Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tidak ada cara yang unik untuk memulai sebuah organisasi pada jalur
menuju peningkatan sensitivitas lingkungan. Respon lingkungan adalah semacam
isu yang tidak harus segera dilimpahkan ke beberapa bagian dari organisasi. Krisis
lingkungan itu sendiri muncul dari kegagalan dasar atau struktur organisasi, etika
bisnis, kerangka ekonomi dan sistem akuntansi untuk mengenali 'alam'. Semua
kehidupan, jelas berasal dari dan merupakan bagian dari 'lingkungan alam', Sama
seperti kesehatan, keselamatan, dan menghormati karyawan satu ini telah menjadi
prasyarat untuk organisasi yang bertanggung jawab, demikian juga kepedulian
lingkungan dianggap sebagai elemen penting dari manajemen yang bertanggung
jawab.
Pada akuntansi konvensional, pusat perhatian yang dilayani perusahaan
adalah stockholders dan bondholders sedangkan pihak yang lain sering diabaikan.
Dewasa ini tuntutan terhadap perusahaan semakin besar. Perusahaan diharapkan
tidak hanya mementingkan kepentingan manajemen dan pemilik modal (investor
dan kreditor) tetapi juga karyawan, konsumen, serta masyarakat. Perusahaan
mempunyai tanggung jawab sosial terhadap pihak-pihak diluar manajemen dan
pemilih modal. Perusahaan kadangkala melalaikannya dengan alasan bahwa
mereka tidak memberikan kontribusi terhadap kelangsungan hidup perusahaan.
Hai ini disebabkan hubungan perusahaan dengan lingkungannya bersifat non
reciprocal yaitu transaksi antara keduanya tidak menimbulkan prestasi timbal
balik.
Tuntutan terhadap perusahaan untuk memberikan informasi yang
transparan, organisasi yang akuntabel serta tata kelola perusahaan yang semakin
bagus (Good Corporate Governance) semakin memaksa perusahaan untuk
memberikan informasi mengenai aktivitas sosialnya. Masyarakat membutuhkan
informasi mengenai sejauh mana perusahaan sudah melaksanakan aktivitas
sosialnya sehingga hak masyarakat untuk hidup aman, tentram, dan kesejahteraan
karyawan dapat terpenuhi.
Saat ini masyarakat mulai peduli lingkungan. Pelaporan komponen
lingkungan (seperti: CSR) merupakan komponen wajib dan bukan lagi pilihan
bagi perusahaan. Beberapa perusahaan seperti: Body Shop telah mengelompokkan
diri dengen membuat komitmen jangka panjang terhadap CSR. Pada contoh
beberapa perusahaan ini menunjukkan bahwa bisnis dan masyarakat mempunyai
hubungan saling ketergantungan. Bisnis memerlukan masyarakat sebagai pembeli
dan pemberi dana dan masyarakat juga perlu bisnis untuk produk-produk yang
dihasilkannya. Hubungan bisnis dan masyarakat dapat dimasukkan sebagai unsur-
unsur dalam strategi perusahaan untuk berkompetisi.
Pada era pergerakan perusahaan kearah green company, akuntan menjadi
salah satu faktor penting. Karena akuntan yang bertugas menyajikan setiap
informasi operasional perusahaan ke dalam bentuk laporan keuangan. Jika
perusahaan memasukkan lingkungan ke dalam operasionalnya, maka pelaporan
keuangannya pun harus memasukkan unsure lingkungan. Oleh karena itu,
pelaporannya harus berbasis pada environmental accounting.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalah dalam
makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Perkembangan dan kebijakan-kebijakan tentang lingkungan
2. Alasan penerapan Green Organization
3. Faktor eksternal yang memengaruhi Green Organization
4. Faktor internal yang memengaruhi Green Organization
5. Peran akuntan dalam Green Organization

C. Tujuan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dalam makalah ini
adalah untuk:
1. Mengetahui perkembangan dan kebijakan-kebijakan tentang lingkungan
2. Mengetahui alasan penerapan Green Organization
3. Mengetahui faktor eksternal yang memengaruhi Green Organization
4. Mengetahui faktor internal yang memengaruhi Green Organization
5. Mengetahui pera akuntan dalam Green Organization
BAB II
PEMBAHASAN

A. Perkembangan dan kebijakan-kebijakan tentang lingkungan


Akuntansi lingkungan merupakan istilah yang berkaitan dengan kebijakan
memasukkan biaya lingkungan ke dalam praktik akuntansi perusahaan atau
lembaga pemerintah. Biaya lingkungan adalah dampak yang timbul dari sisi
keuangan maupun non keuangan. Biaya lingkungan harus dipikul sebagai akibat
dari kegiatan yang memengaruhi kualitas lingkungan. (Ikhsan, 2008)
Penggunaan konsep akuntansi lingkungan bagi perusahaan dapat
mendorong kemampuan untuk meminimalisasi persoalan-persoalan lingkungan
yang dihadapinya. Banyak perusahaan besar industri dan jasa yang kini
menerapkan akuntansi lingkungan, supaya dapat meningkatkan efisiensi
pengelolaan lingkungan dengan melakukan penilaian kegiatan lingkungan dari
sudut pandang biaya dan maanfaat atau efek.
Konsep green (environmental) accounting – akuntansi lingkungan
sebenarnya sudah mulai berkembang sejak tahun 1970-an di Eropa. Akibat
tekanan lembaga-lembaga bukan pemerintah dan meningkatnya kesadaran
lingkungan di kalangan masyarakat yang mendesak agar perusahaan-perusahaan
bukan sekedar berkegiatan industry demi bisnis saja, tetapi juga menerapkan
pengelolaan lingkungan. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi pengelolaan
lingkungan dengan melakukan penilaian kegiatan lingkungan dari sudut pandang
biay (environmental costs) dan manfaat atau efek (economic benefit), serta
menghasilkan efek perlindungan lingkungan (environmental protection). Secara
sigkat, green accounting dapat memberikan informasi mengenai sejauh mana
organisasi atau perusahaan memberikan kontribusi positif maupun negative
terhadap kualitas hidup manusia dan lingkungannya.
Akuntansi merupakan suatu ilmu yang dipengaruhi dan memengaruhi
lingkungannya. Eksistensinya tdak bebas nilai terhadap perkembangan masa.
Metode-metode pembukuan juga terus berkembang mengikut kompleksitas bisnis
yang semakin tinggi. Ketika kepedulian terhadap lingkungan mulai mendapat
perhatian masyarakat, akuntansi berbenah diri agar siap menginternalisasi erbagai
eksternalitas. Belkoui dan Ronald (1992) dalam Idris (2012) menjelaskan bahwa
budaya merupakan faktor utama yang mempengaruhi perkembangan struktur
bisnis dan lingkungan sosial, yang pada akhirnya akan memengaruhi akuntansi.
Konsekuensi dari wacana akuntansi sosial dan lingkungan ini pada akhirnya
meunculkan konsep Socio Economic Environmental Accounting (SEEC) yang
sebenarnya merupakan penjelasan singkat pengertian Triple Bottom Line, yaitu
pelaporan akuntansi ke publik tidak saja mencakup kinerja ekomoni tetapi juga
kinerja lingkungan dan sosialnya.
Bell dan Lehman (1999) mendefinisikan akuntansi lingkungan
sebagai: :Green accounting is one of the contemporary concepts in accounting
that support the green movement in the company or organization by recognizing,
quantifying, measuring and disclosing the contribution of the evronment to the
business process”. Berdasarkan definisi green accounting tersebut maka bisa
dijelaskan bahwa green accounting merupakan akuntansi yang di dalamnya
mengidentifikasi, mengukur, menilai, dan mengungkapkan biaya-biaya berkait
dengan aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan lingkungan (Anela, 2012).
Melalui penerapan green accounting maka diharapkan lingkungan akan
terjaga kelestariannya, karena dalam menerapkan green accounting maka
perusahaan akan secara sukarela mematuhi kebijakan pemerintah tempat
perusahaan tersebut menjalankan bisnisnya. Sejak didengungkan istilah global
warming, setiap negara berusaha untuk mengurangi berbagai ancaman yang
ditimbulkan oleh masalah-masalah lingkungan hidup. Hal inilah yang menjadi
salah satu aspek pendorong munculnya akuntansi hijau (green accounting).
Green Accouting adalah proses akuntansi yang mengintegrasikan
pengakuan, pengukuran nilai, pencatatan, peringkasan, dan pelaporan informasi
keuangan, sosial dan lingkungan secara terpadu dalam satu paket pelaporan
akuntansi, yang berguna bagi para pemakai dalam penilaian dan pengambilan
keputusan ekonomi dan non ekonomi. Laporan akuntansi tidak hanya menyajikan
informasi keuangan tetapi juga informasi sosial dan lingkungan secara
terintegrasi. Tujuan dari green accounting adalah berusaha untuk mengurangi efek
negatif dari kegiatan ekonomi dan sistem pada lingkungan hidup.
Tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility
(CSR) adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya (namun bukan hanya),
perusahaan adalah memiliki berbagai bentuk tanggung jawab terhadap seluruh
pemangku kepentingannya, yang di antaranya adalah konsumen, karyawan,
pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional
perusahaan yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Oleh karena
itu, CSR berhubungan erat dengan “pembangunan berkelanjutan“, yakni suatu
organisasi, terutama perusahaan, dalam melaksanakan aktivitasnya harus
mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan dampaknya dalam aspek
ekonomi, misalnya tingkat keuntungan atau deviden, tetapi juga harus menimbang
dampak sosial dan lingkungan yang timbul dari keputusannya itu, baik untuk
jangka pendek maupun untuk jangka yang lebih panjang.
Kepedulian kepada masyarakat sekitar/relasi komunitas dapat diartikan
sangat luas, namun secara singkat dapat dimengerti sebagai peningkatan
partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai
upaya kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas. CSR bukanlah
sekadar kegiatan amal, melainkan CSR mengharuskan suatu perusahaan dalam
pengambilan keputusannya agar dengan sungguh-sungguh memperhitungkan
akibat terhadap seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) perusahaan,
termasuk lingkungan hidup. Hal ini mengharuskan perusahaan untuk membuat
keseimbangan antara kepentingan beragam pemangku kepentingan eksternal
maupun kepentingan internal.
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, ketika sudah ada beberapa
kasus pencemaran lingkungan oleh perusahaan atau industri dan sudah ada
undang-undang yang mengaturnya, maka seberapa besar perusahaan-perusahaan
sudah merespon peraturan dan mendukung untuk melindungi lingkungan.
Kepedulian perusahaan akan lingkungan dan masyarakat sekitar yang biasa kita
sebut sebagai Corporate Social Responsibility (CSR) dapat diartikan sangat luas.
Namun, secara singkat, kepedulian tersebut dapat dipahami sebagai tindakan
perusahaan dalam membuat keseimbangan antar pemangku kepentingan.
Memang dengan melaksanakan CSR akan menimbulkan besarnya biaya
yang dikeluarkan dalam aktivitas CSR tersebut, dengan sendirinya dari sisi
akuntansi akan menimbulkan konsekuensi pada pengakuan, pengukuran,
pencatatan, pelaporan dan pengungkapan akuntansi atas biaya lingkungan
(environmental costs). Sistem akuntansi yang menyajikan akun-akun terkait biaya
lingkungan disebut sebagai green accounting. Green accounting didasari oleh
konsep externalities, yakni suatu konsep yang mengkhususkan pada telaah
mengenai dampak aktivitas ekonomi yang seharusnya dihitung dan dibuku kan
dalam catatan keuangan.
Namun, dengan adanya akuntansi hijau, biaya tersebut dapat diakui
sebagai aset berupa investasi tanggung jawab sosia llingkungan, oleh karena itu,
keuntungan perusahaan tidak akan berkurang oleh biaya dalam menjalankan
operasi bisnis yang ramah lingkungan justru aset perusahaan akan bertambah,
biaya CSR juga dapat diperlakukan serupa, sehingga pemberian CSR dari
perusahaan diharapkan akan meningkat dengan adanya penggunaan akuntansi
hijau. Biaya lingkungan dapat dianggap memberikan manfaat ekonomi bagi
perusahaan di masa yang akan datang, pemberian CSR juga biaya ramah
lingkungan lain dari perusahaan dalam jangka waktu panjang akan meningkatkan
citra dan nama baik bagi Perusahaan, yang pada akhirnya akan membawa manfaat
ekonomi positif bagi perusahaan.
Kebijakan-kebijakan yang terkait dengan Green Accounting adalah:
1. Undang-Undang No.23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup.
Undang-Undang ini mengatur tentang kewajiban setiap orang yang berusaha
atau berkegiatan untuk menjaga, mengelola, dan memberikan informasi yang
benar dan akurat mengenai lingkungan hidup. Akibat hukum juga telah
ditentukan bagi pelanggaran yang menyebabkan pencemaran dan perusakan
lingkungan hidup.

2. Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen


Undang-Undang ini banyak mengatur tentang kewajiban dan tanggung jawab
perusahaan terhadap konsumennya. Perlindungan konsumen ini bertujuan
untuk menumbuhkan kesadaran corporate tentang pentingnya kejujuran dan
tanggung jawab dalam perilaku berusaha.
3. Peraturan Bank Indonesia No. 7/2/PBI/2005 tentang penetapan peringkat
kualitas aktiva bagi bank umum
Dalam aturan ini aspek lingkungan menjadi salah satu syarat dalam pemberian
kredit. Setiap perusahaan yang ingin mendapatkan kredit perbankan, harus
mampu memperlihatkan kepeduliannya terhadap pengelolaan lingkungan.
Standar pengukur limbah perusahaan yang dipakai adalah PROPER (Program
Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan). Dengan menggunakan lima
peringkat (hitam, merah, biru, hijau, dan emas) perusahaan akan diperingkat
berdasarkan keberhasilan dalam pengelolaan limbahnya.
4. Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuagan No:
KEP-134/BL/2006 tentang kewajiban penyampaian laporan tahunan bagi
emiten atau perusahaan publik.
Undang-Undang ini menagtur mengenai kewajiban laporan tahunan yang
memuat Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) harus menguraikan
aktivitas dan biaya yang dikeluarkan berkaitan dengan tanggung jawab sosial
perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan.
5. Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.
Dalam Undang-Undang ini diatur kewajiban bagi setiap penanam modal
berbentuk badan usaha atau perorangan untuk melaksanakan tanggung jawab
sosial perusahaan, menjaga kelestarian lingkungan hidup dan menghormati
tradisi budaya masyarakat sekitar. Pelanggaran terhadap kewajiban tersebut
daoat dikenai sanksi berupa peringatan tertulis, pembatasan, pembekuan, dan
pencabutan kegiatan dan/atau fasilitas penanaman modal.
6. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Undang-Undang ini mewajibkan bagi perseroan yang terkait dengan sumber
data alam untuk memasukkan perhitungan tanggung jawab sosial dan
lingkungan sebagai biaya yang dianggarkan secara patut dan wajar.
Pelanggaran terhadap hal tersebut akan dikenakan sanksi sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
7. Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah
Badan Usaha Milik Negara dapat menyediakan pembiayaan dari penyisian
bagian laba tahunan yang dialokasikan kepada Usaha Mikro dan Kecil dalam
bentuk pemberian pinjaman, penjaminan, hibah, dan pembiayaan lainnya.
8. Peraturan Pemerintah No.47 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Tanggung Jawab
Sosial dan Lingkungan Perseroan (TJSLP)
Peraturan ini mendukung Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 yang mana
mulai tahun 2012 Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan Perseroaan
(TJSLP) sudah menjadi kewajiban perseroan.
9. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 51/POJK.03/2017 Tentang
Penerapan Keuangan Berkelanjutan Bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten,
dan Perusahaan Publik
Peraturan ini menyebutkan bahwa Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
(TJSL) adalah komitmen untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi
berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang
bermanfaat, baik bagi perseroaan sendiri, komunitas setempat, maupun
masyarakat pada umumnya. Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)
adalah laporan yang diumumkan kepada masyarakat yang memuat kinerja
ekonomi, keuangan, sosial, dan lingkungan hidup suatu LJK, Emiten, dan
Perusahaan Publik dalam menjalankan bisnis berkelanjutan.
10. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 (Penyajian Laporan
Keuangan), PSAK No. 5 (segmen operasi), PSAK No. 25 (Kebijakan
akuntansi, perubahan estimasi akuntansi dan kesalahan), PSAK No. 32
(Akuntansi Kehutanan), PSAK No. 33 (Akuntansi Pertambangan Umum),
PSAK No. 57 (Provisi, liabilitas kontinjensi dan aste kontinjensi), PSAK No.
64 (Eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral)
Manajemen lingkungan adalah aspek-aspek dari keseluruhan fungsi
manajemen (termasuk perencaan) yang menentukan dan membawa pada
implementasi kebijakan lingkungan (BBS 7750, dalam ISO 14001 oleh Strum,
1998). Manajemen lingkungan selama ini sebelum ada adanya ISO 14001 berada
dalam kondisi terpecah-pecah dan tidak memiliki standar tertentu dari satu daerah
dengan daerah lain, dan secara internasional berbeda penerapannya antara negara
satu dengan lainnya. Praktik manajemen lingkungan yang dilakukan secara
sistematis, procedural, dan dapat diulang disebut dengan sistem manajemen
lingkungan (EMS).
Menurus ISO 14001 (ISO 14001, 1996) Sistem manajemen lingkungan
(EMS) adalah that part of the overall management system which includes
organizational structure planning, activities, responsibilities, practices,
procedures, processes, and resources for developing, implementing, achieving,
reviewing, and maintaining the environmental policy.
Jadi disimbulkan bahwa menurut ISO 14001, EMS adalah bagian dari
sistem manajemen keseluruhan yang berfungsi menjaga dan mencapai sasaran
kebijakan lingkungan. Sehingga EMS memiliki elemen kunci yaitu pernyataan
kebijakan lingkungan dan merupakan bagian dari sistem manajemen perusahaan
yang lebih luas.
Berdasarkan cakupannya, terdapat pendapat yang membagi manajemen
lingkungan dalam 2 macam yaitu:
1. Lingkungan internal yaitu didalam lingkungan pabrik/lokasi fasilitas produksi,
yaitu yang termasuk didalamnya kondisi lingkungan kerja, dampak yang
diterima oleh karyawan dalam lingkungan kerjanya, fasilitas kesehatan, APD,
asuransi pegawai, dan lainnya
2. Lingkungan eksternal yaitu lingkungan diluar lokasi pabrik / fasilitas produksi,
yaitu segala hal yang dapat menimbulkan dampak pada lingkungan
disekitarnya, termasuk masyarakat disekitar lokasi pabrik, dan pihak yang
mewakilinya (Pemerintah, pelanggan, investor/pemilik). Aktivitas yang terkait
yaitu komunikasi dan hubungan dengan masyarakat, usaha-usaha penanganan
pembuangan limbah ke saluran umum, perhatian pada keseimbangan ekologis
dan ekosistem di sekitar pabrik, dan lainnya.
Yang dimasud dengan lingkungan diatas adalah yang dicakup dalam
sistem manajemen lingkungan ISO 14001, yaitu yang berkaitan dengan
lingkungan internal dan eksternal.

B. Jenis dan Sifat Dasar Akuntansi Lingkungan


Akuntansi lingkungan dari sisi pengguna dibedakan menjadi tiga jenis,
yaitu:
1. Laba Akuntansi Nasional
Akuntansi lingkungan dalam konteks akuntansi pendapatan nasional mengacu
pada akuntansi sumber daya alam, meyajikan informasi statistik suatu negara
tentang kualtas dan nilai konsumsi sumber daya alam, yang terbarukan
maupun yang tidak terbarukan.
2. Akuntansi Keuangan
Akuntansi lingkungan dalam konteks akuntansi keuangan mengacu pada
penyusunan laporan akuntabilitas lingkungan untuk pengguna eksternal
disesuaikan dengan prinsip akuntansi berterima umum
3. Akuntansi Manajemen
Akuntansi lingkungan dalam konteks akuntansi manajemen mengacu pada
proses bisnis dengan pertimbangan penentuan biaya, keputusan investasi
modal, dan evaluasi kinerja yang terkait dengan pelestarian lingkungan.
Sifat dasar akuntansi lingkungan adalah sebagai berikut:
1. Relevan
Akuntansi lingkungan harus memberikan informasi yang valid terkait dengan
manfaat biaya pelestarian yang dapat memberikan dukungan dalam
pengambilan keputusan stakeholder. Namun, pertimbangan harus diberikan
kepada materialitas dan signifikansi dari relevansi. Dalam akuntansi
lingkungan, materialitas ditempatkan pada aspek kuantitas dan signifikansi
ditempatkan pada aspek kualitas. Dari sudut pandang materialitas, perhatian
diberikan kepada dampak kuantitatif dari data yang dinyatakan dalam nilai
moneter atau unit fisik. Sedangkan signifikansi berfokus pada kualitas
informasi dari sudut pandang pelestarian lingkungan atau dampak masa depan
yang dibawanya.
2. Handal
Akuntansi lingkungan harus menghilangkan data yang tidak akurat atau bias
dan dapat memberikan bantuan dalam membangun kepercayaan dan
keandalan stakeholder. Pengungkapan data akuntansi lingkungan harus akurat
dan tepat mampu mempresentasikan mandaat-biaya serta tidak menyesatkan.
Pengungkapan informasi akuntansi lingkungan seharusnya tidak hanya
menjadi formalitas belaka dari sekedar memenuhi persyaratan undang-undang
yang berlaku. Bila perlu, perusahaan harus menentukan metode yang tepat da
sesuai dengan pengungkapan dan secara akurat dapat menggambarkan
kegiatan lingkungan yang sebenarnya sedang dilakukan. Dalam hal
pengungkapan informasi tersebut tidak sepenuhnya dikomunikasikan ketika
mengikuti format yang ditetapkan oleh undang-undang yang berlaku,
informasi tambahan yang diperlukan harus disediakan untuk lebih
menjelaskan realitas secara lengkap. Ruang lingkup akuntansi lingkungan
harus diperluas ke semua hal yang bersifat material dan signifikan untuk
semua kegiatan pelestarian lingkungan.
3. Mudah dipahami
Dengan tujuan pengungkapan data akuntansi lingkungan yang mudah untuk
dipahami, akuntansi lingkungan harus menghilangkan setiap kemungkinan
timbulnya penilaian yang keliru tentang kegiatan perlindungan lingkungan
perusahaan. Untuk memastikan bahwa informasi yang diungkapkan mudah
dipahami bagi para pemangku kepentingan, kata-kata harus dibuat
sesederhana mungkin. Tidak peduli seberapa kompleks kandungan
informasinya, sangat perlu untuk mengungkapkan semua hal yang dianggap
penting.
4. Dapat dibandingkan
Akuntansi dapat dibandingkan dari tahun ke tahun bagi sebuah perusahaan
dan juga dapat dibandingkan antarperusahaan yang berbeda disektor yang
sama. Adalah penting untuk memastikan keterbandingan agar tidak
menciptakan kesalahpahaman antara stakeholder. Namun, karena fakta bahwa
pengungkapan akuntansi lingkungan bersifat independen dan berbeda-beda,
perbandingan yang sederhana pun sulit dilakukan ketika terdapat perbedaan
sektor bisnis dan jenis operasi. Oleh karena itu, dalam kasus-kasus dimana
metode yang kompleks telah dipilih dan ditetapkan dalam suatu pedoman
untuk digunakan sebagai dasar untuk perbandingan, isi dari metode tersebut
harus dinyatakan dengan jelas dan ketelitian harus dilakukan agar tidak
menghasilkan kesalahpahaman antara stakeholder.
5. Dapat dibuktikan
Data akuntansi lingkungan harus diverifikasi dari sudut pandang objektif.
Informasi yang dapat dibuktikan adalah hasil yang sama dapat diperoleh bila
menggunakan tempat, standar, dan metode yang persis sama dengan yang
digunakan oleh pihak yang menciptakan data.

C. Alasan Penerapan Green Organization


Aktivitas-aktivitas dalam pelaksanaan green accounting tentunya
mengeluarkan biaya. Aktivitas tersebut merupakan biaya yang harus dibebankan
oleh perusahaan yang timbul bersamaan dengan penyediaan barang dan jasa
kepada konsumen. Dengan beban yang telah dialokasikan diharapkan akan
membentuk lingkungan yang sehat dan terjaga kelestariannya.
Kinerja lingkungan merupakan salah satu pengukuran penting dalam
menunjang keberhasilan perusahaan. Beberapa alas an yang dapat mendukung
pelaksanaan akuntansi lingkungan antara lain:
1. Biaya lingkungan secara signifikan dapat dikurangi atau dihilangkan sebagai
hasil dari keputusan bisnis, mulai dari perubahan dalam operasional dan
pemeliharaan untuk dinvestasikan dalam proses yang berteknologi hijau serta
untuk perancangan kembali produk yang dihasilkan.
2. Biaya lingkungan jika tidak mendapatkan perhatian khusus akan menjadi tidak
jelas dan masuk dalam akun overhead atau bahkan akan diabaikan.
3. Banyak perusahaan telah menemukan bahwa biaya lingkungan dapat
diimbangi dengan menghasilkan pendapatan melalui penjualan limbah sebagai
suatu produk.
4. Pengelolaan biaya ligkungan yang lebih baik dapat menghasilkan perbaikan
kinerja lingkungan dan memberikan manfaat yang signifikan bagi kesehatan
manusia serta keberhasilan perusahaan.
5. Memahami biaya lingkungan dan kinerja proses dan produk daapat
mendorong penetapan biaya dan harga produk lebih akurat dan dapat
membantu perusahaan dalam mendesain proses produksi, barang dan jasa
yang lebih ramah lingkungan untuk masa depan.
6. Perusahaan mempunyai keunggulan kompetitif yang didapat dari proses,
barang, dan jasa yang bersifat ramah lingkungan. Brand image yang positif
akan diberikan oleh masyarakat karena keberhasilan perusahaan dalam
memproduksi barang dan jasa dengan konsep ramah lingkungan. Hal ini
berdampak pada segi pendapatan produk, yaitu memungkinkan perusahaan
tersebut untuk menikmati diferensiasi pasar, konsumen memiliki
kecenderungan untuk bersedia membayar harga yang mahal untuk produk
yang berorientasi lingkungan dengan harga premium.
7. Akuntansi untuk biaya lingkungan dan kinerja lingkungan dapat mendukung
perkembangan perusahaan dan operasi dari sistem manajemen lingkungan
secara keseluruhan. Sistem seperti ini akan segera menjadi keharusan bagi
perusahaan yang bergerak dalam perdagangan internasional karena adanya
persetujuan berlakunya standar internasional ISO 14001
8. Pengungkapan biaya lingkungan akan meningkatkan nilai dari pemegang
saham karena kepedulian perusahaan terhadap pelestarian lingkungan.
Pemegang saham perusahaan dapat lebih mudah dan cepat mendapatkan
informasi dari pengungkapan tersebut sehingga dapat mempermudah
pengambilan keputusan.

D. Faktor eksternal yang memengaruhi Green Organization


Fungsi eksternal merupakan fungsi yang berkaitan dengan aspek pelaporan
keuangan. Pada fungsi ini faktor penting yang perlu diperhatikan perusahaan
adalah pengungkapan hasil dari kegiatan konservasi lingkungan dalam bentuk
data akuntansi. Informasi yang diungkapkan merupakan hasil yang diukur secara
kuantitatif dari kegiatan konservasi lingkungan. Termasuk didalamnya adalah
informasi tentang sumber-sumber ekomoni suatu perusahaan, klaim terhadap
sumber-sumber tersebut dan pengaruh transaksi peristiwa dan kondisi yang
mengubah sumber-sumber ekomoni dan klaim terhadap sumber tersebut.
Dengan mengungkapkan hasil pengukuran kegiatan pelestarian
lingkungan, fungsi eksternal memungkinkan perusahaan untuk memengaruhi
pengambilan keputusan stakeholder. Diharapkan bahwa publikasi hasil akuntansi
lingkungan akan berfungsi baik sebagai alat bagi organisasi untuk memenuhi
tanggung jawab mereka atas akuntabilitas kepada stakeholder dan secara
bersamaan, sebagai sarana untuk evaluasi yang teapat dari kegiatan pelestarian
lingkungan.
Penerapan akuntansi lingkungan untuk eksternal ditujukan untuk
mematuhi peraturan pemerintah atau persyaratan yang ditetapkan oleh lembaga
pengawas pasar modal. Jadi akuntansi lingkungan untuk eksternal adalah
bagaimana merumuskan akuntansi keuangan untuk pelaporan keuangan
dikombinasikan dengan kebijakan lingkungan.
Perkembangan akuntansi lingkungan di Indonesia sangat jauh tertinggal
dibandingkan dengan Australia. Pada akuntansi lingkungan untuk eksternal ini
yang berperan cukup penting adalah lembaga penyusun standard akuntansi dan
badan pengelola pasar modalnya. Di Indonesia, peran Ikatan Akuntan Indonesia
(IAI) diharapkan dapat mendongkrak ketertinggalan negara Indonesia untuk
berperan aktif dalam melindungi lingkungan.
Aspek-aspek yang menjadi bidang garap akuntansi lingkungan adalah
sebagai berikut (Cahyono, 2002) :
1. Pengakuan dan identifikasi pengaruh negatif aktifitas bisnis perusahaan
terhadap dalam praktek akuntansi konvensional.
2. Identifikasi, mencari dan memeriksa persoalan bidang garap akuntansi
konvensional yang bertentangan dengan kriteria lingkungan serta
memberikanalternatif solusinya.
3. Melaksanakan langkah-langkah proaktif dalam menyusun inisiatif untuk
memperbaiki lingkungan pada praktik akuntansi konvensional.
4. Pengembangan format baru sistem akuntansi keuangan dan non keuangan,
sistem pengendalian pendukung keputusan manajemen ramah lingkungan.
5. Identifikasi biaya-biaya (cost) dan manfaat berupa pendapatan (revenue)
apabila perusahaan lebih peduli terhadap lingkungan dari berbagai program
perbaikan lingkungan.
6. Pengembangan format kerja, penilaian dan pelaporan internal maupun
eksternal perusahaan.
7. Upaya perusahaan yang berkesinambungan, akuntansi kewajiban, resiko,
investasi biaya terhadap energi, limbah dan perlindungan lingkungan.
8. Pengembangan teknik-teknik akuntansi pada aktiva, kewajiban dan biaya
dalam konteks non keuangan khususnya ekologi.

E. Faktor internal yang memengaruhi Green Organization


Sebagai salah satu langkah dari sistem informasi lingkungan organisasi,
fungsi internal memungkinkan untuk mengelola dan menganalisis biaya
pelestarian lingkungan yang dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh, serta
mempertimbagkan pelestarian lingkungan yang efektif dan efisien melalui
pengambilan keputusan yang tepat. Hal ini sangat diperlukan keberadaan fungsi
akuntansi lingkungan sebagai alat manajemen bisnis untuk digunakan oleh para
manajer dan unis bisnis terkait.
Akuntansi lingkungan mempunyai manfaat bagi internal perusahaan untuk
memberikan laporan mengenai pengelolaan internal, yaitu keputusan manajemen
mengenai pemberian harga, pengendalian biaya overhead dan penganggaran
modal (capital budgeting). Singkatnya akuntansi lingkungan bermanfaat bagi
perusahaan sebagai salah satu poin pertimbangan untuk mencapai green company
Akuntansi lingkungan untuk tujuan internal perusahaan sering disebut juga
EMA (Environmental Management Accounting). Keberhasilan EMA dalam
menyajikan informasi secara lengkap butuh dibukung oleh beberapa disiplin ilmu
non accounting, yaitu environmental science, environmental law and regulation,
finance and risk management, serta management policies and control system.
Keakuratan informasi pada EMA sangat berguna untuk menjaga kelangsungan
hidup perusahaan serta kelestarian alam secara keseluruhan. Berikut ini
merupakan gambaran tugas yang dilakukan di perusahaan pada tingkat fungsional,
yaitu:
1. Manajer senior pada tingkat institusi menetapkan kebijakan lingkungan dan
menilai kinerja lingkungan
2. Manajer lingkungan pada tingkat operasional mengimplementasikan kebijakan
lingkungan
3. Staff lingkungan dilibatkan dalam pengambilan keputusan modal untuk
peralatan pengendalian lingkungan.
Pada tingkat berusahaan multinasional, focus pada lingkungan merupakan
suatu kewajiban. Karena perusahaan tersebut berada dibawah standard
internasional yang dipantau oleh PBB (WHO), aktivis lingkungan internasional
(green peace), dan lain-lain. Perusahaan multinasional cukup disorot oleh
berbagai pihak, sebab perusahaan tersebut sering melakukan pelanggaran terhadap
peraturan di negara-negara berkembang yang implementasi peraturannya masih
lemah serta kesadaran penduduknya akan lingkungan makin rendah.
Environmental Auditing (EA) merupakan pelengkap dari EMA. Jika EMA
berfungsi untuk mengukur kinerja perusahaan dan lingkungannya, maka EA
adalah memastikan laporan dari EMA telah dibuat sesuai dengan standard yang
telah ditetapkan oleh dewan komisaris (board of director). Pada EA yang diukur
adalah kepatuhan tiap fungsi dalam perusahaan terhadap peraturan yang telah
ditetapkan oleh dewan komisaris dan penilaian mengenai kredibilitas laporan
keuangan perusahaan yang dibuat berdasarkan data dari tiap fungsi di perusahaan.
Orang yang melaksanakan fungsi pengauditan/pemeriksaan dalam hal ini adalah
internal auditor. Internal auditor berfungsi untuk menjamin bahwa laporan
keuangan internal telah menyajikan data yang sebenarnya sesuai dengan ketetapan
dewan komisaris. Keberadaan internal auditor dalam hubungannya dengan
lingkungan adalah menjamin bahwa aktivitas yang dilakukan oleh setiap fungsi
dalam perusahaan sudah mematuhi kebijakan lingkungan yang ditetapkan
perusahaan (dewan komisaris).
EMA ini, perkembangannya masih sangat muda dan belum cukup kokoh
pondasinya dalam ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dukungan dunia pendidikan
dan praktisi dibutuhkan untuk mempertahankan keberadaan EMA tersebut.
Implementasi EMA di perusahaan multinasional membutuhkan departemen
lingkungan untuk melakukannya. Departemen lingkungan dikelola oleh manajer
lingkungan untuk memastikan unsur-unsur lingkungan dipertimbangkan dalam
setiap aktivitas di perusahaan. Agar kinerja lingkungan pada perusahaan dapat
ditingkatkan perlu mengintegrasikan depertemen manajemen lingkungan dengan
departemen operasional. Melalui integrase ini, perusahaan dapat menjamin bahwa
operasional sehari-harinya dilakukan dengan memperhatikan lingkungan. Fungsi
departemen lingkungan dalam proses integrase tersebut adalah:
1. Meneliti dan mengawasi perubahan konteks lingkungan dari bisnis
2. Mengidentifikasi informasi-informasi kritis
3. Mengharuskan berubah untuk kinerja dan praktik-praktik lingkungan
4. Mengesahkan dan menghubungkan informasi tersebut untuk meyakinkan
ketaan dengan ketetapan pemerintah (undang-undang).

F. Peran akuntan dalam Green Organization


Masalah lingkungan saat ini tidak lagi merupakan masalah yang hanya
diperhatikan oleh pakar lingkungan melainkan telah menjadi masalah ekomoni
(Sudarno, 2004). Secara tidak langsung, akuntan dan akuntansi lingkungan dapat
berpera dalam membantu masalah penanganan lingkungan. Peranan akuntan
dalam membantu manajemen mengatasi masalah lingkungan melalui 5 (lima
tahap), yaitu (Gray 1993 dalam Akbar, 2011):
1. Sistem akuntansi yang ada saat ini dapat dimodifikasi untuk mengidentifikasi
masalah lingkungan dalam hubungannya dengan masalah pengeluaran seperti
biaya kemasan, biaya hukum, biaya sanitasi dan biaya lain-lain yang
berkenaan dengan efek lingkungan.
2. Hal-hal negatif dari sistem akuntansi saat ini perlu diidentifikasikan, seperti
masalah penilaian investasi yang belum mempertimbangkan masalah
lingkungan
3. Sistem informasi perlu memandang jauh ke depan dan lebih peka terhadap
munculnya isu-isu lingkungan yang selalu berkembang
4. Pelaporan keuangan untuk pihak eksternal dalam proses berubah, seperti
misalnya berubah ukuran kerja perusahaan di masyarakat.
5. Akuntansi yang baru dari sistem informasi memerlukan pengembangan seperti
pemikiran tentang kemungkinan adanya “eco balance sheet”.

Terlihat jelas dari pengalaman dan penelitian yang luas bahwa organisasi
menanamkan masalah lingkungan kedalam sistem penilaian kinerja, lalu
diprioritaskan secara tepat, dan insentif, penghargaan, dan sistem anggaran
diarahkan dengan tujuan serupa, masalah lingkungan akan hampir selalu kalah
banding dengan kriteria finansial. Tentu saja ada pengecualian dimana kriteria
finansial dan lingkungan berlangsung harmonis, dan sepertinya meningkat. Hal ini
tidak berlaku untuk semua aktifitas, akan tetapi hal ini harus diketahui dan
ditujukan secara eksplisit.

Sebagai contoh dimana organisasi menerapkan kriteria lingkungan sebagai


bagian dalam pembagian tugas manajerial, yaitu penilaian manajemen yang
didasarkan pada target yang ditetapkan di penilaian sebelumnya. Setiap penilaian
terkonsentrasi di tiga wilayah yang salah satunya adalah lingkungan. Perusahaan
pun melihat dirinya beroperasi menggunakan budaya TQM dan mengharapkan
pencapaian target yaitu tidak ada keluhan (baik internal maupun eksternal), tidak
ada pemberitahuan dari otoritas hukum, tidak ada pelanggaran pada persetujuan
atau standart internal dan penerimaan yang cepat atas masukan dari luar maupun
dalam. Penghargaan dan promosi finansial bergantung pada penilaian ini dan
kegagalan dalam mencapai standart lingkungan akan menerima hukuman yang
setimpal.

Akuntan secara umum, berubah secara lambat. Secara garis besar, hal ini
terjadi karena tidak adanya pengetahuan lebih dulu mengenai aturan dalam isu
lingkungan dan pada banyak kasus, dapat terlihat kegagalan dalam
menghubungkan akuntan dengan lingkungan. Penelitian menyarankan bahwa
akuntan harus melihat dirinya bertanggung jawab dalam inovasi sama baiknya
dengan keingingan untuk mendapat inisiatif dalam pengembangan sistem
informasi finansial. Akuntan, sistem akuntansi, dan auditor internal mungkin
secara cepat dapat melakukan penghentian jika ada isu lingkungan tidak
terintegrasi secara tepat pada sistem. Organisasi tidak dapat mengurangi dampak
lingkungan yang mereka miliki dan menjadi lebih ramah lingkungan jika mereka
memiliki budaya finansial yang kuat dan akuntan mereka tidak ikut serta pada
tahap mendesain inisiatif lingkungan dan sistem informasi lingkungan.
BAB III
PENUTUP
Tidak ada suatu cara yang ideal dalam memulai proses pengembangan
sensitifitas organisasional. Tiap organisasi mungkin memilih rute yang berbeda –
ada yang memulai dari aturan lingkungan, ada yang memulai dari audit
lingkungan dan pengembangan EMS, yang lainnya dengan laporan tentang
lingkungan.