Anda di halaman 1dari 23

Makalah Farmakoterapi 3

KONSEP DAN PENATALAKSANAAN INFEKSI PERNAFASAN


ATAS DAN PERNAFASAN BAWAH

OLEH :
Kelompok : 5

Wanti Alya Ningrum Reza Ameliana Damayanti


Nurhaidah Muctahara .M Tutut Novia
Martina Maming Wa Ode Siti Marwa
Reka Lapali Citra Tanuriska Tajudin

PROGRAM STUDI SI FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MANDALA WALUYA

KENDARI

2018
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas
segala rahmat-Nya sehingga tugas makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Secara keseluruhan, kami melaporkan hasil yang kami peroleh dari beberapa
sumber dan buku terkait dengan “Konsep Dan Penatalaksanaan Infeksi
Pernafasan Atas Dan Pernafasan Bawah” dan harapan kami nantinya tugas ini
dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman kami mengenai materi tersebut.
Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan bantuan serta dukungan, hingga terselesaikannya tugas ini. Kami
menyadari sepenuhnya bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, Kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang membangun, demi
penyempurnaan tugas-tugas saya selanjutnya.

Kendari, Juli 2018


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infeksi pada saluran napas merupakan penyakit yang umum terjadi pada
masyarakat.Infeksi saluran napas berdasarkan wilayah infeksinya terbagi menjadi
infeksi saluran napas atas dan infeksi saluran napas bawah.Infeksi saluran napas
atas meliputi rhinitis, sinusitis, faringitis, laringitis, epiglotitis, tonsilitis,
otitis.Sedangkan infeksi saluran napas bawah meliputi infeksi pada bronkhus,
alveoli seperti bronkhitis, bronkhiolitis, pneumonia. Infeksi saluran napas atas bila
tidak diatasi dengan baik dapat berkembang menyebabkan infeksi saluran nafas
bawah.Infeksi saluran nafas atas yang paling banyak terjadi serta perlunya
penanganan dengan baik karena dampak komplikasinya yang membahayakan
adalah otitis, sinusitis, dan faringitis.
Secara umum penyebab dari infeksi saluran napas adalah berbagai
mikroorganisme, namun yang terbanyak akibat infeksi virus dan bakteri.Infeksi
saluran napas dapat terjadi sepanjang tahun, meskipun beberapa infeksi lebih
mudah terjadi pada musim hujan. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran
infeksi saluran napas antara lain faktor lingkungan, perilaku masyarakat yang
kurang baik terhadap kesehatan diri maupun publik, serta rendahnya gizi. Faktor
lingkungan meliputi belum terpenuhinya sanitasi dasar seperti air bersih, jamban,
pengelolaan sampah, limbah, pemukiman sehat hingga pencemaran air dan udara
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di negara sedang berkembang
merupakan penyebab kematian tersering pada anak (WHO, 2003). Balita
menempati posisi kematian tertinggi pada ISPA sebanyak (22,8%) dan penyebab
kematian bayi kedua adalah gangguan parinatal (Depkes, 2006). Infeksi Saluran
Pernafasan Akut (ISPA) mengakibatkan hampir empat juta orang meninggal setiap
tahunnya, 98%-nya disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan bawah, selain itu
ISPA juga salah satu penyebab utama tingginya presentase rawat inap pada bagian
perawatan anak di fasilitas pelayanan kesehatan (WHO, 2007).
Obat dikatakan rasional jika penggunaannya tepat, efektif, aman dan
ekonomis (IONI, 2008). Namun ada hal-hal yang tidak dapat disangkal dalam
pemberian obat yaitu kemungkinan terjadinya hasil pengobatan tidak seperti yang
diharapkan selama terapi untuk mencapai outcome atau disebut drug related
problems (Soerjono et al., 2004).

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah kami adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengertian tentang infeksi saluran pernafasan ?
2. Apa saja klasifikasi infeksi saluran pernafasan?
3. Apa saja tanda-tanda dan gejala infeksi saluran pernapasan?
4. Apa penyebab infeksi saluran pernapasan?
5. Bagaimana patofisiologi infeksi saluran pernafasan?
6. Bagaimana pencegahan infeksi saluran pernafasan?
7. Bagaimana Pengobatan infeksi saluran pernafasan?
8. Bagaimana penatalaksanaan terapi infeksi saluran ?
9. Bagaimana contoh penanganan kasus infeksi saluran pernfasan?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian tentang infeksi saluran pernafasan
2. Untuk mengetahui apa saja klasifikasi infeksi saluran pernafasan
3. Untuk mengetahui apa saja tanda-tanda dan gejala infeksi saluran pernapasan
4. Untuk mengetahui apa penyebab infeksi saluran pernapasan
5. Untuk mengetahui patofisiologi infeksi saluran pernafasan
6. Untuk mengetahui pencegahan infeksi saluran pernafasan
7. Untuk mengetahui pengobatan infeksi saluran pernafasan
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan terapi infeksi saluran
9. Untuk mengetahui contoh penanganan kasus infeksi saluran pernfasan
BAB II

PEMBAHASAN

A. Defenisi Infeksi Saluran Pernafasan


Infeksi saluran pernapasan atau respiratory tract infections adalah infeksi
yang menyerang saluran pernapasan manusia.Kondisi ini bisa disebabkan oleh
virus atau bakteri.
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi yang mengenai
struktur saluran pernafasan diatas laring, tetapi kebanyakan penyakit ini
mengenai bagian saluran atas dan bawah secara simultan atau berurutan (Nelson,
2000).
Secara umum penyebab dari infeksi saluran nafas adalah berbagai
mikroorganisme, namun yang terbanyak adalah akibat infeksi virus dan
bakteri.Infeksi saluran napas dapat terjadi sepanjang tahun, dan lebih mudah
terinfeksi pada musim hujan (Depkes, 2006).Pengertian akut artinya infeksi yang
berlangsung hingga 14 hari.Gejala ISPA meliputi demam, batuk, nyeri
tenggorokan, coryza (pilek), sesak nafas, dan mengi (Rahajoe et al., 2008).
Menurut WHO (2007), infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan
infeksi yang ringan sampai menyebabkan penyakit yang parah dan mematikan,
tergantung patogen penyebabnya. Penyebaran infeksi saluran napas dapat
dipengaruhi berbagai faktor-faktor antara lain faktor lingkungan, perilaku
masyarakat yang kurang baik terhadap kesehatan diri maupun publik, serta
rendahnya gizi (Depkes, 2006).

B. Klasifikasi Infeksi Saluran Pernafasan Akut


1. Infeksi Saluran Pernafasan Atas Infeksi saluran pernafasan atas menurut
Khaliq et al., (2005) meliputi otitis media, sinusitis, faringitis, laringitis,
rhinitis, dan epiglottitis.
a) Sinusitis
Sinusitis merupakan peradangan pada mukosa sinus pranasal.
Peradangan ini biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas atas dan
banyak dijumpai pada anak dan dewasa.Sinusitis dibedakan menjadi
sinusitis akut, sinusitis subakut, sinusitis berulang, sinusitis kronik serta
sinusitis bakteri yang terjadi sepanjang tahun yang disebabkan selain
virus (Depkes, 2006).S.pneumoniae, H.influenzae dan Moxarella
catarrhalis adalah bakteri penyebab sinusitis (Khaliq, et al., 2005).
Gejala dan tanda sinusitis meliputi hidung tersumbat, sekret hidung
yang kental dan berwarna hijau kekuningan atau jernih, bau, batuk,
demam tinggi (390 c), sakit kepala, nafsu makan berkurang serta malaise
(Depkes, 2006).Tujuan pengobatan sinusitis adalah mengurangi tanda dan
gejala, membatasi penggunaan antibiotik, menghilangkan bakteri infeksi
dengan antibiotik yang tepat, mengurangi durasi penyakit, mencegah
terjadinya sinusitis akut menjadi kronis (Khaliq et al., 2005).Terapi pokok
sinusitis menurut Departemen Kesehatan (2006), meliputi pemberian
antibiotik dengan lama terapi 10-14 hari.Terapi pendukung juga diberikan
dalam terapi sinusitis yaitu pemberian analgetik dan dekongestan.
b) Faringitis
Faringitis merupakan peradangan pada mukosa faring dan sering
meluas ke jaringan sekitarnya (Depkes, 2006). Nyeri tenggorokan disertai
dengan disfagia dan demam (bisa mencapai 400 c ), gejala lain yang
sering timbul nyeri sakit kepala, nyeri perut dan muntah (Rahajoe et al.,
2008).
Diagnosa faringitis dengan cara pemeriksaan tenggorokan dan
kultur swab tenggorokan. Pemeriksaan kultur ini memiliki sensitivitas 90-
95% dari diagnosa (Depkes, 2006). Kelompok Streptococcus merupakan
penyebab paling umum terjadinya faringitis akut (Khaliq et al., 2005).
Antara lain Streptococcus beta hemolyticus, Streptococcus viridans, dan
Streptococcus pyogenes (Monsjoer, 2003).
Faringitis 7 paling umum disebabkan oleh bakteri Streptococcus
pyogenes yang merupakan Streptococci Grup A hemolitik (Depkes,
2006). Terapi antibiotik dapat mengurangi durasi tanda dan gejala
faringitis dalam 1 sampai 2 hari.Penggunaan analgesik sistemik maupun
topikal seperti parasetamol dan non sterois anti inflamatory drugs
digunakan untuk mengurangi rasa nyeri.Parasetamol lebih dianjurkan
karena NSAID dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko toxic shock
syndrome (Khaliq et al., 2005).
2. Infeksi Saluran Pernafasan Bawah Menurut Depkes (2006), saluran
pernafasan bawah meliputi infeksi pada bronkhus, alveolus seperti bronkhitis,
bronkhiolitis, dan pneumonia.
a) Bronkhiolitis
Bronkhiolitis merupakan infeksi virus pada saluran pernafasan
bawah paling sering terjadi pada bayi selama tahun pertama sekitar 50%
dan 100% pada usia 3 tahun. Kejadian bronkhiolitis lebih banyak terjadi
pada laki-laki dari pada perempuan.Respiratory synctial virus (RSV)
merupakan penyebab paling umum terjadi bronkhiolitis (Glover et al.,
2005).
Gejala awal berupa pilek ringan, batuk, dan demam.Satu hingga dua
hari kemudian timbul batuk yang disertai dengan sesak nafas, selanjutnya
wheezing, sianosis, merintih, muntah setelah batuk, rewel dan penurunan
napsu makan (Rahajoe et al., 2008).
b) Pneumonia
Pneumonia Secara umum bakteri berperan penting dalam penyebab
pneumonia selain itu virus juga merupakan salah satu penyebab
pneumonia dan banyak dijumpai pada pasien immunocompromised, bayi
dan anak. Virus yang menginfeksi antara lain RSV, Influenza type A,
parainfluenza, adenovirus (Depkes, 2006).
Pneumonia merupakan penyakit batuk pilek dengan dahak kental
berwarna hijau atau kuning disertai nafas sesak yang ditandai dengan
dinding dada bawah tertarik kedalam/nafas cepat 40-50 kali/permenit dan
demam, menggigil, suhu tubuh 400 c (Misnadiarly, 2008).Tujuan terapi
pneumonia untuk menghilangkan organisme pengganggu dengan
pemilihan antibiotik yang sesuai (Glover et al., 2005).

C. Tanda-tanda dan Gejala Infeksi Saluran Pernapasan


Tanda-tanda dan Gejala Infeksi Saluran Pernapasan Gejala biasanya mulai
muncul 2-3 hari setelah infeksi dan berlangsung selama 2-14 hari. Kebanyakan
berada di hidung, tenggorokan, dan telinga dan meliputi radang tenggorokan,
batuk tidak berdahak, demam ringan, mata berair, suara serak, hidung tersumbat,
dan pilek. Gejala lainnya adalah bersin, sakit kepala, kehilangan nafsu makan, dan
merasa lelah.

D. Penyebab Infeksi Saluran Pernafasan Infeksi


Saluran pernapasan dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau organisme
lain. Infeksi bakteri sekunder juga dapat terjadi pada penderita infeksi saluran
pernapasan atas maupun bawah.Infeksi saluran pernapasan dapat menyebar
melalui udara atau sentuhan. dapat tertular infeksi ketika menghirup udara yang
mengandung percikan air dari seorang penderita yang bersin atau batuk. Infeksi
juga dapat menular bila sebelumnya menyentuh hidung atau mata lalu menyentuh
permukaan suatu benda, yang mana kemudian orang lain menyentuh benda
tersebut.
Selain tempat tinggal, penularan infeksi saluran pernapasan banyak terjadi di
fasilitas-fasilitas umum, seperti di sekolah dan tempat penitipan anak sehingga
tingkat kebersihan di area ini perlu dijaga sebaik mungkin.
Berikut adalah jenis-jenis infeksi saluran pernapasan beserta virus yang menjadi
penyebabnya :
 Infeksi saluran pernapasan atas, sebagian besar kasus ini ditimbulkan akibat
infeksi coronavirus dan rhinovirus. Virus lainnya yang dapat berperan pada
infeksi saluran pernapasan atas adalah adenovirus, coxsackieviruses,
myxovirus, dan paramyxovirus (parainfluenza, respiratory syncytial virus).
 Infeksi saluran pernapasan bawah dapat disebabkan oleh bakteri dan virus.
Virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan adalah jenis virus
influenza A, human metapneumovirus (hMPV), varicella-zoster virus (VZV)
atau cacar air, dan respiratory syncytial virus (RSV).
Virus-virus ini merupakan penyebab kasus rawat inap paling banyak pada
penderita anak-anak.Selain virus, bakteri juga dapat menyebabkan infeksi pada
saluran pernapasan.Beberapa bakteri itu di antaranya adalah H. influenza,
Streptococcus pneumonia, Klebsiella pneumonia, Staphylococcus aureus, berbagai
bakteri anaerob, dan jenis enterobacteria seperti Escherichia coli. Infeksi bakteri
Streptococcus pneumonia adalah bakteri penyumbang sebagian besar kasus
pneumonia pada penderita infeksi saluran pernapasan. Bakteri Mycobacterium
tuberculosis juga dapat menginfeksi saluran napas bawah dan menyebabkan
penyakit tuberkulosis. Organisme yang tidak memiliki klasifikasi juga dapat
menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan, yaitu Mycoplasma pneumoniae,
Legionella pneumophila, Chlamydophila pneumonia, dan Coxiella burnetii. Anak-
anak pada umumnya sangat rentan terhadap infeksi saluran pernapasan dan virus
lebih cenderung untuk berdiam di tubuh mereka. Hal ini dikarenakan sistem
kekebalan tubuh anak-anak yang belum sempurna.

E. Patofisiologi Infeksi Saluran Pernafasan


Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) disebabkan oleh virus atau kuman
golongan A Streptococus, stapilococus, Haemophylus influenzae, Clamydia
trachomatis, Mycoplasma, dan Pneumokokus yang menyerang dan menginflamasi
saluran pernafasan (hidung, pharing, laring) dan memiliki manifestasi klinis
seperti demam, meningismus, anorexia, vomiting, diare, abdominal pain, sumbatan
pada jalan nafas, batuk, dan suara nafas wheezing, stridor, crackless, dan tidak
terdapatnya suara pernafasan

F. Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan


Memulai kebiasaan menjaga kebersihan dan kesehatan diri serta lingkungan
sekitar merupakan langkah awal pencegahan infeksi saluran pernapasan yang
efektif. Kebiasaan seperti mencuci tangan, mengenakan sarung tangan, dan
menggunakan masker dapat membantu mengurangi penularan penyakit. Penderita
dapat meminimalkan kontak dengan orang lain untuk mencegah penyebaran
infeksi saluran pernapasan, terutama pada anak-anak. Gunakan handuk sendiri dan
jangan dipinjamkan kepada orang lain.
Pemberian vaksin dapat dilakukan pada penderita infeksi saluran pernapasan
bawah yang juga memiliki penyakit paru-paru atau jantung di saat yang
bersamaan. Hentikan kebiasaan merokok jika Anda seorang perokok karena dapat
meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan pada anak-anak.

G. Pengobatan Infeksi Saluran Pernafasan


1. Terapi non faramkologi
a) Tidur, cairan (air putih, jus buah, teh, sup ayam), berkumur dengan air
garam hangat, dan minum acetaminophen untuk sakit kepala atau demam.
b) Makan secara teratur.
2. Terapi farmakologi
a) Antibiotic
Antibiotik memiliki khasiat mematikan atau menghambat
pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil
serta merupakan zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri
(Tjay dan Rahardja, 2007).
Golongan antibiotik yang dapat digunakan dalam pengobatan ISPA
antara lain Penisilin, Cefalosporin, Makrolida, Tetrasiklin, Quinolon, dan
Sulfonamid (Depkes, 2006).
Terapi Antibiotik Berdasarkan Guidelines
Terapi antibiotik menurut Guidelines “Pharmaceutical Care untuk
Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan” adalah sebagai berikut :
Terapi otitis (DEPKES.2005)
Terapi sinusitis (DEPKES.,2005)
Terapi Faringitis karena Streptococcus Grup A (DEPKES.2005)

Terapi Awal pada Bronkitis


Terapi pneumonia
b) Terapi Penunjang
1. Analgesik-Antipirerik
Digunakan untuk mengurangi gejala demam terkait infeksi
pernafasan, letergi dan malaise (Depkes, 2006). Parasetamol merupakan
contoh analgetik yang paling banyak digunakan karena efektif
mengurangi demam yang mempunyai aksi langsung ke pusat pangatur
panas di hipotalamus yang berdampak vasodilatasi serta pengeluaran
keringat. Dosis anak 1-5 tahun 120-250 mg, 6-12 tahun yaitu dosisnya
250-500 mg setiap 4-6 jam. Dosis maksimal 1-4 g/hari (IONI, 2008).
2. Antihistamin
Antihistamin bekerja dengan menghambat pelepasan mediator
inflamasi seperti histamin serta memblok migrasi sel (Depkes, 2006).
Menurut Tjay dan Raharja (2007), Histamin memegang peran utama
pada proses peradangan dan pada sistem daya tangkis. Ada 2 kelompok
antihistamin yaitu generasi pertama terdiri dari diphenhidramin,
chlorpeniramin dan hidroksizin, sedangkan generasi kedua terdiri dari
citirizine, akrivastin, astemizol, loratadin dan terfenadin. Antihistamin
generasi pertama dapat mengontrol kantuk karena terjadi blockade
neuron histaminergik sentral selain itu juga memiliki efek sedasi yang
dipengaruhi dosis (Depkes, 2006).
3. Kortikosteroid
Kortikosteroid bekerja mengatur mekanisme humoral maupun
seluler dari respon inflamasi dengan cara menghambat aktivasi dan
infiltrasi eosinofil, basofil dan mast cell ke tempat inflamasi serta
mengurangi produksi dan pelepasan faktor-faktor inflamasi.
Dexametason merupakan kortikosteroid yang sering digunakan dengan
dosis dewasa 0,75-9 mg/kg/hari dan 0,08-0,3 mg/kg/hari untuk anak
terbagi dalam 2-4 dosis (Depkes, 2006).
4. Dekongestan
Dekongestan nasal digunakan sebagai terapi simptomatik yang dapat
diberikan secara oral dan topikal. Dekongestan topikal dapat
menyebabkan vasokontriksi sehingga mengurangi oedema pada mukosa
hidung karena bekerja pada reseptor α permukaan otot polos pembuluh
darah, contoh oxymetazolin dan fenilefrin, sedangkan dekongestan oral
bekerja dengan meningkatkan pelepasan noradrenalin dari ujung neuron
seperti pseudoefedrin dan fenilpropanilamin (Depkes, 2006).
5. Bronkodilator
Bronkodilator biasanya digunakan pada ISPA bawah pada kasus
bronkhitis kronik dengan obstruksi pernafasan. Brokodilator terdiri dari
2 agen yaitu β-adrenoceptor agonist yang biasa diberikan secara inhalasi
baik dalam bentuk uap maupun serbuk kering. Metilxantin seperti
aminofilin adalah derivat dari teofilin yang sering digunakan karena
merupakan bronkodilator yang baik, namun memiliki beberapa
kekurangan yaitu tidak dapat diberikan secara inhalasi (Depkes, 2006).
6. Mukolitik
Mukolitik biasanya digunakan sebagai terapi tambahan untuk
bronchitis dan pneumonia. Mukolitik bekerja dengan mengencerkan
mukus sehingga mudah dieskpektorasi. Asetilsistein bekerja dengan
cara membuka ikatan gugus sulfidril pada mucoprotein sehingga
menurunkan viskositas mukus, obat ini lebih sering digunakan, serta
dapat diberikan secara nebulisasi maupun oral (Depkes, 2006). Semua
obat-obat mukolitik harus dihentikan jika tidak ada manfaat setelah 4
minggu pemberian terapi (IONI, 2008).

H. Penatalaksanaan Terapi Infeksi Saluran


Sebelum dilakukan penatalaksanaan, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan
testdiagnostik sebagai berikut :
1. Pemeriksaan darah lengkap yaitu Hb, Leukosit, Hematokrit, dan trombosit.
2. Ro foto : thorax
Menurut DEPKES RI (2006) dan kemudian dikelompokan berdasarkan
golongan dan jenis tanda dan gejala dari ISPA sebagai berikut :
a. Untuk penatalaksanaan infeksi saluran pernafasan yang tergolong ringan atau
non pneumonia adalah jika anak penderita infeksi saluran pernafasan ringan
maka perawat cukup dilakukan dirumah tidak perlu dibawa ke dokter atau
puskesmas. Di rumah dapat diberikan obat penurun panas yang di jual di toko
obat atau apotek, akantetapi jika dalam dua hari gejala belum hilang anak
harus segera di bawa ke dokte atau puskesmas terdekat.
b. Untuk pelaksanaan infeksi saluran pernafasan yang tergolong sedang atau
pneumonia maka harus segera diperiksakan pelayanan kesehatan
mendapatkan terapi obat. Antibiotika/Anti mikroba untu membunuh virus dan
bakteri yang ada dan mendapatkan terapi oksigen 2 sampai 4 liter 1
hari.Terapi yang diberikan pada penyakit ini biasanya pemberian antibiotik
walaupun kebanyakan infeksi saluran pernafasan disebabkan oleh virus yang
dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pemberian obat-obatan
terapeutik.Pemberian antibiotik dapat mempercepat penyembuhan penyakit
ini dibandingkan hanya pemberian obat-obatan symtomatik.Selain itu dengan
pemberian antibiotik banyak mencegah terjadinya infeksi lanjutan dari
bakterial pemberian.pemilihan antibiotik pada penyaki ini harus diperhatikan
dengan baik agar tidak terjadi resistenkuman / bakterial kemudian hari.Namun
pada penyakit infeksi saluran pernafasan yang sudah berlanjut dengan gejala
dahak dan ingus yang sudah menjadi hijau, pemberian antibiotik merupakan
keharusan karena dengan gejala tersebut membuktikan sudah ada bakteri yang
terlibat.
c. Untuk penatalaksanaan infeksi saluran pernafasan yang tergolong berat atau
pneumonia berat, harus segera di rawat di Rumah sakit atau Puskesmas karena
perlu mendapatkan perawatan dengan perawatan khusus seperti oksigen dan
infus Padapasien anak, ia harus tinggal didalam lingkungan yang selalu hangat
selama 2-3 hari, nafsu makan yang memburuk mungkin dapat dicoba diatasi
dengan makanan, dan juga harus memperbaiki gizi seperti :
1. Makanan yang mengandung kalori : nasi, jagung, sagu
2. Makanan yang mengandung protein : putih telur, tempe, tahu, ikan,
makanan tersebut berguna agar tidak menjadi lemah
I. Studi Kasus
Nyonya SJ, ibu rumah tangga 32 thn menghidap asma sejak berumur 5 thun.
Tidak merokok, minum alkohol sesekali dan mempunyai hewan peliharaan
kucing. Dia mendapat pengobatan :
 Beklometason 500 dua kali sehari
 Salbutamol 200 mg jika diperlukan
Ny. SJ menemui dokter umum ketika mengalami nafas yang pendek selama
beberapa minggu. Ny. SJ mendapat pengobatan zafirlukast 20 mg dua kali sehari
ditambah pemberian amoxcicilin tiga kali sehari selama seminggu. Dokter curiga
pasien mempunyai infeksi ringan kemudian melanjutkan dengan masalah
pengobatan. Dua bulan kemudian, dia masuk rumah sakit karena gejala mirip flu,
sakit perut dan penurunan nafsu makan. Ny SJ dideteksi mempunyai penyakit
kuning. Pemeriksaan fungsi Hati:
Bilirubin: 44 μmol/l (normal range < 17 μmol/l)
Alanin transaminase (ALT): 200 IU/l (normal range:0-35 units/l)
Aspartate transaminase (AST):150 IU/l (normal range:0-35 units/l)
 Analisa kasus
Penyelesaian kasus dengan menggunakan metode SOAP (Subjective, Objective,
Assesment, dan Plan) pada kasus ini adalah sebagai berikut :
Subyektif
Nama : Nyonya SJ
Umur : 32th
Jenis Kelamin : Perempuan
Keluhan : Nafas pendek selama berminggu-minggu.mirip flu, sakit perut,
dan penurunan nafsu makan
Riwayat penyakit : Mengidap asma sejak umur 5 tahun
Riwayat pengobatan : Beklometason 500 dua kali sehari
Salbutamol 200 mg jika diperlukan
Zafirlukast 20 mg tiga kali sehari selama seminggu
Obyektif
Bilirubin : 44 μmol/l (normal range < 17 μmol/l)
Alanin transaminase (ALT) : 200 IU/l (normal range:0-35 units/l)
Aspartate transaminase (AST): 150 IU/l (normal range:0-35 units/l)
Assesment
Pasien mengidap asma dan penyakit kuning yang diakibatkan oleh AD
Planning (P)
1. Tujuan Terapi :
 Mencegah timbulnya gejala yang kronis dan mengganggu
 Mencegah keparahanan penyakit kuning
 Mencegah morbiditas dan mortalitas akibat penyakit hati
 Memperbaiki kualitas hidup pasien
2. Sasaran Terapi :
 Menurunkan nilai ALT, AST dan Bilirubin
 Menangani asma pasien
3. Strategi Terapi :
a) Terapi Farmakologi :
Metilprednisolon 60 mg, 3x selama 48 jam
Indikasi :
Asma bronkial dan penyakit saluran nafas
Mekanisme kerja :
Bekerja melalui interaksinya dengan protein reseptor yang spesifik di organ
target, untuk mengatur suatu ekspresi genetik yang selanjutnya akan
menghasilkan perubahan dalam sintesis protein lain. Protein yang terakhir
yang mengubah fungsi seluler organ target sehingga diperoleh efek yang
dikehendaki (Sukandar,2008)
b) Terapi non farmakologi
Menghindari zat yang bisa memicu kambuhnya asma, rajin membersihkan
lingkungan, menggunakan masker, dan menghindari stress
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Infeksi saluran pernapasan atau respiratory tract infections adalah infeksi yang
menyerang saluran pernapasan manusia. Kondisi ini bisa disebabkan oleh
virus atau bakteri
2. Klasifikasi infeksi saluran pernafasan atas infeksi saluran pernafasan atas
menurut meliputi : otitis media, sinusitis, faringitis, laringitis, rhinitis, dan
epiglottitis sedangkan infeksi saluran pernafasan bawah meliputi infeksi pada
bronkhus, alveolus seperti bronkhitis, bronkhiolitis, dan pneumonia
3. Gejala dari infeksi saluran pernafasan batuk tidak berdahak, demam ringan,
mata berair, suara serak, hidung tersumbat, dan pilek. Gejala lainnya adalah
bersin, sakit kepala, kehilangan nafsu makan, dan merasa lelah.
4. Penatalaksanaan pengobatan dari infeksi pernafasan saluran pernafasan
berupa antibiotic dan terapi penunjang analgesik-antipirerik, antihistamin,
kortikosteroid, dekongestan, bronkodilator serta mukolitik

B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BPOM RI, 2008. Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI). Badan
Pengawas Obat dan Makanan RI : Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. 2005. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit
Infeksi Saluran Pernapasan. Depkes RI :Jakarta
Departemen Kesehatan RI. 2005.Pedoman Pengendalian Penyakit Infeksi
Saluran Pernafasan Akut . Depkes RI : Jakarta
Glover, M.L., Reed, M.D., 2005. Lower Respiratory Tract Infections. In
DiPiro, J. T., Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, Sixth
Edition. McGraw Hill Companies : New York
Khaliq, Y., Forgie, S., 2005, Upper Respiratory Tract Infections, In DiPiro, J.
T., Pharmacotherapy A Pathophysiology Approah, Sixth Edition.
McGraw Hill Companies : New York
Mansjoer, A., Kuspuji, T., Rakhmi, S., Wahyu, I. P., Wiwiek, S., 2003. Kapita
Selekta Kedokteran, edisi 3 jilid pertama. FKUI : Jakarta
Misnadiarly., 2008. Penyakit infeksi saluran napas “pneumonia” pada anak
balita, orang dewasa, usia lanjut, edisi 1. Pustaka obor popular : Jakarta
Nelson, W. E., 2000. Ilmu Kesehatan Anak, 1453-1454. Penerbit Buku
Kedokteran ECG : Jakarta.
Raharjoe, Nastiti N., Supriyatno, B., Budi S, Darmawan, 2008. Buku Ajar
Respiratory. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia : Jakarta.
Soerjono, S., Yunita, N., Triana, L., 2004. Manajemen Farmasi, 295-303.
Airlangga University Press : Surabaya
Tjay, Tan Hoan & Rahardja .K., 2007 . Obat-Obat Penting. PT Elex Media
Kamputindo : Jakarta