Anda di halaman 1dari 21

Buku Putih Sanitasi

Kabupaten Semarang

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Tujuan pembangunan milenium atau Milenium Development Goals
(MDG’s) adalah upaya untuk memenuhi hak-hak dasar kebutuhan manusia
melalui komitmen bersama antara 189 negara anggota PBB untuk melaksanakan
8 (delapan) tujuan pembangunan. Salah satu tujuan dari kesepakatan MDGs
adalah menjamin keberlanjutan lingkungan dengan target yang berkaitan dengan
sanitasi adalah mengurangi separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki
akses air minum dan sanitasi dasar yang layak.
Indonesia sebagai salah satu negara yang menandatangani deklarasi
tersebut telah berusaha mewujudkan komitmen mewujudkan MDG’s. Namun
demikian, khususnya untuk tujuan 7C berkaitan dengan sanitasi masih jauh dari
harapan. Berdasarkan laporan Bappenas, proporsi rumah tangga yang memiliki
akses berkelanjutan terhadap sanitasi mencapai 51,19% (2009) dari target yang
ditetapkan sebesar 62,41% pada tahun 2015. Capaian tersebut menunjukkan
bahwa proporsi rumah tangga di Indonesia yang mempunyai akses ke fasilitas
sanitasi yang layak meningkat dua kali lipat, dari 24,81 persen pada tahun 1993
menjadi 51,19 persen pada tahun 2009. Akan tetapi, kemajuan yang dicapai
masih lebih lambat dibandingkan di negara-negara lain di kawasan regional
dengan tingkat pembangunan ekonomi yang relatif sama.
Peningkatan cakupan tersebut juga belum menunjukkan kualitas
layanan sanitasi yang ada. Sebagian besar system sanitasi yang ada
menggunakan tangki septic yang seringkali bocor dan tidak dikuras dalam
sedikitnya 2 tahun sekali. Sistem sanitasi on-site tersebut belum disertai dengan
investasi dalam infrastruktur penampungan, pengolahan, dan pembuangan
limbah tinja, sehingga meningkatkan pencemaran terhadap sumber air baku.
Begitu pula investasi dalam penyediaan layanan sambungan air limbah terpusat

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 1


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

skala kota (sewerage system) dan skala komunal (communal system) juga masih
sangat sdikit dan belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk.
Anggaran untuk penyediaan layanan sanitasi yang layak masih sangat
minim, kurang lebih hanya 1% APBD/APBN. Sementara itu, sumber pendanaan
dari pihak swasta, baik dalam bentuk Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS)
ataupun Corporate Social Responsibility (CSR) masih belum dimanfaatkan secara
signifikan. Regulasi yang mendukung penyediaan sanitasi yang layak belum
lengkap dan terbarukan, ditambah dengan belum adanya kebijakan
komprehensif lintas sektoral yang menangani masalah sanitasi mengakibatkan
kurang optimalnya pemanfaatan sumber daya yang ada untuk pembangunan
layanan sanitasi.
Kesadaran masyarakat akan pentingnya sanitasi juga masih minim.
Sanitasi dianggap bukan permasalahan yang mendesak. Terbukti dari Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masyarakat masih rendah. Keadaan dan perilaku
tidak sehat tercermin dari masih tingginya kasus diare yang mencapai 411 per
1.000 penduduk (Survei Morbiditas Diare Kemkes, 2010). Mencuci tangan
dengan sabun masih jarang dilakukan, sekitar 47% rumah tangga masih
melakukan buang air besar di tempat terbuka, dan meskipun hampir semua
rumah tangga merebus air untuk minum, namun 48 persen dari air tersebut
masih mengandung bakteri E Coli.
Kesenjangan capaian sanitasi yang layak juga terjadi antara perdesaan
dan perkotaan. Proporsi rumah tangga yang memiliki akses berkelanjutan
terhadap sanitasi untuk wilayah perkotaan mencapai 69,51 % (2009) dengan
target 76,82% pada tahun 2015. Sedangkan untuk wilayah perdesaan mencapai
33,96 % (2009) dengan target 55,55 % pada tahun 2015. Untuk mengejar
ketertinggalan dalam penyediaan layanan sanitasi, maka pemerintah melakukan
terobosan melalui program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
(PPSP) 2010-2014 yang menekankan bahwa sanitasi adalah urusan bersama
seluruh pihak baik Pemerintah, swasta, lembaga donor, dan masyarakat.

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 2


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

Sasaran Program PPSP antara lain adalah stop Buang Air Besar
Sembarangan (BABS) di wilayah perkotaan dan perdesaan pada akhir 2014;
peningkatan pengelolaan persampahan melalui implementasi 3R (Reduce, Reuse,
Recycle) dan penerapan pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)
berwawasan lingkungan; dan pengurangan genangan di 100 kawasan strategis
perkotaan seluas 22.500 Ha. Dengan demikian, PPSP merupakan upaya
meningkatkan kapasitas dan kualitas sanitasi di daerah dengan ruang lingkup
penanganan permasalahan limbah domestic, sampah, dan drainase.
Keikutsertaan kabupaten Semarang dalam program PPSP didasari
oleh Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 648-607/Kep/Bangda/2012
Tanggal 12 September 2012 Tentang Penetapan Kabupaten atau Kota Sebagai
Peserta Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman Tahun 2013.
Penetapan tersebut telah melalui proses penjaringa dan pernyataan minat
Bupati Semarang untuk mengikuti program PPSP melalui surat tertanggal 26
Maret 2012 nomor 605.3/01019 serta surat pernyataan komitmen Ketua TAPD
untuk memenuhi persyaratan sebagai Kabupaten Peserta PPSP Tahun 2013
dengan mengalokasikan dana APBD pada SKPD terkait untuk biaya opersional
Pokja dan biaya pendukungnya.
Keikutsertaan Kabupaten Semarang dalam program PPSP tersebut
dilatarbelakangi kondisi sanitasi di Kabupaten Semarang yang memang masih
membutuhkan penanganan serius. Proporsi penduduk yang memiliki akses
sanitasi dasar yang layak sebesar 79,97% (2010) dengan target 89,99% pada
tahun 2015 (RAD AMPL). Pencapaian tahun 2010 terlihat telah melampaui target
MDG’s yang ditetapkan secara nasional. Namun demikian, fasilitas infrastuktur
sanitasi yang ada masih di bawah standar. Penduduk di kawasan permukiman
yang berdekatan dengan sungai masih melakukan praktik BABS terselubung.
Dinamakan demikian karena pembuangan black water dari toilet di rumah yang
telah memenuhi standar kesehatan pada akhirnya bermuara di sungai, tidak ke
tangki septic. Sebagian besar tangki septic juga tidak pernah dikuras. Demikian
halnya dengan air limbah rumah tangga yang lainnya, saluran air limbah masih

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 3


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

bermuara pada badan sungai dan sebagian bermuara pada saluran irigasi tanpa
pengolahan. Kondisi tersebut dikarenakan Kabupaten Semarang belum memiliki
infrastruktur penampungan, pengolahan dan pembuangan air limbah baik
berupa IPAL, maupun IPLT, sehingga berpotensi mencemari tanah dan air tanah.
Pengelolaan sampah di Kabupaten Semarang juga masih
membutuhkan penanganan lebih. Sampah yang berhasil ditangani baru
mencapai 79,26% (LKPJ 2012). Sementara rasio Tempat Pembuangan Sampah
(TPS) baru 0,215% per satuan penduduk. Sebagian besar TPS juga masih
konvensional, belum mempunyai fasilitas pemilahan sampah. Sedangkan TPA
yang dimiliki yaitu TPA Blondo masih perlu ditingkatkan dari controlled landfill
menjadi sanitary landfill. Sosialisasi dan percontohan pengelolaan sampah
melalui 3 R (Reduce, Reuse,Recycle) masih harus digalakkan. Masih terbatasnya
sarana dan prasarana persampahan mengakibatkan pencemaran air dan udara.
Kondisi drainase Kabupaten Semarang juga masih memprihatinkan.
Panjang jalan yang memiliki trotoar dan drainase dengan lebar lebih dari 1,5
meter hanya 23%. Dan hanya 61% saja dari drainase terbut yang berfungsi baik
(LKPJ 2012). Drainase yang buruk mengakibatkan tingginya kerusakan jalan. Pada
tahun 2012 juga terjadi banjir sebanyak 6 kali (LKPJ 2012). Banjir terjadi di
dataran sekitar Rawa Pening dan daerah aliran Sungai Tuntang. Juga di beberapa
wilayah kota yang rutin setiap musim hujan mengalami genangan lebih dari
enam jam pada saat turun hujan normal.
Dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi sanitasi Kabupaten
Semarang tersebut, maka pemerintah Kabupaten Semarang mempunyai
komitmen untuk ikut melaksanakan program PPSP. Dan pada tanggal 14 Agustus
2012 dengan Keputusan nomor 050/0496/2012 menetapkan pembentukan Tim
Koordinasi dan Kelompok Kerja Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman
(Pokja PPSP) Kabupaten Semarang yang beranggotakan delapan dinas instansi
terkait sektor sanitasi. Sebagai tindak lanjut, maka pada tahun 2013 Tim
Koordinasi dan Pokja PPSP Kabupaten Semarang menyusun Buku Putih Sanitasi
(BPS) dan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK). BPS tersebut hakekatnya adalah

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 4


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

profil dan gambaran pemetaan karakteristik & kondisi sanitasi, serta


prioritas/arah pengembangan pembangunan sanitasi bagi masyarakat dan
pemerintah Kabupaten Semarang. BPS berguna sebagai baseline-data terkait
kondisi sanitasi Kabupaten Semarang yang akan digunakan dalam penyusunan
Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK), serta keperluan pemantuan dan evaluasi
(monev) pembangunan sektor sanitasi. Sementara SSK merupakan arahan atau
pedoman bagi pembangunan sanitasi yang berisi kebijakan, stategi dan
pengelolaan sanitasi. SSK akan disusun terpisah dari Buku Putih Sanitasi ini.

1.2. LANDASAN GERAK


1.2.1. Definisi dan Ruang Lingkup Sanitasi
Menurut Buku Referensi Opsi Sistem dan Teknologi Sanitasi yang
mengacu pada Compendium for Sanitation System and Technology, definisi
sanitasi adalah suatu proses multi-langkah, di mana berbagai jenis limbah
dikelola dari titik timbulan (sumber limbah) ke titik pemanfaatan kembali atau
pemrosesan akhir. Proses multi-langkah ini disebut sebagai Sistem Sanitasi.
Sebagaimana material yang masih berharga jual, selanjutnya limbah ini disebut
sebagai produk. Sebab, memang layak diolah dalam proses multi-langkah
tersebut dan menghasilkan nilai tambah. Meskipun pada akhirnya, hasil proses
ini harus dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Dalam suatu sistem sanitasi, berbagai jenis produk mengalir melalui
sistem yang terdiri dari berbagai tahapan. Setiap tahap ini selanjutnya disebut
sebagai kelompok fungsional, karena punya teknologinya sendiri-sendiri dengan
pengelolaan yang spesifik. Kelompok fungsional ini dapat berupa pengumpulan,
pengangkutan, penyimpanan sementara, ataupun pengolahan.
Adapun sanitasi itu sendiri terdiri dari tiga sub sector yaitu: air limbah,
sampah, dan drainase. Selain itu hal yang tidak bisa dipisahkan dengan masalah
sanitasi adalah Promosi Higiene dan Sanitasi (Prohisan) atau lebih dikenal dengan
istilah PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Pengertian dari masing-masing
sub sector sanitasi dan Prohisan atau PHBS adalah sebagai berikut:

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 5


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

1.2.1.1. Air Limbah


Air limbah domestic menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup
Nomor 112/2003 adalah air limbah yang berasal dari usaha dan atau kegiatan
permukiman, rumah makan, perkantoran, perniagaan, apartemen dan asrama.
Sedangkan menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/2008
yang dimaksud air limbah adalah air buangan yang berasal dari rumah tangga
termasuk tinja manusia dari lingkungan permukiman. Dan menurut Buku Materi
Bidang Air Limbah (Diseminasi dan Sosialisasi Keteknikan Bidang PLP, 2012)
pengertian air limbah adalah semua air buangan yang berasal dari kamar mandi,
dapur, cuci, dan kakus serta air limbah industri rumah tangga yang karakteristik
air limbahnya tidak jauh berbeda dengan air limbah rumah tangga serta tidak
mengandung Bahan Beracun dan Berbahaya. Dengan demikian pengertian air
limbah dalam Buku Putih Sanitasi ini adalah air buangan yang berasal dari
kegiatan rumah tangga terdiri dari air buangan kamar mandi, dapur, cuci, dan
kakus di permukiman, rumah makan, perkantoran, perniagaan, apartemen dan
asrama serta air limbah industri rumah tangga yang karakteristik air limbahnya
tidak jauh berbeda dengan air limbah rumah tangga serta tidak mengandung
Bahan Beracun dan Berbahaya.
Air limbah rumah tangga dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Black water, yaitu air buangan yang berasal dari WC termasuk di dalamnya:
urine, tinja, air pembersih anus, materi pembersih lainnya, dan air guyur.
2. Grey water, yaitu air limbah yang dihasilkan dari air bekas mandi, mencuci
pakaian, dan buangan cair dari dapur.
Adapun sistem pengelolaan air limbah domestic/permukiman terdiri
dari dua macam yaitu:
1. Sanitasi sistem setempat (on-site) yaitu sistem dimana fasilitas pengolahan
air limbah berada dalam persil atau batas tanah yang dimiliki, fasilitas ini
merupakan fasilitas sanitasi individual seperti septic tank atau cubluk
2. Sanitasi sistem terpusat (off-site sewerage), yaitu sistem dimana fasilitas
pengolahan air limbah berada di luar persil atau dipisahkan dengan batas

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 6


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

jarak atau tanah yang menggunakan perpipaan untuk mengalirkan air limbah
dari rumah-rumah secara bersamaan dan kemudian dialirkan ke Intalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL).
1.2.1.2. Sampah
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 definisi sampah
adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan atau proses alam yang berbentuk
padat. Sampah atau sisa kegiatan tersebut dapat berasal dari daerah perumahan,
daerah komersial, fasilitas umum dan fasilitas social.
Adapun pengelolaan sampah menurut Buku Materi Bidang Sampah
(Diseminasi dan Sosialisasi Keteknikan Bidang PLP, 2012) adalah semua kegiatan
yang bersangkut paut dengan pengendalian timbulnya sampah, pengumpulan,
transfer dan transportasi, pengolahan dan pemrosesan akhir/pembuangan
sampah, dengan mempertimbangkan faktor kesehatan lingkungan, ekonomi,
teknologi, konservasi, estetika, dan faktor-faktor lingkungan lainnya yang erat
kaitannya dengan respons masyarakat. Sedangkan menurut UU Nomor 18 Tahun
2008 pengelolaan sampah didedefinisikan sebagai kegiatan yang sistematis,
menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan
penanganan sampah.
Kegiatan pengurangan sampah melalui program 3R meliputi:
1. Pembatasan timbunan sampah (Reduce);
2. Pemanfaatan kembali sampah (Reuse);
3. Pendauran ulang sampah (Recycle).
Sedangkan kegiatan penanganan sampah meliputi:
1. Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai
dengan jenis, jumlah, dan atau sifat sampah;
2. Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari
sumber sampah ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) atau Tempat
Pengolahan Sampah 3 R skala kawasan (TPS 3R) atau Tempat Pengolahan
Sampah Terpadu (TPST)

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 7


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

3. Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan atau dari
TPS atau dari TPS 3R ke TPST atau Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)
4. Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah
sampah
5. Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan atau
residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.
1.2.1.3. Drainase
Menurut Buku Materi Bidang Drainase (Diseminasi dan Sosialisasi
Keteknikan Bidang PLP, 2012) drainase adalah prasarana yang berfungsi
mengalirkan air permukaan ke badan air atau ke bangunan resapan air.
Sedangkan sistem drainase perkotaan adalah sistem drainase dalam wilayah
administrasi kota dan daerah perkotaan. Sistem tersebut berupa jaringan
pembuangan air yang berfungsi mengendalikan atau mengeringkan kelebihan air
permukaan di daerah permukiman yang berasal dari hujan lokal, sehingga tidak
mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan manusia.
Fungsi drainase perkotaan adalah:
1. Mengeringkan bagian wilayah kota yang permukaan lahannya lebih rendah
dari genangan sehingga tidak menimbulkan dampak negative berupa
kerusakan infrastruktur kota dan harta benda milik masyarakat.
2. Mengalirkan kelebihan air permukaan ke badan air terdekat secepatnya agar
tidak membanjiri atau menggenangi kota sehingga merusak infrstruktur
perkotaan dan harta benda milik masyarakat.
3. Mengendalikan sebagian air permukaan akibat hujan sehingga dapat
dimanfaatkan untuk persediaan air dan kehidupan akuatik
4. Meresapkan air permukaan untuk menjaga kelestarian air tanah
Ada dua pola yang umum dipakai untuk mengelola drainase yang
berwawasan lingkungan (drainase yang tidak menimbulkan dampak merugikan
bagi lingkungan) yaitu:
1. Pola detensi (menampung sementara) dengan membuat kolam
penampungan

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 8


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

2. Pola retensi (meresapkan) dengan membuat sumur resapan, saluran resapan,


dan bidang resapan atau kolam resapan
Berdasarkan fisiknya sistem drainase dikelompokkan menjadi tiga
yaitu:
1. Sistem Saluran Primer, yaitu saluran yang menerima masukan aliran dari
saluran-saluran sekunder. Saluran primer relative besar sebab letak saluran
paling hilir. Aliran dari saluran primer langsung dialirkan ke badan air.
2. Sistem Saluran Sekunder, yaitu saluran terbuka atau tertutup yang berfungsi
menerima aliran air dari saluran-saluran tersier dan meneruskan aliran air ke
saluran primer
3. Sistem Saluran Tersier, yaitu saluran yang menerima langsung dari saluran-
saluran pembuangan rumah-rumah, biasanya berada di kanan kiri jalan
perumahan.
Sedangkan berdasarkan pembagian kewenangan pengelolaan dan
fungsi pelayanan sistem drainase dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Sistem drainase lokal (minor urban drainage), yaitu suatu jaringan sistem
drainase yang melayani suatu kawasan kota tertentu seperti kompleks
permukiman, daerah komersial, perkantoran dan kawasan industri, pasar dan
kawasan pariwisata. Sistem ini melayani area sekitar kurang lebih 10 Ha.
Pengelolaan drainase lokal menjadi tanggungjawab masyarakat, pengembang
atau instansi pada kawasan masing-masing.
2. Sistem Drainase Utama (major urban drainage), yaitu sistem jaringan
drainase yang secara struktur terdiri dari saluran primer yang menampung
aliran dari saluran-saluran sekunder dan drainase lokal.

1.2.1.4. Promosi Higiene dan Sanitasi


Promosi Higiene dan Sanitasi sebelumnya dikenal dengan PHBS
(Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Beberapa pengertian terkait dengan PHBS
(Modul PHBS, Fakultas Kedokteran UNS, 2013) antara lain:

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 9


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

1. Perilaku Sehat, adalah pengetahuan, sikap dan tindakan proaktif untuk


memelihara dan mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari
ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam Gerakan Kesehatan
Masyarakat.
2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), adalah wujud pemberdayaan
masyarakat yang sadar, mau dan mampu mempraktekkan PHBS.
3. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), adalah upaya untuk
memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi
perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur
komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk
meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan
pimpinan (Advokasi), bina suasana (Social Support) dan pemberdayaan
masyarakat (Empowerment). Dengan demikian masyarakat dapat mengenali
dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama dalam tatanan masing-masing,
dan masyarakat/dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dengan menjaga,
memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Dinkes, 2006).
4. Tatanan, adalah tempat dimana sekumpulan orang hidup, bekerja, bermain,
berinteraksi dan lain-lain.

Dalam Program PPSP, difokuskan pada pelaksanaan PHBS di tatanan


rumah tangga dan tatanan sekolah serta pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM). STBM adalah pendekatan untuk merubah perilaku higiene
dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan.
Terdapat lima pilar STBM yaitu:
1) Stop Buang Air Besar Sembarangan (STOP BABS),
2) Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)
3) Pengamanan Air Minum Rumah Tangga
4) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
5) Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 10


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

1.2.2. Kerja Sama Pemerintah Swasta dan Masyarakat (Publik Private People
Partnership) dalam Pembangunan Sanitasi
Pembangunan sanitasi bukan semata-mata urusan pemerintah saja,
namun juga membutuhkan keterlibatan swasta dan masyarakat sebagai
pengguna akhir. Wisa Majamaa (2008) dalam The 4thP-People-In Urban
Development Based On Public-Private-People Partenership mempresentasikan
perlunya terlibatan pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam pembangunan
wilayah termasuk pembangunan sanitasi oleh sebagai berikut:

Public Private

Partenership

fokus

People

Formal, pro active impact


Informal, pro active impact

Gambar 1.1
4P dalam Proses Pembangunan

Dijelaskan oleh Majamaa bahwa fokus di dalam pembangunan kota


berdasarkan 4P (Public Private People Partnership) atau kerja sama Pemerintah,
Swasta dan Masyarakat adalah keterlibatan pengguna terakhir yaitu masyarakat.
Majamaa menyebut people atau masyarakat adalah end-users sebagai future and
existing inhabitans. Sementara Pemerintah dan swasta mempunyai hubungan
proaktif, formal maupun informal melalui proses pembangunan. Dengan
demikian, peran aktif masyarakat merupakan bagian yang tidak kalah pentingnya
dengan peran pemerintah maupun swasta.

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 11


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

1.2.3. Wilayah Kajian Buku Putih Sanitasi


Wilayah kajian Buku Putih Sanitasi ini adalah wilayah administrasi
Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah yang terdiri dari 19 Kecamatan 27
Kelurahan dan 208 Desa. Sedangkan wilayah kajian untuk studi penilaian resiko
kesehatan atau Environmental Health Risk Assesment (EHRA) ditetapkan
sebanyak 70 desa/kelurahan yang dipilih secara acak dengan metode
proportional cluster random sampling dengan 2800 orang responden.

1.2.4. Visi dan Misi Kabupaten Semarang


Penyusunan Buku Putih Sanitasi sebagai langkah awal pelaksanaan
program PPSP merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan visi misi
Kabupaten Semarang. Adapun Visi Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten
Semarang Tahun 2010-2015 berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten
Semarang Nomor 5 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah Kabupaten Semarang Tahun 2005-2025 adalah:
“TERWUJUDNYA KABUPATEN SEMARANG YANG MANDIRI, TERTIB, DAN
SEJAHTERA”
Mandiri, artinya mampu mewujudkan kehidupan yang sejajar, sederajat serta
saling berinteraksi dengan daerah lain dengan mengandalkan pada kemampuan
dan kekuatan sendiri. Kemandirian mengenal konsep saling ketergantungan
melalui kerjasama yang saling mendukung dan menguntungkan dalam kehidupan
bermasyarakat baik secara vertical maupun horizontal.
Tertib, artinya mampu mewujudkan perilaku aparatur pemerintah dan
masyarakat yang selalu berpegang pada aturan dan norma-norma yang berlaku
dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Perilaku tertib dapat
ditunjukkan dengan menurunnya angka pelanggaran hokum baik oleh aparat
pemerintah maupun swasta.
Sejahtera, artinya mampu mewujudkan kondisi masyarakat yang terpenuhi hak-
hak dasarnya baik dari aspek kesehatan, pendidikan, dan ekonomi yang ditandai
dengan meningkatnya angka Indek Pembangunan Manusia (IPM) yang didukung

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 12


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

dengan terwujudnya kebebasan kehidupan beragama dan bernegara.


Meningkatnya tingkat kesejahteraan dapat ditunjukkan dengan terjadinya angka
kemiskinan dan jumlah keluarga Pra Sejahtera
Untuk mewujudkan Visi tersebut, misi yang akan ditempuh oleh
Pemerintah Kabupaten Semarang adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan kualitas SDM yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berbudaya serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
2. Mengembangkan produk unggulan berbasis potensi lokal (intanpari) yang
sinergi dan berdaya saing serta berwawasan lingkungan untuk menciptakan
lapangan kerja dan peningkatan pendapatan.
3. Menciptakan pemerintahan yang katalistik dan dinamis dengan
mengedapankan prinsip good governance yang didukung kelembagaan yang
efektif dan kinerja aparatur yang kompeten, serta pemanfaatan teknologi
informasi.
4. Menyediakan infrastruktur daerah yang merata guna mendukung
peningkatan kualitas pelayanan dasar dan percepatan pembangunan.
5. Mendorong terciptanya partisipasi dan kemandirian masyarakat, kesetaraan
dan keadilan jender serta perlindungan anak di semua bidang pembangunan.
6. Mendorong terciptanya pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup
dengan tetap menjaga kelestariannya

1.3. MAKSUD, TUJUAN, DAN SASARAN

1.3.1. Maksud dan Tujuan


Maksud penyusunan Buku Putih Sanitasi adalah untuk memberikan
gambaran profil, karakteristik, dan kondisi sanitasi Kabupaten Semarang serta
untuk memberikan gambaran prioritas dan arah pengembangan pembangunan
sanitasi bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Semarang.
Adapun tujuan dari penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten
Semarang adalah sebagai baseline data tentang kondisi sanitasi saat ini untuk

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 13


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

bahan masukan penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) di Kabupaten


Semarang termasuk mekanisme monitoring dan evaluasinya.

1.3.2. Sasaran
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, maka sasaran
penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Semarang adalah:
1. Menggambarkan secara lengkap dan menyeluruh kondisi sanitasi Kabupaten
Semarang saat ini meliputi pengelolaan air limbah domestic; persampahan;
drainase lingkungan; dan pengelolaan terkait sanitasi terdiri dari pengelolaan
air bersih, air limbah industri rumah tangga, dan limbah medis.
2. Mengidentifikasi permasalahan dan isu stategis sanitasi Kabupaten
Semarang.
3. Mengidentifikasi program pembangunan sanitasi baik yang sedang
dilaksanakan maupun yang sudah direncanakan di Kabupaten Semarang
4. Menentukan area beresiko sanitasi Kabupaten Semarang
5. Melakukan analisis terhadap pengelolaan sanitasi di Kabupaten Semarang
saat ini.

1.4. METODOLOGI

1.4.1. Pendekatan
Penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Semarang dilakukan
dengan pendekatan partisipatif, sehingga melibatkan seluruh pemangku
kepentingan baik dari unsur pemerintah, masyarakat, maupun swasta melalui
rapat Tim Koordinasi dan Pokja PPSP, lokakarya dan konsultasi public untuk
menjaring masukan dan aspirasi yang luas.

1.4.2. Kebutuhan Data


Data yang dibutuhkan dalam penyusunan Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang terdiri dari data primer dan data sekunder.

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 14


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

1.4.2.1. Data primer


Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari kondisi riil di
lapangan melalui wawancara langsung dengan narasumber. Data tersebut
diperoleh melalui studi dan survey terdiri dari:
1. Studi EHRA (Environmental Health Risk Assesment)/Studi Penilaian Resiko
Kesehatan, yaitu studi partisipatif untuk mengetahui kondisi prasarana
sanitasi di tingkat rumahtangga serta higinitas dan perilaku masyarakat
terkait sanitasi di Kabupaten Semarang. Survey dilakukan dengan metode
wawancara terstruktur berlokasi di 70 desa/kelurahan sampling dengan
responden masing-masing desa/kelurahan sebanyak 40 orang.
2. Survei SSA (Sanitation Supply Assessment)/Survei Penyedia Layanan Sanitasi,
yaitu studi untuk mengetahui dengan jelas peta dan potensi penyedia
layanan sanitasi di Kabupaten Semarang yang terdiri dari pemerintah, dunia
usaha dan LSM/KSM terkait sanitasi dan dunia usaha pada umumnya. Survey
dilakukan dengan metode wawancara mendalam atau FGD sehingga
diharapkan terjadi proses advokasi kepada para responden
3. Kajian Komunikasi dan Pemetaan Media, yaitu kajian untuk mengidentifikasi
media yang efektif dan efisien dalam menjangkau target pembangunan
sanitasi. Kajian ini dilakukan dengan metode wawancara terstruktur dan
FGD.
4. Survei Pemberdayaan Masyarakat dalam Higiene dan Sanitasi yang Sensitif
Jender dan Kemiskinan (SPMHSJK), yaitu survei untuk menilai partisipasi
masyarakat dengan pelibatan peran jender dan kemiskinan dalam
pengelolaan sistem sanitasi baik dalam skala kabupaten maupun nasional
serta prospek pengembangannya di masa depan. Survei ini dilakukan dengan
kunjungan lapangan, wawancara, dan FGD

1.4.2.2. Data Sekunder


Sedangkan data sekunder merupakan data pendukung yang
bersumber dari dokumen terkait antara lain dokumen RTRW, RPJMD, Kabupaten

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 15


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

Semarang dalam Angka, Laporan Realisasi APBD, Renstra dan Renja SKPD
terkait, dokumen perencanaan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi, serta
regulasi tentang SOTK, Tugas Pokok dan Fungsi SKPD yang terkait sanitasi di
Kabupaten Semarang. Data sekunder digunakan untuk:
1. Menyusun profil umum Kabupaten Semarang
2. Bahan kajian studi kelembagaan dan kebijakan. Studi ini bertujuan untuk
mendapatkan gambaran atau peta kondisi kelembagaan sanitasi di
Kabupaten Semarang. Studi ini untuk membantu Kabupaten dalam menilai
kekuatan, kelemahan, potensi pengembangan, dan kebutuhan penguatan
kelembagaan dan kebijakan guna menghasilkan suatu kerangka layanan
sanitasi yang memihak masyarakat miskin, efektif, terkoordinasi, dan
berkelanjutan
3. Menyusun profil keuangan dan bahan kajian perekonomian Kabupaten
Semarang. Kajian ini bertujuan untuk menggambarkan kekuatan keuangan
dan perekonomian daerah dalam mendukung pendanaan pembangunan
sanitasi di masa depan, kecenderungan dalam pembiayaan pembangunan,
dan prioritas anggaran selama 5 tahun
4. Bahan kajian untuk mendukung survey dan studi primer

1.4.3. Metode pengolahan dan analisis data


Data primer maupun data sekunder yang terkumpul didiskusikan
bersama dalam rapat Tim Koordinasi dan Pokja PPSP Kabupaten Semarang
sehingga kedua jenis data tersebut dapat saling melengkapi dalam memberikan
informasi yang lebih spesifik mengenai profil kondisi sanitasi Kabupaten
Semarang dari aspek teknis maupun non teknis serta bermanfaat sebagai alat
bantu penyusunan perencanaan sanitasi Kabupaten Semarang.
Data yang dikumpulkan dianalisis melalui metode deskriptif kualitatif
dan kuantitatif untuk menghasilkan daerah berisiko dan basis penyusunan visi
misi sanitasi dan menemukan indikasi permasalahan dan opsi pengembangan
sanitasi di Kabupaten Semarang. Hasil analisis data didiskusikan kembali melalui

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 16


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

FGD dengan semua pemangku kepentingan dan sebagai finalisasi dilakukan


konsultasi public untuk mendapatkan saran, masukan, sekaligus melakukan
advokasi terhadap temuan-temuan dan kesimpulan tentang rencana
pembangunan sanitasi di Kabupaten Semarang selanjutnya.

1.5. DASAR HUKUM DAN KAITANNYA DENGAN DOKUMEN PERENCANAAN


LAIN

1.5.1. Dasar Hukum


Buku Putih Sanitasi Kabupaten Semarang disusun berdasarkan aturan
perundang-undangan dan regulasi sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah –
Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah;
2. Undang-Undang Nomor 67 Tahun 1958 tentang Perubahan Batas-batas
Wilayah Kotapraja Salatiga dan Daerah Swatantra Tingkat II Semarang;
3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
4. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;
5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional;
6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
7. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
8. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah;
9. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
10. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
11. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan
Permukiman;

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 17


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

12. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas


Air dan Pengendalian Pencemaran Air;
13. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum;
14. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah;
15. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota;
16. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber
Daya Air;
17. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M/2006 tentang
Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan
Persampahan;
18. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan;
19. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2008 tentang
Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air
Limbah Permukiman;
20. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010 tanggal 25
Oktober 2010 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang;
21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2010 tentang Pedoman
Pengelolaan Sampah;
22. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 52 Tahun 1995 tentang Baku
Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Hotel;
23. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 58 Tahun 1995 tentang Baku
Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit;

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 18


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

24. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 86 Tahun 2002 tentang


Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya
Pemantauan Lingkungan Hidup;
25. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor 37 tahun 2003 tentang Metode
Analisis Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air Permukaan;
26. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor 110 tahun 2003 tentang
Pedoman Penetapan Daya Tampung Beban Pencemar Air pada Sumber Air;
27. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor 111 tahun 2003 tentang
Pedoman Mengenai Syarat dan Tata Cara Perizinan serta Pedoman Kajian
Pembuangan Air Limbah ke Air atau Sumber Air;
28. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor 112 tahun 2003 tentang Baku
Mutu Air Limbah Domestik;
29. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 648-607/Kep/Bangda/2012 Tanggal
12 September 2012 Tentang Penetapan Kabupaten atau Kota Sebagai
Peserta Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman Tahun
2013;
30. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2007 tentang
Pengendalian Lingkungan Hidup Di Provinsi Jawa Tengah;
31. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2029;
32. Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 14 Tahun 2008 tentang
Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah;
33. Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 16 Tahun 2008 tentang
Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten
Semarang;
34. Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 17 Tahun 2008 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Semarang sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 1 Tahun 2011
tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 17

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 19


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan
Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Semarang;
35. Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 18 Tahun 2008 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten Semarang sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 2 Tahun
2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Semarang
Nomor 18 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah
Kabupaten Semarang;
36. Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 19 Tahun 2008 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah,
Inspektorat, Lembaga Teknis Daerah Dan Kantor Pelayanan Perijinan
Terpadu Kabupaten Semarang sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Daerah Kabupaten Semarang Nomor 3 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas
Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 19 Tahun 2008 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah,
Inspektorat, Lembaga Teknis Daerah Dan Kantor Pelayanan Perijinan
Terpadu Kabupaten Semarang;
37. Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 5 Tahun 2009 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Semarang
Tahun 2005 – 2025;
38. Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 6 Tahun 2011 tentang
Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kabupaten Semarang Tahun 2011
– 2031;
39. Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 7 Tahun 2011 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten
Semarang Tahun 2010–2015;

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 20


Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Semarang

1.5.2. Kaitan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Semarang dengan Dokumen


Perencanaan Lainnya
Sebagaimana diuraikan di atas tentang maksud dan tujuan
penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Semarang, maka Buku Putih Sanitasi
ini merupakan bagian dari dokumen perencanaan sebagai acuan pembangunan
sanitasi di Kabupaten Semarang. Buku Putih Sanitasi merupakan bagian
pelaksanaan dari dokumen perencanaan lainnya yaitu Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Semarang tahun 2005-2025, Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Semarang tahun
2010-2015, Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kabupaten
Semarang tahun 2013-2017, dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kabupaten Semarang dalam rangka melaksanakan misi daerah menyediakan
infrastruktur daerah yang merata guna mendukung peningkatan kualitas
pelayanan dasar dan percepatan pembangunan khususnya bidang sanitasi,
mendorong terciptanya partisipasi dan kemandirian masyarakat, kesetaraan dan
keadilan jender serta perlindungan anak khusunya di bidang pembangunan
sanitasi dan mendorong terciptanya pengelolaan sumber daya alam dan
lingkungan hidup dengan tetap menjaga kelestariannya.
Buku Putih Sanitasi ini bersama-sama dengan dokumen perencanaan
lainnya tersebut merupakan pedoman penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten
sebagai bahan informasi bagi semua pemangku kepentingan dalam bersinergi
dan menjalankan perannya untuk berpartisipasi dalam pembangunan sanitasi di
Kabupaten Semarang ke depan. Serta sebagai dasar penetapan kebijakan daerah
dalam pengelolaan sanitasi di masa yang akan datang sesuai target prioritas
yang disepakati bersama.

Pokja PPSP Kabupaten Semarang 21