Anda di halaman 1dari 10

KASUS 1: KASUS KORUPSI BIMTEK DPRD KOTA JAMBI - JUMIZAR

DIVONIS 18 BULAN PENJARA

Bimtek DPRD Kota Jambi - Jumizar Divonis 18 Bulan Penjara

B erbeda dengan Rosmansyah, Jumizar mantan PPTK Sekretariat DPRD Kota Jambi
divonis lebih ringan dalam persidangan kasus dugaan tindak pidana korupsi Bimtek
tahun 2012 - 2014 Seperti terlihat dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan
Negeri Tipikor Jambi, dalam amar putusan Lucas Sahabat Duha selaku ketua majelis Hakim,
membacakan langsung putusan tersebut. Sidang berlangsung pada Selasa (31/10/2017).

Jumisar divonis bersalah dalam kasus ini, dengan pertimbangan sesuai hasil persidangan,
majelis hakim menilai terdakwa telah lalai dengan tidak
mengendalikan kegiatan.

Majelis hakim menyebut terdakwa ada niat jahat


untuk mendapatkan keuntungan dengan cara melawan
hukum."Dengan jabatan PPTK perbuatan telah secara sadar
dengan kapasitas dan kewenangan sehingga dengan jabatan
dengan leluasa untuk memperoleh keuntungan pribadi,"
demikian isi kutipan dari amar putusan yang di bacakan
majelis hakim.

Majelis hakim juga menyebut unsur memanfaatkan sempatan yang ada padanya juga
telah terpenuhi sesuai fakta persidangan.

Ini dibuktian sesuai hasil kesaksian sejumlah saksi yang di hadirkan. Dalam hal ini
keterangan saksi Nurikhwan selaku bendahara pengeluaran menyebutkan jika terdakwa pernah
meminta sejumlah uang secara berangsur dengan nilai 180 juta rupiah.

Hasil audit penghitungan kerugian negara oleh BPK Provinsi Jambi dalam kasus ini
menyebutkan mencapai 770 juta.
Dalam amar putusan tersebut terdakwa divonis satu tahun enam bulan penjara. Denda 50
juta subsider tiga bulan penjara.Terdakwa juga di wajibkan membayar uang pengganti senilai Rp
221 juta kerugian negara.Namun dalam persidangan sebelumnya terdakwa sudah menitipkan
sejumlah uang pengganti senilai 185 juta rupiah sehingga Jumizar hanya harus menutupi
kekurangan pembayaran denda itu saja."Jika dalam tempo satu bulan setelah putusan memiliki
ketetapan hukum tidak dibayarkan maka diganti dengan pidana penjara enam bulan," sebut
Ketua Majelis Hakim.

Putusan ini sesuai dengan tuntutan JPU dalam sidang sebelumnya. Hanya saja nilai uang
pengganti lebih tinggi.Jika dalam tuntutannya. Jumizar dikenakan ganti rugi Rp 199 juta.
Namun dalam putusan ini uang penggani lebih tinggi yakni Rp 220 Juta.

Referensi :

http://jambi.tribunnews.com/2017/11/01/kasus-korupsi-bimtek-dprd-kota-jambi-jumizar-divonis-
18-bulan-penjara
KASUS 2 KASUS SUAP DI KEMENAKERTRANS, CHARLES JONES
MESANG DIVONIS 4 TAHUN PENJARA

Charles Jones Mesang Divonis 4 Tahun Penjara

Charles Jones Mesang divonis empat tahun penjara oleh majelis hakim

C
Pengadilan Negeri Tipikor, Jakarta Pusat. Mantan anggota Komisi IX DPR periode
2009-2014 itu dinyatakan bersalah atas tindak pidana penerimaan suap sebesar Rp
9.750.000.000 terkait penambahan dana optimalisasi di P2K
Kemenakertrans."Menyatakan bersalah dan menjatuhkan pidana penjara empat tahun
penjara denda Rp 200 juta atau pidana pengganti dua bulan penjara," ucap ketua
majelis hakim Haryono saat membacakan vonis terhadap Charles, Kamis
(7/9/2017).Dalam pertimbangan yang memberatkan, perbuatan Charles sebagai anggota DPR
saat itu dianggap tidak mendukung program pemerintah dalam upaya pemberantasan tindak
pidana korupsi.
Sementara hal meringankan dari vonis majelis hakim antara lain, sikap Charles selama
persidangan sopan, berterus terang dan menyesali perbuatannya.Vonis majelis hakim tersebut
sedikit lebih rendah ketimbang tuntutan jaksa penuntut umum KPK yang menuntut lima tahun
penjara serta denda Rp 300 juta atau subsider empat bulan kurungan penjara.
Dalam putusan hari ini, majelis hakim pun sependapat dengan tuntutan jaksa mengenai
pasal yang digunakan dalam proses hukum Charles yakni Pasal 12 huruf a Undang-Undang
Tindak Pidana Korupsi Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.
Dari kasus tersebut, sebelumnya mantan Dirjen P2TK Kemenakertrans, Jamaluddin
Malik telah menjalani proses hukum sebagai terdakwa pihak yang menyuap. Dia divonis 6 tahun
penjara, denda Rp 200 juta, subsider 1 tahun penjara

Referensi :
https://www.merdeka.com/peristiwa/kasus-suap-di-kemenakertrans-charles-jones-mesang-
divonis-4-tahun-penjara.html
KASUS 3 : KASUS PENGGELAPAN PAJAK, DIREKTUR DI SEMARANG
DIHUKUM 7 BULAN PENJARA

Direktur Di Semarang Dihukum 7 Bulan Penjara, Kasus Penggelapan Pajak

D irektur sebuah perusahaan jasa transportasi, CV. Bumi Raya dihukum 7 bulan
penjara dan denda Rp 11,74 miliar terkait tindak pidana perpajakan.
Terdakwa bernama Soetijono (64) itu menyampaikan surat pemberitahuan
(SPT) masa pajak pertambahan nilai (PPN) dengan isi yang tidak sesuai kenyataan.
Hukuman tersebut diketok majelis hakim yang diketuai hakim Moh. Zaenal Arifin di Pengadilan
Negeri Semarang, Rabu (9/11/2016). Hakim menilai Soetijono terbukti menyampaikan SPT
masa PPN masa pajak Januari-Desember 2007 dengan tidak benar.

Perbuatan curang ini dilakukan Soetijono dengan membuat faktur pajak yang tidak
berdasarkan transaksi ekonomi yang sebenarnya. Selain itu berdasarkan keterangan saksi dari
pihak-pihak perusahaan, tidak ada yang melakukan transaksi jual beli dengan CV Bumi Raya
dalam perkara itu. Soetijono terbukti melakukan tindak pidana melanggar Pasal 39 ayat (1) huruf
c jo pasal 43 Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan yang telah diubah dengan UU RI Nomor 16 tahun 2000.
"Perbuatannya merugikan negara sebesar Rp 5,8 miliar," kata pelaksana tugas Kepala Kanwil
Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah I, Dasto Ledyanto dalam siaran pers yang diterima
detikcom, Kamis (10/11/2016).

Dasto mengatakan tidak hanya perkara tersebut yang prosesnya terus berlanjut. Saat ini
Kanwil DJP Jawa Tengah I sedang melaksanakan pemeriksaan bukti permulaan terhadap 16
wajib pajak. "Kami juga melaksanakan penyidikan terhadap 8 wajib pajak,"kata Dasto.
Dasto menjelaskan, dengan berlakunya UU RI nomor 11 tahun 2016 tentang Pengampunan
Pajak, setiap wajib pajak berhak mendapatkan pengampunan pajak.
Namun hal ini tidak berlaku bagi wajib pajak yang sedang menjalani penyidikan dan berkas
penyidikan sudah dinyatakan lengkap oleh kejaksaan.
Pengampunan pajak juga tidak berlaku terhadap wajib pajak yang sedang dalam proses
peradilan, atau wajib pajak yang sedang menjalani hukuman pidana atas tindak pidana bidang
perpajakan.
"Oleh sebab itu diimbau kepada wajib pajak baik yang sedang dilakukan proses pemeriksaan
bukti permulaan maupun penyidikan untuk memanfaatkan Undang-Undang Pengampunan
Pajak," jelas Dasto.

Referensi :
https://news.detik.com/berita/d-3342607/kasus-pajak-direktur-di-semarang-dihukum-7-bulan-
penjara
KASUS 4: BUPATI KLATEN DIVONIS 11 TAHUN BUI ATAS KASUS
SUAP DAN GRATIFIKASI

Kasus Suap Dan Gratifikasi Bupati Klaten Divonis 11 Tahun

B
Bupati Klaten non aktif, Sri Hartini dijatuhi vonis penjara 11 tahun oleh hakim
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang terkait suap dan gratifikasi.
Vonis tersebut lebih rendah 1 tahun dari tuntutan jaksa penuntut dari KPK.
"Menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa selama 11 tahun dikurangi masa tahanan yang
telah dijalani," kata hakim Antonius Widijantono saat membacakan amar putusannya, Rabu
(20/9/2017).
Sri juga dibebani denda Rp 900 juta dengan ketentuan jika tidak dibayarkan satu bulan setelah
perkara berkekuatan hukum tetap, maka diganti dengan penjara 10 bulan. Terdakwa terbukti
melanggar pasal 12 huruf a dan pasal 12 huruf B Undang-undang tindak pidana korupsi.
Hakim Antonius menyebutkan hal yang memberatkan yaitu terdakwa tidak mendukung
upaya pemerintaj dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Dan yang meringankan yaitu
terdakwa kooperatif dan belum pernah dihukum.
Menanggapi putusan tersebut baik pihak terdakwa maupun jaksa menyatakan pikir-pikir.
Terdakwa menyampaikan langsung hal itu kepada hakim."Saya meminta waktu untuk pikir-pikir
yang mulia," tandas Sri Hartini.

Referensi :

http://kalsel.prokal.co/read/news/14848-mantan-ketua-dprd-banjarmasin-divonis-empat-tahun-
penjara-kasus-tipikor.html
Kasus 5 :Termasuk dalam golongan Tipikor tentang Kerugian
Negara

Kasus Korupsi Rp 31 M, Ketua DPRD Bengkalis Divonis 1,5 Tahun Bui

M
ajelis Hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru, Riau menjatuhkan vonis ringan
terhadap Ketua DPRD Bengkalis, Heru Wahyudi. Meski terbukti bersalah
melakukan korupsi dana bansos, dia hanya divonis 18 bulan penjara.Vonis itu jauh
lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum. Sebelumnya jaksa menuntut Majelis Hakim
menghukum Heru dengan pidana penjara delapan tahun enam bulan.
.Dana bansos yang dikucurkan Rp 230 miliar. Adapun Praktek bancakan korupsi
berjamaah dana bansos itu telah merugikan negara Rp 31 miliar itu. "Menyatakan terdakwa
bersalah dan divonis satu tahun enam bulan penjara," kata Ketua Majelis Hakim, Raden Heru
Kunto Dewo dalam membacakan amar putusannya di PN Pekanbaru, Riau, Rabu 31 Mei
2017.Selain hukuman fisik, Majelis Hakim juga mewajibkan Heru membayar denda Rp 50 juta
subsider 2 bulan penjara.Heru juga diwajibkan membayar uang pengganti Rp 15 juta.Vonis ini
sangat bertolak belakang dengan tuntutan jaksa.Jaksa menuntut Heru dengan pidana delapan
tahun enam bulan penjara dan denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan penjara.
Jaksa juga menuntut Heru membayar uang penganti Rp 385 juta.Dengan catatan, jika
Heru tidak membayar uang pengganti tersebut setelah satu bulan vonis berkekuatan hukum tetap,
maka harta bendanya disita untuk dilelang untuk menutupi uang pengganti.Jika masih kurang
atau tidak cukup, maka dipidana dengan penjara empat tahun enam bulan.Atas hukuman ringan
dari Majelis Hakim ini, Heru terlihat haru. Dia langsung berdiri dari kursi pesakitan dan berjalan
menuju istrinya. Pelukan hangat diberikan kepada sang istri sebagai rasa suka cita mendapat
vonis ringan.Dia masih mempertimbangkan untuk banding atau tidak ke Pengadilan Tinggi
Pekanbaru."Saya pikir-pikir yang mulia," ujar wakil rakyat tersebut.Sikap Heru sama dengan
sikap jaksa yang juga menyatakan pikir-pikir sebelum memutuskan menerima vonis ini atau
banding dalam kasus korupsi dana bansos ini.
Referensi :
https://www.liputan6.com/regional/read/2974957/kasus-korupsi-rp-31-m-ketua-dprd-bengkalis-
divonis-15-tahun-bui
Kasus 6 :Termasuk dalam golongan Tipikor tentang Suap
Sanusi Divonis Tujuh Tahun Penjara Fachri Fachrudin

M
antan Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Mohammad Sanusi,
mendengarkan putusan yang dibacakan ketua majelis hakim Sumpeno
dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis
(29/12/2016). Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menjatuhkan vonis bersalah terhadap
terdakwa kasus suap rancangan peraturan daerah terkait reklamasi, Mohammad Sanusi.Ia divonis
tujuh tahun penjara dan denda sebesar Rp 250 juta subsider dua bulan kurungan. "Menyatakan
Saudara Mohammad Sanusi secara sah dan
meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi
sebagaimana diatur dalam dakwaan pertama dan tindak
pidana pencucian uang sebagaimana dalam dakwaan
kedua," ujar Ketua Majelis Hakim Sumpeno dalam
sidang putusan yang digelar, Kamis (29/12/2016)."Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa
Mohammad sanusi dengan pidana penjara selama tujuh tahun dan pidana denda sebesar Rp 250
juta rupiah subsider dua bulan kurungan," kata Sumpeno.Vonis hakim tersebut lebih ringan
daripada tuntutan jaksa, yakni 10 tahun penjara.Jaksa sebelumnya menyatakan bahwa Sanusi
terbukti menerima suap sebesar Rp 2 miliar dari mantan Presiden Direktur PT Agung Podomoro
Land, Ariesman Widjaja.Suap tersebut terkait pembahasan peraturan daerah tentang reklamasi di
Pantai Utara Jakarta. Sanusi juga disebut terbukti melakukan pencucian uang sebesar Rp 45
miliar atau tepatnya Rp 45.287.833.773,00.
Jaksa mengatakan, uang tersebut digunakan untuk pembelian tanah, bangunan, serta
kendaraan bermotor. Dengan demikian, Sanusi telah melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat 1 KUHP, kemudian Pasal 3 UU
Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian uang jo
Pasal 65 ayat 1 KUHP.
Referensi
https://nasional.kompas.com/read/2016/12/29/15594631/sanusi.divonis.tujuh.tahun.penjara

TUGAS

CONTOH KASUS TINDAK PIDANA KORUPSI

Dosen Pembimbing :
Nila Susanti, SKM., MPH

Disusun Oleh :
Nama : Siti Khofifah Indriani
NIM : PO.62.24.2.16.092
Mata Kuliah : Pendidikan Budaya Anti Korupsi

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN PALANGKA RAYA

JURUSAN KEBIDANAN PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN

TAHUN 2018