Anda di halaman 1dari 5

OTITIS MEDIA AKUT

No. Dokumen :

No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit : 05 Maret 2018

Halaman :1/5
La Joni, AMK
UPTD PuskesmasWaho
Nip.197904161999031005
1. Pengertian Otitis media akut (OMA) adalah peradangan sebagian atau seluruh
mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel
mastoid yang terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu.
2. Tujuan Sebagai acuan dalam penatalaksanaan otitis media akut di Puskesmas
Waho
3. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPTD Puskesmas Waho
No.440/SK/C/VII/112/03/2018 Tentang Kebijakan Pelayanan Klinis

4. Referensi 1. Peraturan Mentri Kesehatan no 5 Tahun 2015 tentang Panduan


Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama
2. Hafil, F., Sosialisman, Helmi. Kelainan Telinga Luar dalam Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala &
Leher. Ed. ke-6. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta. 2007.
5. Persiapan Alat :
1. Alat tulis
2. Rekam Medik pasien
3. Otoskop/THT set
4. Tensimeter
5. Stetoskop
6. Pengukur BB
7. Pengukur TB
8. Termometer
6. Prosedur 1. Perawat poli menerima rekam medis dari loket
2. Perawat poli memanggil pasien sesuai identitas yang tertera pada
rekam medis.

1|Otitis Media Akut


3. Perawat poli melakukan pemeriksaan TB, BB, Tekanan darah,
pengukuran Nadi, pernapasan dan suhu pasien dan mencatatnya
dalam Rekam medis pasien
4. Perawat poli memberikan status pasien kepada Dokter poli Umum
5. Dokter memeriksaa kesesuaian identitas pasien dengan data pada
rekam medis
6. Dokter melakukan anamnesis kepada pasien
7. Dokter mendapatkan anamnesis berupa :
Keluhan
- Rasa nyeri di dalam telinga dan demam serta ada riwayat batuk
pilek sebelumnya
- Anak juga gelisah, sulit tidur, tiba-tiba menjerit waktu tidur,
bila demam tinggi sering diikuti diare dan kejang-kejang.
- Kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit.
- Pada stadium supurasi pasien tampak sangat sakit, dan demam,
serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat.
- Bila terjadi ruptur membran timpani, maka sekret mengalir ke
liang telinga, suhu tubuh turun, dan anak tertidur tenang.
- Pada anak yang lebih besar atau dewasa, selain rasa nyeri
terdapat pula gangguan pendengaran dan rasa penuh dalam
telinga.
Faktor Resiko
- Bayi dan anak
- Infeksi saluran napas berulang
- Bayi yang tidak mendapatkan ASI Eksklusi
8. Dokter melakukan konfirmasi dengan pemeriksaan fisik dan
menemukan:
- Dapat ditemukan demam
- Pemeriksaan dengan otoskopi untuk melihat membran timpani:
Pada stadium oklusi tuba Eustachius terdapat gambaran retraksi
membran timpani, warna membran timpani suram dengan reflex
cahaya tidak terlihat Pada stadium hiperemis membran timpani
tampak hiperemis serta edema. Pada stadium supurasi membran

2|Otitis Media Akut


timpani menonjol ke arah luar (bulging) berwarna kekuningan.
Pada stadium perforasi terjadi ruptur membran timpani dan
nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar.
Pada stadium resolusi bila membran timpani tetap utuh, maka
perlahan-lahan akan normal kembali.Bila telah terjadi perforasi,
maka sekret akan berkurang dan mengering.
9. Dokter menegakkan diagnosis klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
fisik.
- Stadium oklusi tuba Eustachius
Adanya gambaran retraksi membran timpani akibat terjadinya
tekanan negatif di dalam telinga tengah, karena adanya absorpsi
udara. Membran timpani terlihat suram dengan refleks cahaya
menghilang. Efusi mungkin telah terjadi, tapi tidak dapat
dideteksi. Stadium ini sulit dibedakan dengan otitis media
serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi.
- Stadium Hiperemis
Tampak pembuluh darah melebar di membran timpani sehingga
membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang
terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga
sukar dilihat.
- Stadium Supurasi
Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya
sel epitel superfisial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di
kavum timpani yang menyebabkan membran timpani menonjol
(bulging) ke arah telinga luar. Pasien tampak sangat sakit, dan
demam, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Bila tidak
dilakukan insisi (miringotomi) pada stadium ini, kemungkinan
besar membran timpani akan ruptur dan keluar nanah ke liang
telinga luar. Dan bila ruptur, maka lubang tempat ruptur
(perforasi) kadang tidak menutup kembali terutama pada anak
usia lebih dari 12 tahun atau dewasa.
- Stadium Perforasi

3|Otitis Media Akut


Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian
antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi, maka dapat terjadi
ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga
tengah ke liang telinga luar.
- Stadium Resolusi
10. Dokter melakukan penatalaksanaan berupa
- Medika mentosa
- Non medika mentosa (antipiretik dan antibiotik)
11. Dokter melakukan konseling edukasi
12. Dokter melakukan kriteria rujukan
Indikasi miringotomi pada anak dengan OMA adalah nyeri berat,
demam, komplikasi OMA seperti paresis nervus fasialis, mastoiditis,
labirinitis, dan infeksi sistem saraf pusat. Miringotomi merupakan
terapi third-line pada pasien yang mengalami kegagalan terhadap dua
kali terapi antibiotik pada satu episode OMA
13. Mempersilahkan pasien menuju apotek untuk mengambil obat jika
telah selesai.
14. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan pada Rekam Medis
7. Bagan Alir
Perawat poli Memanggil Pasien Melakukan
menerima RM sesuai identitas di pemeriksaan
dari loket RM TB,BB,TD,Nadi, RR,
Suhu

Perawat poli memberikan status


kepada dokter

Melakukan Dokter memeriksaa


Anamnesa kesesuaian identitas
pasien dengan RM

Melakukan Pemeriksaan
Fisik

Menegakkan Diagnosis

4|Otitis Media Akut


Melakukan
Penatalaksanaan

Memberikan Konseling
edukasi

Menanyakan keluhan dan


poli yang dituju
Melakukan Kriteria
Rujukan

Mempersilahkan pasien
menuju Apotek

Mendokumentasikan hasil
pemeriksaan pada RM

8. Hal-hal yang perlu di


perhatikan
9. Unit terkait 1. Loket Pendaftaran
2. Apotik
10. Dokumen terkait 1. Rekam Medik
11. Rekaman historis No Yang diubah Isi perubahan Tanggalmulai di berlakukan
perubahan
1

5|Otitis Media Akut