Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa juga penulis mengucapkan terimakasih
atas bantuan dari pihak yang telah memberikan kami waktu maupun pikirannya dalam
menyelesaikan makalah ini. Dan harapan penyusun semoga makalah ini dapat memberikan
pengetahuan bagi para pembacanya.

Karena keterbatasan kemampuan pengetahuan pengalaman penulis, tentu saja masih


banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, penulis mengucapkan banyak terimakasih terhadap semua pihak yang
membantu dalam pembuatan makalah ini. Terimakasih

Pekanbaru, 12 Juni 2018

Penulis

Yuyun Bella Ria Br Batubara

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................1

DAFTAR ISI..............................................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.....................................................................................................................3

1.2 Tujuan...................................................................................................................................3

1.3 Manfaat.................................................................................................................................3

BAB II LANDASAN TEORI....................................................................................................4

BAB III KRONOLOGIS..........................................................................................................7

BAB IV PEMBAHASAN.........................................................................................................8

BAB V PENUTUP

5.1 Lesson Learn........................................................................................................................9

5.2 Kesimpulan...........................................................................................................................9

5.3 Improvement........................................................................................................................9

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................10

LAMPIRAN

BAB I
2
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Luka merupakan suatu kerusakan integritas kulit yang dapat terjadi ketika kulit terpapar
suhu atau pH, zat kimia, gesekan, trauma tekanan dan radiasi. Respon tubuh terhadap
berbagai cedera dengan proses pemulihan yang kompleks dan dinamis yang menghasilkan
pemulihan anatomi dan fungsi secara terus menerus disebut dengan penyembuhan luka
(Joyce M. Black, 2001). Penyembuhan luka terkait dengan regenerasi sel sampai fungsi organ
tubuh kembali pulih, ditunjukkan dengan tanda-tanda dan respon yang berurutan dimana sel
secara bersama-sama berinteraksi, melakukan tugas dan berfungsi secara normal. Idealnya
luka yang sembuh kembali normal secara struktur anatomi, fungsi dan penampilan.

Klasifikasi luka berdasarkan penyebab terbagi menjadi menjadi empat diantaranya yang
pertama trauma tajam yang menyebabkan vulnus scissum (sayat), vulnus punctum (tusuk),
vulnus morsum (gigitan), vulnus amputatum (terpotong); kedua trauma tumpul yang
menyebabkan vulnus laceratum (laserasi), vulnus excoriasi (lecet), vulnus contussum
(kontusio); ketiga vulnus sclopetorium (tembak); dan yang keempat vulnus combustion (luka
bakar).

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan umun

Untuk dapat mengetahui bagaimana perawatan luka dan bagaimana bentuk luka tersebut

1.2.2 Tujuan khusus

 Dapat memahami pengertian luka


 Dapat memahami jenis-jenis luka

1.3 Manfaat

Mahasiswa mampu membuat manekin luka berdasarkan teori yang ada

BAB II

LANDASAN TEORI

3
2.1 Definisi Luka
Sjamsuhidajat (1997) mendefinisikan luka sebagai hilang atau rusaknya sebagian
jaringan tubuh. Sedangkan Mansjoer (2002) mendefinisikan luka sebagai keadaan
hilang/terputusnya kontinuitas jaringan.
Fisiologis penyembuhan adalah pemulihan jaringan hidup yang rusak fungsi normal. Ini
adalah proses di mana sel-sel dalam tubuh regenerasi dan perbaikan untuk mengurangi
ukuran rusak atau nekrotik daerah. Penyembuhan menggabungkan kedua penghapusan
nekrotik jaringan (pembongkaran), dan penggantian jaringan ini.
Penyembuhan luka merupakan suatu proses yang kompleks karena berbagai kegiatan
bio-seluler, bio-kimia terjadi berkisanambungan. Penggabungan respons vaskuler, aktivitas
seluler dan terbentuknya bahan kimia sebagai substansi mediator di daerah luka merupakan
komponen yang saling terkait pada proses penyembuhan luka. Besarnya perbedaan mengenai
penelitian dasar mekanisme penyembuhan luka dan aplikasi klinik saat ini telah dapat
diperkecil dengan pemahaman dan penelitian yang berhubungan dengan proses penyembuhan
luka dan pemakaian bahan pengobatan yang telah berhasil memberikan kesembuhan.
Penyembuhan luka meliputi 2 kategori yaitu, pemulihan jaringan ialah regenerasi
jaringan pulih seperti semula baik struktur maupun fungsinya dan repair ialah pemulihan atau
penggantian oleh jaringan ikat (Mawardi-Hasan,2002).

2.2 Macam-Macam Luka


Jenis luka menurut mekanismenya:
1. Luka mekanik
a. Luka Insisi terjadi karena teriris benda tajam.
b. Luka memar, terjadi akibat benturan dengan benda tumpul.
c. Luka Lecet, terjadi karena bergesekan dengan benda yang kasar tapi tidak tajam.
d. Luka Tusuk, terjadi akibat benda tajam yang berdiameter kecil dan masuk dalam tubuh
termasuk juga karena tembak (peluru).
e. Luka Robek, terjadi karena benda tajam dan kasar.
f. Luka Tembus, terjadi luka yang menembus organ tubuh.
g. Luka gigitan, terjadi karena gigitan binatang atau manusia
2. Luka Non Mekanik
Luka Bakar, kehilangan atau kerusakan jaringan tubuh terjadi karena disebabkan oleh
energi panas atau bahan kimia atau listrik.

4
Menurut Kontaminasi Luka :
a. Luka Bersih
Luka yang tidak terdapat imflamasi dan infeksi, tidak melibatkan saluran
pencernaan, pernafasan dan perkemihan.
b. Luka Bersih Terkontaminasi
Luka bedah yang melibatkan saluran pernafasan, perkemihan dan pencernaan. Namun
luka tidak menunjukkan infeksi.
c. Luka Terkontaminasi
Luka terbuka, segar, luka kecelakaan dan bedah yang berhubungan dengan saluran
pencernaan, pernafasan dan perkemihan yang menunjukkan adanya infeksi.
d. Luka Kotor
Luka lama, luka kecelakaan yang mengandung jaringan mati dan mikroorganisme.
Berdasarkan kedalaman dan luasnya, luka dapat dibagi menjadi:
1. Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang terjadi pada
lapisan epidermis kulit.
2. Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan
epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya tanda
klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
3. Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi
kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak
melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada lapisan epidermis, dermis
dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang
dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.
4. Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan tulang
dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.

Terminologi luka yang dihubungkan dengan waktu penyembuhan dapat dibagi menjadi:
1. Luka akut; luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep penyembuhan yang
telah disepakati. Kriteria luka akut adalah luka baru, mendadak dan penyembuhannya
sesuai dengan waktu yang diperkirakan Contoh : Luka sayat, luka bakar, luka
tusuk, crush injury. Luka operasi dapat dianggap sebagai luka akut yang dibuat oleh
ahli bedah. Contoh : luka jahit, skin grafting.

5
2. Luka kornis; luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan, dapat karena
faktor eksogen atau endogen. Pada luka kronik luka gagal sembuh pada waktu yang
diperkirakan, tidak berespon baik terhadap terapi dan punya tendensi untuk timbul
kembali. Contoh : Ulkus dekubitus, ulkus diabetik, ulkus venous, luka bakar dll.

BAB III

KRONOLOGI

6
Pada tanggal 28 Mei 2018 saya mendapatkan penugasan dari dosen untuk membuat
manekin luka dan laporan makalahnya.setelah mendapatkan penugasan saya membaca
kembali teori tentang luka dan saya memilih jenis luka mana yang akan saya buat, kemudian
saya mencari alat-alat yang akan digunakan untuk membuat manekin luka. Saya menemukan
alat-alat yang akan digunakan untuk pembuatan manekin luka, diantaranya yaitu botol plastik
bekas, handscoon bekas, pisau, kulit sintesis, kapas, cat untuk warnanya, dan lem. Setelah
mempersiapkan semua alatnya saya mulai membuat manekin luka dengan cara: saya
memotong botol plastik sesuai ukuran yang diinginkan, kemudian memasukkan kapas ke
dalam handscoon untuk mengisi bagian jari-jari dan telapak tangan, dan untuk lengannya
saya masukkan botol plastik yang sudah dipotong kemudian saya lem, setelah dilem
kemudian saya membungkus lengan dan punggung tangan dengan menggunakan kulit
sintesis. Setelah itu untuk membuat lukanya letakkan lem ditempat yang akan dibuat luka
agar warna lukanya menempel dengan bagus, setelah lemnya mulai kering kemudian beri cat
untuk menjadi warnanya Setelah manekin luka selesai kemudian saya membuat laporan
makalah tentang manekin luka tersebut.

BAB IV

PEMBAHASAN

7
Luka akut adalah luka trauma yang biasanya segera mendapat penanganan dan
biasanya dapat sembuh dengan baik bila terjadi komplikasi. Kriteria luka akut adalah luka
baru, mendadak penyembuhannya sesuai dengan waktu yang diperkirakan. Contohnya adalah
luka sayat, luka bakar, dan luka tusuk. Luka yang saya buat yaitu luka akut dengan
kriterianya yaitu luka baru, mendadak dan penyembuhannya sesuai dengan waktu yang
diperkirakan. Namun luka yang saya buat tidak sama persis dengan luka yang asli.

Warna luka yang ada di manekin luka saya yaitu warna merah, hitam, kuning sesuai dengan
yang disebutkan dalam teori warna luka ada warna merah, kuning, dan hitam.

BAB V

PENUTUP

5.1 Lesson Learn


8
Dengan adanya penugasan ini penulis menjadi lebih tau bukan hanya teori tetapi juga
bagaimana luka itu dapat terjadi, dan apa-apa saja bagian dari kulit yang hilang atau rusak
pada saat luka itu terjadi.
5.2 Kesimpulan
Luka merupakan suatu kerusakan integritas kulit yang dapat terjadi ketika kulit
terpapar suhu atau pH, zat kimia, gesekan, trauma tekanan dan radiasi. Respon tubuh
terhadap berbagai cedera dengan proses pemulihan yang kompleks dan dinamis yang
menghasilkan pemulihan anatomi dan fungsi secara terus menerus disebut dengan
penyembuhan luka (Joyce M. Black, 2001).

5.3 Improvement
Sebaiknya penulis lebih banyak belajar lagi agar penulis dapat membedakan
klasifikasi luka dan bagaimana pencegahan serta pengobatan dan perawatan luka tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Luka, 2004 Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed.2,
Jakarta, PenerbitBuku Kedokteran EGC. 2004

9
Morison, Maya J. (2003). Seri Pedoman Praktis : Manajemen Luka. Jakarta : EGC
Universitas

10