Anda di halaman 1dari 16

BATUAN SEDIMEN II

A. Definisi Batuan Sedimen


Batuan sedimen adalah batu yang terbentuk diatas permukaan lithosphere
sebagai akibat dari aksi-aksi air, udara dan atau akibat aktivitas makhluk-makhluk
organis. Didalam lapisan lithosphere hampir terdiri dari batu- batu magma, 70%
dari lapisan atasnya mengandung atau terdiri dari batu-batu endapan.
Batu endapan terdapat dalam keadaan “loose” (tidak kencang ataupun
tidak rapat memadat, renggang) tetapi dalam keadaan yang padat (compact).
Batu-batu renggang bisa kering, contohnya pasir, tetapi dapat juga memadat
dalam keadaan kering dan senantiasa menyerap kelembapan, seperti tanah liat
umpamanya. Batu-batu sedimen juga bisa mengeras dan menyatu seperti coran
semen (cemented) yang sudah kering. Contohnya: pasir bisa menyemen
(merekat) menjadi sandstone (batu pasir), atau batu kerikil bisa mengeras dan
menyatu menjadi conglomerate (tumpukan, bertumpuk menjadi satu).

B. Genesa Batuan Sedimen


 Proses Pelapukan
Berdasarkan asal mula terwujudnya, batu-batu endapan terbagi dalam tiga
macam kelompok utama, yaitu:
1. Batu pecahan (fragmentary or clastic rocks)
Terbentuknya disebabkan terjadinya pemecahan-pemecahan secara
mekanis dan penumpukan (akumulasi) pecahan-pecahan batu-batu.
Pemecahan ini diakibatkan oleh tingkat perbedaan suhu yang tinggi antara
0-50̊C. Proses pelapukan ini diatur oleh radiasi sinar matahari dengan
curah hujan yang sangat rendah.
2. Batu kimia (chemical rocks)
Terbentuk melalui pengendapan unsur-unsur yang ada pada larutan-
larutan. Terbentuk dari tiga macam proses, yaitu:
- Proses pelarutan, dimana proses pengahncurannya disebabkan oleh
reaksi kimia dengan air.
- Proses dehidrasi, dimana terjadi pelepasan air pada mineral. Contoh
pada penghilangan air dari limonit menjadi hematit.
- Proses Karbonasi, dimana terjadi pembentukan mineral karbonat yang
kaya akan kandungan kalsium.
3. Batu organogenik (organogenic rocks):
Terbentuk sebagai akibat aktivitas kehidupan makhluk-makhluk organik.
 Proses Pengangkutan
Jarak yang dialami oleh suatu batuan saat mengalami transportasi
(pemindahan) dapat terlihat dari bentuk ukuran butir serta keadaan komposisi
mineral-mineral pada batuan tersebut. Komposisi mineral pada batuan sedimen ini
terbagi menjadi tiga parameter. Diantaranya :
1. Disominasi oleh mineral tak Stabil, dimana material sedimentasi sangat
dekat dari batuan asalnya.
2. Tersusun dari mineral stabil dan tidak stabil yang menunjukan bahwa
mineral tertransportasi belum terlalu jauh dari batuan asalnya.
3. Didominasi oleh mineral stabil menunjukan bahwa material sedimentasi
telah tertransportasi cukup jauh.
 Proses Pengendapan
Proses pembatuan ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya :
1. Disebabkan oleh gaya gravitasi
2. Akibat penekanan yang berkelanjutan dan terbentuk pori sehingga molekul
airnya keluar.
3. Proses diagenesa dimana terjadi penghabluran kembali sebagian mineral
asal (allogenik) menjadi mineral baru (autigenik).
Tempat-tempat yang biasa terjadi proses pengendapan diantaranya :
1. Lingkungan laut, disini terbagi lagi menjadi tiga tempat,yaitu :
- Laut dalam.
- Laut dangkal.
- Laut transisi (pantai).
2. Lingkungan darat, terbagi lagi diantaranya :
- Danau
- Sungai
- Rawa
- Gurun
C. Bentuk Batuan Sedimen
Deskripsi atau rincian dari batuan-batuan sedimen yang sangat umum
adalah sebagai berikut :
 Batu pecahan (fragmentary rocks)
Berdasarkan ukuran dari berbagai pecahannya, batu-batu jenis ini terbagi
dalam kelompok-kelompok sebagai berikut :
1. Batuan ruddaceous atau psephitic, batuan ini mempunyai bagian pecahan
dengan diameter yang panjangnya bervariasi, mulai dari 2 mm sampai
sepanjang beberapa meter. Berdasarkan teksturnya, batuan ini terbagi
dalam kelompok sebagai berikut :
- Blocks, batuan bersegi dengan diameter 10-100 mm.
- Boulders, batu bundar dengan diameter diatas 100 mm.
- Landwaste, batu bersegi dengan diameter antara 2-10 mm.
- Pebbles, batu bundar dengan diameter antara 10-100 mm.
- Gravel batu kerikil yaitu batu bundar dengan diameter 2-10 mm.
Batuan yang terdiri fragmen-fragmen yang tidak bulat tetapi menyatu dan
mengeras (cemented) disebut breccia. Kumpulan lapisan batu
(rolledfragment) yang menyemen disebut conglomerate.
2. Batuan arenaceous atau psammatic,pasir atau batu pasir yang terdapat
hampir dimana-mana termasuk golongan batu arenaceous.
3. Batu microfragmental, batuan yang termasuk kelompok ini adalah tanah
los dan lumpur tanah los.
4. Batu pecahan halus
 Batu Kimia dan Organogenik
Batuan kimia dan batuan organogenik diklasifikasikan sesuai dengan
unsur-unsur kimia yang dikandungnya, berikut beberapa kelompok dari batuan
jenis ini:
1. Batu Karbonasius, batu kapur yang mengandung calcite adalah jenis batu
ini yang paling banyak.
2. Batu Silisius, asal muasal batu ini berlatar belakang kimia dan organogenik.
3. Batu Ferruginus, batuan ini mencakup besi dan oksida besi.
4. Batu Halogen dan sulfat, asal muasal batu ini berlatar belakang kimia.
5. Caustobiolith, terbentuk secara organogenik dan terdiri dari senyawa
organic. Batu yang paling banyak dikelompok ini adalah batubara yang
merupakan berbagai tahap dari pembusukan dan pelapukan dari sisa
kerangka tumbuhan.

D. Mineral Penyusun Batuan Sedimen


Pada dasarnya mineral penyusun batuan sedimen ini hampir sama dengan
batuan beku. Hal ini karena tidak semua mineral yang berasal dari batuan beku
mengalami perubahan pada susunan kimianya, sehingga mineral tersebut tetap
bertahan hingga proses sedimentasi ini berakhir. Mineral-mineral tersebut
diantaranya :
 Mineral Kuarsa
Mineral ini merupakan mineral yang membentuk kira-kira 90% dari batu
pasir (batu pasir kuarsa) dan juga mendominasi pada batu lanau dan serpih.
 Mineral Feldspar
Mineral ini mendominasi juga beberapa batuan sedimen seperti kuarsa
namun jumlahnya tidak melebihi dari kuarsa. Mineral ini banyak terdapat sebagai
komponen detritus (pada batu pasir) dan sebagai mineral autigen dalam silt, sepih
dan sedikit pada gamping.
 Mineral Mika
Terdapat dalam batuan sedimen sebagai klastika atau autigen. Mika (bioti
dan muskovit) ini jarang ditemukan dalam batuan sedimen karena lapuk menjadi
klorit atau glaukonit.
 Mineral Berat
Mineral ini terdapat dalam jumlah yang kecil dalam batuan asalnya (zircon,
garnet, topaz, rutil, magnetit, dan lain-lain).
 Mineral Lempung
Mineral ini merupakan mineral silikat alumina yang berbutir halus dan dapat
terbentuk sebagai lempung residu oleh dekomposisi mineral asal, namun
ditransportasikan dan diendapkan sebagai batuan sedimen.
 Oksida besi dan Alumina
Mineral ini merupakan hasil pelapukan dalri limonite.
 Mineral Karbonat
Mineral ini merupakan mineral yang biasanya berupa endapan langsung
adalah karbonat, diantaranya kalsit dan dolomit.
 Mineral silika
Mineral ini dapat berbentuk kuarsa, kalsedon atau opal.
 Mineral Silikat
Mineral in dalam batuan sedimen setelah mengalami pengendapan dapat
berupa felspar autigen, mika dan klorit.
 Mineral lainnya
Mineral lain yang mungkin terdapat dalam batuan sedimen adalah fosfat,
sulfida dan halida. Mineral fosfat biasanya bersifat amorf, masif, oolitis, koloform
dan sebagainya

E. Struktur Batuan Sedimen


Pada batuan sedimen, struktur batuannya sendiri dapat terlihat pada
permukaan dan struktur erosi. Struktur Batuan sedimen pada dasarnya terbagi
atas dua, yaitu :
 struktur primer
Struktur yang terbentuk bersamaan dengan batuan sedimen terbentuk,
dimana strukturnya ini dapat berupa perlapisan, perlapisan silang-siur, perlapisan
bersusun dan gelombang (Current Ripple).
Perlapisan itu sendiri adalah dua buah endapan yang berbeda dan terlihat
perbedaan yang jelas. Perlapisan ini terbentuk akibat perbedaan ukuran, berat
jenis, dan kehalusan secara berangsur-angsur.Perlapisan bersusun (Graded
Bedding) adalah susunan perlapisan dari butir yang kasar berangsur menjadi
halus pada suatu perlapisan. Pada perlapisan silang siur membentuk sudut
sedangkan current ripple diakibatkan gelombang. Dan pada gelombang adalah
seperti berkerut dalam suatu lapisan.

Sumber : Dimas, 2009


Foto 1
Current Ripple Structure
 Struktur sekunder
Struktur yang terbentuk setelah terbentuknya batuan sedimen. Berikut
beberapa batuan sedimen struktur sekunder :
1. Trail : dihasilkan oleh gerakan menyeret makhluk hidup seperti ular.
2. Track : dihasilkan dari jejak kaki makhluk hidup.
3. Burrow : dihasilkan oleh organisme yang melakukan galian.
4. Convolute bedding : merupakan hasil dari deformasi pada batuan
sedimen.

F. Tekstur Batuan Sedimen


 Besar Butir (Grain Size)
Besar butir ini merupakan ukuran yang dimiliki oleh butiran batuan sedimen
dengan skala pembatas yang diapakai adalah skala WentWorth.

Sumber : Geopresisi, 2010


Foto 2
Skala WentWorth
 Pemilahan (Sorting)
Pemilahan ini adalah tingkat keseragaman besar butir yang dimiliki batuan
sedimen. Istilah yang diguakan adalah :
1. Terpilah baik : Untuk ukuran butir yangsama.
2. Terpilah buruk : Untuk ukuran butir yang berbeda.
 Kebulatan (Roundness)
Kebulatan adalah tingkat kelengkungan yang dimiliki dari tiap butiran. Parameter
yang dipakai adalah :
1. Membundar baik (Well Rounded)
2. Membundar (Rounded)
3. Menyudut tanggung (Sub angular)
4. Menyudut (Angular)
 Kemas
Kemas merupakan sifat dari hubungan antar butir, kesatuannya didalam
satu masa dasar atau diantara semennya. Parameter yang digunakan adalah :
1. Terbuka : Untuk butiran yang tidak bersentuhan.
2. Tertutup : Untuk butiran yang bersentuhan.
 Porositas
Porositas merupakan tingkat kemampuan batuan untuk menyerap air. Ada
3 parameter, diantaranya :
1. Porositas baik (Good) : Daya serap cepat dan dapat menyarangkan fluida.
2. Pororsitas sedang (Fair) : Daya serap yang biasa saja.
3. Porositas Buruk (Poor) : Daya serap jelek dan sedikit menyarangkan fluida.
 Kekompakan
Kekompakan adalah sifat fisik batuan sedimen dengan tiga parameter,
diantaranya :
1. Padat : Jika tidak terdapat rekahan atau bubuk pasir saat dipegang.
2. Lunak : Jika tertinggal bubuk ketika disentuh.
3. Mudah hancur : Jika terdapat rekahan hasil pengambilan dari batuan
asalnya.
 Semen dan Masa dasar
1. Semen merupakan bahan pengikat butiran. Semen ini dapat berupa silika,
karbonat, oksida besi atau mineral lempung.
2. Masa dasar (matrik) adalah masa dimana butiran berada dalam satu
kesatuan, dapat berupa semen atau butiran yang lebih halus.

G. Penggolongan Batuan Sedimen


Berdasarkan proses pembentukannya batuan sedimen ini terbagi menjadi
dua, yaitu :
 Batuan Sedimen Klastik
Merupakan batuan yang berasal dari proses alamiah seperti pelapukan,
pengangkutan dan pengendapan. Batuan ini berasal dari pengendapan batuan
asal yang mengalami penghancuran secara mekanik. Ketika suatu batuan asal
yang besar mengalami pelapukan maka batuan yang terlapukannya ini akan
tertransportasi oleh air atau angin hingga bermuara disuatu cekungan dan
terendapkan, terkompakan dan menjadi suatu batuan yang baru. Contoh batuan
sedimen klastik ini adalah batu pasir.

Sumber : Anonim, 2009


Foto 3
Batu Pasir
 Batuan sedimen non klastik
Merupakan hasil dari proses penghabluran dari suatu larutan jenuh akan
kandungan kimia akibat dari proses penguapan oleh proses biokimia yang
disebabkan oleh aktivitas makhluk hidup yang ada ketika pembentukan batuan
sedimen. Salah satu dari kelompok batuan sedimen non-klastik ini adalah sedimen
evaporit (evaporites), karbonat (carbonates), gamping, dolomit, rijang serta batuan
bersilika.
1. Batuan Sedimen Evaporit
Batuan ini terbentuk dari hasil penguapan air laut. Ketika air laut menguap
menyebabkan tertingalnya bahan kimia yang pada akhirnya menghablur.
Dalam proses pembentukan garam dilakukan dengan cara ini. Proses
penguapan ini dibantu oleh sinar matahari dengan waktu yang cukup lama.
Berikut beberapa batuan sedimen evaporit :
- Batuan garam (Rock Salt), berupa halite (NaCl)
- Batuan gipsum (Rock Gypsum), berupa gipsum (CaSO4.2H2O)

-
Sumber : Anonim, 2010
Foto 4
Batu Gypsum
- Travertine yang terdiri dari kalsium karbonat (CaCO3). Batuan ini
biasa terbentuk didalam gua batu gamping dan juga kawasan air
panas.
2. Batuan Sedimen Karbonat
Batuan ini terbentuk dari hasil proses kimiawi serta proses biokimia.
Kelompok dari batuan ini antara lain batu gamping dan dolomit. Mineral utama
dari batuan ini adalah kalsit (CaCO3) dan dolomit (CaMg(CO3)2). Nama-nama
dari batuan karbonat ini adalah :
- Mikrit, batuan ini memliki sifat berbutir sangat halus, warna kelabu
cerah hingga gelap, tersusun dari lumpur karbonat yang biasa
dikenal sebagai calclutite.
- Batu gamping oolitik, memliki komponen utama dari bahan atau
allokem yang berbentuk bulat
- Kokina, merupakan cangkang fosil yang tersimen.
- Batu gamping berfosil, merupakan batuan karbonat dari proses
biokimia.

Sumber : Rizal, 2007


Foto 5
Batu Gamping Berfosil
- Chalk, berasal dari kumpulan organisme planktonic.
- Batu gamping kristalin.
- Travertine, terbentuk didalam gua batu gamping dan didaerah air
panas hasil dari proses kimia.
- Batu gamping intraklastik.
3. Batuan Silika
Batuan ini tersusun dari mineral silika (SiO2). Batuan ini terbentuk dari
proses kimiawi dan atau biokimia serta dari kumpulan organisme yang
berkomposisi silika seperti diatomae dan sponges. Kelompok batuan silika ini
adalah :
- Diatomite, seperti kapur namun tidak bereaksi dengan asam.
Berasal dari organisme planktonic yaitu diatoms.
- Rijang, merupakan batuan dengan resistensi kuat dan tahan
terhadap proses lelehan, bersifat masif atau berlapis, terdiri dari
mineral kuarsa mikrokristalin dan berwarna cerah hingga gelap.
Rijang ini terbentuk dari proses biologi kelompok organisme
bersilika atau dapat juga dari proses diagenesis batuan karbonat.

Sumber : Jaka, 2008


Foto 6
Batu Rijang
4. Batuan Organik
Batuan organik ini berasal dari kumpulan material organik yang mengeras
menjadi batu. Contohnya adalah batubara. Ketika serpihan daun dan batang
tumbuhan terendap dalam suatu cekungan dan mengalami tekanan yang
tinggi akan termampatkan hingga menjadi bahan hidrokarbon batu bara.
Tabel 1
Klasifikasi batuan sedimen non-klastik
KLASIFIKASI BATUAN SEDIMEN NON-KLASTIK
Kelompok Tekstur Komposisi Nama Batuan
An-organik Klastik atau Non- Calcite, CaCO3 Batugamping
klastik Klastik
Klastik atau Non- Dolomite, CaMg(CO3)2 Dolomite
klastik
Non-klastik Mikrokristalin quartz, SiO2 Rijang (Chert)
Non-klastik Halite, NaCl Batu Garam
Non-klastik Gypsum, CaSO4-2H2O Batu Gypsum
Biokimia Klastik atau Non- Calcite, CaCO3 Batugamping
klastik Terumbu
Non-klastik Mikrokristalin Quartz Rijang (Chert)
Non-klastik Sisa Tumbuhan yang Batubara
terubah
Sumber : Agung yuliantoro, 2009
H. Proses Sedimentasi
Proses sedimentasi pada batuan sedimen meliputi pelapukan, transportasi
dan pengendapan. Pelapukan dapat terjadi secara kimiawi dan mekanik.
Pelapukan secara kimiawi melibatkan proses kimia seperti proses oksidasi,
hidrasi, karbonasidanpelarutan yang disebabkan oleh atmosfer hidrosfer dan
mengakibatkan perubahan struktur dan tingkat kekerasan batuan. Untuk
pelapukan secara mekanik disebabkan oleh perubahan suhu yang signifikan dan
berlangsung secara konstan. Biasanya untuk pelapukan mekanik terjadi di daerah
dengan radiasi matahari yang tinggi dan curah hujan rendah.
Semakin jauh suatu batuan mengalami proses transportasi maka akan
semakin membudar dan semakin mengecil pula batuan-batuan tersebut.
Sedangkan jika proses transportasi belum berjalan lama maka bentuknya akan
menyudut dan ukuran bongkahannya besar-besar.
Proses pengendapan dapat terjadi karena penurunan kadar air dan
terbentuk pori-pori kecil dan terjadi proses diagenesa yang disebabkan oleh
gravitasi dan gaya berat.

Sumber : Jaka, 2010


Foto 7
LokasiPembentukanBatuanSedimen

I. Sedimen Organik
Setiap makhluk hidup akan meninggalkan kerangka ketika mati yang
nantinya akan menjadi fosil. Fosil tersebut akan mengendap hingga membentuk
batuan sedimen. Contoh batuan ini adalah batu gamping dan batubara.
Batu gamping terbentuk dari fosil organism laut yang terendapkan.
Organisme laut memiliki kandungan kalsium karbonat didalamnya sehingga dalam
pengujiannya cukup ditetesi dengan HCl.
Terdapat 3 jenis batu gamping, yaitu :
 Mud Stone : terbentuk dari pengendapan terumbu karang
 Wackestone : terbentuk dari campuran lumpur dan batu kapur.
 Boundstone: terbentuk dari ganggang, plankton yang mengikat batu kapur.
J. Genesa Batubara
Pada proses pembentukan batu bara ini sangatlah kompleks serta
membutuhkan waktu yang lama hingga berjuta-juta tahun lamanya. Batubara
terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan purba yang kemudian mengendap dan
mengalami proses pembatubaraan (coalification) dibawah pengaruh fisika, kimia,
maupun geologi. Oleh karena itu, batubara termasuk dalam kategori bahan bakar
fosil.

Sumber : Reynaldi, 2006


Foto 8
Batu Bara
Dalam proses pembentukan batu bara dapat dijelaskan sebagai berikut:
 Pembusukan
Dimana bagian-bagian tumbuhan yang lunak akan diuraikan oleh bakteri
anaerob.
 Pengendapan
Pada saat tumbuhan telah mengalami proses pembusukan selanjutnya
akan mengalami proses pengendapan, biasanya pengendapan ini berlangsung di
lingkungan yang berair. Akumulasi dari endapan ini dengan endapan-endapan
sebelumnya akhirnya akan membentuk lapisan gambut.
 Dekomposisi
Pada lapisan gambut akan mengalami perubahan melalui proses biokimia
dan menyebabkan keluarnya air dari endapan dan sebagian hilangnya sebagian
unsur karbon dalam bentuk karbondioksida, karbonmonoksida, dan metana.
Secara relatif, unsur karbon akan bertambah dengan adanya pelepasan unsur
atau senyawa tersebut.
 Geotektonik
Selanjutnya lapisan gambut akan mengalami proses kompaksi akibat
adanya gaya tektonik dan kemudian akan mengalami perlipatan dan patahan.
Batubara low grade dapat berubah menjadi batubara high grade apabila gaya
tektonik yang terjadi adalah gaya tektonik aktif, karena gaya tektonik aktif dapat
menyebabkan terjadinya intrusi atau keluarnya magma. Selain itu, lingkungan
pembentukan batubara yang berair juga dapat berubah menjadi area darat dengan
adanya gaya tektonik setting tertentu.
 Erosi
Tahapan ini merupakan proses pengikisan pada permukaan batubara yang
telah mengalami proses geotektonik. Permukaan yang telah terkelupas akibat
erosi inilah yang hingga saat ini ditambang.
KESIMPULAN

Batuan sedimen adalah batu yang terbentuk diatas permukaan lithosphere


sebagai akibat dari aksi-aksi air, udara dan atau akibat aktivitas makhluk-makhluk
organis yang mencakup penghancuran batuan oleh pelapukan dan erosi,
pengangkutan, pengendapan, litifikasi dan diagenesa. Didalam lapisan lithosphere
hampir terdiri dari batu- batu magma, 70% dari lapisan atasnya mengandung atau
terdiri dari batu-batu endapan.
Dalam proses pelapukan batuan sedimen ini dapat dipengaruhi oleh faktor-
faktor kimiawi seperti proses pelarutan oleh reaksi kimia dengan air, faktor-faktor
mekanik seperti pemecahan batuan akibat dari perubahan suhu yang sangat
ekstrim seperti yang terjadi di gurun serta faktor-faktor organogenik yang
disebabkan oleh aktivitas makhluk hidup saat batuan sedimen ini terbentuk.
Ketika proses pengangkutan (transportasi) berlangsung terjadi pengikisan
mineral asa yang dimiliki batuan tersebut, yang berarti semakin jauh mineral
tersebut tertransportasikan makan semakin sedikit pula mineral yang terkandung.
Terdapat istilah mineral stabil dan mineral tidak stabil untuk parameter komposisi
dari mineral pada batuan sedimen tersebut.
Selanjutnya batuan sedimen ini mengalami proses pengendapan yang
dapat berlangsung baik di darat maupun di laut dengan berbagai macam tempat
lainnya. Dalam proses pengendapan ini terjadi pembatuan dengan pengeluaran
kadar air hingga terbentuk pori dan selanjutnya mengalami proses diagenesa atau
pembentukan batuan baru.
Mineral penyusun batuan sedimen pada dasarnya hampir sama seperti
pada batuan beku karena tidak semua mineral dapat terubah susunan kimianya.
Salah satu mineral penyusun batuan sedimen ini adalah mineral kuarsa, felspar,
mika, lempung, oksida besi dan alumina, karbonat, silika, silikat dan mineral
lainnya.
Berdasarkan proses pembentukannya batuan sedimen ini terbagi menjadi
dua yaitu batuan sedimen klastik yaitu batuan yang berasal dari proses alamiah
dan batuan sedimen non klastik yaitu terbentuk dari proses penghabluran larutan
jenuh akibat suatu hasil penguapan.
Batuan sedimen ini memiliki beberapa ciri tekstur dan struktur. Ciri tekstur
yang dimiliki tersebut diantaranya besar butir, pemilahan, kebulatan, kemas,
kekompakan dan semen dan masa dasar. Dan untuk strukturnya ini terbagi
menjadi dua yaitu struktur primer untuk struktur yang terbentuk bersamaan dengan
batuan sedimen tersebut terbentuk seperti graded bedding sedangkan yang kedua
adalah struktur sekunder dimana strukturnya ini terbentuk setelah batuan sedimen
terbentuk seperti burrow yang merupakan hasil galian makhluk hidup.
Batuan sedimen juga dapat terbentuk dari sisa-sisa makhluk hidup menjadi
batuan sedimen organik. Contoh dari batuan sedimen organik ini adalah batu
gamping dengan jenis mudstone, wackestone ataupun boundstone.
Batubara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan purba yang kemudian
mengendap dan mengalami proses pembatubaraan (coalification) dibawah
pengaruh fisika, kimia, maupun geologi. Dalam proses pembentukannya ada
beberapa tahapan yang dimulai dari pembusukan, pengendapan, dekomposisi,
geoteknik dan erosi.
DAFTAR PUSTAKA

1. Agung. 2012. “Batuan Sedimen Non-klastik”. https://miningundan


a07.wordpress.com/2009/10/08/batuan-sedimen-non-klastik/
. Diakses pada tangal 08 Desember 2016. Pukul 12.00 WIB.

2. Ambaram, Henry, 2011. “Fenomena Geologi”.ht tp://he nryam bara


mh.Blogspot.com/2012/05/makalah-batuan-sedimen.html.Di
akses pada tanggal 28 November 2016. Pukul 20.00 WIB.

3. Ariany , Mitha, 2012. “Batuan Sedimen”.http://mithaariany.wordpre


ss.com/2012/05/30/batuan-sedimen/Diakses pada tanggal 29
November 2016. Pukul 21.00 WIB.

4. Herry. 2012. “Genesa Batubara”. https://herydictus.wordpress.com


/2012/10/19/genesa-batubara/. Diakses pada tanggal 08 Des
ember 2016. Pukul 13.10 WIB.

5. Lange, M, 1991. “Geologi Umum”, Jakarta : Gaya Media Pratama.


Dibaca tanggal 29 November 2016 pukul 17.00 WIB.

6. Mulyo Agung, 2009. “Ilmu Kebumian”, Bandung : Pustaka Setia. Dibaca


tanggal 30 November 2016 pukul 13.50 WIB.