Anda di halaman 1dari 18

SKENARIO BBDM MODUL 5.

2
SKENARIO 1
MATA MERAH
Seorang anak 10 tahun datang diantar ibunya ke poliklinik dengan keluhan kedua
matanya merah. Tiga hari yang lalu mata kanan merah, berair, keluar kotoran mata
kental, dan terasa mengganjal. Penglihatan tidak kabur. Pada pemeriksaan
oftalmologis didapatkan visus ODS 6/6, pada konjungtiva didapatkan injeksi
konjungtiva, hipertrofi papil, sekret mucous, kornea tidak didapatkan defek.
Segmen anterior mata yang lain dalam batas normal

I. TERMINOLOGI
1. Hipertrofi papil : Penekanan pada pembuluh darah kecil di bagian
tarsal akibat edem yang terjadi karena proses inflamasi lokal dan
menyebabkan penekanan pembuluh darah bagian dalam, sehingga
terjadi pembengkakan, kebanyakan terjadi di konjungtiva superior.
2. Visus ODS 6/6 : Kondisi visus /ketajaman penglihatan normal
dimana orang melihat pada optotip snellen pada jarak 6 meter, pasien
juga dapat melihat pada jarak 6 meter juga. ODS = Okulo Dextro-
sinistro (berlaku untuk mata kiri dan kanan)
3. Injeksi konjungtiva: pelebaran a. Konjungtiva posterior dengan pola
seperti injeksi dengan warna merah segar yang dapat terjadi karena
pengaruh mekanis atau pengaruh alergi dan proses infeksi di daerah
konjungtiva. Ciri-cirinya mudah digerakkan dari dasar, tidak memiliki
photophobia, pembuluh darah semakin padat ke arah perifer.
4. Pemeriksaan oftalmologis : pemeriksaan untuk menilai fungsi maupun
anatomi kedua mata. Yang sering dilakukan : Visus, intraokular
pressure, eksternal mata, pemeriksaan fundus, lapangan pandang. Untuk
melihat apakah didapatkan mata merah, kongesti, kemosis, juga melihat
keadaan papil dan folikel.

II. RUMUSAN MASALAH


1. Mengapa ditemukan hipertrofi papil pada pasien tersebut?
2. Mengapa mata merah tidak disertai gangguan visus?
3. Pemeriksaan selanjutnya untuk menegakkan diagnosis?
4. Kemungkinan diagnosis pada kasus ini?
5. Apa saja yang termasuk dalam segmen anterior mata?

III. ANALISIS MASALAH


1. Karena adanya edem yang menekan pembuluh darah tarsal sehingga
tampak sebagai reaksi papilar pada konjungtiva yaitu papil hipertrofi.
Edem ini disebabkan karena reaksi lokal seperti peradangan atau akibat
inflamasi atau infeksi dimana pada reaksi tersebut sel-sel radang akan
keluar ke intersisial dan terjadi edem
2. Kemungkinan respon inflamasi belum sampai ke dalam (ekstraokuler)
sehingga visus masih normal
kemungkinan lain adanya mekanisme pertahanan pertama pada mata.
Pada kasus ditemukan kornea normal, sehingga intensitas cahaya yang
masuk masih normal. Bila intensitas cahaya yang masuk terganggu
maka titik jauh mata akan bergerak lebih menjauh sehingga akan
mengurangi ketepatan penglihatan.
3. Pemeriksaan untuk mencari agen infeksi (bakteri, virus) atau alergen.
Dapat dilakukan :
 Pengecatan gram : mendeteksi penyebab bakterial
 Dilihat warna dan jenis sekret : jernih lebih ke arah virus,
purulen ke arah bakterial
 Jika ada penyebab alergen : gejala lebih hebat -> gatal2,
kemerahan, adanya agen pencetus seperti debu atau makanan
4. Gejala : hipertrofi papil, sekret mukus, injeksi konjungtiva
Kemungkinan diagnosis : konjungtivitis bakteri (ada sekret mukus)
keratitis, ulkus kornea, iritis akut dan glaukoma
Perlu dilakukan pemeriksaan tambahan untuk menegakkan diagnosis
5. Di daerah sekitar mata, kelopak mata ke dalam kecuali vitreus dan retina
:
 Palpebra
 Konjungtiva
 Kornea
 Camera Oculi Anterior
 Iris – pupil
 Lensa mata

IV. PETA KONSEP

V. SASARAN BELAJAR
1. Definisi dan etiologi dari konjungtivitis
2. Macam-macam konjungtivitis disertai tanda dan gejala
3. Patofisiologi konjungtivitis
4. Penegakkan diagnosis konjungtivitis (anamnesis, pemeriksaan
oftalmologis dan penunjang)
5. Diagnosis banding konjungtivitis
6. Tatalaksana konjungtivitis (medikamentosa disertai dengan penulisan
resep obat tetes mata dan non-medika mentosa + edukasi pada pasien)
VI. BELAJAR MANDIRI
1. Definisi dan etiologi dari konjungtivitis
a. Definisi konjungtivitis
Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva atau
radang selaput lendir yang menutupi belakang kelopak dan bola mata,
dalam bentuk akut maupun kronis. Konjungtivitis dapat disebabkan
oleh bakteri, klamidia, alergi, viral toksik, berkaitan dengan penyakit
sistemik. Peradangan konjungtiva atau konjungtivitis dapat terjadi pula
karena asap, angin dan sinar.
Tanda dan gejala umum pada konjungtivitis yaitu mata merah,
terdapat kotoran pada mata, mata terasa panas seperti ada benda asing
yang masuk, mata berair, kelopak mata lengket, penglihatan terganggu,
serta mudah menular mengenai kedua mata.
Konjungtivitis lebih sering terjadi pada usia 1-25 tahun. Anak-anak
prasekolah dan anak usia sekolah kejadiannya paling sering karena
kurangnya hygiene dan jarang mencuci tangan.
b. Etiologi konjungtivitis
Penyebab dari konjungtivitis bermacam-macam yaitu bisa
disebabkan karena bakteri, virus, infeksi klamidia, konjungtivitis alergi.
Konjungtivitis bakteri biasanya disebabkan oleh Staphylococcus,
Streptococcus, Pneumococcus, dan Haemophillus. Sedangkan,
konjungtivitis virus paling sering disebabkan oleh adenovirus dan
penyebab yang lain yaitu organisme Coxsackie dan Pikornavirus
namun sangat jarang. Penyebab konjungtivis lainnya yaitu infeksi
klamidia, yang disebabkan oleh organisme Chlamydia trachomatis.
Konjungtivitis yang disebabkan oleh alergi diperantai oleh IgE terhadap
allergen yang umumnya disebabkan oleh bahan kimia.

2. Macam-macam konjungtivitis disertai tanda dan gejala


a. Konjungtivitis Alergi
Konjungtiva sering terlibat dalam respon inflamasi karena memiliki vaskularisasi
yang banyak, mediator imun yang besar, dan terkena langsung dengan lingkungan
luar. Berbagai reaksi imun ini merupakan tanda dan gejala dari konjungtivitis alergi.
Sebagian besar alergi konjungtivitis melibatkan tipe 1 hipersensitivitas dimana
alergen bereaksi dengan IgE, menstimulasi degranulasi sel mas dan melepaskan
mediator inflamasi. Konjungtivitis alergi dibagi menjadi:
• Atopic keratoconjunctivitis. Inflamasi kronik berat yang berhubungan dengan
dermatitis atopik, dapat muncul di usia remaja selama 4-5 tahun dan sembuh
sendiri.
• Simple allergic conjunctivitis. Terjadi karena paparan berbagai macam alergen,
dapat juga karena terkena pengobatan mata atau cairan lensa kontak dan sejenisnya
• Seasonal conjunctivitis. Kondisi berulang, musiman, dan dapat sembuh sendiri
yang disebabkan paparan terhadap ragweed, serbuk sari, debu, atau spora tanaman
secara musiman.
• Vernal conjunctivitis. Inflamasi konjungtiva berat yang dapat menyebabkan
komplikasi kornea. Biasanya pada tempat iklim kering dan hangat. Pada tempat
beriklim sedang, dapat menjadi musiman dengan memburuk saat musim semi dan
membaik saat musim gugur.
• Giant papillary conjunctivitis. Sering dikaitkan dengan penggunaan kontak
lensa, giant papillary conjungtivitis dilaporkan terdapat pada pasien dengan kontak
lensa yang halus, kasar, dab gas-permeabel serta pada pasien dengan eye-prosthetes
atau sutura yang berkontak dengan konjungtiva.
b. Konjungtivitis bakterial
• Hyperacute bacterial conjunctivitis. Umumnya disebabkan Neisseria
gonorrheae atau Neisseria meningitidis. Paling sering didapat dari autoinokulasi
dari genitalia yang terinfeksi.
• Acute bacterial conjunctivitis. Kondisi umum infeksi yang disebabkan oleh
Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, dan Haemophillus sp. Dapat
sembuh sendiri dan biasanya kurang dari 3 minggu
• Chronic bacterial conjunctivitis. Konjungtivitis bakterial yang berlangsung
lebih dari 4 minggu, dan etiologinya biasanya berbeda dari konjungtivitis bakterial
akut. Sering berkaitan dengan inokulasi bakteri berkelanjutan berkaitan dengan
blepharitis. Umumnya disebabkan oleh Staphylococcus aureus atau Moraxella
c. Konjungtivitis viral
• Adenoviral conjunctivitis. jenis konjungtivitis viral yang paling sering terjadi.
Pada anak juga dapat ditemui berupa Pharyngeal Conjungtival Fever yang disertai
demam rendah serta faringitis ringan. Mudah menular.
• Herpetic conjunctivitis. Infeksi yang disebabkan virus dari genus Herpesvirus,
seperti herpes simplex, varicella-zoster, atau |
epstein-barr virus.
d. Chlamydial Conjunctivitis
Disebabkan oleh Chlamydia trachomatis, biasanya menyebar sebagai sexually
transmitted disease.
e. Jenis lainnya
• Contact lens-related conjunctivitis. Mild itching and hyperemia, mucous
discharge, and abnormal thickening of the conjunctiva in one or both eyes.
• Mechanical conjunctivitis. Focal or diffuse conjunctival hyperemia, foreign
body sensation, and tearing.
• Traumatic conjunctivitis. Conjunctival hyperemia, tearing, and foreign body
sensation.
• Toxic conjunctivitis. Unilateral or bilateral conjunctival hyperemia and a mixed
follicular/papillary reaction of the tarsal conjunctiva.
• Secondary conjunctivitis. Associated with other ocular and systemic disorders,
often nonspecific, with bulbar conjunctival hyperemia and tearing. Because "dry
eye syndrome" is a common cause of noninfectious chronic conjunctivitis, it should
be ruled out prior to initiating therapy
•Keratoconjunctivitis sicca •Lyme disease
•Blepharitis •Superior limbic
•Reiter’ssyndrome keratoconjunctivitis
•Cicatricial pemphigoid •Floppylidsyndrome
•Erythema multiforme •Mucous fishing syndrome
(Stevens-Johnson syndrome) •Collagen-vasculardiseases
• Relapsing polychondritis • Sarcoidosis
3. Patofisiologi konjungtivitis

Konjungtiva mengandung epitel skuamosa yang tidak berkeratin dan


substansia propria yang tipis, kaya pembuluh darah. Konjungtiva juga memiliki
kelenjar lakrimal aksesori dan sel goblet.

Konjungtivitis alergika disebabkan oleh respon imun tipe 1 terhadap alergen.


Alergen terikat dengan sel mast dan reaksi silang terhadap IgE terjadi,
menyebabkan degranulasi dari sel mast dan permulaan dari reaksi bertingkat
dari peradangan. Hal ini menyebabkan pelepasan histamin dari sel mast, juga
mediator lain termasuk triptase, kimase, heparin, kondroitin sulfat,
prostaglandin, tromboksan, dan leukotrien. histamin dan bradikinin dengan
segera menstimulasi nosiseptor, menyebabkan rasa gatal, peningkatan
permeabilitas vaskuler, vasodilatasi, kemerahan, dan injeksi konjungtiva.

Konjuntivitis infeksi timbul sebagai akibat penurunan daya imun penjamu dan
kontaminasi eksternal. Patogen yang infeksius dapat menginvasi dari tempat
yang berdekatan atau dari jalur aliran darah dan bereplikasi di dalam sel
mukosa konjungtiva. Kedua infeksi bakterial dan viral memulai reaksi
bertingkat dari peradangan leukosit atau limfositik meyebabkan penarikan sel
darah merah atau putih ke area tersebut. Sel darah putih ini mencapai
permukaan konjungtiva dan berakumulasi di sana dengan berpindah secara
mudahnya melewati kapiler yang berdilatasi dan tinggi permeabilitas.

Pertahanan tubuh primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel yang menutupi
konjungtiva. Rusaknya lapisan ini memudahkan untuk terjadinya infeksi.
Pertahanan sekunder adalah sistem imunologi (tear-film immunoglobulin dan
lisozyme) yang merangsang lakrimasi.
Konjungtiva karena lokasinya terpapar pada banyak mikroorganisme dan
faktor lingkungan lain yang menganggu. Beberapa mekanisme melindungi
permukaan mata dari substansi luar. Pada film air mata, unsur berairnya
mengencerkan materi infeksi, mukus menangkap debris dan kerja memompa
dari palpebra secara tetap menghanyutkan air mata ke duktus air mata dan air
mata mengandung substansi antimikroba termasuk lisozim. Adanya agens
perusak, menyebabkan cedera pada epitel konjungtiva yang diikuti edema
epitel, kematian sel dan eksfoliasi, hipertrofi epitel atau granuloma. Mungkin
pula terdapat edema pada stroma konjungtiva ( kemosis ) dan hipertrofi lapis
limfoid stroma ( pembentukan folikel ). Sel-sel radang bermigrasi dari stroma
konjungtiva melalui epitel ke permukaan. Sel-sel ini kemudian bergabung
dengan fibrin dan mukus dari sel goblet, membentuk eksudat konjungtiva yang
menyebabkan perlengketan tepian palpebra saat bangun tidur.

Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi pembuluh


pembuluh konjungtiva posterior, menyebabkan hiperemi yang tampak paling
nyata pada forniks dan mengurang ke arah limbus. Pada hiperemia konjungtiva
ini biasanya didapatkan pembengkakan dan hipertrofi papila yang sering
disertai sensasi benda asing dan sensasi tergores, panas, atau gatal. Sensasi ini
merangsang sekresi air mata. Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh
darah yang hiperemia dan menambah jumlah air mata.

4. Penegakkan diagnosis konjungtivitis (anamnesis,


pemeriksaan oftalmologis dan penunjang)

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan mata awal termasuk pengukuran ketajaman visus, pemeriksaan
eksternal dan slit-lamp biomikroskopi.Pemeriksaan eksternal harus mencakup
elemen berikut ini:
• Kulit: tanda-tanda rosacea, eksema, seborrhea
• Kelainan kelopak mata dan adneksa: pembengkakan, perubahan warna,
malposisi, kelemahan, ulserasi, nodul, ekimosis, keganasan
• Konjungtiva: bentuk injeksi, perdarahan subkonjungtiva, kemosis, perubahan
sikatrikal, simblepharon, massa, sekret
Slit-lamp biomikroskopi harus mencakup pemeriksaan yang hati-hati terhadap:
• Margo palpebra: inflamasi, ulserasi, sekret, nodul atau vesikel, nodul atau
vesikel, sisa kulit berwarna darah, keratinisasi
• Bulu mata: kerontokan bulu mata, kerak kulit, ketombe, telur kutu dan kutu
• Punctum lacrimal dan canaliculi: penonjolan, sekret
• Konjungtiva tarsal dan forniks
1. Adanya papila, folikel dan ukurannya
2. Perubahan sikatrikal, termasuk penonjolan ke dalam dan simblepharon
3. Membran dan psudomembran
4. Ulserasi
5. Perdarahan
6. Benda asing
7. Massa
8. Kelemahan palpebra
9. Konjungtiva bulbar/limbus: folikel, edema, nodul, kemosis, kelemahan,
papila, ulserasi, luka, flikten, perdarahan, benda asing, keratinisasi
* • Kornea
1. Defek epitelial
2. Keratopati punctata dan keratitis dendritik
3. Filamen
4. Ulserasi
5. Infiltrasi, termasuk infiltrat subepitelial dan flikten
6. Vaskularisasi
7. Keratik presipitat
* •Bilik mata depan: rekasi inflamasi, sinekia, defek transiluminasi
* •Corak pewarnaan: konjungtiva dan kornea

Pemeriksaan Penunjang
Kebanyakan kasus konjungtivitis dapat didiagnosa berdasarkan anamnesa dan
pemeriksaan. Meskipun demikian, pada beberapa kasus penambahan tes
diagnostik membantu.5
Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan tersebut
dibuat sediaan yang dicat dengan pengecatan gram atau giemsa dapat dijumpai
sel-sel radang polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada
pengecatan dengan giemsa akan didapatkan sel-sel eosinofil. Pada pemeriksaan
klinik didapat adanya hiperemia konjungtiva, sekret atau getah mata dan edema
konjungtiva.
1. 1. Kultur
Kultur konjungtiva diindikasikan pada semua kasus yang dicurigai merupakan
konjungtivitis infeksi neonatal. Kultur bakteri juga dapat membantu untuk
konjungtivitis purulen berat atau berulang pada semua grup usia dan pada kasus
dimana konjungtivitis tidak berespon terhadap pengobatan.
1. 1. Kultur virus
Bukan merupakan pemeriksaan rutin untuk menetapkan diagnosa. Tes
imunodiagnostik yang cepat dan dilakukan dalam ruangan menggunakan antigen
sudah tersedia untuk konjungtivitis adenovirus. Tes ini mempunyai sensitifitas
88% sampai 89% dan spesifikasi 91% sampai 94%. Tes imunodiagnostik
mungkin tersedia untuk virus lain, tapi tidak diakui untuk spesimen dari okuler.
PCR dapat digunakan untuk mendeteksi DNA virus. Ketersediannya akan
beragam tergantung dari kebijakan laboratorium.
1. 1. Tes diagnostik klamidial
Kasus yang dicurigai konjungtivitis klamidial pada dewasa dan neonatus dapat
dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium. Tes diagnostik yang berdasarkan
imunologikal telah tersedia, meliputi tes antibodi imunofloresens langsung dan
enzyme-linked imunosorbent assay. Tes ini telah secara luas digantikan oleh PCR
untuk spesimen genital, dan, karena itu, ketersediaannya untuk spesimen
konjungtival lebih terbatas. Ketersedian PCR untuk mengetes sampel okuler
beragam. Meskipun spesimen dari mata telah digunakan dengan performa yang
memuaskan, penggunaannya belum diperjelas oleh FDA.
1. 1. Smear/sitologi
Smear untuk sitologi dan pewarnaan khusus (mis.,gram, giemsa)
direkomendasikan pada kasus dicurigai konjungtivitis infeksi pada neonatus,
konjungtivitis kronik atau berulang, dan pada kasus dicurigai konjungtivitis
gonoccocal pada semua grup usia.
1. 1. Biopsi
Biopsi konjungtiva dapat membantu pada kasus konjungtivitis yang tidak
berespon pada terapi. Oleh karena mata tersebut mungkin mengandung
keganasan, biopsi langsung dapat menyelamatkan penglihatan dan juga
menyelamatkan hidup. Biopsi konjungtival dan tes diagnostik pewarnaan
imunofloresens dapat membantu menetapkan diagnosis dari penyakit seperti
OMMP dan paraneoplastik sindrom. Biopsi dari konjungtiva bulbar harus
dilakukan dan sampel harus diambil dari area yang tidak terkena yang berdekatan
dengan limbus dari mata dengan peradangan aktif saat dicurigai sebagai OMMP.
Pada kasus dicurigai karsinoma glandula sebasea, biopsi palpebra seluruh
ketebalan diindikasikan. Saat merencanakan biopsi, konsultasi preoperatif dengan
ahli patologi dianjurkan untuk meyakinkan penanganan dan pewarnaan spesimen
yang tepat.
1. 1. Tes darah
Tes fungsi tiroid diindikasikan untuk pasien dengan SLK yang tidak mengetahui
menderita penyakit tiroid.
Konjungtivitis non-infeksius biasanya dapat didiagnosa berdasarkan riwayat
pasien. Paparan bahan kimiawi langsung terhadapa mata dapat mengindikasikan
konjungtivitis toksik/kimiawi. Pada kasus yang dicurigai luka percikan bahan
kimia, pH okuler harus dites dan irigasi mata terus dilakukan hingga pH mencapai
7. Konjungtivitis juga dapat disebabkan penggunaan lensa kontak atau iritasi
mekanikal dari kelopak mata.

5. Diagnosis banding konjungtivitis


I. Glaukoma Akut

Glaukoma akut merupakan presentasi klinis dari glaukoma sudut


tertutup. Kondisi ini merupakan keadaan gawat darurat. Keadaan ini
mungkin disebabkan adanya blokade aliran aqueos yang mengakibatkan
peningkatan tekanan intra okuler secara mendadak.
Manifestasi klinis :
- Penurunan visus
- Mata merah, berair, fotofobia
- Tampak halo apabila pasien melihat sumber cahaya
- Nyeri luar biasa, mual dan muntah
- Peningkatan tekanan intraokular biasanya lebih dari >50 mmHg
- Injeksi silier dan konjungtiva hiperemis
- Edema epitel kornea dan epitel kornea keruh
- Pupil terdilatasi, oval vertikal, tidak reaktif
- Mata kontralateral menunjukkan sudut bilik mata depan dangkal.

II. Keratitis Akut

Keratitis adalah peradangan pada salah satu dari kelima lapisan


kornea. Peradangan tersebut dapat terjadi di epitel, membran Bowman,
stroma, membran descemet, ataupun endotel. Peradangan juga dapat
melibatkan lebih dari satu lapisan kornea. Pola keratitis dapat dibagi
menurut distribusi, kedalaman, lokasi, dan bentuk. Berdasarkan
distribusinya, keratitis dibagi menjadi keratitis difus, fokal, atau
multifokal. Berdasarkan kedalamannya, keratitis dibagi menjadi
epitelial, subepitelialm stromal, atau endotelial.
Lokasi keratitis dapat berada di bagian sentral atau perifer kornea,
sedangkan berdasarkan bentuknya terdapat keratitis dendritik,
disciform, dan bentuk lainnya keratitis adalah peradangan yang terjadi
pada kornea. Keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi nya
yaitu ; keratitis bakteri, keratitis fungi, keratitis parasit, keratitis virus,
dan keratitis noninfeksius.

III. Ulkus Kornea


Ulkus kornea didefinisikan sebagai diskontinuitas jaringan kornea
akibat terjadinya defek epitel. Berdasarkan lokasi nya, ulkus dapat
dibagi menjadi ;
1. Sentral
Ulkus kornea sentral hampir selalu diakibatkan oleh infeksi. Lokasi
lesi terletak di sentral, jauh dari limbus yang kaya akan pembuluh
darah. Sikatris yang timbul akibat ulkus kornea merupakan salah
satu penyebab utama kebutaan dan penurunan penglihatan di
berbagai belahan dunia

Manifestasi Klinis:
- Mata merah, berair, nyeri hebat
- Sensasi benda asing
- Terdapat sekret
- Kelopak mata bengkak
- Nyeri apabila melihat cahaya terang
- Terdapat infiltrat tergantung dari kedalaman lesi dan etiologi
keratitis

2. Marginal
Kondisi ini diakibatkan karena reaksi hipersentivitas terhadap
eksotoksin staphilococcus dan protein dinding sel disertai dengan
endapan kompleks imun kornea perifer. Kondisi ini sering tidak
berbahaya namun sangat nyeri

Manifestasi Klinis :
- Gejala
1. Sensasi benda asing
2. Nyeri
3. Lakrimasi
4. Fotofobia

- Tanda
1. Sering ditemui blefaritis kronis marginal
2. Berawal sebagai infiltrat liniear atau oval marginal subepitel
yang terpisah dari limbus oleh zona yang jernih (lucid interval)
3. Defek epitel lebih kecil daripada infiltrate
4. Penyebaran sirkumferensial dan saling bersatu
6. Tatalaksana konjungtivitis (medikamentosa disertai dengan
penulisan resep obat tetes mata dan non-medika mentosa + edukasi
pada pasien)

Farmakologi
 Terapi spesifik terhadap konjungtivitis bacterial tergantung temuan agen
mikrobiologinya.
 Untuk menghilangkan sekret dapat dibilas dengan garam fisiologis.
 Penatalaksanaan Konjungtivitis Bakteri

Pengobatan kadang-kadang diberikan sebelum pemeriksaan mikrobiologik


dengan antibiotic tunggal seperti

 ü Kloramfenikol
 ü Gentamisin
 ü Tobramisin
 ü Eritromisin
 ü Sulfa

Bila pengobatan tidak memberikan hasil setelah 3 – 5 hari maka pengobatan


dihentikan dan ditunggu hasil pemeriksaan mikrobiologik. Pada
konjungtivitis bakteri sebaiknya dimintakan pemeriksaan sediaan
langsung (pewarnaan Gram atau Giemsa) untuk mengetahui penyebabnya.
Bila ditemukan kumannya maka pengobatan disesuaikan. Apabila tidak
ditemukan kuman dalam sediaan langsung, maka diberikan antibiotic
spectrum luas dalam bentuk tetes mata tiap jam atau salep mata 4-5x/hari.
Apabila memakai tetes mata, sebaiknya sebelum tidur diberi salep mata
(sulfasetamid 10-15 %). Apabila tidak sembuh dalam 1 minggu, bila mungkin
dilakukan pemeriksaan resistensi, kemungkinan difisiensi air mata atau
kemungkinan obstruksi duktus nasolakrimal.

 Penatalaksanaan Konjungtivitis Virus


Pengobatan umumnya hanya bersifat simtomatik dan antibiotik diberikan
untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder. Dalam dua minggu akan
sembuh dengan sendirinya. Hindari pemakaian steroid topikal kecuali bila
radang sangat hebat dan kemungkinan infeksi virus Herpes simpleks telah
dieliminasi.

Konjungtivitis viral akut biasanya disebabkan Adenovirus dan dapat sedmbuh


sendiri sehingga pengobatan hanya bersifat suportif, berupa kompres,
astrigen, dan lubrikasi. Pada kasus yang berat diberikan antibodi untuk
mencegah infeksi sekunder serta steroid topikal. Konjungtivitis herpetik
diobati dengan obat antivirus, asiklovir 400 mg/hari selama 5 hari. Steroid
tetes deksametason 0,1 % diberikan bila terdapat episkleritis, skleritis, dan
iritis, tetapi steroid berbahaya karena dapat mengakibatkan penyebaran
sistemik. Dapat diberikan analgesik untuk menghilangkan rasa sakit. Pada
permukaan dapat diberikan salep tetrasiklin. Jika terjadi ulkus kornea perlu
dilakukan debridemen dengan cara mengoles salep pada ulkus dengan swab
kapas kering, tetesi obat antivirus, dan ditutup selama 24jam.

 Penatalaksanaan Konjungtivitis Alergi


Umumnya kebanyakan konjungtivitis alergi awalnya diperlakukan seperti
ringan sampai ada kegagalan terapi dan menyebabkan kenaikan menjadi
tingkat sedang. Penyakit ringan sampai sedang biasanya mempunyai
konjungtiva yang bengkak dengan reaksi konjungtiva papiler yang ringan
dengan sedikit sekret mukoid. Kasus yang lebih berat mempunyai giant papila
pada konjungtiva palpebranya, folikel limbal, dan perisai (steril) ulkus
kornea.
a) Alergi ringan

Konjungtivitis alergi ringan identik dengan rasa gatal, berair, mata merah
yang timbul musiman dan berespon terhadap tindakan suportif, termasuk air
mata artifisial dan kompres dingin. Air mata artifisial membantu melarutkan
beragam alergen dan mediator peradangan yang mungkin ada pada
permukaan okuler.

b) Alergi sedang

Konjungtivitis alergi sedang identik dengan rasa gatal, berair dan mata merah
yang timbul musiman dan berespon terhadap antihistamin topikal dan/atau
mast cell stabilizer. Penggunaan antihistamin oral jangka pendek mungkin
juga dibutuhkan.

Mast cell stabilizer mencegah degranulasi sel mast; contoh yang paling sering
dipakai termasuk sodium kromolin dan Iodoxamide. Antihistamin topikal
mempunyai masa kerja cepat yang meredakan rasa gatal dan kemerahan dan
mempunyai sedikit efek samping; tersedia dalam bentuk kombinasi dengan
mast cell stabilizer. Antihistamin oral, yang mempunyai masa kerja lebih
lama, dapat digunakan bersama, atau lebih baik dari, antihistamin topikal.
Vasokonstriktor tersedia dalam kombinasi dengan topikal antihistamin, yang
menyediakan tambahan pelega jangka pendek terhadap injeksi pembuluh
darah, tapi dapat menyebabkan rebound injeksi dan inflamasi konjungtiva.
Topikal NSAID juga digunakan pada konjungtivitis sedang-berat jika
diperlukan tambahan efek anti-peradangan.

c) Alergi berat
Penyakit alergi berat berkenaan dengan kemunculan gejala menahun dan
dihubungkan dengan peradangan yang lebih hebat dari penyakit sedang.
Konjungtivitis vernal adalah bentuk konjungtivitis alergi yang agresif yang
tampak sebagai shield coneal ulcer. Rujukan spesialis harus dipertimbangkan
pada kasus berat atau penyakit alergi yang resisten, dimana memerlukan
tambahan terapi dengan kortikosteroid topikal, yang dapat digunakan bersama
dengan antihistamin topikal atau oral dan mast cell stabilizer. Topikal NSAID
dapat ditambahkan jika memerlukan efek anti-inflamasi yang lebih lanjut.
Kortikosteroid punya beberapa resiko jangka panjang terhadap mata termasuk
penyembuhan luka yang terlambat, infeksi sekunder, peningkatan tekanan
intraokuler, dan pembentukan katarak. Kortikosteroid yang lebih baru seperti
loteprednol mempunyai efek samping lebih sedikit dari prednisolon.
Siklosporin topikal dapat melegakan dengan efek tambahan steroid dan dapat
dipertimbangkan sebagai lini kedua dari kortikosteroid. Dapat terutama sekali
berguna sebagai terapi lini kedua pada kasus atopi berat atau konjungtivitis
vernal.

 Non farmakologi

Umumnya kebanyakan konjungtivitis alergi awalnya diperlakukan


seperti ringan sampai ada kegagalan terapi dan menyebabkan kenaikan
menjadi tingkat sedang. Penyakit ringan sampai sedang biasanya
mempunyai konjungtiva yang bengkak dengan reaksi konjungtiva papiler
yang ringan dengan sedikit sekret mukoid. Kasus yang lebih berat
mempunyai giant papila pada konjungtiva palpebranya, folikel limbal, dan
perisai (steril) ulkus kornea.
Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus
diajari bagaimana cara menghindari kontaminasi mata yang sehat atau mata
orang lain. Perawat dapat memberikan intruksi pada pasien untuk tidak
menggosok mata yang sakit dan kemudian menyentuh mata yang sehat,
mencuci tangan setelah setiap kali memegang mata yang sakit, dan
menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru yang terpisah untuk
membersihkan mata yang sakit. Asuhan khusus harus dilakukan oleh
personal asuhan kesehatan guna mengindari penyebaran konjungtivitis
antar pasien.

 Edukasi Dan Pencegahan


- Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudah
membersihkan atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci
tangannya bersih-bersih.
- Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat sesudah
menangani mata yang sakit
- Jangan menggunakan handuk atau lap bersama dengan penghuni
rumah lain
- Gunakan lensa kontak sesuai dengan petunjuk dari dokter dan pabrik
pembuatnya.
- Mengganti sarung bantal dan handuk dengan yang bersih setiap hari.
- Hindari berbagi bantal, handuk dan saputangan dengan orang lain.
- Usahakan tangan tidak megang-megang wajah (kecuali untuk
keperluan tertentu), dan hindari mengucek-ngucek mata.
- Bagi penderita konjungtivitis, hendaknya segera membuang tissue
atau sejenisnya setelah membersihkan kotoran mata.
- Makanan yang disarankan untuk penderita konjungtivitis adalah
makanan tinggi protein dan tinggi kalori guna untuk mempercepat
proses penyembuhan dan di anjurkan untuk mengkonsumsi
makanan yang mengandung vitamin A guna untuk memperbaiki
sensori penglihatan dan juga vitamin C untuk memperbaiki sistem
pertahanan tubuh.
- Kompres mata dengan air hangat jika disebabkan oleh bakteri atau
virus, Jika disebabkan oleh alergi, kompres dengan air dingin.

DAFTAR PUSTAKA

American Academy of Ophthalmology Corneal/External Disease Panel. Preferred


Practice Pattern Guidelines. Conjunctivitis. San Francisco, CA: American
Academy of Ophthalmology; 2013. Dapat diakses di: www.aao.org/ppp

American Optometric Association. 2002. Optometric Clinical Practice Guideline :


Care of The Patient with Conjunctivitis

Avunduk AM, Avunduk MC, Kapicioglu Z, et al. Mechanisms and comparison of


anti-allergic efficacy of topical lodoxamide and cromolyn sodium treatment
in vernal keratoconjunctivitis. Ophthalmology 2000.

Azari, Amir A. Dan Neal P. Barney. “Conjunctivitis: A Systematic Review of


Diagnosis and Treatment.” JAMA : the journal of the American Medical
Association 310.16 (2013): 1721–1729. PMC.

Riordan, Eva Paul. Cohitcher, John. 2007. Vaughan’s & Asbury General
Opthalmology, 17th Edition. London : The McGraw-Hill Companies.

Secchi A, Leonardi A, Discepola M, et al. An efficacy and tolerance comparison of


emedastine difumarate 0.05% and levocabastine hydrochloride 0.05%:
reducing chemosis and eyelid swelling in subjects with seasonal allergic
conjunctivitis. Emadine Study Group. Acta Ophthalmol Scand Suppl 2000.

Sidarta, Ilyas. 2017. Ilmu Penyakit Mata Edisi 5. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia

Tanto, Chris. Et al. 2014. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 4 Jilid 1. Jakarta : Media
Aesculapius