Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

dan

ASUHAN KEPERAWATAN

PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN DASAR MANUSIA

Oleh

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

JURUSAN KEPERAWATAN

D-III KEPERAWATAN MALANG


LEMBAR PENGESAHAN

Laporan pendahuluan .......................................................................dan Asuhan Keperawatan


pada ......................... dengan ......................................... .......................... di.....................
.......................................

Nama :

NIM :

Prodi : D-III Keperawatan Malang

Malang,

Pembimbing Institusi, Pembimbing Klinik/CI,

( ) ( )
LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN DASAR MANUSIA

Oleh

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

JURUSAN KEPERAWATAN

D-III KEPERAWATAN MALANG


KONSEP DASAR

A. Definisi
Ikterus adalah warna kuning pada kulit, konjungtiva, dan mukosa akibat
penumpukan bilirubin, sedangkan hiperbilirubinemia adalah ikterus dengan konsentrasi
bilirubin serum yang menjurus ke arah terjadinya kernikterus atau ensefalopati bilirubin
bila kadar bilirubin tidak dikendalikan.
Ikterus Neonatorum adalah keadaan ikterus yang terjadi pada bayi baru lahir
hingga usia 2 bulan setelah lahir. Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam
darah. Pada sebagian besar neonatus, ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama
kehidupannya.

B. Etiologi
Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan
oleh beberapa faktor. Secara garis besar, ikterus neonatarum dapat dibagi :
a. Produksi yang berlebihan Hal ini melebihi kemampuan bayi untuk
mengeluarkannya, misalnya pada hemolisis yang meningkat pada inkompatibilitas
Rh, ABO, golongan darah lain, defisiensi G6PD, piruvat kinase, perdarahan tertutup
dan sepsis.
b. Gangguan dalam proses uptake dan konjugasi hepar Gangguan ini dapat disebabkan
oleh imaturitas hepar, kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin, gangguan
fungsi hepar, akibat asidosis, hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim
glukorinil transferase (Sindrom Criggler-Najjar). Penyebab lain adalah defisiensi
protein Y dalam hepar yang berperanan penting dalam uptake bilirubin ke sel hepar.
c. Gangguan transportasi Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian
diangkut ke hepar. Ikatan bilirubin dengan albumin ini dapat dipengaruhi oleh obat
misalnya salisilat, sulfarazole. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak
terdapatnya bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel
otak.
d. Gangguan dalam eksresi Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar
atau di luar hepar. Kelainan di luar hepar biasanya diakibatkan oleh kelainan
bawaan. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi atau kerusakan hepar oleh
penyebab lain. (Hassan et al.2005).

C. Tanda dan Gejala


Gambaran klinis ikterus fisiologis :
a. Tampak pada hari 3,4
b. Bayi tampak sehat (normal)
c. Kadar bilirubin total <12mg%
d. Menghilang paling lambat 10-14 hari
e. Tak ada faktor resiko
f. Sebab : proses fisiologis (berlangsung dalam kondisi fisiologis) (Sarwono et al,
2005).
Gambaran klinik ikterus patologis :
a. Timbul pada umur <36 jam
b. Cepat berkembang
c. Bisa disertai anemia
d. Menghilang lebih dari 2 minggu
e. Ada faktor resiko
f. Dasar : proses patologis (Sarwono et al, 2005).

D. Patofisiologi
Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Kejadian
yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban bilirubin pada sel hepar
yang terlalu berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran
eritrosit, polisitemia, memendeknya umur eritrosit janin/bayi, meningkatnya bilirubin dari
sumber lain, atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik. Gangguan ambilan
bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh. Hal ini dapat
terjadi apabila kadar protein Y berkurang atau pada keadaan proten Y dan protein Z terikat
oleh anion lain, misalnya pada bayi dengan asidosis atau dengan anoksia/hipoksia.
Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan
gangguan konjugasi hepar (defisiensi enzim glukoranil transferase) atau bayi yang
menderita gangguan ekskresi, misalnya penderita hepatitis neonatal atau sumbatan saluran
empedu intra/ekstra hepatik.
Pada derajat tertentu, bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh.
Toksisitas ini terutama ditemukan pada bilirubin indirek yang bersifat sukar larut dalam
air tapi mudah larut dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologik pada
sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi
pada otak ini disebut kernikterus atau ensefalopati biliaris. Pada umumnya dianggap
bahwa kelainan pada susunan saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar
bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl. Mudah tidaknya bilirubin melalui sawar darah otak
ternyata tidak hanya tergantung dari tingginya kadar bilirubin tetapi tergantung pula pada
keadaan neonatus sendiri. Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar daerah otak apabila
pada bayi terdapat keadaan imaturitas, berat lahir rendah, hipoksia, hiperkarbia,
hipoglikemia, dan kelainan susunan saraf pusat yang terjadi karena trauma atau infeksi.
E. Pathway

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama.
· Kadar Bilirubin Serum berkala.

· Darah tepi lengkap (blood smear perifer ) untuk menunjukkan sel darah merah abnormal
atau imatur, eritoblastosisi pada penyakit Rh atau sferosis pada inkompatibilitas ABO.

· Golongan darah ibu dan bayi untuk mengidentifikasi inkompeten ABO.

· Test Coombs pada tali pusat bayi baru lahir

· Pemeriksaan skrining defisiensi G6PD, biakan darah atau biopsi Hepar bila perlu.

2. Ikterus yang timbul 24 - 72 jam sesudah lahir.


· Pemeriksaan darah tepi.

· Pemeriksaan darah Bilirubin berkala.

· Pemeriksaan skrining Enzim G6PD.

· Pemeriksaan lain bila perlu.

3. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu pertama.

· Pemeriksaan Bilirubin berkala.

· Pemeriksaan darah tepi.

· Skrining Enzim G6PD.

· Biakan darah, biopsi hepar bila ada indikasi.

G. Penatalaksanaan
a. Pengawasan antenatal dengan baik dan pemberian makanan sejak dini (pemberian
ASI).
b. Menghindari obat yang meningkatakan ikterus pada masa kelahiran, misalnya
sulfa furokolin.
c. Pencegahan dan pengobatan hipoksin pada neonatus dan janin.
d. Fenobarbital
Fenobarbital dapat mengeksresi billirubin dalam hati dan memperbesar konjugasi.
Meningkatkan sintesis hepatik glukoronil transferase yang mana dapat meningkatkan
billirubin konjugasi dan clereance hepatik pigmen dalam empedu. Fenobarbital tidak
begitu sering digunakan.
e. Antibiotik, bila terkait dengan infeksi.
f. Fototerapi
Fototerapi dilakukan apabila telah ditegakkan hiperbillirubin patologis dan berfungsi
untuk menurunkan billirubin dikulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto pada
billirubin dari billiverdin. Transfusi tukar dilakukan bila sudah tidak dapat ditangani
dengan foto terapi.
g. Terapi Obat-obatan
Misalnya obat phenorbarbital/luminal untuk meningkatkan bilirubin di sel hati yang
menyebabkan sifat indirect menjadi direct, selain itu juga berguna untuk mengurangi
timbulnya bilirubin dan mengangkut bilirubin bebas ke organ hari.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Aktivitas/ istirahat : letargi, malas


b. Sirkulasi : mungkin pucat, menandakan anemia
c. Eliminasi : Bising usus hipoaktif, vasase meconium mungkin lambat, faeces mungkin
lunak atau coklat kehijauan selama pengeluaran billirubin. Urine berwarna gelap.
d. Makanan cairan : Riwayat pelambatan/ makanan oral buruk.
e. Palpasi abdomen : dapat menunjukkan pembesaran limpa, hepar.
f. Neurosensori :
1) Chepalohaematoma besar mungkin terlihat pada satu atau kedua tulang parietal
yang berhubungan dengan trauma kelahiran.
2) Oedema umum, hepatosplenomegali atau hidrops fetalis, mungkin ada dengan
inkompathabilitas Rh.
3) Kehilanga refleks moro, mungkin terlihat.
4) Opistotonus, dengan kekakuan lengkung punggung, menangis lirih, aktifitas
kejang.
g. Pernafasan : krekels (oedema fleura)
h. Keamanan : Riwayat positif infeksi atau sepsis neonatus, akimosis berlebihan, pteque,
perdarahan intrakranial, dapat tampak ikterik pada awalnya pada wajah dan berlanjut
pada bagian distal tubuh.
i. Seksualitas : mungkin praterm, bayi kecil usia untuk gestasi (SGA), bayi dengan
letardasio pertumbuhan intra uterus (IUGR), bayi besar untuk usia gestasi (LGA)
seperti bayi dengan ibu diabetes. Terjadi lebih sering pada bayi pria daripada bayi
wanita.

2. Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit b.d. efek dari phototerapi.
2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d. phototerapi dan kelemahan menyusu
3. Gangguan temperature tubuh (Hipertermia) berhubungan dengan terpapar lingkungan
panas.

3. Intervensi

No Diagnosa NOC NIC Rasional


1 Kerusakan Setelah dilakukan Pressure 1. Memperkecil
integritas kulit tindakan Management kemungkinan
b.d. efek dari keperawatan 1. Anjurkan pasien terjadinya luka
phototerapi. selama …x24 jam untuk pada kulit
diharapkan menggunakan 2. Kerutan pada
integritas kulit pakaian yang tempat tidur dapat
kembali baik / longgar menyebabkan
normal. 2. Hindari kerutan perlukaan pada
Tissue Integrity : pada tempat kulit
Skin and Mucous tidur 3. Mencegah
Membranes 3. Jaga kebersihan adanya kuman
Kriteria Hasil : kulit agar tetap yang dapat
 Integritas kulit bersih dan menyebabkan luka
yang baik bisa kering pada kulit
dipertahankan 4. Mobilisasi 4. Mencegah
 Tidak ada luka pasien setiap 2 terjadinya
/ lesi pada jam sekali dekubitus
kulit 5. Monitor kulit 5. Mengetahui
 Perfusi akan adanya tanda-tanda
jaringan baik kemerahan. abormal kulit

 Menunjukkan
pemahaman
dalam proses
perbaikan
kulit dan
mencegah
terjadinya
cedera
berulang
 Mampu
melindungi
kulit dan
mempertahan
kan
kelembaban
kulit dan
perawatan
alami
Indicator Skala :
1. Tidak pernah
menunjukkan.
2. Jarang
menunjukkan
3. Kadang
menunjukkan
4. Sering
menunjukkan
5. Selalu
menunjukkan
2 Resiko tinggi Setelah dilakukan MONITOR 1. Memenuhi
kekurangan tindakan CAIRAN kebutuhan cairan
volume cairan keperawatan 1. Kolaborasikan sehingga tubuh
b.d. phototerapi. selama .......x24 pemberian akan terpenuhi
jam diharapkan cairan IV untuk menjamin
tidak ada resiko 2. Monitor vital keadekuatan cairan
kekurangan cairan sign 2. Mengetahui
pada klien. 3. Monitor status status
Kriteria Hasil : hidrasi perkembangan
1. TD dalam (kelembapan- pasien
rentang yang membran 3. Mengetahui
diharapkan mukosa, nadi tanda-tanda
2. Tekanan arteri adekuat, dehidrasi dengan
rata-rata dalam tekanan darah tepat
rentang yang ortostatik), jika 4. Menjaga
diharapkan diperlukan keadaan pasien
3. Nadi perifer 4. Pertahankan tetap stabil
teraba catatan intake 5. Menunjang
4. Keseimbangan dan output yang kesembuhan
intake dan akurat
output dalam 5. Kolaborasi
24 jam dengan dokter
5. Suara nafas
tambahan tidak
ada
6. Berat badan
stabil
Indicator Skala :
1. Tidak pernah
menunjukkan.
2. Jarang
menunjukkan
3. Kadang
menunjukkan
4. Sering
menunjukkan
5. Selalu
menunjukkan
3 Gangguan Setelah dilakukan Fever treatment 1. Mengetahui
temperature tindakan 1. Monitor suhu perubahan suhu
tubuh keperawtan sesering pasien
(Hipertermia) selama …x 24 jam mingkin 2. Mengetahui
berhubungan diharapkan suhu 2. Monitor warna tanda-tanda
dengan terpapar dalam rentang dan suhu kulit hipotermi dan
lingkungan normal. 3. Monitor hipertermi
panas.  Termoregulati tekanan darah, 3. Mengetahui
on nadi, dan status
Kriteria hasil : respirasi perkembangan
 Suhu tubuh 4. Monitor intake pasien
dalam rentang dan output 4. Menjaga
normal keadaan pasien
 Nadi dan tetap stabil
respirasi dalam
batas normal
 Tidak ada
perubahan
warna kulit
Indicator Skala :
1. Tidak pernah
menunjukkan.
2. Jarang
menunjukkan
3. Kadang
menunjukkan
4. Sering
menunjukkan
5. Selalu
menunjukkan
DAFTAR PUSTAKA

1. Ritarwan, Kiking. Ikterus. Bagian Perinatologi Fakultas Kedokteran USU/RSU H. Adam


Malik. 2011. Sumatra Utara. USU digital library.
2. Sukadi A. Hiperbilirubinemia. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi R,Sarosa GI, Usman A,
penyunting. Buku ajar neonatologi. Edisi 1. Jakarta: IDAI. 2008.h.147-69.
3. Gartner, Lawrence M. Neonatal Jaundice. Pediatrics Review;1994.Vol. 15. p. 422-32
4. Maisels M. J& Mcdonagh, Antony F.Phototherapy For Neonatal Jaundice. New England
Journal of Medicine;2008p.358:920-8.
5. Hassan R.Ikterus Neonatorum dalam :Hassan R, Alatas H, editors Ilmu kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran UI. Jilid ke-2. Jakarta. 2007. h.519-22,1101-23.
6. Sacher, Ronald, A., Richard A., McPherson. 2004. Tinjaun Klinis Hasil Pemeriksaan
Laborotorium. 11th ed. Editor bahasa Indonesia: Hartonto, Huriawati. Jakarta: EGC
7. http://www.docstoc.com/docs/159606809/Anak---Hiperbilirubin. Diakses 12 Maret 2019
8. http://growupclinic.com/2012/05/07/penanganan-terkini-hiperbilirubinemia-atau-penyakit-
kuning-pada-bayi-baru-lahir/. Diakses 12 Maret 2019
9. Sarwono, Erwin, et al. 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi Lab/ UPF Ilmu Kesehatan Anak.
Ikterus Neonatorum(Hyperbilirubinemia Neonatorum). Surabaya: RSUD Dr.Soetomo.
10. Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC
11. Mansjoer, Arif. 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Medika Aeseulupius
12. Etika R, Harianto A, Indarso F, Damanik SM. 2006. Hiperbilirubinemia pada neonatus.
Continuing education ilmu kesehatan anak
13. Hassan, R.,. 2005. Inkompatibilitas ABO dan Ikterus pada Bayi Baru Lahir. Jakarta :
Percetakan Infomedika.