Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengukuran gas darah arteri sangat penting dalam menilai pertukaran gas di
dalam paru. Pengukuran ini untuk mengukur keasaman darah dan kadar bikarbonat.
Analisa gas darah dilakukan untuk mengevaluasi status oksigen dan karbondioksida di
dalam darah arteri dan mengukur pH-nya.
Proses perubahan pH darah ada dua macam, yaitu proses perubahan yang
bersifat metabolik (adanya perubahan konsentrasi bikarbnat yang disebabkan
gangguan metabolisme) dan yang bersifat respiratorik (adanya perubahn tekanan
parsial CO2 yang disebabkan gangguan respirasi). Perubahan PaCO2 akan
menyebabkan perubahan pH darah. pH darah akan turun /asidosis jika PaCO2
meningkat (asidosis respiratorik primer) atau jika HCO3- /asidosis metabolik
primer, pH darah akan naik /alkalosis jika PaCO2/alkalosis respiratorik primer atau
jika HCO3-/alkalosis metabolik primer.
Asidosis ada dua macam, yaitu asidosis akut dan asidosis kronik, juga alkalosis
ada dua macam yaitu alkalosis akut dan alkalosis kronik. Penggolongan
asidosis/alkalosis akut berdasarkan kejadiannya belum lama dan belum ada upaya
tubuh untuk mengkompensasi perubahan pH darah, sedangkan jika kronik jika
kejadiannya telah melampaui 48 jam dan telah terdapat hasil upaya tubuh untuk
mengkompensasi perubahan pH.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud analisa gas darah?
2. Apakah tujuan dari pemeriksaan analisa gas darah?
3. Apa saja komponen-komponen analisa gas darah?
4. Apakah yang dimaksud dengan keseimbangan asam basa?
5. Bagaimana cara pemeriksaan analisa gas darah?
C. Tujuan
1. Mengetahui apa itu analisa gas darah
2. Mengetahui tujuan pemeriksaan analisa gas darah
3. Mengetahui komponen-komponen analisa gas darah
4. Mengetahui apa itu keseimbangan asam dan basa
5. Mengetahui cara pemeriksaan analisa gas darah

1
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Analisa Gas Darah


Analisis gas darah merupakan pemeriksaan yang esensial dalam ilmu
kedokteran gawat darurat, yang mampu memberikan informasi berharga mengenai
status asam basa, ventilasi maupun oksigenasi dari pasien. Analisis gas darah arteri
merupakan prosedur yang sering dikerjakan dan merupakan standar baku untuk
menentukan status asam basa, ventilasi dan oksigenasi pasien (Dewi, K.J.U. 2014).
Paru-paru dan ginjal merupakan organ penting yang bertanggung jawab untuk
mengatur pH darah tetap normal. Gangguan keseimbangan asam-basa merupakan hal
yang sangat penting, karena setiap gangguannya dapat mempengaruhi fungsi organ
vital. Gangguan keseimbangan asam basa yang berat juga dapat mengancam
kehidupan (Hardjoeno dkk,2003). Komponen yang dapat diketahui dari pemeriksaan
AGD adalah pH, Tekanan Parsial Karbon Dioksida (PCO2), Bicarbonat (HCO3-),
Base Excess/kelebihan basa (BE), Tekanan Oksigen (PO2), Kandungan Oksigen (O2)
dan saturasi Oksigen (SO2) (Kee,2007).
2. Tujuan Pemeriksaan Analisa Gas Darah
Analisa gas darah dilakukan bertujuan untuk :
a. Menilai atau mengkaji gangguan keseimbangan asam-basa dalam tubuh, baik
yang disebabkan oleh gangguan pernafasan dan/atau gangguan metabolik
b. Menilai kadar oksigenasi dan kadar karbondioksida dalam darah
c. Sebagai pegangan dalam penanganan pasien-pasien penyakit berat yang akut
dan menahun
d. Mengetahui keadaan O2 dan metabolisme sel
e. Efisiensi pertukaran O2 dan CO2.
f. Sebagai tindakan pemantauan dalam pemberian obat anestetik.

3. Komponen-komponen pemeriksaan Analisa Gas Darah


Komponen -komponen pemeriksaan AGD mencakup :
a. pH (Status asam basa)
pH darah mewakili seluruh keseimbangan asam (asidosis) dan basa
(alkalosis) yang diproses di dalam tubuh. Hal ini ditentukan dengan menghitung
perbandingan rasio komponen metabolik (HCO3-) dan respirasi (CO2) dari

2
keseimbangan asam basa (Irizarry dkk, 2009; Martini, 2006).
Secara umum, asidemia adalah kondisi dimana pH darah turun hingga kurang dari
7,35 dan alkalemia jika pH darah lebih dari 7,45 (7,4 adalah netral)
(Dorland,2004). Berdasarkan persamaan Henderson-Hasselbach, pH dapat
ditentukan dengan rasio konsentrasi HCO3- dengan konsentrasi CO2 yang
terlarut dalam cairan ekstrasel.

pH = HCO3- (metabolik)

αPCO2 (respiratorik)

Dalam rumus tersebut, α adalah koefisien solubilitas untuk karbondioksida dan


setara dengan 0,03(Irizarry dkk, 2009).
Perubahan pH akan sejalan dengan gangguan utama yang terjadi
Proses perubahan pH darah ada dua macam, yaitu :
 bersifat respiratorik, karena adanya tekanan parsial CO2 yang disebabkan
gangguan respirasi
 bersifat metabolik, karena adanya perubahan konsentrasi bikarbonat yang
disebabkan gangguan metabolisme
b. Tekanan parsial oksigen (PO2)
c. Tekanan parsial karbondioksida (PCO2)
PCO2 menyediakan informasi mengenai ventilasi atau komponen respirasi
dalam keseimbangan asam basa. Ventilasi alveoli didefinisikan sebagai volume
udara per unit waktu yang mencapai alveoli, tempat dimana pertukaran gas
dengan darah pulmonal terjadi (Irizarry dkk, 2009; Martini, 2006).
Hipoventilasi ditandai dengan adanya peningkatan PCO2 (>45 mmHg) akibat
retensi CO2 dalam darah. CO2 merupakan asam volatil, sehingga jika
terjadi retensi CO2 akan menyebabkan respiratori asidosis. Ringkasnya,
respiratori asidosis terjadi akibat beberapa aspek kegagalan ventilasi, dimana
sejumlah normal CO2 dihasilkan oleh jaringan tidak dapat diekskresikan
dengan baik melalui menit ventilasi alveolar. Penyebab umum terjadinya
hipoventilasi berupa hal-hal yang mempengaruhi sistem saraf respirasi (misal :
anestesia, sedasi), mekanisme pernapasan (misal : hernia diafragma, penyakit

3
rongga pleura) atau aliran udara yang melalui saluran nafas (misal : obstruksi
saluran nafas atas ataupun bawah) ataupun alveoli (Irizarry dkk, 2009; Martini,
2006).
Hiperventilasi ditandai dengan menurunnya PCO2, sebagai akibat CO2 telah
dibuang dari alveoli, yang mana menyebabkan respiratori alkalosis (PCO2<35
mmHg). Penyebab terjadinya hiperventilasi karena hipoksemia, penyakit
pulmonal, nyeri, cemas, dan ventilasi manual atau mekanik yang berlebihan.
Hiperventilasi juga dapat terjadi sebagai akibat kompensasi dari asidosis
metabolic (Irizarry dkk, 2009; Martini, 2006).
d. Saturasi oksigen (SO2)
Oksigenasi (3 dan 4) harus tetap diperiksa pada pasien berpenyakit kritis,
meskipun tidak secara langsung mempengaruhi keseimbangan asam basa (Irizarry
dkk, 2009; Martini, 2006). Hipoksemia mengacu pada berkurangnya oksigen
dalam darah arteri, ditandai dengan nilai PaO2 dibawah 80 mmHg. Kondisi
hipoksemia dapat mengancam nyawa dan nilai PaO2 dibawah 60 mmHg
membutuhkan intervensi terapi segera.
e. Konsentrasi bikarbonat (HCO3-)
Nilai rujukan untuk HCO3- adalah 22–28 mmol/L (arteri). Nilai yang kurang
dari normal, dapat mengindikasikan asidosis metabolik sedangkan jika nilainya
lebih besar mengindikasikan alkalosis metabolic (Irizarry dkk, 2009).
Metabolik asidosis dapat disebabkan oleh peningkatan pembentukan ion

hidrogen (H+) dari faktor endogen (misal: laktat, keton) atau asam yang bersifat
eksogen (misal: ethylene glycol, salisilat) dan oleh inabilitas ginjal untuk

mengekskresikan H+ dari protein diet (gagal ginjal). Peningkatan H+ dalam tubuh


dibuffer oleh penurunan HCO3-, mengakibatkan penurunan rasio HCO3-:PCO2
sehingga menurunkan pH. Selain itu, asidosis metabolik dapat disebabkan oleh
kehilangan bikarbonat secara langsung melalui saluran gastrointestinal (diare)
atau ginjal (asidosis renal tubular) atau yang lebih jarang akibat pemberian cairan
intravena yang agresif yang tidak mengandung bikarbonat ataupun prekursor

bikarbonat (misal: saline). Metabolik alkalosis dapat terjadi akibat kehilangan H+


(muntah) atau dari peningkatan HCO3- (pemberian sodium bikarbonat, alkalosis
hipokloremia akibat penggunaan loop diuretic) (Irizarry dkk, 2009).

4
f. BE (base excesses/kelebihan basa)
Merupakan konsentrasi basa yang dapat tertitrasi pada suatu larutan untuk
mencapai pH 7.40 pada tekanan CO2 (pCO2) 40 mmHg.

4. Keseimbangan Asam dan Basa


Derajat keasaman merupakan suatu sifat kimia yang penting dari darah dan cairn
tubuh lainnya Satuan derajat keasaman adalah pH, pH 7,0 adalah netral, pH> 7,0 adalah
basa/alkali dan pH dibawah 7,0adalah asam. Suatu asam kuat memmiliki pH yang
sangat rendah(hampir 1,0), sedangkan suatu basa kuat memiliki pH yang sangat tinggi
(diatas 14,0). Darah memiliki pH antara 7,35-7,45. Keseimbangan asam-basa darah
dikendalikan secara seksama krena perubahan pH yang sangat kecilpun dapat
memberikan efek yang serius terhadap beberapa organ.
Tubuh menggunakan 3 mekanisme untuk mengendalikan keseimbangan asam basa
darah:
a. Kelebihan asam akan dibuang oleh ginjal, sebagian besar dalam bentuk ammonia.
Ginjal memiliki kemampuan untuk merubah jumlah asam atau basa yang dibuang,
yang biasanya berlangsung selama beberapa hari.
b. Tubuh menggunakan penyangga pH/buffer dalam darah sebagai pelindung terhadap
perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam pH darah. Suatu penyangga pH yang
paling penting dalam darah menggunakan bikarbonat. Bikarbonat (suatu komponen
basa) berada dalam keseimbangan dengan CO2 (suatu komponen asam). Jika lebih
banyak asam yang masuk ke dalam aliran darah, maka akan dihasilkan lebih banyak
bikarbonat dan lebih sedikit CO2. Jika lebih banyak basa yang masuk ke dalam
aliran darah, maka akan dihasilkan lebih banyak CO2 dan lebih sedikit bikarbonat.
c. Pembuangan CO2
CO2 adalah hasil tambahan penting dari metabolisme oksigen dan terus menerus
yang dihasilkan oleh sel. Darah membawa CO2 ke paru-paru dan di paru-paru. CO2
tersebut dikeluarkan/dihembuskan. Pusat pernapasan di otak mengatur jumlah CO2
yang dihembuskan dengan mengendalikan kecepatan dan kedalaman pernapasan.
Jika pernapasan meningkat, kadar CO2 darah menurun dan darah menjadi lebih
basa. Jika pernapasan menurun, kadar CO2 darah meningkat dan darah menjadi
lebih asam. Dengan mengatur kecepatan dan kedalaman pernapasan, maka pusat
pernapasan dadn paru-paru mampu mengatur pH darah menit demi menit.

5
Adanya kelainan pada satu atau lebih mekanisme pengendalian pH tersebut, bisa
menyebabkan salah satu dari 2 kelainan utama dalam keseimbangan asam basa,
yaitu asidosis dan alkalosis.
Asidosis adalah suatu keadaan dimana darh terlalu banyak mengandung
asam atau terlalu sedikit mengandung basa dan sering menyebabkan menurunnya
pH darah Alkalosis adalah suatu keadaan dimana darah terlalu banyak
mengandung basa (atau terlalu sedikit mengandung asam) dan kadang
menyebabkan meningkatnya pH darah.
Asidosis dan alkalosis bukan merupakan suatu penyakit tetapi lebih
merupakan suatu akibat dari sejumlah penyakit. Terjadinya asidosis dan alkalosis
merupakan petunjuk dari adanya masalah metabolisme yang serius. Asidosis dan
alkalosis dikelompokkan menjadi metabolic dan respiratorik, tergantung kepada
penyebab utamanya. Asidosis metabolic dan alkalosis metabolic disebabkan oleh
ketidakseimbangan dalam pembentukan dan pembuangan asam dan basa oleh
ginjal. Asidosis respiratorik dan alkalosis respiratorik terutama disebabkan oleh
penyakit paru-paru atau kelainan pernapasan.
Asidosis akan meningkatkan konsentrasi K dalam darah, sehingga fungsi sel
dan enzim tubuh memburuk, kemudian mengakibatkan aritmia ventrikuler.
Alkalosis akan menurunkan konsentrasi K dalam darah, sehingga afinitas HB-O2
meningkat. Akibatnya pelepasan O2 ke jaringan sulit sehingga terjadi hipoksemia
Kenaikan pCO2 akan mengakibatkan koma dan aritmia serta vasodilatasi
pembuluh darah. Bila hal ini terjadi di otak maka aliran darah ke otak akan
meningkat dan mengakibatkan kenaikan tekanan intra cranial. Penurunan pCO2
(<25 mmHg) akan mengakibatkan vasokonstriksi pembuluh darah, sehingga
aliran darah ke jaringan turun. Bila hal ini terjadi di otak maka akan terjadi
hipoksemia otak.

6
5. Cara Pemeriksaan Analisa Gas Darah
Analisa Gas Darah ( AGD ) atau yang disebut dengan Arterial Blood Gas (ABG)
analysis atau Blood Gas Analisa (BGA) adalah sebuah pemeriksaan atau tes yang
mengukur jumlah oksigen dan karbondioksida dalam darah, dan keasaman (pH) dalam
darah.
5.1 Pra Analitik
1) Mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan:
a. Disposibel 2,5 cc
b. Perlak/alas
c. Heparin
d. Kapas alcohol
e. Bak spuit
f. Bengkok
g. Penutup udara dari karet
h. Wadah berisi es (baskom atau kantong plastik)
i. Beri label untuk menulis status klinis pasien yang meliputi:
nama, tanggal dan waktu, apakah menerima O2, bila ya berapa
liter dan dengan rute apa.
2) Persiapan pengambilan sampel
Sampel yang digunakan adalah darah arteri. Ciri-ciri darah arteri : teraba
denyutan, lokasi tusukan lebih dalam, warna darah lebih terang dan darah akan
mengalir sendiri ke dalam semprit
Lokasi pengambilan sampel:
a. Radial Artery (RA) / Arteri Radialis
Merupakan pilihan pertama yang paling aman dipakai untuk fungsi arteri
kecuali terdapat banyak bekas tusukan atau hematome juga apabila Allen test
negatif. Arteri yang berada di pergelangan tangan pada posisi ibu jari.
Terdapat sirkulasi kolateral (suplai darah dari beberapa arteri). Kesulitannya
ukuran arteri kecil, sulit memperoleh kondisi pasien dengan curah jantung
yang rendah.

7
b. Brachial Artery / Arteri Brachialis
Arteri yang berada pada medial anterior bagian antecubital fossa, terselip
diantara otot bisep. Ukuran arteri besar sehingga mudah dipalpasi dan
ditusuk. Sirkulasi kolateral cukup, tetapi tidak sebanyak RA. Kesulitannya
letak arteri lebih dalam, letaknya dekat dengan basillic vein dan syaraf
median, kemungkinan terjadi hematoma.

c. Femoral Artery / Arteri Femoralis


Arteri yang paling besar untuk AGD. Berada pada permukaan paha
dalam di dalam, di sebelah lateral tulang pubis. Dapat dilakukan AGD
sekalipun pada pasien dengan curah jantung yang rendah. Kesulitannya
sirkulasi kolateral sedikit sehingga mudah terjadi infeksi pada tempat
pengambilan, sulit untuk bekerja aseptis, pada orang tua (gangguan pada
dinding arteri sebelah dalam), letaknya dekat dengan vena paha.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan darah:


a. pasien diusahakan dalam keadaan tenang dan tidak takut/gelisah
dengan posisi berbaring (bila dalam keadaan takut/gelisah akan
menyebabkan hiperventilasi)
b. pengambilan astrup dilakukan 20 menit setelah pemberian oksigen
pada pasien yang sedang pemberian terapi oksigen dan cantumkan
kadar oksigen yang diberikan
c. akibat pengambilan darah hati-hati bila ada perdarahan dan

8
hematoma akibat pengambilan darah terutama pada pasien yang
sedang mendapat terapi antikoagulan
d. Jika AGD dilakukan pada hari bersamaan dengan rencana
pemeriksaan spirometri, darah arteri diambil sebelum pemeriksaan
spirometri dilakukan ( bertujuan untuk menentukan diagnosa gagal
napas)
e. Suhu tubuh pasien waktu pengambilan darah harus dicantumkan
pada formulir permohonan pemeriksaan yang meliputi: nama,
tanggal dan waktu, apakah menerima O2, bila ya berapa liter dan
dengan rute apa.

5.2 Analitik
1) Beritahu pasien tujuan dari pengambilan darah
2) Ppasang alas/perlak pada lokasi yang akan diambil darah
3) Usahakan agar lengan dalam posisi abduksi dengan tapak tangan
menghadap ke atas dan pergelangan tangan ekstensi 30 agar jaringan lunak
terfiksasi oleh ligament dan tulang. Bila perlu bagian bawah pergelangan
dapat diganjal dengan bantal kecil
4) Jari pemeriksa diletakkan di atas arteri radialis (proksimal dari lipatan
kulit pergelangan tangan) untuk meraba denyut nadi agar dapat
memperkirakan letak dan kedalaman pembuluh darah
5) 1 ml heparin diaspirasi ke dalam spuit, sehingga dasar spuit basah dengan
heparin dan kemudian kelebihan heparin dibuang melalui jarum, dilakukan
perlahan sehingga pangkal jarum penuh dengan heparin dn tidak ada
gelembung udara
6) Pastikan denyutan /pulsasi dari arteri terbesar kemudian dengan memakai
tangan kiri antara telunjuk dan jari tengah beri batas daerah yang akan
ditusuk, dan titik maksimum denyut ditemukan
7) Lakukan tindakan asepsis/antisepsis, bersihkan tempat tersebut dengan
kapas alcohol
8) Setelah melakukan tindakan asepsis/antisepsis, jarum 5-10 mm
ditusukkan pada daerah distal dari jari pemeriksa yang menekan arteri.
Jarum ditusukkan membentuk sudut 30 dengan permukaan lengan dengan
posisi lubang jarum/bevel menghadap ke atas

9
9) Jarum yang masuk ke dalam arteri akan menyebabkan torak semprit
terdorong oleh tekanan darah.
10) Setelah jumlah darah yang diperlukan terpenuhi (minimal 1 ml), cabut
jarum dengan cepat dan di tempat tusukan jarum lakukan penekanan
dengan jari selama 5 menit untuk mencegah keluarnya darah dari pembuluh
arteri (10 menit untuk pasien yang mendapat antikoagulan)
11) Gelembung udara harus dibuang keluar spuit, lepaskan jarum dan
tempatkan penutup udara pada spuit, putar spuit diantara telapak
tangan untuk mencampurkan heparin
12) Spuit diberi label dan segera tempatkan dalam es atau air es/termos berisi
air es dan es batu (semprit dibungkus plastic agar air tidak masuk ke
dalam semprit, keadaan dingin (4 C) bertujuan memperkecil terjadinya
perubahan biokimiawi/proses metabolisme yang akan meningkatkan CO2
kemudian langsung dibawa ke laboratorium

5.3 Pasca Analitik


1) Mengevaluasi hasil
Langkah-langkah yang dianjurkan untuk mengevaluasi nilai gas darah arteri
adalah sebagai berikut :
a. Evaluasi pH
pH <7,35 = asidosis
pH >7,45 = alkalosis
pH = 7,4 = normal
pH normal dapat menunjukkan gas darah yang benar-benar normal atau
pH yang normal ini mungkin suatu indikasi ketidakseimbangan yang
terkompensasi. Ketidakseimbangan yang terkompensasi adalah suatu
ketidakseimbang dimana tubuh mampu memperbiki pH baik dengan
perubahan respiratorik maupun metabolik (tergantung pada masalah utama).
b. Menentukan penyebab primer gangguan dengan mengevaluasi PaCO2 dan
HCO3 yang hubungannya dengan pH
pH >7,4 = alkalosis
 Jika PaCO2< 40 mmHg : gangguan primer adalah alkalosis respiratorik
(situasi ini timbul jika pasien mengalami hiperventilasi dan lebih banyak
CO2 yang dikeluarkan)

10
 Jika HCO3 >24 mEq/L : gangguan primer adalah alkalosismetabolik
(situasi ini timbul jika tubuh memperoleh terlalu banyak bikarbonat,
suatu substansi alkali, bikarbonat adalah basa, atau bagian alkali dari
sistem buffer asam karbonik bikarbonat)
pH <7,4 = asidosis
 Jika PaCO2 >40 mmHg : gangguan utama adalah asidosis respiratorik
(situasi ini timbul jika pasien mengalami hipovalensi dan karenanya
menahan terlalu banyak CO2, suatu substansi asam)
 Jika HCO3 <24 mEq/L : gangguan primer adalah asidosis metabolik
(situasi ini timbul jika kadar bikarbonat dalam tubuh turun, baik karena
kehilangn langsung bikarbonat atau karena penambahan asam seperti
asam laktat atau keton
c.Menentukan apakah kompensasi telah terjadi
Hal ini dengan melihat nilai selain gangguan primer. Jika nilai ini
bergerak kearah yang sama dengan nilai primer, kompensasi sedang berjalan.
Nilai normal Analisa Gas Darah :

Arteri Vena
pH 7,35 – 7,45 7,31 – 7,41
PCO2 (kPa) 4,7 – 6,0 5,5 – 6,8
PCO2 (mmHg) 35 – 45 41 – 51
PO2 (kPa)
Bikarbonat 22 – –2813,3
10,6 23 ––29
4,0 5,3
PO 2 (mmHg)
(mmol/L) 80 – 100 30 – 40
BE
SaO2 (%) -2
>95- +2 -3
75 - +3

11
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Analisa Gas Darah ( AGD ) atau yang disebut dengan Arterial Blood Gas (ABG)
analysis atau Blood Gas Analisa (BGA) adalah sebuah pemeriksaan atau tes yang
mengukur jumlah oksigen dan karbondioksida dalam darah, dan keasaman (pH) dalam
darah. Tujuan pemeriksaan analisa gas darah adalah :
1. Menilai atau mengkaji gangguan keseimbangan asam-basa dalam tubuh
2. Menilai kadar oksigenasi dan kadar karbondioksida dalam darah
3. Mengetahui keadaan O2 dan metabolisme sel
4. Efisiensi pertukaran O2 dan CO2.
5. Sebagai pegangan dalam penanganan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan
menahun
6. Sebagai tindakan pemantauan dalam pemberian obat anestetik.
Komponen-komponen dasar evaluasi AGD mencakup :
1. pH (Status asam basa)
2. Tekanan parsial oksigen (PO2)
3. Tekanan parsial karbondioksida (PCO2)\
4. saturasi oksigen (SO2)
5. Konsentrasi bikarbonat (HCO3-)
6. BE (base excesses/kelebihan basa)

12
DAFTAR PUSTAKA

Bishop, Michael L, dkk. Clinical Chemistry Sixth Edition. Wolters Kluwer.


Anonim. Diakses dari
http://repository.unimus.ac.id/1154/2/BAB%20I.pdfrepository.unimus.ac.id, pada 11
Agustus 2018
Afifah, Efy. Pemeriksaan Astrup/Analisa Gas Darah. Jakarta: UI. Diakses dari
http://staff.ui.ac.id/system/files/users/afifah/material/agd.pdfstaff.ui.ac.id, pada 11
Agustus 2018.
Delost, Maria. 2014. Blood Gas and Critical Care analyte Analysis Chapter 6. Diakses
pada 11 Agustus 2018.

Edijanto. Analisis Asam Basa : Cara Interpretasi Dan Contoh Kasus. Surabaya : Unair.

13
INTISARI

Analisa Gas Darah ( AGD ) atau yang disebut dengan Arterial Blood Gas (ABG)
analysis atau Blood Gas Analisa (BGA) adalah sebuah pemeriksaan atau tes yang mengukur
jumlah oksigen dan karbondioksida dalam darah, dan keasaman (pH) dalam darah.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai atau mengkaji gangguan keseimbangan asam-basa
dalam tubuh, baik yang disebabkan oleh gangguan pernafasan dan/atau gangguan metabolik.
Komponen yang dapat diperiksa dalam pemeriksaan analisa gas darah ini diantaranya status
asam basa atau pH, tekanan parsial oksigen (PO2), tekanan parsial karbondioksida (PCO2),
saturasi oksigen (SO2), konsentrasi bikarbonat, dan kelebihan basa (BE).

14