit cross-match yang aman.
Selama pengangkutan, komponen disimpan maksimal 24 jam jika
dipertahankan suhu yang disarankan. Semua komponen secara rutin disimpan antara +

9
20 ° C dan + 24 ° C dan juga dikirim pada suhu yang sama. Semua komponen yang
dibekukan harus diangkut dengan cara mempertahankannya keadaan beku. Perubahan
suhu dapat dipantau dan didokumentasikan baik melalui indikator atau bisa juga
memeriksa setiap komponen secara manual untuk mengetahui adanya kerusakan.
Peralatan penyimpanan dan transportasi yang digunakan adalah: lemari
pendingin bersuhu 2-4 ° C. Untuk transport atau pengiriman digunakan transport box
untuk pengiriman jarak pendek antara dua penyimpanan. Segala bentuk penyimpanan
dan pengiriman ini adalah untuk memenuhi prinsip transfusi darah yaitu ‘darah yang
tepat diberikan ke pasien yang tepat di waktu yang tepat dan di tempat yang tepat’.

10
DAFTAR PUSTAKA

Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., et. al. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta:
Pusat penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI

Bakta, I Made. 2006. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta: EGC.1-2,9.11.

Contreras, Marcelo.1995.Petunjuk Penting Transfusi Darah.Jakarta:EGC.

Saputra, Lyndor.2013.Pengantar Kebutuhan Dasar Kemanusiaan.Jakarta:Binarupa Aksara


Publisher.

Waterbury, Larry.2001.Hematologi (Edisi 3).Jakarta.EGC

Boink, A. B. T. J, et al. 1991. IFCC recommendation on sampling, transport and storage for
the determinationof the concentration of ionized calcium inwhole blood, plasma and serum.
Journal of Automatic Chemistry, Vol. 13, No. 5 (September-October 1991), pp. 235-239.

Basu, Debdatta, et al. 2014. Overview of blood components and their preparation. India:
Departments of Pathology and Transfusion Medicine, JIPMER, Pondicherry.

Komisi Transfusi. 2015. Transfusi Darah. Malang: RS Saiful Anwar – Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya.

Anonim. Pengaruh transfusi whole blood dan packed red cell terhadap kadar hemoglobin.
diakses dari repository.unimus.ac.id, pada 30 Agustus 2018

Anonim. Transfusi Darah. Diakses dari www.scribd.com, pada 30 Agustus 2018

11
INTISARI
Darah adalah cairan tubuh pada manusia dan hewan lainnya yang mengangkut senyawa
penting seperti nutrisi dan oksigen ke dalam sel dan mentranspor produk buangan metabolik
dari sel. Darah adalah komponen penting dalam tubuh kita (dan hewan lainnya). Darah adalah
campuran cairan dan sel, dan bahkan terdapat makronutrisi seperti protein dan ion seperti
sodium dalam darah ini. Semua komponen ini memainkan peran penting untuk tubuh. Selain
bertindak sebagai pengangkut senyawa penting untuk tubuh dan membuang produk buangan
dari sel, darah bertindak melindungi tubuh dari invasi virus atau bakteri dan terhadap kerusakan
sel. Darah dalam tubuh memiliki fungsi utama dalam aspek transportasi, regulasi, dan proteksi.
Darah terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen padat dan komonen cairan. Komonen
cairan darah yaitu plasma dan komponen padat darah berupa sel eritrosit, sel trombosit dan sel
leukosit yang memiliki fungsinya masing-masing. Whole Blood adalah darah yang diambil
langsung dari donor yang bercampur dengan antikoagulan yang sudah tersedia dalam kantong
darah. Darah lengkap mempunyai komponen utama yaitu eritrosit, trombosit dan factor
pembekuan labil (V, VIII) (Sudoyo, 2009).
Masa penyimpanan whole blood ada dua, yaitu darah segar (fresh blood), darah yang
disimpan kurang dari 6 jam, masih lengkap mengandung trombosit dan faktor pembekuan labil,
serta darah yang disimpan (stored blood), yaitu darah yang sudah disimpan lebih dari 6 jam.
Darah dapat disimpan maksimal sampai dengan 35 hari. Darah simpan tersebut mengandung
trombosit dansebagian faktor pembeku sudah menurun jumlahnya (Bakta, 2006).
Sesuai pedoman standar suhu penyimpanan untuk sel darah merah adalah antara + 2 °C
dan + 6 ° C, untuk trombosit dan leukosit antara + 20 ° C dan + 24 ° C dan untuk produk plasma,
di bawah -18 ° C. Semua komponen harus disimpan dalam tiga kompartemen atau peralatan,
komponen yang belum diuji, yang diuji dan aman untuk dikeluarkan, komponen diuji yang
tidak aman atau karantina untuk dibuang. Kompartemen terpisah diperlukan untuk menjaga
unit-unit cross-match yang aman.

12