Anda di halaman 1dari 11

PROGRAM NASIONAL

SASARAN I: PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI SERTA PENINGKATAN KESEHATAN IBU

Standar 1, Standar 1.1, Standar 1.2


Standar 1 Rumah sakit melaksanakan program PONEK 24 jam di rumah sakit beserta monitoring dan evaluasinya.
Standar 1.1 Rumah sakit menyiapkan sumber daya untuk penyelenggaraan pelayanan PONEK.
Standar 1.2 Rumah sakit melaksanakan pelayanan rawat gabung, mendorong pemberian ASI ekslusif, melaksanakan edukasi dan perawatan metode kangguru pada bayi berat badan lahir rendah (BBLR).
Maksud dan Tujuan Standar 1, Standar 1.1 dan Standar 1.2
Mengingat kematian bayi mempunyai hubungan erat dengan mutu penanganan ibu hamil dan melahirkan, maka proses antenatal care, persalinan dan perawatan bayi harus dilakukan dalam sistem terpadu di
tingkat nasional dan regional. Pelayanan obstetri dan neonatal regional merupakan upaya penyediaan pelayanan bagi ibu dan bayi baru lahir secara terpadu dalam bentuk Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi
Komprehensif (PONEK) di Rumah Sakit dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di tingkat Puskesmas. Rumah Sakit PONEK 24 Jam merupakan bagian dari sistem rujukan dalam
pelayanan kedaruratan dalam maternal dan neonatal, yang sangat berperan dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Kunci keberhasilan PONEK adalah ketersediaan tenaga-tenaga kesehatan
yang sesuai kompetensi, prasarana, sarana dan manajemen yang handal. Rumah sakit dalam melaksanakan program PONEK sesuai dengan pedoman PONEK yang berlaku, dengan langkah-langkah
pelaksanaan sebagai berikut:
a) melaksanakan dan menerapkan standar pelayanan perlindungan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna.
b) mengembangkan kebijakan dan SPO pelayanan sesuai dengan standar
c) meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi termasuk kepedulian terhadap ibu dan bayi.
d) meningkatkan kesiapan rumah sakit dalam melaksanakan fungsi pelayanan obstetrik dan neonatus termasuk pelayanan kegawat daruratan (PONEK 24 jam)
e) meningkatkan fungsi rumah sakit sebagai model dan pembina teknis dalam pelaksanaan IMD dan pemberian ASI Eksklusif
f) meningkatkan fungsi rumah sakit sebagai pusat rujukan pelayanan kesehatan ibu dan bayi bagi sarana pelayanan kesehatan lainnya.
g) meningkatkan fungsi rumah sakit dalam Perawatan Metode Kangguru (PMK) pada BBLR.
h) melaksanakan sistem monitoring dan evaluasi pelaksanaan program RSSIB 10 langkah menyusui dan peningkatan kesehatan ibu
i) ada regulasi rumah sakit yang menjamin pelaksanaan PONEK 24 jam, meliputi pula pelaksanaan rumah sakit sayang ibu dan bayi, pelayanan ASI eksklusif (termasuk IMD), pelayanan metode
kangguru, dan SPO Pelayanan Kedokteran untuk pelayanan PONEK (lihat juga PAP 3.1)
j) dalam rencana strategis (Renstra), rencana kerja anggaran (RKA) rumah sakit, termasuk upaya peningkatan pelayanan PONEK 24 jam
k) tersedia ruang pelayanan yang memenuhi persyaratan untuk PONEK antara lain rawat gabung
l) pembentukan tim PONEK
m) tim PONEK mempunyai program kerja dan bukti pelaksanaannya
n) terselenggara pelatihan untuk meningkatan kemampuan pelayanan PONEK 24 jam, termasuk stabilisasi sebelum dipindahkan
o) pelaksanaan rujukan sesuai peraturan perundangan
p) pelaporan dan analisis meliputi :
 angka keterlambatan operasi operasi section caesaria (SC) ( > 30 menit)
 angka keterlambatan penyediaan darah ( > 60 menit)
 angka kematian ibu dan bayi
 kejadian tidak dilakukannya inisiasi menyusui dini (IMD) pada bayi baru lahir
Telusur
Regulasi (R)
Elemen Penilaian Standar 1
Peraturan Keputusan Dokumen Observasi Wawancara
Kebijakan Pedoman Panduan SOP Simulasi (S)
Direktur RS Rapat (D) (O) (W)
1. Ada regulasi rumah sakit tentang
pelaksanaan PONEK 24 jam di rumah
sakit dan ada rencana kegiatan PONEK
dalam perencanaan rumah sakit. (R)
2. Ada bukti keterlibatan pimpinan rumah
sakit di dalam menyusun kegiatan
PONEK. (D,W)
3. Ada bukti upaya peningkatan kesiapan
rumah sakit dalam melaksanakan fungsi
pelayanan obstetrik dan neonatus
termasuk pelayanan kegawat daruratan
(PONEK 24 Jam). (D,W)
4. Ada bukti pelaksanaan rujukan dalam
rangka PONEK (lihat juga ARK.5).
(D,W)
5. Ada bukti pelaksanaan sistem
monitoring dan evaluasi program rumah
sakit sayang ibu dan bayi (RSSIB).
(D,W)
6. Ada bukti pelaporan dan analisis yang
meliputi 1 sampai dengan 4 di maksud
dan tujuan. (D,W)

Telusur
Regulasi (R)
Elemen Penilaian Standar 1.1
Peraturan Keputusan Dokumen Observasi Wawancara
Kebijakan Pedoman Panduan SOP Simulasi (S)
Direktur RS Rapat (D) (O) (W)
1. 1. Ada bukti terbentuknya tim PONEK
dan program kerjanya. (R) Tersedia
ruang pelayanan yang memenuhi
persyaratan untuk PONEK. (D,O,W)
2. Ada bukti pelatihan pelayanan PONEK.
(D,W) PONEK. (D,W)
3. Ada bukti pelaksanaan program tim
PONEK. (D,W)
4. Tersedia ruang pelayanan yang
memenuhi persyaratan untuk PONEK.
(D,O,W)

Telusur
Regulasi (R)
Elemen Penilaian Standar 1.2
Peraturan Keputusan Dokumen Observasi Wawancara
Kebijakan Pedoman Panduan SOP Simulasi (S)
Direktur RS Rapat (D) (O) (W)
1. Terlaksananya rawat gabung. (O,W)
2. Ada bukti RS melaksanakan IMD dan
mendorong pemberian ASI Ekslusif.
(O,W)
3. Ada bukti pelaksanaan edukasi dan
perawatan metode kangguru (PMK)
pada bayi berat badan lahir rendah
(BBLR). (D,O,W)

SASARAN II: PENURUNAN ANGKA KESAKITAN HIV/AIDS

(Standar 2)
Standar 2 Rumah sakit melaksanakan penanggulangan HIV/AIDS sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Maksud dan Tujuan Standar 2
Dalam waktu yang singkat virus human immunodeficiency virus (HIV) telah mengubah keadaan sosial, moral, ekonomi dan kesehatan dunia. Saat ini HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan terbesar yang
dihadapi oleh komunitas global. Saat ini, Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan dengan melakukan peningkatan fungsi pelayanan kesehatan bagi orang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). Kebijakan ini
menekankan kemudahan akses bagi orang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) untuk mendapatkan layanan pencegahan, pengobatan, dukungan dan perawatan, sehingga diharapkan lebih banyak orang hidup
dengan HIV/AIDS (ODHA) yang memperoleh pelayanan yang berkualitas. Rumah sakit dalam melaksanakan penanggulangan HIV/AIDS sesuai dengan standar pelayanan bagi rujukan orang dengan
HIV/AIDS (ODHA) dan satelitnya dengan langkah-langkah pelaksanaan sebagai berikut:
• meningkatkan fungsi pelayanan Voluntary Counseling and Testing (VCT);
• meningkatkan fungsi pelayanan Prevention Mother to Child Transmision (PMTCT);
• meningkatkan fungsi pelayanan Antiretroviral Therapy (ART) atau bekerjasama dengan RS yang ditunjuk;
• meningkatkan fungsi pelayanan Infeksi Oportunistik (IO);
• meningkatkan fungsi pelayanan pada ODHA dengan faktor risiko Injection Drug Use (IDU); dan
• meningkatkan fungsi pelayanan penunjang, yang meliputi: pelayanan gizi, laboratorium, dan radiologi, pencatatan dan pelaporan.
Telusur
Regulasi (R)
Elemen Penilaian Standar 2
Peraturan Keputusan Dokumen Observasi Wawancara
Kebijakan Pedoman Panduan SOP Simulasi (S)
Direktur RS Rapat (D) (O) (W)
1. Adanya regulasi rumah sakit dan
dukungan penuh manajemen dalam
pelayanan penanggulangan HIV/AIDS.
(R)
2. Pimpinan rumah sakit berpartisipasi
dalam menyusun rencana pelayanan
penanggulangan HIV/AIDS. (D,W)
3. Pimpinan rumah sakit berpartisipasi
dalam menetapkan keseluruhan
proses/mekanisme dalam pelayanan
penanggulangan HIV/AIDS termasuk
pelaporannya. (D,W)
4. Terbentuk dan berfungsinya Tim
HIV/AIDS rumah sakit ( D,W )
5. Terlaksananya pelatihan untuk
meningkatkan kemampuan teknis Tim
HIV/AIDS sesuai standar. (D,W)
6. Terlaksananya fungsi rujukan
HIV/AIDS pada rumah sakit sesuai
dengan kebijakan yang berlaku. (D)
7. Terlaksananya pelayanan VCT, ART,
PMTCT, IO, ODHA dengan faktor
risiko IDU, penunjang sesuai dengan
kebijakan. (D)

SASARAN III: PENURUNAN ANGKA KESAKITAN TUBERKULOSIS

Standar 3
Standar 3 Rumah sakit melaksanakan program penanggulangan tuberkulosis di rumah sakit beserta monitoring dan evaluasinya melalui kegiatan:
a) promosi kesehatan;
b) surveilans tuberkulosis;
c) pengendalian faktor risiko;
d) penemuan dan penanganan kasus tuberkulosis;
e) pemberian kekebalan; dan
f) pemberian obat pencegahan.
Standar 3.1 Rumah sakit menyiapkan sumber daya untuk penyelenggaraan pelayanan dan penanggulangan tuberkulosis.
Standar 3.2 Rumah sakit menyediakan sarana dan prasarana pelayanan tuberkulosis sesuai peraturan perundang-undangan.
Standar 3.3 Rumah sakit telah melaksanakan pelayanan tuberkulosis dan upaya pengendalian faktor risiko tuberkulosis sesuai peraturan perundang-undangan.
Maksud dan Tujuan Standar 3 sampai dengan Standar 3.3
Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan penanggulangan tuberkolosis berupa upaya kesehatan yang mengutamakan aspek promotif, preventif, tanpa mengabaikan aspek kuratif dan rehabilitatif yang
ditujukan untuk melindungi kesehatan masyarakat , menurunkan angka kesakitan , kecatatan atau kematian, memutuskan penularan mencegah resistensi obat dan mengurangi dampak negatif yang
ditimbulkan akibat tubekulosis. Rumah sakit dalam melaksanakan penanggulangan tubekulosis melalui kegiatan yang meliputi:
a) Promosi kesehatan yang diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan yang benar dan komprehensif mengenai pencegahan penularan, penobatan , pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sehingga terjadi
perubahan sikap dan perilaku sasaran yaitu pasien dan keluarga, pengunjung serta staf rumah sakit
b) Surveilans tuberkulosis, merupakan kegiatan memperoleh data epidemiologi yang diperlukan dalam sistem informasi program penanggulangan tuberkulosis, seperti pencatatan dan pelaporan
tuberkulosis sensitif obat, pencatatan dan pelaporan tuberkulosis resistensi obat.
c) Pengendalian faktor risiko tuberkulosis, ditujukan untuk mencegah, mengurangi penularan dan kejadian penyakit tuberkulosis, yang pelaksanaannya sesuai dengan pedoman pengendalian pencegahan
infeksi tuberkulosis di rumah sakit pengendalian faktor risiko tuberkulosis, ditujukan untuk mencegah, mengurangi penularan dan kejadian penyakit tuberkulosis, yang pelaksanaannya sesuai dengan
pedoman pengendalian pencegahan infeksi tuberkulosis di rumah sakit
d) Penemuan dan penanganan kasus tuberkulosis. Penemuan kasus tuberkulosis dilakukan melalui pasienyang datang kerumah sakit, setelah pemeriksaan, penegakan diagnosis, penetapan klarifikasi dan
tipe pasien tuberkulosis. Sedangkan untuk penanganan kasus dilaksanakan sesuai tata laksana pada pedoman nasional pelayanan kedokteran tuberkulosis dan standar lainnya sesuai dengan
peraturanperundang- undangan.
e) Pemberian kekebalan Pemberian kekebalan dilakukan melalui pemberian imunisasi BCG terhadap bayi dalam upaya penurunan risiko tingkat pemahaman tuberkulosis sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
f) Pemberian obat pencegahan. Pemberian obat pencegahan selama 6 (enam) bulan yang ditujukan pada anak usia dibawah 5 (lima) tahun yang kontak erat dengan pasien tuberkulosisi aktif; orang
dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang tidak terdiagnosa tuberkulosis; pupulasi tertentu lainnya sesuai peraturan perundang-undangan.
Kunci keberhasilan penanggulangan tuberkulosis di rumah sakit adalah ketersediaan tenaga-tenaga kesehatan yang sesuai kompetensi, prasarana, sarana dan manajemen yang handal.
Telusur
Regulasi (R)
Elemen Penilaian Standar 3
Peraturan Keputusan Dokumen Observasi Wawancara
Kebijakan Pedoman Panduan SOP Simulasi (S)
Direktur RS Rapat (D) (O) (W)
1. Ada regulasi rumah sakit tentang
pelaksanaan penanggulangan
tuberkulosis di rumah sakit dan ada
rencana kegiatan penanggulangan
tuberkulosis dengan strategi DOTS
dalam perencanaan rumah sakit. (R)
2. Pimpinan rumah sakit berpartisipasi
dalam menetapkan keseluruhan
proses/mekanisme dalam program
pelayanan tuberkulosis termasuk
pelaporannya. (D,W)
3. Ada bukti upaya pelaksanaan promosi
kesehatan tentang tuberkulosis. (D,W)
4. Ada bukti pelaksanaan surveilans
tuberkulosis dan pelaporannya. (D,W)
5. Ada bukti pelaksanaan upaya
pencegahan tuberkulosis melalui
pemberian kekebalan dengan vaksinasi
atau obat pencegahan. (D,W)

Telusur
Regulasi (R)
Elemen Penilaian Standar 3.1
Peraturan Keputusan Dokumen Observasi Wawancara
Kebijakan Pedoman Panduan SOP Simulasi (S)
Direktur RS Rapat (D) (O) (W)
1. Ada bukti terbentuknya tim DOTS dan
program kerjanya. (R)
2. Ada bukti pelatihan pelayanan dan
upaya penanggulangan tuberkulosis.
(D,W)
3. Ada bukti pelaksanaan program tim
DOTS. (D,W)
4. Ada bukti pelaksanaan sistem
monitoring dan evaluasi program
penanggulangan tuberkulosis. (D,W)
5. Ada bukti pelaporan dan analisis yang
meliputi a) sampai dengan f) di maksud
dan tujuan. (D,W)

Telusur
Regulasi (R)
Elemen Penilaian Standar 3.2
Peraturan Keputusan Dokumen Observasi Wawancara
Kebijakan Pedoman Panduan SOP Simulasi (S)
Direktur RS Rapat (D) (O) (W)
1. Tersedia ruang pelayanan rawat jalan
yang memenuhi pedoman pencegahan
dan pengendalian infeksi tuberkulosis.
(O,W)
2. Bila rumah sakit memberikan
pelayanan rawat inap bagi pasien
tuberkulosis paru dewasa maka rumah
sakit harus memiliki ruang rawat inap
yang memenuhi pedoman pencegahan
dan pengendalian infeksi tuberkulosis.
(O,W)
Telusur
Regulasi (R)
Elemen Penilaian Standar 3.2
Peraturan Keputusan Dokumen Observasi Wawancara
Kebijakan Pedoman Panduan SOP Simulasi (S)
Direktur RS Rapat (D) (O) (W)
3. Tersedia ruang pengambilan specimen
sputum yang memenuhi pedoman
pencegahan dan pengendalian infeksi
tuberkulosis. (O,W)
4. Tersedia ruang laboratorarium
tuberkulosis yang memenuhi pedoman
pencegahan dan pengendalian infeksi
tuberkulosis. (O,W)

Telusur
Regulasi (R)
Elemen Penilaian Standar 3.3
Peraturan Keputusan Dokumen Observasi Wawancara
Kebijakan Pedoman Panduan SOP Simulasi (S)
Direktur RS Rapat (D) (O) (W)
1. Rumah sakit memiliki panduan praktek
klinis tuberkulosis. (R)
2. Ada bukti kepatuhan staf medis
terhadap panduan praktek klinis
tuberkulosis. (D,O,W)
3. Terlaksana proses skrining pasien
tuberkulosis saat pendaftaran. (D,O,W)
4. Ada bukti staf mematuhi penggunaan
alat pelindung diri (APD) saat kontak
dengan pasien atau specimen. (O,W)
5. Ada bukti pengunjung mematuhi
penggunaan alat pelindung diri (APD)
saat kontak dengan pasien. (O,W)

SASARAN IV: PENGENDALIAN RESISTENSI ANTIMIKROBA

Standar 4
Standar 4 Rumah sakit menyelenggarakan pengendalian resistensi antimikroba sesuai peraturan perundang-undangan.
Maksud dan Tujuan Standar 4
Tersedia regulasi pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit yang meliputi:
a) Pengendalian resistensi antimikroba.
b) Panduan penggunaan antibiotik untuk terapi dan profilaksis pembedahan.
c) Organisasi pelaksana, Tim/ Komite PPRA terdiri dari tenaga kesehatan yang kompeten dari unsur:
 Staf Medis
 Staf Keperawatan
 Staf Instalasi Farmasi
 Staf Laboratorium yang melaksanakan pelayanan mikrobiologi klinik
 Komite Farmasi dan Terapi
 Komite PPIT
 Komite Farmasi dan Terapi
 Komite PPI
Organisasi PRA dipimpin oleh staf medis yang sudah mendapat sertifikat pelatihan PPRA. Rumah sakit menyusun program pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit terdiri dari:
a) peningkatan pemahaman dan kesadaran seluruh staf,pasien dan keluarga tentang masalah resistensi anti mikroba;
b) pengendalian penggunaan antibiotik di rumah sakit;
c) surveilans pola penggunaan antibiotik di rumah sakit;
d) surveilans pola resistensi antimikroba di rumah sakit
e) forum kajian penyakit infeksi terintegrasi
Telusur
Regulasi (R)
Elemen Penilaian Standar 4
Peraturan Keputusan Dokumen Observasi Wawancara
Kebijakan Pedoman Panduan SOP Simulasi (S)
Direktur RS Rapat (D) (O) (W)
1. Ada regulasi dan program tentang
pengendalian resistensi antimikroba di
rumah sakit sesuai peraturan
perundang-undangan.(R)
2. Ada bukti pimpinan rumah sakit terlibat
dalam menyusun program. (D,W)
3. Ada bukti dukungan anggaran
operasional, kesekretariatan, sarana
prasarana untuk menunjang kegiatan
fungsi, dan tugas organisasi PPRA.
(D,O,W)
4. Ada bukti pelaksanaan pengendalian
penggunaan antibiotik terapi dan
profilaksis pembedahan pada seluruh
proses asuhan pasien. (D,O,W)
5. Direktur melaporkan kegiatan PPRA
secara berkala kepada KPRA. (D,W)

Standar 4.1
Standar 4.1 Rumah sakit (Tim/Komite PPRA) melaksanakan kegiatan pengendalian resistensi antimikroba.
Maksud dan Tujuan Standar 4
Rumah sakit (Tim/Komite PPRA) membuat laporan pelaksanaan program/ kegiatan PRA meliputi:
a) kegiatan sosialisasi dan pelatihan staf tenaga kesehatan tentang pengendalian resistensi antimikroba
b) surveilans pola penggunaan antibiotik di RS (termasuklaporan pelaksanaan pengendalian antibiotik)
c) surveilans pola resistensi antimikroba
d) forum kajian penyakit infeksi terintegrasi
Rumah sakit (Tim/Komite PPRA) menetapkan dan melaksanakan evaluasi dan analisis indikator mutu PPRA sesuai peraturan perundang-undangan meliputi:
a) perbaikan kuantitas penggunaan antibiotik
b) perbaikan kualitas penggunaan antibiotik
c) peningkatan mutu penanganan kasus infeksi secara multidisiplin dan terintegrasi
d) penurunan angka infeksi rumah sakit yang disebabkan oleh mikroba resisten
e) indikator mutu PPRA terintegrasi pada indikator mutu PMKP
Rumah sakit melaporkan perbaikan pola sensitivitas antibiotik dan penurunan mikroba resisten sesuai indikator bakteri multi-drug resistant organism (MDRO), antara lain: bakteri penghasil extended
spectrum beta-lactamase (ESBL), Methicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Carbapenemase resistant enterobacteriaceae (CRE) dan bakteri pan-resisten lainnyA (Lihat juga PPI.6).
Telusur
Regulasi (R)
Elemen Penilaian Standar 4
Peraturan Keputusan Dokumen Observasi Wawancara
Kebijakan Pedoman Panduan SOP Simulasi (S)
Direktur RS Rapat (D) (O) (W)
1. Ada organisasi yang mengelola kegiatan
pengendalian resistensi antimikroba
dan melaksanakan program
pengendalian resistensi antimikroba
rumah sakit meliputi a) sampai dengan
d) di maksud dan tujuan. (R)
2. Ada bukti kegiatan organisasi yang
meliputi a) sampai dengan d) di maksud
dan tujuan. (D,W)
3. Ada penetapan indikator mutu yang
meliputi a) sampai dengan e) di maksud
dan tujuan. (D,W)
4. Ada monitoring dan evaluasi terhadap
program pengendalian resistensi
antimikroba yang mengacu pada
indikator pengendalian resistensi
antimikroba (D,W)
5. Ada bukti pelaporan kegiatan PPRA
secara berkala dan meliputi butir a)
sampai dengan e) di maksud dan
tujuan. (D,W)
SASARAN V: PELAYANAN GERIATRI

Standar 5, 5.1
Standar 5 Rumah sakit menyediakan pelayanan geriatri rawat jalan, rawat inap akut dan rawat inap kronis sesuai dengan tingkat jenis pelayanan.
Standar 5.1 Rumah Sakit melakukan promosi dan edukasi sebagai bagian dari Pelayanan Kesehatan Warga Lanjut usia di Masyarakat Berbasis Rumah Sakit (Hospital Based Community Geriatric Service).
Maksud dan Tujuan Standar 5, 5.1
Pasien geriatri adalah pasien lanjut usia dengan multi penyakit/gangguan akibat penurunan fungsi organ, psikologi, sosial, ekonomi dan lingkungan yang membutuhkan pelayanan kesehatan secara tepadu
dengan pendekatan multi disiplin yang bekerja sama secara interdisiplin. Dengan meningkatnya sosial ekonomi dan pelayanan kesehatan maka usia harapan hidup semakin meningkat, sehingga secara
demografi terjadi peningkatan populasi lanjut usia. Sehubungan dengan itu rumah sakit perlu menyelenggarakan pelayanan geriatri sesuai dengan tingkat jenis pelayanan geriatri:
a) tingkat sederhana
b) tingkat lengkap
c) tingkat sempurna
d) tingkat paripurna
Telusur
Regulasi (R)
Elemen Penilaian Standar 5
Peraturan Keputusan Dokumen Observasi Wawancara
Kebijakan Pedoman Panduan SOP Simulasi (S)
Direktur RS Rapat (D) (O) (W)
1. Ada regulasi tentang penyelenggaraan
pelayanan geriatri di rumah sakit sesuai
dengan tingkat jenis layanan. (R)
2. Terbentuk dan berfungsinya tim
terpadu geriatri sesuai tingkat jenis
layanan. (R,D,W)
3. Terlaksananya proses pemantauan dan
evaluasi kegiatan. (D,O,W)
4. Ada pelaporan penyelenggaraan
pelayanan geriatri di rumah sakit. (D,W)

Telusur
Regulasi (R)
Elemen Penilaian Standar 5.1
Peraturan Keputusan Dokumen Observasi Wawancara
Kebijakan Pedoman Panduan SOP Simulasi (S)
Direktur RS Rapat (D) (O) (W)
1. Ada regulasi tentang edukasi sebagai
bagian dari Pelayanan Kesehatan
Telusur
Regulasi (R)
Elemen Penilaian Standar 5.1
Peraturan Keputusan Dokumen Observasi Wawancara
Kebijakan Pedoman Panduan SOP Simulasi (S)
Direktur RS Rapat (D) (O) (W)
Warga Lanjut usia di Masyarakat
Berbasis Rumah Sakit (Hospital Based
Community Geriatric Service). (R)

2. Ada program PPRS terkait Pelayanan


Kesehatan Warga Lanjut usia di
Masyarakat Berbasis Rumah Sakit
(Hospital Based Community Geriatric
Service). (D,W)
3. Ada leaflet atau alat bantu kegiatan
(brosur, leaflet dll). (D,W)
4. Ada bukti pelaksanaan kegiatan.
(D,O,W)
5. Ada evaluasi dan laporan kegiatan
pelayanan. (D,W)