Anda di halaman 1dari 7

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis, akan membahas mengenai kesenjangan antara


teori dan praktek asuhan keperawatan yang di lakukan pada Ny “F” umur
56 tahun dengan asma bronchial di ruang X Rumah Sakit XX, selama 3
hari perawatan yaitu tanggal 18-20 november 2017. Pelaksanaan asuhan
keperawatan ini menggunakan proses keperawatan dengan lima tahap
yaitu : Pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi
dan evaluasi keperawatan.
A. Pengkajian
Penulis memperoleh data pada saat pengkajian melalui
metode wawancara langsung kepada pasien dan keluarga, tenaga
medis dan melihat secara langsung keadaan umum pasien.
Berdasarkan data-data pengkajian penulis mendapatkan data Ny “F”
berumur 56 tahun dengan diagnosa medik saat masuk asma bronchial.
Pasien mengatakan 2 hari sebelum masuk Rumah Sakit pasien
mengalami flu, sesak bertambah berat di sertai batuk berlendir dan
tidak bisa tidur serta nyeri dada di saat batuk. Pasien juga sulit
berbicara karena merasa sesak. Pasien mengatakan ± 4 tahun yang
lalu pasien pernah di rawat di Rumah sakit Labuang Baji karena sakit
asma. Pasien juga mengatakan pernah di rawat kembali di Rumah
Sakit Labuang baji ± 2 tahun yang lalu dengan penyakit asma, namun
lebih 1 bulan yang lalu ia kembali mengalami asma dan di rawat di
Rumah sakit stella Maris. Pasien mengatakan sesak nafas timbul di
saat pasien membersihkan rumahnya lalu terpapar dengan debu.
Keluarga pasien mengatakan Ny “ F” memiliki penyakit keturunan
karena ayah dari Ny “ F” meninggal karena penyakit asma.
Pada saat pengkajian penulis menemukan tanda dan gejala yang di
dapatkan pada pasien yaitu sesak, batuk berlendir, nyeri dada, susah

81
82

tidur, nafsu makan menurun, pasien tampak cemas dan pasien tidak
bisa melakukan aktivitas serta pada saat auskultasi terdengar suara
tambahan yaitu wheezing pada saat ekspirasi dan terdengar pada
bagian apeks.
Tanda gejala lain berdasarkan hasil laboratorium didapatkan
leukosit 11,4 ribu/Ul hal ini kemungkinan terjadi karena kondisi pasien
yang mengalami asma bronchitis, dibuktikan dengan hasil thoraks
dimana dikatakan kesan bronchitis asmatis, terpasang oksigen nasal
kanul sebanyak 3 liter/menit. Dari data yang di peroleh dari pasien
maupun keluarga pasien semua manifestasi klinik sesuai denga teori
yang di kemukakan sebelumnya.

B. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data yang di peroleh melalui pengkajian, penulis
mengangkat 4 (empat) diagnosa keperawatan sementara pada teori
terdapat 7 diagnosa keperawatan, adapun diagnosa keperawatan yang
ditemukan pada kasus Ny “F”, yaitu :
1. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan bronkospame.
Diagnosa ini di angkat karena pasien tampak batuk di sertai lendir,
sesak nafas, pernafasan cepat dan dangkal serta pada saat
melakukan auskultasi di dapatkan bunyi suara nafas tambahan yaitu
wheezing.
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan hiperventilasi.
Diagnosa ini diangkat oleh penulis karena data bahwa pasien tetap,
sesak napas dalam kondisi istirahat, kemudian data RBC 4,4 jt/UL,
HB 11,8 gr/dl dan HCT 35,2%, namun tidak dijumpai kondisi
sianosis maupun kolaps paru.
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik
(sesak, batuk, nyeri dada saat batuk). Diagnosa ini di angkat karena
pada saat pengkajian pasien mengatakan susah tidur, selama sakit
tidur malamnya ± 3 jam dan tidur siangnya ± 1 jam dan pasien selalu
83

terbangun saat tidur karena pasien merasakan sesak, nyeri dada di


saat batuk dan di sertai lendir, pasien juga mengatakan tidak
merasa segar saat bangun, ekspresi wajah pasien tampak
mengantuk, tampak pasien sering menguap dan pasien tampak
batuk.
4. Kecemasan/ansietas berhubungan dengan perubahan status
kesehatan/ancaman kehilangan. Diagnosa ini di angkat karena pada
saat pengkajian pasien mengatakan dirinya tidak berguna lagi,
pasien juga selalu merasa kalau dirinya tidak mampu lagi mencari
nafkah untuk keluarganya dan ia selalu merasa keluarganya tidak
selalu memperhatikannya, pasien juga sebelumnya pernah
menderita asma.
Bila di bandingkan dengan teori, ada beberapa kesenjangan
yang terjadi dalam pengangkatan diagnosa keperawatan yang tidak
di dapatkan pada kasus nyata. Hal ini di karenakan tidak di dukung
dengan data yang di peroleh dari pasien berdasarkan
keluhan-keluhan pasien di antaranya yaitu :
a. Gangguan pertukaran gas berhubungan penurunan suplai
oksigen, kerusakan alveoli. Diagnosa ini saya tidak angkat
karena pasien tidak tampak sianosis walaupun pada saat
pengkajian pasien sesak nafas tetapi pasien segera di bantu
dengan pemberian oksigen sehingga tidak terjadi gangguan
pengiriman oksigen ke jaringan.
b. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai darah dan kebutuhan oksigen. Suplai dan
kebutuhan oksigen pasien sudah teratasi dengan pemberian
oksigen dan pasien juga masih mampu miring kiri dan miring
kanan tanpa bantuan.
c. Kurang pengetahuan berhubungan dengan informasi yang tidak
adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan. Di dalam
setiap intervensi keperawatan penulis memberikan penyuluhan
84

yang bertujuan untuk menambah pengetahuan orang tua dan


keluarga.
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan anoreksia, mual/muntah, dispnea, produksi
sputum. Pasien mengatakan nafsu makan berkurang kadang
hanya menghabiskan ½ porsi dari makanan yang disediakan
tetapi pasien sering makan sedikit-sedikit tapi sering. BB : 75 kg,
Hasil IMT pasien 28,45 kg/m2.
Penulis mengangkat 1 diagnosa keperawatan yang tidak
terdapat pada teori yaitu ketidakefektifan pola napas
berhubungan dengan hiperventilasi. Hal ini penting diangkat oleh
penulis berdasarkan tanda dan gejala yang ditemukan serta
berdasarkan berbagai pemeriksaan penunjang yang mendukung
diangkatnya diagnosa ini. Hal ini untuk mengatasi masalah sesak
pasien yang tidak hilang walaupun dengna kondisi istirahat dan
mencegah terjadinya kolaps alveoli yang dapat bermanifestasi
pada gangguan pertukaran gas.

C. Perencanaan keperawatan
Setelah melalui proses pengkajian dan penentuan masalah
keperawatan. Selanjutnya penulis memuat suatu perencanaan untuk
mengatasi masalah yang timbul, perencanaan yang di lakukan melalui
tindakan mandiri meliputi :
1. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan bronkospame.
Pada diagnosa ini penulis membuat intervensi sesuai keadaan
pasien meliputi tindakan mandiri perawat yaitu kaji frekuensi
kedalaman dan bunyi pernafasan, auskultasi bunyi nafas dan
berikan posisi semi fowler. Tindakan observatif perawat yaitu
observasi TTV (TD, N, S, P) tindakan kolaboratif yaitu kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian obat bronkodilator.
85

2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan hiperventilasi.


Pada diagnosa ini terdapat 7 intervensi di antaranya adalah kaji
adanya sianosis, pernapasan cuping hidung, palpitasi dan pusing,
auskultasi bunyi napas dan catat adanya bunyi napas tambahan
misalnya wheezing, ajarkan pasien latihan napas dalam, bantu
pasien dalam mengubah posisi setengah duduk (semi fowler),
bantu pasien mengatasi gelisah, bantu pasien latihan napas
abdomen atau mulut., kolaborasi dengan dokter dalam pemberian
O2 3 liter dan obat-obatan.
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik
(sesak, batuk, nyeri dada saat batuk). Pada diagnosa ini penulis
membuat intervensi sesuai dengan keadaan pasien meliputi
tindakan mandiri perawat yaitu berikan posisi yang
menyenangkan, hindari tindakan saat pasien tidur. Tindakan
observatif yaitu kaji pola tidur kualitas dan kuantitas sehari-hari.
Tindakan penyuluhan yaitu ciptakan lingkungan yang tenang dan
nyaman, selalu melibatkan keluarga untuk selalu mendampingi
pasien.
4. Kecemasan/ansietas berhubungan dengan perubahan status
kesehatan/ancaman kehilangan. Pada diagnosa ini penulis
membuat intervensi sesuai dengan keadaan pasien yang meliputi
tindakan mandiri perawat yaitu mengidentifikasi dan mengetahui
persepsi pasien terhadap penyakitnya, membantu pasien
mengekspresikan perasaannya terhadap penyakit yang di
deritanya, menjelaskan pada pasien tentang penyakitnya dan
selalu mendorong pasien untuk selalu mendekatkan diri pada
Tuhan. Tindakan observatif perawat yaitu observasi TTV (TD, N,
S, P).
86

D. Pelaksanaan keperawatan
Pelaksanaan asuhan keperawatan di lakukan selama 3 hari
dari tanggal 18-20 maret 2013 selama 3 kali/24 jam di ruang Yoseph
Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Intervensi dapat di laksanakan
karena adanya kerjasama yang baik dari pasien, keluarga dan tim
kesehatan lainnya.

Dari ke 4 diagnosa keperawatan yaitu Dp I : ketidakefektifan


jalan nafas berhubungan dengan bronkospame, Dp II : ketidakefektifan
pola napas berhubungan dengan hiperventilasi. Dp III : gangguan pola
tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik(sesak,batuk,nyeri
dada saat batuk), Dp IV : kecemasan/ansietas berhubungan dengan
perubahan status kesehatan/ancaman kehilangan, semua intervensi
telah di implementasikan kepada pasien.

E. Evaluasi
Tahap ini merupakan tahap akhir dari asuhan keperawatan
yang mencakup tentang apakah hasil yang di harapkan tercapai atau
tidak. Pada bab ini penulis mencantumkan evaluasi keperawatan pada
Ny “F” yaitu :
Dp I : ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan
bronkospame, dimana pasien mengatakan tidak sesak lagi,
batuk berkurang, nyeri dada tidak ada, bunyi nafas tambahan
yaitu wheezing sehingga masalah jalan nafas ini mulai teratasi.

Dp II : ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan


hiperventilasi. Diagnosa ini teratasi hal ini dibuktikan dengan
data pasien sesaknya berkurang dengan kondisi istirahat.
Dp III : Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan
fisik (sesak, batuk, nyeri dada saat batuk) dimana sudah
menunjukkan keadekuatan pola tidur dimana kualitas dan
kuantitas tidur pasien meningkat seiring dengan berkurangnya
87

keluhan batuk, sesak dan nyeri dada saat batuk sehingga


masalah pola tidur ini teratasi.
Dp IV : kecemasan/ansietas berhubungan dengan perubahan status
kesehatan/ancaman kehilangan.di mana pasien mengatakan
tidak cemas lagi tentang penyakitnya, pasien selalu merasa di
perhatikan oleh keluarganya, tingkat kecemasan pasien sudah
teratasi.