Anda di halaman 1dari 42

A.

ANATOMI SITEM JANTUNG

Jantung merupakan organ muskular berongga, bentuknya menyerupai piramid atau


jantung pisang yang merupakan pusat sirkulasi darah ke seluruh tubuh, terletak dalam
rongga toraks pada bagian mediastinum. Ujung jantung mengarah ke bawah, ke depan
bagian kiri: Basis jantung mengarah ke atas, ke belakang, dan sedikit ke arah kanan. Pada
basis jantung terdapat aorta, batang nadi paru, pembuluh balik atas dan bawah dan
pembuluh balik paru.

Hubungan jantung dengan alat sekitarnya:

1. binding depan berhubungan dengan sternum dan kartilago kostalis setinggi kosta III-I.

2. Samping berhubungan dengan paru dan fasies mediastilais.

3. Atas setinggi torakal IV dan servikal II, berhubungan dengan aorta pulmonalis, bronkus
dekstra, dan bronkus sinistra.

4. Belakang alat-alat mediastinum posterior, esofagus, aorta desends, vena azigos, dan
kolumna vertebra torakalis.

5. Bagian bawah berhubungan dengan diafragma.

Jantung difiksasi pada tempatnya agar tidak mudah berpindah to Penyokong


jantung utama adalah paru yang menekan jantung dari sam diafragma menyokong dari
bawah, pembuluh darah besar yang keluar masuk jantung sehinggga jantung tidak mudah
berpindah. Faktor yang memengaruhi kedudukan jantung:

1. Faktor umur: Pada usia lanjut alat-alat dalam rongga toraks to jantung agak turun
ke bawah.
2. Bentuk rongga dada: Perubahan bentuk torak yang menetap penderita TBC
menahun Batas jantung menurun sedangkan pada asma toraks melebar dan
membulat.
3. Letak diafragma: Menyokong jantung dari bawah, jika terjadi penekanan diafragma
ke atas akan mendorong bagian bawah jantung ke atas.
4. Perubahan posisi tubuh: Proyeksi jantung normal ditentukan oleh perubahan posisi
tubuh, misalnya membungkuk, tidur miring ke kiri atau ke kanan.

Lapisan jantung terdiri dari:

1. Perikardium. Lapisan yang merupakan kantong pembungkus jantung, t+erletak di


dalam mediastinum minus, terletak di belakang korpus sterni dan rawan iga II-VI.

a. Perikardium fibrosum (viseral): Bagian kantong yang membatasi pergerakan jantung


terikat di bawah sentrum tendinium diafragma, bersatu dengan pembuluh darah besar,
melekat pada sternum melalui ligamentum sternoperikardial.

b. Perikardium serosum (parietal), dibagi menjadi dua bagian: Perikardium parietalis


membatasi perikardium fibrosum, Bering disebut epikardium, dan perikardium viseral
(kavitas perikardialis) yang mengandung sedikit cairan yang berfungsi melumas untuk
mempermudah pergerakan jantung.

Di antara dua lapisan jantung ini terdapat lendir sebagai pelicin untuk menjaga
agar pergesekan antara perikardium tersebut tidak menimbulkan gangguan terhadap
jantung. Pada permukaan posterior jantung terdapat perikardiun serosum sekitar vena-
vena besar membentuk sinus obligus dan sinus transfersus.

2. Miokardium. Lapisan otot jantung menerima darah dari arteri koronaria. Arteri
koronaria kiri bercabang menjadi arteri desending anterior dam arteri sirkumfleks.
Arteri koronaria kanan memberikan darah untuk sinoatrial node, ventrikel kanan,
permukaan diafragma ventrikel kanan. Vena koronaria mengembalikan darah ke
sinus kemudian bersirkulasi langsung ke dalam paru. Susunan miokardium:

a. Susunan otot atria: Sangat tipis dam kurang teratur, serabut-serabutnya disusun dalam
dua lapisan. Lapisan luar mencakup kedua atria. Serabut luar ini paling nyata di bagian
depan atria. Beberapa serabut masuk ke dalam septum atrioventrikular. Lapisan dalam
terdiri dari serabut-serabut berbentuk lingkaran.

b. Susunan otot ventrikuler: Membentuk bilik jantung dimulai dari cincin atrioventrikular
sampai ke apeks jantung.
c. susunan otot atrioventikular merupakan dinding pemisah antara serambi dan bilik
(atrium dan ventrikel)

3. endokardium (permukaan dalam jantung). Dinding dalam atrium meliputi oleh


membrane yang mengilat, terdiri dari jaringan endotel atau selaput lendir endokardium,
kecuali aurikula dan bagian depan sinusvena kava.

Bagian-bagian dari jantung :

1. Basis kordis
2. Apeks kordis
Permukaan jantung (fascies kordis) :
1. Fascies sternokostalis
2. Fascies dorsalis
3. Fascies diafragmatika
Tepi jantung :
1. Margo dekstra
2. Margo sinistra
Alur permukaan jantung:

1. Sulkus atrioventrikularis: Mengelilingi Batas bawah basis kordis, terletak di antara


Batas kedua atrium jantung dan kedua ventrikel jantung.
2. Sulkuls longitudinalis anterior: Alur ini terdapat pada fascies sternokostalis
mulai dari celah di antara arteri pulmonalis dengan aurikula sinistra, berjalan ke
bawah menuju apeks kordis. Sulkus ini merupakan Batas antara kedua ventrikel dari
depan.
3. Sulkus longitudinalis posterior: Alur ini terdapat pada fascies diafragmatika
kordis, mulai dari sulkus koronarius sebelah kanan muara vena kava inferior
menuju apeks kordis. Sulkus ini merupakan Batas antara kedua ventrikel dari
belakang bawah.
Ruang-ruang jantung:
1. Atrium dekstra: Terdiri dari rongga utama dan aurikula di luar, bagian dalamnya
membentuk suatu rigi atau krista terminalis. Bagian utama atrium yang terletak posterior
terhadap rigi terdapat dinding halus yang secara embriologis berasal dari sinus venosus.
Bagian atrium yang terletak di depan rigi mengalami trabekulasi akibat berkas serabut
otot yang berjalan dari krista terminalis.
a. Muara pada atrium kanan:
 Vena kava superior
 Vena kava inferior
 Sinus koronarius
 Osteum atrioventikuler dekstra
b. sisa-sisa fetal pada atrium kanan.

2. vertikel dekstra : berhubungan dengan atrium kanan melalui osteum atrioventikuler


dekstrum dan dengan traktus pumonalis melalui osteum pulmonalis. Dindin ventrikel
kanan jauh lebih tebal dari atrium kanan
a. valvula trikuspidalis
b. valvula pulmunalis

3. atrium sinistra : terdiri dari rongga utama dan aurikula, terletakk dibelakang
atrium kanan, membentuk sebagian besar basis (bascies posterior), dibelakang
atrium sinistra terdapat sinus oblig pericardium serosum dan pericardium
fibrosum.
4. Ventrikel sinistra :ventrikel kiri berhubungan dengan atrium sinistra melalui
osteum atrioventikuler sinistra dan dengan aorta melalui osteum aorta.

a. Valvula mitralis (bikuspidalis): Melindungi osteum atrioventrikular terdiri atas dua


kuspis (kuspis anterior dan kuspis posterior). Kuspis anterior lebih besar terletak
antara osteum atrioventrikular dan aorta.
b. Valvula semilunaris aorta: Melindungi osteum aorta strukturnya sama dengan
valvula semilunaris arteri pulmonalis. Salah satu kuspis terletak pada dinding
anterior dan dua terletak pada dinding posterior di belakang kuspis. binding aorta
membentuk sinus aorta anterior merupakan asal arteri koronaria dekstra. Sinus
posterior sinistra merupakan asal arteri koronaria sinistra.
Peredaran darah jantung:

1. A koronaria kanan: Berasal dari sinus anterior aorta berjalan ke depan trunkus
pulmonalis dan aurikula dekstra, memberikan cabang- cabang ke atrium dekstra dan
ventrikel dekstra. Pada tepi inferior jantung menuju sulkus atrioventrikularis untuk
beranastomosis dengan arteri koronaria kiri memperdarahi ventrikel dekstra.

2. A. koronaria kiri: Lebih besar dari arteri koronaria dekstra, dari sinus posterior aorta
sinistra berjalan ke depan antara trunkus pulmonalis dan aurikula kiri masuk ke sulkus
atrioventrikularis menuju ke apeks jantung memberikan darah untuk ventrikel dekstra
dan septum interventri kularis.

3. Aliran vena jantung: Sebagian darah dari dinding jantung mengalir ke atrium kanan
melalui sinus koronarius yang terletak di bagian belakang sulkus atrioventrikularis
merupakan lanjutan dari V kardiak magna yang bermuara ke atrium dekstra sebelah kiri
vena kava inferior. V. kardiak minimae dan media merupakan cabang sinus koronarius,
sisanya kembali ke atrium dekstra melalui vena kardiak anterior, melalui vena kea7
langsung ke ruang-ruang jantung.

Jantung dipersarafi oleh serabut simpatis dan parasimpatis sistem saraf otonom
melalui pleksus kardiakus. Saraf simpatis berasal dari trunkus simpatikus bagian servikal
dan torakal bagian atas dan saraf simpatis berasal dari nervus vagus. Serabut eferen
post-ganglion berjalan ke nodus sinus atrialis dan nodus atrioventrikularis tersebar ke
bagian jantung yang lain. Serabut aferen berjalan bersama nervus vagus berperan sebagai
reflekskardiovaskuler, berjalan bersama saraf simpatis.

B. FISIOLOGI JANTUNG

Jantung terdiri dari tiga tipe otot utama yaitu otot atrium, otot ventrikel, dan serat
otot khusus pengantar rangsangan, sebagai pencetus rangsangan. Tipe otot atrium dan
ventrikel berkontraksi dengan cara yang sama seperti otot rangka dengan kontraksi otot
yang lebih lama. Sedangkan serat khusus penghantar dan pencetus rangsangan berkontraksi
dengan lemah sekali, sebab serat-serat ini hanya mengandung sedikit serat kontraktif. Serat
ini menghambat irama dan berbagai kecepatan konduksi, sehingga serat ini bekerja
sebagai suatu sistem pencetus rangsangan bagi jantung.

Fungsi umum otot jantung:

1. Sifat ritmisitas/otomatis: Otot jantung secara potensial dapat berkontraksi tanpa adanya
rangsangan dari luar. Jantung dapat membentuk rangsangan (impuls) sendiri. Pada keadaan
fisiologis sel-sel miokardium memiliki daya kontraktilitas yang tinggi.

2. Mengikuti hukum gagal atau tuntas: Bila impuls yang dilepas mencapai ambang
rangsang otot jantung maka seluruh jantung akan berkontraksi maksimal, sebab susunan
otot jantung sensitif sehingga impuls jantung segera dapat mencapai semua bagian jantung.
Jantung selalu berkontraksi dengan kekuatan yang sama. Kekuatan kontraksi dapat berubah-
ubah bergantung pada faktor tertentu, misalnya serat otot jantung, suhu, dan hormon
tertentu.

3. Tidak dapat berkontraksi tetanik: Refraktor absolut pada otot jantung berlangsung
sampai sepertiga masa relaksasi jantung merupakan upaya tubuh untuk melindungi diri.

4. Kekuatan kontraksi dipengaruhi panjang awal otot: Bila seberkas otot rangka di regang
kemudian dirangsang secara maksimal, otot tersebut akan berkontraksi dengan kekuatan
tertentu. Serat otot jantung akan bertambah panjang bila volume diastoliknya bertambah.
Bila peningkatan diastolik melampaui batas tertentu kekuatan kontraksi akan menurun
kembali.

METABOLISME DAN KERJA JANTUNG


Otot jantung seperti otot kerangka menggunakan energi kimia, untuk menye-
lenggarakan kontraksi. Energi ini terutama berasal dari metabolisme asam lemak dalam
jumlah yang lebih kecil dari metabolisme zat gizi, terutama laktat dan glukosa. Pada
kontraksi jantung, sebagian besar energi kimia diubah menjadi panas dan sebagian kecil
menjadi kerja. Rasio kerja clan energi kimia yang dikeluarkan dinamakan efisiensi
kontraksi jantung, normalnya antara 20-25 persen.
Proses metabolism jantung adalah aerobic yang membutuhkan oksigen dan
berhubungan erat dengan aktivitas metabolisme.pada kondisi basal, konsumsi oksigen
jantung 7-10 ml/100 gram miokardium/menit.

Dalam keadaan normal serabut saraf simpatis yang menuju ke jantung terus
menerus merangsang dengan frekuensi rendah, mempertahankan kekuatan kontraksi
ventrikel sekitar 20%.

Pengaruh ion pada jantung

1. Pengaruh ion kalium

2. Pengaruh ion kalsium

3. Pengaruh ion natrium

ELEKTROFISIOLOGI SEL OTOT JANTUNG


Aktivitas listrik jantung merupakan akibat dari perubahan permeabilitas
membran sel yang memungkinkan pergerakan ion-ion melalui membran tersebut.
Dengan masuknya ion-ion maka`muatan listrik sepanjang membran ini mengalami
perubahan yang relatif. Terdapat tiga macam ion yang mempunyai fungsi penting dalam
elektrofisiologi sel yaitu kalium (K), natrium (Na), dan kalsium (Ca). Kalium lebih banyak
terdapat di dalam sel, sedangkan kalsium dan kalium lebih banyak terdapat di luar sel.
Dalam keadaan istirahat sel-sel otot jantung mempunyai muatan positif di bagian luar
sel dan muatan negatif di bagian dalam sel. Ini dapat dibuktikan dengan galvanometer.
Perbedaan muatan bagian luar dan bagian dalam sel disebut resting membrane potensial.
Bila sel dirangsang akan terjadi perubahan muatan dalam sel menjadi positif, sedangkan
di luar sel menjadi negatif. Proses terjadinya perubahan muatan akibat rangsangan
dinamakan depolarisasi. Setelah rangsangan sel berusaha kembali pada keadaan muatan
semula proses ini dinamakan repolarisasi. Seluruh proses tersebut dinamakan aksi
potensial.
Aksi potensial terjadi disebabkan oleh rangsangan listrik, kimia, mekanik, dan termis.
Aksi potensial dibagi dalam lima fase:
1. Fase istirahat
2. Fase depolarisasi (cepat)
3. Fase polarisasi parsial
4. Fase plato (keadaan stabil)

5. fase reporalisasi

SISTEM KONDUKSI JANTUNG

System konduksi jantung meliputi :

1. Sionatrial node (SA node)


2. Antrioventikuler node (AV node)
3. Bundel Antrioventikuler : pada bagian cincin yang terdapat antara antrium ventrikel
ventrikel disebut analus finrosus rangsangan terhenti 1/10 detik, selanjutnya
menuju apeks kordis dan bercabang dua:
a. Pers septalis dekstra
b. Pers septalis sinistra
4. Serabut penghubung terminal (serabut purkinje)

Jatung mendapat persarafan dari saraf simpatis dan parasimpatis dari susunan
saraf otonom. System simpatis mengiatkan kerja jantung sedangkan saraf parasimpatis
menghambat kerja jantung.

Setiap kerja jantung diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan melalui


pengendalian persarafan. Pada keadaan istirahat pengaruh nervus vagus lebih besar dari
nervus simpatikus. Waktu kerja otot atau stres toms simpatis meningkat dan toms vagus
menurun. ,Pengaturan jantung oleh persarafan terjadi secara refleks. Untuk terjadinya
refleks diperlukan stimulus dan lengkung refleks sehingga memungkinkan terjadinya
jawabari' dalam bentuk menggiatkan atau menghambat kerja jantung.

Pada refleks sinus karotikus rangsangannya mengubah tekanan dash. Bila tekanan
dash meningkat, maka kerja jantung akan dihambat oleh peningkatan toms parasimpatikus
dan penurunan toms simpatikus. Sebaliknya bila tekanan dash rendah akan terjadi
penggiatan kerja jantung melalui peningkatan toms simpatikus dan penurunan toms
vagus. Pengaruh oksigen dan karbon dioksida terhadap jantung sukar dinilai dari hasil
percobaan, karena zat ini secara langsung atau melalui refleks juga memengaruhi pem-
buluh dash dan kerja jantung.

SIKLUS JANTUNG

Jantung mempunyai empat pompa yang terpisah, dua pompa primer atrium dan dua
pompa tenaga ventrikel. Periode akhir kontraksi jantung sampai akhir kontraksi berikutnya
dinamakan siklus jantung. Tiap-tiap siklus dimulai oleh timbulnya potensial aksi secara
spontan. Simpul sinoatrial (SA) terletak pada dinding posterior atrium dekstra dekat
muara vena kava superior. Potensial aksi berjalan dengan cepat melalui berkas
atrioventrikular (AV) ke dalam ventrivel, karena susunan khusus sistem penghantar atrium
ke ventrikel terdapat perlambatan 1/10 detik. Hal ini memungkinkan atrium berkontraksi
mendahului ventrikel. Atrium bekerja sebagai pompa primer bagi ventrikel dan
ventrikel menyediakan sumber tenaga utama bagi pergerakan dash melalui sistem
vaskular.

Jantung Sebagai Pompa

Pada tiap siklus jantung terjadi sistole dan diastole secara berurutan dan teratur
dengan adanya katup jantung yang terbuka dan tertutup. Pada saat itu jantung dapat
bekerja sebagai suatu pompa sehingga dash dapat beredar ke seluruh tubuh. Selama satu
siklus kerja jantung terjadi perubahan tekanan di dalam rongga jantung sehingga terdapat
perbedaan tekanan. Perbedaan ini menyebabkan dash mengalir dari rongga yang
tekanannya lebih tinggi ke tekanan yang lebih rendah.
1. fungus atrium sebagai pompa. Dalam keadaan normal darah mengalir terus dari
vena-vena besar ke dalam atrium. Kira-kira 70% aliran ini langsung mengalir dari
atrium ke ventrikel walaupun atrium belum berkontraksi . kontraksi atrium
mengadakan pengisian tambahan 30% karena atrium berfungsi hanya sebagai
pompa primer yang meningkatkan evektifitas ventrikel sebagai pompa. Kira-kira
30% tambahan evektivitas jantung terus dapat bekerja dengan sangat memuaskan
dalam keadaan istrahat normal.
2. Fungsi ventrikel sebagai pompa
a. pengisian ventrikel. Selama systole ventrikel, sejumlah darah tertimbun dalam
atrium karena katub atrium ke ventrikel tertutup
b. pengososngan ventrikel selama systole
3. periode ejeksi. Bila tekanan ventrikel kiri meningkat sedikit di atas 80 mmhg,
tekanan ventrikel dekstra sedikit di atas 8 mmhg, tekanan vemtrikel sekarang
mendorong membuka katup semilunaris segera darah mulai dikeluarkan dari
ventrikel. Sekitar 60% terjadi pengosongan sekitar ¼ pertama systole, dan 40%
persen sisanya dikeluarkan selama 2/4 berikutnya , ¾ bagian sistol ini dinamakan
periode ejeksi.
4. Diastole. Selama ¼ terkahir sistol ventrikel hamper tidak ada aliran darah dari
ventrikel masuk ke arteri besar walaupun otot ventrikel tetap berkontraksi.
5. Periode relaksasi isometrik (isovolemik). Pada akhir sistole relaksasi ventrikel
mulai dengan tiba-tiba, mungkin tekanan dalam ventrikel turun dengan cepat.
Peningkatan tekanan dalam arteri besar tiba-tiba mendorong darah kembali ke arah
ventrikel, menimbulkan bunyi penutupan katup aorta dan pulmonal~dengan keras
selama 0,03-0,06 detik, Selanjutnya otot ventrikel relaksasi dan tekanan dalam
ventrikel turun dengan cepat kembali ke tekanan diastole yang sangat rendah. Katup
atrium dan ventrikel membuka mengawali siklus pompa ventrikel yang baru.

Selama diastole, pengisian ventrikel dalam keadaan normal meningkatkan volume setiap
ventrikel sekitar 120-130 ml. Volume ini dinamakan volume akhir diastolik. Pada waktu
ventrikel kosong selama sistole, volume berkurang kira-kira 70 ml, dinamakan isi sekuncup.
Volume yang tersisa dalam tiap-tiap ventrikel sekitar 50-60 ml dinamakan volume akhir
sistolik.
Katup trikuspidalis dan katup bikuspidalis mencegah pengaliran balik darah dari
ventrikel ke atrium selama sistole. Katup semilunaris aorta dan katup semilunaris arteri
pulmonalis mencegah aliran batik dari aorta dan arteri pulmonalis ke dalam ventrikel
selama periode diastole. Semua katuk ini membuka dan menutup secara pasif yaitu
akan menutup bila selisih tekanan yang membalik mendorong darah kembali dan
membuka bila selisih tekanan ke depan mendorong darah ke arah depan.
Seseorang yang sedang istirahat jantungnya memompakan darah 4-6 liter/menit.
Dalam keadaan kerja berat mungkin diperlukan pemompaan darah sebanyak 5 kali dari
jumlah tersebut. Dua cara dasar pengaturan kerja pemompaan jantung.
1. Autoregulasi intrinsik pemompaan akibat perubahan volume darah yang mengalir ke
dalam jantung. Hukum Frank dan Starling: makin banyak jantung terisi selama diastole
makin besar jumlah darah dipompakan ke dalam aorta. Dalam Batas fisiologis, jantung
memompakan semua darah yang masuk ke dalam jantung tanpa mungkin terjadinya
bendungan darah yang berlebihan dalam vena. Bila ventrikel terisi oleh tekanan
atrium yang lebih tinggi kekuatan kontraksi jantung meningkat, menyebabkan jantung
memompakan darah dalam jumlah yang lebih besar ke dalam arteri.
2. Refleks yang mengawasi kecepatan dan kekuatan kontraksi jantung melalui saraf
otonom. Saraf ini memengaruhi daya pompa jantung melalui dua cara, yaitu dengan
mengubah frekuensi jantung dan mengubah kekuatan kontraksi jantung.

Curah Jantung

Pada keadaan normal (fisiologis) jumlah darah yang dipompakan oleh ventrikel
kiri dan ventrikel kanan sama besarnya. Bila tidak demikian akan terjadi penimbunan
darah di tempat tertentu, misalnya bila jumlah darah yang dipompakan ventrikel dekstra
lebih besar dan ventrikel sinisra. Jumlah darah tidak darah tidak dapat diteruskan oleh
ventrikel kiri ke peredaran darah sistemik sehingga terjadi penimbunan darah di paru.

Jumlah darah yang dipompakan ventrikel dalam satu merit disebut curah jantung
(cardiac out put) dan jumlah darah yang dipompakan ventrikel pada setiap kali sistole
disebut volume sekuncup (stroke volume) dengan demikian curah jantung sama dengan isi
sekuncup x frekuensi denyut jantung per menit.

Setiap sistole ventrikel tidak terjadi pengosongan total dari ventrikel, hanya
sebagian dari isi ventrikel yang dikeluarkan, misalnya isi ventrikel. Pada akhir sistole
120 cc, isi sekuncup sebesar 80 cc dan pada akhir sistole masih tersisa 40 cc darah dalam
ventrikel. Jumlah darah yang tertinggal ini dinamakan volume residu.

Besar curah jantung seseorang tidak selalu sama, bergantung pada keaktifan
tubuhnya. Curah jantung pria dewasa pada keadaan istirahat lebih kurang 5 liter dapat
turun atau naik pada berbagai keadaan. Curah jantung meningkat waktu kerja berat,
stres, peningkatan suhu lingkungan, dan keadaan hamil, sedangkan curah jantung menurun
ketika waktu tidur.

Curah jantung merupakan faktor utama dalam sirkulasi yang mempunyai peranan
penting dalam transportasi darah yang mengandung berbagai nutrisi. Jumlah darah yang
dipompakan oleh ventrikel bergantung pada kebutuhan jaringan perifer terhadap
oksigen, nutrisi, dan ukuran tubuh sehingga diperlukan suatu indikator fungsi jantung
lebih akurat.

Faktor-faktor utama yang memengaruhi pekerjaan jantung:

1. Beban awal: Otot jantung diregangkan sebelum ventrikel kiri berkontraksi, berhubungan
dengan panjang otot jantung. Peningkatan beban awal menyebabkan kontraksi ventrikel
lebih kuat dan meningkatkan volume curah jantung. Peningkatan beban awal akibat dari
meningkatnya volume darah yang kembali ke ventrikel. Semakin diregang serabut otot
jantung, semakin besar kontraksinya sampai batas tertentu.

2. Kontraktilitas (kemampuan): Bila saraf simpatis yang menuju ke jantung dirangsang maka
ketegangan keseluruhan akan bergeser ke atas, atau ke kiri, atau meningkatkan
kontratilitas. Frekuensi dan irama jantung juga memengaruhi kontraktilitas. Bila sebagian
dari miokard ventrikel tidak berfungsi maka kerja ventrikel akan berkurang, menyebabkan
depresi (menurunnya) kontraktilitas setiap unit miokard.
3. Beban akhir: Resistensi (tahanan) yang harus diatasi waktu darah dikeluarkan dari
ventrikel, suatu beban ventrikel kiri untuk membuka katup semilunaris aorta dan
mendorong darah selama kontraksi. Peningkatan drastis beban akhir akan meningkatkan
kerja ventrikel dan meningkatkan kebutuhan oksigen serta mengakibatkan kegagalan
ventrikel..

4. Frekuensi jantung: Dengan meningkatkaa frekuensi jantung akan memperberat pekerjaan


jantung.

Hukum Fank Sterling

a. semakin besar isi jantung sewaktu diastole semakin besar jumlah darah yang dipompakan
ke aorta.

b. Dalam batas-batas fisiologis jantung memompakan seluruh darah yang kembali ke jantung tanpa
menyebabkan penumpukan darah di vena.

c. Jantung dapat memompakan jumlah darah yang sedikit atau yang banyak bergantung pada
jumlah darah yang mengalir kembali ke vena.

Periode pekerjaan jantung:

1. Periode sistole (periode konstriksi): Suatu keadaan jantung bagian ventrikel dalam
keadaanmenguncup, katupbikuspidalis dankatup trikuspidalis dalam keadaan tertutup.
Valvula semilunaris aorta danvalvula semilunaris arteri pumonalis terbuka, sehingga darah
dari ventrikel dekstra mengalir ke arteri pulmonalis masuk ke dalam paru kiri dan
kanan. Darah dari ventrikel sinistra mengalir ke aorta selanjutnya beredar ke seluruh
tubuh.

2. Periode diastole (periode dilatasi): Suatu keadaan ketika jantung me ngembang.


Katup bikuspidalis dan trikuspidalis dalam keadaan terbuka sehingga darah dari atrium
sinistra masuk ke ventrikel sinistra dan darah dari atrium dekstra masuk ke ventrikel
dekstra. Selanjutnya darah yang datang dari paru kiri dan kanan melalui vena
pulmonalis masuk ke atrium sinistra dan darah dari.seluruh tubuh melalui vena kava
superior dan vena kava inferior masuk ke atrium dekstra.

3. Periode istirahat, yaitu waktu antara periode diastole dan periode sistole, ketika jantung
berhenti kira-kira 1/10 detik.

BUNYI JANTUNG

Bunyi normal jantung terdengar melalui stetoskop selama setiap siklus


jantung. Katup aorta akan menutup dan tekanan vaskuler turun kembali kenilai diastolik.
Dengan adanya kontraksi atau relaksasi atrium dan relaksasi ventrikel, serta adanya
perubahan tekanan dalam rongga-rongga jantung selama kerja jantung, terjadi
pembukaan dan penutupan katup-katup jantung.
Bila diletakkan stetoskop pada tempat mendengar bunyi jantung akan terdengar
bunyi lub-dub. Ini lazim disebut sebagai bunyi jantung I dan bunyi II.
Bunyi jantung terjadi karena getaran udara dengan intensitas dan frekuensi
tertentu. Bunyi jantung I mempunyai frekuensi lebih rendah dari bunyi jantung II dan
berlangsung lebih lama. Bunyi jantung I disebabkan oleh:

1. Faktor otot: Bila otot berkontraksi pada umumnya akan terjadi bunyi atau bunyi otot,
demikian pula pada sist6le ventrikel.
2. Faktor katup: Pada saat ventrikel berkontraksi terjadi penutupan katup
atrioventrikuler. Penutupan daundaun katup tersebut menimbulkan bunyi.
3. Faktor pembuluh: Setelah katup semilunaris terbuka darah akan dipompakan oleh ventrikel
kiri ke aorta dan ventrikel kanan ke arteri pulmonanalis. Arus darah ini akan menggetarkan
dinding pembuluh sehingga menimbulkan bunyi.
Tahapan bunyi jantung:
1. Bunyi pertama: Bunyi "lub" yang rendah, disebabkan oleh penutupan katup
mitral/bikuspidalis dan trikuspidalis lamanya kira-kira 0,15 detik, frekuensinya 25-45 Hz.
2. Bunyi kedua: Bunyi "dup" yang lebih pendek dan nyaring, disebabkan oleh penutukan
katup aorta dan pulmonal segera setelah sistolik ventrikel berakhir. Frekuensinya 50 Hz,
berakhir 0,15 detik. Bunyi ini keras dan tajam ketika tekanan diastolik dalam aorta atau arteri
pulmonalis meningkat, masing-masing katup menutup dengan kuat pada akhir sistolik.
3. Bunyi ketiga yang lemah dan rendah didengar kira-kira 1/3 jalan diastolik pada individu
muda. Ini bertepatan dengan masa pengisian cepat ventrikel, mungkin disebabkan getaran
yang timbul oleh desakan darah lamanya 0,1 detik.
4. Bunyi keempat: Kadang-kadang dapat didengar segera sebelum bunyi pertama. Bila
tekanan atrium tinggi atau ventrikel kaku seperti pada hipertrofi ventrikel.

C. ANATOMI SISTEM PEMBULU DARAH

Pembuluh darah adalah prasarana jalan bagi aliran darah ke seluruh tubuh. Saluran
darah ini merupakan sistem tertutup dan jantung sebagai pemompa darah. Fungsi
pembuluh darah adalah mengangkut (transportasi) darah dari jantung ke seluruh bagian
tubuh dan mengangkut kembali darah yang sudah dipakai kembali ke jantung. Fungsi ini
disebut sirkulasi darah. Selain dari itu juga darah mengangkut gas-gas, zat makanan, sisa
metabolisme, hormon, antibodi, dan keseimbangan elektrolit.

Aliran darah dalam tubuh terdiri dari:

1. Aliran darah koroner. Aliran darah yang mendistribusikan darah di dalam otot
jantung melalui pembuluh darah utama: a. Arteri koronaria kanan yang mengurus
distribusi nutrisi dan darah daerah otot jantung kanan depan dan belakang serta otot
jantung kiri bagian belakang bawah berhadapan dengan diafragma.

b. Arteri intraventrikular anterior memberi darah untuk otot jantung kiri depan dan
septum jantung, mengurus distribusi darah untuk daerah otot jantung kiri bagian lateral kiri
dan otot jantung kiri bagian posterior. Bila terjadi sumbatan aliran darah koroner pada satu
cabang maka akan menyebabkan iskemia infark miokard di daerah tertentu.

2. Aliran darah portal. Aliran darah balik, darah vena yang berasal dari (usus halus, usus
besar, lambung, limpa, dan hati). Aliran darah sistem portal ini mempunyai satu pintu keluar
yaitu vena porta ke arteri hepatika menuju ke hati keluar ke vena hepatika, masuk ke jantung
melalui vena kava inferior. Hati merupakan organ terbesar yang memroses bermacam-
macam jenis reaksi kimia, dan menerima zat makanan dari sistem pencernaan. Kerusakan
struktur jaringan hati menyebabkan aliran darah tidak lancar karena jaringan hati
mengerut sehingga darah tidak dapat dialirkan.

3. Aliran darah pulmonal. Aliran darah dari ventrikel kanan menuju arteri pulmonalis
kemudian bercabang ke paru kiri dam paru kanan, bercabang lagi ke alveoli (kapiler alveoli)
sekeliling alveoli tempat terjadinya difusi gas 02 dam COZ. C021ebih banyak berdifusi pada
kapiler menuju rongga alveoli, sedangkan OZ lebih banyak berdifusi pada rongga alveoli
menuju kapiler darah. Darah yang kaya oksigen mengalir menuju vena pulmonalis sinistra
dan vena pulmonalis dekstra masuk ke atrium kiri terus ke ventrikel sinistra, siap
dipompokan ke aliran darah sistemik.

4. Aliran darah sistemik. Mulai dari ventrikel sinistra ke aorta masuk ke seluruh tubuh.
Pembuluh darah arteri bercabang menjadi arteriole, kemuthan menjadi kapiler masuk ke
dalam jaringan/sel, keluar menjadi kapiler vena (venolus), kemudian menjadi vena, masuk
kembali ke jantung meIalui vena kava superior dam vena kava inferior.

ARTERI

Arteri atau pembuluh darah nadi merupakan pembuluh darah yang keluar dari jantung
yang membawa darah ke seluruh tubuh dam alat tubuh. Pembuluh yang paling besar keluar
dari ventrikel sinistra, disebut aorta. Arteri mempunyai dinding yang tebal dan kuat
tetapi mempunyai sifat yang sangat elastic, terdiri dari tiga lapisan

1. Tunika intima (interna)


2. Tunika media
3. Tunika eksterna (adventitia)
Arteri medapat darah dari pembulu darah halus yang mengalir di dalamnya,
berfungsi member nutrisi pada pembuluh tersebut yang disebut vosa vasorum.
Arteri dapat berkontaraksi dan berdilatasi disebabkan pengaruh sum-sum saraf
otonom

AORTA
Aorta merupakan pembulu darah arteri yang paling besar, keluar dari jantung
bagian ventrikel sinistra melalui aorta asendens mebelok ke belakang melalui radiks
pulmonalis sinistra, turun sepanjang kulomna vertebralis menembus diafragma, turun
ke abdomen. Jalan erteri terdiri dari tiga bagian :

1. Aorta asenden
2. Arkus aorta
3. Aorta desendens. Aorta ini mempunyai cabang :

a. Aorta torakalis: Mulai dari sebelah kiri tepi bawah korpus vertebrae torakalis IV,
setinggi angulus sterni, berjalan ke bawah dalam mediastinum posterior sampai
vertebrae torakal XII, melewati hiatus aortikus diafragma.
b. Aorta abdominalis: Mulai pada vertebrae torakalis XII sampai ke lumbalis IV,
bercabang dua menjadi A. iliaka komunis dekstra dan A. iliaka komunis sinistra.
Pembuluh darah utama dimulai dari aorta yang keluar dari ventrikel sinistra
melalui belakang kanan arteri pulmonalis, membelok ke belakang, melalui radiks
pulmonalis kemudian turun sepanjang kolumna vertebralis, menembus diafragma,
selanjutnya ke rongga panggul, berakhir pada anggota gerak bawah.

Arteri Kepala dan Leher


Arteri kepala dan leher disuplai oleh arteri karotis komunis dekstra dan arteri karotis
komunis sinistra. Bagian dekstra agak pendek, merupakan cabang dari A. anonima dan
sinistra, lebih panjang karena langsung dari arkus aorta.
Pada masing-masing sisi menuju ke atas leher di bawah otot sternomastoid dan pada
ketinggian perbatasan atas kartilago timid membagi diri menjadi dua yaitu:
1. Arteri karotis eksterna, menyuplai darah bagian leher dan kepala, memberikan
percabangan sebagai berikut:
a. A. timid superior: Bagian depan karotis eksterna menembus membrana tiroidea
bersama ramus laringeus internus.
b. A. faringea asendens: Cabang bawah karotis eksterna mempunyai cabang yang banyak
dan kecil-kecil untuk memperdarahi faring dan struktur sekitarnya.
c. A. lingualis: Permukaan karotis eksterna masuk ke origo mandibularis di atas nervus
hipoglosus untuk otot lidah.
d. A. fasialis: Dari permukaan anterior A. karotis interna mencapai bagian posterior
glandula submandibularis rahang bawah.
e. A. oksipitalis: Berhadapan dengan arteri fasialis, berjalan ke atas mencapai bagian
belakang kulit kepala. Bagian ujung bersama dengan nervus oksipitalis mengurus kulit
kepala bagian belakang.
f. A. aurikularis posterior berjalan ke atas belakang sepanjang tepi atas venter posterior
M. digastrik di bawah glandula parotis, antara kulit kepala belakang dan aurikula.
g. A. maksilaris bagian belakang rahang atas.

2. Arteri karotis interna: Tidak bercabang di leher, masing-masing sisi merupakan


percabangan terminal dari A. karotis komunis, arteri ini menuju ke atas dalam leher
melalui kanalis karotis, pada os temporalis bersatu dalam tengkorak. Arteri tersebut
menyebar, terletak di dalam sinus kavernosus, berakhir pada A. serebri anterior dan A.
serebri media, dan memberikan cabang-cabangnya:
a. A. oftalmika: Keluar dari sinus kavernosus masuk ke orbita lewat kana
lis optikus di bawah dan lateral N. optikus, memperdarahi mata.
b. A. komunikan posterior: Berjalan ke belakang bergabung dengan
A. serebri posterior
c A. koroidea: Cabang kecil yang berjalan ke belakang memasuki kornu inferior
ventrikulus lateralis berakhir dalam pleksus khoroideus.
d. A. serebri anterior: Berjalan ke depan medial, masuk ke fisura longitudinalis serebri,
bergabung dengan A. komunikans anterior memperdarahi korteks serebri dan
hemisfer otak.
e. A. serebri media: Cabang terbesar dari A. karotis media interna berjalan ke lateral
dalam sulkus lateralis. Arteri ini masuk ke seluruh korteks mototrik, cabang-cabang
sentral masuk ke subtansia grisea dalam hemisfer serebri.
f. A. nasalis: Berjalan ke depan memperdarahi hidung.

Arteri Vertebralis
Cabang bagian pertama subklavia berjalan naik melalui foramen prosesus
transversi masuk ke kranium melalui foramen magnum berjalan ke atas, lalu ke depan
medial medula ablongata, sampai di tepi bawah pons arteri ini bergabung dan
membentuk A. basilaris, cabang-cabang kranial A. vertebralis.
Arteri basilaris
Arteri basilaris dibentuk oleh penggabungan dua A. vertebralis, berjalan naik dalam
alur. P,ada permukaan anterior pons bercabang dua:
1. A. serebralis posterior, memperdarahi permukaan inferolateralis temporalis,
permukaan lateral lobus oksipitalis dan medial lobus oksipitalis. Cabang-cabang
sentral menembus subtansia otak, memperdarahi subtansia grisea dan otak tengah.
2. A. sirkumarteriosus, terletak dalam fossa interpedunkularis, dibentuk oleh A. karotis
interna dan A. vertebralis, melalui arteri ini disebar ke setiap bagian hemisfer serebri
memperdarahi subtansi otak.

Wajah menerima darah dari :

1. A. vasialis dan A. temporalis superfisialis


2. A. temporalis supervisialis
3. A. superaorbitalis dan supratroklearis

Arteri Subklavia

Arteri Subklavia dekstra adalah cabang dari A, anonima sedagkan A subklavia


cabang dari arkus aorta.

1. A. aksilaris
2. A. brakhialis
3. A. ulnaris
4. A. radialis
5. A. arkus palmaris superfisialis
6. A. arkus palmaris profundus
7. A. digitalis
Aorta Toraklis

Sebagai lanjutan dari arkus aorta, disebelah kiri tepi bawah korpus vertebrae
torakalis XII, aorta torakalis memberikan darah untuk rongga dada. Di belakang aorta
torakalis terdapat kolumna vertebralis. Cabang-cabangnya pada :

1. rongga toraks :
a. A. interkostalis
b. A. perikardialis
c. A. bronkialis
d. A. esofagialis
e. A. mediastinalis
2. dinding toraks :
a. A. perinkus superior
b. A. subkostalis

Aorta Abdominalis
Bagian dari aorta desendens merupakan lanjutan dari aorta torakalis, mulai dari
vertebrae torakalis XII sampai lumbalis IV, terdapat dalam rongga abdomen.

Arteri Rongga Perut


Arteri rongga perut meliputi :
1. arteri seliaka. Mempinyai tiga cabang :
a. A. gestrika sinistra
b. A. lienalis
c. A. hepatika
Cabangnya:
o A. gastrika dekstra, berasal dari A. hepatika berjalan ke dalam omentum
minus sepanjang kurvatura minor lambung.
o A. gastroduodenalis, berjalan ke belakang duodenum bercabang menjadi A.
gastroepiploika dekstra dan A. pankreatika duodenalis superior.
o A. hepatika dekstra dan sinistra, mempercabangkan A. sistika yang berjalan ke
leher kandung empedu.
2. A. splenika (lienalis), memperdarahi pankreas dan duodenum superior dan inferior,
berjalan berkelok sepanjang pankreas masuk ke limpa dan hilus limpa.
3. A. mesenterika superior, memperdarahi bagian distal duodenum, ileum, sekum,
apendiks, kolon asendens dan kolon transversum, berasal dari permukaan depan
aorta abdominalis berjalan ke bawah kanan antara 3apisan mesenterium usus
halus. Cabangnya:
a. A. pankreatika duodenalis inferior, memperdarahi pankreas bagian duo denum.
b. A. kolika media, memperdarahi kolon transversum kanan dan kiri.
c. A. kolika dekstra, berjalan ke kanan memperdarahi kolon asendens, bercabang
menjadi ramus asendens dan desendens.
d. A. iliokolika, berjalan ke bawah beranastomosis dengan A. mesenterika superior.
4. A.renalis, cabang dari aorta abdominalis. Masing-masing A. renalis men A. segmentalis
masuk ke dalam hilus ginjal, tersebar ke segmen ginjal menjadi di A. lobaris. Setiap A.
lobaris bercabang lagi menjadi A. arquarta menjadi interlobularis yang berjalan di atas
korteks.

5. A. sperrmatika dan A. ovarika. Pada laki-laki A. spermatika memperdarahi dan pada


wanita A. ovarika memperdarahi ovarium.

6. A. mesenterika inferior, memperdarahi 1/3 distal kolon transversum, fleksura kolika


sinistra, kolon desendens, kolon sigmoid rektum, dan atas anus. Arteri ini berasal dari
aorta abdominalis, bercabang A. iliaka komunis berlanjut menjadi A. rektalis superior.
Cabang-Cabang ya:

a. A. kolika sinistra

b. A. sigmoidea

c. A. rektalis superior

Arteri Dinding Abdomen


Arteri Dinding Abdomen muka dan belakang meliputi :

1. Perikus iinferior
2. A. subkostalis
3. Epigastrik superior
4. A. lumbalis

Rongga Panggul
Aorta desendens sampai pada vertebra lumbalis IV akan bercabang menjadi A. iliaka
komunis dekstra dan A. iliaka komunis sinistra, berjalan ke bawah dan lateral sepanjang tepi
medial M. psoas.
1. A. iliaka interna
a. A. sakralis media
b. A. rektalis superior
c. A. ovarika
d. A. uterine
2. A. iliaka eksterna
a. A. femoralis
Cabang A. femoralis :
 A. sirkum fleksa superfisialis
 A. epigastrika supervisialis
 A. regio pudenda eksterna supervisialis
 A. Profunda femoralis
 A. genikularis desendens
b. A. poplitea
c. A. tibialis anterior
d. A. tibialis posterior
e. A. plantaris medialis
f. A. plantaris plateralis
g. A. dorsalis pedis
Cabang-cabangnya :
 A. tarsalis lateralis
 A. akuarta
 A. metatarsal dorsalis I

VENA
Pembuluh darah vena merupakan kebalikan dari pembuluh darah arteri yang
membawa darah dari slat-slat tubuh masuk ke jantung. Bentuk dan susunannya hampir
sama dengan arteri. Katup pada vena terdapat di sepanjang pembuluh darah untuk
mencegah darah tidak kembali .lagi ke sel atau jaringan.
Vena yang terbesar adalah vena pulmonalis. Vena mempunyai cabang yaitu venolus,
selajutnya menjadi kapiler. Pembuluh darah vena yang terdapat dalam tubuh diuraikan di
bawah ini.

Vena ke Jantung
Vena yang mengalirkan darah kembali ke jantung meliputi:
1. V kava superior. Vena besar ini menerima darah dari bagian atas leper dan kepala.
Vena ini dibentuk oleh persatuan dua vena brakiosefalika, masuk ke dalam atrium
dekstra. Vena azigos bersatu pada permukaan belakang V kava superior sebelum
masuk ke perikardium.
2. V kava inferior, menerima darah dari slat-slat tubuh bagian bawah menembus sentrum
tendineum setinggi vertebrae torakal, masuk ke bagian terbawah atrium dekstra.
3. Vena pulmonalis. Dua V pulmonalis yang meninggalkan paru membawa darah
teroksigenasi (banyak mengandung Oz) masuk ke atrium sinistra.

Vena yang Bermuara pada Vena Kava Superior


Vena yang bermuara pada vena kava superior berawal tepat di belakang angulus
mandibulare, menyatu dengan V aurikularis posterior, turun melintasi M.
sternokleidomastoideus, tepat di atas klavikula menembus fasia servikalis profunda dan
mencurahkan isinya ke V subklavia. Cabang-cabangnya:
1. V aurikularis posterior, menerima darah dari telinga bagian belakang.
2. V. retromadibularis, menerima darah datang dari mandibularis.
3. V. jugularis eksterna posterior yang mengurus bagian kulit kepala dan
leper, bergabung dengan vena jugularis eksterna.
4. V supraskapularis, menerima darah dari otot bahu bagian atas.
5. V jugularis anterior, berawal tepat di bawah dagu menyatu, turun ke
leper di atas insisura jugularis, berjalan di bawah M. sternokleidomastoi
deus, mencurahkan isinya ke vena jugularis eksterna.

Vena Kulit Kepala


Vena-vena di kulit kepala meliputi :
1. V. trokhlearis dan V.supraorbitalis
2. V. temporalis supervisialis
3. V. aurikularis posterior
4. V oksipitalis

Vena Wajah
Vena-vena pada wajah meliputi :
1. V. fasialis
2. V. provunda fasialis
3. V. transvera fasialis

Vena Pterigoideus
Jalinan vena yang mengelilingi M. Pterigoideus menyambung venavena sesuai
dengan cabang-cabang A. maksilaris dan bermuara ke dalam
1. V. maksilaris
2. V. vasialis
3. V. lingualis.
4. V oftalmika superior

Vena tonsil dann palatum


Vena palatina eksterna turun dari palatum mole bergabung dengan pleksus venosus
faringeus, menembus M. konstriktor faringeus superior, bergabung dengan V. palatina, V
faringea dan V. fasialis. Vena ini bermuara ke pleksus venosus faringeus dan venosus
jugularis interns.

Vena Punggung

Vena pada punggung mengembalikan darah dari struktur punggung membentuk


pleksus majemuk yang tersebar sepanjang kolumna vertebralis dari cranium sampai ke
kogsinis.

1. pleksus venosus vertebralis eksternus


2. pleksus venosus vertebralis internus

Vena yang bermuara pada vena kava interna


Vena-vena yang bermuara pada vena interna meliputi :
1. vena toraksika interna
2. vena dinding anterior dan lateral abdomen
3. vena lambung
4. vena dinding posterior abdomen
a. VV mesenterika inferior. Cabang dari sirkulasi portal mulai pertengahan anus V rektalis
superior berjalan ke atas, bersatu dengan V lienalis di belakang pankreas, menerima cabang
sesuai dengan cabang arterinya.
b. VV lienalis. Cabang dari sirkulasi portal mulai dari h lus:,limpa, oleh persatuan V
gastrika dan V gastroepiploika berjalan ke kanan dalam ligamentum lienorenalis, berjalan
ke belakang pankreas dan bersatu dengan V mesenterika superior untuk membentuk V.
Aorta. V mesenterika inferior dan vena dari pankreas bermuara pada V lienalis.
c. Vena mesenterika superior. Cabang dari sirkulasi portal mulai dari perbatsan
ileosekalis berjalan ke atas dinding posterior abdomen dalam pangkal mesenterium usus
halus, bersatu dengan V lienalis untuk membentuk V Aorta.
d. Vena Aorta. Vena yang penting ini panjangnya 5 cm, dibentuk di belakang pankreas
oleh persatuan V mesenterika superior dan V lienalis. Vena Aorta berjalan ke atas dan
kanan duodenum masuk ke omentum minus. Sirkulasi portal mulai sebagai pleksus kapiler
dalam organ tempat dash dialirkan keluar, berakhir dengan pengosongan darahnya ke
dalam sinusoid hati, mengalirkan dash dari pencernaan bagian bawah esofagus sampai
pertengahan atas anus.

Anastomosis Portal Sistemik


Dalam keadaan normal vena Aorta melewati hati, masuk ke vena kava inferior dan
merupakan sirkulasi sistemik yang melewati vena hepatika yang merupakan hubungan lain
apabila jalan langsung terhambat. Lokasi anastomosis ini meliputi:

1. Sepertiga bawah esofagus: Ramus esofagea dari V gastrika sinistra (cabang V.


Aorta) beranastomosis dengan V esofagea mengalir ke vena azigos.
2. Pertengahan atas anus: V rektalis superior (cabang V. Aorta mengalirkan dash dari
separuh atas anus beranastomosis dengan V rektalis media dan inferior, merupakan
cabang dari V iliaka interna dan V pudenda.
3. V paraumbilikus menghubungkan cabang kiri V Aorta dengan V superfisial dinding
anterior abdomen, berjalan dalam ligamentum falsiformi dan ligamentum teres hepatis.
4. Vena-vena kolon asendens: Kolon desendens, duodenum, pankreas dan hati (cabang V.
Aorta) beranastomosis dengan V renalis, V lumbalis dan V frenika.

5. V. ovarika : yang berasal dari ovarium setinggi vertebrae lumbalis I ke V kava inferior

Vena Dinding Pelvis

Vena dinding pelvis meliputi :

1. V. iliaka eksterna
2. V. iliaka interna
3. V. sekralis media
Vena anggota gerak atas
Vena anggota gerak atas terdiri dari :
1. jalinan V. supervasialis
2. V. sefalika
3. V. basilica

Vena anggota gerak bawah


Vena-vena pada anggota gerak bawah meliputi :
1. V. superfisialisasi
2. V. savena magna
3. V aksesoria
4. V safena parva

5. V poplitea

6. V femoralis

7. V. obturatoria

KAPILER

Kapiler adalah pembuluh dash yang sangat kecil sehingga disebut juga
pembuluh rambut. Pada umumnya kapiler-kapiler meliputi sel-sel jaringan karena secara
langsung berhubungan dengan sel. Kapiler terdiri dari:

1. Kapiler arteri, tempat berakhirnya arteri. Makin kecil arteriol, makin hilang lapisan
dinding dari arteri sehingga pada kapiler arteri lapisan dinding hanya menjadi satu
lapisan yaitu lapisan endotelium. Lapisan yang sangat tipis ini memungkinkan cairan
darah/limfe merembes keluar membentuk cairan jaringan, membawa air, mineral, dan zat
makanan melalui pertukaran gas antara pembuluh kapiler dengan jaringan sel. Kapiler
juga menyediakan oksigen dan menyingkirkan karbon dioksida.

2. Kapiler vena, lapisannya hampir sama dengan kapiler arteri. Fungsinya adalah membawa
zat sisa yang tidak terpakai oleh jaringan sel berupa zat ekskresi dan karbon dioksida.
Darah dibawa keluar dari tubuh melalui venolus, vena, dan seterusnya keluar tubuh
melalui tiga proses yaitu pernapasan, keringat, dan feses.
Fungsi kapiler:
1. Sebagai penghubung antara pembuluh dash arteri dan vena.
2. Tempat terjadinya pertukaran zat antara dash dan cairan jaringan. 3. Mengambil
hasil dari kelenjar.
4. Menyerap zat makanan yang terdapat dalam usus.
5. Menyaring darah yang terdapat di ginjal.
Pintu masuk ke kapiler dilingkari oleh sfingter yang terbentuk dari otot polos. Bila
sfingter ini terbuka, dash memasuki kapiler dan bila sfingter ini tertutup, dash langsung
dari arteriole ke venolus dan tidak melalui kapiler. Tekanan dash pada kapiler arteri
berkurang sampai 30 mm Hg, sesampai di ujung kapiler vena menjadi 10 mm Hg. Tekanan
kapiler akan meningkat bila arteriole berdilatasi dan sfingter kapiler relaksasi, sehingga
dash banyak masuk ke dalam kapiler.
Kapiler membuka dan menutup dengan kecepatam 6-12 kali/menit. Relaksasi kapiler
terjadi sebagai respons terhadap setiap peningkatan jumlah karbondioksida dan asam
laktat dalam darah atau penurunan yang terjadi pada kadar oksigen.

SISTEM PEMBULU LIMFE

System pembulu limfe merupakan suatu jalan tambahan tempat cairan dapat
mengalir dari ruanga interstisial ke dalam darah. Pembulu limfe dapat mengangkut protein
dan zat berpartikel besar , keluar ruang jaringan yang tidak dikeluarkan dengan absorbsi
secara langsung ke dalam kapiler darah. System limfe berhubungan erat dengan sirkulasi
darah mengandung cairan yang bergerak , berasal dari darah dan mempunyai jaringan
pembuluh limfe.

System limfe juga merupakan salah satu jalan utama untuk absorbsi bahan gizi
dari fraktus gastrointestinal yang bertanggung jawab untuk absorbs lemak dan
merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi.

Aliran limfe sangat dipengaruhi oleh aktivitas otot yang dapat mempercepat dan
mengatur alirannya. Aliran akan bertambah akibat pengaruh peristaltik, pergerakan
pernapasan, aktivitas jantung, masase, pergerakan pasif, dan pulsasi arteri di sekelilingnya.
binding pembuluh limfe demikian permeabelnya sehingga partikel yang sangat besar
ukuran molekulnya di dalam jaringan dapat dilalui.
Pembuluh limfe yang kecil-kecil menyatu menjadi besar, banyak mempunyai katup
sehingga aliran cairan limfe menuju ke satu arah yaitu vena subklavia. Setiap kali
pembuluh limfe menggembung karena terisi penuh oleh cairan dari jaringan, pembuluh
limfe ini berkontraksi sehingga cairan limfe terdorong melewati katup yang terbuka.
Peristiwa ini terjadi sekitar 10 detik sekali, secara dinamik cairan interstisial terus menerus
bergerak datang dan kembali ke pembuluh darah.

Duktus Limfatikus Dekstra


Duktus limfatikus jugularis dekstra, subklavia, dan bronkomediostinalis masing-
masing mengalirkan cairan limfe sisi kepala dan leher kanan. Sisi kanan toraks dapat
bersatu membentuk duktus limfatikus kanan, panjangnya 1,3 cm, bermuara ke dalam
pangkal vena subklavia kanan. Di samp ng itu bermuara secara tidak bebas ke dalam
vena-vena besar pada leher. Duktus torasikus merupakan kumpulan dari pembuluh limfe
yang berasal dari kepala kanan, leher kanan, dada sebelah kanan, dan anggota gerak sebelah
kanan.

Duktus Limfatikus Sinistra


Duktus limfatikus sinistra mulai terlihat dalam abdomen sebagai kantong limfe
yang memanjang. Sisterna chili terletak tepat di bawah diafragma di depan vertebra
lumbalis I sebelah kanan aorta, menerima limfe dari trunkus intestinalis, trunkus lumbalis
kanan, dan trunkus lumbalis kiri. Beberapa pembuluh kecil yang berjalan turun dari bawah
toraks, masuk ke rongga toraks melalui hiatus akustikus pada diafragma, naik melalui
mediastinum posterior, berangsur condong ke kiri sampai di mediastinum superior.
Duktus ini berjalan ke atas sepanjang tepi kiri esofagus sampai setinggi prosesus
transversus. Dari sini berbelok ke lateral di depan arteri atau vena vertebralis. Sampai
di tepi medial M. skalenus anterior berbalik ke bawah di depan N. prenikus kiri dan begian
pertama A. subklavia bermuara ke awal V brakiosefalika sinistra, dapat juga berakhir pada
bagian terminal V. subklavia atau V jugularis interna.

Nodus Limfatisi
Nodus limfasiti atau kelenjar limfe bantuknya lonjong seperti buah kacang, nodus ini
terdapat sepanjang pembulu limfe. Saluran masuk ke dalam nodus limfatisi ada beberapa
buah tetapi saluran keluar hanya satu. Jaringan limfe ini sangat padat berisi sel-sel limfosit
yang ditunjang oleh sel-sel letikuler, serabut kolagen, serat elastic, dan otot polos . biasanya
nodus limfatisi berkelompok–kelompok pada daerah, yaitu :

1. kelompok nodi limpatisi (NL) kepala dan leher (regional). Kelenjar limfe di kepala
dan leher disusun oleh sejumlah kelompok regional dan satu kelompok terminal
terdiri dari :
a. NL oksipitalis
b. NL mastoidea
c. NL parotidea
d. NL buksinatoris
e. NL submandibularis
f. NL submentalis

g. NL servikale anterior

h. NL servikal superfisialis

i. NL retrofaringeale

j. NL laringeale

k. NL trakeale

Nodus limfatisi servikalis profundi membentuk rantai sepanjang jalan V. jugularis


interna, dari kranium ke pangkal leher tertanam dalam fasia vagina karotika dan tunika
adventisia V jugularis interna. Nodus ini berhubungan dengan pembuluh limfe dari tonsil
dan lidah, menampung limfe dari struktur yang berdekatan dari semua NL regional lain di
kepala dan leher. Pembuluh limfe ini bersatu membentuk trunkus jugularis, bermuara ke
dalam duktus torasikus, selain itu juga mencurahkan isinya ke dalam trunkus subklavius
atau ke dalam V. brakiosefalika.
2. Kelompok nodi limfatisi ekstremitas superior. Pembuluh limfe dari ibu jari telunjuk
bagian lateral dari tangan mengikuti:

a. VV sefdlika ke NL infraklavikularis, dari jari tengah, jari manis dan kelingking.


b. VV basilika ke NL supratroklearis, terletak pada fasia superfisialis tepat di atas
epikondilus medialis humeri.

Bila infeksi mencapai kelenjar limfe lateral NL aksilaris, kelenjar tersebut akan membesar
dan nyeri tekan, disebut limfadenitis. Pembuluh limfe dari jari dan telapak tangan berjalan
ke dorsum manus sebelum berjalan ke atas.

3. Kelompok nadi limfasiti toraks. Vairan limfe kulit dinding anterior toraks mengalir
masuk ke nodi limfatisi aksilaris anterior. Cairan limfe kulit dinding posterior toraks
mengalir masuk ke nodi limfatik aksilaris posterior. Cairan limfe profunda bagian
anterior spesium interkostalis mengalir ke nodi limfatik toraksika interna sepanjang
arteri atau vena torasika interna. Dari sini cairan limfe berjalan menuju dukus
toraksikus yang terletak di sisi kiri dan cairan limfe profunda bagian posterior spesium
interkostalis mengalir ke nodi limfatisi ointerkostalis posterior.
4. Kelompok pembulu limfe nadi mengikuti perjalanan arteri dan tersusun dalam 4
kelompok.
a. Pembulu limfe mengalirkan cairan ke kelenjar limfe sepanjang arteri atau vena
gastrika sinistra
b. Pembulu limfe yang mengalirkan cairan limfe ke kelenjar limfe sepanjang erteri
atau vena gastrika dekstra.
c. Pembulu limfe yang mengalirkan cairan limfe sepanjag A. gastrika brefis dan A.
gastroepiploika sinistra, pemasukan cairan limfe ke kelenjar limfe pada hilus
(tampuk) limpa.
d. Pembulu limfe mengalirkan cairannya ke nodi limfatisi gastrepiploika dekstra yang
terletak sepanjang bawah kurvatura mayor rambut.
5. Pembulu limfe dinding posterior abdomen berhubungan dengan aorta membentuk
rantai nodi limfatisi proaorta dan nadi limfatisi aorta lateralis kanan dan kiri.
a. Nodi limfatisi preaorta
b. Nodi limfatisi aorta lateralis mengalirkan cairan limfe dari ginjal dan kelenjar
suprarenalis dari testis pada pria dan dari ovarium, tuba uterina, serta fundus
uterus pada wanita. Dari pembuluh limfe profunda dinding abdomen dan nodi
limfatisi iliaka komunis, pembuluh eferen limfe membentuk duktus lumbalis
sinistra dan duktus lumbalis dekstra.
 Pembuluh limfe testes, berjalan ke atas melalui kanalis inguinalis melalui dinding
posterior abdomen untuk mencapai nodi limfatisi lumbalis yang terletak setinggi
vertebrae lumbalis dan di samping aorta.
 Pembuluh limfe penis, cairan limfe kulit penis dialirkan ke NL inguinalis medialis,
struktur profunda penis cairan limfenya mengalir ke nodi limfatisiliva interna.
 Pembuluh limfe dinding skrotum, dialirkan masuk ke NL inguinal superfisialis
medialis, aliran cairan limfe testis dan ep didimis berjalan ke atas dalam fenikulus
spermatikus dan berakhir pada NL lumbalis setinggi vertebrae lumbalis I. Selama
perkembangan testis bermigrasi dari dinding posterior atas abdomen turun
melalui kanalis inguinalis, masuk ke dalam skrotum disertai pembuluh darah dan
pembuluh limfenya.
 Pembuluh limfe kanalis ani, bagian atas mukosa aliran cairan limfenya ke atas
menuju nodi limfatisi sepanjang perjalanan A. rektalis superior. Bagian bawah
mukosa aliran cairan limfenya ke bawah menuju NL inguinalis superfisialis
medialis.

6. Nodi limfatisi inguinalis profundi. NL inguinalis profundi jumlahnya bervariasi.


Biasanya terdapat tiga buah tersebar sepanjang sisi medial V. femoralis bagian terminal,
yang paling atas terdapat dalam kanalis femoralis, menampung seluruh cairan limfe dari
NL inguinal superfisialis, melalui pembuluh limfe melintasi fasia kribriformis dari hiatus
safenus menampung cairan limfe dari dalam tungkai mengalir naik bersama arteri
melalui nodi poplitea. Pembuluh limfe eferen memasuki rongga abdomen melalui
kanalis femoralis dan mengalir ke dalam NL ilika eksterna.

7. Nodi limfatisi poplitea. Lebih kurang 6 pembuluh limfe yang tertanam dalam jaringan
lemak fosa poplitea, menerima pembuluh limfe superfisialis lateral kaki dan tungkai bawah
menyertai V. safena parva ke dalam fossa poplitea, menerima limfe dari sendi lutut dan
pembuluh limfe profunda yang menyertai A. tibialis anterior dan posterior.

KAPILER LIMFE
Sedikit cairan yang kembali ke sirkulasi melalui pembulu limfe, karena zat-zat
dengan berat molekul tinggi seperti protein tidak dapat lewat melalui pori-pori kapiler
vena tetapi dapat melalui kapiler limfe.
Suatu struktur khusus kapiler limfe memperhatikan sel-sel endotel.
Cairan interstisial bersama partikel yang disuspensi dapat mebunka katup tersebut
mengalir langsung ke dalam kapiler . bila sudah masuk, tidak dapat keluar dari kapiler
tersebut, pembulu limfe mempunyai katup pada palng ujung kapiler limfe.

LIMPA
Limpa terletak disebelah kiri abdomen di daerah hipogastrium kiri bawah dan pada
iga ke 9.10 dan 11, berdekatan dengan fundus abdomen dan permukaannya menyentuh
diafragma.
Prenkim limfa terdiri dari :
1. Pulpa putih
2. Pulpa merah
Berbagai jenis limfosit yang timbul dalam pulpa putih menyebar ke pulpa merah
degan gerakan amuba. Struktur limpa bergantung pada penyebaran pembulu darah.
Dinding sinus terdiri dari sel endotel khusus berbentuk batang dan memanjang
dalam dinding pembuluh darah, badan sel menonjol ke dalam lumen sinus. Sinus venosus
bermuara ke vena pulpa pembuluh besar, berdinding tipis yang dibatasi oleh jaringan
endotel, meninggalkan pulpa dan bergabung membentuk vena yang lebih besar
memasuki.traklekula sebagai vena trabekularis atau vena interlobularis, berjalan
menuju hilus kemudian bermuara ke vena lienalis.
Serat saraf tidak bermielin mengikuti arteri dan berakhir pada otot polos, dalam
simpai dan trabekula. Beberapa cabang saraf memasuki pulpa merah dan pulpa putih dan
kadang-kadang ditemukan serat bermielin yang mungkin berfungsi sensorik.
Limpa merupakan organ hemopoietik yang penting membentuk limfosit terutama
dibentuk oleh pulpa putih. Limpa mengeluarkan sel darah merah begitu cepat sehingga
dapat mengakibatkan krisis anemia, memisahkan plasma dan sel darah sehingga sel darah
sangat pekat dalam pulpa merah, menambahkan fungsi penyimpan organ limpa. Selain
itu limpa memantau sel darah merah, menahan dan mengubah fagositosis. Sel-sel ini dalam
sinus pulpa merah, sebagai organ perusak darah yang berasal dari hemoglobin. Apabila
diperlukan, besi dikeluarkan, digunakan dalam pembentukan hemoglobin baru. Zat
besi dipisahkan dari hemoglobin pada waktu penghancuran eritrosit, selanjutnya akan
dibentuk eritrosit yang baru.
Dari sumsum tulang eosinofil dilepaskan ke limpa untuk pematangannya sebelum
memasuki sirkulasi umum. Limpa menghasilkan zat anti (zat antibodi) untuk
memberikan kekebalan pada tubuh terhadap penyakit tertentu. Zat renik asing yang
beredar dalam darah dapat merangsang respons terhadap pembentukan zat antibodi.

D. FISIOLOGI VASKULER

Sistem vaskuler memiliki peranan penting pada fisilogi kardiovaskuler karena


berhubij~igan dengan mekanisme pemeliharaan lingkungan internal. Sirkulasi darah yang
berfungsi sebagai sistem transpor oksigen, karbon dioksida, makanan, hormon, dan obat-
obatan ke seluruh jaringan sesuai dengan kebutuhan metabolisme setiap sel dalam organ
tubuh. Sistem kardiovaskuler dipengaruhi oleh faktor perubahan volume cairan tubuh dan
hormon tertentu. Darah dari sistem vaskuler memiliki fungsi yang tidak sama dalam
menunjang sistw.m sirkulasi, karena tidak selamanya susunan histologis tiap bagian pem-
buluh darah dalam sistem vaskuler.

Bagian-bagian yang berperan dalam sirkulasi:

1. Arteri mentranspor darah di bawah tekanan tinggi ke jaringan, untuk ini arteri
mempunyai dinding yang tebal dan kuat karena darah mengalir dengan cepat pada
arteri.
2. Arteriola, adalah cabang kecil dari sistem arteri, berfungsi sebagai kendali ketika
darah dikeluarkan ke dalam kapiler. Arteriol mempunyai dinding otot yang kuat
dan mampu menutup arteriol serta melakukan dilatasi beberapa kali lipat,
mengubah aliran darah ke kapiler sebagai respons terhadap kebutuhan jaringan.
3. Kapiler. Untuk pertukaran cairan, zat makanan elektrolit, hormon dan bahan lainnya
antara darah dan cairan interstisial, dinding kapiler bersifat sangat tipis dan permeabel
terhadap molekul kecil.
4. Venula mengumpulkan darah dari kapiler secara bertahap bergabung menjadi
vena yang semakin besar.
5. Vena. Saluran penampung pengangkut darah dari jaringan kembali ke jantung,
karena tekanan pada sistem vena sangat rendah. binding vet sangat tipis akan
tetapi dindingnya mempunyai otot untuk berkontraksi. sehingga berfungsi sebagai
penampung darah ekstra yang dapat dikendalikan berdasarkan kebutuhan tubuh.

Sistem pembuluh darah yang berfungsi untuk tempat mengalirnya darah dari jantung
menyebar ke seluruh jaringan tubuh kembali ke jantung. Pembuluh darah aorta sampai di
arteriol disebut pembuluh darah arteri, sedangkan pembuluh darah venolus sampai dengan
vena kava disebut pembuluh darah vena.

Fungsi utama pembuluh darah arteri untuk mendistribusikan darah yang kaya
oksigen (OZ) dari jantung ke seluruh jaringan tubuh. Sedangkan fungsi utama pembuluh
darah vena mengalirkan darah yang membawa sisa metabolisme, dari' karbon dioksida
(CO2) dari jaringan kembali ke jantung. Pada peredaran darah paru pembuluh arteri
mengandung darah n? i s1Cin D, dan banyak CO2 sedangkan pembuluh vena mengandung
darah yang kaya oksigen (Oz).

Darah yang terdapat dalam pembuluh vena dapat dipompakan oleh jantung ke
dalam sistem pembuluh darah arteri, kemudian kembali ke sistem vena. Kontraksi dan
relaksasi jantung menimbulkan perubahan tekanan yang mampu memompakan darah dari
jantung dan kembali ke jantung. AIi =rari darah dalam arteri ditentukan oleh beberapa
faktor:

1. Perbedaan tekanan, cenderung mendorong cairan darah untuk mengalir dari suatu
tempat ke tempat lain yang mempunyai tekanan yang lebih rendah.
2. Tahanan pembuluh darah, memberikan hambatan terhadap jalannya aliran darah,
dinamika aliran darah terjadi bila perbedaan tekanan di antara kedua ujung pembuluh
darah.

ALIRAN DARAH

Kecepatan aliran darah ditentukan oleh perbedaan tekanan di antara kedua ujung
pembuluh darah, seperti tekanan aorta dengan tekanan atrium kanan, aliran menjadi
dinamis bergerak karena perubahan tekanan yang terdapat di dalam sirkulasi sistemik.
Pembuluh darah dan aliran arteri:

1. Aliran dalam pembuluh darah: Terbukanya katup aorta dan arteri pulmonalis pada
fase ejeksi sistolik mengakibatkan darah terdorong dari rongga ventrikel jantung.
Sesuai dengan denyut kontraksi jantung, semakin jauh dari jantung semakin kecil
pulsasi alirannya. Kecepatan aliran darah berbanding terbalik dengan luas
penampang total pembuluh darah, sehingga semakin distal maka aliran darahnya
semakin menurun dan terendah pada kapiler.
2. Tekanan darah arteri dapat dibedakan menjadi :
a. Tekana sistolik
b. Tekanan diastolic
c. Tekanan nadi
d. Tekanan darah rata-rata
3. Gelombang nadi. Kecepatan gelombang nadi lebih tingggi dibandingkan kecepatan
aliran darah.
4. Analisis gelombang nadi. Dengan palpasi pada arteri dapat dinilai gelombang nadi
untuk menilai fungsi sistim kardivaskuler.
5. Factor yang mempengaruhi tekaanan darah arteri. Tekana darah arteri dipengaruhi
oleh, kerja jantung, tekanan darah perifer kekenyalan dinding pembulu darah,
kekentalan darah dan jumlah darah yang bersirkulasi.
Pembuluh dan aliran vena:

1. Tekanan vena. Biasanya sangat rendah dan bahkan pada daerah vena kava hanya 4-
5 mmHg. Di daerah atrium`kanan dalam keadaan normal 2-4 mmHg dan kadang-
kadang mencapai -4 sampai -7 mm1=Ig'pada keadaan inspirasi.

2. Gelombang (denyut ) vena. Terjadi karena perubahan tekanan dan volume yang dapat
dilihat dengan pencatatan elektronik yang peka, yang diamati pada jugularis leher.

3. Kurva denyut vena. Seringkali dicatat pada vena jugularis eksterna dengan cara non-
invasif.

4. Kecepatan aliran darah vena. Pada keadaan normal aliran darah vena dan vena kecil
kontinu, sedangkan pada vena sedang dan besar terjadi fluktuasi aliran darah kembali.

5. Faktor yang memengaruhi kecepatan aliran darah. Aliran darah vena terjadi karena
efek pompa jantung, tekanan negatif rongga toraks, kontraksi otot rangka, dan adanya
katup-katup vena pada pembuluh darah vena di bagian bawah jantung.

6. Pengaruh gravitasi pada tekanan darah vena. Pada dasarnya perubahan tekanan darah
vena akibat pengaruh gravitasi sama dengan pada arteri.

MIKROSIRKULASI

Tempat pertukaran zat antara cairan intravaskuler dan ekstravaskuler (interstisial) adalah
kapiler. Faktor yang memengaruhi pertukaran zat dalam kapiler kecuali dinding kapiler,
arteriole, dan venolus karena dapat mengatur jumlah dan kecepatan aliran darah.
Rangkaian arteriole, kapiler, venolus disebut mikrosirkulasi. Perubahan tekanan
hidrostatik kapiler, dan aliran kapiler limfe dapat memengaruhi filtrasi dan absorpsi
berbagai zat melalui dinding kapiler.

Darah di dalam sistem arteri dapat mengalir dalam bentuk aliran laminar. Artinya,
kecepatan aliran di bagian tengah dan bagian tepi atau perifer yang dekat dengan
permukaan, bagian dalam dinding arteri adalah sama, aliran bersifat sejajar yang
konsentris ke arah yang sama. Jika ada suatu aliran darah di dalam arteri mengarah ke
segala jurusan, aliran demikian disebut aliran tui;bulen. Keadaan ini terjadi bila
pembuluh darah mengalami sumbatan, vasokonstruksi, atau permukaan endotel kasar dan
arteri bercabang.

TEKANAN DARAH
Selisih antara sistolik dan diastolik disebut tekanan (pulse pressure)
Tekana darah sangat penting dalam sistem sirkulasi darah dan selalu diperlukan untuk
daya dorong mengalirkan daraah di dalam arteri.
Pada perekaman tekanan di dalam sistem arteri, tampak kenaikan arteri sampai
pada puncaknya sekitar 120mmHg.

Pusat pengendalian tekanan darah yang terdapat pada dua per tiga prok simal
medulla oblongata dan sepertiga distal pons, pusat vasomotor bertanggung jawab atas
vasokonstriksi pembuluh darah. Jantung selalu berdenyut otomatis karena sel-selnya
memiliki potensial istirahat yang labil. Impuls atau rangsangan selalu terjadi dan
dikirim melalui jalur saraf di medula spinalis dan melalui saraf simpatis menuju ke organ
yang dipeliharanya, seperti jantung dan pembuluh darah.

PUSAT VASOMOTOR Presoreseptor dan Kemoreseptor


Serabut saraf aferen yang menuju pusat vasomotor berasal dari baroreseptor (rangsangan
ujung saraf) arteri, kemoreseptor (rangsangan zat kimia) aorta dan karotis dari korteks
serebri. Rangsangan pada pusat vasomotor dapat terjadi secara langsung seperti
penurunan kadar oksigen darah dan peningkatan karbon dioksida darah.
Aktivitas pusat vasomotor yang otomatis dapat dihambat oleh adanya rangsangan
yang datang dari presoreseptor dan kemoreseptor dengan mekanisme yang berbeda.
Rangsangan yang dikirim oleh presoreseptor (ujung saraf yang peka terhadap rangsangan
motorik) menyebabkan aktivitas vasokonstriktor dan kardioakselerator sehingga umpan
batik yang dikirim ke pusat vasomotor dapat bersifat negatif atau positif.
Di dalam pembuluh darah reseptor tekanan tersebut terdapat dalam lapisan
adventisia, sedangkan kemoreseptor pada sinus karotikus dan aortikus reseptor yang
terletak di lapisan media. Reseptor tersebut barn terangsang bila terdapat peningkatan
tekanan darah. Komereseptor terdapat di sinus karotikus, baru terangsang bila terdapat
perubahan kimia darah, seperti rendahnya kadar oksigen plasma, meningkatnya ion
hidrogen, menurunnya pH plasma darah, atau meningkatnya karbon dioksida.

Hipotalamus
Berperan dalam mengatur emosi dan tingkah laku yang berhubungan dengan pengaturan
kardiovaskuler. Rangsangan pada hipotalamus anterior menyebabkan penurunan tekanan
darah dan bradikardia, sedangkan rangsangan pada hipotalamus posterior dapat
meningkatkan tekanan darah dan takikardia. Hipotalamus dapat mengatur keseimbangan
suhu tubuh dengan memengaruhi pembuluh darah kulit atau pendinginan kulit.
Hipotalamus dapat menimbulkan vasokonstriksi pembuluh darah kulit. Pemanasan dapat
menimbulkan vasodilatasi pembuluh darah kulit untuk meningkatkan pelepasan panas.

SEREBRUM
Daerah korteks serebri, khususnya perangsangan area motorik, dapat memengaruhi
tekanan darah karena penurunan respon tekanan , vasodilatasi dan respon depressor dapat
meningkat.
Reseptor nyeri
Rasa nyeri merangsang area tekanan dan deresi pusat vasomotor, bergantung pada
intensitas dan lokasi stimulus, rasa nyeri yang hebat dan lama dapat pula menimbulkan
vasodilatasi dan penuruna kesadarn (pingsan).
Reflesk pulmonal
Inflasi paru akan menimbulkan vasodilatasi siskemik dan penurunan tekanan darah
arteri. Sebaiknya, kolaps paru akan menimbulkan vasokonstriksi siskemik.
System humoral
Pengaturan tekana darah dapat terjadi dengan memengaruhi factor yang menjadi
komponen tekanan darah (seperti curah jantung) dengan berbagai factor yang
memengaruhinya disaru pihak dan tahana perifer total dengan segala factor yang
memengaruhi di pihak lain.
Secara umum bahan kimia mempengaruhi tekanan darah pada system tahana perifer
total seperti bradikinin, histamine, serotonin yang menyebabkan pertambahan diameter
penampang pembulu darah arteriola.

Pengendalian tekanan darah berlangsung secara lambat menggantikan posisi


refleks saraf yang telah gagal menunaikan fungsinya dalam pengendalian tekanan darah
secara cepat. Pengendalian ini berlangsung secara terintegrasi dengan fungsi-fungsi
organ yang ti?rkait seperti kardiovaskuler dan ginjal, fungsi hormon yang lain seperti
aldosteron pada sa of `simpatis. Pengendalian tekanan darah yang dilakukan oleh renin-
angiotensin diawali dengan disekresinya bahan renin oleh glomerular. Sel yang terdapat
di bagian dinding arteriola aferen mengadakan penyatuan dengan makula densa (pe-
nebalan tubulus kontortus), bersentuhan dengan arteriol aferen sebelum masuk ke
dalam glomerulus dinding tubulus distalis.

SISTEM HEMODINAMIK
Pengaturan tekanan darah lebih cenderung diperankan oleh adanya perubahan-
perubahan tekanan osmotik dan tekanan hidrostatik baik intravaskuler maupun
ekstravaskuler. Peran utama dilakukan oleh kadar natrium yang secara langsung
memengaruhi nilai osmotik cairan, sehingga akan memengaruhi proses sekresi
aldosteron dan hormon antidiuretik. Selanjutnya hormon tersebut memengaruhi
volume darah dan tekanan darah.
Perubahan tekanan osmotik dan hidrostatik juga memengaruhi tekanan darah. Pengaruh
langsung peningkatan volume darah oleh suatu tindakan pemberian cairan intravena,
pada peristiwa perdarahan, mampu mempertahankan tekanan darah dalam Batas
normal. Dalam mengatur tekanan darah sistem hemodinamik diperankan oleh adanya
perubahan tekanan osmotik dan tekanan hidrostatik baik intravaskuler maupun
ekstravaskuler. Peran utama oleh kadar natrium yang secara langsung memengaruhi
nilai osmotik cairan, sehingga memengaruhi proses sekresi aldosteron dan hormon
antidiuretik. Selanjutnya kedua hormon ini akan memengaruhi volume darah dan
tekanan darah.
SISTEM LIMFATIK
Komposisi sistem limfatik hampir sama dengan komposisi kimia plasma darah dan
mengandung sejumlah besar limfosit yang mengalir sepanjang pembuluh limfe untuk
masuk ke dalam aliran darah. Pembuluh limfe yang mengaliri usus disebut lakteal karena
bila lemak diabsorpsi dari usus sebagian besar lemak melewati pembuluh limfe. Sepanjang
pergerakan, limfe sebagian rhengalami tarikan oleh tekanan negatif di dalam dada,
sebagian lagi didorong oleh kontraksi otot.

Cairan Limfe
Konsentrasi protein di dalam cairan intrastisial rata-rata 2 gram/100 ml. konsentrasi
protein cairan limfe yang mengalir kebanyakan dari jaringan perifer mendekati nilai ini atau
lebih pekat.
Factor-faktor yang menentukan kecepatan aliran limfe :
1. Tekanan cairan intrstisial
2. Pompa limfe

Kekuatan utama yang menentukan apakah cairan bergerak keluar dari darah masuk ke
dalam cairan interstisial atau ke arah yang berlawanan akan ditentukan oleh empat faktor:
1. Tekanan kapiler yang cenderung mendorong cairan keluar melalui membran kapiler.
2. Tekanan cairan interstisial mendorong cairan ke dalam melalui membrane kapiler. Bila
positif terdorong ke dalam, bila negatif terdorong keluar.
3. Tekanan osmotik koloid plasma cenderung menimbulkan osmosis cairan ke dalam
melalui membran kapiler.
4. Tekanan osmotik koloid cairan interstisial cenderung menimbulkan osmosis cairan
keluar melalui membran kapiler.
Fungsi pembuluh limfe:
1. Mengembalikan cairan dan protein dari jaringan ke dalam sirkulasi darah.
2. Mengangkut limfosit dan kelenjar limfe ke sirkulasi darah.
3. Membuat lemak yang sudah diemulsi dari usus ke sirkulasi darah. Susunan limfe
yang melaksanakan ini adalah saluran lakteal.
4. Menyaring dan menghancurkan mikroorganisme.
5. Menghasilkan zat antibodi untuk melindungi terhadap kelanjutan infeksi.